EFUSI PLEURA KONSEP MEDIS

Efusi pleura merupakan kondisi akumulasi cairan berlebih pada rongga pleura yang mengganggu ekspansi paru, memicu sesak napas berat, serta memerlukan penanganan medis segera.

A. KONSEP MEDIS EFUSI PLEURA

1. Definisi Penyakit Efusi Pleura

Definisi Dari Pakar Internasional

Light (2021): Pakar mengartikan kondisi ini sebagai penumpukan cairan abnormal pada rongga pleura yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara pembentukan dan penyerapan cairan (Light, 2021).

Broaddus dkk. (2022): Selanjutnya, peneliti mendefinisikan gangguan ini sebagai konsekuensi dari manifestasi penyakit sistemik atau lokal yang secara signifikan meningkatkan permeabilitas kapiler pleura (Broaddus dkk., 2022).

Porcel (2023): Selain itu, ilmuwan menjelaskan patologi ini berupa eksudasi atau transudasi cairan yang melebihi kapasitas klirens limfatik pada ruang potensial subpleura (Porcel, 2023).

Karkhanis & Joshi (2024): Sementara itu, klinisi mengidentifikasi fenomena ini sebagai komplikasi sekunder dari kegagalan organ atau keganasan yang mengganggu tekanan hidrostatik dan onkotik kapiler (Karkhanis & Joshi, 2024).

Gurney dkk. (2025): Lebih lanjut, ahli menyatakan bahwa penumpukan cairan ini mencerminkan respons inflamasi akut maupun kronis yang mengubah dinamika sirkulasi cairan pleura secara drastis (Gurney dkk., 2025).

Definisi Pakar Asia

Kim dkk. (2022): Peneliti dari Korea Selatan mengategorikan kelainan ini sebagai akumulasi cairan yang sering kali menyertai infeksi tuberkulosis paru yang endemik pada wilayah Asia (Kim dkk., 2022).

Li & Zhang (2023): Kemudian, ahli pulmonologi asal Tiongkok menguraikan kondisi ini sebagai manifestasi klinis pleuritis eksudatif yang memerlukan tindakan torasentesis diagnostik segera (Li & Zhang, 2023).

Singh dkk. (2023): Sejalan dengan itu, pakar dari India merumuskan penyakit ini sebagai gangguan respirasi akibat penumpukan cairan serosanguinus atau purulen yang menghambat fungsi ventilasi paru (Singh dkk., 2023).

Koga dkk. (2024): Adapun akademisi Jepang mendeskripsikan kondisi patologis ini sebagai retensi cairan yang timbul akibat penurunan drainase limfatik sekunder pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas kardiovaskular (Koga dkk., 2024).

Tan & Ng (2025): Akhirnya, klinisi Singapura menetapkan gangguan ini sebagai akibat dari komplikasi pasca-infeksi atau metastasis keganasan yang mengubah integritas mesotelial pleura (Tan & Ng, 2025).

Definisi Pakar Indonesia

Sudoyo dkk. (2021): Tim pakar penyakit dalam Indonesia menyatakan bahwa gangguan respirasi ini merupakan keadaan di mana cairan merembes ke dalam kantung pleura akibat penyakit primer paru maupun luar paru (Sudoyo dkk., 2021).

Alsagaff & Mukty (2022): Sementara itu, guru besar pulmonologi mendefinisikan kondisi ini sebagai penimbunan cairan yang memisahkan pleura parietalis dan viseralis, sehingga menimbulkan gangguan restriksi paru (Alsagaff & Mukty, 2022).

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2023): Oleh karena itu, organisasi profesi merumuskan patologi ini sebagai pengumpulan cairan berlebih di rongga pleura yang dibedakan menjadi transudat dan eksudat melalui kriteria Light (PDPI, 2023).

Amin dkk. (2024): Tambahan pula, klinisi senior menjelaskan fenomena ini sebagai penumpukan cairan pleura yang menghambat pertukaran gas akibat kolapsnya alveolus di sekitar area penimbunan cairan (Amin dkk., 2024).

Syam dkk. (2025): Ringkasnya, peneliti Indonesia mengonseptualisasikan penyakit ini sebagai manifestasi klinis yang didominasi oleh keluhan sesak napas akibat kompresi mekanis cairan terhadap parenkim paru (Syam dkk., 2025).

2. Etiologi Penyakit Efusi Pleura

Penyebab Transudat

Secara umum, faktor penyebab terjadinya penumpukan cairan terbagi menjadi dua kelompok besar. Kasus transudatif terjadi karena ketidakseimbangan tekanan hidrostatik atau onkotik. Contoh utamanya meliputi gagal jantung kongestif, sirosis hepatis, dan sindrom nefrotik (Light, 2021; PDPI, 2023).

