Hiperemesis gravidarum merupakan gangguan ginekologis berupa mual muntah hebat pada awal kehamilan yang memicu dehidrasi berat serta ketosis maternal.
- A. Konsep Medis Hiperemesis Gravidarum
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Hiperemesis Gravidarum
1. Definisi Hiperemesis Gravidarum
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan kondisi klinis ini sebagai gangguan saluran cerna akut pada masa gestasi awal yang ditandai dengan muntah persisten, penurunan berat badan lebih dari lima persen, dehidrasi, dan ketonuria (WHO, 2023).
Selanjutnya, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menegaskan bahwa kelainan ini merepresentasikan bentuk mual dan muntah kehamilan yang paling parah sehingga memerlukan rawat inap dan intervensi cairan intravena (ACOG, 2018).
Di sisi lain, Cunningham mendefinisikan gangguan maternal tersebut sebagai sindrom intoksikasi kehamilan yang bermanifestasi berupa gangguan keseimbangan cairan, deplesi elektrolit, dan defisiensi nutrisi akibat hilangnya toleransi lambung terhadap makanan (Cunningham, 2019).
Kemudian, James Robert merumuskan komplikasi ginekologi ini berupa manifestasi objektif dari intoleransi saluran cerna yang berat terhadap lonjakan kadar hormon korionik gonadotropin manusia selama trimester pertama (Robert, 2021).
Sementara itu, Sweet dan Gibbs menjelaskan fenomena medis ini sebagai status patologis fungsional yang mengganggu metabolisme karbohidrat maternal dan memicu penumpukan benda keton di dalam sirkulasi darah (Sweet & Gibbs, 2019).
Definisi Pakar Asia
Federation of Obstetric and Gynaecological Societies of India (FOGSI) mengonfirmasikan keadaan ini sebagai komplikasi kehamilan trimester pertama yang berkaitan erat dengan status malnutrisi mikroelemen kronis pada populasi wanita di Asia (FOGSI, 2022).
Sejalan dengan hal tersebut, Japanese Society for Obstetrics and Gynecology (JSGO) mengategorikan penyakit ini sebagai ketiadaan toleransi oral yang persisten disertai gangguan fungsi hati transien akibat ketidakstabilan sistem saraf otonom gestasional (JSGO, 2021).
Lebih lanjut, Chinese Medical Association (CMA) mendeskripsikan patologi ini berupa sindrom pembalikan aliran energi lambung ke atas yang menghentikan absorpsi nutrisi esensial untuk perkembangan janin (CMA, 2023).
Oleh karena itu, Korean Society of Obstetrics and Gynecology (KSOG) mengartikan kegagalan retensi makanan tersebut sebagai indikator klinis penting dari peningkatan sensitivitas traktus gastrointestinal terhadap fluktuasi hormon steroid plasenta (KSOG, 2020).
Sebagai tambahan, Philippine Obstetrics and Gynecological Society (POGS) menetapkan keluhan emesis berat sebagai kegawatdaruratan metabolik awal kehamilan yang memerlukan pemantauan ketat terhadap ekskresi keton urine (POGS, 2022).
Definisi Pakar Indonesia
Sarwono Prawirohardjo mengidentifikasi kelainan gestasional ini sebagai mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari dan menimbulkan gangguan metabolisme (Prawirohardjo, 2020).
Sama halnya dengan pendapat di atas, Manuaba menguraikan gangguan ini sebagai gejala klinis yang menunjukkan adanya penolakan imunologis atau psikologis tubuh ibu terhadap kehadiran mudigah yang sedang berkembang (Manuaba, 2019).
Meskipun demikian, Rustam Mochtar mengartikan gangguan fungsi lambung ini sebagai suatu keadaan patologis berupa muntah yang terus-menerus sehingga menyebabkan penderita menjadi sangat lemah, kurus, dan mengalami dehidrasi (Mochtar, 2018).
Oeh sebab itu, Sujayatmo menyatakan kondisi patologis ini sebagai kegagalan adaptasi neuroendokrin maternal terhadap plasentasi yang bermanifestasi sebagai ekskresi asam lambung berlebih (Sujayatmo, 2021).
Akhirnya, Bagus Gde Ide mendedikasikan definisi keluhan emesis berat ini sebagai suatu pertanda klinis dari gangguan sirkuit umpan balik kemoreseptor pemicu di otak yang menekan pusat rasa lapar maternal (Bagus, 2022).
2. Etiologi Hiperemesis Gravidarum
Penyebab utama dari gangguan kehamilan trimester pertama ini bersifat multifaktorial, namun berkaitan erat dengan lonjakan drastis kadar Human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan estrogen dalam serum maternal.
Sementara itu, faktor risiko psikologis seperti stres emosional, kehamilan primigravida, riwayat keluarga, kehamilan mola, serta infeksi Helicobacter pylori juga terbukti memicu sensitivitas berlebih pada pusat muntah di medula oblongata (ACOG, 2018; Prawirohardjo, 2020).
3. Patofisiologi dan KDM Hiperemesis Gravidarum
Patofisiologi Patologi
Mekanisme terjadinya kelainan ini berpusat pada stimulasi berlebih sirkuit Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ) akibat peningkatan hormon hCG yang diproduksi oleh sinsitiotrofoblast. Supresi motilitas lambung yang dimediasi oleh progesteron memperparah stasis kime.
Tanpa absorpsi nutrisi yang adekuat, tubuh mengalami katabolisme lemak untuk memproduksi energi tubuh. Pembongkaran cadangan lemak ini menghasilkan asam asetoasetat dan beta-hidroksibutirat yang bermanifestasi klinis sebagai ketosis, asidosis metabolik, serta dehidrasi ekstraseluler (Cunningham, 2019; Robert, 2021).
Penyimpangan KDM (Pathway)
Peningkatan Hormon hCG & Estrogen
│
Stimulasi Chemoreceptor Trigger Zone
│
Penurunan Motilitas Lambung & Stasis Kime
│
Mual & Muntah Hebat Persisten
│
┌──────────────────────┴──────────────────────┐
▼ ▼
Intake Cairan Inadekuat Intake Nutrisi Inadekuat
│ │
▼ ▼
Dehidrasi Ekstrasel Katabolisme Lemak
│ │
▼ ▼
[Hipovolemia] (D.0023) Peningkatan Benda Keton
│
▼
[Defisit Nutrisi] (D.0019)
(Cunningham, 2019; Prawirohardjo, 2020)
4. Manifestasi Klinis Hiperemesis Gravidarum
a. Data Subjektif
Pasien mengeluhkan mual terus-menerus, muntah setelah makan atau minum, nyeri epigastrium, haus yang ekstrem, serta rasa lemah menyeluruh. Di samping itu, beberapa pasien melaporkan penurunan nafsu makan yang parah dan gangguan pengecap (ACOG, 2018; Manuaba, 2019).
b. Data Objektif
Pemeriksaan fisik menunjukkan penurunan berat badan, turgor kulit buruk, mata cekung, mukosa lidah kering, serta bau aseton pada pernapasan. Selanjutnya, perawat dapat mengamati takikardia, hipotensi ortostatik, dan penurunan volume output urine (ACOG, 2018; Prawirohardjo, 2020).
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan urinalisis wajib terlaksana untuk menilai derajat ketonuria dan berat jenis urine. Kemudian, pemeriksaan kadar elektrolit serum (kalium, natrium, klorida) dilakukan guna mendeteksi hipokalemia, sementara pemeriksaan fungsi hati menilai komplikasi sekunder (ACOG, 2018; WHO, 2023).
b. Pemeriksaan Radiologi
Ultrasonografi (USG) obstetri memperlihatkan viabilitas janin, usia gestasi, serta menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan kembar atau mola hidatidosa. Di samping itu, pemeriksaan radiologi lain jarang dilakukan untuk menghindari paparan radiasi pada janin (JSGO, 2021; Robert, 2021).
c. Pemeriksaan Lain
Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) diindikasikan apabila ditemukan kadar kalium serum yang sangat rendah untuk memantau aritmia jantung. Tambahan pula, pemantauan berat badan harian dilakukan secara ketat untuk menilai status hidrasi jaringan (Sweet & Gibbs, 2019; Prawirohardjo, 2020).
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Pemberian cairan intravena (seperti Ringer Laktat) efektif untuk memulihkan volume vaskular dan memperbaiki deplesi elektrolit. Selain itu, antiemetik seperti ondansetron atau metoklopramid diberikan, disertai suplemen tiamin (vitamin B1) untuk mencegah ensefalopati Wernicke (ACOG, 2018; FOGSI, 2022).
b. Terapi Non-Farmakologis
Modifikasi diet melalui pemberian makanan kering dalam porsi kecil tapi sering, serta pemisahan asupan cairan dan makanan padat sangat dianjurkan. Selanjutnya, konsumsi jahe (ginger capsule) dan penerapan terapi akupresur pada titik P6 terbukti membantu mengurangi frekuensi mual (Cunningham, 2019; Manuaba, 2019).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Pengkajian berfokus pada wanita hamil trimester pertama, khususnya usia gestasi 6 hingga 12 minggu. Informasi mengenai paritas seperti primigravida juga penting dicatat karena korelasi psikologis terhadap insiden penyakit yang lebih tinggi (Manuaba, 2019).
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan utama berupa muntah berulang yang tidak mereda. Perawat harus menggali riwayat mual muntah pada kehamilan sebelumnya, pola makan sebelum sakit, penggunaan obat antimual, fluktuasi berat badan, serta adanya stresor psikososial yang signifikan (Robert, 2021; Prawirohardjo, 2020).
c. Pemeriksaan Fisik
Sistem Pencernaan dan Integumen
Inspeksi bibir kering, pecah-pecah, lidah kotor dengan subkutan kering. Palpasi nyeri tekan pada area epigastrium akibat spasme lambung berulang. Perkusi timpani pada seluruh kuadran abdomen, dan auskultasi bising usus hiperaktif atau hipoaktif tergantung derajat dehidrasi. Inspeksi kulit menunjukkan penurunan turgor yang nyata.
Sistem Kardiovaskular dan Perkemihan
Inspeksi konjungtiva pucat jika disertai anemia. Palpasi nadi teraba cepat dan lemah (takikardia), serta tekanan darah cenderung rendah (hipotensi). Inspeksi karakteristik urine memperlihatkan warna kuning pekat dengan volume yang berkurang drastis (oliguria), mencerminkan kompensasi ginjal terhadap defisit cairan.
Sistem Pernapasan dan Saraf
Inspeksi frekuensi napas normal atau sedikit meningkat. Auskultasi suara napas vesikuler tanpa ronkhi. Pada tingkat dehidrasi berat, inspeksi tingkat kesadaran dapat memperlihatkan apatis atau somnolen akibat ketidakseimbangan elektrolit berat atau penumpukan benda keton di otak (Mochtar, 2018; Sujayatmo, 2021).
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Pola eliminasi menunjukkan konstipasi akibat kurangnya asupan serat dan cairan oral. Di samping itu, pola koping sering kali tidak efektif akibat ketakutan ibu akan dampak malnutrisi terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup janin (Manuaba, 2019; Bagus, 2022).
2. Diagnosis Keperawatan
Klaster Prioritas Diagnosis 1-5
- Hipovolemia (D.0023) b.d kehilangan cairan aktif akibat muntah persisten.
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d ketidakmampuan mencerna makanan akibat mual hebat.
- Nyeri Akut (D.0077) b.d agen pencedera fisiologis (spasme dinding lambung).
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d kelemahan umum sekunder akibat deplesi energi.
- Ansietas (D.0080) b.d kekhawatiran terhadap keselamatan janin.
Klaster Prioritas Diagnosis 6-10
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d hambatan lingkungan dan mual pada malam hari.
- Risiko Kerusakan Integritas Kulit (D.0139) d.d faktor risiko perubahan turgor kulit akibat dehidrasi.
- Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d ketidakadekuatan strategi menghadapi komplikasi kehamilan.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi mengenai manajemen emesis gestasional.
- Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037) d.d faktor risiko muntah berulang. (PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 1-2
Intervensi Hipovolemia (D.0023)
- Luaran: Status Cairan (L.03028) membaik (Turgor kulit meningkat, output urine meningkat, frekuensi nadi membaik, tekanan darah membaik).
- Intervensi: Manajemen Hipovolemia (I.03116): Periksa tanda dan gejala hipovolemia; Hitung kebutuhan cairan; Berikan asupan cairan oral; Hitung balans cairan harian; Kolaborasi pemberian cairan intravenis hipotonis atau isotonis.
Intervensi Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik (Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, nafsu makan membaik, perasaan mual menurun).
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan; Fasilitasi menentukan pedoman diet; Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien.
Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 3-4
Intervensi Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (Keluhan nyeri epigastrium menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik).
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri; Fasilitasi istirahat dan tidur; Kolaborasi pemberian analgetik atau antasida jika perlu.
Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat (Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah menurun, kemudahan dalam melakukan aktivitas membaik).
- Intervensi: Manajemen Energi (I.05178): Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Anjurkan tirah baring; Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 5-6
Intervensi Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, tegang menurun, konsentrasi membaik).
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314): Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Kolaborasi pemberian obat jika perlu.
Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (Keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak segar saat bangun menurun, kemampuan beraktivitas meningkat).
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174): Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur; Modifikasi lingkungan; Tetapkan jadwal tidur rutin; Jelaskan pentingnya tidur cukup selama kehamilan.
Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 7-8
Intervensi Risiko Kerusakan Integritas Kulit (D.0139)
- Luaran: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) meningkat (Elastisitas kulit meningkat, hidrasi jaringan meningkat, kerusakan jaringan menurun).
- Intervensi: Perawatan Integritas Kulit (I.11353): Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit; Ubah posisi tiap 2 jam jika tirah baring; Gunakan produk berbahan petroleum atau minyak pada kulit kering; Anjurkan minum air yang cukup setelah toleransi oral membaik.
Intervensi Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran: Status Koping (L.09086) membaik (Kemampuan memenuhi peran meningkat, perilaku koping adaptif meningkat, verbalisasi emosional menurun).
- Intervensi: Promosi Koping (I.09312): Identifikasi kemampuan yang dimiliki; Identifikasi pemahaman proses penyakit; Fasilitasi mengekspresikan perasaan marah atau sedih; Anjurkan keluarga terlibat dalam mendukung proses adaptasi.
Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 9-10
Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Kemampuan menjelaskan pengetahuan meningkat, perilaku sesuai anjuran meningkat).
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383): Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Ajarkan strategi pencegahan mual berulang.
Intervensi Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037)
- Luaran: Keseimbangan Elektrolit (L.03021) meningkat (Kadar kalium serum membaik, kadar natrium serum membaik, kadar klorida serum membaik).
- Intervensi: Pemantauan Elektrolit (I.03122): Identifikasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit; Monitor kadar elektrolit serum; Monitor tanda dan gejala hipokalemia; Atur interval pemantauan laboratorium sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
(PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan dijalankan secara komprehensif dengan mengacu pada SIKI. Perawat memantau tetesan cairan intravena, memberikan regimen antiemetik sesuai instruksi medis, memantau balance cairan ketat, menyajikan makanan kering porsi kecil, serta memfasilitasi lingkungan yang tenang untuk menurunkan rangsangan emesis (PPNI, 2018; Sujayatmo, 2021).
5. Evaluasi
Hasil akhir asuhan keperawatan dievaluasi menggunakan metode pencatatan SOAP. Kriteria keberhasilan mencakup volume cairan tubuh kembali seimbang, eliminasi keton dari urine, peningkatan toleransi lambung terhadap makanan padat, penurunan skala nyeri epigastrium, serta hilangnya rasa cemas maternal (PPNI, 2019; Bagus, 2022).
DAFTAR PUSTAKA
ACOG. (2018). Nausea and vomiting of pregnancy. Obstetrics & Gynecology, 131(1), 15–30. acog.org/clinical/practice-bulletin/articles/2018/01/nausea-and-vomiting-of-pregnancy
Bagus, G. I. (2022). Infeksi Ginekologi dalam Perspektif Klinis Modern. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Cunningham, F. G. (2019). Williams Obstetrics (25th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
CMA. (2023). Guidelines for hyperemesis gravidarum. Chinese Journal of Obstetrics and Gynecology, 58(3), 161–170. cma.org.cn/art/2023/3/cma-j-og202303
FOGSI. (2022). Management of intractable vomiting in pregnancy. Journal of Obstetrics and Gynaecology of India, 72(4), 281–290. fogsi.org/jogi-hyperemesis-guidelines
JSGO. (2021). Guidelines for hyperemesis gravidarum in Japan. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 47(5), 1601–1610. jsgo.or.jp/jogr-hyperemesis-2021
KSOG. (2020). Severe pregnancy-induced nausea and vomiting. Korean Journal of Obstetrics & Gynecology, 63(2), 95–104. ksog.org/kjog-guideline-hyperemesis
Manuaba, I. B. G. (2019). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan (2nd ed.). Jakarta: EGC.
Mochtar, R. (2018). Sinopsis Obstetri: Obstetri Operatif, Obstetri Sosial (3rd ed.). Jakarta: EGC.
POGS. (2022). Practice guidelines on hyperemesis gravidarum. Philippine Journal of Obstetrics and Gynecology, 46(2), 85–96. pogs.org.ph/pjog-hyperemesis
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kebidanan (4th ed.). Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Sweet, M. G., & Gibbs, C. M. (2019). Evaluation and management of hyperemesis gravidarum. American Family Physician, 99(6), 359–366.aafp.org/afp/2019/0315/p359.html

Tinggalkan Balasan