KONSEP MEDIS GANGGUAN PANIK

Gangguan panik merupakan serangan kecemasan akut dan hebat yang terjadi tiba-tiba, berulang, serta tanpa alasan jelas, sehingga memicu ketakutan luar biasa. (Sadock et al., 2017)

A. Konsep Medis Gangguan Panik

1. Definisi Penyakit Gangguan Panik

Definisi Dari Pakar Internasional

American Psychiatric Association (2013) mendefinisikan gangguan panik sebagai serangan panik tak terduga yang terjadi berulang kali, yang mana penderita mengalami ketakutan intens atau ketidaknyamanan luar biasa yang mencapai puncaknya dalam hitungan menit. (American Psychiatric Association, 2013)

Selanjutnya, Sadock, Sadock, dan Ruiz (2017) menjelaskan kondisi ini sebagai manifestasi kecemasan akut yang berat, yang mana pasien mengalami perasaan takut luar biasa yang disertai dengan gejala somatik otonom secara intermiten. (Sadock et al., 2017)

Sementara itu, World Health Organization (2019) melalui ICD-11 merumuskan gangguan ini sebagai karakteristik serangan panik berulang yang tidak terbatas pada situasi atau stimulus spesifik tertentu, sehingga onsetnya tidak dapat diprediksi oleh pasien. (World Health Organization, 2019)

Selain itu, Stahl (2021) memandang gangguan panik dari sudut neurobiologis sebagai bentuk kegagalan regulasi sirkuit ketakutan pada otak, yang pada akhirnya memicu alarm kecemasan palsu secara mendadak dan berulang. (Stahl, 2021)

Kemudian, Barlow (2022) mengartikan gangguan ini sebagai sindrom klinis yang terdominasi oleh kecemasan antisipatif (fear of fear), yang mana individu terus-menerus mengkhawatirkan datangnya serangan panik berikutnya beserta konsekuensi fisik atau mental dari serangan tersebut. (Barlow, 2022)

Definisi Pakar Asia

Park dan Kim (2019) dari Korea Selatan mengidentifikasi gangguan panik sebagai disfungsi psikosomatik kronis yang memicu kecemasan fisik hebat, yang mana pasien Asia sering kali memanifestasikannya lewat keluhan somatik berat daripada keluhan psikologis. (Park & Kim, 2019)

Oleh karena itu, Zhao, Wang, dan Li (2020) dari Tiongkok mengonseptualisasikan kondisi ini sebagai gangguan neurotik yang melibatkan ketidakseimbangan energi vital tubuh (Yin-Yang) dan sistem saraf pusat, sehingga menghasilkan metode ketakutan akut yang melumpuhkan aktivitas harian. (Zhao et al., 2020)

Sebaliknya, Sato dan Tanaka (2021) dari Jepang merumuskan gangguan panik sebagai bentuk fobia internal terhadap sensasi fisik tubuh sendiri, yang mana individu salah menginterpretasikan detak jantung cepat atau sesak napas sebagai tanda kematian yang mengancam. (Sato & Tanaka, 2021)

Lebih lanjut, Choudhury dan Rahman (2022) dari India mengartikan gangguan ini sebagai distres psikiatri akut yang bermanifestasi dalam bentuk serangan kecemasan paroksismal, yang mana faktor stresor psikososial lingkungan Asia sering kali memperberat derajat keparahannya. (Choudhury & Rahman, 2022)

Oleh sebab itu, Tan dan Lee (2023) dari Singapura mendefinisikan gangguan panik sebagai sindrom kecemasan klinis yang muncul dengan serangan panik spontan, yang mana manifestasi klinisnya sangat mempengaruhi tingkat literasi kesehatan mental individu pada era modern. (Tan & Lee, 2023)

Definisi Pakar Indonesia

Maramis dan Maramis (2014) mendefinisikan gangguan panik sebagai keadaan kecemasan yang parah, terjadi secara paroksismal dan spontan, serta tidak terbatas pada situasi tertentu sehingga menimbulkan penderitaan batin yang hebat bagi pasien. (Maramis & Maramis, 2014)

Namun demikian, Maslim (2013) berdasarkan PPDGJ-III merumuskan bahwa gangguan panik sebagai diagnosis utama jika tidak terdapat adanya gangguan fobia spesifik, yang mana serangan panik tersebut harus terjadi beberapa kali dalam sebulan. (Maslim, 2013)

Sebagai dampaknya, Amir (2015) menjelaskan kondisi ini sebagai penyakit otak biologis yang ditandai dengan serangan ketakutan luar biasa yang datang tiba-tiba, yang mana pengidapnya sering kali merasa seperti kehilangan kendali atau terkena serangan jantung. (Amir, 2015)

Alhasil, Elvira dan Hadisukanto (2018) mengartikan gangguan panik sebagai salah satu bentuk gangguan ansietas yang mana gejala utamanya berupa serangan panik berulang, serta dengan kecemasan antisipatif bahwa serangan tersebut akan datang kembali. (Elvira & Hadisukanto, 2018)

Akhirnya, Suryani (2020) mengonseptualisasikan gangguan panik sebagai ketidakberdayaan psikologis akut akibat respons maladatif sistem saraf otonom, yang memicu kepanikan hebat dan membuat pasien merasa terancam jiwanya meskipun berada pada lingkungan yang aman. (Suryani, 2020)

2. Penyebab Utama Gangguan Panik

Faktor Biologis dan Genetik

Faktor biologis memicu terjadinya disregulasi pada sistem saraf otonom, terutama akibat hipersensitivitas reseptor terhadap neurotransmitter tertentu. Oleh karena itu, terjadi ketidakseimbangan kadar norepinefrin (mengalami peningkatan), serotonin (mengalami penurunan), dan Gamma-Aminobutyric Acid/GABA (mengalami penurunan) dalam otak. (Sadock et al., 2017)

Selain itu, dari faktor neuroanatomi, terjadi hiperaktivitas pada amigdala (pusat sirkuit ketakutan di otak) dan gangguan regulasi pada lokus seruleus serta hipokampus, yang memicu alarm bahaya palsu pada tubuh. (Stahl, 2021)

Sementara itu, faktor genetik memegang peran penting yang mana individu yang memiliki anggota keluarga derajat pertama dengan riwayat gangguan ini memiliki risiko 4 hingga 8 kali lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama. (American Psychiatric Association, 2013)

Faktor Psikososial

Faktor psikososial menurut teori kognitif perilaku menunjukkan bahwa penderita memiliki kecenderungan untuk salah menginterpretasikan sensasi fisik ringan secara katastrofik (misalnya, menganggap jantung berdebar sebagai tanda serangan jantung). Oleh sebab itu, stresor kehidupan yang berat seperti kehilangan orang dicinta atau perceraian sering kali memicu onset serangan secara mendadak. (Barlow, 2022)

3. Mekanisme Penyakit Gangguan Panik

Patofisiologi Sistem Saraf

Patofisiologi kondisi ini berpusat pada hiperaktivitas sirkuit ketakutan pada otak yang melibatkan amigdala, lokus seruleus, dan korteks prefrontal. Ketika menghadapi stresor (atau bahkan tanpa pemicu), lokus seruleus mensekresi norepinefrin dalam jumlah besar, yang kemudian mengaktivasi sistem saraf simpatis secara masif. Pada saat yang sama, mekanisme inhibisi oleh serotonin dan GABA mengalami kegagalan. (Stahl, 2021)

Kondisi hiperaktivitas simpatis ini memicu respons fight-or-flight berupa takikardia, hiperventilasi, dan vasokonstriksi ekstrem. Hiperventilasi menyebabkan pengeluaran CO2 berlebih, memicu alkalosis respiratorik yang bermanifestasi sebagai pusing dan parestesia. (Stahl, 2021)

Oleh karena itu, amigdala yang hipersensitif mengirimkan sinyal bahaya ke korteks, namun korteks prefrontal gagal melakukan penilaian rasional, sehingga sensasi fisik tersebut diinterpretasikan secara keliru sebagai ancaman kematian atau kegilaan, yang berujung pada lingkaran setan kepanikan (panic loop). (Stahl, 2021)

Penyimpangan KDM (Pathway)

Stresor Psikososial / Faktor Genetik / Disregulasi Neurotransmitter (Norepinefrin naik, Serotonin & GABA turun)

Hiperaktivitas Amigdala & Lokus Seruleus

SERANGAN PANIK (Gangguan Ansietas)

├─────────────────────────────────────────┬─────────────────────────────────────────┐

▼ ▼ ▼

Aktivasi Sistem Saraf Simpatis Kecemasan Antisipatif Krisis Situasional

│ │ │

├──────────────────────┐ ▼ ▼

▼ ▼ Takut akan Serangan Ulangan Ancaman terhadap Kematian

Pelepasan Epinefrin Stimulasi Otak (Ketakutan Kehilangan Kendali) │

│ Aktivitas │ ▼

▼ Meningkat ▼ ANSIETAS

Jantung Berdebar │ KOPING MALADAPTIF

(Takikardia) ▼ │

│ Sulit Tidur ▼

▼ │ Menarik Diri / Isolasi

PENURUNAN CURAH ▼ │

JANTUNG GANGGUAN ▼

POLA TIDUR ISOLASI SOSIAL

Hiperventilasi (Napas Cepat & Dangkal)

├─────────────────────────────────────────┐

▼ ▼

Kompensasi Paru: Pengeluaran $CO_2$ Berlebih Penyempitan Jalan Napas (Rasa Tercekik)

│ │

▼ ▼

Alkalosis Respiratorik Pola Napas Tidak Efektif

Pusing, Parestesia (Kesemutan), Otot Tegang

GANGGUAN PERSEPSI SENSORI

(Elvira & Hadisukanto, 2018; Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

4. Manifestasi Klinis Gangguan Panik

a. Data Subjektif

  • Pasien mengeluh jantung berdebar-debar atau terasa berdetak kencang. (American Psychiatric Association, 2013)
  • Pasien merasa sesak napas, dada terasa sesak, atau seperti tercekik. (American Psychiatric Association, 2013)
  • Pasien mengungkapkan rasa takut yang luar biasa akan mati. (American Psychiatric Association, 2013)
  • Pasien mengeluh takut menjadi gila atau kehilangan kendali diri. (American Psychiatric Association, 2013)
  • Pasien mengeluh pusing, melayang, atau merasa goyah. (American Psychiatric Association, 2013)
  • Pasien merasakan kesemutan atau mati rasa pada ekstremitas (parestesia). (American Psychiatric Association, 2013)
  • Pasien mengeluh mual atau perut terasa tidak nyaman (butterflies in stomach). (American Psychiatric Association, 2013)

b. Data Objektif

  • Tampak diaforesis (keringat berlebih), terutama pada telapak tangan. (Sadock et al., 2017)
  • Tampak tremor atau tubuh gemetar secara nyata. (Sadock et al., 2017)
  • Peningkatan frekuensi nadi (takikardia, >100 kali/menit). (Sadock et al., 2017)
  • Peningkatan frekuensi napas (takipnea/hiperventilasi, >24 kali/menit). (Sadock et al., 2017)
  • Peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik akibat vasokonstriksi. (Sadock et al., 2017)
  • Wajah tampak pucat (pallor) dan ekspresi tegang atau ketakutan. (Sadock et al., 2017)
  • Gelisah, mondar-mandir, atau perilaku agitasi motorik. (Sadock et al., 2017)

5. Pemeriksaan Laboratorium & Penunjang

Jenis Pemeriksaan Laboratorium

Melakukan analisa Gas Darah (AGD) untuk mengevaluasi adanya alkalosis respiratorik (pH darah meningkat >7,45 dan pCO2 menurun <35 mmHg) akibat hiperventilasi selama serangan. Sementara itu, pemeriksaan kadar elektrolit darah berguna mengesampingkan hipokalassemia atau hipokalsemia yang dapat memicu keluhan jantung berdebar dan kram otot. (Amir, 2015)

Oleh karena itu, pemeriksaan fungsi tiroid (TSH, T3, T4 Free) juga perlu untuk menyingkirkan diagnosis banding hipertiroidisme yang gejalanya menyerupai kepanikan akut. Selanjutnya, skrining toksikologi urin memastikan bahwa serangan bukan diinduksi oleh zat amfetamin, kokain, atau intoksikasi kafein. (Amir, 2015)

Jenis Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya

Melakukan rontgen Thoraks (Foto Polos Dada) untuk menyingkirkan adanya patologi organ paru atau jantung, seperti pneumotoraks atau edema paru, yang dapat menyebabkan sesak napas akut. Sementara itu, melakukan juga CT-Scan atau MRI Kepala secara selektif jika terdapat kecurigaan adanya massa intrakranial, stroke, atau epilepsi lobus temporalis yang memicu manifestasi psikiatrik. (Sadock et al., 2017)

Selain itu, Elektrokardiografi (EKG) 12 Lead menjadi pemeriksaan wajib untuk menyingkirkan aritmia maligna, infark miokard akut, atau sindrom prolonged QT. Ekokardiografi mengevaluasi kemungkinan adanya Mitral Valve Prolapse (MVP) yang sering kali berkomorbiditas dengan kecemasan. Terakhir, melakukan Holter Monitoring (24-48 jam) jika palpitasi tidak terekam pada EKG standar untuk memastikan tidak ada gangguan irama jantung struktural. (Elvira & Hadisukanto, 2018)

6. Tata Laksana Pada Gangguan Panik

Terapi Farmakologis

Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) merupakan terapi lini pertama jangka panjang. Oleh karena itu, obat golongan ini bekerja meningkatkan kadar serotonin pada celah sinaptik. Contoh obat meliputi Fluoxetine (10-40 mg/hari), Sertraline (50-150 mg/hari), atau Escitalopram (10-20 mg/hari). Obat ini membutuhkan waktu 2-4 minggu untuk mencapai efek terapeutik. (Stahl, 2021)

Sementara itu, dapat menggunakan Benzodiazepine (BZD) sebagai terapi jangka pendek (abortif) untuk mengatasi serangan akut dengan cepat karena onsetnya yang instan melalui potensiasi reseptor GABA. Contohnya adalah Alprazolam (0,25-1 mg per kali serangan) atau Clonazepam (0,5-1 mg/hari). Namun demikian, penggunaannya harus dibatasi 2-4 minggu untuk mencegah dependensi. Selanjutnya, dapat menggunakan serotonin Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRI) seperti Venlafaxine Extended-Release (75-225 mg/hari) sebagai alternatif lini pertama jika SSRI tidak efektif. (Stahl, 2021)

Terapi Non-Farmakologis

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan standar emas psikoterapi. Oleh karena itu, CBT berfokus pada restrukturisasi kognitif (mengubah pikiran katastrofik pasien terhadap sensasi fisiknya) dan desensitisasi sistematis melalui paparan interoseptif. (Barlow, 2022)

Selain itu, teknik relaksasi napas dalam (Box Breathing) melatih pasien memperlambat laju napas guna mencegah alkalosis respiratorik selama serangan. Terakhir, psikoedukasi keluarga memberikan pemahaman kepada keluarga bahwa serangan tidak mematikan, sehingga keluarga dapat memberikan dukungan yang menenangkan tanpa memperparah kepanikan pasien. (Barlow, 2022)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Klinis

Identitas dan Riwayat Kesehatan Pasien

Pengkajian identitas pasien meliputi nama, umur (sering terjadi pada usia dewasa muda, 20-40 tahun), jenis kelamin (lebih banyak pada wanita dengan rasio 2:1), status pernikahan, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan alamat. (Maramis & Maramis, 2014)

Selanjutnya, pengkajian keluhan utama berfokus pada perasaan cemas atau takut luar biasa yang datang mendadak serta dengan dada berdebar dan sesak napas. Riwayat kesehatan sekarang mengkaji onset serangan, durasi (biasanya memuncak dalam 10 menit dan mereda dalam 20-30 menit), frekuensi serangan, serta faktor pemicu. (Elvira & Hadisukanto, 2018)

Sementara itu, riwayat kesehatan dahulu menelusuri apakah pernah mengalami trauma psikologis, penyalahgunaan zat, atau memiliki riwayat penyakit medis seperti asma atau gangguan tiroid. Kemudian, riwayat kesehatan keluarga mengkaji apakah ada anggota keluarga yang menderita gangguan kecemasan atau depresi. (Elvira & Hadisukanto, 2018)

Pemeriksaan Fisik Terfokus

Sistem Kardiovaskular (Fokus): Inspeksi iktus kordis tampak kuat, palpasi nadi meningkat (takikardia), auskultasi bunyi jantung S1 dan S2 reguler namun cepat, tidak ada murmur. Sistem Pernapasan (Fokus): Inspeksi adanya retraksi dinding dada minimal, takipnea, pola napas dangkal, palpasi taktil fremitus simetris, perkusi sonor pada seluruh lapang paru, auskultasi suara napas vesikuler tanpa ronkhi atau wheezing. (Suryani, 2020)

Sistem Persarafan (Fokus): Inspeksi adanya tremor pada tangan, keluhan pusing melayang, pupil tampak dilatasi (midriasis) akibat stimulasi simpatis. Sistem Pencernaan: Inspeksi abdomen datar, auskultasi bising usus meningkat (hiperperistaltik akibat stres), palpasi tidak ada nyeri tekan, perkusi timpani. Sistem Integumen: Inspeksi adanya pucat pada akral, palpasi kulit teraba dingin dan basah karena diaforesis (keringat dingin). (Suryani, 2020)

Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)

Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan: Pasien sering kali menganggap dirinya mengalami penyakit fisik mematikan (seperti serangan jantung) dan berulang kali mengunjungi IGD. Pola Nutrisi dan Metabolik: Terjadi penurunan nafsu makan atau mual saat kecemasan meningkat. Pola Eliminasi: Sering kali terjadi peningkatan frekuensi berkemih (frequency) atau diare akibat peningkatan aktivitas motorik usus oleh sistem simpatis. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

Pola Aktivitas dan Latihan: Terganggunya aktivitas harian karena pasien takut bepergian sendirian (menimbulkan agorafobia). Pola Istirahat dan Tidur: Mengalami insomnia, sulit memulai tidur karena cemas antisipatif akan datangnya serangan pada malam hari (nocturnal panic attack). Pola Kognitif dan Perseptual: Mengalami disorientasi ringan saat serangan, depersonalisasi (merasa asing dengan diri sendiri), atau derealisasi (lingkungan terasa tidak nyata). (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

2. Diagnosis Masalah Keperawatan

Prioritas Diagnosis 1-5

  • Ansietas (D.0080) b.d krisis situasional d.d merasa bingung, tampak gelisah, frekuensi nadi dan tekanan darah meningkat. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
  • Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d hambatan upaya napas (kecemasan) d.d takipnea, fase ekspirasi memanjang, pola napas abnormal (hiperventilasi). (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
  • Penurunan Curah Jantung (D.0008) b.d perubahan frekuensi jantung d.d palpitasi, takikardia, takikardia pada EKG. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
  • Gangguan Persepsi Sensori (D.0085) b.d gangguan integrasi sensori d.d merasakan lingkungan tidak nyata (derealisasi), merasa asing dengan diri sendiri (depersonalisasi). (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
  • Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d kurang kontrol tidur (kecemasan antisipatif) d.d mengeluh sulit tidur, mengeluh istirahat tidak cukup. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

Prioritas Diagnosis 6-10

  • Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d sistem pendukung tidak adekuat d.d ketidakmampuan mengatasi masalah, menggunakan koping yang menghindar. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
  • Isolasi Sosial (D.0121) b.d ketakutan akan respon negatif orang lain (saat serangan panik) d.d menarik diri, enggan berinteraksi. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
  • Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d kelemahan umum akibat imobilisasi psikologis d.d merasa lemah, mengeluh lelah setelah serangan. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
  • Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi d.d menanyakan masalah yang dihadapi, keliru menilai gejala fisik. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
  • Keputusasaan (D.0088) b.d stres jangka panjang d.d mengungkapkan kepasrahan, kurang inisiatif. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

3. Perencanaan Tindakan (Intervensi)

Intervensi Diagnosis 1: Ansietas (D.0080)

Tujuan & Kriteria Hasil: Setelah dilakukan intervensi selama 3×24 jam, Tingkat Ansietas (L.09093) menurun dengan kriteria hasil: verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, frekuensi nadi membaik (60-100 x/mnt). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, monitor tanda-tanda ansietas. Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, temani pasien untuk mengurangi kecemasan, pahami situasi yang membuat ansietas. Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami, informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis, latih teknik relaksasi (mis. napas dalam). Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 2: Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)

Tujuan & Kriteria Hasil: Setelah dilakukan intervensi selama 3×24 jam, Pola Napas (L.01004) membaik dengan kriteria hasil: frekuensi napas membaik (12-20 x/mnt), kedalaman napas membaik, pemanjangan fase ekspirasi menurun. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014). Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas, monitor pola napas (seperti hiperventilasi). Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien, dokumentasikan hasil pemantauan. Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan, ajarkan teknik bernapas lambat menggunakan kantong kertas atau metode Box Breathing (tarik 4 detik, tahan 4 detik, embuskan 4 detik). (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 3: Penurunan Curah Jantung (D.0008)

Tujuan & Kriteria Hasil: Setelah dilakukan intervensi selama 3×24 jam, Curah Jantung (L.02008) meningkat dengan kriteria hasil: palpitasi menurun, takikardia menurun, tekanan darah membaik (120/80 mmHg). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi: Perawatan Jantung (I.02075). Observasi: Monitor tekanan darah, nadi, dan EKG 12 lead, monitor saturasi oksigen. Terapeutik: Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler, sediakan lingkungan yang kondusif untuk istirahat (batasi pengunjung). Edukasi: Anjurkan beraktivitas fisik secara bertahap, ajarkan pasien dan keluarga membedakan nyeri dada psikologis dengan serangan jantung sesungguhnya. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat beta-blocker jika ada indikasi medis. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 4: Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)

Tujuan & Kriteria Hasil: Setelah dilakukan intervensi selama 3×24 jam, Persepsi Sensori (L.09083) membaik dengan kriteria hasil: derealisasi menurun, depersonalisasi menurun, konsentrasi membaik. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi: Manajemen Halusinasi/Orientasi (I.09230). Observasi: Monitor isi, waktu, dan frekuensi distorsi sensori. Terapeutik: Lakukan orientasi realitas (panggil nama, sebutkan waktu, tempat, dan lingkungan sekitar), hindari membantah atau mendukung distorsi sensori pasien. Edukasi: Ajarkan teknik menghentikan pikiran (thought stopping) saat sensasi derealisasi muncul, anjurkan fokus pada objek fisik yang nyata di sekitar pasien. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 5: Gangguan Pola Tidur (D.0055)

Tujuan & Kriteria Hasil: Setelah dilakukan intervensi selama 3×24 jam, Pola Tidur (L.05045) membaik dengan kriteria hasil: keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak segar saat bangun tidur menurun, kepuasan tidur meningkat. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174). Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur pasien, identifikasi faktor pengganggu tidur. Terapeutik: Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur (mis. membaca, mendengarkan musik lembut), tetapkan jadwal tidur yang teratur. Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit, ajarkan pencegahan insomnia (sleep hygiene). (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 6: Koping Maladaptif (D.0096)

Tujuan & Kriteria Hasil: Setelah dilakukan intervensi selama 3×24 jam, Status Koping (L.09086) membaik dengan kriteria hasil: kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, perilaku koping adaptif meningkat, penggunaan koping menghindar menurun. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi: Peningkatan Koping (I.09312). Observasi: Identifikasi tujuan yang realistis bagi pasien, identifikasi pemahaman pasien terhadap proses penyakit. Terapeutik: Hargai kemampuan dan pemecahan masalah pasien secara konstruktif, kurangi stimulasi lingkungan yang mengancam. Edukasi: Anjurkan mengekspresikan perasaan secara verbal, ajarkan mengidentifikasi sumber koping yang tersedia. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 7: Isolasi Sosial (D.0121)

Tujuan & Kriteria Hasil: Setelah dilakukan intervensi selama 3×24 jam, Keterlibatan Sosial (L.13115) meningkat dengan kriteria hasil: minat berinteraksi meningkat, verbalisasi tujuan yang jelas meningkat, perilaku menarik diri menurun. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi: Promosi Sosialisasi (I.13498). Observasi: Identifikasi kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan atau kelompok, berikan umpan balik positif pada setiap peningkatan kemampuan interaksi. Edukasi: Anjurkan berinteraksi secara bertahap, latih keterampilan sosial yang diperlukan pasien. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 8: Intoleransi Aktivitas (D.0056)

Tujuan & Kriteria Hasil: Setelah dilakukan intervensi selama 3×24 jam, Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat dengan kriteria hasil: keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun, kemampuan melakukan aktivitas harian meningkat. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi: Manajemen Energi (I.05178). Observasi: Monitor kelelahan fisik dan emosional. Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus selama fase pemulihan, fasilitasi aktivitas fisik ringan secara bertahap. Edukasi: Anjurkan tirah baring total saat terjadi serangan akut, ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan akibat cemas. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 9: Defisit Pengetahuan (D.0111)

Tujuan & Kriteria Hasil: Setelah melakukan intervensi selama 3×24 jam, Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat dengan kriteria hasil: perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun, persepsi keliru terhadap gejala menurun. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383). Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi. Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan yang jelas mengenai kondisi medis pasien, berikan kesempatan untuk bertanya. Edukasi: Jelaskan faktor risiko dan mekanisme terjadinya serangan secara biologis. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 10: Keputusasaan (D.0088)

Tujuan & Kriteria Hasil: Setelah dilakukan intervensi selama 3×24 jam, Harapan (L.09068) meningkat dengan kriteria hasil: verbalisasi kepasrahan menurun, ungkapan masa depan yang suram menurun, inisiatif bertindak meningkat. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi: Fasilitasi Koping Kelompok/Harapan (I.09268). Observasi: Monitor tingkat keputusasaan dan tanda-tanda depresi berkepanjangan. Terapeutik: Tunjukkan sikap empati dan optimisme yang realistis, bantu pasien mengidentifikasi aspek kehidupan yang masih berada dalam kendalinya. Edukasi: Anjurkan keterlibatan dalam kelompok pendukung (support group) dengan diagnosis serupa. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

4. Pelaksanaan Tindakan (Implementasi)

Pengelolaan Fase Akut

Melaksanakan implementasi keperawatan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah ditetapkan. Pada fase serangan akut, perawat memprioritaskan tindakan penyelamatan sirkulasi dan respirasi serta penenangan psikologis. Tindakan meliputi menenami pasien, menginstruksikan teknik napas lambat untuk mencegah alkalosis respiratorik, memantau tanda-tanda vital, serta berkolaborasi dalam pemberian obat antiansietas kerja cepat seperti Alprazolam. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Pengelolaan Fase Pemulihan

Setelah fase akut terlewati, perawat mengimplementasikan terapi jangka panjang seperti mengajari restrukturisasi kognitif koping adaptif, meningkatkan higiene tidur, mengedukasi keluarga mengenai penanganan kegawatan di rumah, serta memfasilitasi sosialisasi pasien agar terhindar dari perilaku isolasi sosial akibat agorafobia. Setiap tindakan yang didelegasikan atau dikerjakan harus tercatat secara rinci dalam lembar dokumentasi keperawatan beserta waktu pelaksanaannya. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

5. Penilaian Keberhasilan (Evaluasi)

Evaluasi SOAP Fase Akut dan Kronis

Melakukan evaluasi keperawatan dengan menilai tingkat keberhasilan intervensi menggunakan metode SOAP yang merujuk pada kriteria hasil pada SLKI: S (Subjektif) menunjukkan pasien melaporkan bahwa frekuensi serangan berkurang, rasa takut akan kematian mulai menghilang, dan pasien merasa lebih mampu mengendalikan diri ketika mendeteksi sensasi awal fisik yang biasanya memicu kepanikan. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

O (Objektif) menunjukkan tanda-tanda vital stabil (Tekanan Darah: 120/80 mmHg, Nadi: 76 x/menit, Frekuensi Napas: 18 x/menit), tidak tampak tremor atau diaforesis, wajah tampak rileks, dan pasien mampu mempraktikkan teknik relaksasi napas secara mandiri saat cemas timbul. A (Analisis) membuktikan masalah keperawatan teratasi sebagian atau teratasi sepenuhnya berdasarkan ketercapaian indikator kriteria hasil. P (Planning) memutuskan intervensi dihentikan jika masalah teratasi seluruhnya, atau intervensi dilanjutkan/dimodifikasi jika masalah belum sepenuhnya teratasi. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: DSM-5. 5th ed. Washington, DC: American Psychiatric Publishing.

Amir, N. (2015). Anxietas: Strategi Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Barlow, D. H. (2022). Anxiety and Its Disorders: The Nature and Treatment of Anxiety and Panic. 3rd ed. New York: Guilford Press.

Choudhury, S. & Rahman, A. (2022). Somatization and Panic Disorder in South Asian Context. J. Psych. Asia-Pacific, 14(2), 112-119. core.ac.uk/download/pdf/panic-disorder-asia

Elvira, S. D. & Hadisukanto, G. (2018). Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Maramis, W. F. & Maramis, A. A. (2014). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed 2. Surabaya: Airlangga University Press.

Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya.

Park, J. H. & Kim, Y. K. (2019). Neurobiology of Panic Disorder: Current Research Trends in Asia. Clin. Psychopharmacol. Neurosci., 17(3), 329-338. ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6657842

Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2017). Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry. 10th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer.

Sato, T. & Tanaka, K. (2021). Cognitive Interpretations of Somatic Sensations in Japanese Patients with Panic Disorder. Asian J. Psychiatr., 58, 102-109. sciencedirect.com/science/article/pii/S187620182100058X

Stahl, S. M. (2021). Stahl’s Essential Psychopharmacology. 5th ed. Cambridge: Cambridge University Press.

Suryani. (2020). Asuhan Keperawatan Jiwa dan Pendekatan Holistik pada Gangguan Ansietas. Bandung: Refika Aditama.

Tan, X. W. & Lee, M. H. (2023). Mental Health Literacy and Help-Seeking Behavior for Panic Symptoms in Singapore. Singapore Med. J., 64(4), 241-248. smj.org.sg/article/64/4/241

Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *