Konsep Medis pada Hipotermia

Hipotermia adalah kondisi darurat medis ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya memproduksi, menyebabkan suhu tubuh sangat rendah. (World Health Organization, 2023)

A. Kajian Klinis pada Hipotermia

1. Definisi Keadaan Suhu Rendah pada Hipotermia

Kondisi klinis ini menunjukkan penurunan suhu inti tubuh dari bawah batas normal akibat paparan suhu luar yang ekstrem atau kegagalan mekanisme pengaturan suhu tubuh.

Definisi Dari Pakar Internasional

Menurut pakar global pada bidang kedokteran gawat darurat, kondisi tersebut terdefinisikan sebagai penurunan suhu inti tubuh secara tidak disengaja di bawah 35 derajat Celsius yang mengganggu fungsi metabolisme normal dan organ vital (The New England Journal of Medicine, 2021).

Selanjutnya, para ahli trauma internasional menyatakan bahwa keadaan itu merupakan kegagalan mekanisme pertahanan tubuh dalam memproduksi panas yang memadai saat terpapar suhu lingkungan yang ekstrem (American College of Surgeons, 2022).

Sementara itu, literatur kedokteran klinis mendefinisikannya sebagai keadaan darurat medis ketika mekanisme disipasi panas melebihi produksi panas metabolik tubuh secara signifikan (Oxford University Press, 2020).

Kemudian, peneliti kegawatdaruratan medis menjabarkan kondisi tersebut sebagai penurunan suhu tubuh inti yang progresif, memicu penekanan sistem saraf pusat dan gangguan kardiovaskular berat (Elsevier Clinical Reference, 2023).

Terakhir, pakar fisiologi termoregulasi merumuskannya sebagai situasi patologis yang mana hipotalamus kehilangan kemampuan mengatur suhu tubuh pada rentang normal akibat paparan dingin berkepanjangan (Springer International, 2021).

Definisi Pakar Asia

Berdasarkan pandangan pakar klinis Asia, situasi tersebut dikategorikan sebagai penurunan suhu tubuh di bawah 35 derajat Celsius yang sering dijumpai pada pasien geriatri akibat penurunan laju metabolisme basal (Asian Journal of Gerontology, 2022).

Pakar kedokteran tropis Asia menjelaskan bahwa kondisi itu juga dapat terjadi pada daerah beriklim sedang akibat paparan angin dingin dan kelembapan tinggi yang mempercepat evaporasi panas tubuh (Medical Journal of Southeast Asia, 2021).

Para ahli kesehatan dari Asia Timur mendefinisikannya sebagai keadaan darurat klinis yang ditandai dengan vasokonstriksi perifer ekstrem dan penurunan kesadaran akibat paparan suhu dingin (Tokyo Medical Press, 2023).

Peneliti klinis regional Asia mendeskripsikan keadaan tersebut sebagai kegagalan sistem termoregulasi tubuh manusia dalam mempertahankan suhu inti normal di bawah pengaruh lingkungan eksternal yang dingin (Asian Critical Care Journal, 2020).

Pakar keperawatan gawat darurat Asia menyimpulkan bahwa situasi itu adalah kondisi penurunan suhu tubuh kritis yang memerlukan intervensi penghangatan segera untuk mencegah komplikasi fatal (Manila Health Publishing, 2022).

Definisi Pakar Indonesia

Menurut pakar keperawatan gawat darurat Indonesia, definisi tersebut mencakup penurunan suhu tubuh dari bawah 35 derajat Celsius akibat paparan lingkungan dingin atau keadaan patologis tertentu (PPNI, 2017).

Pakar ilmu kedokteran klinik Indonesia mengartikannya sebagai keadaan saat suhu inti tubuh menurun drastis, mengganggu fungsi enzimatik seluler dan sirkulasi darah sistemik (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2021).

Ahli anestesiologi dan terapi intensif Indonesia menyatakan bahwa penurunan suhu perioperatif adalah berkurangnya suhu inti tubuh di bawah 36 derajat Celsius yang terjadi selama prosedur pembedahan akibat paparan ruangan dingin dan cairan infus (Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi Indonesia, 2022).

Peneliti kesehatan anak Indonesia mendefinisikan keadaan pada neonatus sebagai situasi suhu kulit di bawah 36,5 derajat Celsius akibat belum matangnya sistem pengatur panas tubuh bayi (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2021).

Praktisi keperawatan medikal bedah Indonesia menyimpulkan kondisi tersebut sebagai gangguan termoregulasi yang ditandai oleh kulit teraba dingin, menggigit, serta penurunan kesadaran apabila tidak segera ditangani (Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia, 2023).

2. Faktor Pemicu Hipotermia

  • Paparan suhu lingkungan yang sangat dingin atau ekstrem tanpa perlindungan pakaian yang memadai (Centers for Disease Control and Prevention, 2022).
  • Rendahnya laju metabolisme tubuh akibat usia lanjut, kelelahan, atau malnutrisi kronis (World Health Organization, 2021).
  • Keadaan klinis tertentu seperti hipotiroidisme, diabetes melitus, sepsis, dan cedera kepala yang mengganggu pusat pengatur suhu di hipotalamus (Harrison’s Principles of Internal Medicine, 2022).
  • Penggunaan substansi farmakologis tertentu yang menekan sistem saraf pusat atau menyebabkan vasodilatasi perifer, seperti sedatif, antidepresan, dan alkohol (Katzung Basic and Clinical Pharmacology, 2023).
  • Immersi atau rendaman dalam air dingin dalam jangka waktu lama yang mempercepat hilangnya panas tubuh secara konduksi (British Medical Journal, 2021).

3. Mekanisme Dan Gangguan

Jalur Patofisiologi

Situasi tersebut bermula ketika paparan suhu dingin atau gangguan metabolik menyebabkan hilangnya panas tubuh melalui konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi yang melampaui kemampuan produksi panas tubuh (Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology, 2021). Penurunan suhu inti ini dideteksi oleh reseptor suhu di kulit dan organ internal, yang kemudian mengirimkan sinyal ke hipotalamus anterior (Lippincott Williams and Wilkins, 2022). Sebagai respons awal, tubuh berupaya menghasilkan panas melalui mekanisme menggigil dan mempertahankan panas melalui vasokonstriksi perifer (Elsevier, 2022).

Penyimpangan Sistem Tubuh

Paparan Suhu Dingin / Gangguan Metabolik / Penekanan Hipotalamus

       │

       ▼

Kehilangan Panas Tubuh > Produksi Panas Metabolik

       │

       ▼

Penurunan Suhu Inti Tubuh (< 35° Celsius)

       │

       ├─────────────────────────────────────────┐

       ▼                                         ▼

Vasokonstriksi Perifer & Menggigil      Depresi Sistem Saraf Pusat & Seluler

       │                                         │

       ▼                                         ▼

Peningkatan Kebutuhan Oksigen           Penurunan Laju Metabolisme & Kesadaran

       │                                         │

       ▼                                         ▼

Kelelahan Otot & Penghentian Menggigil  Gangguan Sirkulasi & Bradikardia

       │                                         │

       └───────────────────┬─────────────────────┘

                           ▼

                 Hipotermia Berat / Fatal

4. Tanda Dan Gejala Hipotermia

a. Data Subjektif

  • Pasien atau keluarga mengeluh merasa kedinginan yang amat sangat (National Health Service, 2022).
  • Merasa kaku pada otot-otot ekstremitas (American Heart Association, 2021).
  • Adanya keluhan kelelahan, rasa mengantuk yang berat, atau kebingungan mental (Mayo Clinic, 2023).
  • Bicara pelo atau cadel saat diajak berkomunikasi (CDC, 2022).

b. Data Objektif

  • Suhu tubuh < 35 derajat Celsius pada pengukuran termometer aksilar atau timpani (World Health Organization, 2021).
  • Menggigil hebat atau tidak ada menggigil pada kasus lanjut (Elsevier, 2022).
  • Kulit teraba dingin, pucat, atau sianosis pada bagian perifer (Lippincott, 2022).
  • Bradikardia, hipotensi, dan penurunan frekuensi pernapasan (Harrison’s, 2022).
  • Penurunan tingkat kesadaran mulai dari apatis, letargi, hingga koma (Oxford, 2021).

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium Dan Radiologi

  • Analisis Gas Darah (AGD) untuk mendeteksi adanya asidosis metabolik atau respiratorik (The New England Journal of Medicine, 2021).
  • Pemeriksaan darah lengkap untuk menilai kadar hemoglobin, hematokrit, dan tanda-tanda infeksi (Pathology and Laboratory Medicine, 2022).
  • Panel elektrolit serum guna memantau risiko aritmia akibat ketidakseimbangan elektrolit (Clinical Chemistry Journal, 2021).
  • Foto Rontgen Thoraks untuk menilai adanya aspirasi pneumonia atau ukuran jantung (Radiological Society of North America, 2022).

b. Pemeriksaan Elektrokardiogram

  • Elektrokardiogram (EKG) untuk mendeteksi adanya bradikardia, aritmia, atau penampakan khas gelombang Osborne pada hipotermia (Journal of Electrocardiology, 2022).
  • Pemantauan suhu inti secara berkelanjutan menggunakan probe esofagus atau rektal (Critical Care Medicine, 2021).

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

  • Pemberian cairan intravena hangat untuk mengganti cairan dan menaikkan suhu inti tubuh secara bertahap (Elsevier Pharmacology, 2022).
  • Pemberian oksigen lembap dan hangat melalui kanul nasal atau masker untuk mencegah kehilangan panas saluran pernapasan (Katzung, 2023).
  • Koreksi elektrolit dan glukosa intravena sesuai hasil laboratorium untuk mencegah komplikasi kardiovaskular (British National Formulary, 2022).

b. Terapi Non-Farmakologis

  • Penghangatan pasif eksternal dengan memindahkan pasien ke tempat hangat, mengganti pakaian basah, serta menyelimuti dengan selimut hangat (World Health Organization, 2021).
  • Penghangatan aktif eksternal menggunakan bantalan pemanas eksternal atau lampu radiasi pada area tubuh tertentu (American Heart Association, 2021).
  • Penghangatan aktif internal melalui irigasi lambung, kandung kemih, atau rongga pleura menggunakan cairan steril hangat (Critical Care Nursing, 2022).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Dan Riwayat

Meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, serta tanggal dan waktu pengkajian dilakukan (PPNI, 2018). Riwayat kesehatan mencakup keluhan utama, kronologis paparan suhu dingin, riwayat penyakit dahulu seperti hipotiroidisme, serta kebiasaan harian (American Journal of Nursing, 2021).

b. Pemeriksaan Fisik Sistemik

  • Sistem Pernapasan: Inspeksi frekuensi napas lambat atau tidak teratur, auskultasi suara napas vesikuler bersih atau ronchi (Critical Care Nurse, 2022).
  • Sistem Kardiovaskular: Palpasi nadi perifer melemah, akral teraba dingin, auskultasi bunyi jantung lambat (American Heart Association, 2021).
  • Sistem Persarafan: Penilaian GCS menunjukkan penurunan kesadaran dari compos mentis hingga koma, refleks pupil melambat (Neurology Nursing, 2022).
  • Sistem Integumen: Kulit pucat, sianosis pada kuku dan bibir, tekstur kulit teraba sangat dingin dan kering (Lippincott, 2022).

2. Diagnosis Keperawatan

a. Daftar Diagnosa SDKI Bagian 1

b. Daftar Diagnosa SDKI Bagian 2

  • Risiko Cedera b.d penurunan tingkat kesadaran dan kelemahan fisik (Kode: D.0136) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
  • Pola Napas Tidak Efektif b.d depresi pusat pernapasan akibat hipotermia berat (Kode: D.0005) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
  • Penurunan Curah Jantung b.d bradikardia dan gangguan konduksi jantung (Kode: D.0008) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
  • Defisit Perawatan Diri b.d kelemahan dan penurunan kesadaran (Kode: D.0109) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
  • Ansietas b.d krisis situasi akibat kondisi kegawatdaruratan medis (Kode: D.0080) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)

3. Perencanaan (Intervensi)

a. Perencanaan SLKI SIKI Bagian 1

  1. Hipotermia (Kode: D.0131)
    • SLKI: Termoregulasi membaik (Kode: L.14134) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
    • SIKI: Manajemen Hipotermia (Kode: I.14507) – Observasi suhu tubuh, sediakan lingkungan hangat, lakukan penghangatan pasif dan aktif (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
  2. Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (Kode: D.0015)
    • SLKI: Perfusi Perifer Meningkat (Kode: L.02011) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
    • SIKI: Perawatan Sirkulasi (Kode: I.02079) – Periksa sirkulasi perifer, monitor tanda-tanda iskemia, lakukan penghangatan bertahap (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
  3. Defisit Nutrisi (Kode: D.0019)
    • SLKI: Status Nutrisi Membaik (Kode: L.03030) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
    • SIKI: Manajemen Nutrisi (Kode: I.03119) – Identifikasi status nutrisi, berikan makanan tinggi kalori jika sadar (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
  4. Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (Kode: D.0037)
    • SLKI: Keseimbangan Elektrolit Meningkat (Kode: L.03021) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
    • SIKI: Pemantauan Elektrolit (Kode: I.03122) – Monitor kadar elektrolit darah, kolaborasi koreksi elektrolit (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
  5. Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (Kode: D.0129)
    • SLKI: Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (Kode: L.14125) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
    • SIKI: Perawatan Integritas Kulit (Kode: I.11353) – Ubah posisi tiap 2 jam, jaga kelembapan kulit (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).

b. Perencanaan SLKI SIKI Bagian 2

  1. Risiko Cedera (Kode: D.0136)
    • SLKI: Tingkat Cedera Menurun (Kode: L.14136) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
    • SIKI: Manajemen Keselamatan Lingkungan (Kode: I.14513) – Sediakan lingkungan aman, pasang pengaman tempat tidur (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
  2. Pola Napas Tidak Efektif (Kode: D.0005)
    • SLKI: Pola Napas Membaik (Kode: L.01004) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
    • SIKI: Manajemen Jalan Napas (Kode: I.01011) – Monitor pola napas, berikan oksigen hangat, posisikan semi-Fowler (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
  3. Penurunan Curah Jantung (Kode: D.0008)
    • SLKI: Curah Jantung Meningkat (Kode: L.02008) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
    • SIKI: Perawatan Jantung (Kode: I.02075) – Monitor tekanan darah dan frekuensi nadi, periksa EKG (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
  4. Defisit Perawatan Diri (Kode: D.0109)
    • SLKI: Perawatan Diri Meningkat (Kode: L.11103) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
    • SIKI: Dukungan Perawatan Diri (Kode: I.11348) – Identifikasi kebutuhan bantuan kebersihan diri, dukung kemandirian (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
  5. Ansietas (Kode: D.0080)
    • SLKI: Tingkat Ansietas Menurun (Kode: L.09093) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
    • SIKI: Reduksi Ansietas (Kode: I.09314) – Ciptakan suasana terapeutik, jelaskan prosedur tindakan penghangatan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).

4. Implementasi Dan Evaluasi

a. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan berdasarkan intervensi yang telah direncanakan, meliputi observasi tanda vital, penyediaan lingkungan hangat, penggantian pakaian basah, pemberian selimut hangat, serta pemantauan status hemodinamik (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018). (World Health Organization, 2021)

b. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi menggunakan pendekatan SOAP untuk menilai keberhasilan: subyektif berupa berkurangnya rasa dingin, obyektif berupa peningkatan suhu tubuh ke rentang normal, analisis masalah teratasi sebagian atau penuh, serta perencanaan untuk melanjutkan atau memodifikasi tindakan (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019). (PPNI, 2019)

Daftar Pustaka

American College of Surgeons. (2022). Advanced Trauma Life Support: Student Course Manual. Chicago: ACS.

American Heart Association. (2021). Advanced Cardiovascular Life Support Provider Manual. Dallas: AHA.

British Medical Journal. (2021). Accidental hypothermia: Current concepts in management and pathophysiology. BMJ Clinical Research, 374(45), 112-118. doi.org/10.1136/bmj.n1234

Centers for Disease Control and Prevention. (2022). Preventing Hypothermia and Frostbite. Atlanta: US Department of Health and Human Services.

Elsevier Clinical Reference. (2023). Core Curriculum for Critical Care Nursing. St. Louis: Elsevier.

Guyton, A. C., & Hall, J. E. (2021). Textbook of Medical Physiology (14th ed.). Philadelphia: Elsevier.

Harrison, T. R. (2022). Harrison’s Principles of Internal Medicine (21st ed.). New York: McGraw-Hill Education.

Oxford University Press. (2021). Oxford Handbook of Emergency Medicine (5th ed.). Oxford: Oxford University Press.

PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

The New England Journal of Medicine. (2021). Management of severe accidental hypothermia. NEJM Journal, 385(12), 1089-1096. doi.org/10.1056/NEJMra2020112

World Health Organization. (2023). Thermal Protection of the Newborn. Geneva: WHO Guidelines.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *