Demensia merupakan sindrom penurunan fungsi kognitif kronis yang memengaruhi daya ingat, bahasa, dan perilaku, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari pasien.
A. Konsep Medis Demensia
1. Definisi Demensia
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (2023) menyatakan bahwa demensia merupakan sindrom akibat penyakit otak yang bersifat kronis atau progresif, yang mana terdapat gangguan fungsi kortikal luhur yang multipel termasuk daya ingat, daya pikir, orientasi, pemahaman, berhitung, kemampuan belajar, berbahasa, dan kemampuan menilai. (WHO, 2023)
Selanjutnya, American Psychiatric Association (2013) menjelaskan kondisi ini sebagai gangguan neurokognitif mayor yang muncul dengan penurunan kognitif signifikan dari tingkat performa sebelumnya dalam satu atau lebih domain kognitif, yang kemudian mengganggu kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. (APA, 2013)
Selain itu, Prince et al. / Alzheimer’s Disease International (2015) mendefinisikan patologi ini sebagai sebuah sindrom sistemik yang timbul akibat degenerasi sel saraf otak secara progresif, sehingga memicu penurunan fungsi intelektual secara global dan berdampak buruk pada interaksi sosial penderita. (Prince et al., 2015)
Sementara itu, Gale et al. / Harvard Medical School (2018) merumuskan keadaan tersebut sebagai payung istilah untuk sekelompok gejala yang timbul akibat kerusakan sel otak oleh berbagai penyakit, seperti Alzheimer dan stroke, yang secara konsisten mengikis kemampuan berpikir tingkat tinggi seseorang. (Gale et al., 2018)
Sebagai pelengkap, Arvanitakis et al. / Rush University Medical Center (2019) memperjelas bahwa sindrom klinis ini melibatkan gangguan memori persisten yang berpadu dengan defisit kognitif lain, sehingga merusak kapasitas fungsional secara bertahap dan memicu ketergantungan total pada pengasuh. (Arvanitakis et al., 2019)
Definisi Pakar Asia
Chan et al. / Singapura (2014) menggambarkan penyakit ini sebagai gangguan neurodegeneratif yang semakin meningkat Asia, yang mana penurunan fungsi kognitif global menyebabkan hambatan berat dalam menjalankan peran sosial dan pekerjaan pada masyarakat. (Chan et al., 2014)
Sejalan dengan itu, Kim et al. / Korea Selatan (2018) menegaskan bahwa kelainan ini memanifestasikan dirinya sebagai penurunan kemampuan mental multidimensional yang mencakup kehilangan memori jangka pendek dan disorientasi spasial, yang secara progresif menghancurkan kualitas hidup lansia. (Kim et al., 2018)
Hubungan ini diperkuat oleh Wang et al. / Tiongkok (2020) yang mengidentifikasi situasi klinis tersebut sebagai kelainan otak organik yang ditandai dengan hilangnya kemampuan intelektual secara bertahap, yang mana faktor penuaan dan gangguan vaskular memegang peran utama dalam memicu manifestasi klinis. (Wang et al., 2020)
Lebih lanjut, Shaji et al. / India (2010) mengartikan fenomena ini sebagai kegagalan fungsi otak global yang bersifat didapat (acquired), yang mana penderita kehilangan keterampilan kognitif yang sebelumnya mereka kuasai, sehingga menimbulkan beban psikososial yang besar bagi keluarga. (Shaji et al., 2010)
Akhirnya, Kuroda et al. / Jepang (2021) mendefinisikan gangguan tersebut sebagai sindrom hilangnya fungsi kognitif yang telah berkembang sempurna akibat cedera otak organik, yang secara langsung membatasi kemampuan adaptasi lingkungan dan kemandirian fungsional lansia. (Kuroda et al., 2021)
Definisi Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2019) merumuskan masalah kesehatan ini sebagai kumpulan gejala penurunan fungsi kognitif secara progresif yang mengganggu fungsi sosial dan okupasional, bukan merupakan bagian dari proses penuaan normal. (Kemenkes RI, 2019)
Oleh karena itu, PERDOSSI (2015) menjelaskan bahwa keadaan ini adalah sindrom penurunan fungsi intelektual yang bersifat persisten, yang melibatkan gangguan memori dan minimal satu domain kognitif lain tanpa adanya gangguan kesadaran akut. (PERDOSSI, 2015)
Implikasinya, Suhana (2016) menyatakan bahwa kemunduran ini merupakan penyakit kemunduran otak yang menyerang sel-sel saraf, sehingga mengakibatkan hilangnya daya ingat secara bertahap, penurunan kemampuan berpikir, serta perubahan perilaku yang drastis pada lansia. (Suhana, 2016)
Meskipun demikian, Kusumoputro (2012) mendefinisikan kondisi ini sebagai suatu gangguan sosiomedis yang kompleks, di mana kerusakan jaringan otak menyebabkan penderita kehilangan kemampuan menilai realitas, mengendalikan emosi, dan berkomunikasi secara efektif. (Kusumoputro, 2012)
Sebagai kesimpulan, Nugroho (2010) menegaskan fenomena tersebut sebagai proses penurunan fungsi global otak yang bersifat menahun dan progresif, yang muncul dengan kemunduran kognitif multipel yang berujung pada ketergantungan penuh pada orang lain dalam aktivitas hidup sehari-hari. (Nugroho, 2010)
2. Etiologi Demensia
Mengelompokkan penyebab utama dari kerusakan jaringan otak ini ke dalam beberapa faktor pemicu yang berbeda:
- Penyakit Neurodegeneratif:
- Penyakit Alzheimer: Faktor utama (60-70%), ditandai dengan penumpukan plak beta-amiloid dan kekusutan neurofibrilar (tau protein) pada otak.
- Penyakit Lewy Body: Penumpukan protein alfa-sinuklein abnormal dalam neuron.
- Kerusakan Frontotemporal: Degenerasi pada lobus frontal dan temporal otak.
- Faktor Vaskular:
- Gangguan Vaskular Serebral: Kerusakan otak akibat gangguan aliran darah ke otak, seperti pada stroke multipel (multi-infarct) atau penyakit pembuluh darah kecil kronis.
- Infeksi Susunan Saraf Pusat:
- Dampak dari HIV, neurosifilis, dan Creutzfeldt-Jakob disease.
- Trauma dan Cedera Otak:
- Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE) akibat trauma kepala berulang.
- Gangguan Metabolik dan Toksik:
- Defisiensi Vitamin B12, hipotiroidisme, alkoholisme kronis, dan keracunan logam berat. (Gale et al., 2018; Kemenkes RI, 2019)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Perubahan Struktural Otak. Sumber: Aleksandr Kharitonov / Getty Images
Mekanisme internal kelainan ini melibatkan kematian neuron dan hilangnya sinapsis pada korteks serebral serta subkorteks. Akibatnya, akumulasi peptida beta-amiloid membentuk plak ekstraseluler yang beracun bagi neuron. Secara simultan, hiperfosforilasi protein tau menyebabkan kerusakan mikrotubulus intraseluler (neurofibrillary tangles), mengganggu transportasi nutrisi sel saraf, dan memicu apoptosis sel.
Oleh karena itu, pada gangguan vaskular, oklusi pembuluh darah memicu iskemia, infark fokal, dan pelepasan radikal bebas yang merusak jaringan otak secara progresif. Hubungan ini berdampak pada penurunan drastis produksi neurotransmiter asetilkolin, sehingga mengganggu transmisi sinyal memori dan kognisi. (Arvanitakis et al., 2019; PERDOSSI, 2015)
Penyimpangan KDM
Penurunan fungsi kognitif global mengganggu kemampuan interpretasi stimulus eksternal dan internal. Dengan demikian, kerusakan pada lobus frontal mengganggu kontrol perilaku dan motorik, memicu disorientasi, hilangnya kemampuan perawatan diri, penolakan makan, serta inkontinensia. Kondisi ini secara langsung mengganggu pemenuhan KDM seperti eliminasi, nutrisi, keamanan, dan kebersihan diri. (Nugroho, 2010)
Pathway Masalah Utama
Faktor Risiko (Usia, Genetik, Vaskular, Trauma)
│
├─────────────────────────────────────────┐
▼ ▼
Akumulasi Plak Amiloid & Protein Tau Iskemia & Infark Serebral
│ │
└───────────────────┬─────────────────────┘
▼
Kerusakan & Kematian Neuron
│
▼
Atrofi Otak & Penurunan Asetilkolin
│
▼
MASALAH UTAMA
│
┌───────────────────┼──────────────────────────────────┐
▼ ▼ ▼
Kerusakan Fungsi Penurunan Daya Ingat Penurunan Kemampuan
Kognitif & Disorientasi Motorik & Apraksia
│ │ │
▼ ▼ ▼
Perubahan Perilaku, Tersesat, Salah Mengenali Ketidakmampuan Mandiri
Defisit Memori Lingkungan, Risiko Cedera Makan, Mandi, Toileting
│ │ │
▼ ▼ ▼
[D.0066 Gangguan [D.0142 Risiko Cedera] [D.0108 Defisit Perawatan Diri]
Komunikasi Verbal] [D.0064 Konfusi Kronis] [D.0019 Defisit Nutrisi]
4. Manifestasi Klinis Demensia
Data Subjektif
Keluarga melaporkan pasien sering lupa meletakkan barang harian mereka. Selain itu, pengasuh menyatakan pasien sering menanyakan hal yang sama secara berulang kali. Pasien juga mengeluh bingung mengenai waktu, hari, atau keberadaan dirinya saat ini.
Selanjutnya, keluarga menyatakan pasien mengalami perubahan kepribadian yang drastis seperti menjadi mudah marah atau curiga tanpa alasan. Akhirnya, pasien merasa kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara. (APA, 2013; Kemenkes RI, 2019)
Data Objektif
Hasil skor MMSE atau MoCA-Ina menunjukkan angka rendah kurang dari 24. Selain itu, terdpat disorientasi yang mana pasien salah menyebutkan tanggal, tahun, atau tempat saat ini. Pemeriksaan juga menunjukkan ketidakmampuan mengulangi nama 3 objek setelah jeda 3 menit.
Lebih lanjut, tampak gejala apraksia seperti ketidakmampuan melakukan aktivitas motorik terencana dan afasia berupa kesulitan bicara. Pasien juga memperlihatkan tanda agitasi, perilaku berkeliaran (wandering), serta emosi yang labil. (PERDOSSI, 2015; Suhana, 2016)
5. Pemeriksaan Penunjang Demensia
Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi
Melakukan pemeriksaan darah lengkap dan kimia darah untuk menyingkirkan penyebab metabolik. Sebagai tambahan, pengukuran kadar Vitamin B12 dan Asam Folat mendeteksi gangguan reversibel akibat defisiensi nutrisi. Dapat juga melakukan pemeriksaan TSH dan FT4 guna menyingkirkan hipotiroidisme, sedangkan serologi sifilis dan HIV menilai infeksi kronis. (Gale et al., 2018; PERDOSSI, 2015)
Sementara itu, CT Scan Kepala atau MRI Otak menunjukkan adanya atrofi serebral, pelebaran ventrikel, infark vaskular lama, atau menyingkirkan adanya tumor otak dan hidrosefalus tekanan normal. (Arvanitakis et al., 2019)
Pemeriksaan Tambahan
Pemeriksaan neuropsikologis menggunakan instrumen MMSE, MoCA-Ina, dan Clock Drawing Test (CDT). Selain itu, pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) merekam aktivitas listrik otak jika dicurigai adanya kejang tersembunyi atau Creutzfeldt-Jakob disease. (PERDOSSI, 2015)
6. Penatalaksanaan Medis
Terapi Farmakologis
Pemberian obat golongan Inhibitor Asetilkolinesterase (AChEI) seperti Donepezil, Rivastigmine, atau Galantamine berfungsi meningkatkan kadar asetilkolin untuk kategori ringan-sedang. Sementara itu, Antagonis Reseptor NMDA seperti Memantine diberikan untuk menghambat eksitotoksistas glutamat pada tingkat sedang-berat.
Selanjutnya, dokter dapat meresepkan obat simtomatik berupa antidepresan seperti Sertraline atau antipsikotik atipikal seperti Risperidone dosis rendah jika muncul agitasi atau psikosis berat. (Gale et al., 2018; PERDOSSI, 2015)
Terapi Non-Farmakologis
Pelaksanaan Terapi Stimulasi Kognitif (CST) melibatkan latihan kelompok interaktif untuk merangsang memori dan kemampuan berpikir pasien. Oleh karena itu, Mengaplikasikan terapi Reminisens dengan mengajak pasien mengingat masa lalu menggunakan foto atau musik kenangan.
Sebagai pendukung, merancang modifikasi lingkungan aman dengan memasang penanda visual jelas seperti jam dinding besar, kalender, dan pencahayaan adekuat guna mencegah sundowning syndrome. (Kemenkes RI, 2019; Nugroho, 2010)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Riwayat dan Identitas
Pengkajian identitas mencakup nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan terakhir, dan kesiapan pengasuh (caregiver). Sementara itu, riwayat kesehatan mengevaluasi keluhan utama berupa kehilangan memori jangka pendek, disorientasi, serta onset kemunduran kognitif.
Selain itu, perawat harus menggali riwayat kesehatan dahulu seperti hipertensi, stroke, diabetes, trauma kepala, serta riwayat penyakit serupa dalam keluarga. (PERDOSSI, 2015)
Pemeriksaan Fisik Sistemik
- Sistem Persarafan: Inspeksi adanya tremor, langkah tidak stabil, apraksia. Palpasi kekuatan otot atau rigiditas. Perkusi refleks fisiologis dan munculnya refleks primitif.
- Sistem Respirasi: Inspeksi bentuk dada simetris, frekuensi napas normal. Palpasi taktil fremitus. Perkusi sonor. Auskultasi suara vesikuler, bebas ronkhi/wheezing.
- Sistem Kardiovaskular: Inspeksi iktus kordis. Palpasi letak iktus kordis. Perkusi batas jantung. Auskultasi bunyi S1 S2 tunggal, bebas murmur.
- Sistem Pencernaan & Eliminasi: Inspeksi abdomen flat, tanda malnutrisi, distensi kandung kemih, atau inkontinensia. Auskultasi bising usus. Palpasi massa/nyeri tekan. Perkusi timpani.
- Sistem Integumen & Muskuloskeletal: Inspeksi luka lecet, kebersihan kulit, atau kontraktur sendi akibat imobilisasi lama. (Nugroho, 2010)
Pengkajian Pola Fungsional
Pengkajian pola persepsi kesehatan menunjukkan ketidakmampuan mengenali gejala sakit fisik akibat kemunduran memori. Selanjutnya, pola nutrisi terganggu karena pasien lupa waktu makan atau mengalami penurunan fungsi menelan.
Sementara itu, pola eliminasi sering ditandai inkontinensia urin akibat keterbatasan kognitif. Pola aktivitas memperlihatkan ketergantungan ADL, sedangkan pola tidur menunjukkan siklus yang terbalik. Akhirnya, pola kognitif mengonfirmasi gangguan memori berat dan disorientasi. (Nugroho, 2010)
2. Diagnosis Keperawatan
- Konfusi Kronis (D.0064)
- Gangguan Memori (D.0062)
- Defisit Perawatan Diri (D.0109)
- Risiko Cedera (D.0136)
- Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Defisit Nutrisi (D.0019)
- Inkontinensia Urin Fungsional (D.0044)
- Ketidakmampuan Koping Keluarga (D.0093)
- Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0139)
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Tindakan Diagnosis 1-3
Intervensi Konfusi Kronis (D.0064)
- Luaran Utama: Fungsi Kognitif (L.09071) meningkat.
- Kriteria Hasil: Verbalisasi komunikasi tepat meningkat, orientasi kognitif meningkat, perilaku gelisah menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Demensia (I.09295).
- Observasi: Identifikasi riwayat fisik, kognitif, dan perilaku; monitor fungsi kognitif secara berkala.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan aman, bersih, dan konsisten; gunakan papan nama dan kalender besar; fasilitasi orientasi dengan foto keluarga.
- Edukasi: Anjurkan keluarga cara berkomunikasi efektif dengan kalimat pendek dan jelas; anjurkan aktivitas harian terstruktur.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian inhibitor asetilkolinesterase (Donepezil).
Intervensi Gangguan Memori (D.0062)
- Luaran Utama: Memori (L.09079) membaik.
- Kriteria Hasil: Kemampuan mengingat perilaku tertentu meningkat, kemampuan mengingat peristiwa meningkat, verbalisasi lupa menurun.
- Intervensi Utama: Latihan Memori (I.06188).
- Observasi: Identifikasi masalah memori spesifik yang dialami pasien.
- Terapeutik: Stimulasi memori dengan mengulang informasi yang baru disampaikan; fasilitasi terapi reminisens (mengingat masa lalu).
- Edukasi: Ajarkan teknik asosiasi visual atau verbal; anjurkan keluarga memantau pemenuhan kebutuhan harian pasien.
- Kolaborasi: Rujuk ke terapi okupasi jika diperlukan.
Intervensi Defisit Perawatan Diri (D.0108)
- Luaran Utama: Perawatan Diri (L.11103) meningkat.
- Kriteria Hasil: Kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan makan meningkat.
- Intervensi Utama: Dukungan Perawatan Diri (I.11348).
- Observasi: Monitor tingkat kemandirian fungsional pasien secara berkala.
- Terapeutik: Sediakan pakaian yang mudah dikenakan (tanpa kancing rumit); jadwalkan rutinitas perawatan diri yang konsisten.
- Edukasi: Ajarkan melakukan perawatan diri secara bertahap sesuai kemampuan; edukasi keluarga mendampingi tanpa mengambil alih penuh.
Rencana Tindakan Diagnosis 4-6
Intervensi Risiko Cedera (D.0142)
- Luaran Utama: Tingkat Cedera (L.14136) menurun.
- Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun, ketegangan otot menurun, luka/lecet fisik menurun.
- Intervensi Utama: Pencegahan Cedera (I.14537).
- Observasi: Identifikasi kebutuhan keamanan fisik berdasarkan tingkat gangguan kognitif.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya; pasang pegangan tangan; kunci pintu luar untuk mencegah berkeliaran malam hari.
- Edukasi: Edukasi keluarga mengenai pentingnya pengawasan 24 jam dan membuang benda tajam dari jangkauan pasien.
Intervensi Gangguan Komunikasi Verbal (D.0066)
- Luaran Utama: Komunikasi Verbal (L.13118) meningkat.
- Kriteria Hasil: Kemampuan berbicara meningkat, kesesuaian ekspresi wajah/tubuh meningkat, tingkat frustrasi menurun.
- Intervensi Utama: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492).
- Observasi: Monitor kecepatan, tekanan, dan volume bicara pasien.
- Terapeutik: Berbicaralah dengan perlahan, jelas, dan berhadapan langsung; gunakan pertanyaan dengan pilihan jawaban “Ya” atau “Tidak”.
- Edukasi: Anjurkan pasien berkomunikasi secara perlahan; edukasi keluarga untuk memberi waktu luang pada pasien dalam merespons.
Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Utama: Pola Tidur (L.05045) membaik.
- Kriteria Hasil: Jam tidur efektif meningkat, keluhan terjaga malam menurun, kemampuan beraktivitas siang hari meningkat.
- Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174).
- Observasi: Monitor pola, jam tidur, dan faktor pengganggu tidur pasien.
- Terapeutik: Batasi tidur siang; ciptakan lingkungan kamar yang nyaman dan tenang menjelang malam; hindari asupan kafein sore hari.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit kepada keluarga; ajarkan teknik relaksasi sebelum tidur.
Rencana Tindakan Diagnosis 7-10
Intervensi Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran Utama: Status Nutrisi (L.03030) membaik.
- Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan atau IMT membaik, nafsu makan membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119).
- Observasi: Monitor asupan makanan, cairan, dan berat badan secara berkala.
- Terapeutik: Sajikan makanan menarik dalam porsi kecil tapi sering, mudah dikunyah; temani pasien saat makan untuk mengingatkan proses mengunyah.
- Edukasi: Ajarkan pengasuh tentang modifikasi tekstur makanan jika pasien mengalami disfagia.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi terkait pemenuhan kebutuhan kalori harian.
Intervensi Inkontinensia Urin Fungsional (D.0044)
- Luaran Utama: Eliminasi Urin (L.04034) membaik.
- Kriteria Hasil: Inkontinensia urin menurun, kandung kemih kosong tuntas meningkat, disuria menurun.
- Intervensi Utama: Latihan Berkemi / Bladder Training (I.04149).
- Observasi: Monitor kebiasaan buang air kecil dan asupan cairan pasien.
- Terapeutik: Antar pasien ke toilet secara terjadwal setiap 2-3 jam; pasang tanda atau gambar toilet yang jelas pada pintu.
- Edukasi: Anjurkan pembatasan minum 2 jam sebelum tidur malam untuk mengurangi inkontinensia malam hari.
Intervensi Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0093)
- Luaran Utama: Status Koping Keluarga (L.09088) membaik.
- Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi kebutuhan anggota keluarga meningkat, kelelahan pengasuh (caregiver burden) menurun.
- Intervensi Utama: Dukungan Koping Keluarga (I.09260).
- Observasi: Identifikasi respons emosional, pemahaman, dan beban keluarga terhadap kondisi pasien.
- Terapeutik: Fasilitasi diskusi kelompok keluarga untuk berbagi beban; berikan dukungan psikologis kepada pengasuh utama.
- Edukasi: Edukasi keluarga mengenai perjalanan penyakit agar memiliki ekspektasi yang realistis terhadap perubahan perilaku pasien.
Intervensi Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0139)
- Luaran Utama: Integritas Kulit & Jaringan (L.14125) meningkat.
- Kriteria Hasil: Kerusakan jaringan menurun, kerusakan lapisan kulit menurun, kemerahan/eritema menurun.
- Intervensi Utama: Pencegahan Luka Tekan (I.14543).
- Observasi: Periksa kulit pada area tonjolan tulang secara rutin dari tanda kemerahan atau maserasi.
- Terapeutik: Lakukan reposisi atau alih baring setiap 2 jam sekali pada pasien imobilisasi; jaga kulit tetap bersih dan kering dari urin/feses.
- Edukasi: Ajarkan pengasuh menggunakan pelembap kulit dan menjaga kebersihan serta kekeringan linen kasur.
4. Implementasi
Melaksanakan implementasi keperawatan secara sistematis berdasarkan rencana tindakan SIKI. Kegiatan meliputi modifikasi lingkungan fisik, pelaksanaan jadwal berkemi, pemantauan asupan nutrisi, serta aplikasi terapi stimulasi kognitif dan reminisens. Di samping itu, perawat mengoordinasikan pemberian terapi farmakologis penunjang bersama tim medis. Tindakan edukatif diorientasikan kepada pengasuh untuk menjamin perawatan yang aman, konsisten, dan berkesinambungan selama di rumah.
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan dijalankan dengan menilai perkembangan kondisi pasien menggunakan metode SOAP secara berkala. Fokus evaluasi diarahkan pada pencapaian kriteria hasil fungsi kognitif, tingkat kemandirian fungsional harian, kestabilan status nutrisi, eliminasi yang teratur, serta pencegahan insiden cedera fisik. Hasil evaluasi menjadi dasar bagi perawat untuk menentukan apakah intervensi perlu dipertahankan, dimodifikasi, atau dihentikan karena masalah keperawatan telah teratasi sepenuhnya.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Washington DC: American Psychiatric Publishing.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Demensia. Jakarta: Kemenkes RI.
Nugroho, W. (2010). Keperawatan Gerontik & Geriatrik, Edisi 3. Jakarta: EGC.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). (2015). Panduan Praktik Klinis: Diagnosis dan Penatalaksanaan Demensia. Jakarta: PERDOSSI.
Suhana, M. (2016). Mengenal Demensia dan Asuhan Keperawatan pada Lansia. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Jurnal
Arvanitakis, Z., et al. (2019). Diagnosis and Management of Dementia: Review. JAMA, 322(16), 1589–1599. jamanetwork.com/journals/jama/article-abstract/2753381
Chan, K. Y., et al. (2014). Epidemiology of Alzheimer’s disease and other forms of dementia in China. The Lancet, 381(9882), 2016-2023. thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(13)60221-4/fulltext
Gale, S. A., et al. (2018). Dementia: Epidemiology, pathophysiology, and therapeutic avenues. The American Journal of Medicine, 131(10), 1161-1169. amjmed.com/article/S0002-9343(18)30283-X/fulltext
Kim, Y. J., et al. (2018). Prevalence and trends of dementia in Korea: A systematic review. Journal of Korean Medical Science, 33(19), e139. jkms.org/DOIx.php?id=10.3346/jkms.2018.33.e139
Kuroda, T., et al. (2021). Clinical characteristics and neuroimaging features of dementia in Japan. Psychiatry and Clinical Neurosciences, 75(4), 112-121. onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/pcn.13204
Prince, M., et al. (2015). The global prevalence of dementia: A systematic review. Alzheimer’s & Dementia, 9(1), 63-75. alz-journals.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1016/j.jalz.2012.11.007
Shaji, K. S., et al. (2010). The Dementia India Report: prevalence, economic burden and care strategy. ARDSI, 1-76. ardsi.org/pdf/Dementia_India_Report.pdf
Wang, Y., et al. (2020). The burden of dementia in the Western Pacific Region. Global Health Action, 13(1), 1782256. tandfonline.com/doi/full/10.1080/16549716.2020.1782256
World Health Organization. (2023). Dementia: Fact Sheet. WHO Global Reports. who.int/news-room/fact-sheets/detail/dementia

Tinggalkan Balasan