Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan neuroperkembangan yang ditandai oleh disregulasi atensi, impulsivitas berlebih, dan hiperaktivitas motorik pada anak.
- A. Konsep Medis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
- 1. Definisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
- 2. Etiologi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
- 3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
- 4. Manifestasi Klinis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
- 5. Pemeriksaan Penunjang pada Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
- 6. Penatalaksanaan Medis pada Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- Rumus Penghitungan Dosis Metilfenidat Anak (Dapat Disalin Langsung ke Word)
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
1. Definisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan ADHD sebagai pola disfungsi neuroperkembangan persisten yang bermanifestasi berupa kurangnya perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas pada tingkat yang tidak konsisten dengan usia perkembangan individu. (WHO, 2021)
Selanjutnya, American Psychiatric Association (APA) merumuskan kondisi klinis ini dalam DSM-5-TR sebagai gangguan perkembangan saraf menetap yang secara signifikan mengganggu fungsi sosial, akademik, dan okupasional akibat kegagalan regulasi perhatian fungsional. (APA, 2022)
Selain itu, Barkley menjelaskan fenomena perilaku ini sebagai gangguan primer pada sistem kendali eksekutif otak yang bersumber dari kegagalan fungsi inhibisi perilaku adaptif anak. (Barkley, 2015)
Sementara itu, Faraone et al. memaknai gangguan heterogen ini sebagai kondisi herediter tinggi dengan keterlibatan disfungsi transmisi dopaminergik pada sirkuit frontostriatal yang mengatur motivasi diri. (Faraone et al., 2021)
Kemudian, Thapar dan Cooper menyimpulkan kelainan neurobiologis kompleks ini sebagai hasil interaksi dinamis antara kerentanan genetik poligenik dan faktor lingkungan prenatal yang memicu penyimpangan maturasi korteks prefrontal. (Thapar & Cooper, 2016)
Definisi Pakar Asia
Giri et al. mengartikan masalah perkembangan saraf ini pada kawasan Asia Selatan sebagai bentuk disfungsi kognitif adaptif yang memerlukan identifikasi dini melalui pengamatan pola destruktif aktivitas motorik anak. (Giri et al., 2019)
Oleh karena itu, Zhang et al. menegaskan bahwa karakteristik esensial ADHD pada populasi anak Asia Timur melibatkan tingginya prevalensi defisit atensi visual-spasial yang berhubungan erat dengan pola asuh akademis yang restriktif. (Zhang et al., 2022)
Laku, Park et al. mengategorikan kelainan perkembangan pada Asia Timur sebagai ketidakseimbangan fungsional neurokimiawi kortikal yang memicu hambatan fungsi eksekutif serta kegagalan performa akademis balita. (Park et al., 2020)
Sebaliknya, Bener et al. menjelaskan bahwa gangguan spektrum ini pada wilayah Timur Tengah merefleksikan dampak nyata dari defisiensi mikronutrien spesifik dan faktor genetik homozigot akibat tingginya angka pernikahan sedarah. (Bener et al., 2018)
Seterusnya, Hock et al. menguraikan variasi klinis pada Asia Tenggara sebagai manifestasi klinis kegagalan regulasi diri anak yang diperberat oleh paparan gawai visual dini dengan durasi berlebihan. (Hock et al., 2023)
Definisi Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) sebagai kelainan perkembangan saraf kronis yang mengganggu kapasitas anak untuk memusatkan perhatian secara adekuat. (Kemenkes RI, 2023)
Selain itu, Soetjiningsih menerangkan bahwa kelainan ini merupakan sindrom perilaku dengan manifestasi utama berupa ketidakmampuan memusatkan perhatian, impulsivitas, dan hiperaktivitas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan usianya. (Soetjiningsih, 2018)
Dengan demikian, Wiguna menguraikan gangguan neurobiologis multisistem ini sebagai dampak nyata dari keterlambatan maturasi fungsional jaringan otak korteks prefrontal yang mengatur sirkuit kontrol inhibisi motorik anak. (Wiguna, 2021)
Bahkan, Judarwanto memaparkan bahwa gangguan perkembangan ini melibatkan kontribusi sekunder dari hipersensitivitas imunologis terhadap bahan aditif makanan yang memicu peradangan saraf tingkat rendah dan mengganggu stabilitas neurotransmiter pusat. (Judarwanto, 2020)
Akhirnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengartikan kondisi klinis ini sebagai gangguan perilaku yang paling sering terjadi pada masa kanak-kanak dengan trias gejala utama berupa inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap. (IDAI, 2022)
2. Etiologi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Faktor Genetik dan Epigenetik
Penyebab utama gangguan berakar pada faktor hereditas poligenik yang sangat tinggi, dengan estimasi heritabilitas mencapai 74 persen. Kondisi ini berhubungan erat dengan variasi fungsional pada gen pengangkut dopamin (DAT1), gen reseptor dopamin (DRD4 dan DRD5), serta gen pengangkut serotonin (5-HTT). Risiko klinis meningkat secara signifikan pada anak dengan riwayat keluarga tingkat pertama yang mengidap gangguan serupa. Faktor usia ayah yang tua saat konsepsi serta modifikasi epigenetik pasca-salin turut berkontribusi mengacaukan regulasi sintesis neurotransmiter. (Faraone et al., 2021)
Faktor Neurobiologis dan Prenatal
Selanjutnya, gangguan perkembangan struktur otak selama masa kehamilan memegang peran krusial dalam patogenesis kelainan ini. Paparan ibu terhadap nikotin rokok, alkohol, dan obat penenang selama masa gestasi memicu hipoksia janin kronis yang mengganggu neurogenesis. Infeksi maternal, stres psikologis berat yang memicu lonjakan kortisol, serta kelahiran prematur dengan berat badan lahir rendah mengakibatkan iskemia fungsional pada sirkuit frontostriatal janin yang sedang berkembang. (Thapar & Cooper, 2016)
Faktor Lingkungan dan Neurotoksin
Sementara itu, paparan neurotoksin lingkungan pasca-lahir seperti logam berat timbal dan merkuri berkontribusi merusak integritas sel saraf kortikal. Konsumsi makanan dengan kadar gula tinggi serta zat pewarna sintetis memperparah tingkat stres oksidatif seluler otak pada anak yang rentan. Kurangnya stimulasi psikososial yang terarah, pola asuh keluarga yang inkonsisten, serta konflik perkawinan orang tua yang kronis menciptakan lingkungan maladaptif yang memperberat manifestasi klinis impulsivitas motorik. (Judarwanto, 2020)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Mekanisme Disregulasi Neurotransmiter
Pada awal mulanya, mutasi poligenik memicu penurunan ketersediaan dan fungsionalitas neurotransmiter dopamin dan norepinefrin pada celah sinaptik korteks prefrontal. Dopamin berfungsi mengatur motivasi, atensi, dan sistem penghargaan (reward system), sedangkan norepinefrin berperan penting dalam memodulasi kewaspadaan dan kontrol inhibisi. Defisiensi kedua monoamina ini menyebabkan penurunan sensitivitas sirkuit saraf terhadap penguatan eksternal dan menurunkan kapasitas pemrosesan sinyal sensorik yang relevan dari lingkungan luar. (Barkley, 2015)
Keterlambatan Maturasi Kortikal
Oleh karena terjadi defisiensi neurotransmiter kronis, anak mengalami keterlambatan maturasi struktural otak, terutama berupa penipisan volume korteks prefrontal, girus singuli anterior, dan basal ganglia. Area-area ini bertanggung jawab penuh atas fungsi eksekutif, yang meliputi memori kerja fungsional, regulasi emosi diri, dan internalisasi bahasa. Gangguan sirkuit frontostriatal-talamis ini mengacaukan kemampuan otak untuk menekan respons motorik impulsif terhadap stimulus lingkungan yang tidak penting. (Faraone et al., 2021)
Manifestasi Kegagalan Inhibisi Perilaku
Akibatnya, disintegrasi fungsi kontrol inhibisi memicu kegagalan anak dalam menunda respons motorik langsung, sehingga anak tampak sangat hiperaktif dan impulsif. Ketidakmampuan mempertahankan memori kerja membuat anak mudah teralih perhatiannya oleh rangsangan visual maupun akustik terkecil di sekitarnya. Penurunan aktivitas pada sistem penghargaan otak menyebabkan anak selalu mencari stimulasi instan secara konstan, yang bermanifestasi klinis sebagai ketidaksuburan fokus internal dan kegagalan fungsi adaptif harian. (Thapar & Cooper, 2016)
Pathway KDM
Faktor Genetik / Paparan Toksin Prenatal / Keterlambatan Maturasi Kortikal │ ├──► Defisiensi dopamin & norepinefrin di celah sinaps korteks prefrontal │ ├──► Disfungsi Sirkuit Frontostriatal (Gagal kontrol inhibisi perilaku) │ ├──► Hambatan Memori Kerja Fungsional ──► Mudah teralih stimulasi luar ──► Gangguan Memori │ │ │ └──► Kegagalan mempertahankan fokus tugas ──► Koping Tidak Efektif │ ├──► Disregulasi Atensi Sosial ──► Ketidakmampuan membaca isyarat sosial ──► Gangguan Interaksi Sosial │ └──► Hiperaktivitas Motorik Ekstrem ──► Perilaku motorik impulsif/Tanpa kendali │ ├──► Aktivitas motorik berbahaya tanpa disadari ──► Risiko Cedera │ └──► Kegagalan mematuhi instruksi perawatan diri ──► Defisit Perawatan Diri
(Soetjiningsih, 2018)
4. Manifestasi Klinis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
a. Data Subjektif
- Orang tua mengeluhkan anak tidak pernah mampu menyelesaikan tugas sekolah atau instruksi rumah karena perhatiannya selalu teralih.
- Guru melaporkan anak sering memotong pembicaraan orang lain di kelas dan menjawab pertanyaan sebelum instruksi selesai diberikan.
- Keluarga menyatakan anak sering kehilangan barang-barang pribadi seperti pensil, buku, atau mainan akibat kecerobohan ekstrem.
- Orang tua mengeluhkan anak tidak bisa duduk diam saat makan dan selalu gelisah seolah-olah digerakkan oleh mesin penggerak internal.
- Pengasuh melaporkan anak sering menolak atau menghindari tugas yang membutuhkan usaha mental berkesinambungan seperti membaca buku pelajaran. (IDAI, 2022)
b. Data Objektif
- Anak tampak terus-menerus menggerakkan tangan atau kaki, serta menggeliat pada tempat duduk selama proses wawancara klinis berlangsung.
- Anak menunjukkan perilaku impulsif berupa berlarian, memanjat lemari secara sembarangan, dan melompat pada tempat yang tidak semestinya.
- Anak gagal mempertahankan kontak mata fungsional dan pandangannya terus beralih ke objek-objek kecil pada sekitar ruangan pemeriksaan.
- Hasil pemeriksaan menggunakan skala Conners’ Rating Scales menunjukkan skor konfirmasi diagnosis yang signifikan pada ambang batas.
- Anak tampak kesulitan menunggu giliran dalam aktivitas bermain kelompok kecil dan sering mengganggu aktivitas anak-anak lain pada sekitarnya. (Kemenkes RI, 2023)
5. Pemeriksaan Penunjang pada Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
a. Pemeriksaan Laboratorium
Langkah awal evaluasi laboratorium melibatkan skrining kadar timbal dalam darah untuk menyingkirkan kemungkinan ensefalopati plumbum yang meniru gejala inatensi. Selanjutnya, mengerjakan pemeriksaan profil fungsi tiroid komprehensif (T3, T4, TSH) guna menyingkirkan kondisi hipertiroidisme yang sering memicu hiperaktivitas fisik dan kecemasan psikologis. Melakukan pemeriksaan kadar zat besi plasma (feritin) karena defisiensi zat besi kronis dapat memperburuk disfungsi dopaminergik pusat, diikuti pemeriksaan profil metabolik lengkap serta kadar vitamin D darah. (IDAI, 2022)
b. Pemeriksaan Radiologi
Sementara itu, dapat melakukan pemeriksaan radiologi berupa Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak struktural beresolusi tinggi jika anak menunjukkan tanda-tanda neurologis fokal yang mencurigakan. MRI dapat menyingkirkan kemungkinan adanya tumor otak pada lobus frontalis, hidrosefalus tekanan normal, atau lesi substansia alba akibat trauma kepala masa lalu. Pemeriksaan canggih seperti Single-Photon Emission Computed Tomography (SPECT) dapat memperlihatkan area hipoperfusi darah fungsional di wilayah korteks prefrontal selama anak melakukan tugas kognitif. (Thapar & Cooper, 2016)
c. Pemeriksaan Lain
Akhirnya, melakukan pengujian elektroensefalografi (EEG) kuantitatif (Quantitative EEG / qEEG) untuk mengukur rasio gelombang theta/beta pada korteks frontal, yang sering kali meningkat secara abnormal pada anak. Wajib mengerjakan evaluasi psikometrik menggunakan Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC-V) guna memetakan kapasitas intelektual global dan mengidentifikasi adanya gangguan belajar spesifik (learning disabilities). Penegakan diagnosis klinis tetap mengacu secara ketat pada hasil wawancara terstruktur menggunakan instrumen Vanderbilt Diagnostic Rating Scale. (APA, 2022)
6. Penatalaksanaan Medis pada Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
a. Terapi Farmakologis
Secara medis, intervensi psikofarmaka lini pertama bertumpu pada pemberian obat golongan stimulan sistem saraf pusat guna meningkatkan kadar neurotransmiter pada celah sinaps. Pemberian metilfenidat (baik sediaan lepas cepat maupun lepas lambat/Extended Release) bekerja efektif memblokir transporter dopamin dan norepinefrin, sehingga meningkatkan fungsi kontrol inhibisi kortikal anak. Sebagai alternatif non-stimulan, dapat memberikan obat atomoxetine (selective norepinephrine reuptake inhibitor) jika anak menunjukkan efek samping kecemasan berat atau tics akibat stimulan. Mengevaluasi erapi farmakologis secara berkala setiap bulan untuk memantau efek samping nafsu makan menurun dan insomnia. (WHO, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Sementara itu, pilar utama penatalaksanaan non-farmakologis berpusat pada terapi modifikasi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy / CBT) dan pelatihan keterampilan sosial. Menerapkan terapi perilaku menggunakan metode Token Economy secara konsisten di rumah dan sekolah untuk memberikan penguatan positif langsung terhadap perilaku target yang adaptif. Pelatihan manajemen orang tua (Parent Management Training) mengajarkan pengasuh cara menyusun jadwal harian yang sangat terstruktur, memberikan instruksi singkat yang jelas, dan menerapkan konsekuensi logis non-fisik terhadap perilaku impulsif anak. Menambahkan pula terapi okupasi untuk melatih integrasi sensorik dan koordinasi motorik halus. (Barkley, 2015)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Pengkajian identitas mencakup pencatatan data demografi anak, tanggal lahir, jenis kelamin, dan penentuan usia perkembangan fungsional untuk mengidentifikasi tingkat deviasi perilaku dari standar normatif seusianya. Perawat mengkaji data identitas orang tua termasuk pola asuh yang diterapkan, riwayat gangguan psikologis dalam keluarga, tingkat pendidikan, pekerjaan, serta ketersediaan waktu pengasuhan efektif di rumah. (Wiguna, 2021)
b. Riwayat Kesehatan
Selanjutnya, perawat melakukan eksplorasi riwayat kesehatan anak secara mendalam melalui teknik anamnesis terstruktur kepada orang tua dan guru:
- Riwayat Penyakit Sekarang: Durasi dan intensitas perilaku inatensi di sekolah, kecenderungan bertindak impulsif berbahaya, ketidakmampuan mengikuti instruksi tugas, dan riwayat cedera fisik berulang akibat kecerobohan.
- Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat kejang demam kompleks, adanya trauma kepala masa lalu yang mengenai area frontal, riwayat gangguan tidur menetap sejak bayi, atau masalah intoleransi makanan terhadap zat aditif.
- Riwayat Prenatal dan Natal: Kebiasaan merokok atau konsumsi obat-obatan tertentu oleh ibu selama masa kehamilan, riwayat gawat janin intrauterin, serta adanya riwayat asfiksia neonatorum berat saat proses persalinan.
- Riwayat Tumbuh Kembang: Usia pencapaian kemampuan motorik kasar dan halus, onset munculnya perilaku hiperaktivitas ekstrem, evaluasi riwayat performa akademik sekolah, dan riwayat penolakan sosial oleh teman sebaya. (Soetjiningsih, 2018)
c. Pemeriksaan Fisik
Kemudian, perawat melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensif menggunakan teknik pengkajian klinis head-to-toe dengan fokus utama pada sistem persarafan pusat dan fungsional koordinasi motorik:
- Sistem Persarafan dan Motorik (Fokus): Inspeksi: Amati tingkat kegelisahan motorik (anak terus meremas tangan, menggerakkan kaki, atau melompat dari meja periksa), perhatikan ketidakmampuan mempertahankan fokus pandangan mata, amati tanda-tanda tics motorik atau vokal. Palpasi: Evaluasi tonus otot seluruh ekstremitas (umumnya dalam batas normal, namun sering ditemukan ketidakmatangan koordinasi motorik halus). Perkusi: Refleks fisiologis (tendon patela dan bisep) dievaluasi dan berada dalam batas normal. Auskultasi: Tidak terdengar adanya bruit pada area kranial.
- Sistem Sensorik dan Penginderaan (Fokus): Inspeksi: Amati respons anak terhadap stimulasi visual dan auditori lingkungan (anak langsung menoleh ke arah suara sekecil apa pun dan perhatiannya langsung terpecah). Palpasi: Uji diskriminasi taktil ringan pada kulit, amati adanya respons hipersensitivitas atau kecenderungan mencari stimulasi taktil berlebih (sensory seeking).
- Sistem Integumen (Fokus Komorbid): Inspeksi: Amati adanya luka memar, abrasi kulit, atau jaringan parut pada area ekstremitas dan dahi yang timbul akibat perilaku motorik impulsif, ceroboh, atau riwayat sering terjatuh. Palpasi: Turgor kulit elastis, suhu akral hangat, tidak ada edema.
- Sistem Kepala dan Leher: Inspeksi: Ukur lingkar kepala anak secara akurat untuk memantau pertumbuhan volume otak, perhatikan adanya asimetri wajah atau tanda trauma minor pada kulit kepala akibat perilaku tidak terkendali. Palpasi: Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tiroid atau limfadenopati.
- Sistem Pernapasan: Inspeksi: Frekuensi napas dalam batas normal sesuai usia, tidak ada retraksi otot bantu napas, gerakan dinding dada simetris. Palpasi: Taktil fremitus teraba sama kuat di kedua lapang paru. Perkusi: Sonor pada seluruh lapang paru. Auskultasi: Suara napas vesikuler jernih, tidak terdengar ronkhi maupun wheezing.
- Sistem Kardiovaskular: Inspeksi: Iktus cordis tidak terlihat pada dinding dada. Palpasi: Denyut nadi perifer teraba kuat, reguler, frekuensi dapat sedikit meningkat jika anak sedang dalam kondisi hiperaktif fisik ekstrem. Perkusi: Batas-batas jantung dalam rentang normal. Auskultasi: Bunyi jantung I dan II teramat reguler, tidak ditemukan murmur organo-fungsional.
- Sistem Pencernaan: Inspeksi: Abdomen tampak datar, tidak ada distensi, tidak ada tanda-tanda herniasi. Auskultasi: Peristaltik usus normal dalam rentang 10-15 kali per menit. Palpasi: Abdomen supel, tidak teraba adanya hepatomegali atau splenomegali, tidak ada nyeri tekan. Perkusi: Timpani pada seluruh kuadran abdomen.
- Sistem Perkemihan: Inspeksi: Kebersihan area genetalia luar, amati adanya tanda-tanda enuresis sekunder (mengompol) yang sering menjadi komorbiditas perilaku pada anak. Palpasi: Kandung kemih teraba kosong, tidak ada distensi suprapubik. (Soetjiningsih, 2018; Judarwanto, 2020)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Berikutnya, perawat memetakan pola fungsi kesehatan fungsional secara komprehensif. Pola nutrisi-metabolik mengevaluasi asupan nutrisi harian yang sering terganggu akibat efek samping penurunan nafsu makan dari obat stimulan atau kebiasaan makan yang terburu-buru. Pola eliminasi mengkaji adanya masalah enuresis atau enkoperesis fungsional yang dipicu oleh keengganan anak menunda aktivitas bermainnya untuk ke toilet. Pola tidur-istirahat menunjukkan masalah insomnia inisiasi berat akibat hiperaktivitas sirkuit saraf pusat pada malam hari. Pola kognitif-perseptual menilai hambatan memori kerja jangka pendek dan ketidakmampuan memproses instruksi verbal kompleks. Pola koping keluarga mengidentifikasi adanya kelelahan psikologis ekstrem (caregiver burden) pada orang tua dalam menghadapi perilaku destruktif anak. (Wiguna, 2021)
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas Diagnosis Satu Sampai Lima
- Gangguan Memori (D.0062) berhubungan dengan keterlambatan maturasi kortikal, disfungsi sirkuit frontostriatal otak
- Koping Tidak Efektif (D.0096) berhubungan dengan ketidakadekuatan strategi kontrol inhibisi perilaku, tingkat agitasi tinggi
- Gangguan Interaksi Sosial (D.0118) berhubungan dengan perilaku impulsif, ketidakmampuan membaca isyarat sosial lingkungan
- Risiko Cedera (D.0136) ditandai dengan hiperaktivitas motorik ekstrem, kegagalan memprediksi bahaya lingkungan
- Defisit Perawatan Diri (Mandi, Makan, Berpakaian) (D.0109) berhubungan dengan gangguan fungsi kognitif, inatensi tugas
Prioritas Diagnosis Enam Sampai Sepuluh
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) berhubungan dengan hiperaktivitas sistem saraf pusat, hambatan inisiasi tidur malam
- Risiko Defisit Nutrisi (D.0032) ditandai dengan penurunan nafsu makan sekunder akibat efek samping obat stimulan
- Ansietas Orang Tua (D.0080) berhubungan dengan krisis situasional, kekhawatiran terhadap performa akademik anak
- Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0093) berhubungan dengan beban perawatan kronis, paparan perilaku destruktif anak
- Defisit Pengetahuan Orang Tua tentang Manajemen Perilaku (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi
(PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Intervensi Diagnosis 1 dan 2
SDKI: Gangguan Memori (D.0062)
Luaran SLKI: Memori Meningkat (L.09079). Kriteria Hasil: Kemampuan mengingat instruksi pendek meningkat, perilaku menyelesaikan tugas membaik, tingkat kecerobohan menurun. Intervensi SIKI: Latihan Memori (I.06188). Observasi: Identifikasi tingkat gangguan memori kerja anak dan durasi bertahap bertahannya atensi internal. Terapeutik: Sediakan lingkungan belajar yang tenang dan bebas dari gangguan stimulus visual-auditori; Berikan instruksi verbal secara bertahap (satu per satu instruksi) menggunakan kalimat pendek yang jelas; Gunakan alat bantu pengingat visual berupa papan jadwal harian bergambar berwarna cerah. Edukasi: Ajarkan anak mengulang kembali instruksi sederhana yang telah didengarnya sebelum memulai aktivitas tugas. Kolaborasi: Rujuk anak ke psikolog untuk pelatihan fungsi eksekutif otak menggunakan program cognitive remediation.
SDKI: Koping Tidak Efektif (D.0175)
Luaran SLKI: Koping Membaik (L.09086). Kriteria Hasil: Perilaku impulsif menurun, kemampuan menunda respons motorik meningkat, ketegangan berkurang. Intervensi SIKI: Modifikasi Perilaku (I.12463). Observasi: Identifikasi situasi spesifik yang memicu munculnya perilaku hiperaktif dan impulsif ekstrem pada anak. Terapeutik: Terapkan metode penguatan positif Token Economy (berikan bintang/poin untuk setiap perilaku diam adaptif); Fasilitasi anak menyalurkan energi motorik berlebih melalui aktivitas fisik terstruktur sebelum memulai sesi belajar; Segera berikan konsekuensi logis non-fisik yang konsisten saat anak melanggar aturan batas perilaku. Edukasi: Anjurkan orang tua menerapkan aturan disiplin positif yang konsisten dan terstruktur di lingkungan rumah. Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter dalam pemantauan efektivitas serta penyesuaian dosis obat stimulan metilfenidat.
Rencana Intervensi Diagnosis 3 dan 4
SDKI: Gangguan Interaksi Sosial (D.0073)
Luaran SLKI: Interaksi Sosial Meningkat (L.13115). Kriteria Hasil: Perilaku mengganggu orang lain menurun, kemampuan menunggu giliran meningkat, kerja sama membaik. Intervensi SIKI: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484). Observasi: Monitor kemampuan interaksi anak dalam kelompok bermain kecil, catat frekuensi perilaku memotong pembicaraan. Terapeutik: Berikan contoh visual peran interaksi sosial yang tepat melalui teknik role-play bersama perawat; Fasilitasi anak bergabung dalam aktivitas kelompok terstruktur dengan aturan bermain yang ketat; Berikan pujian verbal instan saat anak berhasil menunggu gilirannya bermain. Edukasi: Ajarkan anak kalimat transisi sederhana untuk meminta izin secara sopan sebelum bergabung dalam permainan teman. Kolaborasi: Rujuk ke pusat layanan terapi okupasi dan kelompok sosial anak untuk optimalisasi sirkuit atensi interaktif.
SDKI: Risiko Cedera (D.0136)
Luaran SLKI: Tingkat Cedera Menurun (L.14136). Kriteria Hasil: Perilaku motorik berbahaya menurun, angka kejadian terjatuh atau cedera fisik hilang dari laporan harian. Intervensi SIKI: Pencegahan Cedera (I.14537). Observasi: Identifikasi area fisik lingkungan rumah atau sekolah yang berpotensi tinggi memicu cedera akibat perilaku impulsif anak. Terapeutik: Modifikasi lingkungan dengan menyingkirkan benda-benda tajam, rapuh, atau perabot tinggi yang bisa dipanjat sembarangan; Pastikan pengawasan fisik melekat secara ketat selama anak beraktivitas di luar ruangan. Edukasi: Informasikan pengasuh pentingnya memasang pengaman sudut meja dan jendela pelindung di kamar anak. Kolaborasi: Diskusikan bersama guru di kelas untuk penataan posisi meja terdekat dari jangkauan monitor guru.
Rencana Intervensi Diagnosis 5 dan 6
SDKI: Defisit Perawatan Diri (D.0108)
Luaran SLKI: Perawatan Diri Meningkat (L.11103). Kriteria Hasil: Kemampuan mandi secara mandiri meningkat, kerapian berpakaian membaik, pemenuhan makan teratur. Intervensi SIKI: Dukungan Perawatan Diri (I.11348). Observasi: Monitor tingkat kemandirian fungsional anak dalam merawat diri dan area hambatan fokusnya. Terapeutik: Susun urutan langkah mandi atau berpakaian dalam bentuk poster gambar langkah demi langkah di dinding kamar mandi; Sediakan pakaian elastis tanpa kancing rumit untuk memudahkan proses belajar mandiri. Edukasi: Anjurkan keluarga memberikan bantuan minimal berupa bimbingan verbal terarah tanpa mengambil alih tugas perawatan diri anak. Kolaborasi: Kolaborasi bersama terapis okupasi untuk melatih kapasitas fungsional motorik halus pendukung kemandirian.
SDKI: Gangguan Pola Tidur (D.0055)
Luaran SLKI: Pola Tidur Membaik (L.05045). Kriteria Hasil: Waktu mulai tidur malam membaik, frekuensi terbangun menurun, tingkat kebugaran siang hari meningkat. Intervensi SIKI: Dukungan Tidur (I.05174). Observasi: Catat pola waktu tidur anak, durasi total, dan identifikasi faktor lingkungan kamar yang mengganggu. Terapeutik: Atur pencahayaan kamar tidur menjadi redup terarah, minimalkan suara bising, dan pertahankan suhu ruangan sejuk; Larang penggunaan gawai visual atau aktivitas fisik berat minimal 2 jam sebelum waktu tidur malam dimulai. Edukasi: Ajarkan orang tua menerapkan ritual sebelum tidur yang menenangkan (seperti mendengarkan cerita tenang atau teknik relaksasi). Kolaborasi: Hubungi dokter jika insomnia menetap untuk peninjauan waktu paruh zat aktif stimulan.
Rencana Intervensi Diagnosis 7 dan 8
SDKI: Risiko Defisit Nutrisi (D.0032)
Luaran SLKI: Status Nutrisi Membaik (L.03030). Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan stabil sesuai kurva pertumbuhan standar. Intervensi SIKI: Manajemen Nutrisi (I.03119). Observasi: Monitor asupan kalori harian dan timbang berat badan anak secara berkala seminggu sekali; Amati waktu penurunan nafsu makan terbesar. Terapeutik: Berikan makanan dalam porsi kecil namun padat gizi bernutrisi tinggi dengan frekuensi lebih sering (terutama pagi hari sebelum obat bekerja); Sediakan lingkungan makan yang tenang tanpa gangguan visual televisi atau mainan. Edukasi: Ajarkan keluarga menyusun variasi menu makanan menarik yang kaya protein esensial. Kolaborasi: Rujuk ke ahli gizi klinik jika berat badan menunjukkan tren penurunan lebih dari 5 persen dalam sebulan.
SDKI: Ansietas Orang Tua (D.0080)
Luaran SLKI: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093). Kriteria Hasil: Verbalisasi kekhawatiran masa depan menurun, ekspresi tegang berkurang, fungsi peran pengasuhan membaik. Intervensi SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314). Observasi: Identifikasi tingkat kecemasan psikologis orang tua terkait performa akademik dan perilaku sosial anak di sekolah. Terapeutik: Ciptakan hubungan terapeutik yang empati, dengarkan seluruh keluhan keluarga tanpa menghakimi; Berikan informasi medis mengenai diagnosis secara jujur, realistis, dan objektif. Edukasi: Ajarkan orang tua teknik manajemen stres harian seperti relaksasi otot progresif. Kolaborasi: Hubungkan dengan kelompok pendukung sesama pengasuh anak berkebutuhan khusus untuk berbagi strategi koping fungsional.
Rencana Intervensi Diagnosis 9 dan 10
SDKI: Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0093)
Luaran SLKI: Koping Keluarga Membaik (L.09088). Kriteria Hasil: Hubungan harmonis antar anggota keluarga meningkat, dukungan pengasuhan menguat, kekerasan verbal nihil. Intervensi SIKI: Promosi Koping Keluarga (I.09312). Observasi: Monitor adanya tanda-tanda kelelahan fisik-mental (burnout) atau penolakan emosional dari pengasuh utama anak. Terapeutik: Fasilitasi diskusi keluarga untuk membagi tugas pengasuhan anak secara adil di antara anggota keluarga; Bantu keluarga mengidentifikasi sistem pendukung sosial komunitas yang tersedia. Edukasi: Anjurkan orang tua menyisihkan waktu luang pribadi (me-time) secara bergantian guna memulihkan stabilitas emosional. Kolaborasi: Rujuk ke konselor keluarga jika konflik internal akibat beban pengasuhan mengganggu fungsi sistem rumah tangga.
SDKI: Defisit Pengetahuan Orang Tua (D.0111)
Luaran SLKI: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111). Kriteria Hasil: Kemampuan menjelaskan prinsip modifikasi perilaku meningkat, kesalahan tindakan pengkondisian menurun. Intervensi SIKI: Edukasi Orang Tua: Fase Anak (I.12419). Observasi: Identifikasi tingkat literasi, kesiapan psikologis, dan kesalahpahaman orang tua mengenai penanganan anak hiperaktif. Terapeutik: Sediakan materi edukasi tertulis berupa panduan buku saku bergambar mengenai cara mereduksi impulsivitas anak; Demonstrasikan langsung teknik pemberian instruksi efektif di depan orang tua. Edukasi: Jelaskan pentingnya menjaga konsistensi lingkungan rumah yang terstruktur demi keberhasilan terapi perilaku. Kolaborasi: Libatkan pihak sekolah dalam sinkronisasi pemberian materi edukasi tata laksana perilaku di kelas.
4. Implementasi
Pelaksanaan Tindakan Modifikasi Perilaku Anak
Secara operasional di lapangan, pelaksanaan tindakan keperawatan diwujudkan secara nyata berlandaskan rincian SIKI yang telah ditetapkan. Perawat memfasilitasi latihan memori dengan menata ruang belajar anak agar steril dari gangguan eksternal, membimbing anak fokus pada satu lembar tugas visual pendek, dan secara aktif melatih anak mengulang instruksi lisan perawat sebelum mengerjakannya. Selanjutnya, perawat mengimplementasikan teknik modifikasi perilaku melalui penerapan papan Token Economy, menempelkan stiker bintang sebagai penghargaan instan setiap kali anak berhasil duduk tenang selama 10 menit, serta melatih orang tua menerapkan teknik tersebut secara sinkron di rumah. (PPNI, 2019)
Pelaksanaan Tindakan Pencegahan Risiko Cedera Fisik
Di samping itu, perawat mengimplementasikan tindakan pencegahan cedera dengan melakukan inspeksi keselamatan ruang rawat, memandu orang tua menyingkirkan benda pecah belah dari jangkauan anak, dan mengedukasi guru di sekolah untuk menempatkan meja duduk anak di baris paling depan dekat guru demi pengawasan melekat. Perawat mengoordinasikan pemberian asupan nutrisi padat gizi pada jam-jam di mana efek samping penekanan nafsu makan dari obat metilfenidat sudah menurun (seperti larat malam atau pagi buta). Seluruh respons motorik anak, pencapaian target atensi, jumlah token yang diperoleh, serta tingkat kepatuhan keluarga didokumentasikan secara legal dalam rekam keperawatan. (PPNI, 2019)
5. Evaluasi
Analisis Capaian Berdasarkan SOAP
Pada tahap akhir proses asuhan, perawat melaksanakan evaluasi komprehensif menggunakan format pencatatan terstruktur SOAP untuk mengukur tingkat keberhasilan intervensi terhadap sepuluh diagnosis keperawatan. Komponen subjektif merangkum laporan tertulis dari guru kelas yang menyatakan anak sudah mulai bisa duduk diam di kursi selama 15 menit dan tidak lagi memotong pembicaraan teman secara agresif. Komponen objektif memuat hasil observasi langsung perawat yang menunjukkan anak mampu menyelesaikan tugas menyusun balok gambar sesuai instruksi tunggal tanpa teralih, serta berat badan anak stabil pada kurva pertumbuhan normal. (PPNI, 2019)
Pengambilan Keputusan Klinis Lanjutan
Oleh karena itu, perawat merumuskan keputusan klinis strategis mengenai kelanjutan rencana asuhan keperawatan anak. Jika evaluasi data membuktikan bahwa kapasitas memori kerja anak meningkat dan perilaku impulsif motorik menurun mencapai kriteria luaran SLKI, intervensi keperawatan dipertahankan dengan menaikkan target durasi atensi internal secara bertahap. Sebaliknya, apabila hiperaktivitas motorik anak tetap ekstrem hingga memicu cedera berulang atau orang tua mengalami gangguan koping akibat kelelahan kronis, rencana keperawatan langsung dimodifikasi dengan merestrukturisasi program modifikasi perilaku dan mengintensifkan kolaborasi medis psikofarmaka lanjutan. (PPNI, 2019)
Rumus Penghitungan Dosis Metilfenidat Anak (Dapat Disalin Langsung ke Word)
Dosis Awal Harian Metilfenidat = 0.3 mg * Berat Badan Anak dalam Kilogram
Ketentuan Batas Evaluasi Klinis Dosis:
- Rentang Dosis Terapi Efektif: Dosis harian total dapat ditingkatkan secara bertahap berkala sebanyak 5 hingga 10 mg per minggu sampai mencapai dosis terapeutik optimal yang berada pada rentang 0.3 hingga 1.0 mg/kg/hari.
- Dosis Maksimal Harian Aman: Total akumulasi dosis yang diberikan kepada anak tidak boleh melebihi batas maksimal yakni 60 mg per hari untuk sediaan lepas cepat, guna menghindari risiko toksisitas kardiovaskular saraf.
- Jam Pemberian Obat Terakhir: Pemberian dosis obat terakhir dalam sehari wajib dijadwalkan paling lambat sebelum jam 16.00 sore untuk meminimalkan terjadinya risiko efek samping insomnia inisiasi berat pada malam hari.
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington: APA.
Barkley, R. A. (2015). Attention-Deficit Hyperactivity Disorder: A Handbook for Diagnosis and Treatment (Edisi 4). New York: The Guilford Press.
Bener, A., et al. (2018). Genetic and Nutritional Risk Factors for Attention Deficit Hyperactivity Disorder in Consanguineous Populations. Journal of Neurodevelopmental Disorders. jneurodevdisorders.biomedcentral.com/articles/10.1186/s11689-018-9231-1
Faraone, S. V., et al. (2021). The World Federation of ADHD International Consensus Statement: 208 Evidence-Based Conclusions about the Disorder. Neuroscience & Biobehavioral Reviews. sciencedirect.com/science/article/pii/S014976342100049X
Giri, M., et al. (2019). Clinical Profile and Assessment of Attention Deficit Hyperactivity Disorder in South Asian Children. Asian Journal of Psychiatry. sciencedirect.com/journal/asian-journal-of-psychiatry/vol/45/suppl/C
Hock, R. M., et al. (2023). Digital Screen Time, Executive Functioning, and ADHD Symptomatology in Urban Southeast Asian Children. International Journal of Mental Health and Addiction. link.springer.com/article/10.1007/s11469-023-01042-y
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2022). Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada Anak. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Judarwanto, W. (2020). Disfungsi Neurotransmiter Pusat dan Hubungannya dengan Imunologi Gastrointestinal pada GPPH. Jakarta: Picky Eater Clinic Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas. Jakarta: Kemenkes RI.
Park, S., et al. (2020). Cortical Maturation Delay, Monoaminergic Neurotransmission, and Academic Performance in East Asian Children with ADHD. Progress in Neuro-Psychopharmacology and Biological Psychiatry. sciencedirect.com/science/article/pii/S027858462030114X
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.
Soetjiningsih. (2018). Tumbuh Kembang Anak dan Remaja (Edisi 2). Jakarta: EGC.
Thapar, A., & Cooper, M. (2016). Attention Deficit Hyperactivity Disorder: A Review of Genetics, Pathophysiology, and Clinical Manifestations. The Lancet. thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(15)00238-X/fulltext
Wiguna, T. (2021). Neurobiologi Fungsi Eksekutif dan Kontrol Inhibisi pada Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Zhang, L., et al. (2022). Visual-Spatial Inattention, Academic Pressure, and Family Environment Factors in Chinese Children with ADHD. Frontiers in Psychiatry. frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyt.2022.845112/full

Tinggalkan Balasan