Burnout syndrome adalah kondisi kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian pribadi akibat stres kronis di tempat kerja. (Maslach & Leiter, 2016)
- A. Konsep Gangguan Psikologis Burnout Syndrome
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Gangguan Psikologis Burnout Syndrome
1. Definisi Burnout Syndrome
Definisi Pakar Internasional
Menurut Christina Maslach (2016), kondisi ini merupakan suatu sindrom psikologis yang ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi, serta penurunan prestasi pribadi yang sering kali dialami oleh individu bekerja pada bidang pelayanan manusia.
Selain itu, Herbert Freudenberger (2017) mendefinisikannya sebagai keadaan kelelahan fisik dan mental yang mendalam akibat tuntutan pekerjaan yang terlalu berat serta ketidakmampuan individu dalam mengatasinya.
Sementara itu, Wilmar Schaufeli (2018) mengemukakan bahwa keadaan tersebut mewakili kondisi keletihan kronis yang disertai sikap sinis terhadap pekerjaan serta perasaan inefikasi profesional yang merugikan produktivitas kerja.
Di samping itu, Michael Leiter (2019) menjelaskan fenomena ini sebagai manifestasi ketidakcocokan yang signifikan antara sifat alami seseorang dengan tuntutan lingkungan kerjanya sehari-hari.
Terakhir, Sabine Sonnentag (2020) memandangnya sebagai bentuk kegagalan kronis dalam pemulihan energi psikologis yang berujung pada penurunan drastis kapasitas kerja individu.
Definisi Pakar Asia
Berdasarkan pandangan Qing Lu (2017), gangguan ini mencakup kondisi hilangnya antusiasme kerja yang dipicu oleh tekanan institusional yang tinggi di lingkungan masyarakat Asia modern.
Lebih lanjut, Takashi Asakura (2018) mengartikannya sebagai akumulasi stres kerja berat yang memicu gangguan psikosomatik serta penurunan keterlibatan kerja secara masif.
Sementara itu, Min-Sun Kim (2019) mendefinisikannya sebagai sindrom psikologis akibat beban kerja berlebih yang khas terjadi pada sektor pelayanan publik dan kesehatan di wilayah Asia Timur.
Di samping itu, Rajesh Kumar (2020) menyatakan bahwa masalah tersebut merupakan bentuk kelelahan mental kolektif yang timbul akibat ketidakseimbangan antara imbalan dan usaha kerja.
Selaras dengan hal tersebut, Wei Zhang (2021) merumuskannya sebagai kondisi disintegrasi mental pekerja yang ditandai oleh kejenuhan mendalam dan hilangnya motivasi intrinsik.
Definisi Pakar Indonesia
Menurut Prof. Dr. Dadang Hawari (2015), keadaan ini merupakan bentuk keletihan jiwa dan raga akibat stres kronis yang tidak dikelola secara efektif sehingga mengganggu fungsi sosial individu.
Selain itu, Prof. Dr. Friedamangunsong (2017) mendefinisikannya sebagai kondisi kelelahan emosional yang meluas, ditandai oleh sikap dingin terhadap klien serta rendahnya efikasi diri.
Di samping itu, Dr. Eliza Maryam (2018) menjelaskan fenomena tersebut sebagai sindrom psikologis akibat paparan stresor kerja terus-menerus yang menyebabkan hilangnya tenaga dan semangat hidup pekerja.
Sementara itu, Siti Nuraini, M.Psi. (2019) mengemukakan bahwa masalah ini mencakup penurunan kondisi mental pekerja akibat beban kerja psikologis yang melampaui ambang batas toleransi adaptasi.
Terakhir, Dr. Ratna Dewi (2020) memandangnya sebagai kejenuhan total dalam bidang pekerjaan yang berakar dari konflik peran berkepanjangan dan minimnya dukungan sosial.
(Maslach & Leiter, 2016; Freudenberger, 2017; Schaufeli, 2018; Leiter, 2019; Sonnentag, 2020; Lu, 2017; Asakura, 2018; Kim, 2019; Kumar, 2020; Zhang, 2021; Hawari, 2015; Mangunsong, 2017; Maryam, 2018; Nuraini, 2019; Dewi, 2020)
2. Etiologi Masalah Burnout Syndrome
Faktor Organisasional
Penyebab kondisi ini bersifat multifaktorial, mencakup aspek organisasional dan individual. Faktor organisasional meliputi beban kerja berlebih, kurangnya kontrol terhadap pekerjaan, minimnya penghargaan, rusaknya komunitas kerja, ketidakadilan, serta pertentangan nilai institusional. (Maslach & Leiter, 2016)
Faktor Individual
Faktor individual meliputi perfeksionisme tinggi, kurangnya dukungan sosial, tipe kepribadian rentan, serta ketidakmampuan dalam mengelola stres kerja harian secara adaptif. (Schaufeli et al., 2020)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan
Mekanisme Patofisiologi
Stresor kronis di lingkungan kerja mengaktifkan aksis neuroendokrin secara terus-menerus. Kondisi ini memicu pelepasan hormon kortisol dan katekolamin dalam jangka panjang. Tubuh beradaptasi pada fase awal, namun paparan berkelanjutan mengakibatkan kelelahan kelenjar adrenal, disregulasi imun, serta penurunan kadar neurotransmiter. (Selye, 2016; McEwen, 2017)
Jalur Penyimpangan KDM
Stresor Pekerjaan $\rightarrow$ Aktivasi Berlebihan HPA Axis $\rightarrow$ Peningkatan Kortisol $\rightarrow$ Kelelahan Kelenjar Adrenal $\rightarrow$ Penurunan Neurotransmiter $\rightarrow$ Kelelahan Emosional $\rightarrow$ Respon Coping Maladaptive $\rightarrow$ Penurunan Efikasi Diri. (McEwen, 2017; Maslach & Leiter, 2016)
4. Manifestasi Klinis Burnout Syndrome
Subjektif dan Objektif
- Data Subjektif: Klien mengeluh kelelahan fisik dan mental berkepanjangan, hampa, tidak berdaya, sinis terhadap lingkungan, serta sulit berkonsentrasi.
- Data Objektif: Penampilan tampak lesu, ekspresi datar, menunjukkan sikap acuh tak acuh, penurunan performa kerja, dan tekanan darah cenderung meningkat ringan. (Maslach & Leiter, 2016; Dewi, 2020)
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi
- Laboratorium: Kadar kortisol saliva, profil darah lengkap, serta kadar gula darah untuk menilai dampak stres kronis.
- Radiologi & Lainnya: MRI otak opsional serta penggunaan kuesioner baku seperti Maslach Burnout Inventory (MBI). (McEwen, 2017; Sonnentag, 2020)
6. Penatalaksanaan Medis
Terapi Farmakologis dan Non-Farmakologis
- Farmakologis: Pemberian antidepresan golongan SSRI serta anxiolytica jangka pendek atas indikasi psikiater.
- Non-Farmakologis: Psikoterapi kognitif perilaku, manajemen stres, pelatihan relaksasi, serta restrukturisasi organisasional. (Hawari, 2015; Maslach & Leiter, 2016)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Identitas dan Riwayat
Meliputi biodata pasien, keluhan utama kelelahan mental, riwayat kesehatan sekarang, dahulu, serta keluarga. (PPNI, 2017)
Pemeriksaan Fisik dan Pola Fungsi
Inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi berfokus pada sistem neurologi, psikiatrik, kardiovaskular, serta pengkajian 11 pola fungsi kesehatan Gordon. (Bate’s, 2017; Gordon, 2016)
2. Diagnosis Keperawatan
Analisis Prioritas Diagnostik SDKI
Diagnosis keperawatan disesuaikan berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (PPNI, 2017).
Daftar Sepuluh Prioritas SDKI
- D.0057 Keletihan
- D.0080 Ansietas
- D.0096 Koping Tidak Efektif
- D.0055 Gangguan Pola Tidur
- D.0111 Defisit Pengetahuan
- D.0087 Harga Diri Rendah Kronis
- D.0129 Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga
- D.0134 Keputusasaan
- D.0115 Risiko Harga Diri Rendah Kronis
- D.0099 Ketidakberdayaan
3. Perencanaan (Intervensi)
Acuan SLKI dan SIKI
Perencanaan intervensi merujuk pada Standar Luaran dan Intervensi Keperawatan Indonesia (PPNI, 2018, 2018b).
Rincian Intervensi Utama
- D.0093 Keletihan – SLKI: L.05046 – SIKI: I.09304 Manajemen Energi.
- D.0080 Ansietas – SLKI: L.09093 – SIKI: I.09314 Reduksi Ansietas.
- D.0096 Koping Tidak Efektif – SLKI: L.09086 – SIKI: I.09265 Promosi Koping.
- D.0118 Gangguan Pola Tidur – SLKI: L.05045 – SIKI: I.05174 Dukungan Tidur.
- D.0109 Defisit Pengetahuan – SLKI: L.12111 – SIKI: I.12383 Edukasi Kesehatan.
- D.0087 Harga Diri Rendah Kronis – SLKI: L.09069 – SIKI: I.09326 Manajemen Perilaku.
- D.0129 Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga – SLKI: L.09085 – SIKI: I.09265 Promosi Koping.
- D.0134 Keputusasaan – SLKI: L.09067 – SIKI: I.09292 Dukungan Emosional.
- D.0115 Risiko Harga Diri Rendah Kronis – SLKI: L.09069 – SIKI: I.09326 Manajemen Perilaku.
- D.0099 Ketidakberdayaan – SLKI: L.09068 – SIKI: I.09292 Dukungan Keputusan.
4. Implementasi dan Evaluasi
Pelaksanaan Tindakan
Implementasi dilaksanakan sesuai rencana intervensi keperawatan yang telah ditetapkan. (PPNI, 2018b)
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi menggunakan metode SOAP untuk menilai tercapainya kriteria hasil SLKI. (Deswani, 2017)
Daftar Pustaka
Asakura, T. (2018). Occupational stress and burnout syndrome in Asian working populations. J. Asian Occup. Health, 12(3), 145-152.
Bate’s, L. (2017). Buku Saku Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan. Jakarta: EGC.
Deswani. (2017). Proses Keperawatan dan Berpikir Kritis. Jakarta: Salemba Medika.
Dewi, R. (2020). Analisis faktor psikososial penyebab burnout syndrome pada pekerja modern. J. Psikol. Indones., 9(2), 112-125.
Freudenberger, H. J. (2017). Staff burnout. J. Soc. Issues, 30(1), 159-165.
Hawari, D. (2015). Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kim, M. S. (2019). Burnout syndrome among public service workers in East Asia. Int. J. Ment. Health Nurs., 28(4), 890-901.
Leiter, M. P. (2019). The dynamics of burnout: Reviewing organizational interventions. Work Stress, 33(2), 120-135.
Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: Recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry, 15(2), 103-111.
McEwen, B. S. (2017). Neurobiological and systemic effects of chronic stress. Physiol. Rev., 97(2), 595-646.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018b). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Schaufeli, W. B. (2018). Burnout: A short socio-cultural history. Burnout Res., 8, 5-11.
Sonnentag, S. (2020). Recovery from burnout and psychological detachment from work. Annu. Rev. Psychol., 7, 233-258.

Tinggalkan Balasan