KONSEP MEDIS PADA FOBIA SOSIAL

Fobia sosial atau gangguan kecemasan sosial merupakan ketakutan ekstrem terhadap penilaian negatif dalam situasi sosial yang mengganggu fungsi hidup sehari-hari.

A. Konsep Medis Fobia Sosial

1. Definisi Gangguan Fobia Sosial

Definisi Dari Pakar Internasional

American Psychiatric Association (2013) mendefinisikan fobia sosial sebagai ketakutan atau kecemasan nyata terhadap satu atau lebih situasi sosial saat orang lain dapat mengamati individu tersebut. (American Psychiatric Association, 2013)

Selanjutnya, World Health Organization (2019) menjelaskan gangguan ini sebagai ketakutan mendalam terhadap pusat perhatian atau ketakutan berperilaku yang memalukan, sehingga memicu perilaku menghindar. (World Health Organization, 2019)

Selain itu, David H. Barlow (2014) mengartikan kondisi ini sebagai sindrom kecemasan klinis yang bersumber dari evaluasi negatif orang lain selama interaksi interpersonal berlangsung. (Barlow, 2014)

Sementara itu, Richard Heimberg (2010) merumuskan fobia sosial berupa distorsi kognitif kronis yang memaksa individu mempersepsikan situasi sosial sebagai ancaman berbahaya bagi harga dirinya. (Heimberg, 2010)

Sebagai pelengkap, Stefan Hofmann (2016) menegaskan bahwa gangguan tersebut melibatkan ketidakmampuan psikologis dalam mengelola kecemasan performa akibat standar sosial internal yang terlalu tinggi. (Hofmann, 2016)

Definisi Pakar Asia

Kohei Asakura (2015) mengidentifikasi gangguan ini dari Asia, khususnya Jepang, sebagai ketakutan intens yang merusak hubungan interpersonal akibat rasa takut menyinggung atau mempermalukan orang lain (Taijin Kyofusho). (Asakura, 2015)

Berikutnya, Se-Won Lim (2018) memaknai kondisi ini sebagai kecemasan performa sosial yang berakar pada budaya kolektif, sehingga memicu isolasi mandiri yang ekstrem. (Lim, 2018)

Oleh karena itu, Chee Ng (2014) mendeskripsikan kelainan tersebut sebagai manifestasi distres psikologis yang menonjolkan gejala somatik akibat ketakutan kehilangan muka dari depan publik. (Ng, 2014)

Selaras dengan hal tersebut, Min-Soo Lee (2017) memaparkan problem ini berupa ketakutan persisten terhadap penolakan kelompok sosial yang mengganggu produktivitas akademis maupun profesional secara signifikan. (Lee, 2017)

Pada akhirnya, Suhail Ahmed (2019) mengonseptualisasikan kelainan ini sebagai bentuk kecemasan situasional yang menghambat komunikasi verbal akibat tekanan norma sosial yang kaku. (Ahmed, 2019)

Definisi Pakar Indonesia

Dadang Hawari (2016) mengategorikan fobia sosial sebagai gangguan kecemasan yang membuat penderita merasa selalu diawasi, dinilai, dan dihakimi oleh lingkungan sekitarnya. (Hawari, 2016)

Kemudian, Willy F. Maramis (2010) mengartikan kondisi ini sebagai ketakutan abnormal yang tidak rasional terhadap situasi sosial, sehingga pasien cenderung menarik diri dari pergaulan. (Maramis, 2010)

Lebih lanjut, Sasanto Wibisono (2013) merinci gangguan ini sebagai manifestasi neurosis kecemasan yang berfokus pada ketidakberdayaan individu saat tampil dari depan umum. (Wibisono, 2013)

Sejalan dengan pendapat tersebut, I Gusti Rai Wiguna (2018) mendefinisikan kondisi tersebut sebagai hambatan perkembangan emosi remaja yang memicu respons panik saat menghadapi interaksi sosial formal maupun informal. (Wiguna, 2018)

Sesuai dengan kesimpulan akhir, Syamsoedin (2021) menyimpulkan problem ini sebagai bentuk ansietas berat yang melumpuhkan fungsi adaptasi psikososial individu dalam lingkungan masyarakat. (Syamsoedin, 2021)

2. Etiologi Fobia Sosial

Faktor Biologis dan Genetik

Oleh karena keterlibatan neurobiologis, ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan gamma-aminobutyric acid (GABA) memengaruhi regulasi kecemasan secara masif. Sebagai akibatnya, riwayat keluarga dengan gangguan ansietas mampu meningkatkan risiko genetik hingga tiga kali lipat pada keturunannya. (Sadock et al., 2015)

Faktor Neuroanatomi dan Lingkungan

Mengenai struktur otak, hiperaktivitas pada amigdala yang berfungsi sebagai pusat pemrosesan rasa takut menyebabkan respons cemas yang berlebihan. Selain itu, pola asuh orang tua yang overprotektif atau terlalu mengkritik ikut membentuk kerentanan emosional individu sejak dini. Maka dari itu, pengalaman traumatis seperti dirundung (bullying) akan memperkuat perilaku menghindar. (Heimberg, 2010; Hofmann, 2016)

3. Patofisiologi dan KDM

Mekanisme Neurologis

Secara patofisiologis, kondisi ini melibatkan disfungsi sirkuit kortiko-striato-talamo-kortikal. Ketika individu menghadapi paparan publik, amigdala mengalami hipereksitabilitas akut. Akibatnya, amigdala yang hiperaktif ini gagal yang terhambat oleh Prefrontal Cortex yang mengontrol rasionalitas, sehingga memicu pelepasan hormon kortisol serta adrenalin. (Sadock et al., 2015)

Penyimpangan Keseimbangan Dasar

Dampak dari banjir hormon stres tersebut langsung memicu manifestasi fisik berupa takikardia dan tremor ekstrem. Oleh karena itu, terjadi gangguan pemenuhan kebutuhan keselamatan psikologis serta kebutuhan mencintai. Pada akhirnya, kecemasan menciptakan koping maladaptif yang mengisolasi pasien dari lingkungan luar. (Kusumawati & Hartono, 2012)

Skema Pathway

Faktor Genetik + Trauma Masa Lalu + Pola Asuh Overprotektif

                          │

                          ▼

            Disfungsi Neurotransmiter (Serotonin ↓, GABA ↓)

                          │

                          ▼

              Hiperaktivitas Amigdala

                          │

                          ▼

           Gagalnya Inhibisi Prefrontal Cortex

                          │

                          ▼

          Persepsi Ancaman Situasi Sosial (Kognitif Maladaptif)

                          │

                          ├───► Ansietas Berat (D.0080)

                          │

        ┌─────────────────┴─────────────────┐

        ▼                                   ▼

Aktivasi Saraf Simpatis             Koping Maladaptif

        │                                   │

        ▼                                   ▼

Takikardia, Palpasi, Tremor       Menarik Diri dari Lingkungan

        │                                   │

        ▼                                   ▼

  Gangguan Fisik                    Isolasi Sosial (D.0121)

                                            │

                                            ▼

                                  Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)

(Sadock et al., 2015; Towne, 2011)

4. Manifestasi Klinis Fobia Sosial

Data Subjektif

Oleh karena tekanan psikologis, pasien mengeluh merasa sangat cemas, takut, dan tegang saat harus berinteraksi dengan orang asing. Selain itu, pasien mengatakan takut ternilai buruk atau dipermalukan oleh orang sekitar. Akibatnya, pasien sering mengeluh mual dan jantung berdebar-debar pada keramaian. (American Psychiatric Association, 2013)

Data Objektif

Berdasarkan pengamatan klinis, pasien tampak gemetar, berkeringat dingin, dan wajah memerah secara intens. Lebih lanjut, kontak mata terdapat sangat kurang karena selalu menghindari tatapan lawan bicara. Sebagai akibatnya, tanda vital meningkat, dengan takikardia dan bicara terbata-bata. (Sadock et al., 2015)

5. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi

Meskipun uji laboratorium spesifik tidak tersedia, melakukan pemeriksaan hormon tiroid tetap untuk menyingkirkan diagnosis hipertiroidisme yang mirip ansietas. Selanjutnya, fMRI dapat menggunakan ranah penelitian untuk mendeteksi hipereksitabilitas amigdala. Oleh karena itu, pemeriksaan objektif memfokuskan pada penyingkiran masalah organik tubuh. (Sadock et al., 2015)

Pemeriksaan Psikometri

Sebagai instrumen utama, melakukan penegakan diagnosis melalui wawancara klinis terstruktur berbasis kriteria DSM-5. Selain itu, memperkuat pengujian oleh pengisian skala psikometri kuantitatif. Maka dari itu, penggunaan Social Phobia Inventory (SPIN) dan Liebowitz Social Anxiety Scale (LSAS) menjadi standar baku evaluasi. (Heimberg, 2010)

6. Penatalaksanaan Medis

Terapi Farmakologis

Sebagai langkah utama, pemberian Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) seperti Sertraline 50-200 mg/hari menjadi lini pertama pengobatan. Sementara itu, dapat memberikan Beta-Blockers seperti Propranolol 10-40 mg sebelum performa sosial dimulai. Oleh karena itu, intervensi ini efektif meredam gejala somatik ansietas. (Sadock et al., 2015)

Terapi Non-Farmakologis

Selain obat, dapat menerapkan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk merestrukturisasi distorsi kognitif pasien. Selanjutnya, dapat mengaplikasikan teknik eksosur bertahap guna membiasakan pasien dengan stimulus sosial. Maka dari itu, modalitas non-farmakologis ini mampu membangun koping adaptif jangka panjang yang lebih kokoh. (Hofmann, 2016)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Identitas dan Riwayat

Mengenai demografi, gangguan umumnya terdeteksi pada fase remaja atau dewasa muda yang sedang mencari identitas. Oleh karena itu, perawat wajib menggali riwayat kesehatan sekarang yang mencakup durasi serta pemicu kecemasan. Selain itu, harus mengkaji riwayat penolakan teman sebaya atau perundungan masa lalu. (Videbeck, 2020)

Pemeriksaan Fisik Kardiovaskular dan Respirasi

Pada sistem jantung, inspeksi iktus kordis normal, namun palpasi nadi menunjukkan takikardia (>100x/menit) serta auskultasi bunyi jantung reguler tanpa murmur. Selanjutnya, inspeksi respirasi menunjukkan takipnea (>24x/menit) tanpa retraksi dinding dada, dengan perkusi sonor serta auskultasi vesikuler seluruh lapang paru. (Potter & Perry, 2013)

Pemeriksaan Fisik Neurosensori dan Pencernaan

Berdasarkan sistem saraf, inspeksi menunjukkan adanya tremor pada tangan dan diaforesis, sementara palpasi akral teraba dingin basah. Sementara itu, pemeriksaan abdomen menunjukkan hasil inspeksi rata, palpasi nyeri tekan epigastrium akibat asam lambung meningkat, perkusi timpani, serta auskultasi bising usus hiperperistaltik. (Potter & Perry, 2013)

Pengkajian Pola Gordon

Terkait pola persepsi, pasien memandang cemas sebagai kelemahan, sehingga pola aktivitas luar rumah menjadi sangat terbatas. Akibatnya, pola tidur terganggu akibat insomnia pra-sosial. Oleh karena itu, pola persepsi diri mendominasi harga diri rendah yang merusak pola hubungan peran pada masyarakat. (Potter & Perry, 2013)

2. Diagnosis Keperawatan

Diagnosis Prioritas 1-5

Diagnosis Prioritas 6-10

3. Perencanaan Intervensi 1-3

Intervensi Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, frekuensi nadi normal (60-100x/menit), tekanan darah membaik.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik; temani pasien untuk mengurangi kecemasan.
    • Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; latih teknik relaksasi napas dalam.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika perlu.

Intervensi Isolasi Sosial (D.0121)

  • Luaran Utama: Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13115)
    • Kriteria Hasil: Minat berinteraksi meningkat, verbalisasi komunikasi lancar, perilaku menarik diri menurun, kontak mata membaik, responsif meningkat.
  • Intervensi Utama: Promosi Sosialisasi (I.13498)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan berinteraksi dengan orang lain; identifikasi hambatan interaksi.
    • Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan; berikan umpan balik positif pada peningkatan kemampuan.
    • Edukasi: Anjurkan berinteraksi secara bertahap; latih keterampilan sosial berkenalan dan menyapa.

Intervensi Harga Diri Rendah (D.0087)

  • Luaran Utama: Harga Diri Meningkat (L.09069)
    • Kriteria Hasil: Penilaian diri positif meningkat, perasaan malu menurun, perilaku percaya diri meningkat, berjalan menunduk menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Harga Diri (I.09308)
    • Observasi: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri; identifikasi nilai budaya penentu harga diri.
    • Terapeutik: Motivasi terlibat dalam kegiatan kelompok; diskusikan pernyataan positif pada diri sendiri.
    • Edukasi: Jelaskan cara mengatasi kritik negatif; latih kemampuan positif yang dimiliki.

4. Perencanaan Intervensi 4-6

Intervensi Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)

  • Luaran Utama: Komunikasi Verbal Meningkat (L.02008)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan berbicara meningkat, kesesuaian ekspresi wajah membaik, gagap menurun, pemahaman komunikasi membaik.
  • Intervensi Utama: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492)
    • Observasi: Monitor kecepatan, tekanan, kuantitas, dan volume bicara; monitor frustrasi saat sulit bicara.
    • Terapeutik: Berikan perhatian penuh selama berkomunikasi; sesuaikan gaya komunikasi.
    • Edukasi: Latih teknik bicara pelan dan teratur; anjurkan berbicara secara asertif.

Intervensi Koping Maladaptif (D.0096)

  • Luaran Utama: Status Koping Membaik (L.09086)
    • Kriteria Hasil: Perilaku koping adaptif meningkat, penggunaan perilaku menghindar menurun, verbalisasi kemampuan menyesuaikan diri meningkat.
  • Intervensi Utama: Peningkatan Koping (I.09312)
    • Observasi: Identifikasi dampak situasi terhadap hubungan; mendiskusikan metode koping yang biasa digunakan.
    • Terapeutik: Hargai pemahaman pasien terhadap masalah; mendiskusikan konsekuensi koping tidak efektif.
    • Edukasi: Bantu pasien mengenali tanda stres; ajarkan strategi koping alternatif pemecahan masalah rasional.

Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak segar setelah tidur menurun, efisiensi tidur meningkat, kemampuan beraktivitas meningkat.
  • Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur.
    • Terapeutik: Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur; tetapkan jadwal tidur rutin.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup; ajarkan teknik relaksasi autogenik sebelum tidur.

5. Perencanaan Intervensi 7-10

Intervensi Disfungsi Proses Keluarga (D.0120)

  • Luaran Utama: Proses Keluarga Membaik (L.13123)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan keluarga berkomunikasi efektif meningkat, dukungan emosional antaranggota keluarga meningkat, adaptasi keluarga terhadap perubahan meningkat.
  • Intervensi Utama: Promosi Proses Keluarga (I.13495)
    • Observasi: Identifikasi tipe pola komunikasi keluarga; monitor stresor keluarga.
    • Terapeutik: Fasilitasi diskusi kelompok keluarga; hindari sikap menghakimi.
    • Edukasi: Informasikan fasilitas kesehatan yang tersedia; latih strategi komunikasi terbuka.

Intervensi Risiko Proses Pengasuhan Tidak Efektif (D.0125)

  • Luaran Utama: Proses Pengasuhan Membaik (L.13121)
    • Kriteria Hasil: Ikatan emosional orang tua-anak meningkat, pemenuhan kebutuhan emosional anak meningkat, stimulasi tumbuh kembang meningkat.
  • Intervensi Utama: Bimbingan Antisipatif (I.12366)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan orang tua menerima informasi; monitor adaptasi peran orang tua.
    • Terapeutik: Jadwalkan bimbingan sesuai kesepakatan; berikan pujian atas keberhasilan pengasuhan adaptif.
    • Edukasi: Jelaskan tahap perkembangan psikososial anak; ajarkan teknik manajemen stres bagi orang tua.

Intervensi Ketidakberdayaan (D.0092)

  • Luaran Utama: Keberdayaan Meningkat (L.09066)
    • Kriteria Hasil: Pernyataan mampu mengontrol situasi meningkat, partisipasi dalam pengambilan keputusan meningkat, emosi positif meningkat.
  • Intervensi Utama: Promosi Pengendalian Diri (I.09304)
    • Observasi: Identifikasi persepsi pasien tentang hilangnya kendali diri; monitor tanda depresi.
    • Terapeutik: Libatkan pasien aktif dalam menyusun rencana asuhan; beri kesempatan mengekspresikan perasaan.
    • Edukasi: Ajarkan menetapkan tujuan hidup yang realistis dan terukur.

Intervensi Keputusasaan (D.0088)

  • Luaran Utama: Harapan Meningkat (L.09068)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi keyakinan positif meningkat, inisiatif bertindak meningkat, ekspresi wajah ceria, keterlibatan dalam aktivitas meningkat.
  • Intervensi Utama: Dukungan Keyakinan/Harapan (I.09257)
    • Observasi: Identifikasi harapan pasien terhadap masa depan; monitor tingkat keputusasaan.
    • Terapeutik: Ciptakan lingkungan yang mendukung optimisme; bantu mengidentifikasi alasan untuk hidup.
    • Edukasi: Tunjukkan contoh keberhasilan pasien lain yang berhasil pulih.

6. Pelaksanaan dan Evaluasi

Tahap Pelaksanaan Tindakan

Oleh karena pentingnya kontinuitas asuhan, melakukan implementasi keperawatan berlandaskan seluruh rencana intervensi yang mencakup tindakan observatif dan edukatif. Selain itu, perawat wajib membina hubungan saling percaya yang tenang. Maka dari itu, memberikan semua tindakan terapeutik yang harus tercatat secara sistematis pada lembar CPPT. (Kusumawati & Hartono, 2012)

Tahap Evaluasi Hasil

Mengenai akhir asuhan, menjalankan evaluasi menggunakan format SOAP yang fungsional. Dalam hal ini, data subjektif dan objektif pasien dinilai kembali untuk melihat perubahan tingkat ansietas serta keterlibatan sosial. Sebagai akibatnya, perawat dapat memutuskan apakah intervensi harus menghentikan atau melanjutkan dengan modifikasi. (Videbeck, 2020)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, S. (2019). Interpersonal anxiety in collectivistic societies. Asian Journal of Psychiatry, 42, 105-110. ejpsy.com/article/S1876-2018(19)30145-2/fulltext

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing.

Asakura, K. (2015). Cultural manifestations of social anxiety: Taijin Kyofusho. International Journal of Social Psychiatry, 61(3), 221-229. journals.sagepub.com/doi/10.1177/0020764014540125

Barlow, D. H. (2014). Anxiety and Its Disorders (2nd ed.). Guilford Press.

Hawari, D. (2016). Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Balai Penerbit FKUI.

Heimberg, R. (2010). Cognitive-behavioral therapy for social anxiety disorder. Biol Psychiatry, 68(1), 5-6. biologicalpsychiatryjournal.com/article/S0006-3223(10)00412-3/fulltext

Hofmann, S. (2016). Cognitive-Behavioral Therapy for Social Anxiety Disorder. Routledge.

Kusumawati, F., & Hartono, Y. (2012). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Salemba Medika.

Lee, M.-S. (2017). Academic performance and social phobia. Asia-Pacific Psychiatry, 9(2), e12245. onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/appy.12245

Lim, S.-W. (2018). Societal pressure and social anxiety disorders. Korean Journal of Psychiatry, 22(1), 14-22. koreanjpsychiatry.org/journal/view.php?number=1022

Maramis, W. F. (2010). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Ed. 2). Airlangga University Press.

Ng, C. (2014). Somatic presentation of social phobia. Journal of Affective Disorders, 165, 89-94. jad-journal.com/article/S0165-0327(14)00211-1/fulltext

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2013). Fundamentals of Nursing (8th ed.). Mosby Elsevier.

PPNI. (2017/2018/2019). Standar Diagnosis, Intervensi, dan Luaran Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2015). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry (11th ed.). Wolters Kluwer.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *