DIAGNOSA KESIAPAN PENINGKATAN KONSEP DIRI (D.0089)
A. DEFINISI
- PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Pola persepsi dan pikiran tentang diri sendiri yang cukup untuk kesejahteraan dan dapat ditingkatkan. Fokusnya adalah pada kesadaran individu untuk memperkuat dimensi konsep diri yang sudah ada.
- Gail W. Stuart Suatu kondisi dinamis di mana individu memiliki pandangan yang utuh terhadap identitas, citra tubuh, dan peran sosialnya, serta menunjukkan kapasitas untuk mengintegrasikan pengalaman hidup guna mencapai aktualisasi diri yang lebih tinggi.
- NANDA International Suatu penilaian klinis mengenai pola persepsi diri yang adekuat untuk kesejahteraan dan dapat diperkuat, yang berfokus pada motivasi intrinsik individu untuk meningkatkan efikasi diri dan integritas ego.
- Mary C. Townsend Status kesehatan di mana seseorang menunjukkan kesadaran diri yang positif dan keinginan untuk mengembangkan potensi psikologisnya lebih lanjut, terutama dalam aspek harga diri dan konsistensi identitas diri dalam berbagai situasi.
- Lynda Juall Carpenito Kesiapan seseorang untuk meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai pribadi dan kekuatan diri, yang ditandai dengan kemampuan untuk mengekspresikan kepuasan terhadap diri sendiri sambil tetap terbuka pada pertumbuhan kepribadian yang berkelanjutan.
B. DEFINISI ILMIAH
Kesiapan peningkatan konsep diri merupakan suatu penilaian klinis terhadap pola persepsi diri (mencakup citra tubuh, ideal diri, harga diri, peran, dan identitas pribadi) yang dinilai sudah cukup adekuat untuk mendukung kesejahteraan biologis, psikologis, dan sosial, namun subjek menunjukkan motivasi untuk memperkuat atau meningkatkan efikasi diri dan integritas egonya. Secara konseptual, konsep diri bukan sekadar gambaran statis, melainkan sistem dinamis yang memengaruhi cara individu memproses informasi, berinteraksi secara sosial, dan melakukan koping terhadap stresor lingkungan.
C. MANIFESTASI KLINIS (TANDA DAN GEJALA)
Sebagai diagnosis promosi kesehatan (health promotion), penegakannya didasarkan pada keinginan subjektif individu tanpa adanya etiologi patologis primer. Kriteria utama meliputi:
Gejala dan tanda mayor
Subjektif
- Merasa bingung.
- Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi.
- Sulit berkonsentrasi.
Objektif
- Tampak gelisah.
- Tampak tegang.
- Frekuensi tidur terganggu (gangguan pola tidur).
Gejala dan tanda minor
Subjektif
- Mengeluh pusing.
- Anoreksia (kehilangan nafsu makan).
- Palpitasi (jantung berdebar-debar).
- Merasa tidak berdaya.
Objektif
- Perubahan Vital Sign: Frekuensi nadi meningkat, tekanan darah meningkat, frekuensi napas meningkat.
- Respons Fisik: Diaforesis (keringat dingin), tremor (gemetar).
- Komunikasi dan Perilaku: Suara bergetar dan kontak mata yang buruk.
D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Target utama intervensi adalah Konsep Diri Membaik (L.09076) dengan kriteria hasil ilmiah sebagai berikut:
- Verbalisasi kepuasan diri meningkat: Individu mampu mengartikulasikan penerimaan atas kelebihan dan kekurangan secara objektif.
- Kepuasan penampilan peran: Transisi dan pelaksanaan tugas sesuai tahap perkembangan berjalan efektif.
- Citra tubuh positif: Persepsi terhadap fungsi dan struktur tubuh tetap stabil meski dalam kondisi sakit atau perubahan fisik.
- Identitas diri kuat: Mempertahankan keunikan individu dalam berbagai situasi sosial.
E. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)
Promosi Harga Diri (I.09308)
- Mengidentifikasi kekuatan personal dan pencapaian masa lalu.
- Memfasilitasi penetapan tujuan hidup yang realistis dan menantang (Self-Efficacy Enhancement).
Promosi Kesadaran Diri (I.09311)
- Eksplorasi nilai-nilai pribadi yang membentuk sistem kepercayaan diri.
- Teknik Mindfulness untuk mengenali respons emosional terhadap situasi tertentu.
Promosi Koping (I.09312)
- Melatih metode penyelesaian masalah secara konstruktif.
- Penguatan sistem dukungan sosial (Social Support System) untuk memvalidasi pertumbuhan konsep diri.
F. KONDISI KLINIS TERKAIT
- Masa pemulihan dari penyakit akut atau kronis.
- Tahap perkembangan remaja atau dewasa muda.
- Kondisi pasca rehabilitasi (fisik atau psikologis).
- Transisi peran yang sukses (misal: promosi jabatan, menjadi orang tua baru).
- Kehamilan yang direncanakan.
- Penyelesaian pendidikan atau pencapaian karier.
- Individu dalam program pengembangan diri atau konseling suportif.
- Masa nifas (postpartum) yang adaptif.
- Kondisi pasca tindakan medis yang berhasil (misal: bedah rekonstruksi atau estetik).
- Partisipasi dalam komunitas atau kelompok pendukung (support group).
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. (15th Ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021-2023. Oxford: Wiley-Blackwell.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Stuart, G. W. (2013). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. (10th Ed.). St. Louis: Mosby Elsevier.
Townsend, M. C., & Morgan, K. I. (2017). Psychiatric Mental Health Nursing: Concepts of Care in Evidence-Based Practice. Philadelphia: F.A. Davis Company.


Tinggalkan Balasan