WAHAM (D.0105)

WAHAM (D.0105)

by

in

DIAGNOSA WAHAM (D.0105)

A. Definisi 

  1. PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia): Keyakinan yang salah pada isi pikiran yang dipertahankan secara kuat dan terus-menerus serta tidak sesuai dengan kenyataan.
  2. Gail W. Stuart: Suatu keyakinan yang salah dan dipertahankan secara kuat, yang tidak dapat dikoreksi dengan proses penalaran serta tidak konsisten dengan latar belakang budaya atau agama individu tersebut.
  3. Mary C. Townsend: Penilaian palsu yang bersifat menetap dan tidak dapat diubah meskipun terdapat bukti yang jelas bahwa hal tersebut salah, seringkali muncul sebagai kompensasi atas perasaan rendah diri atau ketidakberdayaan.
  4. Kaplan & Sadock: Gangguan isi pikir yang melibatkan keyakinan yang tetap dan salah, yang bukan merupakan bagian dari tradisi agama atau budaya tertentu dan tidak dapat dihilangkan melalui bukti objektif.
  5. Sheila L. Videbeck: Gangguan pada proses berpikir di mana individu memiliki keyakinan yang tidak realistis dan tidak logis, sering kali mengakibatkan gangguan pada interaksi sosial dan kemampuan untuk berfungsi secara efektif.

B. Definisi Ilmiah

Waham merupakan gangguan isi pikir yang ditandai dengan keyakinan yang salah, bersifat tetap, dan dipertahankan secara kuat meskipun terdapat bukti objektif yang bertentangan. Keyakinan ini tidak sesuai dengan latar belakang budaya, pendidikan, maupun agama individu tersebut. Secara klinis, waham mencerminkan adanya disfungsi pada proses kognitif dan integritas ego dalam mempersepsikan realitas.

C. Etiologi dan Faktor Risiko

Terjadinya waham dipengaruhi oleh interaksi kompleks faktor biologis dan psikososial:

  1. Faktor Biologis: Adanya disregulasi neurotransmiter (terutama dopamin pada jalur mesolimbik) serta kelainan neurologis pada sistem limbik, ganglia basalis, atau lobus frontal yang mengatur fungsi kognitif dan emosi.
  2. Faktor Psikodinamik: Mekanisme pertahanan diri (ego) yang maladaptif terhadap kecemasan berat, kegagalan pemenuhan kebutuhan dasar, atau pengalaman traumatik yang menyebabkan individu menarik diri dari realitas.
  3. Faktor Lingkungan: Stresor psikososial yang intens, isolasi sosial berkepanjangan, dan rendahnya sistem pendukung sosial.

D. Manifestasi Klinis (tanda dan gejala)

Berdasarkan indikator diagnostik, tanda dan gejala yang muncul meliputi:

Tanda dan Gejala Mayor

Subjektif:

  • Mengungkapkan isi waham (keyakinan yang salah).

Objektif:

  • Menunjukkan perilaku sesuai isi waham.
  • Isi pikiran tidak sesuai dengan realitas.
  • Isi pembicaraan sulit dimengerti.

Tanda dan Gejala Minor

Subjektif:

  • Merasa sulit berkonsentrasi.
  • Merasa khawatir atau curiga berlebihan.

Objektif:

  • Waspada berlebihan (vigilance).
  • Sikap curiga.
  • Menarik diri secara sosial.
  • Iritabilitas (mudah marah).
  • Aktivitas motorik tidak relevan dengan situasi.
  • Ekspresi wajah tegang atau datar.

E. Kondisi Klinis Terkait 

  1. Skizofrenia.
  2. Gangguan skizoafektif.
  3. Gangguan waham (Delusional disorder).
  4. Psikosis reaktif singkat.
  5. Gangguan bipolar (fase manik dengan fitur psikotik).
  6. Depresi berat dengan fitur psikotik.
  7. Demensia (mis. Alzheimer, Demensia Vaskular).
  8. Delirium.
  9. Penyalahgunaan zat atau alkohol (Substance-induced psychotic disorder).
  10. Kondisi medis umum (mis. tumor otak, epilepsi lobus temporal, stroke).
  11. Gangguan kepribadian (mis. kepribadian paranoid atau skizotipal).
  12. Penyakit Parkinson.

F. Luaran Keperawatan

Tujuan asuhan keperawatan berfokus pada Status Orientasi Membaik (L.09090) dengan kriteria hasil:

  1. Frekuensi verbalisasi waham menurun.
  2. Perilaku maladaptif terkait waham berkurang.
  3. Isi pikir dan perilaku menunjukkan kesesuaian dengan realitas.
  4. Kemampuan komunikasi verbal meningkat dan lebih koheren.

G. Intervensi Keperawatan Utama

  1. Manajemen Waham (I.09295)
  • Observasi: Mengidentifikasi isi waham, terutama yang berisiko mencederai diri sendiri atau orang lain.
  • Terapeutik: Membangun hubungan saling percaya (therapeutic alliance), menghindari perdebatan mengenai keyakinan pasien, namun tetap menyatakan keraguan secara halus berdasarkan fakta tanpa menghakimi.
  • Edukasi: Melatih pasien untuk melakukan uji realitas (reality testing) dengan memvalidasi pikiran kepada orang yang dipercaya.

2. Orientasi Realita (I.09297)

  • Memberikan stimulus secara konsisten mengenai identitas diri, waktu, dan tempat.
  • Melibatkan pasien dalam Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) untuk meningkatkan interaksi sosial dan persepsi realitas yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association (APA). (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Association Publishing.

Kaplan, B. J., & Sadock, V. A. (2017). Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. Philadelphia: Wolters Kluwer.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Stuart, G. W. (2016). Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart (Edisi Indonesia). Singapore: Elsevier.

Townsend, M. C., & Morgan, K. I. (2018). Pocket Guide to Psychiatric Nursing (10th ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company.

Videbeck, S. L. (2020). Psychiatric-Mental Health Nursing (8th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.