KONSEP MEDIS FIBROMYALGIA

Fibromyalgia merupakan sindrom nyeri kronis yang bersifat pervasif seluruh tubuh, serta gangguan tidur, keletihan ekstrem, serta gangguan kognitif yang menurunkan kualitas hidup.

A. Konsep Medis Fibromyalgia

1. Definisi Fibromyalgia

Definisi Dari Pakar Internasional

American College of Rheumatology (ACR) menjelaskan bahwa fibromyalgia merupakan suatu kondisi gangguan nyeri muskuloskeletal yang menyebar secara luas pada seluruh tubuh dan berlangsung selama minimal tiga bulan tanpa adanya penyakit sistemik lain yang mendasarinya (Wolfe et al., 2016).

Selanjutnya, World Health Organization (WHO) mengklasifikasikan gangguan ini dalam International Classification of Diseases (ICD-11) sebagai bentuk nyeri kronis primer yang memengaruhi fungsi fisik serta menimbulkan penderitaan emosional yang signifikan (WHO, 2021).

Selain itu, European Alliance of Associations for Rheumatology (EULAR) menegaskan bahwa penyakit ini merupakan sindrom neurosensori kompleks yang muncul dengan gangguan pemrosesan nyeri pada sistem saraf pusat serta penurunan ambang nyeri mekanis dan termal (Macfarlane et al., 2017).

Kemudian, Clauw (Pakar Reumatologi AS) mendefinisikan kondisi klinis ini sebagai manifestasi utama dari gangguan sentralisasi nyeri (centralized pain), volume sistem saraf pusat mengalami peningkatan sensitivitas terhadap stimulus normal (Clauw, 2015).

Lebih lanjut, Goldenberg (Pakar Fibromyalgia Global) memaparkan sindrom ini sebagai penyakit multisistemik yang mengintegrasikan gejala nyeri kronis, gangguan tidur non-restoratif, serta disfungsi kognitif yang saling berikatan erat (Goldenberg, 2020).

Definisi Pakar Asia

Asia Pacific League of Associations for Rheumatology (APLAR) mengidentifikasi penyakit ini sebagai sindrom nyeri kronis kronis yang sering kali tumpang tidal dengan gangguan somatisasi, serta memiliki prevalensi tinggi pada populasi usia produktif pada wilayah Asia (APLAR, 2019).

Sementara itu, Japanese Society of Rheumatology (JSR) merumuskan gangguan ini sebagai bentuk regulasi nyeri yang melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik individu, stressor psikososial, dan sensitivitas sirkuit saraf pusat (Nakamura et al., 2020).

Sejalan dengan hal tersebut, Korean College of Rheumatology (KCR) mendeskripsikan fenomena klinis ini sebagai kondisi nyeri muskuloskeletal difus yang memicu kelelahan kronis dan gangguan kecemasan yang memerlukan pendekatan terapi multidimensi (Lee et al., 2021).

Hubungan ini dipertegas oleh, Chinese Medical Association (CMA) yang mengartikan sindrom ini sebagai penyakit nyeri kronis non-artikular yang bermanifestasi berupa titik nyeri tekan spesifik (tender points) serta gangguan fungsional organ tubuh lainnya (Wang et al., 2018).

Konsekuensinya, Indian Rheumatism Association (IRA) mengonseptualisasikan kondisi klinis tersebut sebagai keadaan hipersensitivitas sistem saraf pusat yang mengakibatkan respons nyeri berlebihan terhadap stimulus non-noksius pada penderita (Aggarwal et al., 2022).

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Reumatologi Indonesia (IRA / PRI) menyatakan bahwa patologi ini adalah suatu penyakit reumatik non-artikular kronis yang mengenai jaringan lunak tubuh dengan nyeri muskuloskeletal difus dan titik nyeri tekan yang khas (Putra et al., 2014).

Oleh karena itu, Soeroso (Pakar Reumatologi Indonesia) memaparkan sindrom ini sebagai manifestasi dari disfungsi neuroendokrin dan neurotransmiter pada otak yang memicu gangguan persepsi nyeri berat pada pasien tanpa tanda-tanda inflamasi perifer (Soeroso, 2018).

Fakta ini didukung oleh, Isbagio (Pakar Reumatologi FKUI) yang mendefinisikan kondisi ini sebagai bentuk nyeri nosiplastik kronis primer yang paling sering muncul pada klinik reumatologi, yang mana keluhan nyeri serta kelelahan hebat dan gangguan tidur nyenyak (Isbagio, 2021).

Berdasarkan perspektif lain, Kertia (Pakar Reumatologi FK UGM) menjelaskan bahwa gangguan ini merupakan sindrom klinis nyeri menyeluruh pada otot dan jaringan lunak periartikular yang sangat mempengaruhi tingkat stres psikologis dan kelelahan fisik (Kertia, 2022).

Akhirnya, Pramudiyo (Pakar Reumatologi Universitas Padjadjaran) merumuskan fenomena tersebut sebagai gangguan sistem pengolahan nyeri pada otak yang memicu fenomena sensitisasi sentral, sehingga menurunkan kualitas hidup penderita secara drastis (Pramudiyo, 2023).

2. Etiologi Fibromyalgia

Penyebab pasti gangguan ini bersifat multifaktorial dan belum sepenuhnya diketahui secara tunggal. Secara umum, beberapa faktor yang memicu terjadinya sindrom ini meliputi:

  • Gangguan Neurotransmitter: Terjadi penurunan kadar serotonin, norepinefrin, dan dopamin, serta peningkatan kadar substansi P (substance P) cairan serebrospinal yang memengaruhi modulasi nyeri.
  • Faktor Genetik: Mutasi pada gen transporter serotonin (5-HTT) dan gen reseptor dopamin (D4) meningkatkan kerentanan individu dalam keluarga.
  • Stresor Fisik atau Trauma: Cedera fisik (seperti kecelakaan mobil), infeksi virus tertentu (seperti Epstein-Barr virus), atau tindakan operasi besar dapat memicu awitan gejala.
  • Stresor Psikologis: Trauma emosional masa kecil, gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan kronis, dan depresi berat mengubah respons aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA).
  • Gangguan Tidur Kronis: Gangguan pada fase tidur non-REM (stadium 4) mengacaukan proses pemulihan jaringan otot dan sintesis hormon pertumbuhan (Clauw, 2015; Sluka & Clauw, 2016).

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Fibromyalgia

Patofisiologi Sensitisasi Sentral

Patofisiologi utama berpusat pada Sensitisasi Sentral (central sensitization). Dalam hal ini, sistem saraf pusat mengalami hipereksitabilitas dalam memproses sinyal sensorik. Akibatnya, terjadi penurunan kadar neurotransmiter inhibitor (serotonin dan norepinefrin) serta peningkatan neurotransmiter eksitatori (glutamat dan substansi P), sehingga sinyal nyeri non-noksius (seperti sentuhan lembut) diperabsen secara berlebihan oleh otak sebagai nyeri hebat (allodinia), dan stimulus nyeri ringan dirasakan sebagai nyeri yang sangat luar biasa (hiperalgesia).

Oleh sebab itu, terjadi disfungsi aksis HPA yang menyebabkan fluktuasi kadar kortisol, sehingga tubuh gagal beradaptasi terhadap stres fisik maupun psikologis, memperberat kelelahan, dan mengacaukan arsitektur tidur gelombang lambat (Sluka & Clauw, 2016; Goldenberg, 2020).

Pathway Penyimpangan KDM

Faktor Genetik + Stresor Psikososial + Trauma Fisik / Infeksi

                          │

                          ▼

           Disfungsi Sistem Saraf Pusat (SSP)

                          │

      ┌───────────────────┴───────────────────┐

      ▼                                       ▼

Penurunan Serotonin & Norepinefrin     Peningkatan Glutamat & Substansi P

      │                                       │

      └───────────────────┬───────────────────┘

                          ▼

                 Sensitisasi Sentral

                          │

      ┌───────────────────┼───────────────────────────────────────────┐

      ▼                   ▼                                           ▼

Ambang Nyeri ↓      Disfungsi Aksis HPA                         Gangguan Otak (Korteks)

      │                   │                                           │

  Allodinia &       Penurunan Hormon Pertumbuhan                Gangguan Kognitif 

  Hiperalgesia            │                                     (*Fibro-fog*)

      │             Gangguan Pemulihan Otot                           │

      ▼                   │                                           ▼

Nyeri Muskuloskeletal     ▼                                     Ggn. Proses Informasi

Menyeluruh          Kelelahan Ekstrem / Keletihan                     │

      │                   │                                           ▼

      ▼                   ▼                                     Ansietas / Depresi

 **NYERI KRONIS** **INTOLERANSI AKTIVITAS** │

                          │                                           ▼

                          ▼                                     **KOPING TIDAK EFFECTIF**

                     Gangguan Gelombang Alfa-Delta Tidur

                          │

                          ▼

                    **GANGGUAN POLA TIDUR**

(Putra et al., 2014; Clauw, 2015)

4. Manifestasi Klinis Fibromyalgia

a. Data Subjektif

  • Pasien mengeluhkan nyeri tumpul menyeluruh (widespread pain) pada kedua sisi tubuh, di atas dan bawah pinggang, serta sepanjang tulang belakang selama >3 bulan.
  • Selain itu, terdapat keluhan kelelahan ekstrem (fatigue) saat bangun pagi, merasa badan tetap lelah meskipun sudah tidur lama.
  • Lebih jauh, laporan gangguan kognitif (fibro-fog): kesulitan berkonsentrasi, sering lupa, dan lambat memproses informasi.
  • Kondisi ini juga memperberat pada rasa kaku pada otot-otot tubuh pada pagi hari (morning stiffness) yang berlangsung lebih dari 1 jam.
  • Terakhir, keluhan mati rasa, kesemutan (parestesia), atau sensasi terbakar pada ekstremitas (Wolfe et al., 2016; Macfarlane et al., 2017).

b. Data Objektif

  • Adanya respon nyeri hebat (meringis, menarik diri) saat melakukan palpasi ringan dengan tekanan setara 4 kg/cm² pada minimal 11 dari 18 titik nyeri tekan spesifik (tender points jika menggunakan kriteria ACR 1990).
  • Secara bersamaan, skor Widespread Pain Index (WPI) ≥ 7 dan skor Symptom Severity Scale (SSS) ≥ 5 (berdasarkan kriteria ACR 2010/2016).
  • Berdasarkan pemeriksaan fisik, rentang gerak (range of motion) sendi tampak terbatas akibat proteksi otot terhadap nyeri.
  • Maka dari itu, pasien tampak letargik, sering menguap, dan menunjukkan ekspresi wajah tegang atau cemas.
  • Akibatnya, terlihat penurunan kekuatan otot secara umum akibat dekondisi yang muncul oleh nyeri kronis (Wolfe et al., 2016; Goldenberg, 2020).

5. Pemeriksaan Penunjang Fibromyalgia

Laboratorium dan Radiologi

Secara umum, tidak ada penanda biologis (biomarker) spesifik untuk kondisi ini. Meskipun demikian, melakukan pemeriksaan laboratorium untuk menyingkirkan diagnosis banding (differential diagnosis):

  • Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP): Hasil normal (menyingkirkan penyakit inflamasi sistemik atau autoimun seperti Rheumatoid Arthritis).
  • Faktor Rematoid (RF) dan Anti-CCP: Negatif (menyingkirkan artritis reumatoid).
  • Antinuclear Antibodies (ANA): Negatif atau titer rendah non-spesifik (menyingkirkan Lupus Eritematosus Sistemik).
  • Kadar Hormon Tiroid (TSH, Free T4): Normal (menyingkirkan hipotiroidisme yang gejalanya mirip berupa lelah dan nyeri otot) (Inanici & Yunus, 2004; Isbagio, 2021).

Sebagai tambahan, Foto Polos (X-Ray) Tulang Belakang atau Sendi menunjukkan struktur tulang dan celah sendi yang normal tanpa adanya tanda-tanda erosi atau inflamasi osteoartritis/artritis destruktif (Inanici & Yunus, 2004).

Pemeriksaan Lain

  • Polisomnografi (Studi Tidur): Menunjukkan adanya gangguan intrusi gelombang alfa pada fase tidur delta (tidur gelombang lambat), yang membuktikan gangguan arsitektur tidur non-restoratif.
  • Oleh karena itu, Kuesioner Klinis berupa pengisian Fibromyalgia Impact Questionnaire (FIQ) sangat penting untuk mengukur tingkat keparahan dampak penyakit terhadap fungsionalitas harian pasien (Putra et al., 2014; Galvez-Sánchez et al., 2019).

6. Penatalaksanaan Medis Fibromyalgia

Terapi Farmakologis

  • Ligand Alfa-2-Delta (Antikonvulsan): Pregabalin (dosis awal 75 mg dua kali sehari) atau Gabapentin, berfungsi menghambat pelepasan neurotransmiter eksitatori otak.
  • Selanjutnya, Serotonin-Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRI): Duloxetine (30-60 mg/hari) atau Milnacipran, bertujuan meningkatkan kadar serotonin dan norepinefrin dalam jalur inhibitor nyeri desenden.
  • Selain itu, Tricytic Antidepressants (TCA): Amitriptilin dosis rendah (10-25 mg pada malam hari) untuk memperbaiki kualitas tidur dan mengurangi nyeri otot.
  • Secara khusus, Analgesik Sentral: Tramadol (bisa dikombinasikan dengan parasetamol) untuk nyeri akut sedang-berat. Namun, penggunaan opioid kuat harus dihindari karena berisiko memicu hiperalgesia diinduksi opioid (Macfarlane et al., 2017; Soeroso, 2018).

Terapi Non-Farmakologis

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Membantu pasien mengubah pola pikir maladaptif terhadap nyeri, mengatasi kecemasan, dan meningkatkan strategi koping harian.
  • Berikutnya, Latihan Fisik Aerobik Terukur: Latihan intensitas rendah seperti berenang pada air hangat, bersepeda statis, atau berjalan kaki secara teratur untuk mengurangi kekakuan otot dan meningkatkan kebugaran kardiovaskular.
  • Maka, Edukasi Pasien perlu untuk memberikan pemahaman bahwa gangguan ini adalah penyakit nyata, bukan psikologis murni, serta bersifat tidak merusak sendi atau organ vital.
  • Akhirnya, Terapi Komplementer berupa akupunktur, yoga, meditasi mindfulness, dan pijat terapi ringan dapat diaplikasikan guna merelaksasi ketegangan neuromuskular (Macfarlane et al., 2017; Kertia, 2022).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Aspek Demografi dan Riwayat Kesehatan

Meliputi nama, umur (paling sering terdiagnosis pada rentang usia 30–50 tahun), jenis kelamin (mayoritas perempuan dengan rasio sekitar 9:1 dibanding laki-laki), pekerjaan yang memicu stres fisik atau psikologis, dan status perkawinan.

Berhubungan dengan riwayat kesehatan, Keluhan Utama berupa nyeri hebat yang menusuk, membakar, atau pegal linu pada seluruh tubuh serta rasa lelah yang konstan sepanjang hari.

  • Riwayat Kesehatan Sekarang: Kaji lokasi nyeri menggunakan peta tubuh (widespread pain), onset (>3 bulan), kualitas, faktor memperberat (stres, cuaca dingin, aktivitas berlebih), dan faktor memperingan (istirahat, mandi air hangat).
  • Riwayat Kesehatan Dahulu: Kaji adanya riwayat trauma fisik, kecelakaan, infeksi kronis, atau riwayat penyakit psikiatri seperti depresi atau ansietas.
  • Riwayat Kesehatan Keluarga: Mengidentifikasi apakah ada anggota keluarga inti (ibu, saudara kandung) yang menderita keluhan serupa atau penyakit autoimun.

Pemeriksaan Fisik Sistemis

  • Keadaan Umum: Tampak lemah, letargik, ekspresi wajah menahan nyeri atau cemas, kesadaran compos mentis namun lambat merespons stimulasi verbal (fibro-fog).
  • Sistem Saraf: Tidak terdapat kerusakan neurologis fokal tidak, namun terdapat hipersensitivitas ekstrem terhadap rangsangan taktil ringan (allodinia) pada kulit.
  • Sistem Muskuloskeletal (Fokus Utama):
    • Inspeksi: Tidak terdapat deformitas sendi, tidak ada edema, atrofi otot, ataupun eritema pada area periartikular.
    • Palpasi: Terdapat nyeri tekan yang nyata (tender points) pada minimal 11 dari 18 titik anatomis spesifik jika tertekan ringan. Tonus otot cenderung tegang (hipertonus) akibat spasme protektif kronis.
    • Perkusi & Auskultasi: Refleks fisiologis (patella, achilles) dalam batas normal; tidak ada kelainan suara atau gangguan artikulasi sendi (krepitasi signifikan absen).
  • Sistem Kardiovaskular: Inspeksi iktus kordis tidak terlihat, palpasi iktus kordis teraba di ICS V midklavikula sinistra, perkusi batas jantung normal, auskultasi terdapat bunyi jantung I dan II tunggal (tidak ada murmur). Sering takikardia ringan akibat nyeri atau cemas.
  • Sistem Pernapasan: Inspeksi dada simetris, palpasi taktil fremitus sama pada kedua lapang paru, perkusi sonor, auskultasi suara napas vesikuler tanpa suara tambahan.
  • Sistem Pencernaan: Inspeksi perut datar, auskultasi bising usus dapat meningkat (sering tumpang tindih dengan Irritable Bowel Syndrome / IBS), palpasi tidak ada hepatosplenomegali, perkusi timpani.
  • Sistem Integumen: Inspeksi kulit utuh, tidak ada ruam malar, turgor kulit baik, palpasi kulit terasa hangat, terkadang mengeluhkan keringat berlebih akibat disfungsi otonom.

Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

  • Pola Eliminasi: Pasien sering melaporkan pola BAB tidak teratur (diare berseling konstipasi) akibat manifestasi klinis IBS penyerta.
  • Oleh sebab itu, Pola Aktivitas dan Latihan menunjukkan keterbatasan melakukan aktivitas sehari-hari (ADL) secara mandiri karena kelelahan otot ekstrem dan kelemahan fungsional.
  • Selanjutnya, Pola Istirahat-Tidur terganggu karena pasien tidur selama 8-10 jam tetapi tetap merasa lelah dan tidak bugar saat terbangun (non-restorative sleep), serta sering terbangun pada malam hari karena nyeri.
  • Di samping itu, Pola Kognitif-Perseptual terganggu ditandai dengan penurunan memori jangka pendek, sulit menemukan kata yang tepat saat berbicara, dan mengalami distorsi persepsi nyeri yang hebat.
  • Akhirnya, Pola Koping-Toleransi Stres tidak efektif, pasien merasa putus asa dengan kondisinya, serta sering menarik diri dari interaksi sosial karena merasa penyakitnya dianggap “pura-pura” oleh lingkungan.

2. Diagnosis Keperawatan

Berikut adalah daftar prioritas diagnosis keperawatan merujuk pada Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):

Diagnosis Prioritas 1-5

Diagnosis Prioritas 6-10

3. Perencanaan (Intervensi)

Intervensi Diagnosis 1-3

Nyeri Kronis (D.0078)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri.
    • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. terapi pijat lembut, kompres hangat, relaksasi napas dalam); Fasilitasi istirahat dan tidur.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Ajarkan teknik nonfarmakologis secara mandiri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik sentral, SNRI, atau antikonvulsan (mis. Pregabalin/Duloxetine) sesuai indikasi medis.

Keletihan (D.0057)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Keletihan Menurun (L.05046)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kepulihan energi meningkat, tenaga meningkat, lesu menurun, sakit kepala menurun.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor pola dan jam tidur.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya redup, ruangan tenang); Lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif secara bertahap.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring secara bijak; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap (pacing aktivitas).
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan penunjang energi.

Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar saat bangun tidur menurun.
  • Intervensi (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur (nyeri, kecemasan).
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, suhu, kebisingan); Tetapkan jadwal tidur yang rutin (sleep hygiene).
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Ajarkan relaksasi otot autogenik sebelum tidur.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian amitriptilin dosis rendah pada malam hari sesuai resep dokter.

Intervensi Diagnosis 4-6

Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Kemudahan melakukan aktivitas harian meningkat, kecepatan berjalan meningkat, perasaan lemah menurun.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Program Latihan (I.12407)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan fisik dan tingkat keterbatasan sendi/otot; Monitor respons kardiorespiratori terhadap latihan.
    • Terapeutik: Fasilitasi latihan fisik intensitas rendah secara bertahap (aerobik air, jalan santai); Berikan umpan balik positif atas kemajuan latihan.
    • Edukasi: Informasikan jenis latihan yang aman (hindari high impact); Ajarkan teknik pengaturan napas saat beraktivitas.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan fisioterapis dalam menentukan program latihan fisik jangka panjang.

Koping Tidak Efektif (D.0096)

  • Luaran (SLKI): Status Koping Membaik (L.09086)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kemampuan menerima kondisi meningkat, perilaku koping adaptif meningkat, keluhan tidak berdaya menurun.
  • Intervensi (SIKI): Promosi Koping (I.09312)
    • Observasi: Identifikasi dampak situasi terhadap peran dan hubungan; Identifikasi pemahaman proses penyakit.
    • Terapeutik: Fasilitasi dalam mempertahankan harapan yang realistis; Sediakan penilaian objektif yang mendukung validasi keluhan pasien.
    • Edukasi: Ajarkan cara memecahkan masalah konstruktif; Anjurkan keterlibatan dalam kelompok pendukung (support group) fibromyalgia.
    • Kolaborasi: Kolaborasi rujukan untuk psikoterapi (CBT) jika terdapat indikasi depresi berat.

Gangguan Memori (D.0062)

  • Luaran (SLKI): Memori Meningkat (L.09079)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kemampuan mengingat informasi faktual meningkat, kemampuan mempelajari hal baru meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Latihan Memori (I.06188)
    • Observasi: Identifikasi masalah memori harian yang dihadapi pasien.
    • Terapeutik: Stimulasi memori dengan mengulang informasi yang baru diberikan; Sediakan alat bantu memori (buku catatan kecil, alarm gawai).
    • Edukasi: Ajarkan teknik asosiasi visual atau verbal; Anjurkan pasien fokus pada satu tugas dalam satu waktu (avoid multitasking).
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikolog kognitif jika disfungsi memori mengganggu pekerjaan secara ekstrem.

Intervensi Diagnosis 7-10

Ansietas (D.0080)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan otot menurun.
  • Intervensi (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal); Identifikasi kemampuan mengambil keputusan.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik yang menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan.
    • Edukasi: Jelaskan prosedur medis dan sensasi yang mungkin dialami; Ajarkan teknik relaksasi distraksi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian anksiolitik jika kecemasan mengganggu fungsi hidup mendasar.

Defisit Perawatan Diri (D.0109)

  • Luaran (SLKI): Perawatan Diri Meningkat (L.11103)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan makan secara mandiri meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
    • Observasi: Monitor tingkat kemandirian fungsional pasien.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman dan alat bantu adaptif; Berikan bantuan perawatan diri hanya pada aktivitas yang belum mampu dilakukan mandiri.
    • Edukasi: Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan fisik tanpa memaksakan diri secara berlebih.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan terapis okupasi untuk penyediaan alat bantu aktivitas harian yang ergonomis.

Isolasi Sosial (D.0121)

  • Luaran (SLKI): Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13116)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kenyamanan berinteraksi sosial meningkat, partisipasi aktivitas kelompok meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484)
    • Observasi: Identifikasi hambatan dalam berkomunikasi dengan orang lain (mis. malu karena sakit).
    • Terapeutik: Berikan umpan balik positif saat berinteraksi dengan keluarga atau perawat; Motivasi pasien mengikuti aktivitas kelompok kecil.
    • Edukasi: Anjurkan berterus terang kepada keluarga mengenai keterbatasan fisik akibat fibromyalgia agar dipahami lingkungan sekitar.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan pekerja sosial atau komunitas peduli nyeri kronis.

Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
    • Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi pemahaman tentang penyakit meningkat, persepsi keliru menurun.
  • Intervensi (SIKI): Edukasi Proses Penyakit (I.12444)
    • Observasi: Identifikasi tingkat pengetahuan pasien saat ini dan kesiapan menerima informasi baru.
    • Terapeutik: Sediakan materi edukasi tertulis atau visual yang mudah dipahami; Berikan kesempatan pasien bertanya.
    • Edukasi: Jelaskan patofisiologi penyakit secara sederhana (sensitisasi sentral); Informasikan tanda/gejala yang memerlukan penanganan medis segera.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim edukator kesehatan rumah sakit.

4. Implementasi

Implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun secara sistematis. Dengan demikian, tindakan keperawatan diprioritaskan pada penanganan respons nyeri sentral tanpa mengabaikan aspek psikososial. Sebagai konsekuensinya, setiap tindakan keperawatan yang dilakukan (misalnya memfasilitasi mandi air hangat, memberikan kompres, memantau konsumsi pregabalin, atau mengajarkan teknik koping) harus dicatat secara rinci di dalam rekam medis, mencakup tanggal, jam tindakan, serta respons verbal maupun nonverbal dari pasien.

5. Evaluasi

Evaluasi keperawatan dilakukan dengan membandingkan respons aktual pasien terhadap kriteria hasil yang telah ditetapkan pada tahap perencanaan. Secara teknis, evaluasi menggunakan format dokumentasi SOAP:

  • S (Subjektif): Catatan keluhan verbal pasien terkini mengenai intensitas nyeri (skala berkurang), status kualitas tidur, atau tingkat energi tubuh setelah diintervensi.
  • O (Objective): Hasil observasi perawat yang terukur, seperti penurunan ekspresi meringis, peningkatan kemampuan mobilisasi tanpa kelelahan berlebih, tanda vital stabil, serta hilangnya beberapa respon nyeri tekan (tender points).
  • A (Assesment): Penilaian perawat apakah masalah keperawatan teratasi seluruhnya, teratasi sebagian, atau belum teratasi sama sekali berdasarkan kriteria hasil SLKI.
  • P (Planning): Keputusan klinis perawat untuk melanjutkan rencana intervensi jika masalah belum teratasi sepenuhnya, memodifikasi intervensi, atau menghentikan intervensi apabila masalah keperawatan telah teratasi dengan sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Aggarwal, A., et al. (2022). Fibromyalgia in developing nations: Cultural influences on somatization and pain perception. Indian Journal of Rheumatology, 17(2), 145–152. Indian J Rheumatol Out

Asia Pacific League of Associations for Rheumatology (APLAR). (2019). Clinical practice guidelines for the management of fibromyalgia syndrome in the Asia-Pacific region. APLAR Publishing.

Clauw, D. J. (2015). Fibromyalgia: A clinical review. Journal of the American Medical Association, 314(15), 1611–1624. JAMA Network Out

Galvez-Sánchez, C. M., et al. (2019). Psychological impact of fibromyalgia: Current perspectives. Psychology Research and Behavior Management, 12, 117–127. Dovepress Out

Goldenberg, D. L. (2020). Fibromyalgia: A comprehensive guide for clinicians and researchers. Springer Nature.

Inanici, F., & Yunus, M. B. (2004). History of fibromyalgia: Past to present. Current Pain and Headache Reports, 8(5), 369–378. SpringerLink Out

Isbagio, H. (2021). Nyeri nosiplastik kronis: Pendekatan diagnosis dan penatalaksanaan reumatologi masa kini. Badan Penerbit FKUI.

Kertia, N. (2022). Manajemen komprehensif penyakit reumatik jaringan lunak di Indonesia. Gadjah Mada University Press.

Lee, J. W., et al. (2021). The Korean College of Rheumatology consensus recommendations for the management of fibromyalgia. Journal of Rheumatic Diseases, 28(3), 118–130. JRD Out

Macfarlane, G. J., et al. (2017). EULAR revised recommendations for the management of fibromyalgia. Annals of the Rheumatic Diseases, 76(2), 318–328. BMJ Journals Out

Nakamura, I., et al. (2020). Japanese Society of Rheumatology guidelines for fibromyalgia 2020: What has changed in neuro-sensory understanding? Modern Rheumatology, 30(5), 781–789. Taylor & Francis Out

Pramudiyo, R. (2023). Sensitisasi sentral sebagai dasar tata laksana modern fibromyalgia. Unpad Press.

Putra, T. R., et al. (2014). Rekomendasi diagnosis dan pengelolaan fibromyalgia. Perhimpunan Reumatologi Indonesia.

Sluka, K. A., & Clauw, D. J. (2016). Neurobiology of fibromyalgia and chronic widespread pain. Neuroscience, 338, 114–129. ScienceDirect Out

Soeroso, J. (2018). Buku ajar reumatologi klinis. Airlangga University Press.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *