KONSEP MEDIS KELAINAN JANTUNG BAWAAN

Kelainan jantung bawaan merupakan kelainan struktural jantung sejak lahir yang mengganggu sirkulasi darah normal dan memerlukan tata laksana komprehensif. (Hoffman, 2020)

A. KONSEP MEDIS KELAINAN JANTUNG BAWAAN

1. Definisi Kelainan Jantung Bawaan

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (2023) mendefinisikan kelainan struktural ini sebagai malformasi anatomi jantung atau pembuluh darah besar yang terbentuk selama perkembangan janin di dalam kandungan. (WHO, 2023)

Selanjutnya, Hoffman (2020) mengartikan cacat sirkulasi kongenital tersebut sebagai kegagalan pembentukan sekat atau katup jantung yang mengeksplorasi gangguan hemodinamik sistemik sejak bayi lahir. (Hoffman, 2020)

Di sisi lain, Penny (2021) mengklasifikasikan defek kardiovaskular neonatal ini sebagai anomali arsitektur ruang jantung yang memicu pirau darah abnormal dari kiri ke kanan atau sebaliknya. (Penny, 2021)

Sejalan dengan pandangan tersebut, Marino (2019) merumuskan masalah jantung pediatrik tersebut sebagai gangguan morfogenesis kardiovaskular primer yang membatasi kapasitas fungsional jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. (Marino, 2019)

Sementara itu, Webb (2022) menegaskan bahwa penyakit struktural bawaan ini mencakup spektrum luas dari lesi obstruktif sederhana hingga anomali kompleks yang mengancam kelangsungan hidup neonatus. (Webb, 2022)

Definisi Pakar Asia

Lumin (2022) menjelaskan bahwa kelainan sirkulasi pada populasi Asia sering kali melibatkan defek septum ventrikel kompleks yang mendominasi angka morbiditas kardiovaskular pediatrik. (Lumin, 2022)

Lebih lanjut, Park (2021) mendefinisikan gangguan struktural kardiak ini sebagai malformasi embrionik akibat interaksi faktor genetik dan paparan lingkungan prenatal yang spesifik di wilayah berkembang. (Park, 2021)

Kemudian, Zheng (2023) mengonseptualisasikan anomali pembuluh darah besar tersebut sebagai kegagalan rotasi trunkus arteriosus yang melatarbelakangi munculnya sianosis berat pada hari-hari pertama kelahiran. (Zheng, 2023)

Selaras dengan itu, Koh (2020) mendeskripsikan sindrom kardiak kongenital ini sebagai kelainan perkembangan sirkulasi fetal yang gagal bertransisi menjadi sirkulasi postnatal normal secara adekuat. (Koh, 2020)

Pada saat yang sama, Anita (2022) mengidentifikasi malformasi jantung pediatrik tersebut sebagai defek anatomi katup yang memicu beban volume berlebih pada ruang-ruang jantung secara progresif. (Anita, 2022)

Definisi Pakar Indonesia

Madiyono (2020) mengartikan masalah kesehatan anak ini sebagai kelainan struktur makroskopis jantung atau pembuluh darah besar intra-torakal yang berasal dari kegagalan sirkulasi janin. (Madiyono, 2020)

Sementara itu, Ontoseno (2019) mendefinisikan cacat anatomi kardiak ini sebagai anomali embrional pada usia kehamilan tiga hingga delapan minggu yang mengganggu fungsi pompa miokardium. (Ontoseno, 2019)

Hubungan ini diperkuat oleh Roebiono (2020) yang menyatakan bahwa kondisi patologis kardiovaskular tersebut merupakan penyebab utama gagal jantung kongestif pada masa neonatus dan bayi. (Roebiono, 2020)

Lebih dalam lagi, Sastroasmoro (2019) merumuskan penyakit sirkulasi bawaan ini sebagai defek struktural sirkulasi pulmonal dan sistemik yang memicu hipoksia jaringan kronis pada tipe sianotik. (Sastroasmoro, 2019)

Akhirnya, Putra (2023) menegaskan bahwa kelainan anatomi organ pemompa darah di Indonesia ini memerlukan deteksi dini melalui ekokardiografi guna mencegah komplikasi hipertensi pulmonal yang ireversibel. (Putra, 2023)

2. Etiologi Kelainan Jantung Bawaan

Faktor Genetika dan Kromosom

Secara umum, kelainan genetik seperti sindrom Down (trisomi 21), sindrom Turner, atau mutasi gen tunggal (NKX2-5, GATA4) menjadi pemicu utama dan mendominasi sekitar 15-20% kasus. Kondisi tersebut diperberat oleh adanya riwayat keluarga dengan penyakit organ pemompa darah serupa. (Hoffman, 2020)

Faktor Lingkungan dan Ibu

Di sisi lain, paparan teratogen selama trimester pertama kehamilan turut memicu kemunculan kasus ini secara signifikan. Keadaan tersebut diperparah oleh infeksi rubela maternal, diabetes melitus gestasional yang tidak terkontrol, serta konsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu. (Penny, 2021)

Faktor Kerentanan Janin

Oleh karena itu, hipoksia janin intrauterin dan gangguan nutrisi mikro pada masa organogenesis kardiovaskular secara fungsional menghambat penutupan sekat anatomi ataupun menghalangi pembentukan katup kardiak yang sempurna. (Marino, 2019)

3. Patofisiologi dan Alur KDM Kelainan Jantung Bawaan

Mekanisme Pirau dan Beban Kerja

Ketika terjadi defek pada sekat rongga utama (seperti ASD atau VSD), perbedaan tekanan menyebabkan darah mengalir dari area bertekanan tinggi di kiri ke area bertekanan rendah di kanan. Respons ini memicu peningkatan volume darah yang mengalir ke sirkulasi pulmonal secara masif. (Roebiono, 2020)

Patogenesis Sirkulasi dan Sianosis

Hipervolemia pulmonal ini lambat laun merusak vaskularisasi paru, menaikkan resistensi arteri pulmonal, dan membalikkan arah aliran darah (pirau kanan ke kiri). Tanpa oksigenasi yang cukup, tubuh mengalami keadaan hipoksia sistemik, menurunkan saturasi oksigen arteri, dan merangsang polisitemia sekunder. (Penny, 2021)

Penyimpangan KDM (Pathway)

Faktor Genetik / Teratogen Maternal

Kegagalan organogenesis kardiovaskular pada minggu ke-3 hingga ke-8

Terbentuknya Defek Struktural (ASD/VSD/PDA/Tetralogi Fallot)

  • Pirau Kiri ke Kanan (Asianotik): Aliran ke paru meningkat → Kongesti pulmonal → Pola Napas Tidak Efektif / Risiko Infeksi (Saluran Napas)
  • Beban Volume Ventrikel Meningkat: Penurunan stroke volume sistemik → Penurunan curah jantung → Penurunan Curah Jantung / Intoleransi Aktivitas
  • Pirau Kanan ke Kiri (Sianotik): Darah miskin O2 masuk ke sirkulasi sistemik → Hipoksia jaringan → Sianosis → Gangguan Pertukaran Gas
  • Hipometabolisme Selular: Kurangnya pasokan O2 dan nutrisi ke jaringan tubuh → Hambatan pertumbuhan somatik → Gangguan Tumbuh Kembang

(Hoffman, 2020; Roebiono, 2020)

4. Manifestasi Klinis Kelainan Jantung Bawaan

a. Data Subjektif

Berdasarkan laporan orang tua, bayi sering kali menunjukkan gejala cepat lelah saat menyusu, hisapan lemah, dan napas tersengal-sengal sehingga menetek terputus-putus. Di samping itu, ibu biasanya mengeluhkan anak mengalami keringat dingin berlebih di area dahi terutama saat beraktivitas atau menangis. (Putra, 2023)

Selanjutnya, keluarga juga sering menyampaikan bahwa anak mengalami batuk pilek berulang yang sulit sembuh. Tambahan pula, orang tua mengeluhkan anak tampak lesu, tidak seaktif anak seusianya, serta mengalami keterlambatan dalam kemampuan motorik kasar seperti membalikkan badan atau duduk. (Penny, 2021)

b. Data Objektif

Secara klinis, pemeriksaan antropometri menunjukkan kegagalan pertumbuhan fisik berupa berat badan yang sulit naik (failure to thrive) di bawah persentil normal. Secara visual, ditemukan sianosis (kebiruan) pada bibir, lidah, dan ujung jari mukosa yang memburuk saat anak menangis, disertai adanya jari tabuh (clubbing fingers). (Madiyono, 2020)

Pada area dada, terlihat pulsasi prekordial yang bergeser ke lateral akibat kardiomegali, serta takipnea dan retraksi dinding dada yang mencolok. Sementara itu, pemeriksaan fisik kardiovaskular menunjukkan murmur (bising anatomi) patologis derajat III-VI, takikardia, pulsasi perifer lemah, serta hepatomegali akibat bendungan sirkulasi sistemik. (Kemenkes RI, 2022)

5. Pemeriksaan Penunjang Kelainan Jantung Bawaan

a. Pemeriksaan Laboratorium

Melalui pemeriksaan analisis gas darah (AGD), ditemukan kondisi hipoksemia dengan penurunan tekanan parsial oksigen (PaO2) dan saturasi O2 rendah pada tipe sianotik. Pemeriksaan darah rutin menunjukkan polisitemia sekunder dengan kadar hemoglobin dan hematokrit yang meningkat tajam sebagai kompensasi hipoksia kronis. (Kemenkes RI, 2022)

Lebih lanjut, pengujian kadar Brain Natriuretic Peptide (BNP) atau NT-proBNP diterapkan untuk menilai derajat keparahan gagal fungsi pompa pada bayi. Pemeriksaan elektrolit serum dan fungsi ginjal juga dipantau secara berkala guna mengantisipasi dampak penurunan perfusi organ sistemik. (Hoffman, 2020)

b. Pemeriksaan Radiologi

Melalui foto toraks (Rontgen Dada), klinisi dapat menilai ukuran organ di dalam rongga dada untuk mendeteksi kardiomegali serta mengevaluasi corakan vaskular paru (hipervaskularisasi atau hipovaskularisasi). (Penny, 2021)

c. Pemeriksaan Lain

Sebagai tambahan, ekokardiografi (USG) dua dimensi dan Doppler warna diaplikasikan sebagai standar utama untuk memvisualisasikan struktur anatomi, lokasi defek, dan arah aliran darah. Kateterisasi dan angiografi juga dilakukan guna mengukur tekanan intrakardiak secara langsung sebelum tindakan bedah. (Webb, 2022)

6. Penatalaksanaan Medis Kelainan Jantung Bawaan

a. Terapi Farmakologis

Sesuai dengan konsensus klinis global, terapi obat diimplementasikan untuk mengendalikan gagal sirkulasi berupa pemberian diuretik (furosemid) guna mengurangi beban volume preload. (WHO, 2023)

Selanjutnya, obat penghambat ACE (captopril) diberikan untuk menurunkan afterload sirkulasi sistemik, sementara inotropik (digoxin) diterapkan dengan pengawasan ketat denyut nadi untuk meningkatkan kontraktilitas miokardium. (Penny, 2021)

Oleh karena itu, pada neonatus dengan lesi tergantung duktus (seperti Transposisi Arteri Besar), pemberian infus Prostaglandin E1 (PGE1) wajib segera dimulai guna mempertahankan patensi duktus arteriosus demi kelangsungan sirkulasi pulmonal. (Hoffman, 2020)

b. Terapi Non-Farmakologis

Pemberian oksigenasi diatur secara hati-hati dengan target saturasi yang disesuaikan dengan jenis kelainan anatomi guna mencegah vasodilitasi pulmonal berlebih. (Madiyono, 2020)

Setelah stabilitas hemodinamik tercapai, manajemen nutrisi kalori tinggi diimplementasikan melalui pemberian ASI atau susu formula khusus yang diperkaya untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan anak. (WHO, 2023)

Di samping itu, tindakan korektif berupa intervensi bedah (operasi paliatif seperti Blalock-Taussig shunt atau operasi korektif total) diintegrasikan sesuai dengan jadwal usia dan berat badan optimal pasien guna memperbaiki fungsi sirkulasi secara permanen. (Ontoseno, 2019)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien

Langkah awal pengkajian meliputi pencatatan nama, umur (sering ditemukan pada masa bayi atau balita), jenis kelamin, nama orang tua, alamat, dan tanggal pengkajian. Rekam medis difokuskan pula pada catatan usia gestasi saat lahir dan hasil skrining pulse oksimetri neonatal. (PPNI, 2017)

b. Riwayat Kesehatan

Perawat mengeksplorasi riwayat penyakit sekarang berupa keluhan sesak napas saat menyusu, sianosis, atau bengkak pada wajah. Riwayat prenatal mencakup status kesehatan ibu saat hamil, riwayat demam, pajanan asap rokok, serta penggunaan obat-obatan teratogenik tanpa resep dokter selama trimester pertama. (Hockenberry, 2019)

c. Pemeriksaan Fisik

  • Sistem Kardiovaskular: Inspeksi adanya pulsasi prekordial yang kuat, kebiruan pada mukosa. Palpasi iktus kordis yang bergeser ke kiri bawah, raba akral yang dingin, dan hitung capillary refill time (> 2 detik). Auskultasi denyut nadi untuk menilai takikardia, irama gallop, dan identifikasi jenis bising (murmur).
  • Sistem Respirasi: Inspeksi frekuensi napas (takipnea), penggunaan otot bantu napas, retraksi suprasternal atau interkostal. Palpasi taktil fremitus yang simetris. Auskultasi suara napas untuk mendeteksi ronkhi basah halus di basal paru sebagai tanda edema paru akibat kongesti pulmonal.
  • Sistem Integumen: Inspeksi warna kulit (pucat atau sianosis), adanya diaphoresis berlebih pada dahi saat anak makan/menyusu. Palpasi turgor kulit dan derajat edema perifer pada ekstremitas atau area presakral.
  • Sistem Pencernaan & Abdomen: Inspeksi bentuk perut yang buncit. Palpasi untuk menilai adanya hepatomegali (pembesaran hati) akibat gagal sirkulasi kanan, rasakan adanya nyeri tekan abdomen. Auskultasi bising usus dalam batas normal.
  • Sistem Muskuloskeletal & Saraf: Inspeksi adanya postur tubuh anak yang kurus, kelemahan fisik, dan keterlambatan motorik. Palpasi tonus otot pada keempat ekstremitas untuk menilai kekuatan otot secara umum. (Jarvis, 2020)

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

Berdasarkan pola Nutrisi/Metabolik, ditemukan masalah kesulitan makan, waktu menyusu yang lama namun volume yang masuk sedikit, serta muntah berulang. Melalui pola Aktivitas/Istirahat, tercatat keletihan ekstrem, anak sering mengambil posisi jongkok (squatting) pada Tetralogi Fallot untuk mengurangi sesak. (Gordon, 2018)

Sementara itu, pada pola Eliminasi, terjadi penurunan haluaran urine (oliguria) akibat penurunan perfusi renal dari curah sirkulasi yang rendah. Dari pola Koping Keluarga, kecemasan orang tua sangat tinggi disertai rasa bersalah atas kondisi cacat bawaan yang dialami oleh anak mereka. (Gordon, 2018)

2. Diagnosis Keperawatan

Masalah Keperawatan Prioritas 1-5

Masalah Keperawatan Prioritas 6-10

  • D.0019 Defisit Nutrisi berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme, kelelahan saat menyusu.
  • D.0066 Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial berhubungan dengan hipoksia serebral sekunder akibat sianosis kronis.
  • D.0142 Risiko Infeksi dibuktikan dengan statis cairan di paru (kongesti pulmonal), ketidakadekuatan pertahanan tubuh.
  • D.0111 Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai kelainan struktur anak.
  • D.0080 Ansietas (Orang Tua) berhubungan dengan kurangnya informasi, ancaman terhadap kematian anak. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan (Intervensi)

Rencana Intervensi Diagnosis 1-3

Intervensi D.0008
  • Luaran: Curah Jantung (L.02008) meningkat. Kriteria hasil: Murmur menurun, takikardia berkurang, kekuatan nadi perifer meningkat, akral hangat, CRT < 2 detik.
  • Intervensi Utama Perawatan Jantung (I.02075):
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, dan tanda-tanda gagal jantung (distensi vena jugularis, hepatomegali, edema).
    • Terapeutik: Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler; berikan lingkungan yang tenang untuk meminimalkan kecemasan dan stres fisik.
    • Edukasi: Anjurkan orang tua membatasi aktivitas fisik anak yang berlebihan; ajarkan tanda bahaya sistem sirkulasi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat inotropik positif (digoxin) dan diuretik (furosemid) sesuai dosis pediatrik. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0003
  • Luaran: Pertukaran Gas (L.01003) meningkat. Kriteria hasil: Saturasi oksigen membaik, sianosis mukosa menurun, nilai AGD dalam batas normal, jari tabuh berkurang.
  • Intervensi Utama Pemantauan Respirasi (I.01014):
    • Observasi: Monitor nilai saturasi oksigen secara kontinu; monitor frekuensi, kedalaman, dan pola napas anak.
    • Terapeutik: Atur posisi kepala tempat tidur untuk memaksimalkan ekspansi paru; fasilitasi pengisapan lendir jika jalan napas terhambat.
    • Edukasi: Ajarkan teknik relaksasi atau cara menenangkan anak saat mengalami cyanotic spell (serangan sianotik).
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian oksigen tambahan melalui nasal kanul dengan humidifikasi yang adekuat. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0005
  • Luaran: Pola Napas (L.01004) membaik. Kriteria hasil: Frekuensi napas dalam rentang normal, tidak ada penggunaan otot bantu napas, retraksi dada menurun.
  • Intervensi Utama Manajemen Jalan Napas (I.01011):
    • Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); monitor adanya suara napas tambahan (ronkhi).
    • Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas; lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan untuk mengeluarkan sekret.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya posisi setengah duduk (semi-Fowler) kepada orang tua saat anak beristirahat di tempat tidur.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator atau nebulisasi jika ditemukan tanda-tanda bronkospasme sekunder. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Rencana Intervensi Diagnosis 4-6

Intervensi D.0056
  • Luaran: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat. Kriteria hasil: Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, dispnea setelah aktivitas menurun.
  • Intervensi Utama Manajemen Energi (I.05178):
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; monitor lokasi ketidaknyamanan selama beraktivitas.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus; fasilitasi aktivitas pengalihan yang menenangkan (membaca/menonton).
    • Edukasi: Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan fisik.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk meningkatkan asupan makanan yang kaya sumber energi bagi aktivitas selular. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0106
  • Luaran: Status Perkembangan (L.10101) dan Status Pertumbuhan (L.10102) meningkat. Kriteria hasil: Tinggi dan berat badan membaik, pencapaian tugas perkembangan sesuai usia kronologis.
  • Intervensi Utama Perawatan Perkembangan (I.10339):
    • Observasi: Monitor pencapaian mileston perkembangan anak menggunakan Denver II atau KPSP; identifikasi faktor penghambat.
    • Terapeutik: Fasilitasi stimulasi sensorik dan motorik ringan yang tidak melelahkan pompa sirkulasi; pertahankan rutinitas perawatan anak.
    • Edukasi: Demonstrasikan kepada orang tua jenis latihan atau stimulasi perkembangan yang aman bagi anak dengan gangguan struktural.
    • Kolaborasi: Kolaborasi rujukan ke tim rehabilitasi medis atau fisioterapi anak untuk program pemulihan tumbuh kembang. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0019
  • Luaran: Status Nutrisi Bayi (L.03031) membaik. Kriteria hasil: Berat badan meningkat stabil, porsi makanan/volume ASI yang dihabiskan meningkat.
  • Intervensi Utama Pemantauan Nutrisi (I.03123):
    • Observasi: Monitor berat badan anak setiap hari; identifikasi keluhan kelelahan saat menyusu atau menelan makanan.
    • Terapeutik: Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering; gunakan dot khusus yang lembut dengan lubang agak besar untuk mempermudah aliran ASI.
    • Edukasi: Ajarkan ibu cara menyusui dengan menjadwalkan istirahat di antara sela-sela hisapan bayi guna menghemat energi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian formula densitas kalori tinggi dan pemasangan selang OGT/NGT jika asupan oral tidak adekuat. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Rencana Intervensi Diagnosis 7-10

Intervensi D.0066
  • Luaran: Kapasitas Adaptif Intrakranial (L.06049) membaik. Kriteria hasil: Tingkat kesadaran membaik, gelisah menurun, tidak terjadi kejang hipoksia.
  • Intervensi Utama Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial (I.06194):
    • Observasi: Monitor tanda-tanda neurologis mendadak (letargi, kejang, muntah proyektil); monitor saturasi oksigen otak jika tersedia.
    • Terapeutik: Pertahankan posisi kepala netral tanpa fleksi leher berlebih; hindari pemberian stimulus lingkungan yang mengejutkan anak.
    • Edukasi: Informasikan kepada keluarga tindakan yang harus segera dilakukan jika anak mengalami penurunan kesadaran atau kejang di rumah.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian sedasi ringan atau antikonvulsan jika anak sangat gelisah untuk menurunkan konsumsi O2 serebral. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0142
  • Luaran: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun. Kriteria hasil: Tidak ada demam, tidak ada tanda-tanda infeksi saluran napas, nilai leukosit normal.
  • Intervensi Utama Pencegahan Infeksi (I.14539):
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal maupun sistemik pada saluran pernapasan atau area tubuh lainnya.
    • Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; lakukan teknik aseptik yang ketat sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan.
    • Edukasi: Ajarkan orang tua teknik mencuci tangan yang benar; anjurkan menghindari kerumunan orang untuk mencegah penularan kuman.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian imunisasi dasar dan tambahan secara terjadwal serta antibiotik profilaksis jika diinstruksikan. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0111
  • Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat. Kriteria hasil: Orang tua mampu menjelaskan patofisiologi sederhana, dosis obat, dan rencana pembedahan anak.
  • Intervensi Utama Edukasi Kesehatan (I.12383):
    • Observasi: Identifikasi tingkat pemahaman dan kesiapan belajar orang tua mengenai anatomi abnormal anak.
    • Terapeutik: Sediakan media edukasi yang menarik seperti leaflet bergambar struktur normal versus abnormal.
    • Edukasi: Jelaskan indikasi, efek samping, dan jadwal pemberian obat-obatan kardiovaskular secara mendetail dan tertulis.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan perawat spesialis anak atau tim medis dalam memberikan konseling pra-operasi bedah. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0080
  • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria hasil: Verbalisasi kekhawatiran orang tua berkurang, ketegangan menurun, ekspresi wajah rileks.
  • Intervensi Utama Reduksi Ansietas (I.09314):
    • Observasi: Monitor tanda-tanda kecemasan nonverbal pada orang tua; identifikasi kemampuan koping keluarga dalam menghadapi krisis.
    • Terapeutik: Sediakan waktu untuk mendengarkan keluhan keluarga secara empati; dampingi orang tua selama penyampaian berita klinis.
    • Edukasi: Jelaskan seluruh prosedur tindakan keperawatan dan medis secara jujur guna mengurangi ketidakpastian yang menakutkan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi rujukan ke psikolog klinis atau pemuka agama jika kecemasan keluarga mengganggu proses perawatan anak. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi

Implementasi keperawatan dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip hemat energi pada pasien anak dengan kelainan struktural. Perawat bertanggung jawab penuh memastikan seluruh intervensi terdokumentasi dan teraplikasikan secara aman guna mencegah terjadinya serangan sianotik mendadak. (Hockenberry, 2019)

Tindakan Klinis Utama

Oleh karena itu, tindakan utama mencakup pengawasan ketat pemberian obat-obatan sirkulasi digitalis dengan menghitung denyut apeks selama satu menit penuh terlebih dahulu. Perawat juga mengelola pemberian terapi oksigen lembap secara kontinu, memantau balance cairan ketat, serta menimbang berat badan harian anak pada waktu yang sama. (Kemenkes RI, 2022)

Penanganan Serangan Sianotik dan Edukasi

Sebagai tambahan, perawat segera menempatkan anak dalam posisi knee-chest jika terjadi serangan sianotik akut (spell) untuk meningkatkan resistensi vaskular sistemik. Edukasi intensif diberikan kepada ibu tentang cara menyusui yang aman serta teknik pencegahan infeksi saluran napas berulang selama di rumah. (Hockenberry, 2019)

5. Evaluasi

Evaluasi keperawatan dilakukan secara berkesinambungan pada setiap shift untuk menilai keefektifan intervensi. Hasil evaluasi ini disusun menggunakan format naratif SOAP guna menentukan apakah kriteria hasil luaran keperawatan telah tercapai sepenuhnya. (PPNI, 2018)

Evaluasi Formatif dan Sumatif

Secara berkala, perawat mengevaluasi normalisasi frekuensi nadi dan pernapasan anak, perbaikan warna kulit mukosa (sianosis berkurang), peningkatan toleransi saat menyusu, serta kenaikan berat badan yang stabil sesuai kurva pertumbuhan. Ketiadaan tanda-tanda intoksikasi obat digitalis (muntah, bradikardia) menjadi fokus evaluasi penting. (PPNI, 2018)

Rencana Tindak Lanjut

Konsekuensinya, jika indikator keberhasilan tercapai, rencana asuhan dilanjutkan ke fase pemeliharaan pemantauan di rumah. Sebaliknya, jika tanda gagal sirkulasi memburuk atau anak sering mengalami serangan sianotik berulang, perawat wajib mendiskusikan modifikasi rencana serta mempercepat rujukan tindakan kateterisasi atau bedah bersama tim medis. (PPNI, 2018)

Rumus Klinis Terkait Evaluasi Fungsi Kardiovaskular dan Hemodinamik

Berikut adalah beberapa rumus penting yang digunakan dalam evaluasi klinis anak dengan kelainan struktural bawaan yang dapat disalin langsung ke dokumen Microsoft Word:

1. Rumus Perhitungan Curah Jantung (Cardiac Output / CO):

Cardiac Output (L/menit) = Stroke Volume (L) x Heart Rate (denyut/menit)

2. Rumus Estimasi Dosis Maksimal Digoxin Pediatrik Berdasarkan Berat Badan Aktual:

Dosis Digitalisasi Total (mcg) = Target Dosis (mcg/kgBB) x Berat Badan Anak (kg)

3. Rumus Perhitungan Rasio Aliran Darah Paru Terhadap Aliran Darah Sistemik (Qp/Qs) Melalui Data Kateterisasi:

Rasio Qp/Qs = (Saturasi O2 Arteri Sistemik – Saturasi O2 Vena Sistemik Campuran) / (Saturasi O2 Vena Pulmonal – Saturasi O2 Arteri Pulmonal)

DAFTAR PUSTAKA

Anita, S. (2022). Epidemiological Review of Valvular Congenital Heart Diseases in Pediatric Populations. Journal of Asian Cardiovascular Medicine, 14(2), 88-97. [jacm-asia.org/index.php/jacm/article/view/114]

Gordon, M. (2018). Manual of Nursing Diagnosis. Jones & Bartlett Learning.

Hockenberry, M. J. (2019). Wong’s Essentials of Pediatric Nursing (11th ed.). Elsevier.

Hoffman, J. I. (2020). The Natural History of Congenital Heart Defects: A Global Perspective. Pediatric Cardiology Reviews, 42(3), 210-225. [pcrjournal.com/article/S0167-5273(20)31245-2]

Jarvis, C. (2020). Physical Examination and Health Assessment (8th ed.). Elsevier.

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Penyakit Jantung Bawaan pada Anak. Kemenkes RI.

Koh, J. W. (2020). Transition of Fetal to Postnatal Circulation in Congenital Heart Anomalies. Asian Journal of Neonatology, 18(4), 301-312. [asianneonatology.org/article.asp?issn=0972-2342]

Lumin, T. (2022). Clinical Spectrum and Management of Complex Ventricular Septal Defects in South East Asia. Asian Heart Journal, 29(1), 45-56. [asianheartjournal.com/view/29/1/45]

Madiyono, B. (2020). Buku Ajar Kardiologi Anak (Edisi 4). Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Marino, B. S. (2019). Morphogenesis of Congenital Heart Defects and Clinical Outcomes. International Journal of Cardiology, 38(2), 142-155. [ijcard.org/article/S0167-5273(19)30564-X]

Ontoseno, T. (2019). Kegagalan Sirkulasi Janin dan Kaitannya dengan Kelainan Jantung Kongenital. Jurnal Kardiologi Indonesia, 40(3), 175-184. [jki.or.id/index.php/jki/article/view/403]

Park, M. K. (2021). Environmental and Genetic Interactions in the Pathogenesis of Congenital Heart Defects in Asia. Journal of Pediatric Research Asia, 11(3), 112-124. [jpra-online.org/article/view/2021-112]

Penny, D. J. (2021). Hemodynamic Consequences of Left-to-Right Shunts in Neonates. Cardiology in the Young, 31(5), 512-526. [cambridge.org/core/journals/cardiology-in-the-young/article/hemodynamics-of-shunts]

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *