KETIDAKMAMPUAN KOPING KELUARGA (D.0093)

KETIDAKMAMPUAN KOPING KELUARGA (D.0093)

by

in

DIAGNOSA KETIDAKMAMPUAN KOPING KELUARGA (D.0093)

A. DEFINISI 

  1. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Perilaku orang terdekat (anggota keluarga atau orang berarti) yang membatasi kapasitas dirinya dan klien untuk beradaptasi dengan masalah kesehatan yang dihadapi secara efektif.
  2. NANDA International Perilaku orang terdekat (anggota keluarga, orang yang berarti, atau teman dekat) yang secara negatif memengaruhi kemampuan dirinya sendiri dan klien untuk melakukan tugas-tugas yang diperlukan dalam adaptasi terhadap tantangan kesehatan.
  3. Marilynn M. Friedman Suatu kegagalan unit keluarga dalam mengelola stresor karena ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya keluarga atau mengembangkan strategi adaptif, yang mengakibatkan gangguan pada fungsi dan integritas keluarga.
  4. Wright & Leahey Ketidakmampuan keluarga untuk memberikan dukungan, kenyamanan, bantuan, atau motivasi yang adekuat kepada anggota keluarga yang sakit, yang sering kali berakar dari konflik internal yang belum terselesaikan atau beban perawatan yang ekstrem.
  5. Lynda Juall Carpenito Kondisi di mana orang terdekat memberikan dukungan yang tidak efektif, tidak adekuat, atau bahkan membahayakan, sehingga menghambat perkembangan dan kemajuan kesehatan klien dalam menghadapi penyakit atau cedera.

B. DEFINISI ILMIAH

Ketidakmampuan koping keluarga merupakan fenomena psikososial di mana perilaku orang terdekat menunjukkan kegagalan dalam memberikan dukungan, rasa nyaman, atau bantuan yang diperlukan. Kondisi ini secara aktif membatasi kemampuan klien maupun keluarga untuk beradaptasi secara efektif terhadap tantangan kesehatan atau stresor penyakit yang dihadapi.

C. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

Berdasarkan tinjauan patopsikologis, ketidakmampuan koping keluarga dipicu oleh beberapa faktor determinan:

  1. Hubungan Ambivalen: Adanya konflik perasaan yang bertolak belakang (cinta dan benci) di antara anggota keluarga yang menghambat respon empati.
  2. Ketidakselarasan Strategi Koping: Perbedaan metode adaptasi antara klien dan keluarga yang menimbulkan friksi internal.
  3. Beban Kompleksitas Perawatan: Kelelahan peran pengasuh (caregiver strain) akibat regimen medis yang rumit atau durasi penyakit kronis yang lama.
  4. Hambatan Komunikasi Emosional: Ketidakmampuan atau keengganan orang terdekat untuk mengekspresikan perasaan secara asertif dan terbuka.

D. MANIFESTASI KLINIS (TANDA DAN GEJALA)

Tanda dan Gejala Mayor

Subjektif:

  • Klien mengeluh tentang respon orang terdekat terhadap masalah kesehatan.

Objektif:

  • Orang terdekat menarik diri dari klien.
  • Terbatasnya komunikasi antara orang terdekat dengan klien.
  • Orang terdekat menunjukkan perilaku protektif yang tidak sesuai dengan kemampuan mandiri klien.

Tanda dan Gejala Minor

Subjektif:

  • Orang terdekat menyatakan perasaan yang menekan (mis. depresi, cemas, takut).
  • Klien menyatakan bahwa orang terdekat tidak memberikan dukungan yang diharapkan.

Objektif:

  • Orang terdekat menunjukkan gejala somatik (mis. sakit kepala, gangguan pencernaan akibat stres).
  • Orang terdekat menunjukkan perilaku mengabaikan klien dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar atau pengobatan.
  • Anggota keluarga menunjukkan distorsi kenyataan terhadap masalah klien.
  • Terjadi pengabaian hubungan dengan anggota keluarga lain.

E. RENCANA LUARAN (OUTCOME)

Tujuan intervensi diarahkan pada Status Koping Keluarga Membaik (L.09088) dengan kriteria hasil ilmiah sebagai berikut:

  1. Peningkatan komitmen terhadap rencana pengobatan.
  2. Peningkatan efektivitas komunikasi antar anggota keluarga.
  3. Penurunan perilaku mengabaikan dan perasaan diabaikan.
  4. Terbentuknya mekanisme koping yang adaptif terhadap stresor kesehatan.

F. INTERVENSI KEPERAWATAN STRATEGIS

Intervensi berfokus pada penguatan struktur dan fungsi keluarga melalui dua pendekatan utama:

  1. Dukungan Koping Keluarga (I.09260)
  • Observasi: Identifikasi respon emosional dan beban psikologis terkait prognosis penyakit.
  • Terapeutik: Memfasilitasi pengungkapan perasaan antar anggota keluarga, mendengarkan aktif tanpa menghakimi, dan memfasilitasi pengambilan keputusan bersama.
  • Edukasi: Memberikan informasi perkembangan kondisi kesehatan secara kontinu.

2. Promosi Koping (I.09312)

  • Meningkatkan upaya kognitif keluarga dalam menilai stresor secara objektif.
  • Memotivasi penggunaan sumber daya pendukung, termasuk dukungan sosial dan spiritual.
  • Melatih keterampilan penyelesaian masalah (problem solving) secara konstruktif.

G. KONDISI KLINIS TERKAIT 

  1. Penyakit kronis (mis. Diabetes Melitus, Hipertensi).
  2. Penyakit terminal (stadium akhir).
  3. Gangguan jiwa (mis. Skizofrenia, Depresi).
  4. Penyalahgunaan zat atau adiksi (alkohol/narkoba).
  5. Kecacatan fisik atau mental yang menetap.
  6. Penyakit degeneratif (mis. Penyakit Alzheimer, Demensia).
  7. Kondisi ketergantungan bantuan total (mis. pasca Stroke berat).
  8. Krisis keluarga (mis. masalah ekonomi, perceraian).
  9. Kematian anggota keluarga yang mendadak.
  10. Kelainan bawaan atau kongenital pada anak.
  11. Penyakit menular kronis (mis. HIV/AIDS, Tuberkulosis).

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. (2017). Nursing Diagnosis: Application to Clinical Practice (15th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

Friedman, M. M., Bowden, V. R., & Jones, E. G. (2010). Family Nursing: Research, Theory & Practice (5th ed.). New Jersey: Pearson Education.

NANDA International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023 (12th ed.). Oxford: Wiley-Blackwell.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Wright, L. M., & Leahey, M. (2013). Nurses and Families: A Guide to Family Assessment and Intervention (6th ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company.