KONSEP MEDIS PADA SCIATICA

Sciatica adalah nyeri yang menjalar dari punggung bawah ke kaki akibat kompresi saraf iskiadikus, yang sering menimbulkan kebas dan kelemahan motorik.

A. Konsep Medis Sciatica

1. Definisi Penyakit Sciatica

Definisi Dari Pakar Internasional

Ropper dan Zafonte (2015) mengartikan gangguan ini sebagai sindrom nyeri radikuler yang timbul akibat kompresi atau iritasi pada satu atau lebih akar saraf lumbosakral yang membentuk saraf iskiadikus. (Ropper & Zafonte, 2015)

Selanjutnya, Jensen dkk. (2019) menegaskan bahwa kondisi klinis dari radikulopati lumbar ini paling sering dipicu oleh herniasi diskus intervertebralis pada tingkat L4-L5 atau L5-S1. (Jensen et al., 2019)

Sementara itu, Valat dkk. (2010) menggambarkan keluhan tersebut sebagai kondisi nyeri intermiten atau persisten yang menjalar sepanjang jalur anatomis saraf, serta seringkali serta dengan parestesia. (Valat et al., 2010)

Selain itu, Koes dkk. (2007) mendefinisikan keluhan ini sebagai rasa nyeri radikuler yang khas pada area tungkai bawah, yang mana intensitas nyeri pada kaki biasanya melebihi tingkat keparahan area punggung. (Koes et al., 2007)

Kemudian, Brummett dan Cohen (2011) menjelaskan fenomena tersebut sebagai bentuk neuropati kompresif periferal terbesar yang melibatkan pleksus lumbosakral sehingga menyebabkan gangguan konduksi saraf sensorik maupun motorik. (Brummett & Cohen, 2011)

Definisi Pakar Asia

Kim dkk. (2018) mendefinisikan keluhan ini sebagai nyeri radikuler unilateral yang terjadi akibat penekanan mekanis dan proses inflamasi kimiawi pada akar saraf spinal pada area lumbosakral. (Kim et al., 2018)

Lebih lanjut, Park dkk. (2020) merumuskan kondisi tersebut sebagai sekumpulan gejala nyeri neurologis kaki yang secara signifikan menurunkan kualitas hidup akibat penyempitan kanalis spinalis atau foraminal lumbar. (Park et al., 2020)

Oleh karena itu, Takahashi dkk. (2014) mengidentifikasi gangguan sensorik dan motorik tungkai bawah ini berkorelasi erat dengan degenerasi diskus intervertebralis pada populasi usia produktif hingga lansia. (Takahashi et al., 2014)

Sejalan dengan hal tersebut, Guo dkk. (2022) mengarakterisasi kondisi patologis ini sebagai nyeri neuropatik yang menjalar dari bokong hingga ke bawah lutut akibat jepitan saraf secara spinal maupun ekstraspinalis. (Guo et al., 2022)

Sebagai tambahan, Dhillon dkk. (2017) mendeskripsikan sindrom ini sebagai nyeri menjalar yang ekstrem sepanjang distribusi dermatom saraf utama, yang sering muncul oleh aktivitas fisik berat atau postur tubuh yang buruk. (Dhillon et al., 2017)

Definisi Pakar Indonesia

Pinzon (2012) menjelaskan gangguan kompresi ini sebagai nyeri yang terasa menjalar sepanjang jalannya nervus iskiadikus dan merupakan perwujudan dari gangguan mekanik atau inflamasi pada radiks saraf spinal. (Pinzon, 2012)

Secara serupa, Anwar (2018) mengartikan masalah ini sebagai keluhan nyeri radikuler bawah yang muncul oleh herniasi nukleus pulposus (HNP), yang menjepit akar saraf L5 atau S1 pada daerah pinggang. (Anwar, 2018)

Meskipun demikian, Sidharta (2010) mendefinisikan isialgia sebagai sindrom nyeri tungkai yang penyebabnya oleh iritasi nervus, baik berupa isialgia radikuler karena lesi radiks spinal maupun isialgia post-radikuler. (Sidharta, 2010)

Dengan demikian, Meliala (2014) mendeskripsikan kondisi ini sebagai manifestasi nyeri neuropatik perifer lumbosakral yang ditandai dengan sensasi terbakar, tersetrum, atau baal yang mengikuti jalur dermatom spesifik. (Meliala, 2014)

Akhirnya, Purwanto (2021) mengemukakan bahwa keluhan ini adalah nyeri pinggang bawah yang menjalar ke bokong, paha belakang, betis, hingga telapak kaki akibat penekanan struktur tulang terhadap saraf utama tungkai. (Purwanto, 2021)

2. Etiologi Gangguan Sciatica

Penyebab utama dari timbulnya penekanan akar saraf ini bervariasi. Akibatnya, terjadi trauma mekanis langsung. Faktor tersering meliputi Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) yang menonjol dan menekan radiks saraf spinal. (Ropper & Zafonte, 2015)

Selanjutnya, Stenosis Kanalis Spinalis Lumbar memicu penyempitan saluran saraf akibat proses degeneratif. Selain itu, Spondilolistesis atau pergeseran korpus vertebra juga turut meregangkan akar saraf lumbosakral secara progresif. (Koes et al., 2007)

Selain itu, Sindrom Piriformis dapat menjepit saraf pada luar kanalis spinalis saat melewati muskulus piriformis. Oleh karena itu, penanganan etiologi yang tepat sangat menentukan keberhasilan terapi pasien. (Brummett & Cohen, 2011)

3. Patofisiologi Mekanis Sciatica

Proses terjadinya gangguan ini melibatkan kombinasi kompresi mekanis dan iritasi kimiawi. Akibat adanya herniasi bantalan sendi, radiks saraf mengalami tekanan langsung yang mengganggu mikrosirkulasi intraneural secara sistematis. (Jensen et al., 2019)

Oleh karena itu, timbul iskemia, edema saraf, dan gangguan transportasi aksonal yang berat. Sementara itu, robeknya anulus fibrosus melepaskan mediator inflamasi seperti Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α) dan prostaglandin. (Ropper & Zafonte, 2015)

Zat kimia tersebut mengiritasi ujung saraf nosiseptif sehingga memicu sensitisasi perifer yang menurunkan ambang nyeri. Dampaknya, sinyal nyeri hebat ditransmisikan sepanjang jalur anatomis kaki dari bokong hingga telapak kaki. (Jensen et al., 2019)

4. Penyimpangan KDM Sciatica

Alur Patofisiologi (Pathway)

Faktor Risiko (Degenerasi diskus, trauma, postur buruk, obesitas)

       │

       ▼

Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) / Stenosis Spinalis

       │

       ├──────────────────────────────────────────────┐

       ▼                                              ▼

Kompresi Mekanis pada Radiks Saraf (L4-S1)     Pelepasan Mediator Kimia (TNF-α, IL-1)

       │                                              │

Iskemia & Edema Intraneural                    Iritasi Kimiawi Radiks Saraf

       │                                              │

       └──────────────────────┬───────────────────────┘

                              ▼

                Iritasi Nervus Iskiadikus

                              │

       ┌──────────────────────┼────────────────────────────────────────┐

       ▼                      ▼                                        ▼

Nyeri Radikuler Hebat   Kerusakan Transmisi Motorik             Ketidaknyamanan saat bergerak

(Bokong, Paha, Betis)         │                                        │

       │                      ▼                                        ▼

   Nyeri Akut          Kelemahan Otot Ekstremitas Bawah        Keterbatasan Mobilitas Fisik

                              │                                        │

                              ▼                                        ▼

                       Risiko Cedera                           Gangguan Pola Tidur

5. Manifestasi Klinis Sciatica

a. Data Subjektif

Pasien mengekspresikan keluhan nyeri radikuler yang terasa tajam, menusuk, atau seperti tersengat listrik dari bokong hingga betis. Kemunculan sensasi parestesia berupa kesemutan atau mati rasa juga sering dikeluhkan. (Koes et al., 2007)

Lebih lanjut, pasien merasakan nyeri yang memburuk saat batuk, bersin, atau duduk terlalu lama. Keluhan kelemahan otot tungkai bawah saat berjalan atau mengangkat kaki seringkali memperberat aktivitas harian. (Pinzon, 2012)

b. Data Objektif

Pemeriksaan fisik menunjukkan hasil positif pada uji Straight Leg Raise (SLR) atau Laseque pada sudut kurang dari 70 derajat. Selain itu, uji Bragard dan Sicard juga mengonfirmasi adanya keterlibatan radiks saraf. (Sidharta, 2010)

Secara klinis, tampak penurunan refleks tendon dalam seperti refleks Achilles (S1) atau refleks patela (L4). Ditemukan pula adanya penurunan kekuatan otot (paresis) pada dorsofleksi pergelangan kaki atau atrofi otot. (Ropper & Zafonte, 2015)

6. Pemeriksaan Penunjang Sciatica

Diagnostic Testing Lumbal

Pemeriksaan laboratorium meliputi Darah Lengkap, LED, dan CRP yang dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding infeksi atau keganasan. Pemeriksaan radiologi utama menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) lumbal sebagai standar baku emas. (Valat et al., 2010)

Secara visual, MRI memperlihatkan lokasi herniasi diskus dan derajat kompresi saraf. Alternatifnya, Foto Polos Vertebra lumbosakral digunakan untuk mengevaluasi struktur tulang, sedangkan Elektromiografi (EMG) dilakukan guna menilai fungsi konduksi motorik. (Anwar, 2018)

7. Penatalaksanaan Medis Sciatica

Tatalaksana Farmakoterapi

Terapi farmakologis berfokus pada peredaan nyeri dan inflamasi melalui pemberian NSAID seperti Ibuprofen atau Natrium Diklofenak. Selanjutnya, analgetik adjuvan seperti Gabapentin atau Pregabalin diresepkan untuk mengatasi komponen nyeri neuropatik. (Koes et al., 2007)

Oleh karena itu, obat golongan muscle relaxant seperti Eperisone digunakan untuk mengurangi spasme otot paravertebra. Injeksi steroid epidural dapat dipertimbangkan pada kasus nyeri radikuler berat yang refrakter terhadap obat oral. (Ropper & Zafonte, 2015)

Tatalaksana Non-Farmakoterapi

Terapi non-farmakologis meliputi modifikasi aktivitas dengan menghindari tirah baring lama agar sirkulasi tetap terjaga. Pasien disarankan mengikuti fisioterapi berupa aplikasi TENS dan latihan penguatan otot inti tubuh secara bertahap. (Jensen et al., 2019)

Di samping itu, edukasi mengenai mekanika tubuh yang ergonomis sangat penting diterapkan. Tindakan bedah seperti mikrodisektomi baru diindikasikan jika terapi konservatif gagal atau timbul defisit motorik progresif yang mengancam. (Pinzon, 2012)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Komponen Pengkajian Dasar

Pengkajian identitas pasien mencakup usia dan pekerjaan yang melibatkan beban fisik berat. Riwayat kesehatan berfokus pada karakteristik nyeri PQRST untuk mengidentifikasi tingkat keparahan penekanan saraf secara akurat sepanjang tungkai bawah. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

Selanjutnya, pengkajian pola fungsi kesehatan Gordon mengevaluasi dampak nyeri terhadap pemenuhan kebutuhan harian. Pola aktivitas, pola istirahat tidur, hingga pola eliminasi menjadi area yang paling sering mengalami gangguan fungsional nyata. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

Pemeriksaan Fisik Sistemik

Inspeksi menunjukkan adanya asimetri postur tubuh atau skoliosis kompensatorik saat berdiri. Palpasi pada area lumbal dan bokong memicu nyeri tekan serta ketegangan otot paravertebra (spasme) yang membatasi lingkup gerak sendi. (Sidharta, 2010)

Sementara itu, pemeriksaan perkusi pada tendon patela dan Achilles mendeteksi adanya penurunan respon refleks neurologis. Auskultasi sistem kardiovaskular dan paru dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada komplikasi sistemik lain. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

2. Diagnosis Keperawatan

Daftar Diagnosis Prioritas 1-5

Daftar Diagnosis Prioritas 6-10

3. Perencanaan Intervensi 1-4

Rencana Diagnosisi Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
    • Keluhan nyeri menurun (skala 1-3)
    • Meringis menurun
    • Sikap protektif menurun
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri.
    • Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. kompres hangat/dingin pada area lumbal).
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan strategi meredakan nyeri secara mandiri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau adjuvan sesuai program medis. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Rencana Diagnosis Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)

  • Luaran (SLKI): Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042)
    • Pergerakan ekstremitas meningkat
    • Kekuatan otot meningkat
    • Rentang gerak (ROM) meningkat
  • Intervensi (SIKI): Dukungan Mobilisasi (I.05173)
    • Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya, monitor toleransi fisik melakukan pergerakan.
    • Terapeutik: Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu, libatkan keluarga untuk membantu pasien meningkatkan pergerakan.
    • Edukasi: Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis. mengubah posisi dengan teknik logrolling). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Rencana Diagnosis Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Keluhan sulit tidur menurun
    • Keluhan istirahat tidak cukup menurun
  • Intervensi (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur, monitor faktor pengganggu tidur (nyeri radikuler).
    • Terapeutik: Atur posisi tidur yang nyaman (mis. posisi berbaring menyamping dengan bantal di antara kedua lutut).
    • Edukasi: Ajarkan teknik relaksasi otot autogenik atau cara non-farmakologis sebelum tidur. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Rencana Diagnosis Risiko Cedera (D.0136)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
    • Kejadian cedera menurun
    • Ketegangan otot menurun
  • Intervensi (SIKI): Pencegahan Cedera (I.14537)
    • Observasi: Identifikasi area lingkungan yang berpotensi menyebabkan cedera, monitor perubahan fungsi motorik.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman (lantai tidak licin), pastikan bel tempat tidur mudah dijangkau.
    • Edukasi: Anjurkan menggunakan alas kaki anti-selip dan selalu meminta bantuan saat mobilitas. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

4. Perencanaan Intervensi 5-7

Rencana Diagnosis Defisit Perawatan Diri (D.0109)

  • Luaran (SLKI): Perawatan Diri Meningkat (L.11103)
    • Kemampuan mandi dan mengenakan pakaian meningkat
    • Kemampuan ke toilet meningkat
  • Intervensi (SIKI): Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
    • Observasi: Monitor tingkat kemandirian pasien dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang terapeutik, siapkan keperluan pribadi, fasilitasi kemandirian aktivitas.
    • Edukasi: Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan fisik yang aman. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Rencana Diagnosis Ansietas (D.0080)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Verbalisasi khawatir akibat kondisi menurun
    • Perilaku gelisah menurun
  • Intervensi (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas secara verbal dan non-verbal.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, pahami situasi yang membuat cemas.
    • Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis pemulihan saraf. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Rencana Diagnosis Retensi Urine (D.0050)

  • Luaran (SLKI): Eliminasi Urine Membaik (L.04034)
    • Sensasi berkemih meningkat
    • Volume residu urine menurun
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Retensi Urine (I.04150)
    • Observasi: Monitor eliminasi urine meliputi frekuensi, volume, dan tanda distensi kandung kemih.
    • Terapeutik: Sediakan waktu berkemih yang cukup, lakukan kateterisasi urine sesuai indikasi klinis.
    • Edukasi: Ajarkan tanda gejala retensi urine dan pentingnya segera melapor jika eliminasi terganggu. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

5. Perencanaan Intervensi 8-10

Rencana Diagnosis Konstipasi (D.0049)

  • Luaran (SLKI): Eliminasi Fekal Membaik (L.04033)
    • Kontrol pengeluaran feses meningkat
    • Keluhan defekasi lama dan sulit menurun
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Konstipasi (I.04155)
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala konstipasi (frekuensi, konsistensi feses).
    • Terapeutik: Fasilitasi pemenuhan asupan cairan (minimal 2 liter/hari) dan diit tinggi serat.
    • Edukasi: Anjurkan tidak menahan buang air besar dan hindari mengejan berlebihan (Valsalva maneuver). (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Rencana Diagnosis Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
    • Perilaku sesuai anjuran meningkat
    • Verbalisasi edukasi yang dipahami meningkat
  • Intervensi (SIKI): Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan pasien dalam menerima informasi.
    • Terapeutik: Sediakan materi edukasi tertulis (booklet) mengenai mekanika tubuh yang ergonomis.
    • Edukasi: Ajarkan teknik modifikasi aktivitas harian dan posisi ergonomis saat mengangkat beban. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Rencana Diagnosis Gangguan Integritas Kulit (D.0129)

  • Luaran (SLKI): Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (L.14125)
    • Kerusakan jaringan menurun
    • Nyeri kulit menurun
  • Intervensi (SIKI): Perawatan Integritas Kulit (I.14564)
    • Observasi: Monitor karakteristik kulit pada area yang mengalami kebas atau penurunan sensasi.
    • Terapeutik: Ubah posisi tidur pasien tiap 2 jam (logrolling), jaga kebersihan dan kelembapan kulit.
    • Edukasi: Anjurkan memeriksa area tumit dan bokong berkala guna mendeteksi luka akibat keterbatasan gerak. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

6. Implementasi dan Evaluasi

Tindakan dan Penilaian Asuhan

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan prioritas rencana intervensi SIKI yang telah ditetapkan. Tindakan nyata mencakup pemantauan tingkat nyeri, memfasilitasi posisi tidur yang mengurangi regangan saraf, mengajari mobilisasi aman, serta memberikan edukasi mekanika tubuh demi mencegah cedera berulang. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Evaluasi keperawatan dirumuskan menggunakan format SOAP berdasarkan kriteria hasil SLKI untuk menilai keberhasilan asuhan. Perawat memvalidasi penurunan skala nyeri subjektif, peningkatan kekuatan otot, kemandirian perawatan diri, serta pemahaman pasien terhadap program rehabilitasi fungsional lumbal. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, S. (2018). Konservatif HNP. Jurnal Kedokteran Indonesia, 9(2), 112-120. journal.uii.ac.id/JKKI/article/view/10234

Brummett, C. M., & Cohen, S. P. (2011). Management Options. Pain Medicine, 12(4), 560-573. academic.oup.com/painmedicine/article/12/4/560/1823901

Dhillon, M. S., dkk. (2017). Profile in South Asian. Asian Spine Journal, 11(3), 412-419. asianspinejournal.org/journal/view.php?doi=10.4184/asj.2017.11.3.412

Guo, X., dkk. (2022). Extra-spinal Review. Journal of Orthopaedic Translation, 34, 45-53. e-jot.com/article/S2214-031X(22)00032-4/fulltext

Jensen, R. K., dkk. (2019). Diagnosis and Treatment. The BMJ, 367, l6273. bmj.com/content/367/bmj.l6273

Kim, H. J., dkk. (2018). Pain in East Asia. Journal of Korean Neurosurgical Society, 61(4), 491-498. jkns.or.kr/journal/view.php?doi=10.3340/jkns.2017.0208

Koes, B. W., dkk. (2007). Clinical Guidelines. European Spine Journal, 16(11), 1779-1788. link.springer.com/article/10.1007/s00586-006-0214-2

Meliala, L. (2014). Terapi Rasional Nyeri Neuropatik Perifer. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Park, J. W., dkk. (2020). Intervention in Aging. Spine Surgery Asia, 14(2), 201-209. spinesurgeryasia.org/article/view/2020.14.2.201

Pinzon, R. (2012). Profil Klinis Pasien Isialgia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Purwanto, H. (2021). Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Surakarta: Kekata Publisher.

Ropper, A. H., & Zafonte, R. D. (2015). Clinical Practice. New England Journal of Medicine, 372(13), 1240-1248. nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcp1410151

Sidharta, P. (2010). Neurologi Klinis. Jakarta: PT Dian Rakyat.

Takahashi, N., dkk. (2014). Impact in Japanese. Journal of Orthopaedic Science, 19(4), 543-550. journal-of-orthopaedic-science.com/article/S0949-2658(15)30114-1/fulltext

Tim Pokja SDKI, SLKI, SIKI PPNI. (2017-2019). Standar Asuhan Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *