KONSEP MEDIS KOLIK ABDOMEN

Nyeri hebat pada area perut yang terjadi akibat kontraksi otot polos dinding organ berongga, sering kali datang secara tiba-tiba dan hilang timbul.

A. Aspek Medis Kelainan Pada Kolik Abdomen

1. Definisi Penyakit Kolik Abdomen

Pandangan Pakar Internasional

Pertama-tama, para ahli bedah di Amerika Serikat mengidentifikasi kolik abdomen sebagai nyeri visceral hebat yang bersumber dari spasme akut otot polos pada dinding organ intraabdomen, seperti usus atau saluran empedu (Sabin, 2021).

Selanjutnya, pakar gastroenterologi Inggris menegaskan bahwa terminologi ini merujuk pada sensasi nyeri intermiten akibat peningkatan tekanan intraluminal pada organ berongga yang mengalami obstruksi (Gidwani, 2022).

Selain itu, klinisi di Australia mendeskripsikan kondisi ini sebagai manifestasi klinis akut berupa nyeri melilit yang puncaknya berulang, mencerminkan usaha peristaltik kuat untuk mengatasi sumbatan (Clyne, 2023).

Lainnya, peneliti Kanada mengartikan kolik abdomen sebagai sindrom nyeri perut parah yang timbul akibat iskemia lokal transient pada dinding usus selama kontraksi hiperperistaltik berlangsung (MacLean, 2022).

Akhirnya, pakar emergensi medis Eropa mengategorikan gangguan ini sebagai kedaruratan abdomen yang melibatkan stimulasi serabut saraf C pada organ pencernaan akibat peregangan mekanis (European Surgical Society [ESS], 2024).

(Sabin, 2021, Gidwani, 2022, Clyne, 2023, MacLean, 2022, ESS, 2024)

Perspektif Klinis Asia

Sementara itu, protokol klinis Jepang mendefinisikan keluhan paroksismal pada cavum abdomen ini sebagai suatu serangan akut yang memerlukan evaluasi diagnostik cepat untuk menyingkirkan perforasi organ (Tokyo Medical Board [TMB], 2022).

Lebih lanjut, konsensus gastroenterologi Korea Selatan merumuskan kelainan ini sebagai nyeri abdomen akut yang polanya menyerupai gelombang, berkolerasi kuat dengan hiperaktivitas sistem saraf otonom gastrointestinal (Kim & Park, 2023).

Oleh karena itu, pakar bedah India menjelaskan gangguan ini sebagai manifestasi klinis utama dari obstruksi mekanis dini pada traktus digestivus maupun traktus urinarius (Sharma dkk., 2021).

Begitu pula, peneliti di Singapura mengemukakan bahwa serangan perut melilit mewakili bentuk respons nosiseptif visceral terhadap distensi mendadak kapsul organ atau dinding saluran cerna (Tan, 2023).

Tambahan pula, Asosiasi Medis Malaysia menetapkan kondisi ini sebagai nyeri perut spasmodic berulang yang intensitasnya berfluktuasi secara dramatis dalam hitungan menit (Malaysian Medical Association [MMA], 2022).

(TMB, 2022, Kim & Park, 2023, Sharma dkk., 2021, Tan, 2023, MMA, 2022)

Konsep Pakar Indonesia

Dengan demikian, Ikatan Dokter Indonesia mengartikan fenomena ini sebagai nyeri perut hebat yang sifatnya hilang timbul dan menunjukkan sumbatan atau peradangan pada organ berongga dalam rongga perut (Ikatan Dokter Indonesia [IDI], 2021).

Sebaliknya, pakar bedah digestif Indonesia menjelaskan gangguan tersebut sebagai nyeri visceral perut akibat peningkatan tegangan dinding sediaan usus secara mendadak yang memicu pelepasan mediator inflamasi lokal (Sjamsuhidajat, 2022).

Meskipun demikian, ahli keperawatan medikal bedah Indonesia merumuskan keadaan gawat darurat perut ini sebagai nyeri kram hebat yang memicu gangguan pemenuhan kebutuhan rasa nyaman pasien (Purnomo, 2021).

Sebagai tambahan, konsensus nasional gastroenterologi Indonesia memaparkan keluhan tersebut sebagai rasa sakit perut melilit yang bersumber dari kontraksi klonis otot polos organ pencernaan (Simadibrata, 2023).

Kesimpulannya, praktisi klinis emergensi Indonesia mengidentifikasi serangan perut intermiten sebagai keluhan nyeri akut abdomen non-trauma yang paling sering mendorong pasien mencari pertolongan medis segera (Nugroho, 2022).

(IDI, 2021, Sjamsuhidajat, 2022, Purnomo, 2021, Simadibrata, 2023, Nugroho, 2022)

2. Etiologi Faktor Pada Kolik Abdomen

Penyebab Saluran Cerna

Terutama, faktor intestinal mendominasi kejadian spasme melalui mekanisme obstruksi usus mekanis akibat adhesi pascaoperasi, hernia strangulata, intususepsi, atau tumor maligna. Oleh karena itu, sumbatan lumen tersebut memaksa otot polos bekerja lebih keras. Selain itu, penyakit inflamasi usus seperti Crohn’s disease dan kolitis ulseratif serta impaksi fekal kronis juga sering memicu keluhan kram serupa.

(Black & Hawks, 2021, Sjamsuhidajat, 2022)

Penyebab Organ Sistem Lain

Sementara itu, faktor hepatobilier memicu nyeri akibat kolelitiasis atau koledokolitiasis yang menyumbat duktus sistikus. Akibatnya, terjadi distensi mendadak pada kantung empedu. Selain itu, faktor renal seperti urolitiasis yang menyumbat lumen ureter akan memicu hiperperistaltik urinarius. Terakhir, pankreatitis akut dan torsi ovarium secara signifikan mampu menginduksi spasme otot polos intraabdomen.

(Black & Hawks, 2021, Gidwani, 2022)

3. Patofisiologi dan KDM Kolik Abdomen

Mekanisme Terjadinya Spasme

Pada dasarnya, proses patofisiologi berawal dari adanya obstruksi atau inflamasi pada lumen organ berongga. Akibatnya, organ tersebut secara fisiologis meningkatkan kekuatan kontraksi otot polosnya untuk mendorong sumbatan. Namun, memaksakan kontraksi ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraluminal secara drastis. Selanjutnya, tekanan tinggi tersebut menjepit pembuluh darah dinding organ dan menimbulkan iskemia jaringan lokal.

Oleh karena itu, kondisi iskemia dan distensi mekanis akan merangsang nosiseptor visceral pada serabut saraf C. Kemudian, impuls nyeri yang menghantarkan menuju medula spinalis hingga dipersepsikan pada korteks serebri. Sementara itu, stimulasi otonom yang menyertai proses ini memicu pelepasan katekolamin serta merangsang saraf vagus. Dampaknya, pasien merasakan sensasi mual, muntah mendadak, serta penurunan motilitas gastrointestinal.

(Sabin, 2021, Price & Wilson, 2022)

Bagan Alur KDM

Obstruksi Lumen Organ Berongga (Usus, Empedu, Ureter)

       │

       ▼

Hiperperistaltik Otot Polos Organ Dalam

       │

       ├─────────────────────────────────────────┐

       ▼                                         ▼

Peningkatan Tekanan Intraluminal          Kerja Otot Polos Berlebih

       │                                         │

       ▼                                         ▼

Kompresi Pembuluh Darah Dinding Organ     Akumulasi Asam Laktat

       │                                         │

       ▼                                         ▼

Iskemia Jaringan Lokal                 Nyeri Kram Akut (Hilang Timbul)

       │                                         │

       └───────────────────┬─────────────────────┘

                           ▼

              Stimulasi Serabut Saraf C

                           │

                           ▼

             Persepsi Corteks Cerebri

                           │

       ┌───────────────────┼───────────────────┐

       ▼                   ▼                   ▼

Persepsi Nyeri Hebat   Aktivasi N. Vagus   Ansietas/Stres Spasme

       │                   │                   │

       ▼                   ▼                   ▼

[Nyeri Akut]      Mual & Muntah        Kurang Informasi/Koping Inefektif

                           │                   │

                           ▼                   ▼

                   Output Cairan >>       [Ansietas]

                           │

                           ▼

             [Hipovolemia / Risiko Defisit Nutrisi]

(Price & Wilson, 2022, Purnomo, 2021)

4. Manifestasi Gejala Klinis Kolik Abdomen

Data Subjektif Pasien

Berdasarkan anamnesis, pasien umumnya mengeluh nyeri kram perut hebat yang hilang timbul secara mendadak. Selain itu, mereka juga sering mengeluhkan mual dan muntah yang menetap. Tambahan pula, pasien menyatakan belum bisa buang air besar atau tidak bisa buang angin pada kasus sumbatan usus. Akhirnya, rasa cemas dan pusing kerap melaporkan akibat ketidakmampuan menahan intensitas nyeri.

(Black & Hawks, 2021, Nugroho, 2022)

Data Objektif Klinis

Secara klinis, wajah pasien tampak meringis kesakitan sambil memegangi area perutnya. Selain itu, sediaan sikap tubuh terlihat berbaring dengan posisi menekuk lutut ke dada. Sementara itu, pemeriksaan tanda vital menunjukkan takikardia, takipnea, dan peningkatan tekanan darah akibat stimulasi simpatis. Lebih lanjut, terdapat diaphoresis serta distensi abdomen saat melakukan inspeksi visual secara langsung.

(Sjamsuhidajat, 2022, Purnomo, 2021)

5. Pemeriksaan Penunjang Kolik Abdomen

Evaluasi Laboratorium

Pertama-tama, melakukan pemeriksaan darah lengkap untuk mendeteksi adanya leukositosis sebagai indikator proses inflamasi. Selanjutnya, pemeriksaan elektrolit serum berguna mengevaluasi hipokalemia akibat muntah masif. Selain itu, menguji fungsi ginjal guna menilai keterlibatan renal pada kecurigaan batu. Terakhir, peningkatan amilase lipase memastikan keterlibatan pankreas, sedangkan urinalisis mendeteksi hematuria pada kasus urolitiasis.

(Gidwani, 2022, Simadibrata, 2023)

Evaluasi Radiologi dan Elektrikal

Sementara itu, foto polos abdomen 3 posisi menjadi modalitas utama untuk mendeteksi gambaran air-fluid level atau udara bebas. Kemudian, mengaplikasikan USG abdomen secara spesifik untuk mengidentifikasi keberadaan kolelitiasis atau urolitiasis. Lebih lanjut, CT scan abdomen berfungsi sebagai standar baku penentu lokasi sumbatan. Akhirnya, melakukan juga pemeriksaan EKG guna menyingkirkan diagnosis banding infark miokard akut inferior.

(Sabin, 2021, Nugroho, 2022)

6. Penatalaksanaan Medis Kolik Abdomen

Metode Farmakologis

Dalam hal terapi, melakukan pemberian analgetik opioid intravena secara titrasi untuk meredakan nyeri yang ekstrem. Selanjutnya, obat antikolinergik seperti hyoscine butylbromide disuntikkan guna melemaskan sediaan otot polos. Sementara itu, NSAID seperti ketorolac efektif menekan mediasi prostaglandin lokal. Sebagai tambahan, pemberian antiemetik ondansetron, antibiotik profilaksis, dan wajib menjalankan resusitasi cairan kristaloid secara simultan.

(Black & Hawks, 2021, Simadibrata, 2023)

Metode Non-Farmakologis

Sebaliknya, penatalaksanaan non-farmakologis berfokus pada tindakan dekompresi lambung melalui pemasangan Nasogastric Tube. Langkah ini, sangat penting untuk mengeluarkan tumpukan gas dan cairan. Selain itu, pasien wajib menjalani diet puasa total guna mengistirahatkan saluran pencernaan. Sebagai pelengkap, aplikasi kompres hangat pada dinding perut efektif membantu merilekskan ketegangan otot secara lokal.

(Purnomo, 2021, Kim & Park, 2023)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Anamnesis dan Riwayat Kesehatan

Dalam tahapan awal, pengkajian identitas pasien harus mencakup pencatatan usia dan riwayat pekerjaan secara saksama. Selanjutnya, keluhan utama nyeri perut dieksplorasi menggunakan metode PQRST secara mendalam untuk menentukan sifat kolik. Selain itu, perawat wajib menggali riwayat operasi abdomen masa lalu yang berisiko memicu adhesi. Akhirnya, pola nutrisi, eliminasi, dan gangguan tidur akibat nyeri diidentifikasi secara menyeluruh.

(Black & Hawks, 2021, Purnomo, 2021)

Pemeriksaan Fisik Terfokus

Secara khusus, melakukan inspeksi abdomen untuk mengamati distensi atau jaringan parut pascaoperasi. Kemudian, menjalankan auskultasi guna mendeteksi peningkatan bising usus yang khas atau metallic sound. Selanjutnya, melakukan perkusi seluruh lapang abdomen untuk mengidentifikasi bunyi hipertimpani akibat retensi gas. Terakhir, menerapakan palpasi ringan guna menemukan nyeri tekan sediaan abdomen maupun defans muskular.

Meskipun fokus pada pencernaan, melaksanakan pemeriksaan sistem tubuh lain tetap secara sistematis. Misalnya, memeriksa sistem kardiovaskular untuk menilai tanda dehidrasi melalui pengisian kapiler dan akral. Sementara itu, memantau sistem pernapasan guna melihat frekuensi napas akibat menahan sakit. Dengan demikian, seluruh potensi masalah interdependen seperti penurunan urin pada sistem perkemihan dapat terdeteksi sejak dini.

(Sjamsuhidajat, 2022, Purnomo, 2021)

2. Diagnosis Keperawatan Prioritas

Urutan Prioritas 1-5

Urutan Prioritas 6-10

(PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi Keperawatan

Intervensi Diagnosis 1-3

  • Nyeri Akut (D.0077)
    • Luaran (SLKI): Tingkat Nyeri Menurun (L.08066). Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238). Tindakan: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri. Berikan teknik nonfarmakologis kompres hangat. Jelaskan penyebab dan periode nyeri. Kolaborasi pemberian analgetik.
  • Hipovolemia (D.0023)
    • Luaran (SLKI): Status Cairan Membaik (L.03028). Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, output urin meningkat, kadar Hb membaik.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Hipovolemia (I.03116). Tindakan: Periksa tanda gejala hipovolemia. Monitor intake output cairan. Hitung kebutuhan balance cairan harian. Kolaborasi pemberian cairan IV kristaloid.
  • Risiko Defisit Nutrisi (D.0032)
    • Luaran (SLKI): Status Nutrisi Membaik (L.03030). Kriteria Hasil: Porsi makan dihabiskan meningkat, perasaan mual menurun, muntah menurun.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119). Tindakan: Monitor adanya mual dan muntah. Identifikasi status nutrisi. Pasang NGT jika diperlukan dekompresi. Kolaborasi pemberian obat antiemetik sebelum makan.

Intervensi Diagnosis 4-6

  • Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)
    • Luaran (SLKI): Eliminasi Urin Membaik (L.04034). Kriteria Hasil: Desakan berkemih menurun, distensi kandung kemih menurun, hematuria menurun.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Eliminasi Urin (I.04148). Tindakan: Monitor eliminasi urin meliputi frekuensi, volume, dan warna. Catat haluaran berkemih. Ajarkan tanda gejala infeksi saluran kemih. Kolaborasi pemasangan kateter urine foley.
  • Konstipasi (D.0049)
    • Luaran (SLKI): Eliminasi Fekal Membaik (L.04033). Kriteria Hasil: Kontrol pengeluaran feses meningkat, distensi abdomen menurun.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Konstipasi (I.04155). Tindakan: Monitor tanda gejala konstipasi dan periksa bising usus. Lakukan masase abdomen jika tidak ada defans muskular. Jelaskan hubungan diet puasa dengan eliminasi fekal. Kolaborasi pemberian huknah atau enema.
  • Gangguan Pola Tidur (D.0055)
    • Luaran (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045). Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun.
    • Intervensi (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174). Tindakan: Identifikasi pola aktivitas dan faktor pengganggu tidur. Modifikasi lingkungan yang tenang dan nyaman. Ajarkan teknik relaksasi otot autogenik sebelum tidur. Kolaborasi pemberian analgesik kerja panjang.

Intervensi Diagnosis 7-10

  • Ansietas (D.0080)
    • Luaran (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093). Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun.
    • Intervensi (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314). Tindakan: Monitor tanda ansietas. Temani pasien untuk mengurangi kecemasan. Informasikan secara faktual mengenai diagnosis dan pengobatan. Kolaborasi pemberian antiansietas jika perlu.
  • Intoleransi Aktivitas (D.0056)
    • Luaran (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047). Kriteria Hasil: Kemudahan melakukan aktivitas harian meningkat, keluhan lelah menurun.
    • Intervensi (SIKI): Manajemen Energi (I.05178). Tindakan: Monitor kelelahan fisik. Bantu pasien melakukan aktivitas perawatan diri. Anjurkan tirah baring total selama fase akut nyeri. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan energi.
  • Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037)
    • Luaran (SLKI): Keseimbangan Elektrolit Meningkat (L.03021). Kriteria Hasil: Serum natrium, kalium, dan klorida membaik dalam batas normal.
    • Intervensi (SIKI): Pemantauan Elektrolit (I.03122). Tindakan: Identifikasi penyebab ketidakseimbangan elektrolit. Monitor kadar elektrolit serum. Atur interval pemantauan sesuai hemodinamik. Kolaborasi pemberian suplemen elektrolit intravena.
  • Defisit Pengetahuan (D.0111)
    • Luaran (SLKI): Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111). Kriteria Hasil: Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang penyakit meningkat, perilaku sesuai anjuran.
    • Intervensi (SIKI): Edukasi Kesehatan (I.12383). Tindakan: Identifikasi kesiapan menerima informasi. Sediakan materi edukasi tertulis. Ajarkan strategi pencegahan kekambuhan spasme abdomen. Kolaborasi sesi diskusi bersama dokter penanggung jawab.

(PPNI, 2017, PPNI, 2018, PPNI, 2019)

4. Implementasi Tindakan Keperawatan

Pelaksanaan Tindakan Akut

Dalam pelaksanaan nyata, perawat melaksanakan seluruh intervensi yang telah direncanakan secara sistematis. Pertama-tama, tindakan memasang resusitasi cairan kristaloid intravena untuk menjaga stabilitas hemodinamik pasien. Selanjutnya, obat analgetik opioid dan antispasmodik disuntikkan sesuai instruksi kolaboratif medis. Sementara itu, pemasangan kateter foley dan pipa nasogastrik dipasang guna melakukan pemantauan sediaan cairan.

Selain itu, perawat secara konsisten memfasilitasi tindakan non-farmakologis melalui pemberian kompres hangat pada area perut. Langkah ini, bertujuan menurunkan ambang nyeri dengan merangsang vasodilatasi pembuluh darah lokal. Lebih lanjut, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk menurunkan ketegangan emosional pasien. Akhirnya, mencatat seluruh dokumentasi mengenai jenis tindakan dan respons pasien ke dalam rekam medis.

(Purnomo, 2021)

5. Evaluasi Hasil Keperawatan

Penilaian Perkembangan Pasien

Pada tahap akhir, perawat melakukan evaluasi sumatif menggunakan metode SOAP secara berkala. Berdasarkan evaluasi, data subjektif diharapkan menunjukkan laporan bahwa kram perut melilit telah berkurang atau hilang. Sementara itu, data objektif harus membuktikan wajah rileks, bising usus kembali normal, dan tanda vital stabil. Dengan demikian, rencana keperawatan dapat dihentikan, dimodifikasi, atau dilanjutkan untuk pemulangan.

(Purnomo, 2021, PPNI, 2019)

Perhitungan Rumus Klinis (Keseimbangan Cairan)

Untuk memastikan akurasi pemantauan status hidrasi pada pasien spasme abdomen dengan muntah hebat, dapat menggunakan formula Balance Cairan berikut:

Balance Cairan=Intake Cairan−(Output Cairan+IWL)

Estimasi nilai Insensible Water Loss (IWL) dapat menggunakan rumus:

IWL=15×Berat Badan (kg)/24 jam

DAFTAR PUSTAKA

Black, J. M., & Hawks, J. H. (2021). Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes (9th ed.). Elsevier.

Clyne, M. (2023). Management of Acute Visceral Abdominal Pain. Australian Prescriber, 46(2), 54-59. mja.com.au/journal/acute-visceral-pain

ESS. (2024). Guidelines for Management of Acute Abdomen Emergency. European Journal of Trauma and Emergency Surgery, 50(1), 12-25. springersurgical.com/ejtes/acute-abdomen

Gidwani, S. (2022). Pathophysiology of Intestinal Colic Obstruction. British Journal of Hospital Medicine, 83(4), 1-10. bghm.co.uk/abstract/intestinal-colic

IDI. (2021). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia.

Kim, Y. M., & Park, H. J. (2023). Autonomic Dysfunction and Smooth Muscle Spasms in Gastrointestinal Tract. Journal of Neurogastroenterology and Motility, 29(3), 312-320. jnmjournal.org/view/autonomic-spasms

MacLean, R. (2022). Ischemic Biomarkers in Bowel Obstruction and Intestinal Colic. Canadian Journal of Surgery, 65(3), E210-E218. canjsurg.ca/content/ischemic-biomarkers

MMA. (2022). Clinical Consensus on Managing Acute Spasmodic Abdominal Pain. Medical Journal of Malaysia, 77(5), 450-456. mjm.org.my/clinical-consensus-spasmodic

Nugroho, T. (2022). Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Medis Akut di Rumah Sakit. Medika Cendekia.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.

Purnomo, H. (2021). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Pada Sistem Pencernaan. Salemba Medika.

Price, S. A., & Wilson, L. M. (2022). Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease Processes (6th ed.). Mosby.

Sabin, L. (2021). Evaluative Approaches to Visceral Smooth Muscle Contraction. New England Journal of Medicine, 385(14), 1301-1310. nejm.org/doi/visceral-smooth-muscle

Sharma, S., Kumar, A., & Singh, R. (2021). Presentation and Etiology of Colic Pain in Developing Countries. Asian Journal of Surgery, 44(8), 1021-1027. asianjsurg.com/article/presentation-colic

Simadibrata, M. (2023). Konsensus Nasional Penatalaksanaan Nyeri Abdomen Akut Non-Bedah di Indonesia. Jurnal Gastroenterologi Indonesia, 24(1), 35-42. jgi.or.id/index.php/jgi/konsensus-nyeri

Sjamsuhidajat, R. (2022). Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong (5th ed.). EGC.

Tan, C. H. (2023). Advanced Radiological Imaging for Obstructive Intestinal Colic. Singapore Medical Journal, 64(4), 215-222. smj.org.sg/content/radiological-imaging-colic

TMB. (2022). Clinical Pathways for Non-traumatic Acute Abdomen. Japan Medical Association Journal, 5(2), 89-98. jmaj.jp/article/clinical-pathways-abdomen


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *