Amenore merupakan suatu kondisi klinis ginekologis berupa tidak terjadinya menstruasi secara siklik pada wanita usia reproduktif yang memerlukan evaluasi endokrin mendalam.
- A. Konsep Medis Amenore
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Amenore
1. Definisi Amenore
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan kondisi klinis ini sebagai absennya perdarahan uterus secara spontan selama minimal tiga bulan berturut-turut pada wanita yang sebelumnya memiliki siklus menstruasi teratur (WHO, 2023).
Selanjutnya, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menegaskan bahwa kelainan ini merepresentasikan ketiadaan menarke pada remaja perempuan usia 15 tahun dengan pertumbuhan karakteristik seks sekunder yang normal (ACOG, 2021).
Sementara itu, Speroff dan Fritz mendefinisikan gangguan reproduksi tersebut sebagai kegagalan fungsi poros hipotalamus-hipofisis-ovarium yang bermanifestasi berupa tidak adanya peluruhan dinding endometrium secara periodik (Speroff & Fritz, 2019).
Kemudian, Jonathan Berek merumuskan sindrom ginekologi ini berupa manifestasi objektif dari disfungsi anatomi atau neuroendokrin yang menghentikan sinyal hormonal intermiten menuju organ target reproduksi (Berek, 2020).
Sementara itu, Sweet dan Gibbs menjelaskan fenomena medis ini sebagai status non-menstruasi fungsional atau patologis yang terbagi menjadi kategori primer akibat defek kongenital dan kategori sekunder akibat supresi akuisita (Sweet & Gibbs, 2019).
Definisi Pakar Asia
Federation of Obstetric and Gynaecological Societies of India (FOGSI) mengonfirmasikan keadaan ini sebagai gangguan menstruasi berat yang berkaitan erat dengan malnutrisi kronis atau stres psikososial tinggi pada populasi wanita di Asia (FOGSI, 2022).
Sejalan dengan hal tersebut, Japanese Society for National Gynaecology and Obstetrics (JSGO) mengategorikan penyakit ini sebagai ketiadaan haid fungsional yang memerlukan induksi progestin guna mengevaluasi integritas saluran keluar uterus (JSGO, 2021).
Lebih lanjut, Chinese Medical Association (CMA) mendeskripsikan patologi ini berupa sindrom defisiensi energi esensial ginjal dan stagnasi darah yang menghentikan sirkulasi darah menstruasi secara periodik (CMA, 2023).
Oleh karena itu, Korean Society of Obstetrics and Gynecology (KSOG) mengartikan kegagalan menstruasi tersebut sebagai indikator klinis penting dari penipisan dini cadangan ovarium atau adanya hiperprolaktinemia (KSOG, 2020).
Sebagai tambahan, Philippine Obstetrics and Gynecological Society (POGS) menetapkan keluhan gangguan reproduksi sebagai komplikasi endokrinologi reproduksi yang memerlukan penapisan eksklusif terhadap status kehamilan terlebih dahulu (POGS, 2022).
Definisi Pakar Indonesia
Sarwono Prawirohardjo mengidentifikasi kelainan ginekologi ini sebagai keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut pada wanita yang sebelumnya pernah mendapat haid (Prawirohardjo, 2020).
Sama halnya dengan pendapat tersebut, Manuaba menguraikan gangguan ini sebagai gejala klinis yang menunjukkan adanya hambatan pada pelepasan sel telur atau sumbatan saluran genital bawah (Manuaba, 2019).
Meskipun demikian, Rustam Mochtar mengartikan gangguan siklus menstruasi ini sebagai tidak terjadinya perdarahan uterus berkala yang dapat bersifat fisiologis selama masa anak-anak, kehamilan, menyusui, dan pascamenopause (Mochtar, 2018).
Oleh sebab itu, Sujayatmo menyatakan kondisi patologis ini sebagai kegagalan perkembangan organ seksual primer atau gangguan fungsional organ target akibat fluktuasi berat badan ekstrem (Sujayatmo, 2021).
Akhirnya, Bagus Gde Ide mendedikasikan definisi keluhan menstruasi ini sebagai suatu pertanda klinis dari gangguan sirkuit umpan balik gonadotropin yang menekan produksi estrogen ovarium (Bagus, 2022).
2. Etiologi Amenore
Penyebab utama dari kategori primer mencakup disgenesis gonad seperti Sindrom Turner, keterlambatan pubertas konstitusional, agenesis Mullerian, serta hiperplasia adrenal kongenital.
Sementara itu, pada kategori sekunder, keadaan tersebut timbul akibat faktor fisiologis meliputi kehamilan, menyusui, dan menopause, atau faktor patologis meliputi sindrom ovarium polikistik, disfungsi hipotalamus fungsional akibat penurunan berat badan ekstrem, anoreksia, stres, hiperprolaktinemia, dan kegagalan ovarium prematur (ACOG, 2021; Prawirohardjo, 2020).
3. Patofisiologi dan KDM
Patofisiologi Penyakit
Mekanisme terjadinya kelainan ini berpusat pada kegagalan sekresi pulsatif Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) oleh hipotalamus atau destruksi sel gonadotrop hipofisis anterior. Supresi GnRH ini mengakibatkan penurunan sekresi Luteinizing Hormone (LH) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH).
Tanpa stimulasi FSH dan LH yang adekuat, folikel ovarium gagal berkembang sehingga produksi estrogen dan progesteron mengalami penurunan drastis. Ketiadaan fluktuasi hormonal ini mencegah proliferasi dan peluruhan endometrium yang secara klinis bermanifestasi sebagai ketiadaan menstruasi (Speroff & Fritz, 2019; Berek, 2020).
Penyimpangan KDM (Pathway)
Faktor Stres / Malnutrisi Kronis / Defek Genetik
│
Supresi Sekresi Pulsatif GnRH di Hipotalamus
│
Penurunan Produksi FSH & LH di Hipofisis Anterior
│
Kegagalan Maturasi Folikel di Ovarium
│
Penurunan Drastis Produksi Estrogen & Progesteron
│
Ketiadaan Proliferasi & Peluruhan Endometrium
│
┌──────────────────────┴──────────────────────┐
▼ ▼
Absennya Menstruasi Penurunan Estrogen
│ Sistemik Kronis
▼ │
[Ansietas] (D.0080) ▼
Gangguan Densitas Tulang
│
▼
[Risiko Cedera] (D.0136)
(Berek, 2020; Prawirohardjo, 2020)
4. Manifestasi Klinis Amenore
a. Data Subjektif
Pasien mengeluhkan ketiadaan haid selama berbulan-bulan, pusing, serta penurunan libido. Selain itu itu, beberapa pasien melaporkan hot flashes, vagina kering, atau pertumbuhan rambut berlebih pada wajah dan tubuh (ACOG, 2021; Manuaba, 2019).
b. Data Objektif
Pemeriksaan fisik menunjukkan ketiadaan perkembangan payudara atau rambut pubis pada tipe primer. Selanjutnya, perawat dapat mengamati indeks massa tubuh (IMT) yang terlalu rendah, tanda hirsutisme, akne vulgaris, atau galaktore (ACOG, 2021; Prawirohardjo, 2020).
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan serum Beta-human Chorionic Gonadotropin ($\beta$-hCG) wajib terlaksana untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan sebagai penyebab utama. Kemudian, melakukan pemeriksaan kadar FSH, LH, prolaktin, serta tiroid serum guna menilai fungsi aksis hormonal (ACOG, 2021; WHO, 2023).
b. Pemeriksaan Radiologi
Ultrasonografi (USG) pelvis memperlihatkan gambaran ovarium polikistik, hipoplasia uterus, atau ketiadaan organ uterus secara kongenital. Sementara itu, Magnetic Resonance Imaging (MRI) kepala diindikasikan apabila terdapat kadar prolaktin tinggi untuk mendeteksi adenoma hipofisis (JSGO, 2021; Berek, 2020).
c. Pemeriksaan Lain
Melakukan tes tantangan progestin (progestin challenge test)
untuk menilai patensi saluran reproduksi dan status estrogen endogen pasien. Tambahan pula, analisis kariotipe diperlukan pada tipe primer dengan kecurigaan anomali kromosom (Sweet & Gibbs, 2019; Prawirohardjo, 2020).
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Pemberian terapi pengganti hormon (TPH) berupa kombinasi estrogen dan progesteron efektif untuk menginduksi siklus menstruasi buatan serta mencegah osteoporosis. Selain itu, memberikan bromokriptin pada kasus hiperprolaktinemia, sedangkan menggunakan klomifen sitrat untuk memicu ovulasi (ACOG, 2021; FOGSI, 2022).
b. Terapi Non-Farmakologis
Modifikasi gaya hidup melalui pengaturan asupan nutrisi yang adekuat, menaikkan berat badan hingga batas ideal, serta manajemen stres melalui terapi kognitif sangat dianjurkan. Selanjutnya, pembatasan latihan fisik intensitas ekstrem terbukti membantu memulihkan fungsi sekresi hipotalamus (Speroff & Fritz, 2019; Manuaba, 2019).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Pengkajian berfokus pada usia remaja untuk tipe primer atau usia reproduktif (15-45 tahun) untuk tipe sekunder. Mencatat informasi mengenai profesi seperti atlet atau penari juga penting karena risiko aktivitas fisik ekstrem (Manuaba, 2019).
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan utama berupa tidak kunjung haid atau berhenti haid secara tiba-tiba. Perawat harus menggali riwayat menarke, pola siklus menstruasi sebelumnya, penggunaan kontrasepsi, fluktuasi berat badan, serta riwayat penyakit endokrin keluarga (Berek, 2020; Prawirohardjo, 2020).
c. Pemeriksaan Fisik
Sistem Pernapasan dan Kardiovaskular
Inspeksi bentuk dada normal, simetris, tidak ada retraksi dinding dada. Palpasi taktil fremitus sama pada kedua lapang paru. Perkusi sonor pada seluruh lapang paru, dan auskultasi suara napas vesikuler tanpa suara tambahan. Tekanan darah dan frekuensi nadi umumnya berada dalam batas normal.
Sistem Pencernaan dan Perkemihan
Inspeksi abdomen tampak datar, tidak ada asites. Palpasi tidak teraba pembesaran hati atau limpa, namun pada pasien anoreksia teraba tumpul pada regio epigastrium. Perkusi timpani pada kuadran abdomen, dan auskultasi bising usus normal (12 kali per menit). Fungsi eliminasi urine biasanya tidak mengalami hambatan fungsional.
Sistem Reproduksi dan Integumen
Inspeksi organ genitalia eksternal menunjukkan tanda hipoestrogenisme seperti atrofi mukosa vagina. Palpasi menggunakan bimanual untuk mendeteksi keberadaan uterus dan ovarium. Pada pemeriksaan integumen, inspeksi dapat menunjukkan adanya striae, hirsutisme, akne, atau alopesia, sedangkan palpasi turgor kulit menunjukkan derajat hidrasi (Mochtar, 2018; Sujayatmo, 2021).
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Pola nutrisi sering kali menunjukkan pembatasan asupan kalori yang ekstrem atau perilaku diet maladaptif. Sementara itu, pola konsep diri terganggu akibat kecemasan terkait gangguan fertilitas dan hilangnya identitas feminitas (Manuaba, 2019; Bagus, 2022).
2. Diagnosis Keperawatan
Klaster Prioritas Diagnosis 1-5
- Ansietas (D.0080) b.d kekhawatiran mengalami kegagalan fungsi reproduksi.
- Gangguan Citra Tubuh (D.0083) b.d perubahan fungsi tubuh.
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d faktor psikologis (keengganan untuk makan).
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) b.d perubahan peran sosial.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi.
Klaster Prioritas Diagnosis 6-10
- Disfungsi Seksual (D.0069) b.d perubahan fungsi/struktur tubuh.
- Risiko Cedera (D.0136) d.d faktor risiko perubahan fungsi psikofisiologis.
- Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d ketidakadekuatan strategi koping.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d kurangnya kontrol tidur.
- Kesiapan Peningkatan Menstruasi (D.0125) d.d mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan manajemen siklus reproduksi.
(PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 1-2
Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, tegang menurun, konsentrasi membaik).
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314): Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika perlu.
Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
- Luaran: Citra Tubuh (L.09067) meningkat (Verbalisasi kehilangan fungsi tubuh menurun, melihat bagian tubuh membaik, adaptasi terhadap fungsi tubuh meningkat).
- Intervensi: Promosi Citra Tubuh (I.09305): Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan; Monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri; Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya; Ajarkan fungsi tubuh yang masih optimal.
Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 3-4
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik (Indeks Massa Tubuh membaik, porsi makanan yang dihabiskan meningkat, verbalisasi keinginan makan meningkat).
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi dan kebutuhan kalori; Monitor asupan makanan dan berat badan; Fasilitasi menentukan pedoman diet yang tepat; Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan.
Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Luaran: Harga Diri (L.09069) meningkat (Penilaian diri positif meningkat, perasaan memiliki kemampuan meningkat, berjalan menunduk menurun).
- Intervensi: Promosi Harga Diri (I.09308): Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri; Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan usia terhadap harga diri; Diskusikan pernyataan positif pada diri sendiri; Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok.
Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 5-6
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Kemampuan menjelaskan pengetahuan meningkat, perilaku sesuai anjuran meningkat).
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383): Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Ajarkan strategi manajemen kesehatan reproduksi.
Disfungsi Seksual (D.0069)
- Luaran: Fungsi Seksual (L.07055) membaik (Kepuasan hubungan seksual meningkat, verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun, keluhan nyeri saat berhubungan menurun).
- Intervensi: Edukasi Seksualitas (I.12421): Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi terkait fungsi reproduksi; Jelaskan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi; Diskusikan penggunaan lubrikan vagina jika terjadi kekeringan akibat hipoestrogen; Anjurkan komitmen terbuka dengan pasangan.
Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 7-8
Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran: Tingkat Cedera (L.14136) menurun (Kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun, fraktur akibat osteoporosis dini tidak terjadi).
- Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537): Identifikasi area lingkungan yang berpotensi menyebabkan cedera; Monitor perubahan status kognitif atau fisik; Pastikan pencahayaan ruangan adekuat; Anjurkan penggunaan alas kaki anti-slip dan pemenuhan kalsium.
Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran: Status Koping (L.09086) membaik (Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, perilaku koping adaptif meningkat, verbalisasi menyalahkan orang lain menurun).
- Intervensi: Promosi Koping (I.09312): Identifikasi kemampuan yang dimiliki; Identifikasi pemahaman proses penyakit; Fasilitasi mengekspresikan perasaan marah atau sedih; Anjurkan keluarga terlibat dalam mendukung proses adaptasi.
Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 9-10
Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)
- Luaran: Status Kenyamanan (L.08064) meningkat (Keluhan tidak nyaman menurun, rileks meningkat, pola tidur membaik).
- Intervensi: Pengaturan Posisi (I.01014): Atur posisi yang mendukung kenyamanan optimal; Sediakan lingkungan kamar yang sejuk dan berventilasi baik; Diskusikan teknik relaksasi otot progresif untuk mengatasi ketegangan fisik.
Kesiapan Peningkatan Menstruasi (D.0125)
- Luaran: Status Menstruasi (L.07060) membaik (Keteraturan siklus menstruasi meningkat, durasi menstruasi membaik, jumlah perdarahan membaik).
- Intervensi: Edukasi Manajemen Menstruasi (I.12395): Identifikasi tingkat pengetahuan pasien saat ini tentang siklus haid; Jelaskan mekanisme hormonal menstruasi; Ajarkan pencatatan kalender menstruasi mandiri; Anjurkan diet seimbang kaya fitoestrogen.
(PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Implementasi
Menjalankan pelaksanaan tindakan keperawatan secara komprehensif dengan mengacu pada SIKI. Perawat memantau kepatuhan pasien dalam mengonsumsi terapi pengganti hormon, memberikan edukasi nutrisi untuk memulihkan IMT, memfasilitasi konseling citra tubuh, serta mengajarkan teknik manajemen stres untuk memulihkan pulsa GnRH (PPNI, 2018; Sujayatmo, 2021).
5. Evaluasi
Hasil akhir asuhan keperawatan mengevaluasi menggunakan metode pencatatan SOAP. Kriteria keberhasilan mencakup penurunan tingkat kecemasan, peningkatan penerimaan terhadap citra tubuh, pencapaian berat badan ideal, peningkatan pemahaman mengenai etiologi, serta pemulihan siklus menstruasi spontan (PPNI, 2019; Bagus, 2022).
DAFTAR PUSTAKA
ACOG. (2021). Amenorrhea. Obstetrics & Gynecology, 137(4), 731–742. acog.org/clinical/practice-bulletin/articles/2021/04/amenorrhea
Bagus, G. I. (2022). Infeksi Ginekologi dalam Perspektif Klinis Modern. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Berek, J. S. (2020). Berek & Novak’s Gynecology (16th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.
CMA. (2023). Consensus on clinical diagnosis and management of amenorrhea. Chinese Journal of Obstetrics and Gynecology, 58(6), 401–410. cma.org.cn/art/2023/6/cma-j-og202306
FOGSI. (2022). Guidelines for the evaluation and management of amenorrhea in South Asia. Journal of Obstetrics and Gynaecology of India, 72(2), 112–121. fogsi.org/jogi-amenorrhea-guidelines
JSGO. (2021). Clinical practice guidelines for diagnostic approach to amenorrhea. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 47(8), 2611–2619. jsgo.or.jp/jogr-amenorrhea-2021
KSOG. (2020). Korean guidelines for the management of secondary amenorrhea. Korean Journal of Obstetrics & Gynecology, 63(3), 185–194. ksog.org/kjog-guideline-amenorrhea
Manuaba, I. B. G. (2019). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan (2nd ed.). Jakarta: EGC.
Mochtar, R. (2018). Sinopsis Obstetri: Obstetri Operatif, Obstetri Sosial (3rd ed.). Jakarta: EGC.
POGS. (2022). Clinical practice guidelines on evaluation of secondary amenorrhea. Philippine Journal of Obstetrics and Gynecology, 46(4), 201–212. pogs.org.ph/pjog-amenorrhea
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kandungan (3rd ed.). Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Speroff, L., & Fritz, M. A. (2019). Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility (8th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Tinggalkan Balasan