Konsep Medis Anoreksia Nervosa

Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan berat yang ditandai dengan pembatasan asupan energi, ketakutan intens terhadap kenaikan berat badan, dan gangguan citra tubuh yang parah. (American Psychiatric Association, 2013)

A. Konsep Medis Anoreksia Nervosa

1. Definisi Penyakit Anoreksia Nervosa

Definisi Dari Pakar Internasional

American Psychiatric Association (2013) mengartikan kelainan ini sebagai bentuk pembatasan asupan energi secara persisten, ketakutan ekstrem terhadap kenaikan berat badan, dan gangguan signifikan dalam memandang bentuk tubuh sendiri. (American Psychiatric Association, 2013)

Selanjutnya,World Health Organization (2019) dalam panduan ICD-11 menetapkan kondisi tersebut sebagai gangguan oleh pengejaran kelangsingan secara sengaja, penurunan berat badan yang signifikan, dan pemeliharaan distorsi citra tubuh. (World Health Organization, 2019)

Selain itu,Treasure et al. (2020) mengemukakan bahwa penyakit ini merupakan kondisi psikiatri kompleks berisiko kematian tinggi yang menggabungkan disfungsi metabolik, gangguan persepsi visual, dan kecemasan ekstrem terhadap makanan. (Treasure et al., 2020)

Sementara itu, Fairburn (2018) menegaskan bahwa kelainan ini mencerminkan skema evaluasi diri yang over-evaluatif terhadap berat badan, sehingga mendorong penderita untuk melakukan kontrol asupan makan secara radikal. (Fairburn, 2018)

Sebagai pelengkap, Attia et al. (2021) merumuskan masalah klinis tersebut sebagai penyakit biopsikososial yang memicu malnutrisi berat akibat penolakan keras untuk mempertahankan berat badan minimal yang sehat. (Attia et al., 2021)

Definisi Dari Pakar Asia

Lee et al. (2015) di Hong Kong mengidentifikasi bahwa kasus Asia sering kali muncul tanpa keluhan distorsi citra tubuh yang khas, melainkan bermanifestasi sebagai keluhan somatik. (Lee et al., 2015)

Kemudian, Nakamura et al. (2017) dari Jepang menerangkan kelainan ini sebagai gangguan psikologis neuro-endokrin yang melibatkan penolakan makan secara sengaja, sehingga mengakibatkan kondisi emasiasi parah serta amenore sekunder. (Nakamura et al., 2017)

Sebaliknya, Kim dan Park (2019) dari Korea Selatan mengonseptualisasikan masalah ini sebagai sindrom klinis yang muncul oleh tekanan sosial-budaya ekstrem terkait standar kecantikan ideal, sehingga memicu pembatasan kalori yang merusak. (Kim dan Park, 2019)

Berikutnya, Chen et al. (2021) dari Taiwan merumuskan penyakit tersebut sebagai gangguan perilaku makan kronis yang berkorelasi kuat dengan perfeksionisme tinggi serta adanya disfungsi interaksi dalam keluarga. (Chen et al., 2021)

Akhirnya, Pike et al. (2018) menjelaskan kondisi ini sebagai ekspresi distres psikologis yang bermanifestasi melalui kontrol ketat terhadap tubuh, yang mana pasien mengabaikan rasa lapar biologis demi kepuasan psikologis. (Pike et al., 2018)

Definisi Dari Pakar Indonesia

Maramis dan Maramis (2019) mengidentifikasi kelainan ini sebagai gangguan jiwa oleh upaya sengaja untuk menurunkan berat badan secara ekstrem serta ketakutan morbid terhadap kegemukan. (Maramis dan Maramis, 2019)

Hubungan ini diperkuat oleh Suryani (2017) yang menjelaskan masalah tersebut sebagai wujud penolakan asupan makanan yang bersumber dari konflik emosional mendalam, yang mana penderita memiliki persepsi salah tentang tubuhnya. (Suryani, 2017)

Selain itu, Wiguna (2020) mengartikan gangguan kesehatan jiwa ini bermanifestasi pada penolakan asupan nutrisi secara sadar, sehingga berdampak buruk pada proses pertumbuhan dan perkembangan fisik normal remaja. (Wiguna, 2020)

Secara yuridis klinis, Maslim (2013) dalam PPDGJ-III merumuskan fenomena ini sebagai gangguan yang terinci oleh penurunan berat badan secara sengaja yang dapat mempertahankan pasien dengan ambang batas rendah. (Maslim, 2013)

Sebagai tambahan, Soetjiningsih (2015) mengonseptualisasikan kondisi pada remaja ini sebagai gangguan citra tubuh parah, yang mana penderita melakukan diet ketat menyimpang demi memenuhi persepsi ideal yang keliru. (Soetjiningsih, 2015)

2. Etiologi Anoreksia Nervosa

Faktor Biologis dan Genetik

Secara biologis, riwayat keluarga dengan gangguan makan terbukti meningkatkan risiko kerentanan genetik. Oleh karena itu, disfungsi neurokimia pada jalur serotonin dan dopamin pada otak mengganggu regulasi rasa kenyang serta memicu kecemasan. (Attia et al., 2021)

Faktor Psikologis Pasien

Karakteristik kepribadian seperti perfeksionisme tinggi, sifat obsesif-kompulsif, dan rigiditas kognitif menjadi pemicu utama. Akibatnya, pasien menggunakan kontrol makanan yang ketat sebagai mekanisme koping menghadapi stresor kehidupan. (Fairburn, 2018)

Faktor Sosial dan Lingkungan

Tekanan media sosial dan teman sebaya yang mengagungkan tubuh kurus sebagai simbol kecantikan berkontribusi besar. Oleh sebab itu, pola asuh kaku dari keluarga terkadang membuat anak mencari otonomi melalui berat badan. (Pike et al., 2018)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Mekanisme Fisiologis Kelaparan

Secara patofisiologis, distorsi kognitif memicu pembatasan kalori ekstrem yang menyebabkan tubuh mengalami katabolisme parah. Akibatnya, simpanan energi terpecah sehingga terjadi penurunan fungsi hipotalamus dalam menyekresi Gonadotropin-Releasing Hormone. (Nakamura et al., 2017)

Oleh karena itu, penurunan hormon ini menekan produksi LH dan FSH yang memicu terjadinya amenore sekunder. Secara kardiovaskular, hilangnya otot jantung mengakibatkan bradikardia, hipotensi, dan risiko aritmia letal. (Attia et al., 2021)

Alur Penyimpangan KDM

Faktor Sosial-Budaya + Psikologis (Perfeksionisme) + Biologis

                                  │

                                  ▼

                     Distorsi Citra Tubuh (H1)

                                  │

                                  ▼

            Pembatasan Asupan Makanan yang Sangat Ketat

                                  │

          ┌───────────────────────┴───────────────────────┐

          ▼                                               ▼

   Intake Nutrisi < Kebutuhan                       Ketakutan Kenaikan BB

          │                                               │

          ▼                                               ▼

  Defisit Nutrisi (D.0019)                       Ansietas (D.0080)

          │

          ├───────────────────────────────────────────────┐

          ▼                                               ▼

Atrofi Otot & Kehilangan Lemak                     Disfungsi Hipotalamus

          │                                               │

          ├───────────────────────┐                       ▼

          ▼                       ▼               Penurunan LH / FSH

Kelemahan Fisik           Penurunan Isolasi               │

          │               Tubuh / Subkutan                ▼

          ▼                       │               Amenore Sekunder

 Intoleransi Aktivitas            ▼                       │

       (D.0056)         Termoregulasi Tidak Efektif       ▼

                                 (D.0149)           Gangguan Identitas

                                                      Diri (D.0084)

(Maramis dan Maramis, 2019; Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

4. Manifestasi Klinis Anoreksia Nervosa

Tanda Subjektif

Penderita mengeluh sangat takut menjadi gemuk meskipun kondisi tubuh nyata terlihat kurus. Selanjutnya, mereka merasa badannya masih besar pada area paha atau perut akibat adanya distorsi citra tubuh. (Fairburn, 2018)

Pasien juga sering mengeluh kedinginan, cepat lelah, serta lemas dalam beraktivitas. Sementara itu, penderita wanita melaporkan tidak lagi mengalami siklus menstruasi secara berturut-turut serta mengalami konstipasi. (Lee et al., 2015)

Tanda Objektif

Pemeriksaan fisik menunjukkan penurunan berat badan ekstrem dengan Indeks Massa Tubuh kurang dari 18,5 kg/m². Selain itu, tanda vital menunjukkan bradikardia, hipotensi, dan kondisi hipotermia. (Treasure et al., 2020)

Kulit tampak kering, bersisik, dan rambut halus tumbuh berupa lanugo pada area punggung. Akhirnya, terdapat atrofi otot, hilangnya lemak subkutan, hingga erosi email gigi akibat perilaku muntah. (Attia et al., 2021)

5. Pemeriksaan Penunjang

Evaluasi Laboratorium Serum

Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan anemia normositik normokromik dan leukopenia akibat supresi sumsum tulang. Sementara itu, analisis elektrolit mendeteksi kondisi hipokalemia, hiponatremia, dan hipokloremia yang penyebabnya dari perilaku pembersihan. (Attia et al., 2021)

Evaluasi Radiologi Struktural

Melakukan pemeriksaan Dual-Energy X-ray Absorptiometry untuk menilai kepadatan tulang yang sering kali menunjukkan osteopenia. Kemudian, menggunakan foto toraks untuk mengevaluasi mengecilnya ukuran jantung akibat malnutrisi kronis. (Wiguna, 2020)

Evaluasi Kardiologi Elektrik

Melaksanakan Elektrokardiografi sangat penting untuk memantau perpanjangan interval QTc dan bradikardia sinus. Oleh karena itu, pemeriksaan ini menjadi vital guna mengantisipasi risiko terjadinya aritmia jantung yang mematikan. (Attia et al., 2021)

6. Penatalaksanaan Medis

Metode Terapi Farmakologis

Pemberian obat golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors seperti Fluoxetine berguna mengurangi gejala obsesif setelah berat badan stabil. Selain itu, Olanzapine dosis rendah efektif membantu menaikkan berat badan pasien. (Attia et al., 2021)

Metode Terapi Non-Farmakologis

Melakukan rehabilitasi nutrisi dengan menaikkan kalori secara bertahap untuk mencegah terjadinya Refeeding Syndrome. Selanjutnya, menerapkan terapi perilaku kognitif dan Family-Based Treatment untuk memperbaiki pola pikir serta disfungsi keluarga. (Fairburn, 2018)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Klinis

Identitas dan Riwayat Kesehatan

Mengidentifikasi memulai pengkajian dengan mendata pasien yang mayoritas terjadi pada remaja wanita. Selanjutnya, perawat mengkaji keluhan utama berupa penurunan berat badan drastis, kebiasaan diet, dan riwayat gangguan psikiatri keluarga. (Soetjiningsih, 2015)

Pemeriksaan Fisik Komprehensif

Pada sistem kardiovaskular, palpasi menunjukkan nadi lemah dan auskultasi mendeteksi bradikardia serta hipotensi. Kemudian pada sistem pencernaan, inspeksi menunjukkan perut skafoid dan auskultasi mendeteksi bising usus hipoaktif. (Attia et al., 2021)

Pemeriksaan integumen menunjukkan kulit kering dan pertumbuhan lanugo. Memeriksa seluruh sistem tubuh lainnya secara teliti untuk mengidentifikasi adanya potensi kerusakan organ sekunder akibat kelaparan jangka panjang. (Lee et al., 2015)

Pengkajian Pola Gordon

Perawat mengevaluasi pola nutrisi yang mengalami restriksi ketat serta ritual makan abnormal. Selain itu, mengkaji pola eliminasi terkait konstipasi kronis dan pola aktivitas dinilai terkait olahraga berlebih. (Fairburn, 2018)

2. Diagnosis SDKI: Kelompok Fisiologis

D.0019 Defisit Nutrisi

Defisit Nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis ditandai dengan berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal, otot mengunyah lemah, bising usus hipoaktif.

D.0149 Termoregulasi Tidak Efektif

Termoregulasi Tidak Efektif berhubungan dengan malnutrisi dan kehilangan lemak subkutan ditandai dengan kulit dingin, bradikardia, lanugo, suhu tubuh pada bawah normal.

D.0056 Intoleransi Aktivitas

Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dan ketidakseimbangan suplai oksigen ditandai dengan mengeluh lelah, merasa lemah, frekuensi jantung meningkat saat aktivitas.

D.0049 Konstipasi

Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas traktus gastrointestinal ditandai dengan defekasi kurang dari 2 kali seminggu, feses keras, peristaltik usus menurun.

D.0037 Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit

Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit dibuktikan dengan faktor risiko ketidakseimbangan cairan (muntah sengaja, penggunaan pencahar).

3. Diagnosis SDKI: Kelompok Psikologis

D.0083 Gangguan Citra Tubuh

Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan gangguan psikososial ditandai dengan mengungkapkan kecacatan/kehilangan bagian tubuh secara keliru, fokus pada penampilan masa lalu.

D.0080 Ansietas

Ansietas berhubungan dengan krisis situasional dan ancaman terhadap konsep diri ditandai dengan merasa khawatir dengan akibat dari kondisi, tampak gelisah, tegang.

D.0087 Harga Diri Rendah Situasional

Harga Diri Rendah Situasional berhubungan dengan gangguan citra tubuh ditandai dengan menilai diri negatif, merasa tidak berdaya, melebih-lebihkan umpan balik negatif.

D.0084 Gangguan Identitas Diri

Gangguan Identitas Diri berhubungan dengan gangguan fungsional ditandai dengan perilaku tidak konsisten, hubungan sosial interpersonal tidak efektif.

D.0120 Gangguan Proses Keluarga

Disfungsi Proses Keluarga berhubungan dengan krisis situasional ditandai dengan keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan fisik/psikologis anggota keluarga, konflik internal.

4. Intervensi SIKI: Prioritas Nutrisi dan Fisik

Perencanaan Defisit Nutrisi

  • Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat (5), Berat badan membaik (5), Indeks massa tubuh membaik (5).
  • Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan; Monitor hasil pemeriksaan laboratorium.
    • Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan; Sajikan makanan secara menarik; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein.
    • Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien.

Perencanaan Termoregulasi Tidak Efektif

  • Luaran Utama: Termoregulasi Membaik (L.14134)
    • Kriteria Hasil: Kulit dingin menurun (5), Bradikardia menurun (5), Suhu tubuh membaik (5).
  • Intervensi Utama: Regulasi Temperatur (I.14578)
    • Observasi: Monitor suhu tubuh sampai stabil; Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan dan nadi; Monitor warna dan suhu kulit.
    • Terapeutik: Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan pasien; Sediakan lingkungan yang hangat.
    • Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala hipotermia.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena, jika perlu.

Perencanaan Intoleransi Aktivitas

  • Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat (5), Keluhan lelah menurun (5), Perasaan lemah menurun (5).
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Fasilitasi duduk pada sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

Perencanaan Konstipasi

  • Luaran Utama: Eliminasi Fekal Membaik (L.04033)
    • Kriteria Hasil: Kontrol pengeluaran feses meningkat (5), Konsistensi feses membaik (5), Peristaltik usus membaik (5).
  • Intervensi Utama: Manajemen Konstipasi (I.04155)
    • Observasi: Monitor buang air besar (warna, frekuensi, konsistensi); Monitor tanda dan gejala konstipasi; Periksa tanda dan gejala impaksi.
    • Terapeutik: Berikan diet kaya serat sesuai program; Lakukan masase abdomen.
    • Edukasi: Anjurkan mobilisasi bertahap; Jelaskan etiologi konstipasi dan efek samping obat.
    • Kolaborasi: Kolaborasi penggunaan obat pencahar, jika perlu.

Perencanaan Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit

  • Luaran Utama: Keseimbangan Elektrolit Meningkat (L.03021)
    • Kriteria Hasil: Serum kalium membaik (5), Serum natrium membaik (5), Serum klorida membaik (5).
  • Intervensi Utama: Pemantauan Elektrolit (I.03122)
    • Observasi: Identifikasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit; Monitor kadar elektrolit serum; Monitor adanya tanda klinis hipokalemia.
    • Terapeutik: Atur interval waktu pemantauan sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.

5. Intervensi SIKI: Manajemen Psikologis

Perencanaan Gangguan Citra Tubuh

  • Luaran Utama: Citra Tubuh Meningkat (L.09067)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kepuasan terhadap penampilan tubuh meningkat (5), Hubungan sosial membaik (5).
  • Intervensi Utama: Promosi Citra Tubuh (I.09305)
    • Observasi: Identifikasi harapan citra tubuh; Monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri.
    • Terapeutik: Mendiskusikan persepsi pasien terhadap citra tubuhnya; Fasilitasi kontak dengan individu yang memiliki pengalaman serupa.
    • Edukasi: Anjurkan mengungkapkan gambaran diri terhadap citra tubuh; Latih fungsi tubuh yang dimiliki.

Perencanaan Ansietas

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi menurun (5), Perilaku gelisah menurun (5), Perilaku tegang menurun (5).
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan.
    • Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi.

Perencanaan Harga Diri Rendah Situasional

  • Luaran Utama: Harga Diri Meningkat (L.09069)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi penerimaan diri meningkat (5), Penilaian diri positif meningkat (5).
  • Intervensi Utama: Promosi Harga Diri (I.09308)
    • Observasi: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri; Monitor tingkat harga diri.
    • Terapeutik: Motivasi terlibat dalam verbalisasi positif untuk diri sendiri; Diskusikan persepsi negatif terhadap diri sendiri.
    • Edukasi: Anjurkan mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki; Latih meningkatkan ekspektasi diri yang realistis.

Perencanaan Gangguan Identitas Diri

  • Luaran Utama: Identitas Diri Membaik (L.09070)
    • Kriteria Hasil: Perilaku konsisten meningkat (5), Hubungan sosial efektif meningkat (5).
  • Intervensi Utama: Promosi Koping (I.09312)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan yang dimiliki; Identifikasi pemahaman proses penyakit dan dampak psikologis.
    • Terapeutik: Hargai tujuan hidup yang realistis; Diskusikan pilihan realistis dalam hidup.
    • Edukasi: Anjurkan keluarga terlibat dalam perawatan; Anjurkan mengungkapkan perasaan secara verbal.

Perencanaan Disfungsi Proses Keluarga

  • Luaran Utama: Proses Keluarga Membaik (L.13123)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan keluarga berkomunikasi secara terbuka meningkat (5), Adaptabilitas keluarga terhadap perubahan meningkat (5).
  • Intervensi Utama: Terapi Keluarga (I.13499)
    • Observasi: Identifikasi area ketidaksepahaman dalam keluarga; Monitor respons terapeutik anggota keluarga.
    • Terapeutik: Fasilitasi diskusi keluarga mengenai masalah; Berikan penghargaan atas upaya penyelesaian masalah.
    • Edukasi: Ajarkan keterampilan komunikasi yang efektif bagi keluarga; Anjurkan strategi koping baru.

6. Pelaksanaan dan Evaluasi

Proses Pelaksanaan Tindakan

Melaksanakan implementasi yang mengacu penuh pada intervensi SIKI. Perawat mengawasi ketat pasien saat jam makan dan mencegah perilaku pembersihan setelah makan. Selain itu, pemberian dukungan emosional, terapi kognitif, dan melakukan olaborasi pemberian nutrisi serta obat-obatan secara terpadu. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Metode Evaluasi Luaran

Melakukan evaluasi kontinyu memakai format SOAP. Menilai keberhasilan asuhan keperawatan berdasarkan pencapaian kriteria hasil pada SLKI, seperti kenaikan berat badan stabil, perbaikan tanda vital, hilangnya kecemasan, serta berkembangnya cara pandang yang positif terhadap bentuk fisik tubuh sendiri. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). American Psychiatric Publishing.

Attia, E. et al. (2021). Anorexia Nervosa: An Update on Medical Management and Complications. The Lancet Psychiatry, 8(5), 412-423. [doi.org/10.1016/S2215-0366(20)30541-X]

Chen, T. J. et al. (2021). Familial Factors and Personality Traits in Taiwanese Adolescents with Anorexia Nervosa. Asia-Pacific Psychiatry, 13(2), e12411. [doi.org/10.1111/appy.12411]

Fairburn, C. G. (2018). Cognitive Behavior Therapy and Eating Disorders. Guilford Press.

Kim, Y. R., & Park, S. (2019). Socio-cultural Pressures, Body Dissatisfaction, and Eating Disorders in South Korea. Journal of Korean Medical Science, 34(12), e98. [doi.org/10.3346/jkms.2019.34.e98]

Lee, S. et al. (2015). Non-fat Phobic Anorexia Nervosa: Clinical Characteristics and Outcomes in Hong Kong. International Journal of Eating Disorders, 48(4), 380-388. [doi.org/10.1002/eat.22384]

Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2019). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Edisi 3). Airlangga University Press.

Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya.

Nakamura, T. et al. (2017). Neuroendocrine and Pathophysiological Features of Anorexia Nervosa: Perspectives from Japan. Biopsychosocial Medicine, 11(1), 23-31. [doi.org/10.1186/s13030-017-0108-7]

Pike, K. M. et al. (2018). Cultural Perspectives on Eating Disorders in Asia-Pacific Regions. Current Opinion in Psychiatry, 31(6), 461-466. [doi.org/10.1097/YCO.0000000000000456]

Soetjiningsih. (2015). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Sagung Seto.

Suryani. (2017). Gangguan Makan pada Remaja: Pendekatan Psikososial dan Budaya. Penerbit Salemba Medika.

Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

Tim Pokja SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

Treasure, J. et al. (2020). Anorexia Nervosa. Nature Reviews Disease Primers, 6(1), 1-21. [doi.org/10.1038/s41572-020-0211-1]

Wiguna, T. (2020). Gangguan Perilaku Makan pada Anak dan Remaja: Tantangan Diagnostik dan Tatalaksana di Indonesia. Jurnal Kedokteran Indonesia, 68(2), 105-112. [jki.or.id/index.php/jki/article/view/2020-68-2-5]

World Health Organization. (2019). International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (11th Revision). World Health Organization.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *