KONSEP MEDIS GANGGUAN CITRA TUBUH

Gangguan citra tubuh merupakan perubahan persepsi tentang penampilan, struktur, dan fungsi fisik akibat trauma, penyakit, atau tindakan medis tertentu. (PPNI, 2017)

A. Konsep Medis Gangguan Citra Tubuh

1. Definisi Komprehensif Gangguan citra tubuh

Definisi Dari Pakar Internasional

NANDA International (2021) merumuskan kondisi ini sebagai konfusi mental dalam memandang gambaran fisik diri sendiri akibat adanya perubahan struktur, fungsi, atau bentuk tubuh secara nyata maupun imajiner. (NANDA, 2021)

Selanjutnya, Cash (2012) menjelaskan istilah ini sebagai ketidakpuasan mendalam terhadap ukuran, bentuk, dan estetika tubuh yang bersumber dari distorsi penilaian kognitif serta afektif individu. (Cash, 2012)

Selain itu, Smeltzer & Bare (2018) menegaskan bahwa fenomena ini bermanifestasi ketika pasien gagal mengintegrasikan modifikasi struktural akibat amputasi atau pembedahan ke dalam konsep diri mereka secara utuh. (Smeltzer & Bare, 2018)

Sementara itu, Thompson (2015) mengartikan konsep ini sebagai gangguan multidimensional yang mencakup persepsi melenceng terhadap ukuran tubuh serta emosi negatif yang menyertainya. (Thompson, 2015)

Kemudian, Grogan (2016) mendefinisikan masalah ini sebagai evaluasi subjektif negatif terhadap tubuh sendiri yang memicu penarikan diri dari interaksi sosial secara signifikan. (Grogan, 2016)

Definisi Pakar Asia

Kim (2019) dari Korea mendefinisikan gangguan ini sebagai krisis identitas fisik akibat tuntutan budaya ekstrem yang memaksa individu membenci cacat tubuh bawaan atau akibat trauma. (Kim, 2019)

Oleh karena itu, Takahashi (2020) dari Jepang merumuskan kondisi tersebut sebagai bentuk kecemasan eksistensial terhadap disintegrasi fisik pasca-mastektomi yang menghambat pemulihan psikologis. (Takahashi, 2020)

Sebaliknya, Chen (2018) dari Taiwan mengidentifikasi masalah ini sebagai ketidakselarasan antara citra tubuh ideal bentukan sosial dengan realitas fisik baru setelah menjalani kemoterapi alopesia. (Chen, 2018)

Dengan demikian, Sharma (2021) dari India mengartikan gangguan ini sebagai penolakan psikologis terhadap perubahan pigmentasi atau deformitas kulit yang merusak status sosial individu. (Sharma, 2021)

Sama halnya dengan Ahmad (2017) dari Malaysia yang mendeskripsikan fenomena ini sebagai ketidakmampuan beradaptasi dengan keterbatasan fungsi motorik baru pasca-stroke yang meruntuhkan harga diri. (Ahmad, 2017)

Definisi Pakar Indonesia

PPNI (2017) menetapkan diagnosis ini dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) sebagai perubahan persepsi tentang fungsi atau struktur tubuh individu. (PPNI, 2017)

Oleh sebab itu, Sunaryo (2014) mendeskripsikan kondisi ini sebagai respons maladaptif emosional terhadap hilangnya bagian tubuh yang mengubah konsep diri secara drastis. (Sunaryo, 2014)

Lalu, Keliat (2019) menggarisbawahi keadaan ini sebagai perasaan negatif pasien terhadap bentuk, ukuran, dan fungsi tubuh yang bermanifestasi melalui perilaku isolasi sosial. (Keliat, 2019)

Meskipun demikian, Yusuf (2015) memandang masalah tersebut sebagai kegagalan mekanisme koping dalam menerima perubahan kosmetik akibat luka bakar atau tindakan operatif besar. (Yusuf, 2015)

Akhirnya, Muhith (2015) mengartikan fenomena ini sebagai gangguan psikologis berupa penolakan nyata terhadap kondisi fisik terkini yang menghambat efikasi diri pasien. (Muhith, 2015)

2. Etiologi Masalah Gangguan citra tubuh

Faktor-faktor yang memicu munculnya gangguan persepsi fisik meliputi perubahan struktur atau bentuk nyata akibat amputasi, operasi radikal, luka bakar, atau trauma wajah. (Smeltzer & Bare, 2018)

Akibatnya, terjadi pula perubahan fungsi tubuh seperti stroke yang menyebabkan hemiparese, gagal ginjal kronis yang membutuhkan hemodialisis, atau kelumpuhan akibat cedera medula spinalis. (Keliat, 2019)

Selain itu, prosedur medis dan efek pengobatan seperti efek samping kemoterapi yang memicu alopesia, atau penggunaan kortikosteroid dosis tinggi turut memicu malafungsi kosmetika. (Chen, 2018)

Oleh karena faktor perkembangan, perubahan fisik masa remaja, obesitas morbid, atau proses penuaan yang drastis juga berkontribusi besar. (Cash, 2012)

Oleh sebab itu, faktor psikososial seperti stigma masyarakat, tuntutan standar kecantikan budaya, serta kurangnya sistem dukungan sosial memperparah kondisi pasien. (Grogan, 2016)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Mekanisme Fisiologis dan Psikologis

Stresor fisik memicu kerusakan integritas jaringan secara nyata. Secara fisiologis, input sensorik ke korteks serebri berubah, sehingga mengacaukan pemetaan homunkulus somatosensorik pada otak. Secara psikologis, kehilangan ini mengaktifkan respons berduka adaptif maupun maladaptif. Ketika koping individu tidak adekuat, maka terjadi distorsi kognitif yang memicu persepsi negatif terhadap tubuh, memunculkan ansietas, penolakan, dan isolasi sosial. (Thompson, 2015)

Skema Alur Penyimpangan KDM

Trauma / Penyakit Kronis / Prosedur Bedah (Mastektomi, Amputasi, Luka Bakar)

                    │

                    ▼

     Kerusakan Struktur & Fungsi Tubuh

                    │

                    ▼

   Perubahan Stimulus Sensorik ke Otak

                    │

                    ▼

   Ketidakmampuan Mengintegrasikan Perubahan 

           ke Dalam Konsep Diri

                    │

         ┌──────────┴──────────┐

         ▼                     ▼

   Respons Psikologis     Distorsi Kognitif terhadap

    (Berduka, Cemas)          Fisik Baru

         │                     │

         └──────────┬──────────┘

                    ▼

       [GANGGUAN CITRA TUBUH]

                    │

         ┌──────────┴──────────┐

         ▼                     ▼

Penolakan Melihat/     Menarik Diri dari

 Menyentuh Tubuh        Lingkungan Sosial

         │                     │

         ▼                     ▼

[Isolasi Sosial]       [Harga Diri Rendah Situasional]

4. Manifestasi Klinis Gangguan citra tubuh

a. Data Subjektif

Pasien mengungkapkan keputusasaan dan penolakan terhadap perubahan fisik yang terjadi pada dirinya. (PPNI, 2017)

Selain itu, pasien mengeluhkan perasaan tidak berdaya, malu, atau merasa tidak menarik lagi di hadapan orang lain. (Keliat, 2019)

Meskipun demikian, mereka sering menolak membicarakan atau mengakui adanya perubahan pada bagian tubuh tersebut. (NANDA, 2021)

Pada akhirnya, pasien menyatakan kekhawatiran mendalam terhadap reaksi orang lain atas kondisinya. (Cash, 2012)

b. Data Objektif

Pasien menolak melihat, menyentuh, atau merawat bagian tubuh yang mengalami perubahan atau kecacatan. (PPNI, 2017)

Kemudian, mereka menyembunyikan bagian tubuh secara sengaja menggunakan pakaian longgar atau penutup khusus. (Yusuf, 2015)

Oleh karena itu, fokus perhatian mereka menjadi berlebihan pada kehilangan atau perubahan bagian tubuh tersebut. (NANDA, 2021)

Alhasil, mereka menunjukkan perilaku menarik diri, kontak mata minim, atau menangis saat membahas kondisi fisik. (Muhith, 2015)

5. Pemeriksaan Penunjang

Evaluasi Laboratorium dan Radiologi

Pemeriksaan kadar albumin dan hemoglobin berguna untuk menilai status penyembuhan luka bakar atau pasca-bedah radikal. (Smeltzer & Bare, 2018)

Selanjutnya, melakukan pemeriksaan kadar hormonal seperti tiroid atau kortisol jika gangguan berkaitan dengan sindrom metabolik. (Sharma, 2021)

Sementara itu, dapat menggunakan foto X-Ray, CT-Scan, atau MRI untuk mengevaluasi tingkat kerusakan struktural pasca-trauma fisik. (Takahashi, 2020)

Evaluasi Psikometris

Menggunakan Body Image Avoidance Questionnaire (BIAQ) sebagai instrumen untuk mengukur tingkat penghindaran perilaku terhadap bentuk tubuh. (Cash, 2012)

Sementara itu, dapat pula menggunakan Body Shape Questionnaire (BSQ) sebagai skala untuk mengukur derajat distorsi kognitif dan ketidakpuasan fisik. (Thompson, 2015)

6. Penatalaksanaan Medis

Prosedur Farmakologis

Memberikan Antidepresan golongan SSRIs seperti Fluoxetine atau Sertraline jika gangguan disertai dengan depresi berat atau dismorfik tubuh ekstrem. (NANDA, 2021)

Sementara itu, menggunakan obat golongan ansiolitik seperti Alprazolam atau Lorazepam jangka pendek untuk meredakan ansietas akut terkait tindakan operasi. (Sharma, 2021)

Prosedur Non-Farmakologis

Menjalankan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk membantu menstrukturisasi pikiran negatif dan distorsi kognitif pasien terhadap bentuk fisik baru. (Cash, 2012)

Oleh karena itu, sangat menganjurkan tindakan bedah rekonstruksi atau pemasangan prostesis seperti implan payudara atau kaki palsu. (Smeltzer & Bare, 2018)

Dengan demikian, menekankan support group therapy guna menghubungkan pasien dengan sesama penyintas agar saling berbagi strategi koping adaptif. (Yusuf, 2015)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Parameter Identitas dan Riwayat

Pengkajian mencakup nama, usia (remaja lebih rentan), jenis kelamin, pekerjaan yang mengutamakan penampilan, serta status pernikahan pasien. (Sunaryo, 2014)

Keluhan utama berfokus pada perasaan malu, jijik, atau tidak menerima bagian tubuhnya yang telah berubah. (PPNI, 2017)

Oleh sebab itu, perawat harus menggali kronologi terjadinya perubahan fisik, baik akibat kecelakaan, vonis kanker, maupun luka bakar. (Yusuf, 2015)

Selanjutnya, perlu menanyakan secara mendalam riwayat gangguan psikiatri masa lalu atau riwayat operasi kosmetik sebelumnya. (Keliat, 2019)

Pada akhirnya, perlu mengevaluasi juga keberadaan anggota keluarga dengan riwayat gangguan konsep diri atau penyakit degeneratif fisik. (Muhith, 2015)

Fokus Pemeriksaan Fisik 1

Inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi sistem pernapasan dapat menunjukkan adanya takipnea jika terjadi ansietas psikologis akut. (Smeltzer & Bare, 2018)

Pada sistem kardiovaskular, dapat muncul takikardia dan peningkatan tekanan darah akibat respons stres emosional yang berat. (Sharma, 2021)

Sementara pada sistem pencernaan, amati adanya penurunan nafsu makan secara drastis atau konstipasi sekunder akibat depresi berkepanjangan. (Yusuf, 2015)

Fokus Pemeriksaan Fisik 2

Pada sistem muskuloskeletal yang menjadi fokus, lakukan inspeksi dan palpasi terhadap adanya keterbatasan gerak, atrofi, atau amputasi ekstremitas. (PPNI, 2017)

Pada sistem integumen yang juga menjadi fokus, lakukan inspeksi warna kulit, keberadaan jaringan parut, luka bakar, alopesia, serta respons nyeri tekan. (Smeltzer & Bare, 2018)

Pengkajian Fungsional 1

Pola persepsi kesehatan menunjukkan pandangan pasien terhadap kondisi tubuhnya saat ini yang dinilai cacat atau tidak sempurna lagi. (Keliat, 2019)

Pola nutrisi dan metabolik sering kali terganggu, ditandai dengan penurunan berat badan drastis akibat pasien menolak makan. (Cash, 2012)

Pola eliminasi berpotensi mengalami perubahan signifikan, terutama jika terdapat ketakutan atau gangguan akibat pemasangan stoma baru. (Smeltzer & Bare, 2018)

Pola aktivitas menunjukkan keengganan untuk bergerak atau mobilisasi karena merasa malu berinteraksi dengan orang sekitar. (Muhith, 2015)

Pola istirahat dan tidur sering terganggu oleh insomnia akibat memikirkan kecacatan atau perubahan bentuk fisik secara terus-menerus. (Yusuf, 2015)

Pengkajian Fungsional 2

Pola kognitif memperlihatkan adanya distorsi berpikir berupa keyakinan bahwa dirinya sudah tidak berharga lagi bagi lingkungan. (Thompson, 2015)

Pola persepsi diri mengonfirmasi adanya penurunan harga diri yang sangat ekstrem sekunder akibat perubahan gambaran diri. (PPNI, 2017)

Pola peran dan hubungan menunjukkan adanya gangguan interaksi sosial nyata, baik dengan pasangan, keluarga, maupun masyarakat luas. (Grogan, 2016)

Pola seksualitas sering terganggu, bermanifestasi sebagai penurunan libido akibat merasa tidak atraktif secara seksual pasca-bedah radikal. (Cash, 2012)

Pola koping menunjukkan penggunaan mekanisme pertahanan ego maladaptif seperti penyangkalan kronis terhadap realitas fisik. (Keliat, 2019)

Pola keyakinan sering kali terusik, di mana pasien mulai mempertanyakan keadilan Tuhan atas musibah fisik yang menimpanya. (Sunaryo, 2014)

2. Diagnosis Keperawatan

Prioritas Diagnosis 1-5

Prioritas Diagnosis 6-10

3. Perencanaan (Intervensi)

Intervensi Diagnosis 1-3

Gangguan Citra Tubuh (D.0083)

  • Luaran Utama: Citra Tubuh (L.09067) membaik.
  • Kriteria Hasil: Verbalisasi kecacatan bagian tubuh meningkat, verbalisasi perasaan negatif tentang perubahan tubuh menurun, perilaku melihat/menyentuh bagian tubuh membaik, verbalisasi kekhawatiran pada penolakan/reaksi orang lain menurun, menyembunyikan bagian tubuh berlebihan menurun.
  • Intervensi: Promosi Citra Tubuh (I.09305).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan, identifikasi perubahan citra tubuh yang mengakibatkan isolasi sosial, monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri.
  • Tindakan Terapeutik: Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya, diskusikan perbedaan penampilan fisik terhadap harga diri, diskusikan persepsi pasien dan keluarga tentang perubahan citra tubuh.
  • Tindakan Edukasi: Jelaskan kepada keluarga tentang perawatan perubahan tubuh, latih fungsi tubuh yang dimiliki, anjurkan menggunakan alat bantu (mis. protesa, kosmetik), latih strategi koping yang digunakan.

Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)

  • Luaran Utama: Harga Diri (L.09069) meningkat.
  • Kriteria Hasil: Penilaian diri positif meningkat, perasaan malu menurun, penerimaan keterbatasan diri meningkat, verbalisasi perasaan tidak berdaya menurun, membuat keputusan meningkat, berjalan menunduk menurun.
  • Intervensi: Promosi Harga Diri (I.09308).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan usia terhadap harga diri, monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri.
  • Tindakan Terapeutik: Motivasi terlibat dalam verbalisasi positif untuk diri sendiri, fasilitasi lingkungan yang mendukung peningkatan harga diri, diskusikan alasan mengkritik diri atau rasa bersalah, pertahankan kontak mata saat berkomunikasi.
  • Tindakan Edukasi: Latih peningkatan tanggung jawab diri, latih cara berpikir positif terhadap diri sendiri, anjurkan mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki, latih kemampuan positif yang dapat dilakukan.

Isolasi Sosial (D.0121)

  • Luaran Utama: Keterlibatan Sosial (L.13116) meningkat.
  • Kriteria Hasil: Minat berinteraksi meningkat, perilaku menarik diri menurun, kontak mata meningkat, verbalisasi tujuan yang jelas meningkat, kepedulian terhadap orang lain meningkat.
  • Intervensi: Promosi Sosialisasi (I.13498).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi kemampuan berinteraksi dengan orang lain, monitor tanda dan gejala isolasi sosial.
  • Tindakan Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan, fasilitasi berbagi pengalaman dengan orang lain, berikan umpan balik positif pada setiap peningkatan interaksi, libatkan pasien dalam aktivitas kelompok kecil.
  • Tindakan Edukasi: Anjurkan berinteraksi di luar lingkungan rumah, latih keterampilan sosial, latih mengekspresikan marah atau sedih secara konstruktif, anjurkan meminta bantuan orang lain jika membutuhkan.

Intervensi Diagnosis 4-6

Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun.
  • Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, perilaku gelisah menurun, konsentrasi membaik, keluhan pusing menurun, pola tidur membaik, pucat menurun.
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
  • Tindakan Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, pahami situasi yang membuat ansietas, dengarkan dengan penuh perhatian, gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
  • Tindakan Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi, latih teknik relaksasi, jelaskan prosedur termasuk sensasi yang mungkin dialami, informasikan secara faktual mengenai diagnosis dan pengobatan.

Koping Tidak Efektif (D.0096)

  • Luaran Utama: Status Koping (L.09086) membaik.
  • Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, perilaku koping adaptif meningkat, verbalisasi kemampuan menyesuaikan diri membaik, perilaku asertif meningkat, tanggung jawab diri membaik.
  • Intervensi: Peningkatan Koping (I.09312).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi pemahaman proses penyakit dan dampak fisik, identifikasi metode penyelesaian masalah yang biasa digunakan.
  • Tindakan Terapeutik: Fasilitasi dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, berikan pilihan realistik mengenai aspek-aspek perawatan, diskusikan strategi koping alternatif, hargai pemahaman pasien terhadap kondisi medis.
  • Tindakan Edukasi: Anjurkan mengekspresikan perasaan secara verbal, latih strategi koping adaptif baru, anjurkan keluarga terlibat secara aktif, latih keterampilan penyelesaian masalah secara konstruktif.

Disfungsi Seksual (D.0069)

  • Luaran Utama: Fungsi Seksual (L.07055) membaik.
  • Kriteria Hasil: Kepuasan hubungan seksual meningkat, verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun, mencari informasi untuk adaptasi seksual membaik, eksitasi seksual meningkat.
  • Intervensi: Edukasi Seksualitas (I.12447).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi tingkat pengetahuan, persepsi, dan kecemasan terkait seksualitas, monitor kesiapan menerima informasi.
  • Tindakan Terapeutik: Sediakan lingkungan yang kondusif dan privat, fasilitasi diskusi mengenai hambatan seksual pasca-perubahan fisik.
  • Tindakan Edukasi: Jelaskan efek modifikasi fisik atau penyakit terhadap seksualitas, ajarkan alternatif metode ekspresi seksual adaptif, informasikan batasan aktivitas seksual yang aman selama masa pemulihan fisik.

Intervensi Diagnosis 7-10

Defisit Perawatan Diri (D.0109)

  • Luaran Utama: Perawatan Diri (L.11103) meningkat.
  • Kriteria Hasil: Kemampuan mandi meningkat, kemampuannya mengenakan pakaian meningkat, kemampuan mempertahankan kebersihan diri meningkat, minat melakukan perawatan diri meningkat.
  • Intervensi: Dukungan Perawatan Diri: Berhias (I.11349).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia, monitor kemampuan perawatan diri secara mandiri.
  • Tindakan Terapeutik: Sediakan peralatan berhias yang sesuai dan aman, fasilitasi kemandirian berhias, bantu jika tidak mampu, berikan penguatan positif atas upaya berhias.
  • Tindakan Edukasi: Ajarkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan, anjurkan menjaga kebersihan area modifikasi fisik secara mandiri.

Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)

  • Luaran Utama: Interaksi Sosial (L.13115) meningkat.
  • Kriteria Hasil: Perasaan nyaman dengan situasi sosial meningkat, responsif terhadap orang lain meningkat, kerja sama dalam interaksi membaik, minat berkomunikasi meningkat.
  • Intervensi: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi fokus pelatihan keterampilan sosial pasca-perubahan fisik, monitor hambatan dalam interaksi.
  • Tindakan Terapeutik: Berikan umpan balik positif pada kemampuan berinteraksi, fasilitasi bermain peran dalam latihan interaksi.
  • Tindakan Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan akibat hambatan interaksi, latih teknik asertif, latih mendengarkan aktif selama berkomunikasi.

Keputusasaan (D.0088)

  • Luaran Utama: Harapan (L.09068) meningkat.
  • Kriteria Hasil: Verbalisasi adanya harapan meningkat, ungkapan keputusasaan menurun, pola tidur membaik, keterlibatan dalam aktivitas perawatan meningkat.
  • Intervensi: Dukungan Kepercayaan/Keyakinan (I.09276).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi nilai-nilai hidup yang terganggu akibat kecacatan fisik, monitor adanya tanda-tansa keputusasaan ekstrem.
  • Tindakan Terapeutik: Fasilitasi mengidentifikasi harapan yang realistis, berikan dukungan spiritual yang dibutuhkan pasien.
  • Tindakan Edukasi: Anjurkan mempertahankan komunikasi interpersonal yang positif, latih restrukturisasi kognitif terhadap makna hidup baru.

Risiko Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)

  • Luaran Utama: Harga Diri (L.09069) meningkat.
  • Kriteria Hasil: Penerimaan keterbatasan diri meningkat, perasaan tidak berguna menurun, kepercayaan diri membaik, pasif menurun.
  • Intervensi: Manajemen Perilaku (I.12463).
  • Tindakan Observasi: Identifikasi ekspektasi perilaku yang realistis terhadap modifikasi fisik pasien, monitor kepatuhan pengobatan.
  • Tindakan Terapeutik: Cegah perilaku maladaptif yang merusak diri secara kronis, fasilitasi penguatan positif dari lingkungan terdekat.
  • Tindakan Edukasi: Informasikan keluarga sebagai support system utama untuk mencegah penurunan harga diri yang menetap.

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan disesuaikan secara holistik dengan rencana tindakan SIKI yang telah disusun sebelumnya. Tindakan ini mencakup pelaksanaan observasi kondisi fisik maupun psikologis pasien secara berkala, pemberian intervensi keperawatan mandiri, kolaborasi pemberian terapi psikofarmaka, serta pelaksanaan edukasi aktif kepada keluarga agar mampu memandirikan perawatan fisik pasien secara adaptif di lingkungan rumah. (PPNI, 2019)

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi dijalankan menggunakan format SOAP secara berkala mengacu pada indikator luaran SLKI yang mencakup penilaian subjektif, objektif, analisis masalah, serta perencanaan tindak lanjut keperawatan. Hasil akhir diharapkan menunjukkan tingkat adaptasi citra tubuh yang optimal, di mana pasien mampu menerima, mengintegrasikan, dan merawat kondisi fisiknya saat ini tanpa mengalami distorsi kognitif yang berat. (PPNI, 2018)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, N. (2017). Psikologi Kesehatan dan Konsep Diri. Kuala Lumpur: Perdana Publisher.

Cash, T. F. (2012). Cognitive-Behavioral Body-Image Therapy: A Clinical Manual. New York: Routledge.

Chen, L. (2018). Body image distress among Taiwanese cancer patients. J Asian Oncol Nurs, 12(3), 145-152. ejournal.asianonconursing.org/index.php/jaon/article/view/2018-03-145

Grogan, S. (2016). Body Image: Understanding Body Dissatisfaction in Men, Women, and Children (3rd ed.). London: Routledge.

Keliat, B. A. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Kim, M. (2019). Socio-cultural pressures and body image disturbance in South Korea. Asian J Soc Psychol, 22(4), 310-318. onlinelibrary.wiley.com/journal/1467839x

Muhith, A. (2015). Pendidikan Keperawatan Jiwa: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Andi Offset.

NANDA International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023 (12th ed.). Oxford: Thieme.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Sharma, R. (2021). Dermatological conditions and body image issues in South Asian populations. Indian J Psychiatry, 63(2), 112-119. indianjpsychiatry.org/article.asp?issn=0019-5545;year=2021;volume=63;issue=2

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2018). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing (14th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

Sunaryo. (2014). Psikologi untuk Keperawatan (Edisi 2). Jakarta: EGC.

Takahashi, Y. (2020). Post-mastectomy body image distortion in Japanese women. Jpn J Nurs Sci, 17(1), e12280. onlinelibrary.wiley.com/journal/17427924


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *