FUNGSI HATI Pemeriksaan dan Nilai Normal

Pemeriksaan fungsi hati dan nilai normal

Pemeriksaan
Nilai Normal
SGOT/AST
5 – 40 U/L
SGPT/ALT
7 – 56 U/L
Albumin
3,5 – 5 g/dL
Bilirubin total
0,3 – 1,2 mg/dL
Bilirubin direk
0 – 0,3 mg/dL
Alkali fosfatase
44 – 147 U/L

FUNGSI HATI: PEMERIKSAAN DAN NILAI NORMAL

Hati merupakan organ vital yang menjalankan lebih dari 500 fungsi dalam tubuh manusia, mulai dari metabolisme nutrisi hingga detoksifikasi zat berbahaya. Untuk menilai kesehatan organ ini, dilakukan rangkaian tes darah yang dikenal sebagai Tes Fungsi Hati (LFT – Liver Function Test).


Parameter Pemeriksaan Enzim Hati

Pemeriksaan enzim bertujuan untuk mendeteksi adanya kerusakan pada sel-sel hati (hepatosit).

  1. SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) / AST Enzim ini ditemukan di hati, jantung, dan otot. Peningkatan nilai menunjukkan adanya cedera pada sel hati atau jaringan otot lainnya.
  2. SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) / ALT Berbeda dengan SGOT, SGPT lebih spesifik terdapat di dalam sel hati. Ini adalah indikator paling sensitif untuk mendeteksi kerusakan hati akut.
  3. GGT (Gamma-Glutamyl Transferase) Pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi gangguan pada saluran empedu atau kerusakan hati akibat konsumsi alkohol.
  4. Alkali Fosfatase (ALP) Enzim yang ditemukan di hati dan tulang. Peningkatan drastis biasanya mengindikasikan adanya penyumbatan pada saluran empedu (kolestasis).

Parameter Fungsi Sintesis dan Ekskresi

Bagian ini menilai seberapa baik hati menjalankan fungsinya dalam memproduksi protein dan membuang limbah metabolisme.

  1. Albumin Protein utama yang disintesis oleh hati. Penurunan kadar albumin menunjukkan gangguan fungsi sintesis kronis (seperti pada sirosis).
  2. Bilirubin Produk limbah dari pemecahan sel darah merah. Jika hati tidak mampu memprosesnya, bilirubin akan menumpuk dan menyebabkan warna kuning pada kulit (ikterus).
  3. Total Protein Mengukur jumlah keseluruhan protein dalam darah, termasuk albumin dan globulin.

Interpretasi Klinis Secara Umum

  1. Pola Hepatoseluler: Ditandai dengan peningkatan dominan pada SGPT dan SGOT. Sering ditemukan pada kasus hepatitis virus atau perlemakan hati (fatty liver).
  2. Pola Kolestatik: Ditandai dengan peningkatan dominan pada ALP dan GGT. Biasanya berhubungan dengan batu empedu atau penyumbatan saluran empedu lainnya.
  3. Gangguan Sintesis: Ditandai dengan penurunan Albumin dan perpanjangan waktu pembekuan darah (PT/INR), yang sering muncul pada kondisi penyakit hati menahun.

Diagnosa SDKI

Berdasarkan parameter fungsi hati yang telah dipaparkan sebelumnya, berikut adalah daftar Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) yang relevan:

  1. Ikterik Neonatus (D.0024)
  2. Hiperbilirubinemia (Kategori terkait dalam analisis data)
  3. Risiko Gangguan Fungsi Hati (D.0034)
  4. Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036)
  5. Risiko Cedera (D.0136) — Akibat gangguan pembekuan darah atau ensefalopati hepatikum
  6. Defisit Nutrisi (D.0019)
  7. Hipovolemia (D.0023) — Misalnya pada kasus perdarahan varises esofagus
  8. Hipervolemia (D.0022) — Misalnya pada kasus asites atau edema akibat hipoalbuminemia
  9. Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
  10. Intoleransi Aktivitas (D.0056) — Akibat keletihan kronis pada gangguan hati