Gangguan kecemasan sosial adalah ketakutan ekstrem terhadap penilaian orang lain dalam situasi sosial, yang memicu distres berat dan hambatan fungsi hidup sehari-hari.
- A. Konsep Medis Gangguan Kecemasan Sosial
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Gangguan Kecemasan Sosial
1. Definisi Kondisi Psikiatrik
Pakar Internasional
American Psychiatric Association (2013) menjelaskan kondisi ini sebagai sebuah ketakutan atau kecemasan luar biasa terhadap satu atau lebih situasi interaksi saat individu berpotensi mengamati perilaku mereka. (American Psychiatric Association, 2013)
Selanjutnya, World Health Organization (2019) mengartikan masalah tersebut sebagai ketakutan yang bermanifestasi nyata dari pusat perhatian atau kekhawatiran berperilaku dengan cara yang memalukan atau merendahkan martabat. (World Health Organization, 2019)
Sementara itu, Sadock, Sadock, & Ruiz (2015) mendefinisikan fobia klinis ini sebagai rasa takut yang menetap dan tidak rasional terhadap keadaan yang melibatkan pengawasan oleh lingkungan sekitar, terutama dalam area publik. (Sadock, Sadock, & Ruiz, 2015)
Kemudian, Heimberg & Magee (2014) menegaskan bahwa fenomena ini melibatkan bias kognitif yang kuat, yang mana pengidap secara konsisten meyakini bahwa orang lain akan mengevaluasi tindakan mereka secara negatif. (Heimberg & Magee, 2014)
Akhirnya, Stein & Stein (2008) merumuskan gangguan tersebut sebagai kondisi kronis yang melumpuhkan, yang gejalanya oleh kekhawatiran intens akan pengawasan interpersonal serta penolakan lingkungan. (Stein & Stein, 2008)
Pakar Asia
Subramaniam et al. (2021) menggambarkan kondisi tersebut sebagai hambatan psikologis berat yang mengganggu interaksi interpersonal serta menurunkan kualitas hidup secara signifikan dalam konteks budaya komunal Asia. (Subramaniam et al., 2021)
Sejalan dengan itu, Lee & Oh (2018) mengidentifikasi fenomena ini sebagai manifestasi klinis dari rasa takut membuat orang lain merasa tidak nyaman, yang berakar pada budaya kolektivisme Timur. (Lee & Oh, 2018)
Sementara itu, Tani et al. (2015) mendefinisikan keadaan tersebut melalui konsep Taijin Kyofusho, yaitu ketakutan ekstrem bahwa penampilan atau tindakan seseorang akan menyinggung, mempermalukan, atau membahayakan individu lain. (Tani et al., 2015)
Lebih lanjut, Zhao, Chen, & Wang (2020) mengartikan hambatan tersebut sebagai kecemasan interpersonal yang tinggi yang memicu perilaku penarikan diri ekstrem demi menghindari kritik dari kelompok sekitar. (Zhao, Chen, & Wang, 2020)
Oleh karena itu, Park & Kim (2019) merumuskan disfungsi ini sebagai kecemasan performa yang parah, yang menghambat pencapaian akademik dan karier individu pada lingkungan masyarakat yang kompetitif. (Park & Kim, 2019)
Pakar Indonesia
Maramis & Maramis (2014) mendefinisikan fobia ini sebagai ketakutan irasional yang sangat kuat untuk dinilai buruk oleh lingkungan sekitar dalam situasi formal maupun informal. (Maramis & Maramis, 2014)
Berikutnya, Nasir & Abdul (2015) merumuskan hambatan tersebut sebagai bentuk respons emosional maladaptif yang gejalanya oleh kegelisahan luar biasa saat berhadapan dengan kerumunan orang atau lingkungan baru. (Nasir & Abdul, 2015)
Sementara, Yusuf, Fitryasari, & Nihayati (2015) menjelaskan bahwa kecemasan klinis merupakan manifestasi ansietas berat yang membuat pasien menarik diri dari lingkungan karena merasa tidak berdaya di mata publik. (Yusuf, Fitryasari, & Nihayati, 2015)
Tambahan pula, Videbeck (2020) mengartikan gangguan ansietas ini sebagai fobia spesifik yang berpusat pada ketakutan melakukan sesuatu yang memalukan depan umum sehingga memicu kepanikan fisik. (Videbeck, 2020)
Sebagai penutup, Suryani (2017) dari Indonesia menekankan bahwa masalah ini sering muncul sebagai ketakutan berbicara depan umum yang ekstrem, yang berakar dari rasa rendah diri yang mendalam. (Suryani, 2017)
2. Etiologi Masalah Gangguan Kecemasan Sosial
Faktor biologis dan genetik memberikan kontribusi besar pada tingkat kerentanan saraf individu. Oleh karena itu, seseorang dengan kerabat derajat pertama yang menderita kondisi ini memiliki risiko tiga kali lebih tinggi. Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin dan GABA mengganggu regulasi emosi pada otak. (Sadock, Sadock, & Ruiz, 2015)
Selanjutnya, faktor neuroanatomis berpusat pada hiperaktivitas amigdala sebagai pemroses rasa takut. Struktur ini mendeteksi ancaman secara berlebihan pada stimulus sosial yang sebenarnya netral. Akibatnya, tubuh memicu alarm bahaya yang salah secara konstan. (Stein & Stein, 2008)
Sementara itu, faktor psikologis dan pola asuh turut membentuk skema kognitif yang maladaptif. Pengalaman interpersonal traumatis seperti perundungan (bullying) atau penghinaan depan umum memicu trauma emosional. Pola asuh orang tua yang terlalu melindungi juga membatasi kesempatan individu mengembangkan keterampilan interpersonal. (Heimberg & Magee, 2014)
3. Patofisiologi dan KDM
Mekanisme Neurologis
Secara neurobiologis, ketika individu berhadapan dengan situasi publik, terjadi kegagalan regulasi pada sirkuit kortiko-limbik. Amigdala mengalami hiperaktivitas, sementara korteks prefrontal gagal melakukan kontrol atas respons takut tersebut. Kondisi ini memicu aktivasi berlebih pada sistem saraf simpatis melalui aksis Hipotalamus-Pituitari-Adrenal. (Sadock, Sadock, & Ruiz, 2015)
Akibatnya, tubuh melepaskan hormon stres dalam jumlah besar ke aliran darah. Hal ini bermanifestasi sebagai gejala otonom seperti takikardia, tremor, dan hiperhidrosis. Secara kognitif, pasien mengalami bias atensi yang tajam terhadap ancaman sosial, memusatkan perhatian internal pada performa diri yang pasien anggap buruk. (Heimberg & Magee, 2014)
Penyimpangan KDM
Kondisi ini merusak pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia pada aspek keselamatan psikologis serta rasa memiliki. Rasa takut dihakimi membuat pasien menghindari interaksi, sehingga mengisolasi diri dan menghambat kepuasan hubungan interpersonal. (Yusuf, Fitryasari, & Nihayati, 2015)
Skema Pathway

4. Manifestasi Klinis Gangguan Kecemasan Sosial
Data Subjektif
Pasien mengeluhkan perasaan tegang dan panik yang luar biasa sebelum memasuki lingkungan baru. Mereka juga menyampaikan rasa takut ternilai buruk, dipermalukan, atau ditertawakan oleh orang lain. Sering kali, pasien mengeluh jantung berdebar, dada sesak, mual, serta pusing saat harus berinteraksi. (American Psychiatric Association, 2013)
Data Objektif
Secara objektif, tampak tanda otonom seperti takikardia, takipnea, wajah memerah (blushing), dan tremor pada tangan. Perilaku yang muncul meliputi penghindaran kontak mata, postur kaku, suara pelan, atau mendadak diam (freezing). Pasien juga tampak menjauh dari kerumunan dan menyendiri. (Maramis & Maramis, 2014)
5. Pemeriksaan Penunjang
Evaluasi Laboratorium
Tidak ada uji laboratorium spesifik untuk mendiagnosis gejala ini. Namun, melakukan pemeriksaan fungsi tiroid (TSH, Free T4) untuk menyingkirkan hipertiroidisme yang memicu gejala fisik mirip ansietas. Selain itu, pemeriksaan glukosa darah menyingkirkan hipoglikemia yang dapat memicu tremor. (Sadock, Sadock, & Ruiz, 2015)
Evaluasi Pencitraan
Menggunakan pemeriksaan fMRI dan PET Scan umumnya dalam ranah penelitian klinis. Hasil pencitraan menunjukkan peningkatan aliran darah serta hiperaktivitas pada amigdala dan area insula. Kondisi ini terlihat jelas saat pasien dihadapkan pada stimulus berupa wajah marah atau skenario interaksi publik. (Stein & Stein, 2008)
Evaluasi Psikometrik
Menegakkan diagnosis melalui wawancara klinis terstruktur berdasarkan kriteria DSM-5. Selain itu, klinisi menggunakan skala psikometrik mandiri seperti Liebowitz Social Anxiety Scale (LSAS) dan Social Phobia Inventory (SPIN) untuk mengukur tingkat keparahan fobia. (Heimberg & Magee, 2014)
6. Penatalaksanaan Medis
Terapi Farmakologis
Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) seperti Escitalopram (10-20 mg/hari) atau Sertraline (50-200 mg/hari) menjadi pilihan utama jangka panjang. Obat ini bekerja meningkatkan ketersediaan serotonin pada celah sinaps saraf untuk menstabilkan suasana perasaan. (Stein & Stein, 2008)
Selanjutnya, dapat memberikan senyawa Beta-Blockers seperti Propranolol (10-40 mg) 30-60 menit sebelum melakukan performa publik. Obat ini efektif memblokir respons otonom simpatis seperti takikardia dan tremor tanpa efek sedasi. Menggunakan Benzodiazepin hanya jangka pendek untuk mengendalikan kepanikan akut. (Sadock, Sadock, & Ruiz, 2015)
Terapi Non-Farmakologis
Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan standar emas untuk merestrukturisasi pola pikir negatif otomatis. Melalui terapi ini, mengajak pasien menantang distorsi kognitif mereka. Kemudian melakukan terapi paparan bertahap (exposure) agar pasien terbiasa menghadapi situasi yang pasien takuti secara aman. (Heimberg & Magee, 2014)
Selain itu, menerapkan Social Skills Training (SST) untuk melatih keterampilan komunikasi, asertivitas, dan kontak mata melalui metode bermain peran. Mengajarkan juga Latihan mindfulness dan relaksasi otot progresif sebagai modalitas tambahan untuk menurunkan ketegangan fisik otonom. (Yusuf, Fitryasari, & Nihayati, 2015)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Klinis
Identitas dan Riwayat
Perawat mengumpulkan data nama, usia (biasanya onset remaja), dan pekerjaan yang terganggu akibat fobia. Riwayat kesehatan sekarang mengeksplorasi pemicu cemas, durasi, dan mekanisme koping. Riwayat dahulu mencari adanya trauma perundungan, sementara riwayat keluarga melacak kerentanan genetik ansietas. (Nasir & Abdul, 2015)
Pemeriksaan Fisik
- Sistem Kardiovaskular: Inspeksi iktus kordis tampak kuat saat cemas. Palpasi takikardia (nadi > 100x/menit). Perkusi batas jantung normal. Auskultasi bunyi jantung I dan II tunggal, tekanan darah meningkat transien.
- Sistem Pernapasan: Inspeksi tampak takipnea (napas > 24x/menit) dan dangkal. Palpasi taktil fremitus simetris. Perkusi sonor. Auskultasi suara vesikuler, tidak ada ronkhi atau wheezing.
- Sistem Integumen: Inspeksi wajah memerah (flushing) dan diaforezis. Palpasi akral teraba dingin dan basah pada telapak tangan.
- Sistem Pencernaan: Inspeksi perut datar. Auskultasi bising usus meningkat (hiperperistaltik). Palpasi terdapat nyeri tekan epigastrium akibat peningkatan asam lambung. Perkusi timpani.
- Sistem Persarafan & Muskuloskeletal: Inspeksi adanya tremor halus pada jari tangan dan postur tubuh kaku. Palpasi tonus otot meningkat pada area bahu dan kuduk. (Suryani, 2017)
Pola Kesehatan Gordon
Pengkajian pola persepsi diri menunjukkan harga diri rendah dan perasaan tidak mampu. Pola koping memperlihatkan penggunaan mekanisme penghindaran dan isolasi diri. Pola peran-hubungan mengindikasikan kerusakan interaksi sosial dan kegagalan menjalankan peran sebagai siswa atau pekerja akibat penarikan diri. (Yusuf, Fitryasari, & Nihayati, 2015)
2. Diagnosis Keperawatan (SDKI)
Diagnosis Prioritas 1-5
- Ansietas (D.0080)
- Isolasi Sosial (D.0121)
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
- Penampilan Peran Tidak Efektif (D.0125) (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
Diagnosis Prioritas 6-10
- Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Disfungsi Seksual (D.0069)
- Ketidakberdayaan (D.0092)
- Risiko Harga Diri Rendah Kronis (D.0102) (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
3. Perencanaan Intervensi (SLKI & SIKI)
Intervensi Diagnosis 1-2
Ansietas (D.0080)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang pasien hadapi menurun (5), Perilaku gelisah menurun (5), Palpitasi menurun (5), Gemetar menurun (5), Konsentrasi membaik (5). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
- Intervensi Utama (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan; Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang.
- Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Latih teknik relaksasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Isolasi Sosial (D.0121)
- Luaran Utama (SLKI): Keterlibatan Sosial (L.13115) meningkat. Kriteria hasil: Minat berinteraksi meningkat (5), Verbalisasi tujuan yang jelas meningkat (5), Perilaku menarik diri menurun (5). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Sosialisasi (I.13498)
- Observasi: Identifikasi kemampuan mengambil bagian dalam aktivitas sosial.
- Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan; Motivasi kesabaran dalam mengembangkan hubungan; Berikan umpan balik positif pada setiap peningkatan kemampuan.
- Edukasi: Anjurkan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap; Anjurkan berbagi pengalaman dengan orang lain; Latih bermain peran untuk meningkatkan keterampilan sosial. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 3-4
Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Luaran Utama (SLKI): Harga Diri (L.09069) meningkat. Kriteria hasil: Verbalisasi penerimaan diri meningkat (5), Penilaian diri positif meningkat (5), Verbalisasi perasaan malu menurun (5), Kontak mata membaik (5). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Harga Diri (I.09308)
- Observasi: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri.
- Terapeutik: Motivasi terhadap keberhasilan yang telah dicapai; Diskusikan persepsi negatif terhadap diri; Pertahankan kontak mata selama berkomunikasi.
- Edukasi: Anjurkan mengidentifikasi kekuatan diri; Ajarkan cara berpikir positif dan restrukturisasi kognitif. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
- Luaran Utama (SLKI): Interaksi Sosial (L.13116) meningkat. Kriteria hasil: Frekuensi hubungan sosial meningkat (5), Responsif pada orang lain meningkat (5), Gejala cemas dalam situasi sosial menurun (5). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
- Intervensi Utama (SIKI): Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484)
- Observasi: Identifikasi kesulitan berinteraksi dengan orang lain.
- Terapeutik: Berikan lingkungan yang aman untuk mempraktikkan keterampilan baru; Berikan penghargaan atas upaya berinteraksi.
- Edukasi: Edukasi pasien mengenai teknik komunikasi verbal dan non-verbal; Anjurkan mengevaluasi hasil interaksi secara mandiri. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 5-6
Penampilan Peran Tidak Efektif (D.0125)
- Luaran Utama (SLKI): Penampilan Peran (L.13119) membaik. Kriteria hasil: Verbalisasi harapan peran terpenuhi meningkat (5), Adaptasi terhadap perubahan peran meningkat (5), Strategi koping yang efektif meningkat (5). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Pelaksanaan Peran (I.13479)
- Observasi: Identifikasi hambatan pelaksanaan peran sosial dan pekerjaan.
- Terapeutik: Fasilitasi adaptasi peran baru melalui teknik bermain peran; Diskusikan perilaku alternatif yang adaptif.
- Edukasi: Ajarkan strategi manajemen stres untuk mengatasi tuntutan peran; Anjurkan mengikuti kelompok pendukung. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran Utama (SLKI): Status Koping (L.09086) membaik. Kriteria hasil: Kemampuan memenuhi kebutuhan peran membaik (5), Perilaku koping adaptif meningkat (5), Mekanisme penghindaran menurun (5). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Koping (I.09312)
- Observasi: Identifikasi pemahaman pasien terhadap proses penyakit dan pemicu stres.
- Terapeutik: Fasilitasi pasien dalam memecahkan masalah secara objektif; Diskusikan risiko dari perilaku menarik diri.
- Edukasi: Ajarkan memecahkan masalah secara bertahap; Anjurkan penggunaan dukungan sosial keluarga secara aktif. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 7-8
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Utama (SLKI): Pola Tidur (L.05045) membaik. Kriteria hasil: Kemampuan memulai tidur meningkat (5), Keluhan sering terjaga menurun (5), Keluhan tidak segar saat bangun tidur menurun (5). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur pasien; Monitor faktor pengganggu tidur.
- Terapeutik: Fasilitasi mempertahankan rutinitas tidur yang konsisten; Sesuaikan lingkungan.
- Edukasi: Ajarkan sleep hygiene; Ajarkan teknik relaksasi otot progresif sebelum tidur. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Disfungsi Seksual (D.0069)
- Luaran Utama (SLKI): Fungsi Seksual (L.07055) membaik. Kriteria hasil: Kepuasan hubungan seksual meningkat (5), Verbalisasi kecemasan performa seksual menurun (5). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
- Intervensi Utama (SIKI): Konseling Seksualitas (I.07214)
- Observasi: Identifikasi tingkat kecemasan yang menghambat ekspresi seksualitas.
- Terapeutik: Bangun hubungan terapeutik yang tidak menghakimi; Fasilitasi komunikasi terbuka antara pasien dan pasangan.
- Edukasi: Jelaskan pengaruh kecemasan otonom terhadap respons fisik seksual; Ajarkan teknik pengurangan stres sebelum keintiman. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Intervensi Diagnosis 9-10
Ketidakberdayaan (D.0092)
- Luaran Utama (SLKI): Keberdayaan (L.09071) meningkat. Kriteria hasil: Pernyataan mampu melakukan aktivitas interaksi meningkat (5), Perasaan dihakimi oleh orang lain menurun (5), Keterlibatan dalam pengambilan keputusan perawatan meningkat (5). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Pengendalian Diri (I.09307)
- Observasi: Identifikasi area yang masih dapat dikendalikan secara mandiri oleh pasien.
- Terapeutik: Libatkan pasien secara aktif dalam menentukan target paparan sosial mingguan; Berikan pujian atas kemandirian.
- Edukasi: Informasikan hak-hak pasien dalam proses perawatan; Latih teknik asertivitas dasar. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Risiko Harga Diri Rendah Kronis (D.0102)
- Luaran Utama (SLKI): Harga Diri (L.09069) meningkat. Kriteria hasil: Verbalisasi penerimaan diri meningkat (5), Perasaan gagal mengontrol cemas menurun (5), Keyakinan melakukan kemampuan sosial meningkat (5). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
- Intervensi Utama (SIKI): Restrukturisasi Kognitif (I.09315)
- Observasi: Identifikasi asumsi atau distorsi kognitif yang mendasari penilaian buruk terhadap diri.
- Terapeutik: Tantang pikiran otomatis negatif pasien secara objektif menggunakan bukti-bukti realitas; Bantu mendesain ulang pola pikir yang adaptif.
- Edukasi: Ajarkan pasien mengidentifikasi tanda-tanda awal bias atensi; Latih afirmasi diri positif secara harian. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
4. Implementasi Tindakan
Perawat melaksanakan implementasi berdasarkan intervensi SIKI yang telah terencana. Tindakan nyata meliputi penciptaan lingkungan terapeutik, pemantauan tanda vital otonom, dan mendampingi pasien menghadapi situasi interpersonal. Perawat juga melatih restrukturisasi kognitif untuk mengubah pikiran otomatis negatif, mengajarkan relaksasi napas dalam, melakukan simulasi bermain peran keterampilan komunikasi, serta memfasilitasi interaksi sosial bertahap. (Nasir & Abdul, 2015)
5. Evaluasi Hasil
Perawat mengevaluasi perkembangan pasien menggunakan format SOAP secara berkala. Evaluasi subjektif menunjukkan penurunan keluhan cemas dan peningkatan kepercayaan diri. Secara objektif, kontak mata membaik, tanda vital stabil, dan pasien mampu terlibat dalam kelompok kecil tanpa melarikan diri. Analisis berfokus pada pencapaian luaran SLKI untuk menentukan apakah intervensi perlu dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan. (Yusuf, Fitryasari, & Nihayati, 2015)
DAFTAR PUSTAKA
Buku
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Washington DC: American Psychiatric Publishing.
Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2014). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press.
Nasir, A., & Abdul, M. (2015). Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa: Pengantar dan Teori. Jakarta: Salemba Medika.
Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2015). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry. 11th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer.
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
Videbeck, S. L. (2020). Psychiatric-Mental Health Nursing. 8th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer.
Yusuf, A., Fitryasari, R., & Nihayati, H. E. (2015). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.
Jurnal
Heimberg, R. G., & Magee, L. (2014). Cognitive-behavioral therapy for social anxiety disorder. Behav Res Ther, 56, 33-44. sciencedirect.com/science/article/pii/S000579671400032X
Lee, S. H., & Oh, K. S. (2018). Cultural influences on social anxiety disorder in East Asia. Asian J Psychiatr, 35, 88-96. sciencedirect.com/science/article/pii/S187620181830114X
Park, J. H., & Kim, E. Y. (2019). Academic and social consequences of social anxiety disorder. Int J Soc Psychiatry, 65(4), 312-320. journals.sagepub.com/doi/10.1177/0020764019842211
Stein, M. B., & Stein, D. J. (2008). Social anxiety disorder. Lancet, 371(9617), 1115-1125. thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(08)60488-2
Subramaniam, M., et al. (2021). Prevalence, correlates, and comorbidity of social anxiety disorder. J Anxiety Disord, 78, 102356. sciencedirect.com/science/article/pii/S088761852100004X
Suryani, S. (2017). Pengalaman perawat jiwa dalam meminimalkan fobia sosial pada remaja. Jurnal Keperawatan Padjadjaran, 5(2), 143-154. jkp.fkep.unpad.ac.id/index.php/jkp/article/view/456

Tinggalkan Balasan