RISIKO PROSES PENGASUHAN TIDAK EFEKTIF (D.0128)

RISIKO PROSES PENGASUHAN TIDAK EFEKTIF (D.0128)

by

in

DIAGNOSA RISIKO PROSES PENGASUHAN TIDAK EFEKTIF (D.0128)

A. DEFINISI 

  1. PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), risiko proses pengasuhan tidak efektif didefinisikan sebagai kerentanan mengalami proses kehamilan, persalinan, dan setelah melahirkan termasuk perawatan bayi baru lahir yang tidak sesuai dengan konteks, norma, dan harapan.
  2. Ramona T. Mercer Melalui teori Maternal Role Attainment—Becoming a Mother, Mercer memandang risiko ini sebagai kegagalan dalam proses interaksi dan adaptasi di mana ibu tidak mampu memperoleh kompetensi peran atau tidak mencapai identitas maternal yang nyaman, sehingga hubungan ibu-anak menjadi tidak optimal.
  3. World Health Organization (WHO) Dalam kerangka Nurturing Care, risiko ini diartikan sebagai kondisi di mana lingkungan pengasuhan gagal menyediakan kebutuhan dasar anak akan kesehatan, gizi yang adekuat, pengasuhan yang responsif, keamanan, dan kesempatan untuk belajar sejak dini karena keterbatasan kemampuan pengasuh.
  4. American Academy of Pediatrics (AAP) Melihat risiko pengasuhan tidak efektif sebagai kerentanan terhadap kegagalan penyediaan supervisi kesehatan dan dukungan perkembangan yang sesuai bagi bayi, yang dipengaruhi oleh faktor stresor sosial, masalah kesehatan mental orang tua, dan kurangnya pengetahuan tentang milestone anak.
  5. Marilynn E. Doenges Mendefinisikan kondisi ini sebagai kerentanan keluarga dalam memenuhi tugas perkembangan yang terkait dengan penambahan anggota baru, di mana faktor-faktor seperti kurangnya sistem pendukung atau krisis situasi menghambat transisi peran yang efektif dalam pengasuhan.

B. FAKTOR RISIKO

  1. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
  2. Kurang terpapar informasi tentang proses persalinan/pengasuhan.
  3. Kurang dukungan sosial.
  4. Kehamilan tidak diinginkan atau tidak direncanakan.
  5. Kurangnya minat dalam proses asuhan antenatal.
  6. Ketidakadekuatan akses ke fasilitas kesehatan.
  7. Ketidakadekuatan manajemen ketidaknyamanan selama persalinan.
  8. Distres psikologis.
  9. Ketidakberdayaan maternal.
  10. Kurang proaktif dalam mengikuti asuhan selama kehamilan.
  11. Keterbatasan sumber daya finansial.
  12. Masalah kesehatan mental pada orang tua.
  13. Penyalahgunaan zat atau alkohol.
  14. Lingkungan fisik yang tidak aman bagi bayi.
  15. Ketidaksesuaian budaya/norma dalam pengasuhan.

C. KONDISI KLINIS TERKAIT 

  1. Kehamilan tidak diinginkan.
  2. Kehamilan remaja.
  3. Depresi pasca persalinan (Postpartum Depression).
  4. Psikosis pasca persalinan (Postpartum Psychosis).
  5. Penyalahgunaan zat atau alkohol.
  6. Kondisi bayi prematur.
  7. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
  8. Bayi dengan kelainan kongenital atau cacat bawaan.
  9. Bayi dengan penyakit kronis atau kebutuhan khusus.
  10. Kematian anggota keluarga terdekat.
  11. Riwayat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
  12. Gangguan jiwa pada orang tua (mis. Skizofrenia, Gangguan Bipolar).
  13. Keluarga dengan orang tua tunggal.
  14. Kondisi ekonomi rendah (Kemiskinan).
  15. Kurangnya akses ke layanan kesehatan.

D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan Proses Pengasuhan (L.13123) meningkat dengan kriteria hasil sebagai berikut:

  1. Peningkatan paparan dan pemahaman informasi tentang persalinan dan pengasuhan.
  2. Keadekuatan manajemen nyeri dan ketidaknyamanan persalinan.
  3. Peningkatan aksesibilitas terhadap fasilitas pelayanan kesehatan.
  4. Penurunan tingkat stres psikologis dan perilaku penyalahgunaan zat.
  5. Terwujudnya keamanan lingkungan fisik bagi bayi.

E. INTERVENSI KEPERAWATAN UTAMA (SIKI)

Tindakan difokuskan pada penguatan struktur keluarga dan edukasi preventif:

  1. Promosi Keutuhan Keluarga (I.13490) a) Observasi: Identifikasi mekanisme koping keluarga dan konflik prioritas antar anggota keluarga. b) Terapeutik: Fasilitasi komunikasi terbuka, hargai privasi, dan libatkan keluarga dalam pengambilan keputusan klinis.
  2. Promosi Perlekatan (I.10342) Memfasilitasi interaksi awal antara orang tua dan bayi segera setelah lahir guna membangun ikatan emosional (bonding) yang kuat.
  3. Edukasi Pengasuhan (I.12419) Memberikan bimbingan teknis mengenai perawatan bayi, nutrisi, serta stimulasi perkembangan anak sesuai tahapannya.

F. TINJAUAN TEORETIS PAKAR

Dalam perspektif Ramona T. Mercer melalui teorinya Maternal Role Attainment-Becoming a Mother, proses pengasuhan bukan sekadar tugas fisik, melainkan sebuah pencapaian identitas. Risiko ketidakefektifan muncul apabila ibu gagal mengintegrasikan peran barunya ke dalam konsep diri. Intervensi keperawatan harus berfokus pada dukungan sosial dan penguatan kepercayaan diri ibu untuk mencegah kegagalan dalam interaksi ibu-anak yang dapat berdampak pada kesehatan mental bayi di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Pediatrics (AAP). (2022). Bright Futures: Guidelines for Health Supervision of Infants, Children, and Adolescents. Itasca, IL: American Academy of Pediatrics.

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span. Philadelphia: F.A. Davis Company.

Mercer, R. T. (2006). Becoming a Mother Versus Maternal Role Attainment. Journal of Nursing Scholarship, 38(3), 225-232.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

World Health Organization (WHO). (2020). Nurturing Care for Early Childhood Development: A Framework for Helping Children Survive and Thrive. Geneva: World Health Organization.