Nyeri kepala tegang otot merupakan sensasi kaku, berat, atau seperti diikat tali kuat pada seluruh area kepala yang sering timbul akibat stres psikologis berat.
- A. Konsep Medis Tension Headache
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Tension Headache
1. Definisi Penyakit Tension Headache
Definisi Dari Pakar Internasional
International Headache Society (2018) mengklasifikasikan kondisi ini sebagai gangguan sefalgia primer yang memicu sensasi tertekan atau mengikat dengan intensitas ringan hingga sedang pada kedua sisi kepala tanpa adanya gejala mual muntah yang menyertai aktivitas fisik harian.
Selanjutnya, Mayo Clinic(2023) mendeskripsikan ketegangan kepala ini sebagai manifestasi rasa nyeri yang menyerupai pita ketat pada sekeliling dahi akibat kontraksi otot leher dan kulit kepala yang merespons kecemasan berlebih.
Selain itu, Silberstein (2021) mendefinisikan kelainan tersebut sebagai bentuk sakit kepala yang paling umum terjadi secara episodik maupun kronis yang melibatkan hipersensitivitas jalur nyeri perifer dan sentral pada sistem saraf.
Sementara itu, Cleveland Clinic (2024) mengartikan sindrom ini sebagai ketidaknyamanan kranial non-pulsatif yang timbul akibat ketegangan miofasial kronis pada otot-otot perikranial utama seperti otot temporalis dan frontalis.
Kemudian, Lance dan Goadsby (2020) merumuskan gangguan ini sebagai respons nyeri somatik kranial akibat interaksi kompleks antara stres emosional, postur tubuh yang buruk, dan disfungsi nosiseptif trigeminal.
Definisi Pakar Asia
Kim dkk. dari Korea Selatan (2021) mengidentifikasi nyeri kepala tipe tegang sebagai prevalensi gangguan neurologis tertinggi Asia yang melibatkan spasme otot servikal akibat kelelahan kerja jangka panjang.
Oleh karena itu, Wang dkk. dari Taiwan (2019) menjelaskan kondisi tersebut sebagai sindrom nyeri kranial bilateral yang sangat memengaruhi produktivitas masyarakat usia produktif akibat beban psikososial yang tinggi pada lingkungan perkotaan.
Sejalan dengan hal tersebut, Tajima dkk. dari Jepang (2022) mengartikan kelainan ini sebagai penyakit sefalgia psikofisiologis yang berhubungan erat dengan kekakuan bahu (katakori) dan gangguan regulasi aliran darah otot paraservikal.
Selain itu, Shah dari India (2020) mengonseptualisasikan nyeri kranial ini sebagai gangguan nyeri somatoform akibat peningkatan tonus otot perikranial yang terpicu oleh kurang tidur dan kecemasan kronis.
Akhirnya, Li dan Zhou dari Tiongkok (2023) menyimpulkan penyakit ini sebagai gangguan fungsi saraf pusat yang memicu penurunan ambang batas nyeri mekanis pada jaringan otot wajah dan tengkuk.
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) (2019) menetapkan tension-type headache (TTH) sebagai nyeri kepala dengan sifat menekan, mengikat, tidak berdenyut, bersifat bilateral, yang tidak memburuk dengan aktivitas fisik rutin.
Secara rinci, Harsono (2020) menguraikan penyakit ini sebagai rasa sakit pada kranium yang timbul akibat kontraksi persisten otot-otot kepala, leher, dan bahu sebagai respons adaptasi terhadap stresor kehidupan sehari-hari.
Begitu pula dengan Anurogo (2021) yang menyebut gangguan ini sebagai sefalgia tension yang bermanifestasi berupa perasaan kepala seperti diperas ban karet yang sangat kencang akibat kelelahan fisik maupun ketegangan mental.
Selanjutnya oleh Sjahrir (2018) yang mendefinisikan keluhan tersebut sebagai nyeri kepala primer yang memiliki hubungan sebab-akibat yang kuat dengan disfungsi emosional, kecemasan, dan depresi terselubung.
Lalu, Mahar Mardjono dkk. (2022) mengategorikan sindrom ini sebagai nyeri kepala akibat spasme tonik otot-otot epikranial yang sering menyerang pasien dewasa muda dengan beban kerja mental yang padat.
2. Etiologi dan Faktor Risiko Tension Headache
Penyebab pasti gangguan ini bersifat multifaktorial. Stres emosional serta kecemasan kronis menjadi pemicu utama yang paling sering dilaporkan oleh pasien. Akibatnya, terjadi peningkatan kontraksi volunter pada otot-otot wajah dan leher (PERDOSSI, 2019).
Faktor fisik seperti postur tubuh yang statis saat bekerja di depan komputer juga memperburuk kondisi ini. Gaya mekanis tersebut menimbulkan beban berlebih pada segmen servikal. Kelelahan fisik, dehidrasi, serta pola tidur yang buruk secara signifikan menurunkan ambang batas nyeri (Silberstein, 2021).
3. Patofisiologi Gangguan Kraniofasial Tension Headache
Mekanisme Nosisepsi Perifer
Patofisiologi kondisi ini melibatkan mekanisme perifer pada bentuk episodik. Stres fisik atau psikologis memicu kontraksi otot-otot perikranial yang berkepanjangan. Kontraksi ini menyebabkan iskemia lokal pada jaringan otot (Silberstein, 2021).
Iskemia tersebut kemudian merangsang pelepasan mediator inflamasi kimiawi seperti bradikinin, serotonin, dan prostaglandin. Mediator ini mengaktivasi nosiseptor perifer pada otot perikranial, lalu mengirimkan sinyal nyeri melalui serabut saraf aferen ke kornu dorsalis medula spinalis (Tajima et al., 2022).
Mekanisme Sensitisasi Sentral
Pada kondisi kronis, stimulasi nosiseptif yang konstan menyebabkan sensitisasi sentral pada kompleks trigeminovaskular. Akibatnya, terjadi penurunan ambang nyeri kranial yang memicu peningkatan respons terhadap rangsangan non-nyeri atau allodinia (Silberstein, 2021).
4. Penyimpangan KDM Tension Headache
Alur Masalah Keperawatan
Stresor Psikologis (Kecemasan) & Stresor Fisik (Postur Buruk)
│
▼
Kontraksi Otot Perikranial Persisten
│
┌────────────────┴────────────────┐
▼ ▼
Iskemia Jaringan Otot Kekakuan Otot Leher
│ │
▼ ▼
Pelepasan Mediator Nyeri Hambatan Mobilitas Fisik
(Bradikinin, Prostaglandin) │
│ ▼
▼ [Gangguan Mobilitas Fisik]
Aktivasi Nosiseptor Perifer
│
▼
Transmisi Sinyal ke Kompleks Trigeminovaskular
│
├─────────────────────────────────┐
▼ ▼
Sensasi Nyeri Mengikat/Menekan Koping Maladaptif & Ansietas
│ │
├─────────────────┐ ▼
▼ ▼ [Ansietas]
Nyeri Akut Nyeri Kronis
│ │
▼ ▼
[Nyeri Akut] [Nyeri Kronis]
│
▼
Gangguan Pola Tidur ──► [Gangguan Pola Tidur]
5. Gejala Klinis Tension Headache
Karakteristik Data Subjektif
Pasien mengeluh nyeri seperti diikat kencang, ditekan, atau berat pada kedua sisi kepala (bilateral). Pasien menyatakan nyeri terasa menyebar dari area leher belakang dan tengkuk menuju ke depan (dahi) (IHS, 2018).
Selanjutnya, pasien melaporkan ketegangan atau kaku pada otot leher dan bahu. Pasien menegaskan nyeri tidak memburuk dengan aktivitas fisik rutin. Pasien juga mengeluh sulit tidur, mudah lelah, dan merasa cemas (PERDOSSI, 2019).
Karakteristik Data Objektif
Pada pemeriksaan palpasi otot, terdapat adanya tenderness (nyeri tekan) yang jelas pada otot perikranial (m. temporalis, m. frontalis, m. trapezius, m. splenius capitis). Ekspresi wajah pasien tampak tegang atau meringis saat area otot tertekan (PERDOSSI, 2019).
Selain itu, tampak peningkatan tonus otot atau spasme otot pada area leher dan bahu. Rentang gerak (ROM) leher tampak terbatas akibat kekakuan otot. Tekanan darah dan nadi dapat meningkat ringan akibat respons nyeri (Mayo Clinic, 2023).
6. Evaluasi Diagnostik
Evaluasi Laboratorium
Secara umum, tidak ada pemeriksaan laboratorium spesifik untuk kondisi ini. Namun, melakukan pemeriksaan Darah Lengkap (DL) untuk menyingkirkan proses infeksi sistemik. selain itu, melakukan juga pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) atau CRP untuk menyingkirkan arteritis temporal pada lansia (PERDOSSI, 2019).
Evaluasi Radiologi
CT-Scan atau MRI Kepala biasanya menunjukkan hasil normal. Pemeriksaan ini hanya diindikasikan jika terdapat tanda bahaya (red flags) seperti defisit neurologis fokal. X-Ray Cervical dikerjakan untuk mengidentifikasi adanya spondilosis servikal (Silberstein, 2021).
Evaluasi Tambahan
Elektromiografi (EMG) dapat menunjukkan peningkatan aktivitas listrik pada otot-otot perikranial yang mengalami spasme kronis. Menggunakan skala Nyeri (NRS/VAS) untuk mengukur intensitas subjektif nyeri kepala pasien (Lance & Goadsby, 2020).
7. Manajemen Terapi
Pilihan Farmakologis
Terapi akut (abortif) menggunakan Asetaminofen (Parasetamol) 500 mg – 1000 mg per oral setiap 4-6 jam (maksimal 4 gram/hari) atau NSAID seperti Ibuprofen 200 mg – 400 mg dan Naproxen 250 mg – 500 mg (PERDOSSI, 2019).
Terapi profilaksis untuk tipe kronis menggunakan Antidepresan Trisiklik yaitu Amitriptilin 10 mg – 25 mg pada malam hari. Memberikan Mioorelaksan (pelemas otot) seperti Eperison HCl atau Tizanidin untuk mengurangi spasme otot leher (Silberstein, 2021).
Pilihan Non-Farmakologis
Manajemen stres meliputi Terapi Perilaku Kognitif (CBT), latihan relaksasi progresif, meditasi, dan biofeedback. Fisioterapi berupa kompres hangat atau dingin pada otot yang tegang, pijat refleksi, serta akupunktur (Cleveland Clinic, 2024).
Edukasi pola hidup mencakup mempertahankan hidrasi adekuat, tidur teratur 7-8 jam semalam, menghindari pemicu kafein, dan melakukan peregangan berkala saat bekerja (Harsono, 2020).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Pasien
Riwayat Kesehatan dan Identitas
Mencakup nama, usia (sering terjadi pada usia 20-40 tahun), jenis kelamin (lebih tinggi pada wanita), pekerjaan (pekerja kantor dengan tingkat stres tinggi). Keluhan utama adalah nyeri kepala seperti diikat atau tertekan pada seluruh lapang kepala.
Pengkajian Riwayat Kesehatan Sekarang menggunakan pendekatan PQRST: P (Palliative/Provocative) dipicu stresor mental, Q (Quality) nyeri tumpul seperti diikat pita kencang, R (Region) bilateral oksipitofrontal, S (Severity) skala 4-6 NRS, T (Timing) episodik atau kronis.
Pemeriksaan Fisik Umum
Sistem Persarafan: Kesadaran komposmentis, GCS E4V5M6. Pemeriksaan nervus kranial (N. I hingga N. XII) normal. Tidak ada defisit neurologis fokal. Fungsi sensorik dan motorik normal. Evaluasi adanya hipersensitivitas kranial.
Sistem Muskuloskeletal: Inspeksi menunjukkan postur tubuh membungkuk atau kaku pada leher saat duduk. Palpasi teraba adanya spasme otot, nodul tegang (trigger points), dan nyeri tekan pada m. trapezius dan m. splenius kapitis. ROM leher terbatas.
Sistem Kardiovaskular: Iktus kordis teraba pada ICS V midklavikula kiri. Bunyi jantung S1 dan S2 tunggal, reguler, tidak ada murmur. Tekanan darah berpotensi meningkat ringan selama serangan nyeri.
Sistem Lain: Sistem respirasi (vesikuler, sonor), pencernaan (supel, peristaltik 10-12 x/menit, tanpa mual muntah), integumen (turgor baik, tidak ada lesi), dan perkemihan (kandung kemih kosong, bebas nyeri tekan) berada dalam batas normal.
Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)
Pola persepsi kesehatan menunjukkan pasien kurang memahami penanganan awal non-farmakologis. Pola istirahat-tidur terganggu akibat insomnia dan sering terbangun menahan nyeri. Pola kognitif-perseptual menunjukkan kemampuan konsentrasi menurun saat serangan nyeri.
Pola aktivitas-latihan tetap mandiri namun produktivitas kerja menurun. Pola koping-toleransi stres menunjukkan pasien menggunakan koping maladaptif seperti cemas berlebih atau memendam masalah sendiri. Pola nutrisi, eliminasi, peran, seksual, dan nilai keyakinan umumnya normal.
2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)
Kelompok Diagnosis Prioritas 1-5
- Nyeri Akut (D.0077) b.d Agen Pencedera Fisiologis (Spasme Otot Perikranial)
- Nyeri Kronis (D.0078) b.d Kondisi Muskuloskeletal Kronis (Sensitisasi Sentral Sefalgia)
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) b.d Nyeri/Kekakuan Otot Leher dan Trapezius
- Ansietas (D.0080) b.d Krisis Situasional/Kekhawatiran terhadap Kegagalan Terapi
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Hambatan Lingkungan/Kurangnya Kontrol Nyeri
Kelompok Diagnosis Prioritas 6-10
- Keletihan (D.0057) b.d Kondisi Fisiologis (Nyeri Kronis dan Kurang Tidur)
- Gangguan Koping Individu (D.0096) b.d Ketidakadekuatan Sistem Pendukung/Stresor Kronis
- Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial (D.0066) b.d Resistensi Aliran Darah Miofasial Kranial
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d Kurang Terpapar Informasi Terapi Non-Farmakologis
- Manajemen Kesehatan Tidak Efektif (D.0115) b.d Kompleksitas Program Perawatan/Terapi
3. Perencanaan Intervensi (Bagian I)
Rencana Diagnosis 1: Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Nyeri (L.08066)
- Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun (skala ≤2), meringis menurun, ketegangan otot menurun, frekuensi nadi membaik (60-100 x/menit), tekanan darah membaik (120/80 mmHg).
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi respons nyeri non verbal.
- Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (kompres hangat pada tengkuk, terapi pijat suboksipital); Fasilitasi istirahat dan tidur; Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (pencahayaan redup, suasana tenang).
- Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Ajarkan teknik nonfarmakologis secara mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgesik (Parasetamol atau Ibuprofen), jika perlu.
Rencana Diagnosis 2: Nyeri Kronis (D.0078)
- Luaran Keperawatan: Kontrol Nyeri (L.08063)
- Kriteria Hasil: Melaporkan nyeri terkontrol meningkat, kemampuan mengenali penyebab nyeri meningkat, kemampuan menggunakan teknik non-farmakologis meningkat, keluhan nyeri menurun.
- Intervensi Keperawatan: Perawatan Nyeri Kronis (I.08244)
- Observasi: Identifikasi karakteristik nyeri; Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan; Monitor efek samping penggunaan analgetik jangka panjang.
- Terapeutik: Fasilitasi teknik meredakan nyeri yang dapat dipraktikkan mandiri; Pertimbangkan merujuk ke fasilitas rehabilitasi atau manajemen nyeri jika diperlukan.
- Edukasi: Jelaskan penyebab dan periode nyeri; Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri menggunakan headache diary; Anjurkan menggunakan obat analgetik secara tepat untuk mencegah medication overuse headache.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi profilaksis (Amitriptilin).
Rencana Diagnosis 3: Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
- Luaran Keperawatan: Mobilitas Fisik (L.05042)
- Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, rentang gerak (ROM) leher meningkat, kaku otot menurun, gerakan tidak terkoordinasi menurun.
- Intervensi Keperawatan: Dukungan Mobilisasi (I.05173)
- Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya; Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan; Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi.
- Terapeutik: Fasilitasi melakukan pergerakan leher perlahan (ROM leher aktif-asistif); Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi; Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis. stretching dan relaksasi otot bahu secara berkala saat bekerja).
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan peregangan otot perikranial, jika perlu.
4. Perencanaan Intervensi (Bagian II)
Rencana Diagnosis 4: Ansietas (D.0080)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Ansietas (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik, pola tidur membaik.
- Intervensi Keperawatan: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. kondisi, waktu, stresor); Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Dengarkan dengan penuh perhatian.
- Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan; Latih teknik relaksasi (napas dalam).
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.
Rencana Diagnosis 5: Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Keperawatan: Pola Tidur (L.05045)
- Kriteria Hasil: Kemudahan tidur meningkat, keluhan sering terjaga menurun, istirahat cukup meningkat, keluhan tidak segar saat bangun menurun.
- Intervensi Keperawatan: Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik, psikologis, atau lingkungan); Identifikasi makanan/minuman yang mengganggu tidur (kafein).
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan (pencahayaan redup, suhu ruangan nyaman, kurangi kebisingan); Tetapkan jadwal tidur rutin; Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menepati jadwal tidur rutin; Ajarkan teknik relaksasi otot autogenik atau guided imagery sebelum tidur.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat tidur jika keluhan menetap meskipun telah diberikan terapi non-farmakologis.
Rencana Diagnosis 6: Keletihan (D.0057)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Keletihan (L.05046)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi lelah menurun, tenaga meningkat, kemudahan dalam melakukan aktivitas harian meningkat, kemampuan berkonsentrasi membaik.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (cahaya dan suara); Fasilitasi duduk di tempat tidur atau kursi yang ergonomis; Berikan latihan rentang gerak pasif/aktif.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan (manajemen waktu dan prioritas kerja).
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan yang adekuat.
5. Perencanaan Intervensi (Bagian III)
Rencana Diagnosis 7: Gangguan Koping Individu (D.0096)
- Luaran Keperawatan: Status Koping (L.09086)
- Kriteria Hasil: Kemampuan membina hubungan membaik, verbalisasi kemampuan koping yang efektif meningkat, keluhan emosional berlebih menurun.
- Intervensi Keperawatan: Promosi Koping (I.09312)
- Observasi: Identifikasi kemampuan yang dimiliki; Identifikasi dampak situasi terhadap peran dan hubungan; Identifikasi metode penyelesaian masalah yang biasa digunakan.
- Terapeutik: Diskusikan perubahan peran yang dialami; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Fasilitasi dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan.
- Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi secara terbuka; Anjurkan keluarga terlibat dalam perawatan; Ajarkan keterampilan pemecahan masalah yang konstruktif.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikolog jika diperlukan terapi perilaku kognitif lanjutan.
Rencana Diagnosis 8: Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial (D.0066)
- Luaran Keperawatan: Kapasitas Adaptif Intrakranial (L.06049)
- Kriteria Hasil: Sakit kepala menurun, tekanan darah sistemik membaik, respons neurologis membaik, tingkat kesadaran meningkat.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial (I.06194)
- Observasi: Monitor tanda/gejala peningkatan TIK (TD meningkat, nadi melebar, muntah proyektil); Monitor status neurologis secara berkala.
- Terapeutik: Pertahankan posisi kepala head up 30 derajat; Minimalkan stimulus dengan menyediakan lingkungan yang tenang; Hindari tekukan pada leher (fleksi berlebih).
- Edukasi: Jelaskan tujuan pembatasan aktivitas fisik yang menghentak; Ajarkan meminimalkan valsava manuver (menghindari batuk rejan atau mengejan keras).
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian osmotik diuretik atau analgetik sentral jika ada indikasi medis kuat.
Rencana Diagnosis 9: Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Pengetahuan (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi pengetahuan tentang penyakit meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun.
- Intervensi Keperawatan: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan (leaflet manajemen nyeri kepala); Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
- Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang dapat memengaruhi kesehatan; Ajarkan perilaku hidup sehat (manajemen stres, olahraga teratur, postur kerja ergonomis).
- Kolaborasi: Tidak ada tindakan kolaborasi spesifik untuk intervensi edukasi dasar ini.
Rencana Diagnosis 10: Manajemen Kesehatan Tidak Efektif (D.0115)
- Luaran Keperawatan: Manajemen Kesehatan (L.12104)
- Kriteria Hasil: Penerapan program perawatan meningkat, aktivitas hidup sehari-hari efektif memenuhi tujuan kesehatan, verbalisasi kesulitan menjalankan program perawatan menurun.
- Intervensi Keperawatan: Fasilitasi Pemenuhan Kebutuhan Kesehatan (I.12371)
- Observasi: Identifikasi kebutuhan asuhan keperawatan mandiri di rumah; Monitor kepatuhan terhadap program pengobatan/perawatan yang telah ditetapkan.
- Terapeutik: Fasilitasi akses ke layanan kesehatan terdekat; Sediakan sistem pendukung yang memadai (melibatkan kelompok sebaya atau keluarga).
- Edukasi: Jelaskan pentingnya kepatuhan kontrol klinis; Ajarkan cara mengelola obat-obatan di rumah dengan aman.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan perawat komunitas atau puskesmas untuk pemantauan kepatuhan terapi jangka panjang pasien di rumah.
6. Pelaksanaan Tindakan
Melaksanakan implementasi keperawatan berdasarkan rencana intervensi yang telah tersusun secara sistematis. Tindakan nyata meliputi tindakan observasi, tindakan terapeutik, tindakan edukasi, dan tindakan kolaborasi. Seluruh aktivitas dan respons pasien dicatat secara akurat pada lembar dokumentasi keperawatan.
7. Penilaian Hasil
Melakukan evaluasi keperawatan pada akhir fase asuhan dengan merujuk pada metode SOAP (Subjektif, Objektif, Asesmen, Planing). Evaluasi ini bertujuan menilai sejauh mana kriteria hasil pada luaran keperawatan telah tercapai untuk setiap diagnosis yang ditegakkan.
DAFTAR PUSTAKA
Anurogo, D., 2021. Sakit Kepala: Panduan Klinis dan Penatalaksanaan Praktis. Jakarta: Medika Nusantara.
Cleveland Clinic, 2024. Tension-Type Headaches. Tersedia di: clevelandclinic.org/diseases-conditions/tension-headache [Diakses 1 Juni 2026].
Harsono, 2020. Buku Ajar Neurologi Klinis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
IHS, 2018. The International Classification of Headache Disorders, 3rd edition. Cephalalgia, 38(1), hal. 1-211. DOI: journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0333102417738202.
Kim, B.S. dkk., 2021. Prevalensi dan Beban Epidemiologi Sakit Kepala Tipe Tegang di Asia-Pasifik. Journal of Clinical Neurology, 17(3), hal. 345-353. DOI: thejcn.com/journal/view.php?doi=10.3988/jcn.2021.17.3.345.
Lance, J.W. & Goadsby, P.J., 2020. Mechanism and Management of Headache. 8th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders.
Li, F. & Zhou, J., 2023. Sensitisasi Sentral dan Perubahan Otak pada Tension Headache Kronis. Chinese Journal of Neurology, 56(4), hal. 289-296. URL: chinaneurol.org.
Mardjono, M. dkk., 2022. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat.
Mayo Clinic, 2023. Tension Headache: Diagnosis & Treatment. Tersedia di: mayoclinic.org/diseases-conditions/tension-headache [Diakses 1 Juni 2026].
PERDOSSI, 2019. Panduan Praktik Klinis: Neurologi Indonesia. Jakarta: Pengurus Besar PERDOSSI.
PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI, 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI, 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.
Shah, N.U., 2020. Sindrom Somatoform Psikofisiologis dan Korelasinya Terhadap Nyeri Kepala Otot. Indian Journal of Psychiatry, 62(2), hal. 142-149. URL: indianjpsychiatry.org.
Silberstein, S.D., 2021. Headache in Clinical Practice. 3rd ed. London: Routledge.

Tinggalkan Balasan