Bulimia nervosa adalah gangguan makan serius yang ditandai dengan siklus makan berlebihan secara kompulsif diikuti oleh perilaku kompensasi tidak sehat seperti muntah paksa untuk mencegah kenaikan berat badan. (American Psychiatric Association, 2013)
- A. Konsep Medis Bulimia nervosa
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Bulimia nervosa
1. Definisi Penyakit Bulimia nervosa
Definisi Dari Pakar Internasional
American Psychiatric Association (2013) mendefinisikan gangguan ini sebagai masalah kejiwaan yang bermanifestasi dalam bentuk episode berulang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar secara cepat, yang kemudian diikuti oleh perilaku kompensasi yang tidak tepat untuk mencegah penambahan berat badan. (American Psychiatric Association, 2013)
Selanjutnya, World Health Organization (2019) menjelaskan kondisi ini sebagai sindrom yang ditandai oleh serangan berulang makan berlebihan secara obsesif dan preokupasi berlebihan terhadap berat badan, sehingga penderita melakukan upaya ekstrem untuk melawan efek “penggemukan” dari makanan. (World Health Organization, 2019)
Selain itu, Fairburn (2008) menegaskan bahwa kelainan ini merupakan gangguan psikologis primer yang mana penderita menempatkan nilai diri mereka secara eksklusif pada bentuk tubuh dan berat badan, yang memicu perilaku makan berlebihan secara rahasia dan pembersihan diri (purging). (Fairburn, 2008)
Sementara itu, Kaye et al. (2009) melalui pendekatan neurobiologis mendeskripsikan kondisi ini sebagai gangguan sirkuit otak yang kompleks, yang memengaruhi regulasi nafsu makan dan kontrol impuls, sehingga memicu siklus konsumsi makanan masif dan katarsis emosional melalui muntah buatan. (Kaye et al., 2009)
Lebih lanjut, Treasure, Claudino, dan Zucker (2010) mengonseptualisasikan masalah kesehatan ini sebagai gangguan psikiatrik sistemik yang mengombinasikan kerentanan genetik dan tekanan sosiokultural, yang bermanifestasi dalam bentuk hilangnya kendali atas perilaku makan. (Treasure, Claudino, dan Zucker, 2010)
Definisi Pakar Asia
Lee (2012) mengartikan patologi ini dari Asia sebagai manifestasi modernisasi cepat yang memicu konflik identitas diri, yang mana individu menggunakan makanan dan muntah paksa sebagai mekanisme koping terhadap tuntutan sosial yang ekstrem. (Lee, 2012)
Kemudian, Nakamura et al. (2014) mendefinisikan gangguan tersebut sebagai sindrom distress psikologis yang berakar pada disfungsi keluarga tradisional dan obsesi terhadap kelangsingan ekstrem (yaseta-i), yang mengarah pada perilaku makan berlebihan patologis. (Nakamura et al., 2014)
Sebaliknya, Kim dan Park (2018) mengidentifikasi masalah ini sebagai gangguan perilaku kompulsif yang dipicu oleh paparan masif standar kecantikan K-Pop, yang memicu siklus merusak diri berupa binge-eating dan penyalahgunaan laksatif. (Kim dan Park, 2018)
Selain itu, Chng dan Fassnacht (2016) memaparkan gangguan ini sebagai bentuk maladaptasi psikologis pada remaja perkotaan yang mengalami kecemasan akademik tinggi, yang mana kontrol terhadap makanan berfungsi mengompensasi hilangnya kendali atas aspek kehidupan lain. (Chng dan Fassnacht, 2016)
Oleh karena itu, Pike et al. (2015) menjelaskan kondisi ini sebagai gangguan klinis yang perkembangannya terakselerasi oleh fenomena urbanisasi, yang mengubah pola makan tradisional menjadi perilaku makan disfungsional akibat tekanan citra tubuh. (Pike et al., 2015)
Definisi Pakar Indonesia
Maramis dan Maramis (2014) merumuskan keadaan ini sebagai gangguan jiwa dengan karakteristik keinginan makan yang sangat besar dan tidak tertahankan, tetapi pasien segera memuntahkannya kembali karena ketakutan yang luar biasa menjadi gemuk. (Maramis dan Maramis, 2014)
Berikutnya, Maslim (2013) melalui Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ-III) menguraikan gangguan ini sebagai sindrom yang melibatkan preokupasi yang menetap untuk makan, serta episode makan berlebihan dalam jangka waktu singkat, yang diikuti tindakan kompensasi buatan. (Maslim, 2013)
Sebab itu, Soetjiningsih (2010) mengategorikan kelainan ini sebagai penyimpangan perilaku makan yang sering menimpa remaja putri akibat ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh (body dissatisfaction) dan rendahnya harga diri. (Soetjiningsih, 2010)
Oleh sebab itu, Suryani (2012) mengartikan kondisi tersebut sebagai ekspresi konflik emosional batiniah yang tidak terselesaikan, yang mana makanan berfungsi sebagai pelampiasan stres temporer yang kemudian memicu rasa bersalah yang mendalam. (Suryani, 2012)
Akhirnya, Wiranata (2019) mendefinisikan gangguan ini sebagai diagnosis psikiatrik yang memicu komplikasi fisik berat, yang terjadi akibat rusaknya pola makan normal dan adopsi metode pembersihan lambung secara mekanis maupun kimiawi. (Wiranata, 2019)
2. Etiologi Masalah Bulimia nervosa
Penyebab patologi ini bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara aspek biologis, psikologis, dan lingkungan sosial. Akibatnya, harus melakukan penanganan secara komprehensif. (Sadock, Sadock, dan Ruiz, 2015)
Oleh karena itu, faktor biologis dan genetik memegang peranan penting melalui riwayat keluarga dengan gangguan makan yang meningkatkan risiko secara signifikan. Terjadi pula disfungsi neurotransmiter pada otak, khususnya penurunan aktivitas serotonin dan norepinefrin yang meregulasi rasa kenyang dan suasana hati. (Kaye et al., 2009)
Selanjutnya, faktor psikologis seperti karakteristik kepribadian perfeksionisme, impulsivitas tinggi, rendahnya harga diri (low self-esteem), serta adanya gangguan kecemasan atau depresi menjadi pemicu utama individu mengalami distorsi citra tubuh yang parah. (Fairburn, 2008)
Selain itu, faktor sosiokultural berupa tekanan sosial, paparan media massa, dan standar budaya yang mengagungkan tubuh kurus sebagai simbol kesuksesan dan kecantikan memicu internalisasi citra tubuh yang tidak realistis pada remaja. (Pike et al., 2015)
Sementara itu, faktor dinamika keluarga yang kurang harmonis, penuh konflik, atau orang tua yang terlalu mengkritik berat badan dan bentuk tubuh anak dapat memicu perilaku makan maladaptif sebagai pelarian emosional. (Soetjiningsih, 2010)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Patofisiologi
Secara patofisiologis, gangguan ini diawali oleh distorsi kognitif terhadap citra tubuh dan berat badan. Ketidakpuasan ini mendorong individu melakukan restriksi kalori yang ketat. Pembatasan makanan yang ekstrem memicu respons kelaparan biologis pada hipotalamus, yang menurunkan kadar serotonin. Penurunan serotonin ini merusak kontrol impuls, sehingga memicu episode makan berlebihan (binge eating) dalam jumlah besar secara cepat. (Sadock, Sadock, dan Ruiz, 2015)
Oleh karena itu, setelah makan berlebihan, muncul rasa bersalah, cemas, dan ketakutan ekstrem akan kenaikan berat badan. Untuk mengatasi kecemasan tersebut, pasien melakukan tindakan kompensasi (purging) seperti memuntahkan makanan secara paksa, menggunakan laksatif, atau diuretik. Efek paparan asam lambung (HCl) berulang pada rongga mulut merusak enamel gigi dan memicu ezofagitis. Kehilangan cairan dan elektrolit masif (khususnya Kalium, Natrium, dan Klorida) melalui muntah atau pencahar menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit, dehidrasi, serta gangguan konduksi jantung yang berpotensi fatal. (Treasure, Claudino, dan Zucker, 2010)
Skema Alur Penyimpangan KDM

Pathway Komplikasi dan Masalah Keperawatan. Sumber: Scribd
Faktor Predisposisi: Sosiokultural, Psikologis, Biologis
|
Distorsi Citra Tubuh & Harga Diri Rendah
|
Restriksi Makanan Ketat
|
Penurunan Serotonin & Kelaparan Biologis (Hipotalamus)
|
Makan Berlebihan Kompulsif (Binge Eating)
|
Anksietas & Rasa Bersalah Takut Berat Badan Naik
|
Tindakan Kompensasi Maladaptif (Purging)
|
————————————————-
| |
Muntah Paksa Berulang Penyalahgunaan Laksatif/Diuretik
| |
Kontak Asam Lambung (HCl) Kehilangan Cairan & Elektrolit
di Esofagus & Mulut |
| ———————–
– Iritasi Mukosa Esofagus | |
– Erosi Enamel Gigi Dehidrasi Jaringan Hipokalemia Ekstrem
| | |
| – turgor kulit ↓ – Risiko Disritmia
– Nyeri Epigastrium/Dada – Mukosa Kering Jantung
– Kerusakan Dentin | |
| [Defisit Nutrisi] [Penurunan Curah Jantung]
[Gangguan Integritas [Hipovolemia]
Kulit/Jaringan]
4. Gejala Klinis Bulimia Nervosa
Karakteristik Data Subjektif
Oleh karena itu, pasien mengeluh sangat takut berat badannya bertambah atau merasa tubuhnya gemuk meskipun berat badan normal. Pasien menyatakan merasa kehilangan kendali saat makan dan tidak mampu berhenti mengonsumsi makanan dalam jumlah besar. (American Psychiatric Association, 2013)
Selanjutnya, muncul keluhan nyeri ulu hati atau dada terbakar (heartburn) akibat iritasi asam lambung saat muntah. Pasien mengeluh pusing, lemas, dan cepat lelah akibat dehidrasi. Selain itu, terdapat ungkapan rasa bersalah, malu, benci pada diri sendiri, atau cemas setelah makan. (Maramis dan Maramis, 2014; Suryani, 2012)
Karakteristik Data Objektif
Sementara itu, pemeriksaan fisik menunjukkan kerusakan enamel gigi (perimolisis), terutama pada permukaan lingual gigi depan akibat paparan asam lambung. Adanya Russell’s sign, yaitu kalus atau kapalan pada buku-buku jari tangan yang digunakan untuk merangsang muntah secara mekanis. (Sadock, Sadock, dan Ruiz, 2015)
Oleh sebab itu, terdapat pembengkakan kelenjar liur parotis (sialadenosis) yang membuat pipi tampak tembam (chipmunk cheeks). Fluktuasi berat badan yang sering juga terlihat, meskipun biasanya berat badan tetap berada dalam rentang normal. Tanda-tanda dehidrasi meliputi turgor kulit menurun, mukosa bibir kering, hipotensi ortostatik, dan takikardia. (Treasure, Claudino, dan Zucker, 2010; Wiranata, 2019)
5. Pemeriksaan Penunjang
Analisis Laboratorium Klinik
Manifestasi Klinis dan Diagnostik Fisik. Sumber: Alexander Ryabintsev / Getty Images
Oleh karena itu, pemeriksaan serum elektrolit sangat krusial karena menunjukkan hipokalemia (Kalium < 3,5 mEq/L), hiponatremia, dan hipokloremia akibat pembuangan cairan tubuh. Analisis gas darah menunjukkan alkalosis metabolik akibat kehilangan asam klorida lambung saat muntah, atau asidosis metabolik jika terjadi penyalahgunaan laksatif yang berlebihan. (Kaye et al., 2009)
Sementara itu, kadar amilase serum mengalami peningkatan (hiperamilasemia) sekunder akibat hiperstimulasi atau pembengkakan kelenjar parotis. Fungsi ginjal (BUN dan Kreatinin) mengalami peningkatan jika pasien berada dalam kondisi dehidrasi berat atau hipovolemia. (Sadock, Sadock, dan Ruiz, 2015; Wiranata, 2019)
Investigasi Pencitraan Radiologi
Selanjutnya, melakukan foto polos abdomen jika terdapat kecurigaan adanya dilatasi lambung akut atau perforasi esofagus/lambung (sindrom Boerhaave) akibat muntah yang terlalu hebat. Esofagografi dengan kontras barium yang mengindikasikan pasien jika mengeluh nyeri dada hebat untuk mengevaluasi robekan mukosa esofagus (Sindrom Mallory-Weiss). (Sadock, Sadock, dan Ruiz, 2015)
Evaluasi Tambahan
Selain itu, pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) menunjukkan adanya distorsi gelombang akibat hipokalemia, seperti pendataran gelombang T, depresi segmen ST, atau adanya gelombang U, yang berisiko memicu aritmia ventrikel. Pemeriksaan odontologi/dental mengevaluasi erosi gigi secara menyeluruh untuk menilai tingkat keparahan paparan asam lambung kronis. (Kaye et al., 2009)
6. Penatalaksanaan Klinis
Strategi Terapi Farmakologis
Oleh karena itu, pemberian antidepresan golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) seperti Fluoxetine merupakan obat pilihan utama dengan dosis hingga 60 mg/hari karena efektif menurunkan frekuensi binge eating dan perilaku muntah. Dapat mempertimbangkan stabilisator suasana hati jika terdapat komorbiditas gangguan kontrol impuls yang berat. (Kaye et al., 2009)
Selanjutnya, wajib memberikan tindakan koreksi elektrolit intravena berupa pemberian KCl (Kalium Klorida) intravena secara lambat dan cairan rehidrasi jika terjadi hipokalemia berat untuk mencegah henti jantung yang fatal. (Treasure, Claudino, dan Zucker, 2010)
Strategi Terapi Non-Farmakologis
Sementara itu, pelaksanaan CBT-E (Cognitive Behavioral Therapy-Enhanced) merupakan psikoterapi paling efektif untuk merestrukturisasi pikiran disfungsional mengenai citra tubuh dan berat badan. Melakukan terapi nutrisi dan konseling diet oleh ahli gizi untuk menyusun rencana makan terstruktur guna memulihkan pola makan normal. (Fairburn, 2008)
Oleh sebab itu, pasien sangat membutuhkan pemberian terapi keluarga (Family-Based Treatment) untuk melibatkan keluarga dalam proses pemulihan, memperbaiki pola komunikasi interpersonal, mengurangi kritik, dan memberikan dukungan emosional bagi pasien dari rumah. (Soetjiningsih, 2010)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Pengumpulan Identitas dan Riwayat
Oleh karena itu, pengkajian identitas pasien meliputi nama, umur (dominan masa remaja atau dewasa muda), jenis kelamin (lebih dominan pada wanita), dan pekerjaan. Pengkajian riwayat kesehatan mencakup keluhan utama berupa lemas, pusing, nyeri ulu hati, atau ketahuan memuntahkan makanan secara sengaja setelah makan. (Wiranata, 2019)
Selanjutnya, riwayat kesehatan sekarang mengkaji frekuensi episode binge eating dan purging, serta menggunakan metode pembersihan. Riwayat kesehatan dahulu mengevaluasi gangguan makan sebelumnya, depresi, ansietas, atau percobaan bunuh diri. Riwayat kesehatan keluarga menggali adanya anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa atau obesitas. (Sadock, Sadock, dan Ruiz, 2015)
Pemeriksaan Fisik Komprehensif
Sementara itu, pemeriksaan fisik menunjukkan kesuasan umum lemas, tekanan darah hipotensi, nadi takikardia, dan suhu tubuh dapat hipotermia ringan. Sistem respirasi normal (vesikuler). Sistem kardiovaskular menunjukkan bunyi jantung dapat terdengar ireguler (disritmia) akibat hipokalemia. (Maramis dan Maramis, 2014)
Oleh sebab itu, sistem pencernaan sebagai fokus utama menunjukkan bibir kering, pembengkakan kelenjar parotis, erosi enamel gigi anterior, bising usus dapat meningkat karena laksatif, dan nyeri tekan pada area epigastrium. Sistem integumen menunjukkan kulit kering dan Russell’s sign. Sistem saraf menunjukkan adanya kelemahan otot umum akibat defisit kalium. (Wiranata, 2019)
Pengkajian Pola Fungsional
Selain itu, pengkajian pola fungsi kesehatan (Gordon) berfokus pada pola nutrisi/metabolik yang menunjukkan siklus makan berlebih secara tersembunyi yang diikuti pengeluaran paksa. Pola eliminasi ditandai penggunaan obat pencahar atau diuretik yang tidak terkontrol. Pola persepsi diri menunjukkan gangguan citra tubuh yang parah dan perasaan tidak berharga. (Fairburn, 2008)
2. Diagnosis Keperawatan (SDKI)
Prioritas 1 sampai 5
- Hipovolemia (D.0023) berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (muntah berulang, penyalahgunaan pencahar/diuretik).
- Risiko Penurunan Curah Jantung (D.0011) dibuktikan dengan perubahan kontraktilitas dan konduksi elektrikal jantung sekunder akibat ketidakseimbangan elektrolit (hipokalemia).
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan faktor psikologis (keengganan untuk mempertahankan berat badan sehat, pembersihan makanan patologis).
- Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera kimiawi (paparan asam lambung berulang pada mukosa esofagus/lambung).
- Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) berhubungan dengan faktor mekanis (gesekan jari pada gigi saat merangsang muntah) dan paparan asam lambung pada mukosa mulut.
Prioritas 6 sampai 10
- Gangguan Citra Tubuh (D.0083) berhubungan dengan hubungan interpersonal tidak memuaskan dan persepsi diri salah tentang bentuk dan ukuran tubuh.
- Harga Diri Rendah Kronis (D.0086) berhubungan dengan kegagalan berulang dalam mengontrol perilaku makan dan evaluasi diri negatif yang menetap.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kenaikan berat badan dan konflik emosional internal.
- Koping Tidak Efektif (D.0096) berhubungan dengan sistem pendukung tidak adekuat dan strategi koping maladaptif terhadap stresor kehidupan.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai dampak buruk jangka panjang perilaku purging.
3. Perencanaan Intervensi (SLKI & SIKI)
Intervensi Diagnosis 1 dan 2
Hipovolemia (D.0023)
- Luaran Utama (SLKI): Status Cairan (L.03028) membaik, dengan kriteria hasil: turgor kulit meningkat, kelembapan membran mukosa meningkat, frekuensi nadi normal (60-100 x/menit), tekanan darah membaik, intake cairan membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Hipovolemia (I.03116)
- Observasi: Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis. frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, turgor kulit menurun, membran mukosa kering). Monitor intake dan output cairan.
- Terapeutik: Berikan asupan cairan oral sesuai toleransi. Hitung kebutuhan cairan harian.
- Edukasi: Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (mis. NaCl, RL) jika hidrasi oral tidak adekuat.
Risiko Penurunan Curah Jantung (D.0011)
- Luaran Utama (SLKI): Curah Jantung (L.02008) meningkat, dengan kriteria hasil: tingkat aritmia menurun, lelah menurun, tTV dalam batas normal, tidak ada distensi vena jugularis, stroke volume membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Perawatan Jantung (I.02075)
- Observasi: Monitor EKG 12 sadapan untuk tanda hipokalemia (gelombang T datar, gelombang U). Monitor kadar elektrolit serum. Monitor adanya nyeri dada atau palpitasi.
- Terapeutik: Posisikan pasien semi-fowler atau fowler jika sesak. Berikan lingkungan yang tenang untuk mengurangi stresor.
- Edukasi: Anjurkan segera melapor jika merasakan dada berdebar atau pusing hebat.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian suplemen kalium intravena atau oral sesuai instruksi medis.
Intervensi Diagnosis 3 dan 4
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran Utama (SLKI): Status Nutrisi (L.03030) membaik, dengan kriteria hasil: porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik, frekuensi makan membaik, nafsu makan membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Gangguan Makan (I.03111)
- Observasi: Monitor asupan dan keluarnya makanan serta cairan serta kebutuhan kalori. Monitor perilaku makan, muntah, dan eliminasi (awasi kamar mandi setelah makan).
- Terapeutik: Tentukan target berat badan harian/mingguan bersama tim medis. Batasi aktivitas fisik berat untuk mencegah penurunan kalori berlebih. Temani pasien saat makan dan awasi minimal 1 jam setelah makan.
- Edukasi: Ajarkan pengaturan diet yang sehat secara bertahap tanpa memaksakan kuantitas ekstrem di awal.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan.
Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Nyeri (L.08066) menurun, dengan kriteria hasil: keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri (skala nyeri).
- Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. teknik relaksasi napas dalam, terapi musik).
- Edukasi: Jelaskan penyebab dan pemicu nyeri (mis. iritasi asam akibat muntah paksa).
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian agen pelindung mukosa lambung (mis. antasida, PPI, sukralfat) sesuai indikasi.
Intervensi Diagnosis 5 dan 6
Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)
- Luaran Utama (SLKI): Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) meningkat, dengan kriteria hasil: kerusakan jaringan menurun, nyeri kulit/mukosa mulut menurun, penyembuhan luka meningkat, kemerahan menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Perawatan Integritas Kulit (I.14564) & Perawatan Mulut (I.07244)
- Observasi: Monitor kondisi kulit di buku jari (Russell’s sign) dan inspeksi lesi mukosa oral serta kondisi gigi.
- Terapeutik: Bersihkan luka di tangan dengan cairan antiseptik jika ada lecet. Anjurkan pasien berkumur dengan air biasa setelah muntah untuk menetralkan asam.
- Edukasi: Anjurkan menghindari penggunaan jari untuk merangsang muntah secara mekanis.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter gigi untuk penanganan erosi enamel yang parah.
Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
- Luaran Utama (SLKI): Citra Tubuh (L.09067) meningkat, dengan kriteria hasil: verbalisasi kepuasan terhadap penampilan tubuh meningkat, verbalisasi perasaan negatif tentang perubahan tubuh menurun, hubungan sosial membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Citra Tubuh (I.09305)
- Observasi: Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan. Monitor verbalisasi yang menunjukkan ketidakpuasan tubuh.
- Terapeutik: Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya secara objektif. Bantu pasien memisahkan nilai diri dari penampilan fisik semata.
- Edukasi: Anjurkan melihat diri secara utuh, bukan hanya fokus pada bagian tubuh tertentu yang tidak disukai.
- Kolaborasi: Kolaborasi rujukan untuk terapi perilaku kognitif (CBT).
Intervensi Diagnosis 7 dan 8
Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)
- Luaran Utama (SLKI): Harga Diri (L.09069) meningkat, dengan kriteria hasil: penilaian diri positif meningkat, penerimaan terhadap keterbatasan diri meningkat, perasaan malu menurun, percaya diri meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Harga Diri (I.09308)
- Observasi: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri.
- Terapeutik: Motivasi pasien untuk mengidentifikasi kekuatan dan aspek positif diri yang dimiliki. Fasilitasi lingkungan yang mendukung penerimaan tanpa penghakiman.
- Edukasi: Latih peningkatan kemampuan positif yang dapat dikembangkan pasien.
- Kolaborasi: Libatkan kelompok pendukung (support group) sesama penyintas gangguan makan jika memungkinkan.
Ansietas (D.0080)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Ansietas (L.09093) menurun, dengan kriteria hasil: verbalisasi kebingungan dan khawatir akibat kondisi tubuh menurun, perilaku gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. sebelum atau sesudah waktu makan). Monitor tanda-tanda ansietas.
- Terapeutik: Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Hindari berdebat dengan pasien mengenai berat badan.
- Edukasi: Ajarkan teknik pengalihan (distraksi) saat muncul dorongan untuk melakukan tindakan kompensasi (purging).
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian ansiolitik atau SSRI jika kecemasan menghambat asupan makanan secara total.
Intervensi Diagnosis 9 dan 10
Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran Utama (SLKI): Status Koping (L.09086) membaik, dengan kriteria hasil: kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, perilaku koping adaptif meningkat, penyalahgunaan obat/laksatif menurun, keluhan memikirkan beban menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Koping (I.09312)
- Observasi: Identifikasi pemahaman pasien terhadap proses penyakit dan strategi koping yang biasa digunakan.
- Terapeutik: Hargai keputusan pasien sepanjang tidak membahayakan fisik. Bantu pasien mengidentifikasi strategi koping konstruktif yang baru.
- Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan secara verbal daripada mengekspresikannya lewat makanan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikolog klinik untuk penanganan koping psikologis mendalam.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat, dengan kriteria hasil: perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang masalah kesehatan meningkat, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi mengenai dampak fisiologis patologi terkait.
- Terapeutik: Sediakan materi edukasi tertulis atau visual yang objektif.
- Edukasi: Jelaskan komplikasi fisik jangka panjang seperti kerusakan jantung, gagal ginjal, dan kanker esofagus akibat kebiasaan muntah kronis.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim promosi kesehatan rumah sakit untuk penyediaan media edukasi yang efektif.
4. Implementasi Asuhan Keperawatan
Melaksanakan implementasi berdasarkan rencana intervensi yang telah tersusun, menyesuaikan kondisi akut pasien. Tindakan mencakup pemantauan ketat pasca-makan, pemasangan akses intravena untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit mendesak, penerapan pengawasan ketat penggunaan kamar mandi (untuk memutus siklus purging), serta fasilitasi sesi konseling psikologis individu dan keluarga guna mencapai perubahan perilaku yang adaptif. (Wiranata, 2019)
5. Evaluasi Hasil Asuhan
Melakukan evaluasi secara berkala menggunakan metode SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan):
- S (Subjektif): Pasien melaporkan penurunan kecemasan setelah makan, berkurangnya dorongan untuk memuntahkan makanan, serta penerimaan diri yang lebih positif.
- O (Objektif): Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit elastis, kadar kalium dan elektrolit lain dalam batas normal berikut rumus klirens ginjal terkontrol:
GFR=72×kreatinin serum (mg/dL)(140−umur)×berat badan (kg)×0,85 (jika wanita)
Tidak ada tanda-tanda baru erosi mukosa, dan pasien tidak pergi ke kamar mandi minimal 1 jam setelah makan.
- A (Assessment): Evaluasi keberhasilan perkembangan berdasarkan kriteria hasil SLKI (masalah teratasi sebagian atau seluruhnya).
- P (Plan): Lanjutkan intervensi untuk pemeliharaan berat badan normal, penguatan koping adaptif, dan rawat jalan psikoterapi CBT kontinu. (Wiranata, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.
Chng, J. Y., & Fassnacht, D. B. (2016). Eating disorders in Singapore. Singapore Medical Journal, 57(11), 590-596. pmc/articles/PMC5331130/
Fairburn, C. G. (2008). Cognitive Behavior Therapy and Eating Disorders. New York: Guilford Press.
Kaye, W. H., Fudge, J. L., & Paulus, M. (2009). New insights into symptoms and neurocircuitry of eating disorders. International Journal of Eating Disorders, 42(8), 737-753. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19441117/
Kim, Y. R., & Park, S. (2018). Sociocultural influences and body dissatisfaction among South Korean young adult women. Asian Journal of Psychiatry, 35, 12-18. sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S187620181730592X
Lee, S. (2012). Fat phobia in Buddhist and Confucian societies. Culture, Medicine, and Psychiatry, 36(2), 213-228. link.springer.com/article/10.1007/s11013-012-9257-2
Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2014). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press.
Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
Nakamura, K., et al. (2014). The transformation of eating disorders in Japan. Tohoku Journal of Experimental Medicine, 233(3), 165-172. jstage.jst.go.jp/article/tjem/233/3/233_165/_article
Pike, K. M., Hoek, H. W., & Dunne, P. E. (2015). The epidemiology of eating disorders in East Asia. Clinical Psychology Review, 40, 22-36. sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S027273581500059X
Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2015). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry. 11th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer.
Soetjiningsih. (2010). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.
Suryani. (2012). Pengalaman hidup perempuan dengan Bulimia Nervosa di Indonesia. Jurnal Keperawatan Indonesia, 15(2), 85-92. jki.ui.ac.id/index.php/jki/article/view/28
Tim Pokja SDKI, SIKI, SLKI DPP PPNI. (2017-2019). Standar Asuhan Keperawatan Indonesia (SDKI, SIKI, SLKI). Jakarta: DPP PPNI.
Wiranata, A. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa pada Pasien dengan Gangguan Perilaku Makan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
World Health Organization. (2019). The ICD-11 Classification of Mental and Behavioural Disorders. Geneva: World Health Organization.

Tinggalkan Balasan