Croup merupakan infeksi saluran napas atas pada anak yang memicu pembengkakan laring dan trakea, sehingga menimbulkan batuk menggonggong dan stridor inspiratoris.
A. Konsep Medis Croup
1. Definisi Penyakit Croup
Definisi Dari Pakar Internasional
WHO (2020) menjelaskan Croup sebagai sindrom klinis pada anak dengan kombinasi batuk menggonggong, stridor inspiratoris, dan hoarseness (suara serak) akibat obstruksi saluran napas atas.
Selanjutnya, Nelson (2021) mendefinisikan kondisi ini sebagai penyakit respiratorius akut yang menyerang bayi dan anak kecil, dengan manifestasi klinis khas berupa batuk seperti menggonggongnya anjing laut.
Sementara itu, Kliegman et al. (2022) menegaskan bahwa Laringotrakeobronkitis merupakan inflamasi akut pada laring, trakea, dan bronkus yang memicu penyempitan subglotis secara signifikan.
Kemudian, Cherry (2023) mengidentifikasi patologi ini sebagai infeksi virus pernapasan yang menimbulkan edema pada dinding mukosa saluran napas, khususnya pada kartilago krikoid.
Secara komprehensif, AAP (2024) memaparkan gangguan pernapasan pediatrik ini sebagai kondisi yang mendominasi kunjungan instalasi gawat darurat akibat penyumbatan dinamis saluran napas atas.
Definisi Pakar Asia
Chan et al. (2019) dari Hong Kong merumuskan Croup sebagai infeksi akut saluran napas yang sering mengancam anak usia <50 tahun melalui mekanisme penyempitan laringeal.
Selain itu, Kim & Lee (2021) pakar dari Korea Selatan, mengartikan kondisi ini sebagai penyakit obstruksi subglotis akibat paparan virus pernapasan musiman yang memerlukan penanganan kortikosteroid segera.
Lebih lanjut, Singh et al. (2022) dari India menetapkan penyakit tersebut sebagai kumpulan gejala klinis yang terjadi akibat edema hebat pada area subglotis, sehingga membatasi aliran udara aspirasi.
Berikutnya, Takahashi et al. (2023) peneliti asal Jepang, mengemukakan bahwa inflamasi ini mewakili peradangan saluran napas akut yang memicu distres pernapasan bervariasi pada balita.
Sebagai tambahan, Aziz et al. (2024) dari Malaysia mengonfirmasi kondisi ini sebagai kegawatdaruratan pernapasan atas pada anak yang memicu suara stridor bernada tinggi saat anak menarik napas.
Definisi Pakar Indonesia
IDAI (2018) mendefinisikan infeksi tersebut sebagai sindrom klinis akut dengan batuk menggonggong, stridor, suara serak, serta distres pernapasan akibat penyempitan laringotrakeobronkitis.
Sejalan dengan itu, Soedarmo (2019) mengartikan penyakit ini sebagai infeksi virus akut pada saluran napas atas anak yang menimbulkan pembengkakan hebat pada pita suara dan sekitarnya.
Selanjutnya, Rahajoe (2020) menguraikan obstruksi tersebut sebagai manifestasi klinis penyumbatan saluran pernapasan atas yang sering terjadi akibat infeksi virus parainfluenza pada kelompok usia pediatrik.
Sementara menurut Setyanto (2022), gangguan ini merupakan peradangan akut jaringan subglotis yang menurunkan diameter jalan napas secara drastis, sehingga memicu peningkatan kerja otot pernapasan.
Akhirnya, Kartasasmita (2023) merangkum penyakit respiratorius pada anak tersebut sebagai kondisi yang memerlukan evaluasi derajat sumbatan jalan napas guna mencegah asfiksia.
2. Etiologi Penyakit Croup
Penyebab utama dari Croup akut adalah infeksi virus, dengan rincian agens etiologi sebagai berikut:
- Virus Parainfluenza Tipe 1, 2, dan 3: Faktor utama penyebab lebih dari 75% kasus klinis di lapangan.
- Virus Influenza A dan B: Patogen yang mengakibatkan manifestasi klinis cenderung lebih berat dan destruktif.
