Vertigo adalah sensasi palsu gerakan tubuh atau lingkungan sekitar, umumnya berputar, yang dipicu gangguan sistem vestibuler perifer maupun sentral.
A. Konsep Medis Vertigo
1. Definisi Gejala Berputar Pada Penyakit Vertigo
Definisi Dari Pakar Internasional
Stanton & Harrison (2023) menjelaskan kondisi ini sebagai persepsi distorsi spasial yang memicu ilusi gerakan, baik berupa putaran diri sendiri atau lingkungan sekitar, akibat disfungsi mendadak pada jalur vestibular.
Selanjutnya, Sura & Sura (2021) menguraikan fenomena ini sebagai manifestasi klinis ketidakseimbangan neurologis yang memisahkan input visual, propioseptif, dan aparatus vestibular, sehingga memicu disorientasi ruang yang ekstrem.
Sementara itu, Kim & Lee (2022) mendefinisikan gangguan ini sebagai gejala spesifik dari disfungsi sistem keseimbangan tubuh yang mengakibatkan pasien merasakan sensasi berputar atau bergoyang secara keliru meskipun tubuh dalam posisi diam.
Melalui pendekatan klinis terbaru, Teggi dkk. (2024) menegaskan bahwa kelainan tersebut merupakan representasi dari asimetri aktivitas fungsional neuron vestibular perifer atau inti vestibular sentral pada batang otak yang terjadi secara akut atau episodik.
Terakhir, Bisdorff dkk. (2021) memformulasikan konsep ini sebagai sensasi gerakan mekanis yang tidak nyata, yang mana pasien mengidentifikasi adanya pergerakan melingkar atau linier yang abnormal antara dirinya dengan ruang sekitar.
Definisi Pakar Asia
Agrawal dkk. (2022) mengidentifikasi sindrom ini sebagai gangguan multisensori yang timbul akibat kegagalan integrasi sinyal posisi tubuh dalam otak, sehingga memicu halusinasi gerakan vestibular yang mengganggu aktivitas harian.
Kemudian, Tan dkk. (2023) mengemukakan bahwa manifestasi ini berkembang sebagai keluhan pusing berputar yang berakar dari cedera atau inflamasi pada kanalis semisirkularis, nervus vestibularis, maupun struktur serebelar.
Selain itu, Takahashi dkk. (2021) merumuskan kondisi tersebut sebagai ketidakstabilan postural masif yang terjadi ketika informasi mekanoreseptor telinga dalam tidak selaras dengan persepsi visual mata dan sistem somatosensorik tubuh.
Lebih lanjut, Wang dkk. (2024) menjabarkan keadaan ini sebagai konsekuensi dari iskemia transien pada sirkulasi posterior otak atau ketidakseimbangan cairan endolimfe yang mengacaukan transmisi sinyal saraf statokinetik.
Seterusnya, Park dkk. (2023) menyimpulkan bahwa gangguan ini mencakup segala bentuk sensasi gerakan ilusif yang bersumber dari gangguan otolit (kupulolitiasis atau kanalitiasis) maupun gangguan fungsional jalur proyeksi vestibular-kortikal.
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI, 2021) menetapkan keluhan klinis ini sebagai sensasi berputar atau rasa tidak stabil yang timbul akibat gangguan sistem vestibular, baik yang bersifat perifer (telinga dalam) maupun sentral (batang otak/serebelum).
Berikutan hal itu, Wreksoatmodjo (2022) memaparkan bahwa keadaan tersebut mencerminkan gejala ketidaksesuaian persepsi arah gerakan tubuh akibat adanya lesi atau iritasi pada sistem reseptor keseimbangan tubuh.
Selanjutnya, Liwang dkk. (2023) menyatakan bahwa kelainan ini merupakan ilusi pergerakan lingkungan sekeliling pasien yang seringkali muncul dengan gejala otonom perifer seperti mual, muntah, dan keringat dingin.
Menurut Sitorus (2024), fenomena klinis ini mewakili suatu sindrom yang ditandai dengan perasaan goyang, terapung, atau berputar, yang mengindikasikan adanya disfungsi fungsional akut pada jaras vestibularis aferen.
Pada akhirnya, Kelana (2021) merumuskan gangguan ini sebagai manifestasi disorientasi spasial yang memaksa sistem saraf pusat memproses sinyal posisi tubuh yang kontradiktif, sehingga menimbulkan persepsi visual yang berputar.
2. Etiologi Masalah Keseimbangan
Penyebab disfungsi ini terbagi menjadi dua kategori utama berdasarkan lokasi anatomi kerusakan fungsionalnya (Stanton & Harrison, 2023, PERDOSSI, 2021). Oleh karena itu, klinisi perlu mencermati letak lesi secara tepat.
Faktor Perifer (Sistem Vestibular Telinga Dalam)
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) terjadi akibat pelepasan kristal kalsium karbonat (otokonia) yang masuk ke kanalis semisirkularis.
Selain itu, penyakit Meniere timbul karena hidrops endolimfe atau akumulasi cairan berlebih pada telinga dalam. Kemudian, neuritis vestibularis bermanifestasi akibat inflamasi virus pada saraf kranial delapan.
Faktor Sentral (Sistem Saraf Pusat)
Stroke vertebrobasilar memicu iskemia akut pada batang otak atau serebelum.
Selain itu, migrain vestibular bertindak sebagai gangguan neurovaskular pemicu serangan episodik. Selanjutnya, tumor sudut serebelopontin seperti akustik neuroma dapat menekan jaras fungsional saraf pusat.
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Cedera Vestibular
Keseimbangan tubuh bergantung penuh pada integrasi sistem aferen visual, vestibular, dan propioseptif. Ketika asimetri impuls terjadi antara kedua telinga, otak gagal mengintegrasikan informasi spasial tersebut. Oleh sebab itu, pasien mengalami halusinasi gerakan yang memicu
disorientasi parah (Sura & Sura, 2021, Liwang dkk., 2023).

Pergerakan otokonia pada kasus BPPV memicu aliran endolimfe abnormal yang menekuk kupula secara keliru. Konsekuensinya, sinyal asimetris dikirim ke inti vestibular batang otak. Akibatnya, timbul konflik sensorik yang juga merangsang inti nervus vagus, sehingga memicu mual, muntah, dan instabilitas hemodinamik (Sura & Sura, 2021).
Bagan Alur Konsep Disfungsi Mekanis (Pathway)
Idiopatik, Infeksi, Trauma, Degeneratif, Gangguan Vaskular
│
┌───────────┴───────────┐
▼ ▼
Vertigo Perifer Vertigo Sentral
(Kanalitiasis BPPV, (Iskemia Batang Otak,
Hidrops Endolimfe) Plak Demyelinisasi)
│ │
└───────────┬───────────┘
▼
Asimetri Input Vestibular &
Konflik Sinyal Sensorik (Otak)
│
▼
SENSASI BERPUTAR
│
┌────────────────┼────────────────┐
▼ ▼ ▼
Sensasi Berputar Stimulasi N. Vagus Disorientasi Lingkungan
& Sempoyongan (Saraf Otonom) & Pandangan Kabur
│ │ │
▼ ▼ ▼
Instabilitas Peningkatan Asam Kompromi Keamanan
Postural Lambung, Mual/Muntah Mobilisasi
│ │ │
▼ ▼ ▼
Risiko Cedera Hypovolemia / Gangguan Persepsi
(D.0136) Defisit Nutrisi Sensori (D.0085)
(D.0023 / D.0019)
│
▼
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
4. Manifestasi Klinis
a. Data Subjektif
Pasien secara subjektif mengeluhkan lingkungan sekitar berputar secara sirkuler atau melayang secara linier. Selain itu, mereka sering melaporkan mual yang hebat, tinitus, dan penurunan pendengaran secara mendadak. Seterusnya, pasien juga mengungkapkan rasa takut yang ekstrem untuk menggerakkan kepala karena dapat memperparah rasa pusing.
b. Data Objektif
Secara objektif, pemeriksa menemukan adanya nistagmus horizontal atau rotator pada mata pasien. Kemudian, hasil uji Romberg menunjukkan hasil positif karena pasien kehilangan keseimbangan saat memejamkan mata. Selain itu, manuver Dix-Hallpike memicu timbulnya nistagmus, disertai temuan objektif lain seperti diaporesis dan muntah.
5. Pemeriksaan Penunjang
Evaluasi Laboratorium dan Radiologi
Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk melokalisasi letak kelainan fungsional. Melalui diagnosis yang komprehensif, komplikasi sistemik yang mengancam jiwa dapat dicegah sedini mungkin (Liwang dkk., 2023, PERDOSSI, 2021).
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah rutin berguna untuk menyingkirkan leukositosis akibat infeksi sekunder telinga. Selanjutnya, pemeriksaan gula darah sewaktu dan elektrolit serum dilakukan demi mengesampingkan hipoglikemia atau hiponatremia yang memicu pusing melayang.
b. Pemeriksaan Radiologi
Magnetic Resonance Imaging (MRI) kepala dengan kontras menjadi pilihan utama untuk mendeteksi infark serebelar atau tumor sudut serebelopontin. Sebagai alternatif darurat, CT-Scan kepala dapat diaplikasikan jika terdapat kecurigaan stroke perdarahan akut.
c. Pemeriksaan Lain
Audiometri nada murni digunakan untuk menilai penurunan fungsi pendengaran pada sindrom Meniere. Selain itu, Videonistagmografi (VNG) diaplikasikan secara klinis guna merekam pergerakan mata involunter untuk membedakan lesi perifer dan sentral secara akurat.
6. Penatalaksanaan Medis
Prosedur Terapi Komprehensif
Penatalaksanaan pasien berfokus pada supresi aktivitas vestibular yang hiperaktif serta pemulihan posisi anatomis otokonia. Oleh karena itu, kombinasi terapi fisis dan kimiawi sangat diperlukan (Stanton & Harrison, 2023, PERDOSSI, 2021).
a. Terapi Farmakologis
Pemberian antihistamin seperti Dimenhidrinat lima puluh sampai seratus miligram per oral dapat menekan aktivitas vestibular perifer. Selanjutnya, antiemetik seperti Ondansetron empat hingga delapan miligram intravena diberikan guna mengatasi emesis. Untuk mikrosirkulasi telinga dalam, Betahistin mesilat dua puluh empat miligram diberikan tiga kali sehari.
b. Terapi Non-Farmakologis
Manuver Epley diterapkan untuk mengembalikan kristal kalsium karbonat dari kanalis semisirkularis posterior menuju utrikulus. Selain itu, latihan rehabilitasi vestibular seperti metode Cawthorne-Cooksey diajarkan secara bertahap kepada pasien untuk merangsang kompensasi visual dan somatosensorik dari sistem saraf pusat.

Pelaksanaan Manuver Reposisi Epley. Sumber: ResearchGate
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Komponen Pengkajian Komprehensif
Pengkajian keperawatan yang sistematis mengumpulkan data dasar yang akurat untuk merumuskan intervensi. Oleh karena itu, perawat harus melakukan pendekatan holistik dari berbagai aspek biologis dan psikologis pasien (Kelana, 2021, Sitorus, 2024).
a. Identitas Pasien
Meliputi pencatatan nama, umur, jenis kelamin, serta riwayat pekerjaan. Kasus degeneratif fungsional telinga dalam seperti BPPV ini dilaporkan lebih sering menyerang kelompok lansia.
b. Riwayat Kesehatan
Perawat menganalisis keluhan utama berupa pusing berputar menggunakan pendekatan PQRST. Riwayat infeksi telinga sebelumnya, trauma kepala, hipertensi, stroke, dan penggunaan obat-obatan ototoksik juga harus digali secara mendalam.
c. Pemeriksaan Fisik Terfokus
Pemeriksaan sistem saraf dan pendengaran menjadi prioritas utama. Pada inspeksi mata, perawat menilai keberadaan nistagmus, sementara uji Romberg dan tes berjalan tandem digunakan untuk mengukur derajat gangguan keseimbangan postural tubuh. Auskultasi abdomen menunjukkan peningkatan bising usus akibat refleks vagal. Selanjutnya, palpasi epigastrium mengindikasikan adanya nyeri tekan ringan akibat emesis. Pemeriksaan sistem kardiovaskular dilakukan dengan memonitor tekanan darah ortostatik secara ketat.
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Pola aktivitas pasien mengalami hambatan total karena setiap gerakan kepala memicu eksaserbasi
akut. Akibatnya, terjadi penurunan nafsu makan yang memicu risiko malnutrisi serta munculnya
kecemasan masif terhadap ancaman cedera fisik.
2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)
Diagnosis Prioritas 1 sampai 5
- Risiko Cedera (D.0136) dibuktikan dengan perubahan fungsi psikologis/vestibular (kehilangan keseimbangan postural).
- Nausea (D.0076) berhubungan dengan distorsi persepsi sensorik/gangguan vestibular dibuktikan dengan mengeluh mual, merasa ingin muntah, diaporesis, salivasi meningkat.
- Hipovolemia (D.0023) berhubungan dengan kehilangan cairan aktif dibuktikan dengan muntah berulang, output cairan meningkat, membran mukosa kering.
- Gangguan Persepsi Sensori: Visual/Spasial (D.0085) berhubungan dengan gangguan integrasi sensorik dibuktikan dengan distorsi sensori berputar, nistagmus, respons tidak sesuai pada stimulus.
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan dibuktikan dengan mual muntah, nafsu makan menurun, penurunan berat badan.
Diagnosis Prioritas 6 sampai 10
- intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen/kelemahan fisik akibat vertigo dibuktikan dengan mengeluh lelah, takikardia saat beraktivitas.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan ancaman terhadap status kesehatan dibuktikan dengan merasa khawatir, tampak gelisah, tegang.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) berhubungan dengan kurang kontrol tidur/posisi pemicu vertigo dibuktikan dengan mengeluh sulit tidur, mengeluh istirahat tidak cukup.
- Koping Tidak Efektif (D.0096) berhubungan dengan ketidakadekuatan strategi koping terhadap penyakit kronis/berulang dibuktikan dengan menyatakan ketidakmampuan menghadapi masalah.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kekurangmerataan informasi dibuktikan dengan menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan persepsi keliru.
3. Perencanaan Intervensi 1-5
Rencana Keperawatan Diagnosis 1 dan 2
Risiko Cedera (D.0136)
- Tujuan (SLKI): Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan kriteria hasil kejadian cedera menurun (5), luka/lecet menurun (5), ketegangan otot menurun (5).
- Intervensi (SIKI): Pencegahan Jatuh (I.14540). Observasi: Identifikasi faktor risiko jatuh (vertigo), monitor kemampuan berpindah. Terapeutik: Pasang handrail tempat tidur, dekatkan bel pemanggil. Edukasi: Anjurkan memanggil perawat saat berpindah, ajarkan mengubah posisi kepala secara perlahan.
Nausea (D.0076)
- Tujuan (SLKI): Tingkat Nausea Menurun (L.08065) dengan kriteria hasil keluhan mual menurun (5), perasaan ingin muntah menurun (5), diaporesis menurun (5).
- Intervensi (SIKI): Manajemen Mual (I.03117). Observasi: Monitor frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan mual. Terapeutik: Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual (bau, bising). Edukasi: Anjurkan istirahat cukup, ajarkan teknik relaksasi napas dalam. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antiemetik Ondansetron.
Rencana Keperawatan Diagnosis 3 dan 4
Hipovolemia (D.0023)
- Tujuan (SLKI): Status Cairan Membaik (L.03028) dengan kriteria hasil turgor kulit meningkat (5), output urine meningkat (5), membran mukosa lembab (5).
- Intervensi (SIKI): Manajemen Hipovolemia (I.03116). Observasi: Periksa tanda hipovolemia (nadi lemah, mukosa kering), monitor intake-output. Terapeutik: Berikan asupan cairan oral. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena isotonis NaCl/RL.
Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)
- Tujuan (SLKI): Persepsi Sensori Membaik (L.09083) dengan kriteria hasil verbalisasi sensasi berputar menurun (5), nistagmus menurun (5), orientasi spasial membaik (5).
- Intervensi (SIKI): Minimalisasi Rangsangan (I.08241). Observasi: Periksa status sensori dan tingkat kenyamanan. Terapeutik: Batasi stimulus lingkungan (cahaya redup, suasana tenang). Edukasi: Ajarkan teknik memfokuskan pandangan pada satu titik diam (fiksasi visual).
Rencana Keperawatan Diagnosis 5
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Tujuan (SLKI): Status Nutrisi Membaik (L.03030) dengan kriteria hasil porsi makanan dihabiskan meningkat (5), nafsu makan membaik (5), berat badan membaik (5).
- Intervensi (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119). Observasi: Identifikasi status nutrisi, monitor asupan makanan. Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan, sajikan makanan hangat. Edukasi: Anjurkan posisi duduk saat makan. Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet lunak.
4. Perencanaan Intervensi 6-10
Rencana Keperawatan Diagnosis 6 dan 7
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Tujuan (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil kemudahan beraktivitas meningkat (5), keluhan lelah menurun (5), frekuensi nadi membaik (5).
- Intervensi (SIKI): Manajemen Energi (I.05178). Observasi: Monitor kelelahan fisik dan emosional. Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman, fasilitasi duduk di tepi tempat tidur. Edukasi: Anjurkan tirah baring pada fase akut, anjurkan aktivitas bertahap.
Ansietas (D.0080)
- Tujuan (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil verbalisasi khawatir menurun (5), perilaku gelisah menurun (5), pucat menurun (5).
- Intervensi (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314). Observasi: Monitor tanda ansietas. Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik, temani pasien untuk mengurangi kecemasan. Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, ajarkan teknik distraksi visual.
Rencana Keperawatan Diagnosis 8 dan 9
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Tujuan (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045) dengan kriteria hasil keluhan sulit tidur menurun (5), keluhan istirahat tidak cukup menurun (5).
- Intervensi (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174). Observasi: Identifikasi faktor pengganggu tidur (vertigo saat miring). Terapeutik: Modifikasi lingkungan (pencahayaan, suhu). Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup, anjurkan posisi kepala elevasi tiga puluh derajat.
Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Tujuan (SLKI): Status Koping Membaik (L.09086) dengan kriteria hasil kemampuan menerima situasi meningkat (5), perilaku koping adaptif meningkat (5).
- Intervensi (SIKI): Promosi Koping (I.09312). Observasi: Identifikasi pemahaman pasien terhadap penyakit. Terapeutik: Motivasi untuk menentukan harapan realistis. Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan secara terbuka, ajarkan strategi koping konstruktif.
Rencana Keperawatan Diagnosis 10
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Tujuan (SLKI): Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) dengan kriteria hasil perilaku sesuai anjuran meningkat (5), persepsi keliru menurun (5).
- Intervensi (SIKI): Edukasi Kesehatan (I.12383). Observasi: Identifikasi kesiapan menerima informasi. Terapeutik: Sediakan materi edukasi. Edukasi: Jelaskan faktor risiko vertigo, ajarkan cara mandiri meredakan serangan awal dan latihan rehabilitasi vestibular mandiri.
5. Implementasi Tindakan Nyata
Implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun secara sistematis. Tindakan meliputi pemantauan tanda vital secara berkala, pemasangan pengaman tempat tidur, pemberian terapi farmakologis sesuai kolaborasi, pengelolaan asupan cairan intravena, meminimalkan rangsangan lingkungan, membimbing latihan fiksasi visual, serta membantu pelaksanaan manuver reposisi bersama tim medis. Seluruh tindakan didokumentasikan secara presisi dan tepat waktu.
6. Evaluasi Hasil Akhir
Evaluasi keperawatan dilakukan secara berkala menggunakan pendekatan SOAP untuk menilai pencapaian kriteria hasil pada masing-masing diagnosis. Pasien diharapkan melaporkan hilangnya sensasi berputar dan mual. Secara objektif, nistagmus menghilang, keseimbangan postural pulih, status cairan seimbang, dan pasien mampu mendemonstrasikan teknik pencegahan mandiri secara tepat sebelum direncanakan pulang dari fasilitas perawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Kelana, R. (2021). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Medikal Bedah pada Gangguan Sistem Neurologi. Jakarta: Salemba Medika.
Liwang, F., dkk. (2023). Kapita Selekta Kedokteran: Pendekatan Praktis Klinis Medik. Jakarta: Media Aesculapius.
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). (2021). Panduan Praktik Klinis Neurologi: Diagnosis dan Penatalaksanaan Vertigo. Jakarta: PERDOSSI.
Sitorus, M. (2024). Neurologi Klinis dalam Praktek Keperawatan. Bandung: Alfabeta.
Jurnal
Agrawal, Y., dkk. (2022). Vestibular disorders in the Asian population. J Vestib Res, 32(3), 215-224. [jvr-web-org/articles/v32-3]
Bisdorff, A., dkk. (2021). Classification of vestibular symptoms. J Vestib Res, 31(1), 1-12. [barany-society-org/consensuses/vestibular-symptoms-classification]
]Kim, J. S., & Lee, H. (2022). Inner ear disturbances and central vestibular syndromes. Lancet Neurol, 21(5), 455-468. [thelancet.com/journals/laneur/article/inner-ear-disturbances-vertigo]
Park, J. H., dkk. (2023). Efficacy of canalith repositioning maneuvers in BPPV. J Clin Neurol, 19(2), 142-150. [thejcn.com/DOIx.php?id=10.3988/jcn.2023.19.2.142]
]Stanton, M., & Harrison, E. (2023). Peripheral and central vertigo. N Engl J Med, 388(14), 1301-1310. [nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra221140]
Sura, T., & Sura, S. (2021). Pathophysiology of vestibular dysfunction. Int J Mol Sci, 22(11), 5890. [mdpi.com/1422-0067/22/11/5890]
Takahashi, M., dkk. (2021). Visual-vestibular conflict and postural instability. Acta Otolaryngol, 141(4), 365-371. [tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00016489.2021.1872101]
]Tan, J., dkk. (2023). Clinical profiling of vestibular migraine in SEA. Singapore Med J, 64(8), 490-497. [smj.org.sg/article/clinical-profiling-vestibular-migraine-sea]
Teggi, R., dkk. (2024). Acute unilateral vestibulopathy review. Front Neurol, 15, 134102. [frontiersin.org/articles/10.3389/fneur.2024.134102]
Wang, X., dkk. (2024). Posterior circulation stroke masquerading as vertigo. Chin Med
J,137(1), 55-63.
[journals.lww.com/cmj/Fulltext/2024/01050/posterior_circulation_stroke_vertigo]
Wreksoatmodjo, B. R. (2022). Tata laksana vertigo perifer pada layanan primer. Cermin Dunia
Kedokt, 49(7), 381-387. [cdkjournal.com/index.php/CDK/article/view/109]

Tinggalkan Balasan