Konsep Medis pada Hipertermia

Hipertermia adalah suatu kondisi ketika suhu tubuh meningkat di atas rentang normal akibat kegagalan pengaturan panas tubuh. (WHO, 2024)

A. Telaah Klinis Suhu Tubuh pada Hipertermia

1. Definisi Hipertermia

Hipertermia merupakan kondisi peningkatan suhu inti tubuh di atas normal yang disebabkan oleh kegagalan termoregulasi hipotalamus dalam mengatasi beban panas eksternal maupun internal. (PPNI, 2017)

Definisi Dari Pakar Internasional

Menurut T. Heather Herdman (2021), hipertermia didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal diurnal akibat kegagalan termoregulasi tubuh.

Selanjutnya, Moorhead et al. (2020) menyatakan bahwa hipertermia mencakup kondisi klinis di mana suhu tubuh inti meningkat melebihi 38,3°C karena ketidakmampuan tubuh mengeluarkan panas secara efektif.

Kemudian, Lewis et al. (2019) mendefinisikan hipertermia sebagai kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh pusat yang menyebabkan suhu tubuh melonjak drastis tanpa adanya perubahan pada titik setel hipotalamus.

Di samping itu, Potter et al. (2021) mengemukakan bahwa hipertermia adalah kondisi medis darurat yang ditandai oleh kenaikan suhu tubuh akibat paparan lingkungan panas atau produksi panas metabolik yang berlebihan.

Terakhir, Ignatavicius et al. (2020) menjelaskan bahwa hipertermia merujuk pada gangguan akut termoregulasi ketika mekanisme pendinginan tubuh gagal mengatasi kelebihan panas.

Definisi Pakar Asia

Menurut Somantri (2021), pakar kesehatan asal Asia, hipertermia merupakan kegagalan mekanisme pelepasan panas tubuh yang mengakibatkan peningkatan suhu inti tubuh secara signifikan di atas batas normal fisiologis.

Selain itu, Muttaqin (2020) menguraikan bahwa hipertermia adalah keadaan ketika individu mengalami kegagalan pengaturan suhu di hipotalamus, memicu lonjakan suhu tubuh akibat infeksi atau lingkungan panas tropis.

Lebih lanjut, Huda & Kusuma (2022) mendefinisikan hipertermia sebagai manifestasi klinis berupa peningkatan suhu tubuh di atas 37,5°C yang timbul karena ketidakseimbangan antara produksi dan pelepasan panas.

Sementara itu, Wong et al. (2021) menyatakan bahwa hipertermia di wilayah Asia sering kali berkaitan erat dengan kombinasi kelembapan udara tinggi dan infeksi tropis yang mengganggu sistem termoregulasi.

Seterusnya, Dharmadjaja (2020) mendefinisikan hipertermia sebagai kondisi klinis kegagalan adaptasi tubuh terhadap suhu lingkungan yang panas ekstrem sehingga memicu peningkatan suhu inti tubuh secara drastis.

Definisi Pakar Indonesia

Menurut Tim Pokja SDKI PPNI (2017), mendefinisikan hipertermia sebagai suhu tubuh meningkat di atas rentang normal tubuh manusia akibat gangguan termoregulasi.

Berdasarkan pendapat Amin Huda Nurarif (2021), hipertermia merupakan keadaan suhu tubuh seseorang yang meningkat melebihi rentang normal akibat ketidakmampuan tubuh dalam mengontrol laju pengeluaran panas.

Selanjutnya, Nanda Nic-Noc (2020) menyebutkan bahwa hipertermia adalah kondisi ketika suhu tubuh naik melampaui batas normal karena faktor eksternal seperti suhu lingkungan atau internal seperti proses inflamasi.

Sementara itu, Wijaya & Putri (2021) mengartikan hipertermia sebagai peningkatan suhu tubuh di atas 37,8°C peroral atau 38,4°C perrektal yang menyertai berbagai proses penyakit infeksi maupun non-infeksi.

Akhirnya, Tarwoto & Wartonah (2021) mendefinisikan hipertermia sebagai gangguan keseimbangan suhu tubuh yang ditandai oleh kegagalan hipotalamus mempertahankan suhu normal di tengah beban panas berlebih.

2. Etiologi Hipertermia

  • Dehidrasi berat dan kekurangan cairan tubuh (Bulechek et al., 2021)
  • Paparan lingkungan dengan suhu tinggi atau gelombang panas ekstrem (Katzung, 2020)
  • Proses infeksi bakteri, virus, atau parasit yang merangsang pelepasan pirogen endogen (Guyton & Hall, 2021)
  • Penggunaan obat-obatan tertentu seperti antipsikotik yang memicu malignant hyperthermia (Katzung, 2020)
  • Gangguan atau kerusakan pada pusat pengatur suhu tubuh di hipotalamus akibat cedera kepala (Brunner & Suddarth, 2020)
  • Aktivitas fisik yang berlebihan di lingkungan panas tanpa hidrasi memadai (Guyton & Hall, 2021)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Penyimpangan KDM

Patofisiologi awal dari masuknya zat pirogen atau paparan panas eksternal melampaui kapasitas kompensasi tubuh. Pirogen ini merangsang pelepasan prostaglandin E2 pada hipotalamus anterior, mengubah titik pengaturan suhu. Akibat peningkatan set point, tubuh merespons dengan meningkatkan produksi panas melalui menggigil serta menurunkan pengeluaran panas melalui vasokonstriksi perifer. Jika mekanisme ini terus berlanjut tanpa penanganan, maka terjadi peningkatan metabolisme seluler, dehidrasi, ketidakeimbangan elektrolit, hingga gangguan fungsi organ multiorgan akibat kerusakan sel karena panas berlebih. (Guyton & Hall, 2021; PPNI, 2017)

Pathway

Faktor Penyebab -> Pirogen Eksogen / Endogen / Beban Panas Eksternal -> Perangsangan Prostaglandin E2 di Hipotalamus -> Peningkatan Set Point Suhu Tubuh -> Peningkatan Metabolisme Selular & Vasokonstriksi Perifer -> Risiko Dehidrasi / Kelelahan Otot. (Brunner & Suddarth, 2020)

4. Manifestasi Klinis Hipertermia

a. Data Subjektif

  • Mengeluh panas atau merasa gerah (PPNI, 2017)
  • Merasa haus atau lemas (Brunner & Suddarth, 2020)
  • Pusing atau sakit kepala ringan (Katzung, 2020)

b. Data Objektif

  • Suhu tubuh di atas nilai normal di atas 37,5°C (PPNI, 2017)
  • Kulit terasa hangat dan tampak kemerahan flushing (Guyton & Hall, 2021)
  • Takikardia dan peningkatan frekuensi napas (Brunner & Suddarth, 2020)
  • Kulit terasa lembap atau berkeringat, ataupun kering pada kasus lanjut (Katzung, 2020)

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

  • Darah perifer lengkap untuk mendeteksi adanya leukositosis yang menandakan infeksi (Katzung, 2020)
  • Analisis gas darah dan elektrolit untuk memantau status hidrasi serta keseimbangan asam-basa (Guyton & Hall, 2021)
  • Tes fungsi ginjal ureum dan kreatinin guna mendeteksi dehidrasi berat (Brunner & Suddarth, 2020)

b. Pemeriksaan Radiologi

  • Foto toraks untuk menyingkirkan kemungkinan sumber infeksi paru seperti pneumonia (Brunner & Suddarth, 2020)
  • CT scan kepala bila dicurigai adanya kelainan struktural pada sistem saraf pusat atau lesi di hipotalamus (Katzung, 2020)

c. Pemeriksaan Lain

  • Urinalisis untuk mendeteksi adanya infeksi saluran kemih yang memicu demam (Katzung, 2020)
  • Pemantauan suhu inti secara berkelanjutan menggunakan termometer resep atau esofageal (Guyton & Hall, 2021)

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

  • Pemberian antipiretik seperti parasetamol atau ibuprofen untuk menurunkan set point suhu pada hipotalamus (Katzung, 2020)
  • Pemberian cairan infus intravena NaCl 0,9% atau Ringer Laktat untuk rehidrasi cepat (Brunner & Suddarth, 2020)
  • Pemberian antibiotik apabila kondisi disebabkan oleh infeksi bakteri (Katzung, 2020)

b. Terapi Non-Farmakologis

  • Kompres hangat pada area lipatan tubuh seperti aksila dan selangkangan untuk memfasilitasi evaporasi (Bulechek et al., 2021)
  • Memberikan lingkungan yang sejuk dengan ventilasi udara yang baik (Guyton & Hall, 2021)
  • Menganjurkan pasien minum air putih dalam jumlah cukup sesuai kebutuhan hidrasi (Brunner & Suddarth, 2020)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien

Meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk rumah sakit, serta diagnosa medis. Informasi usia dan pekerjaan penting karena anak-anak dan pekerja luar ruangan lebih rentan mengalami gangguan suhu tubuh. (PPNI, 2017)

b. Riwayat Kesehatan

  • Keluhan Utama: Klien mengeluh badan terasa panas tinggi dan lemas.
  • Riwayat Kesehatan Sekarang: Kronologis timbulnya demam, durasi, faktor yang memperberat atau memperingan, serta penanganan awal.
  • Riwayat Kesehatan Dahulu: Riwayat infeksi berulang, riwayat kejang demam, gangguan metabolik, atau trauma kepala.
  • Riwayat Kesehatan Keluarga: Adanya anggota keluarga yang menderita penyakit menular atau gangguan genetik terkait termoregulasi. (Brunner & Suddarth, 2020)

c. Pemeriksaan Fisik

  • Inspeksi: Warna kulit kemerahan, adanya keringat berlebih atau kulit kering, ekspresi wajah tampak gelisah atau lemah.
  • Palpasi: Kulit teraba hangat hingga panas saat disentuh, turgor kulit menurun jika terjadi dehidrasi.
  • Perkusi: Dilakukan pada abdomen atau dada jika ada indikasi gangguan sistem lain, suara sonor pada paru dan timpani pada abdomen secara umum.
  • Auskultasi: Mendengar peningkatan frekuensi jantung takikardia dan suara napas vesikuler normal atau meningkat akibat peningkatan metabolisme. Fokus utama pada sistem termoregulasi dan kardiorespirasi tanpa mengabaikan sistem lain. (Brunner & Suddarth, 2020)

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

  • Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan: Pemahaman keluarga mengenai penanganan demam dan pencegahan lingkungan panas.
  • Pola Nutrisi dan Metabolik: Penurunan nafsu makan, mual, serta jumlah asupan cairan harian.
  • Pola Eliminasi: Frekuensi dan warna BAK biasanya pekat karena dehidrasi, serta konsistensi BAB.
  • Pola Aktivitas dan Latihan: Keterbatasan gerak akibat rasa lemas dan nyeri otot.
  • Pola Istirahat dan Tidur: Gangguan tidur akibat rasa tidak nyaman, gelisah, dan suhu tubuh tinggi. (Bulechek et al., 2021)

2. Diagnosis Keperawatan

a. Daftar Prioritas SDKI (1 – 5)

b. Daftar Prioritas SDKI (6 – 10)

  • D.0136 Risiko Cedera b.d perubahan fungsi termoregulasi
  • D.0005 Pola Napas Tidak Efektif b.d hambatan upaya napas d.d penggunaan otot bantu napas
  • D.0056 Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan d.d mengeluh lelah
  • D.0055 Gangguan Pola Tidur b.d hambatan lingkungan / suhu tubuh tinggi d.d mengeluh sulit tidur
  • D.0142 Risiko Infeksi b.d ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder

3. Perencanaan (Intervensi)

a. Perencanaan 1 – 5

  • D.0130: SLKI L.14134 Termoregulasi membaik | SIKI I.15506 Manajemen Hipertermia
  • D.0023: SLKI L.03028 Status cairan membaik | SIKI I.03116 Manajemen Hipovolemia
  • D.0037: SLKI L.03021 Keseimbangan elektrolit meningkat | SIKI I.03122 Pemantauan elektrolit
  • D.0019: SLKI L.03030 Status nutrisi membaik | SIKI I.03119 Manajemen nutrisi
  • D.0074: SLKI L.08064 Status kenyamanan meningkat | SIKI I.08236 Manajemen kenyamanan

b. Perencanaan 6 – 10

  • D.0136: SLKI L.14136 Tingkat cedera menurun | SIKI I.14513 Manajemen keselamatan lingkungan
  • D.0005: SLKI L.01004 Pola napas membaik | SIKI I.01011 Manajemen jalan napas
  • D.0056: SLKI L.05047 Toleransi aktivitas meningkat | SIKI I.05178 Manajemen energi
  • D.0055: SLKI L.05045 Pola tidur membaik | SIKI I.05174 Dukungan tidur
  • D.0142: SLKI L.14137 Tingkat infeksi menurun | SIKI I.14539 Pencegahan infeksi

4. Implementasi

Melaksanakan implementasi keperawatan berdasarkan intervensi yang telah direncanakan pada masing-masing diagnosis keperawatan. Tindakan ini mencakup pemantauan tanda-tanda vital secara berkala, pemberian kompres hangat, pengaturan suhu lingkungan yang nyaman, pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit melalui jalur oral maupun intravena, pemberian terapi farmakologis sesuai kolaborasi medis, serta edukasi kepada keluarga mengenai cara memantau penurunan suhu tubuh secara mandiri. Setiap melakukan tindakan harus tercatat secara akurat dalam rekam medis keperawatan. (PPNI, 2018; Bulechek et al., 2021)

5. Evaluasi

Evaluasi keperawatan dilakukan dengan menggunakan metode SOAP untuk menilai keberhasilan intervensi yang telah diberikan.

S: Klien menyatakan keluhan panas berkurang atau hilang.

O: Suhu tubuh berada dalam rentang normal 36,5°C hingga 37,5°C, kulit tidak lagi kemerahan, tanda-tanda vital stabil, dan status hidrasi membaik.

A: Masalah keperawatan teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi berdasarkan kriteria hasil SLKI.

P: Melanjutkan, memodifikasi, atau menghentikan rencana intervensi keperawatan. (PPNI, 2019; Potter et al., 2021)

Daftar Pustaka

Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2020). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Wolters Kluwer.

Bulechek, G. M., et al. (2021). Nursing Interventions Classification (NIC). Elsevier.

Dharmadjaja, H. (2020). Patofisiologi Penyakit Tropis dan Gangguan Termoregulasi. Salemba Medika.

Guyton, A. C., & Hall, J. E. (2021). Textbook of Medical Physiology. Elsevier.

Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification. Thieme.

Huda, N., & Kusuma, H. (2022). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis. Mediaction.

Ignatavicius, D. D., et al. (2020). Medical-Surgical Nursing: Concepts for Interprofessional Collaborative Care. Elsevier.

Katzung, B. G. (2020). Basic and Clinical Pharmacology. McGraw-Hill Education.

Lewis, S. L., et al. (2019). Medical-Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems. Elsevier.

Moorhead, S., et al. (2020). Nursing Outcomes Classification (NOC). Elsevier.

Potter, P. A., et al. (2021). Fundamentals of Nursing. Elsevier.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

World Health Organization. (2024). Heatwaves and Health Guidelines. WHO Guidelines ejournal.who.int/guidelines/heatwaves


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *