Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang memengaruhi cara berpikir, merasa, dan berperilaku, sehingga penderitanya mengalami distorsi realitas yang sangat signifikan. (Sadock et al., 2021)
- A. Konsep Medis Utama Skizofrenia
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Utama Skizofrenia
1. Definisi Penyakit Skizofrenia
Definisi Dari Pakar Internasional
American Psychiatric Association (2013) mendefinisikan skizofrenia sebagai suatu gangguan otak kronis dan parah yang memanifestasikan diri melalui gejala psikotik seperti delusi, halusinasi, serta disorganisasi bicara. Oleh karena itu, kondisi ini memerlukan tata laksana komprehensif yang berkesinambungan. (American Psychiatric Association, 2013)
Selanjutnya, World Health Organization (2022) menjelaskan kondisi ini sebagai gangguan mental berat yang ditandai dengan gangguan mendasar dalam persepsi, pemikiran, ekspresi emosi, dan perilaku sosial. Akibatnya, penderita sering kali mengalami hambatan fungsi interpersonal yang masif. (World Health Organization, 2022)
Selain itu, Sadock, Sadock, dan Ruiz (2021) mengartikan skizofrenia sebagai penyakit neurologis kompleks yang mengganggu fungsi kognitif, persepsi, dan afek individu secara progresif sepanjang hidupnya. Dengan demikian, penanganan sedini mungkin sangat menentukan prognosis jangka panjang. (Sadock et al., 2021)
Sementara itu, Stahl (2020) menegaskan gangguan ini sebagai sindrom klinis multifaktorial yang bersumber dari disfungsi sirkuit saraf otak, terutama melibatkan jalur dopaminergik. Maka dari itu, pendekatan farmakologis berfokus penuh pada stabilisasi reseptor neurotransmiter tersebut. (Stahl, 2020)
Sebagai tambahan, Videbeck (2020) merumuskan skizofrenia sebagai sindrom psikotik kronis yang menghancurkan kemampuan individu untuk memproses informasi, mengelola emosi, serta berinteraksi secara interpersonal. Jadi, pemulihan klinis mutlak membutuhkan dukungan lingkungan sosial. (Videbeck, 2020)
Definisi Pakar Asia
Chen dan Wildgust (2019) mengategorikan skizofrenia Asia sebagai gangguan neuroperkembangan yang memiliki korelasi kuat dengan beban stigma budaya serta penurunan fungsi psikososial yang berat. Oleh sebab itu, intervensi medis harus berjalan selaras dengan reduksi stigma masyarakat. (Chen & Wildgust, 2019)
Lebih lanjut, Kua dan Ng (2021) memandang penyakit ini sebagai disfungsi integratif otak yang memengaruhi harmonisasi antara pikiran dan tindakan, yang sering kali menuntut pendekatan intervensi holistik pada komunitas Asia. Berdasarkan hal tersebut, integrasi keluarga memegang peranan krusial. (Kua & Ng, 2021)
Sejalan dengan hal tersebut, Shinfuku (2020) menguraikan gangguan ini sebagai kondisi psikiatrik kronis dengan karakteristik hendaya berat pada realitas ego, yang memerlukan integrasi terapi farmakologis dan dukungan keluarga. Alhasil, kesembuhan klinis sangat bergantung pada kepatuhan regimen obat. (Shinfuku, 2020)
Selanjutnya, Uchimura (2018) mengidentifikasi skizofrenia sebagai gangguan disosiasi proses berpikir yang merusak keselarasan persepsi internal dengan lingkungan eksternal pasien. Dampaknya, modifikasi lingkungan menjadi langkah penting untuk menekan stimulasi berlebih. (Uchimura, 2018)
Kemudian, Lee dan Chong (2022) merumuskan kelainan ini sebagai sindrom gangguan kognitif global yang memicu kegagalan adaptasi sosial akibat malfungsi neurotransmiter kortikal. Oleh karena situasi itu, rehabilitasi kognitif menjadi rekomendasi utama dalam proses pemulihan. (Lee & Chong, 2022)
Definisi Pakar Indonesia
Maramis dan Maramis (2014) mendeskripsikan skizofrenia sebagai suatu psikosis fungsional dengan gangguan utama pada eksistensi kendali diri, proses berpikir, alam perasaan, serta perilaku. Konsekuensinya, manifestasi ini mendasari disintegrasi kepribadian secara menyeluruh. (Maramis & Maramis, 2014)
Lalu, Yusuf, Fitryasari, dan Nihayati (2015) mengartikan gangguan ini sebagai penyakit manifestasi klinis neurobiologis yang kompleks, yang mana pasien mengalami penurunan kemampuan berkomunikasi dan penarikan diri dari realitas. Lantaran hal itu, penanganan keperawatan berfokus pada pemulihan komunikasi. (Yusuf et al., 2015)
Selain itu, Suryani (2019) menetapkan kondisi ini sebagai disintegrasi kepribadian yang memicu distorsi persepsi sensori serta kekacauan pola pikir, yang sangat membutuhkan pemulihan berbasis psikoreligius dan medis. Karenanya, integrasi nilai spiritual mampu mempercepat kestabilan emosi. (Suryani, 2019)
Seiring dengan itu, Keliat et al. (2019) mengonseptualisasikan skizofrenia sebagai sindrom respons neurobiologis maladatif yang merusak fungsi peran, kemandirian, dan interaksi sosial pasien secara destruktif. Maka, pemulihan memfokuskan pada peningkatan kemandirian harian. (Keliat et al., 2019)
Akhirnya, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI (2023) merumuskan gangguan ini sebagai masalah kesehatan jiwa kronis dengan distorsi khas pada pikiran, persepsi, dan emosi yang tidak sejalan dengan realitas objektif. Oleh karena itu, standardisasi klinis perlu demi penanganan yang merata. (Kementerian Kesehatan RI, 2023)
2. Etiologi Terjadinya Gangguan
Etiologi gangguan bersifat multifaktorial, yang melibatkan interaksi kompleks antara berbagai elemen biologis, struktural, hingga lingkungan sosial individu.
Faktor Genetik dan Biokimia
Faktor genetik memegang risiko tertinggi, yang mana memiliki satu orang tua dengan kondisi ini meningkatkan risiko hingga 10%, sedangkan jika kedua orang tua mengalaminya, risiko melonjak menjadi 40%. Selain itu, faktor biokimia melalui hipotesis dopamin menjelaskan bahwa aktivitas berlebih pada jalur mesolimbik memicu gejala positif. Sebaliknya, penurunan dopamin pada jalur mesokortikal mendasari timbulnya gejala negatif. (Stahl, 2020, Sadock et al., 2021)
Faktor Neuroanatomi dan Lingkungan
Faktor neuroanatomi menunjukkan adanya perubahan struktural berupa pelebaran ventrikel otak lateral serta atrofi pada lobus temporalis dan hipokampus. Sementara itu, faktor lingkungan dan prenatal ikut memicu, seperti paparan infeksi virus saat janin dalam kandungan, komplikasi obstetrik berupa hipoksia janin, hingga tingkat stres lingkungan yang mengaktivasi kerentanan genetik awal. (Yusuf et al., 2015, Keliat et al., 2019)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Gangguan Otak
Secara patofisiologis, kondisi ini berakar dari kegagalan perkembangan saraf. Hambatan migrasi neuron pada masa prenatal memicu salah sambung pada sirkuit sinap kortikal. Ketika individu memasuki masa remaja, terjadi proses pemangkasan sinaps yang berlebihan pada korteks prefrontalis. Ketidakseimbangan neurobiologis ini memicu hipofungsi reseptor NMDA (glutamat), yang selanjutnya menyebabkan hilangnya kendali terhadap neuron dopaminergik. (Stahl, 2020, Maramis & Maramis, 2014)
Dampak Jalur Neurotransmiter
Hiperaktivitas dopamin pada sistem mesolimbik menciptakan distorsi persepsi tanpa stimulus eksternal (halusinasi) dan keyakinan palsu yang kokoh (waham). Sebaliknya, hipoaktivitas dopamin pada area prefrontal menyebabkan hilangnya motivasi, afek datar, dan penarikan diri secara sosial. Rentetan disfungsi neurobiologis inilah yang mendasari munculnya masalah keperawatan utama pada bagan penyimpangan KDM pasien. (Stahl, 2020, Yusuf et al., 2015)
4. Manifestasi Klinis Skizofrenia
Karakteristik Gejala Subjektif
Pasien menyatakan mendengar suara-suara bisikan, melihat bayangan, atau merasakan sesuatu yang tidak nyata pada lingkungannya. Oleh karena itu, harus melakukan penilaian terhadap keluhan sensorik secara saksama. Pasien juga mengungkapkan keyakinan yang tidak rasional, merasa tidak aman, cemas, atau merasa bahwa pikirannya terkendalikan oleh kekuatan luar secara konstan. (Keliat et al., 2019, Sadock et al., 2021)
Karakteristik Gejala Objektif
Pasien tampak berbicara atau tertawa sendiri tanpa stimulus, serta pandangan matanya sering beralih ke arah tertentu secara mendadak. Selain itu, sikap pasien tampak curiga, waspada, atau menunjukkan perilaku bermusuhan. Pembicaraan pasien mengalami disorganisasi parah, afek tampak datar, serta penampilan fisik tampak kotor akibat penurunan motivasi perawatan diri. (Videbeck, 2020, Maramis & Maramis, 2014)
5. Pemeriksaan Penunjang
Evaluasi Laboratorium dan Radiologi
Pemeriksaan penunjang bertujuan utama mengeksklusi adanya kelainan organik lain.Oleh karena itu, melakukan skrining toksikologi urine untuk mendeteksi intoksikasi zat amfetamin atau kanabis yang bisa memicu psikosis. Sementara itu, pemeriksaan radiologi berupa CT-Scan atau MRI kepala juga perlu guna untuk menyingkirkan adanya tumor otak atau stroke yang menunjukkan gejala serupa. (Sadock et al., 2021)
Evaluasi Fungsional dan Psikometrik
Pemeriksaan Positron Emission Tomography (PET) memperlihatkan penurunan metabolisme glukosa pada lobus prefrontalis. Selanjutnya, Elektroensefalografi (EEG) berfungsi mengeksklusi epilepsi lobus temporalis. Sebagai tambahan, melakukan uji psikometrik seperti PANSS (Positive and Negative Syndrome Scale) guna mengevaluasi derajat keparahan gejala positif dan negatif secara berkala. (Stahl, 2020, Videbeck, 2020)
6. Penatalaksanaan Medis
Pendekatan Terapi Farmakologis
Penggunaan obat antipsikotik menjadi pilar utama pengobatan. Antipsikotik tipikal (generasi pertama) seperti Haloperidol bekerja memblokir reseptor dopamin D2 untuk mengatasi gejala positif, namun berisiko tinggi memicu efek samping ekstrapiramidal. Sementara itu, antipsikotik atipikal (generasi kedua) seperti Risperidon dan Olanzapin memblokir reseptor dopamin dan serotonin dengan risiko efek samping motorik yang lebih rendah. (Stahl, 2020)
Pendekatan Terapi Non-Farmakologis
Terapi Perilaku Kognitif (CBT) membantu pasien mengenali dan mengelola pikiran yang terdistorsi serta suara halusinasi. Selain itu, menerapkan terapi psikoedukasi keluarga untuk menurunkan tingkat Expressed Emotion dalam rumah tangga guna mencegah kekambuhan. Akhirnya, dapat pula menjalankan rehabilitasi psikososial dan latihan keterampilan sosial agar pasien dapat kembali produktif masyarakat. (Sadock et al., 2021, Keliat et al., 2019)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Komponen Identitas dan Riwayat
Pengkajian meliputi nama, umur (onset umumnya usia remaja akhir hingga dewasa awal), pekerjaan, dan status perkawinan. Riwayat kesehatan menggali keluhan utama seperti mengamuk atau menarik diri, riwayat penyakit sekarang terkait stresor psikososial, riwayat penyakit dahulu mengenai gangguan jiwa sebelumnya atau trauma kepala, serta riwayat genogram keluarga. (Yusuf et al., 2015, Keliat et al., 2019)
Komponen Pemeriksaan Fisik
Memfokuskan pemeriksaan fisik pada Sistem Saraf Pusat untuk mengidentifikasi adanya tremor, rigiditas, atau akatisia akibat efek samping obat antipsikotik. Memeriksa pula sistem Kardiovaskular untuk mendeteksi hipotensi ortostatik. Selanjutnya, Mengevaluasi sistem Pencernaan terkait risiko konstipasi akibat efek antikolinergik, sementara Sistem Integumen dinilai untuk melihat kebersihan diri serta mendeteksi tanda trauma fisik. (Yusuf et al., 2015)
Komponen Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi kesehatan menunjukkan pasien biasanya tidak menyadari penyakitnya. Pola nutrisi terganggu akibat efek samping obat, sedangkan pola eliminasi terhambat oleh konstipasi atau penurunan kesadaran. Pola istirahat sering terganggu insomnia akibat halusinasi malam hari. Pola kognitif didominasi distorsi sensorik, sedangkan pola konsep diri diwarnai harga diri rendah kronis. (Videbeck, 2020, Yusuf et al., 2015)
2. Diagnosis Keperawatan Berdasarkan Prioritas
Diagnosis Prioritas 1 – 5
- Risiko Perilaku Kekerasan (D.0146)
- Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)
- Waham (D.0105)
- Isolasi Sosial (D.0121)
- Defisit Perawatan Diri (D.0109)
Diagnosis Prioritas 6 – 10
- Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Ketidakpatuhan (D.0114)
- Regresi Peningkatan Proses Keluarga (D.0123)
(Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 2017)
3. Perencanaan Keperawatan (Intervensi)
Rencana Intervensi Diagnosis 1 – 3
Risiko Perilaku Kekerasan (D.0146)
- Luaran Utama (SLKI): Kontrol Diri (L.09076) meningkat. Kriteria hasil: Perilaku menyerang menurun, perilaku melukai orang lain menurun, verbalisasi ancaman menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Pencegahan Perilaku Kekerasan (I.14544)
- Observasi: Monitor tanda-tanda memicu perilaku kekerasan (suara tinggi, ketegangan motorik).
- Terapeutik: Pertahankan lingkungan yang aman dan rendah stimulus.
- Edukasi: Latih mengendalikan amarah secara fisik (tarik napas dalam, pukul bantal) dan verbal.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antipsikotik.
Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)
- Luaran Utama (SLKI): Persepsi Sensori (L.09083) membaik. Kriteria hasil: Verbalisasi mendengar bisikan menurun, perilaku bicara sendiri menurun, respons sesuai stimulus membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Halusinasi (I.09288)
- Observasi: Monitor isi, waktu, frekuensi, dan pemicu halusinasi.
- Terapeutik: Diskusikan halusinasi tanpa memvalidasi atau menentang keyakinannya.
- Edukasi: Ajarkan cara menghardik halusinasi, mengalihkan aktivitas, dan patuh obat.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian agen antipsikotik.
Gangguan Proses Pikir (D.0105)
- Luaran Utama (SLKI): Proses Pikir (L.09078) membaik. Kriteria hasil: Verbalisasi waham menurun, orientasi realitas membaik, perilaku sesuai realitas meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Waham (I.09295)
- Observasi: Monitor isi waham dan intensitas kemunculannya.
- Terapeutik: Fokus pada perasaan yang mendasari waham, jangan mendebat isi waham.
- Edukasi: Ajarkan cara memenuhi kebutuhan dasar yang terganggu akibat waham.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat psikofarmaka.
Rencana Intervensi Diagnosis 4 – 6
Isolasi Sosial (D.0121)
- Luaran Utama (SLKI): Keterlibatan Sosial (L.13116) meningkat. Kriteria hasil: Minat berinteraksi meningkat, menarik diri menurun, kontak mata membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Sosialisasi (I.13498)
- Observasi: Identifikasi hambatan berinteraksi dengan orang lain.
- Terapeutik: Berikan kesempatan bagi pasien untuk berinteraksi secara bertahap.
- Edukasi: Ajarkan pasien cara berkenalan dan berinteraksi secara bertahap.
Defisit Perawatan Diri (D.0109)
- Luaran Utama (SLKI): Perawatan Diri (L.11103) meningkat. Kriteria hasil: Kemampuan mandi mandiri meningkat, kebersihan badan membaik, minat melakukan perawatan diri meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
- Observasi: Monitor tingkat kemandirian pasien dalam merawat diri.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan terapeutik dan perlengkapan mandi pribadi.
- Edukasi: Ajarkan langkah perawatan diri secara bertahap dan buat jadwal harian.
Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)
- Luaran Utama (SLKI): Harga Diri (L.09069) meningkat. Kriteria hasil: Verbalisasi penerimaan diri meningkat, penilaian diri positif meningkat, percaya diri membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Harga Diri (I.09308)
- Observasi: Identifikasi aspek positif dan kemampuan yang masih dimiliki.
- Terapeutik: Berikan pujian realistis terhadap pencapaian pasien.
- Edukasi: Latih pasien melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan yang dipilih.
Rencana Intervensi Diagnosis 7 – 10
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Utama (SLKI): Pola Tidur (L.05045) membaik. Kriteria hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, kesegaran setelah tidur meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas, tidur, dan faktor pengganggu.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan (redupkan lampu, minimalkan kebisingan).
- Edukasi: Ajarkan teknik relaksasi otot atau napas dalam sebelum tidur.
Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran Utama (SLKI): Status Koping (L.09086) membaik. Kriteria hasil: Kemampuan mengatasi masalah meningkat, perilaku koping adaptif meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Koping (I.09312)
- Observasi: Identifikasi metode koping yang biasa digunakan pasien.
- Terapeutik: Bantu pasien mengidentifikasi strategi koping konstruktif baru.
- Edukasi: Latih keterampilan penyelesaian masalah secara bertahap.
Ketidakpatuhan (D.0114)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Kepatuhan (L.12110) meningkat. Kriteria hasil: Perilaku mengikuti program pengobatan meningkat, tanda/gejala penyakit menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Fasilitasi Kepatuhan Program Pengobatan (I.12377)
- Observasi: Identifikasi penyebab utama ketidakpatuhan minum obat.
- Terapeutik: Libatkan sistem pendukung keluarga sebagai pengawas minum obat.
- Edukasi: Informasikan manfaat pengobatan dan konsekuensi penghentian terapi.
Regresi Proses Keluarga (D.0123)
- Luaran Utama (SLKI): Proses Keluarga (L.13123) membaik. Kriteria hasil: Kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan anggota meningkat, adaptasi terhadap situasi membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Proses Keluarga (I.13476)
- Observasi: Identifikasi tipe koping dan beban psikososial keluarga.
- Terapeutik: Fasilitasi keluarga mengeksplorasi perasaan tertekan mereka.
- Edukasi: Berikan psikoedukasi cara merawat pasien dan tanda kekambuhan.
(Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 2017, Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 2018, Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 2019)
4. Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan jiwa berfokus pada penerapan Strategi Pelaksanaan tindakan keperawatan yang terstruktur secara adaptif bagi masing-masing diagnosis.
Strategi Komunikasi Terapeutik
Perawat menerapkan pendekatan komunikasi terapeutik yang konsisten untuk membangun hubungan saling percaya dengan pasien yang mengalami distorsi realitas. Selain itu, pelaksanaan tindakan mencakup pemantauan ketat terhadap respons perilaku setelah stimulus lingkungan dikurangi. Dokumentasi diintegrasikan secara berkala meliputi pencatatan efek samping obat kedokteran yang muncul selama fase akut perawatan. (Keliat et al., 2019)
Keterlibatan dan Edukasi Lingkungan
Perawat memfasilitasi sesi latihan asertif dan peningkatan kemampuan perawatan diri sesuai jadwal harian pasien. Sementara itu, mengoptimalkan edukasi kelompok dan pelibatan keluarga guna mempersiapkan fase pemulangan pasien. Melalui kolaborasi multi-disiplin, implementasi dapat dikembangkan untuk mengembalikan fungsi adaptif secara bertahap agar pasien mampu berinteraksi tanpa memicu kecemasan berlebih. (Yusuf et al., 2015)
5. Pencatatan Perkembangan Evaluasi
Mengevaluasi pencatatan perkembangan asuhan keperawatan menggunakan pendekatan komprehensif formatif dan sumatif secara sistematis.
Struktur Evaluasi SOAP
Melakukan evaluasi menggunakan format SOAP, yang mana data subjektif merekam respons lisan pasien terkait penurunan intensitas gejalanya. Selanjutnya, data objektif mendokumentasikan perubahan perilaku nyata dan kemampuan adaptif yang berhasil dipraktikkan pasien. Analisis difokuskan untuk menilai tingkat keberhasilan intervensi berdasarkan indikator luaran, sedangkan perencanaan menentukan keberlanjutan tindakan. (Yusuf et al., 2015, Keliat et al., 2019)
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Keliat, B. A., Helena, N., & Farida, P. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2014). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Edisi 2). Surabaya: Airlangga University Press.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.
Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2021). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry (12th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.
Stahl, S. M. (2020). Stahl’s Essential Psychopharmacology (5th ed.). Cambridge: Cambridge University Press.
Videbeck, S. L. (2020). Psychiatric-Mental Health Nursing (8th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.
Yusuf, A., Fitryasari, R., & Nihayati, H. E. (2015). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.
Jurnal
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). psychiatryonline.org/doi/book/10.1176/appi.books.9780890425596
Chen, E. Y. H., & Wildgust, H. J. (2019). Schizophrenia pathways in Asian populations. Asian J Psychiatr, 45, 112-118. sciencedirect.com/science/article/pii/S187620181930214X
Kua, E. H., & Ng, T. P. (2021). Mental health trends in South-East Asia. Singapore Med J, 62(4), 175-180. smj.org.sg/article/mental-health-trends-and-holistic-psychiatry
Lee, J., & Chong, S. A. (2022). Neurocognitive profiles in Asian patients. Lancet Psychiatry, 9(3), 241-252. thelancet.com/journals/lanpsy/article/PIIS2215-0366(22)00012-3
Suryani, S. (2019). Pengalaman merawat ODS melalui pendekatan psikoreligius. J Keperawatan Padjadjaran, 7(2), 145-154. jkp.fkep.unpad.ac.id/index.php/jkp/article/view/1204
World Health Organization. (2022). Schizophrenia fact sheet. who.int/news-room/fact-sheets/detail/schizophrenia

Tinggalkan Balasan