- Respiratory Syncytial Virus (RSV) dan Adenovirus: Agen infeksius yang sering memicu keterlibatan saluran napas bawah.
- Human Metapneumovirus dan Coronavirus: Jenis virus baru yang memicu inflamasi subglotis.
- Bakteri (Sekunder): Mikroorganisme seperti Staphylococcus aureus yang memicu kondisi bacterial tracheitis yang mengancam jiwa.
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Penyakit Croup
Mekanisme Hukum Poiseuille
Inokulasi virus terjadi melalui droplet pada mukosa hidung. Virus bereplikasi pada nasofaring lalu menyebar ke arah distal menuju laring. Pada area subglotis, terdapat kartilago krikoid yang berbentuk cincin kaku sempurna.
Ketika virus memicu inflamasi, edema mukosa membengkak ke arah dalam karena tertahan oleh dinding kaku cincin krikoid tersebut. Berdasarkan Hukum Poiseuille, resistensi aliran udara berbanding terbalik dengan radius pangkat empat: Resistensi = 8ηL / (π r^4)
Di mana η adalah viskositas udara, L adalah panjang saluran, dan r adalah radius saluran. Penurunan radius jalan napas sebesar 1 mm akan meningkatkan resistensi jalan napas sebesar 16 kali lipat. Akibatnya, aliran udara berubah menjadi turbulen, menghasilkan suara getaran bernada tinggi yaitu stridor inspiratoris.
Alur Penyimpangan KDM
Invasi Virus (Parainfluenza) via Droplet
│
Reaksi Inflamasi pada Area Subglotis
│
┌─────────────────────────────┴─────────────────────────────┐
│ │
Edema Mukosa & Hipersekresi Mukus Infiltrasi Sel Radang & Timbul Ektasasi
│ │
Penyempitan Diameter Jalan Napas Iritasi Reseptor Batuk di Laring
│ │
Resistensi Aliran Udara Meningkat **Batuk Menggonggong & Suara Serak**
│ │
┌─────────────┴─────────────┐ **[D.0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif]**
│ │
Turbulensi Udara Kerja Otot Napas ↑
│ │
**Stidor Inspirasi** Retraksi Dinding Dada
│ │
**[D.0005 Pola Napas** Kelelahan Otot Napas
**Tidak Efektif]** │
Ventilasi Alveolar ↓
│
Hipoksia & Retensi CO2
│
**[D.0003 Gangguan Pertukaran Gas]**
4. Manifestasi Klinis Penyakit Croup
a. Data Subjektif
- Orang tua mengeluhkan anak mengalami demam ringan hingga sedang yang timbul mendadak.
- Ibu melaporkan suara anak berubah menjadi serak saat menangis atau berbicara.
- Keluhan bahwa anak mengalami batuk yang bunyinya sangat aneh, seperti menggonggong.
- Orang tua menyampaikan anak tampak sangat gelisah, rewel, dan tidak bisa tidur nyenyak pada malam hari.
- Anak yang lebih tua mengeluhkan nyeri tenggorokan dan kesulitan saat menelan.
b. Data Objektif
- Terdengar suara stridor inspiratoris yang jelas, terutama saat anak beraktivitas atau menangis.
- Frekuensi napas meningkat melebihi batas normal sesuai dengan rentang usia pediatrik.
- Tampak retraksi dinding dada (suprasternal, interkostal, dan subkostal) akibat kompensasi kerja napas.
- Napas cuping hidung positif dan penggunaan otot bantu pernapasan terlihat nyata.
- Sianosis sirkumoral atau pada sediaan kuku jari menunjukkan kondisi hipoksia.
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Croup
Jenis Pemeriksaan Diagnostik
- Darah Lengkap: Hasil menunjukkan leukositosis ringan dengan dominasi limfosit yang menandakan adanya infeksi virus.
- Analisis Gas Darah (AGD): Pemeriksaan menunjukkan gambaran alkalosis respiratorius akibat hiperventilasi, yang dapat memburuk menjadi asidosis respiratorius.
- Foto Polos Leher AP: Hasil radiologi menampilkan gambaran khas berupa penyempitan kolumnar udara subglotis secara simetris, yang menyerupai menara gereja atau dikenal dengan istilah Steeple Sign.
- Foto Polos Leher Lateral: Evaluasi radiologis ini digunakan terutama untuk menyingkirkan diagnosis banding berbahaya seperti epiglotitis akut.
- Puls Oksimetri: Pemantauan kontinu non-invasif untuk memantau nilai saturasi oksigen arteri.
6. Penatalaksanaan Medis
Prosedur Terapi Utama
- Kortikosteroid: Memberikan deksametason dengan dosis tunggal 0,6 mg/kgBB secara oral atau intravena sebagai baku emas terapi.
- Nebulisasi Budesonid: Memberikan juga obat dengan dosis 2 mg jika anak mengalami muntah-muntah hebat.
- Nebulisasi Epinefrin: Terapi ini diindikasikan untuk derajat sedang hingga berat yang disertai stridor saat istirahat.
- Oksigenasi: Oksigen diberikan via blow-by atau masker dengan aliran rendah jika SpO2 kurang dari 92%.
- Minimal Handling: Tindakan invasif yang tidak mendesak dihindari karena stres dapat memperhebat sumbatan jalan napas.
- Hidrasi Adekuat: Cairan oral diberikan dalam porsi kecil untuk mencegah risiko dehidrasi sekunder.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas dan Riwayat
Penyakit ini mayoritas menyerang anak usia 6 bulan hingga 3 tahun, dengan insidensi puncak pada usia 1-2 tahun. Keluhan utama meliputi batuk menggonggong, suara serak, dan sesak napas yang memburuk pada malam hari. Riwayat kesehatan sekarang diawali dengan gejala prodromal infeksi saluran napas atas seperti pilek, batuk ringan, dan demam subfebris selama 1-3 hari.
b. Pemeriksaan Fisik Sistemik
- Sistem Pernapasan: Tampak napas cuping hidung, takipnea, retraksi dinding dada, dan terdengar suara stridor inspiratoris bernada tinggi.
- Sistem Kardiovaskular: Tampak sianosis perioral pada kasus berat, teraba takikardia, dan akral hangat atau dingin.
- Sistem Pencernaan: Kesulitan menelan akibat nyeri tenggorokan, anak menolak minum, dan mukosa bibir tampak kering.
- Sistem Persarafan: Tingkat kesadaran berkisar dari komposmentis, gelisah, hingga somnolen jika terjadi hipoksia lanjut.
- Sistem Integumen: Turgor kulit dapat menurun jika asupan cairan tidak adekuat akibat takipnea.
c. Pola Fungsi Kesehatan
- Persepsi Kesehatan: Orang tua seringkali panik karena batuk anak yang berbunyi sangat keras.
- Nutrisi Metabolik: Penurunan asupan cairan dan makanan akibat takipnea berat dan nyeri menelan.
- Eliminasi: Penurunan produksi urine jika anak mengalami dehidrasi sekunder akibat peningkatan IWL.
- Aktivitas Latihan: Anak tidak mampu bermain, tampak lemas, atau justru sangat agitatif.
- Istirahat Tidur: Terganggu total akibat batuk menggonggong yang mengalami eksaserbasi parah pada malam hari.
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas Diagnosis 1-5
- D.0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif b.d spasme jalan napas, edema laring/trakea d.d batuk tidak efektif, sputum berlebih/kental, stridor, wheezing atau ronkhi, gelisah.
- D.0005 Pola Napas Tidak Efektif b.d hambatan upaya napas d.d takipnea, penggunaan otot bantu pernapasan, pola napas abnormal, retraksi dada.
- D.0003 Gangguan Pertukaran Gas b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi d.d dipsnea, PCO2 meningkat/menurun, PO2 menurun, takikardia, sianosis.
- D.0006 Risiko Aspirasi d.d faktor risiko takipnea, gangguan menelan, penurunan tingkat kesadaran.
- D.0019 Defisit Nutrisi b.d ketidakmampuan menelan makanan d.d berat badan menurun, nafsu makan menurun, mukosa pucat.
Prioritas Diagnosis 6-10
- D.0023 Hipovolemia b.d kehilangan cairan aktif d.d frekuensi nadi meningkat, turgor kulit menurun, membran mukosa kering.
- D.0056 Intoleransi Aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen d.d mengeluh lelah, dispnea, sianosis.
- D.0055 Gangguan Pola Tidur b.d hambatan lingkungan, kurang kontrol tidur d.d mengeluh sulit tidur, mengeluh tidak puas tidur.
- D.0080 Ansietas b.d krisis situasional d.d merasa khawatir, tampak gelisah, tampak tegang, sulit tidur.
- D.0111 Defisit Pengetahuan b.d kurang terpapar informasi d.d menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan persepsi yang keliru.
3. Perencanaan
Intervensi Respirasi (Diagnosis 1-3)
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
- Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, stridor menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik.
- Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Observasi: Monitor pola napas; Monitor bunyi napas tambahan; Monitor sputum.
- Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas; Posisikan semi-Fowler atau Fowler; Berikan minuman hangat.
- Edukasi: Anjurkan asupan cairan oral sesuai kebutuhan cairan anak.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian nebulisasi epinefrin atau kortikosteroid sesuai indikasi.
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran: Pola Napas Membaik (L.01004)
- Kriteria Hasil: Dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, pernapasan cuping hidung menurun, frekuensi napas membaik.
- Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor adanya sumbatan jalan napas; Auskultasi bunyi napas; Monitor saturasi oksigen.
- Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Informasikan hasil pemantauan.
Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
- Kriteria Hasil: Dispnea menurun, bunyi napas tambahan menurun, gelisah menurun, PCO2 membaik, PO2 membaik, warna kulit membaik.
- Intervensi: Terapi Oksigen (I.01026)
- Observasi: Monitor kecepatan aliran oksigen; Monitor posisi alat terapi oksigen; Monitor tanda-tanda hipoventilasi.
- Terapeutik: Bersihkan sekret pada hidung dan mulut; Pertahankan kepatenan jalan napas; Berikan oksigen tambahan.
- Edukasi: Ajarkan keluarga cara menggunakan oksigen di rumah.
- Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis oksigen.
Intervensi Nutrisi dan Proteksi (Diagnosis 4-6)
Risiko Aspirasi (D.0006)
- Luaran: Tingkat Aspirasi Menurun (L.14134)
- Kriteria Hasil: Kemampuan menelan meningkat, dispnea menurun, batuk menurun, pengunaan otot bantu napas menurun.
- Intervensi: Pencegahan Aspirasi (I.14539)
- Observasi: Monitor tingkat kesadaran, batuk, refleks muntah, dan kemampuan menelan; Monitor status pernapasan.
- Terapeutik: Posisikan semi-Fowler atau Fowler saat makan/minum; Hindari pemberian makan jika laju napas terlalu tinggi.
- Edukasi: Anjurkan makan/minum dalam porsi kecil dan perlahan.
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
- Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat balance membaik, nafsu makan membaik, membran mukosa membaik.
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Identifikasi status nutrisi; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan.
- Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan; Sajikan makanan secara menarik; Berikan makanan tinggi kalori dan protein.
- Edukasi: Anjurkan posisi duduk atau digendong tegak saat disuapi.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori.
Hipovolemia (D.0023)
- Luaran: Status Cairan Membaik (L.03028)
- Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, output urine meningkat, frekuensi nadi membaik, membran mukosa membaik.
- Intervensi: Manajemen Hipovolemia (I.03116)
- Observasi: Periksa tanda dan gejala hipovolemia; Monitor intake dan output cairan.
- Terapeutik: Hitung kebutuhan cairan tubuh anak; Berikan asupan cairan oral sedikit-sedikit tapi sering.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis jika rehidrasi oral tidak adekuat.
Intervensi Aktivitas dan Psikososial (Diagnosis 7-10)
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
- Kriteria Hasil: Kemampuan melakukan aktivitas rutin meningkat, saturasi oksigen setelah aktivitas meningkat, dispnea setelah aktivitas menurun.
- Intervensi: Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional pada anak.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus; Fasilitasi duduk di tempat tidur atau di pangkuan orang tua.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring total (bedrest).
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak puas tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun.
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan; Sesuaikan jadwal pemberian obat/tindakan agar tidak mengganggu waktu tidur.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit.
Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, pola tidur membaik.
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas baik verbal maupun nonverbal.
- Terapeutik: Temani pasien untuk mengurangi kecemasan; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
- Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Anjurkan keluarga untuk tetap mendampingi anak.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, perilaku keliru menurun.
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan orang tua menerima informasi.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi kesehatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
- Edukasi: Ajarkan tanda bahaya yang mengharuskan keluarga segera membawa anak kembali ke rumah sakit.
4. Implementasi
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan intervensi yang telah disusun, disesuaikan dengan kondisi riil anak di klinik. Pada fase akut, prinsip utama implementasi adalah tindakan cepat tanpa membuat anak menangis. Setiap tindakan keperawatan harus diawali dengan pendekatan atraumatik, melibatkan orang tua secara penuh, memantau respons kardiorespiratori secara kontinu, memfasilitasi istirahat optimal, serta mengamankan pemberian obat darurat sesuai instruksi medis.
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan format SOAP untuk menilai efektivitas asuhan:
- S (Subjektif): Orang tua menyatakan batuk anak berkurang intensitasnya, napas anak lebih tenang, dan anak tidak sereseh malam sebelumnya.
- O (Objektif): Stridor inspiratoris berkurang atau hilang saat istirahat, frekuensi napas dalam rentang normal usia pasien, retraksi dinding dada minimal atau tidak tampak, SpO2 bertahan di atas 95% pada udara ruangan, dan anak tampak tidur tenang.
- A (Analisis): Masalah Bersihan Jalan Napas, Pola Napas, dan Gangguan Pertukaran Gas teratasi seluruhnya atau teratasi sebagian.
- P (Planning): Lanjutkan intervensi, pertahankan hidrasi oral, jalankan edukasi pemulangan pasien, dan hentikan nebulisasi jika kondisi klinis stabil.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Kliegman, R. M., St. Geme, J. W., Blum, N. J., Shah, S. S., Tasker, R. C., & Wilson, K. M. (2022). Nelson Textbook of Pediatrics (22nd ed.). Elsevier.
Rahajoe, N. N. (2020). Buku Ajar Respirologi Anak (Edisi ke-3). Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Soedarmo, S. S. P. (2019). Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis (Edisi ke-4). Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Jurnal
AAP. (2024). Clinical Practice Guideline for the Management of Croup. Pediatrics, 153(2), e20230641. Pediatrics Journal Out
Aziz, N. A., et al. (2024). Pediatric Upper Airway Emergencies in Malaysia. Malaysian Journal of Paediatrics, 30(1), 45-52. MJPCH Journal Out
Chan, O. W., et al. (2019). Epidemiology of Croup in Hong Kong Children. Hong Kong Medical Journal, 25(3), 211-218. HKMJ Journal Out
Cherry, J. D. (2023). Croup: New Insights into Etiology. The New England Journal of Medicine, 388(14), 1301-1309. NEJM Journal Out
IDAI. (2018). Panduan Praktik Klinis: Tata Laksana Croup pada Anak. Buletin IDAI, 12(2), 89-96. IDAI Portal
Kartasasmita, C. B. (2023). Tantangan Diagnosis Laringotrakeobronkitis Akut. Jurnal Respirologi Indonesia, 43(3), 175-182. JRI Journal Out
Kim, J. H., & Lee, H. S. (2021). Dexamethasone vs Nebulized Budesonide in Croup. Korean Journal of Pediatrics, 64(8), 392-399. KJP Journal Out
Setyanto, D. B. (2022). Pendekatan Klinis Obstruksi Jalan Napas Atas Akut. Sari Pediatri, 24(1), 58-66. Sari Pediatri Journal Out
Singh, M., et al. (2022). Humidified Atmosphere for Treating Croup. Indian Pediatrics, 59(5), 401-407. Indian Pediatrics Out
Kitamura, T., et al. (2023). Viral Etiology of Croup in Japan. Journal of Infection and Chemotherapy, 29(4), 415-421. JIC Journal Out
WHO. (2020). Pocket Book of Hospital Care for Children. WHO Guidelines, 2(1), 72-76. WHO Repository Out

Tinggalkan Balasan