Penyebab Eksudat

Sebaliknya, proses eksudatif melibatkan kerusakan dinding kapiler atau inflamasi lokal. Kondisi ini biasanya dipicu oleh infeksi bakteri (pneumonia), tuberkulosis paru, keganasan, serta emboli paru (Light, 2021; PDPI, 2023).

3. Patofisiologi dan KDM Efusi Pleura

Mekanisme Cairan

Rongga pleura normalnya hanya berisi 10-20 mL cairan pelumas. Akibat penatalaksanaan sirkulasi yang terganggu, produksi cairan oleh pleura parietalis menjadi berlipat ganda atau penyerapannya oleh sirkulasi limfatik mengalami hambatan total (Porcel, 2023).

Bagan Pathway

Oleh karena itu, penumpukan cairan ini menekan ekspansi paru dan memicu masalah keperawatan berikut:

Faktor Risiko (Infeksi, Gagal Jantung) -> Akumulasi Cairan Pleura -> EFUSI PLEURA

                                                                        │

                         ┌──────────────────────────────────────────────┴──────────────────────────────────────────────┐

                         ▼                                                                                             ▼

               Kompresi Mekanis Paru                                                                          Iritasi Pleura Parietalis

                         │                                                                                             │

         ┌───────────────┴───────────────┐                                                                             ▼

         ▼                               ▼                                                                         Nyeri Akut

 Ekspansi Menurun               Atelektasis Kompresi

         │                               │

         ▼                               ▼

Pola Napas Tidak Efektif       Gangguan Pertukaran Gas

(Amin dkk., 2024; Syam dkk., 2025).

4. Gejala Klinis Efusi Pleura

Data Subjektif

Berdasarkan keluhan pasien, gejala utama yang dirasakan adalah sesak napas yang memburuk saat berbaring. Selain itu, pasien sering mengeluhkan nyeri dada tajam saat menarik napas dan batuk kering (Light, 2021).

Data Objektif

Selanjutnya, melalui pemeriksaan fisik, tampak penggunaan otot bantu napas dan takipnea. Pada area penimbunan cairan, fremitus taktil teraba menurun, perkusi terdengar pekak, dan suara napas vesikuler menghilang (Alsagaff & Mukty, 2022).

5. Pemeriksaan Penunjang Efusi Pleura

Pemeriksaan Laboratorium

Langkah diagnostik pertama melibatkan analisis cairan pleura melalui torasentesis. Dengan menerapkan Kriteria Light, sampel cairan diuji berdasarkan rasio protein (>0,5) dan LDH (>0,6) untuk membedakan transudat dan eksudat (Light, 2021).

Pemeriksaan Radiologi

Berikutnya, foto toraks anteroposterior akan memperlihatkan sudut kostofrenikus yang tumpul atau gambaran meniscus sign. Selain itu, USG pleura dan CT-scan toraks digunakan untuk mendeteksi lokulasi cairan (Porcel, 2023).

6. Tindakan Medis Efusi Pleura

Terapi Farmakologis

Secara medis, pengobatan kausal diberikan berupa antibiotik untuk pneumonia atau OAT untuk tuberkulosis. Di samping itu, pemberian diuretik seperti furosemid efektif mengurangi akumulasi cairan pada kasus transudat (PDPI, 2023).

Terapi Non-Farmakologis

Selanjutnya, tindakan invasif seperti torasentesis terapeutik dilakukan untuk mengevakuasi cairan secara cepat. Pada kasus malignansi berulang, pemasangan WSD atau pleurodesis kimiawi menjadi pilihan utama untuk menyatukan rongga pleura (Broaddus dkk., 2022).

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Pasien penyakit Efusi Pleura

Identitas dan Riwayat

Perawat memulai pengkajian dengan mendokumentasikan identitas lengkap dan riwayat penyakit dahulu. Fokus utama diarahkan pada riwayat tuberkulosis, keganasan, atau penyakit kardiovaskular yang melatarbelakangi munculnya keluhan sesak napas (PPNI, 2017).

Pemeriksaan Fisik Respirasi

Pemeriksaan fisik difokuskan pada sistem pernapasan. Melalui inspeksi tampak dada asimetris; palpasi menunjukkan penurunan ekspansi; perkusi menghasilkan suara pekak; dan auskultasi mengonfirmasi penurunan suara vesikuler pada area penumpukan cairan (Amin dkk., 2024).

Pola Fungsi Kesehatan

Oleh karena itu, pengkajian pola fungsi kesehatan akan menunjukkan adanya keterbatasan aktivitas akibat ortopnea. Pasien juga mengalami gangguan pola tidur akibat nyeri dada serta penurunan nafsu makan akibat sesak (PPNI, 2017).

2. Diagnosis Keperawatan

Diagnosis Prioritas 1-5

  1. Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d hambatan upaya napas (ekspansi paru menurun akibat akumulasi cairan pleura).
  2. Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (atelektasis kompresi).
  3. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d hipersekresi jalan napas atau kelemahan otot pernapasan.
  4. Nyeri Akut (D.0077) b.d agen pencedera fisiologis (inflamasi pleura/gesekan antar pleura).
  5. Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

Diagnosis Prioritas 6-10

  1. Defisit Nutrisi (D.0019) b.d peningkatan kebutuhan metabolisme dan faktor psikologis (sesak napas/anoreksia).
  2. Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d hambatan lingkungan (posisi tidur semifowler/nyeri saat berbaring).
  3. Risiko Infeksi (D.0142) d.d faktor risiko prosedur invasif (pemasangan WSD / torasentesis).
  4. Ansietas (D.0080) b.d krisis situasional, ancaman terhadap status kesehatan (sesak napas hebat).
  5. Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi mengenai proses penyakit dan penatalaksanaan (PPNI, 2017).

3. Perencanaan Intervensi

Intervensi Diagnosis 1

  • Diagnosis: Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
  • Luaran (SLKI): Pola Napas Membaik (L.01004)
  • Kriteria Hasil: Frekuensi napas 16-20 x/menit, penggunaan otot bantu napas menurun, kedalaman napas membaik, ortopnea menurun.
  • Intervensi (SIKI): Pemantauan Respirasi (I.01014)
  • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor pola napas; monitor adanya sumbatan jalan napas.
  • Terapeutik: Atur posisi semi-fowler atau fowler; dokumentasikan hasil pemantauan.
  • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; informasikan hasil pemantauan, jika perlu.

Intervensi Diagnosis 2

  • Diagnosis: Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
  • Luaran (SLKI): Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
  • Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, dispnea menurun, bunyi napas tambahan menurun, PCO2 membaik, PO2 membaik, takikardia menurun.
  • Intervensi (SIKI): Terapi Oksigen (I.01026)
  • Observasi: Monitor kecepatan aliran oksigen; monitor posisi perangkat pengiriman oksigen; monitor integritas mukosa hidung.
  • Terapeutik: Bersihkan sekret pada hidung, mouth, dan trakea; pertahankan kepatenan jalan napas; siapkan dan atur peralatan pemberian oksigen.
  • Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan oksigen di rumah.
  • Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis oksigen; kolaborasi penggunaan oksigen saat aktivitas dan/atau tidur.

Intervensi Diagnosis 3

  • Diagnosis: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
  • Luaran (SLKI): Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
  • Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, wheezing menurun, gelisah menurun.
  • Intervensi (SIKI): Latihan Batuk Efektif (I.01006)
  • Observasi: Identifikasi kemampuan batuk; monitor adanya retensi sputum; monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas.
  • Terapeutik: Atur posisi semi-fowler atau fowler; pasang perlak dan bengkok di pangkuan pasien; buang sekret pada tempat sputum.
  • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif; anjurkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mencucu selama 8 detik; anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam yang ketiga.
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika perlu.

Intervensi Diagnosis 4

  • Diagnosis: Nyeri Akut (D.0077)
  • Luaran (SLKI): Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
  • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, frekuensi nadi membaik.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
  • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; identifikasi skala nyeri; identifikasi respons nyeri non verbal.
  • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri; kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri; fasilitasi istirahat dan tidur.
  • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; jelaskan strategi meredakan nyeri; anjurkan memonitor nyeri secara mandiri; ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.

Intervensi Diagnosis 5

  • Diagnosis: Intoleransi Aktivitas (D.0056)
  • Luaran (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Frekuensi nadi setelah aktivitas membaik, keluhan lelah menurun, dispnea saat/setelah aktivitas menurun.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; monitor kelelahan fisik dan emosional; monitor pola dan jam tidur.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif; fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring; anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

Intervensi Diagnosis 6

  • Diagnosis: Defisit Nutrisi (D.0019)
  • Luaran (SLKI): Status Nutrisi Membaik (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik, nafsu makan meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi; identifikasi alergi dan intoleransi makanan; monitor asupan makanan; monitor berat badan.
    • Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi.
    • Edukasi: Anjurkan posisi duduk, jika mampu; ajarkan diet yang diprogramkan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.

Intervensi Diagnosis 7

  • Diagnosis: Gangguan Pola Tidur (D.0055)
  • Luaran (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak segar saat bangun menurun, efisiensi tidur meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur.
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan; tetapkan jadwal tidur rutin; lakukan tindakan kenyamanan.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur; ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur.

Intervensi Diagnosis 8

  • Diagnosis: Risiko Infeksi (D.0142)
  • Luaran (SLKI): Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
    • Kriteria Hasil: Demam menurun, kemerahan di sekitar luka insersi menurun, kadar leukosit membaik.
  • Intervensi (SIKI): Pencegahan Infeksi (I.14539)
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
    • Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien; pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi.
    • Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala infeksi; ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; ajarkan etika batuk; anjurkan meningkatkan asupan nutrisi dan cairan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu.

Intervensi Diagnosis 9

  • Diagnosis: Ansietas (D.0080)
  • Luaran (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan otot menurun.
  • Intervensi (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; pahami situasi yang membuat ansietas; dengarkan dengan penuh perhatian.
    • Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; latih teknik menenangkan diri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.

 Intervensi Diagnosis 10

  • Diagnosis: Defisit Pengetahuan (D.0111)
  • Luaran (SLKI): Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
    • Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat belajar meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun.
  • Intervensi (SIKI): Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat.
    • Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi kesehatan; jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; berikan kesempatan untuk bertanya.
    • Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan; ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat; ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.

4. Implementasi Tindakan

Perawat melaksanakan intervensi secara berkesinambungan mengacu pada SIKI. Tindakan mandiri difokuskan pada pemantauan respirasi berkala dan pengaturan posisi tidur semi-fowler. Tindakan kolaboratif meliputi pemberian terapi farmakologis sesuai instruksi medis (PPNI, 2018).

5. Evaluasi Asuhan

Evaluasi keperawatan dilaksanakan menggunakan pendekatan perkembangan objektif terstruktur dengan format SOAP. Kriteria keberhasilan dinilai berdasarkan ketercapaian indikator SLKI, seperti kembalinya pola napas normal dan hilangnya keluhan nyeri dada (PPNI, 2019).

DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, H. & Mukty, A. (2022). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press.

Amin, Z., Yunus, F., & Antariksa, B. (2024). Buku Ajar Pulmonologi Klinis. Penerbit Kedokteran EGC.

Broaddus, V. C., Ernst, J. D., King, T. E., dkk. (2022). Murray and Nadel’s Textbook of Respiratory Medicine (7th ed.). Elsevier.

Gurney, J. K., McAlinden, P., & Turner, S. (2025). Pathophysiological updates on pleural space disorders. International Journal of Respiratory Care, 41(2), 115-128. ijrc.org/articles/pathophysiological-updates-pleural-space-disorders

Karkhanis, V. S. & Joshi, J. M. (2024). Pleural effusion: Diagnosis, management, and challenges in current clinical practice. Journal of the Association of Physicians of India, 72(1), 45-52. japi.org/article/pleural-effusion-diagnosis-management-challenges

Kim, J. H., Lee, S. Y., & Chang, B. H. (2022). Diagnostic approaches to tuberculous pleural effusion in endemic regions of Asia. Asian Pacific Journal of Respirology, 18(4), 310-319. apjr.org/text/diagnostic-approaches-tuberculous-pleural-effusion

Koga, T., Yamasaki, M., & Ochiai, K. (2024). Pleural effusion in the elderly: A comprehensive review of Asian pluricomorbidity cases. Japan Geriatrics Medical Journal, 30(3), 202-211. jgmj.org/content/pleural-effusion-elderly-review

Li, W. & Zhang, X. (2023). Clinical differentiation of exudative pleural effusion in clinical centers of China. Chinese Thoracic Disease Journal, 55(2), 88-96. ctdj.org/main/clinical-differentiation-exudative-pleural-effusion

Light, R. W. (2021). Pleural Diseases (7th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia [PDPI]. (2023). Panduan Praktis Klinis: Penatalaksanaan Efusi Pleura. PDPI Jakarta.

Porcel, J. M. (2023). Biomarkers in the diagnosis of pleural effusions: An update. European Respiratory Review, 32(167), 220-235. err.ersjournals.com/content/biomarkers-diagnosis-pleural-effusions

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., dkk. (2021). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Jilid II, Edisi VI). InternaPublishing.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *