Penyumbatan mendadak pada arteri pulmonalis akibat gumpalan darah yang lepas dari area tubuh lain, sehingga mengancam nyawa pasien secara drastis.
A. Konsep Medis Emboli Paru
1. Istilah dan Makna Penyakit Emboli Paru
Definisi Dari Pakar Internasional
American Heart Association mendefinisikan emboli paru sebagai obstruksi mekanis pada pembuluh darah paru oleh bekuan darah, udara, lemak, atau jaringan tumor yang bermigrasi dari sirkulasi vena sistemik (AHA, 2021).
Selanjutnya, European Society of Cardiology menegaskan bahwa kondisi ini merupakan penyumbatan akut pada arteri pulmonalis atau cabangnya yang mayoritas berasal dari komplikasi Deep Vein Thrombosis (DVT) di ekstremitas bawah (ESC, 2020).
Selain itu, Goldhaber menjelaskan penyakit ini sebagai gangguan sirkulasi pulmonal mematikan yang terjadi ketika trombus lepas menyumbat aliran darah menuju paru-paru (Goldhaber, 2019).
Kemudian, Konstantinides mengidentifikasi emboli paru sebagai manifestasi akut yang mengancam jiwa dari tromboemboli vena dengan karakteristik disfungsi ventrikel kanan akibat peningkatan beban kerja jantung (Konstantinides, 2022).
Sementara itu, Tapson merumuskan emboli paru sebagai sindrom klinis akibat sumbatan trombotik pada sirkulasi vaskular paru yang memicu ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi secara masif (Tapson, 2020).
Definisi Pakar Asia
Japanese Circulation Society mengartikan penyakit ini berupa sumbatan arteri paru oleh trombus vaskular yang memiliki angka mortalitas tinggi jika tenaga medis terlambat menanganinya (JCS, 2020).
Sebaliknya, Lee mendefinisikan gangguan tersebut sebagai oklusi vaskular paru mendadak yang menurunkan curah jantung secara drastis pada populasi pasien Asia Timur (Lee, 2022).
Lalu, Chen menggambarkan patologi ini sebagai penyumbatan mekanis pembuluh darah paru yang memicu hipoksia berat akibat hambatan pertukaran gas (Chen, 2021).
Asosiasi Dokter India merumuskan emboli paru sebagai kegawatdaruratan kardiovaskular akibat migrasi bekuan darah dalam sistem vena yang menyumbat sirkulasi mikro paru-paru (API, 2019).
Berikutnya, Kurnia mengidentifikasi kondisi tersebut sebagai hambatan aliran darah pulmonal akibat fragmen trombus yang lepas dari pembuluh darah perifer (Kurnia, 2023).
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia menetapkan gangguan ini sebagai sumbatan pada arteri pulmonalis yang bersumber dari embolisasi trombus sirkulasi vena sistemik (PERKI, 2021).
Oleh karena itu, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengartikan kelainan ini sebagai penyakit vaskular paru yang merusak area kapiler alveolus akibat oklusi material embolus (PDPI, 2019).
Sastroasmoro menjelaskan masalah kesehatan sebagai gangguan perfusi paru akut akibat jebakan bekuan darah yang mengalir dari pembuluh darah tungkai bawah (Sastroasmoro, 2020).
Dengan demikian, Sukmana mendefinisikan keadaan tersebut berupa kegawatdaruratan respirasi dan sirkulasi yang terjadi akibat sumbatan tromboemboli pada sirkulasi pulmonal (Sukmana, 2022).
Akhirnya, Harun merumuskan fenomena patologis sebagai oklusi mekanis mendadak pada percabangan arteri pulmonalis yang memicu hipertensi pulmonal akut (Harun, 2019).
2. Sumber Penyebab Penyakit Emboli Paru
Penyebab utama gangguan sirkulasi ini melibatkan tiga faktor klasik dalam Trias Virchow, yaitu: stasis vena, cedera dinding pembuluh darah (endotel), dan hiperkoagulabilitas (PDPI, 2019; ESC, 2020).
Sebagai akibatnya, sumber paling sering (>90%) adalah lepasnya bekuan darah dari vena dalam ekstremitas bawah seperti vena poplitea, femoralis, atau iliaka. Faktor risiko imobilisasi lama akibat tirah baring, perjalanan jauh, atau kelumpuhan juga memicu stasis aliran darah vena.
Selain itu, tindakan bedah besar khususnya ortopedi dan trauma jaringan sering merusak dinding vena secara langsung. Oleh karena itu, kondisi keganasan atau kanker turut meningkatkan risiko karena sel tumor melepaskan zat prokoagulan yang mempercepat pembekuan darah.
Selanjutnya, kelainan hiperkoagulabilitas herediter seperti mutasi Faktor V Leiden ikut berkontribusi besar. Akhirnya, faktor non-trombotik meliputi emboli lemak akibat patah tulang, air ketuban saat persalinan, hingga penggunaan kontrasepsi hormonal (AHA, 2021; Konstantinides, 2022).
3. Mekanisme Penyakit Emboli Paru
Proses Patofisiologi
Ketika sebuah trombus terlepas dari tempat asalnya, material tersebut menjadi embolus yang mengalir mengikuti sirkulasi vena sistemik menuju atrium kanan, ventrikel kanan, dan akhirnya terjebak dalam sirkulasi arteri pulmonalis (Goldhaber, 2019).
Dampak mekanis sumbatan ini meningkatkan resistensi vaskular pulmonal secara mendadak. Akibatnya, ventrikel kanan harus bekerja lebih keras melawan hambatan tersebut (peningkatan afterload), yang memicu dilatasi ventrikel kanan, iskemia miokard, dan penurunan curah jantung kiri karena penekanan septum interventrikular. Pada sistem pernapasan, sumbatan menyisakan area paru yang mendapat ventilasi tetapi tidak mendapat perfusi (alveolar dead space). Hal ini memicu ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch), hipoksemia berat, serta refleks bronkokonstriksi yang memperparah sesak napas (AHA, 2021; Konstantinides, 2022).
Penyimpangan KDM
[Trias Virchow: Stasis, Cedera Endotel, Hiperkoagulabilitas]
│
[Pembentukan DVT]
│
[Trombus lepas menjadi Embolus]
│
[Masuk ke Jantung Kanan -> Arteri Pulmonalis]
│
┌─────────┴────────────────────────┐
▼ ▼
[Oklusi Vaskular Paru] [Hambatan Aliran Darah]
│ │
┌─────────┴─────────┐ ▼
▼ ▼ [Peningkatan Afterload RV]
[Dead Space Alveolar] [Kerusakan Surfaktan] │
│ │ [Dilatasi & Gagal RV]
▼ ▼ │
[V/Q Mismatch] [Atelektasis] [Penurunan Cardiac Output]
│ │ │
▼ ▼ ▼
[Gangguan Pertukaran Gas] [Pola Napas Tidak Efektif] [Penurunan Perfusi Jaringan]
4. Gejala Klinis Penyakit Emboli Paru
Tanda Subjektif
Pasien umumnya mengeluhkan dispnea berupa sesak napas mendadak yang tidak dapat dijelaskan oleh kondisi lain (keluhan paling dominan).
Sementara itu, muncul nyeri dada pleurit yang terasa tajam seperti tertusuk saat menarik napas dalam akibat adanya infark atau inflamasi.
Oleh karena itu, timbul anksietas berat serta muncul perasaan cemas, gelisah, atau ketakutan ekstrem akan kematian mendadak.
Selain itu, pasien sering merasakan palpitasi berupa sensasi jantung berdebar kencang secara konstan.
Akhirnya, dapat terjadi sinkop atau kehilangan kesadaran mendadak akibat penurunan drastic perfusi serebral pada kasus masif (ESC, 2020; PERKI, 2021).
Tanda Objektif
Tenaga medis dapat mengobservasi takipnea dengan frekuensi napas yang melebihi angka 20 kali per menit.
Selanjutnya, terdapat juga takikardia yang ditandai dengan denyut jantung melebihi batasan 100 kali per menit.
Sementara itu, terjadi hipotensi atau syok obstruktif berupa penurunan tekanan darah sistolik < 90 mmHg.
Lalu, tampak sianosis atau warna kebiruan pada bibir dan ujung jari akibat kondisi hipoksemia berat.
Berikutnya, muncul demam ringan dengan kisaran suhu tubuh antara 37.5 hingga 38.5 derajat Celsius akibat respon inflamasi sistemik.
Akhirnya, terlihat tanda DVT nyata seperti pembengkakan asimetris, nyeri tekan, dan eritema pada salah satu ekstremitas bawah (Konstantinides, 2022; Sukmana, 2022).
5. Metode Diagnostik Penyakit Emboli Paru
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan D-Dimer mendeteksi produk degradasi fibrin dengan tingkat sensitivitas yang sangat tinggi (AHA, 2021). Nilai kurang dari 500 ng/mL dapat menyingkirkan kemungkinan kondisi ini pada pasien dengan risiko rendah.
Selanjutnya, Analisis Gas Darah (AGD) memperlihatkan kondisi hipoksemia, hipokapnia, serta alkalosis respiratorik akibat hiperventilasi.
Sementara itu, pemeriksaan Troponin I/T dan NT-proBNP berfungsi sebagai penanda biomarker jantung yang meningkat akibat adanya regangan ventrikel kanan (PERKI, 2021).
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan CT Pulmonary Angiography (CTPA) menjadi standar baku utama untuk mendeteksi defek pengisian pada arteri pulmonalis (ESC, 2020).
Selain itu, Foto Toraks dapat memperlihatkan tanda spesifik seperti Westermark sign atau Hampton’s hump.
Kemudian, Ventilation-Perfusion (V/Q) Scan diaplikasikan sebagai alternatif radiologi bagi pasien yang memiliki kontraindikasi zat kontras iodin (PDPI, 2019).
Pemeriksaan Lain
Pemeriksaan Elektrokardiografi (EKG) menunjukkan tanda beban ventrikel kanan berupa sinus takikardia, RBBB baru, atau pola klasik S1Q3T3.
Akhirnya, Pilihan menggunakan Ekokardiografi Transtorakal untuk menilai disfungsi ventrikel kanan secara langsung serta mendeteksi tanda McConnell’s sign (Sukmana, 2022).
6. Tata Laksana Penyakit Emboli Paru
Terapi Farmakologis
Pemberian antikoagulan seperti Unfractionated Heparin (UFH) atau Low Molecular Weight Heparin (LMWH) berfungsi menghentikan perpanjangan trombus segera (ESC, 2020).
Selanjutnya, penggunaan Direct Oral Anticoagulants (DOACs) seperti Rivaroxaban atau Apixaban direkomendasikan untuk terapi jangka panjang pasien.
Sementara itu, terapi trombolitik menggunakan Alteplase (rtPA) atau Streptokinase diterapkan untuk melarutkan bekuan darah secara cepat pada kasus masif dengan hemodinamik tidak stabil.
Oleh karena itu, pemberian vasopressor seperti Norepinefrin atau Dobutamin juga perlu guna mempertahankan tekanan darah sistemik (PERKI, 2021).
Terapi Non-Farmakologis
Melakukan pemberian terapi oksigen untuk menjaga tingkat saturasi oksigen (SpO2) tetap berada di atas target 92%.
Kemudian, tindakan embolektomi kateter percutan dipilih untuk mengevakuasi trombus secara mekanis bagi pasien yang memiliki kontraindikasi terapi trombolisis.
Selain itu, menjalankan embolektomi bedah melalui operasi darurat untuk mengambil bekuan darah langsung dari arteri pulmonalis.
Akhirnya, pemasangan Inferior Vena Cava (IVC) Filter diposisikan untuk mencegah embolus dari ekstremitas bawah bermigrasi ke paru-paru (Tapson, 2020; PDPI, 2019).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Tahap Pengkajian
Identitas dan Riwayat
Langkah awal pengkajian meliputi pencatatan nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan yang membutuhkan duduk lama, dan diagnosa medis saat masuk rumah sakit.
Selanjutnya, riwayat kesehatan sekarang menggali kronologi timbulnya dispnea mendadak, durasi nyeri dada, adanya hemoptisis, atau kejadian sinkop sebelum masuk rumah sakit.
Sementara itu, riwayat kesehatan dahulu berfokus pada catatan medis DVT, fraktur tulang panjang, operasi besar, imobilisasi, atau penyakit keganasan.
Selain itu, riwayat kesehatan keluarga menelusuri adanya anggota keluarga dengan gangguan koagulasi darah atau kematian mendadak.
Pemeriksaan Fisik Sistem Fokus
Pada sistem pernapasan, inspeksi menunjukkan dispnea berat, penggunaan otot bantu napas, takipnea, dan pernapasan cuping hidung. Palpasi memastikan kesimetrisan ekspansi dada, perkusi menghasilkan resonansi normal atau pekak pada area infark, dan auskultasi mendeteksi ronkhi basah atau pleural friction rub.
Pada sistem kardiovaskular, inspeksi memperlihatkan distensi vena jugularis. Palpasi mendeteksi takikardia dan nadi perifer lemah, perkusi menunjukkan batas jantung kanan bergeser ke lateral, dan auskultasi mengonfirmasi gallop S3/S4 serta pengerasan komponen P2.
Pemeriksaan Fisik Sistem Lain
Sistem persarafan menunjukkan kesandaran compos mentis hingga somnolen akibat hipoksia serebral. Sistem pencernaan menunjukkan perut datar, bising usus normal, dan hepatomegali kongestif jika terjadi gagal jantung kanan lanjut.
Sistem perkemihan mencatat produksi urine yang menurun (oliguria) akibat penurunan perfusi ginjal sekunder. Sistem integumen dan muskuloskeletal memperlihatkan kulit pucat, akral dingin, sianosis perifer, serta pembengkakan unilateral, peningkatan suhu lokal, dan nyeri tekan (tanda Homans positif) pada ekstremitas bawah.
Pengkajian Pola Fungsi
Pola persepsi kesehatan menunjukkan pasien kurang memahami kondisi penyakit karena awitan mendadak. Pola nutrisi terganggu sehingga terjadi penurunan nafsu makan akibat sesak napas akut dan mual karena stres tubuh.
Pola eliminasi sering memunculkan konstipasi karena ketakutan pasien untuk mengejan saat buang air besar. Pola aktivitas memperlihatkan intoleransi aktivitas berat, sedangkan pola istirahat terganggu akibat adanya ortopnea dan nyeri dada pleurit yang memburuk saat terlentang.
2. Diagnosis Keperawatan
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d. Hambatan upaya napas.
- Penurunan Curah Jantung (D.0008) b.d. Peningkatan beban akhir ventrikel kanan.
- Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) b.d. Penurunan aliran darah sistemik.
- Nyeri Akut (D.0077) b.d. Agen pencedera fisiologis.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
- Ansietas (D.0080) b.d. Ancaman terhadap kematian.
- Risiko Perdarahan (D.0012) b.d. Efek samping terapi agen farmakologis antikoagulan.
- Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif (D.0017) b.d. Penurunan aliran darah sirkulasi ke otak.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. Kurang terpapar informasi mengenai program pengobatan.
3. Perencanaan Intervensi 1-4
Intervensi 1: Gangguan Pertukaran Gas
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi d.d. Dispnea, PCO2 meningkat/menurun, PO2 menurun, takikardia, pH arteri abnormal, sianosis, pola napas abnormal.
Luaran Keperawatan (SLKI): Pertukaran Gas Meningkat (L.01003) dengan kriteria hasil tingkat kesadaran meningkat, dispnea menurun, bunyi napas tambahan menurun, PCO2 membaik, PO2 membaik, takikardia menurun, pH arteri membaik, sianosis membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Tindakan Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor pola napas; Monitor adanya produksi sputum; Monitor adanya sumbatan jalan napas; Palpasi kesimetrisan ekspansi paru; Auskultasi bunyi napas; Monitor saturasi oksigen; Monitor nilai AGD.
- Tindakan Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.
Intervensi Tambahan (SIKI): Terapi Oksigen (I.01026)
- Tindakan Observasi: Monitor kecepatan aliran oksigen; Monitor posisi alat terapi oksigen; Monitor aliran oksigen secara periodik dan pastikan fraksi yang diberikan cukup; Monitor efektifitas terapi oksigen; Monitor tanda-tanda hipoventilasi; Monitor tanda dan gejala toksisitas oksigen dan atelektasis; Monitor integritas mukosa hidung akibat pemasangan oksigen.
- Tindakan Terapeutik: Bersihkan sekret pada mulut, hidung dan trakea, jika perlu; Pertahankan kepatenan jalan napas; Berikan oksigen tambahan, jika perlu; Tetapkan kalibrasi aliran oksigen.
- Tindakan Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan oksigen di rumah.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis oksigen; Kolaborasi penggunaan oksigen saat aktivitas dan/atau tidur.
Intervensi 2: Pola Napas Tidak Efektif
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d. Hambatan upaya napas d.d. Dispnea, penggunaan otot bantu napas, fase ekspirasi memanjang, pola napas abnormal, takipnea.
Luaran Keperawatan (SLKI): Pola Napas Membaik (L.01004) dengan kriteria hasil ventilasi semenit meningkat, kapasitas vital meningkat, dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekspirasi menurun, frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Tindakan Observasi: Monitor pola napas; Monitor bunyi napas tambahan; Monitor sputum.
- Tindakan Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift; Posisikan semi-Fowler atau Fowler; Berikan minum hangat; Lakukan fisioterapi dada, jika perlu; Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik; Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal; Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi; Ajarkan teknik batuk efektif.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
Intervensi 3: Penurunan Curah Jantung
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Penurunan Curah Jantung (D.0008) b.d. Peningkatan beban akhir ventrikel kanan d.d. Perubahan irama jantung, perubahan preload, perubahan afterload, perubahan kontraktilitas, takikardia, lelah, edema, JVP meningkat, oliguria, kulit pucat.
Luaran Keperawatan (SLKI): Curah Jantung Meningkat (L.02008) dengan kriteria hasil efektivitas pompa jantung meningkat, tanda vital dalam rentang normal, kekuatan nadi perifer meningkat, ejection fraction membaik, distensi vena jugularis menurun, edema menurun.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Perawatan Jantung Akut (I.02075)
- Tindakan Observasi: Identifikasi karakteristik nyeri dada; Monitor EKG 12 tetapan untuk perubahan ST dan T; Monitor aritmia; Monitor saturasi oksigen.
- Tindakan Terapeutik: Pertahankan tirah baring minimal 12 jam; Pasang pagar pengaman tempat tidur; Sediakan lingkungan yang kondusif untuk beristirahat; Berikan diet jantung yang sesuai; Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi ansietas dan stres.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan segera melaporkan nyeri dada; Anjurkan menghindari manuver Valsava; Jelaskan tindakan yang dilakukan pada pasien dan keluarga.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antiplatelet, jika perlu; Kolaborasi pemberian antiangina; Kolaborasi pemberian morfin, jika perlu.
Intervensi 4: Perfusi Perifer Tidak Efektif
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) b.d. Penurunan aliran darah sistemik d.d. Pengisian kapiler >2 detik, nadi perifer menurun atau tidak teraba, akral dingin, warna kulit pucat, turgor kulit menurun, edema perifer.
Luaran Keperawatan (SLKI): Perfusi Perifer Meningkat (L.02011) dengan kriteria hasil denyut nadi perifer meningkat, penyembuhan luka meningkat, sensasi meningkat, warna kulit pucat menurun, edema perifer menurun, pengisian kapiler membaik, akral membaik, turgor kulit membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Perawatan Sirkulasi (I.02079)
- Tindakan Observasi: Periksa sirkulasi perifer; Identifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi; Monitor panas, kemerahan, rasa sakit, atau bengkak pada ekstremitas.
- Tindakan Terapeutik: Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area cedera; Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas dengan keterbatasan jalur; Hindari penekanan dan pemasangan torniquet pada area yang cedera; Lakukan hidrasi.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan melakukan perawatan kulit yang tepat; Anjurkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi; Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan.
4. Perencanaan Intervensi 5-7
Intervensi 5: Nyeri Akut
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Nyeri Akut (D.0077) b.d. Agen pencedera fisiologis d.d. Mengeluh nyeri, tampak meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit tidur, tekanan darah meningkat, pola napas berubah.
Luaran Keperawatan (SLKI): Tingkat Nyeri Menurun (L.08066) dengan kriteria hasil
kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat, keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik, tekanan darah membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
- Tindakan Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi respon nyeri non verbal; Identifikasi faktor yang memperberat dan memperringan nyeri; Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri; Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri; Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup; Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan; Monitor efek samping penggunaan analgetik.
- Tindakan Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri; Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri; Fasilitasi istirahat dan tidur; Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri; Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat; Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.
Intervensi 6: Intoleransi Aktivitas
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen d.d. Mengeluh lelah, frekuensi jantung meningkat >20% akibat aktivitas, dispnea saat/setelah aktivitas, EKG menunjukkan iskemia, merasa tidak nyaman setelah beraktivitas, merasa lemah.
Luaran Keperawatan (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil frekuensi nadi sesudah aktivitas meningkat, saturasi oksigen setelah aktivitas meningkat, kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, EKG iskemia menurun.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Energi (I.05178)
- Tindakan Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan; Berikan aktivitas relaksasi yang menenangkan; Tingkatkan rentang gerak pasif atau aktif.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang; Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Intervensi 7: Ansietas
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Ansietas (D.0080) b.d. Ancaman terhadap kematian d.d. Merasa bingung, merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi, sulit berkonsentrasi, tampak gelisah, tampak tegang, sulit tidur, frekuensi nadi meningkat, tekanan darah meningkat.
Luaran Keperawatan (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik, pola tidur membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
- Tindakan Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Identifikasi kemampuan mengambil keputusan; Monitor tanda-tanda ansietas.
- Tindakan Terapeutik: Ciptakan lingkungan terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Dengarkan dengan penuh perhatian; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan.
- Tindakan Edukasi: Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan; Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang; Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu; Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak membahayakan; Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi.
- Tindakan Latihan: Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan; Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat; Latih teknik relaksasi.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.
5. Perencanaan Intervensi 8-10
Intervensi 8: Risiko Perdarahan
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Risiko Perdarahan (D.0012) b.d. Efek samping terapi agen farmakologis antikoagulan d.d. Terdapat faktor risiko berupa penggunaan obat-obatan antitrombotik, trombolitik, atau antikoagulan secara kontinu.
Luaran Keperawatan (SLKI): Tingkat Perdarahan Menurun (L.02017) dengan kriteria hasil kelembapan membran mukosa meningkat, hemoglobin membaik, hematokrit membaik, hematuria menurun, hematemesis menurun, perdarahan anus menurun, tanda vital stabil.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Pencegahan Perdarahan (I.02067)
- Tindakan Observasi: Monitor tanda dan gejala perdarahan; Monitor nilai hematokrit/hemoglobin sebelum dan setelah kehilangan darah; Monitor koagulasi; Monitor tanda-tanda vital ortostatik.
- Tindakan Terapeutik: Pertahankan bed rest selama perdarahan; Batasi tindakan invasif, jika perlu; Hindari pengukuran suhu rektal; Gunakan kasur pencegah dekubitus.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk menghindari konstipasi; Anjurkan menghindari aspirin atau antikoagulan oral tanpa resep; Anjurkan meningkatkan asupan makanan dan vitamin K; Anjurkan segera melapor jika terjadi perdarahan.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan, jika perlu; Kolaborasi pemberian produk darah, jika perlu.
Intervensi 9: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif (D.0017) b.d. Penurunan aliran darah sirkulasi ke otak d.d. Terdapat faktor risiko berupa penurunan curah jantung kiri sekunder akibat oklusi sirkulasi masif.
Luaran Keperawatan (SLKI): Perfusi Serebral Meningkat (L.02014) dengan kriteria hasil tingkat kesadaran meningkat, sakit kepala menurun, gelisah menurun, kecemasan menurun, nilai rata-rata tekanan darah (MAP) membaik, tekanan intrakranial membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Pemantauan Tekanan Intrakranial (I.06198)
- Tindakan Observasi: Identifikasi penyebab peningkatan TIK; Monitor tanda/gejala peningkatan TIK; Monitor MAP; Monitor status pernapasan.
- Tindakan Terapeutik: Pertahankan posisi kepala dan leher netral; Atur interval pemantauan sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.
Intervensi 10: Defisit Pengetahuan
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. Kurang terpapar informasi mengenai program pengobatan d.d. Menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah, menjalani pemeriksaan yang tidak tepat.
Luaran Keperawatan (SLKI): Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) dengan kriteria hasil perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat dalam belajar meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, perilaku salah menurun.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Edukasi Proses Penyakit (I.12444)
- Tindakan Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi kesehatan; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan penyebab dan faktor risiko penyakit; Jelaskan tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh penyakit; Jelaskan proses patofisiologi timbulnya penyakit; Jelaskan strategi meminimalkan efek samping penyakit; Jelaskan tanda dan gejala yang harus dilaporkan segera; Informasikan kondisi pasien saat ini; Ajarkan cara meredakan atau meminimalkan gejala yang muncul; Ajarkan cara meminimalkan efek samping intervensi pengobatan.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis untuk mengoptimalkan pemahaman pasien.
6. Aktivitas Pelaksanaan
Implementasi
Implementasi keperawatan melaksanakan serangkaian rencana tindakan yang telah disusun secara terstruktur dalam intervensi. Aktivitas ini mencakup pemantauan status respirasi pasien secara berkala, fasilitasi kenyamanan posisi kepala tempat tidur (semi-Fowler/Fowler) untuk meluangkan ekspansi paru, pengaturan terapi oksigen, monitoring tanda-tanda hemodinamik akibat ancaman gagal ventrikel kanan, pemberian terapi antikoagulan intravena sesuai program medis, pencegahan pelepasan trombus baru dengan melarang manuver Valsava, serta pendampingan psikologis untuk mereduksi level ansietas akut pasien.
Evaluasi
Evaluasi keperawatan menilai pencapaian kriteria hasil yang ditetapkan dalam tujuan luaran (SLKI) dengan menggunakan metode dokumentasi subjektif, objektif, analisis, dan perencanaan kembali (SOAP):
- S (Subjektif): Pasien melaporkan sesak napas telah berkurang secara signifikan, rasa cemas mereda, dan nyeri dada tidak lagi menusuk tajam saat melakukan inspirasi.
- O (Objektif): Frekuensi pernapasan stabil dalam rentang normal (16-18 x/menit), denyut nadi teratur (<100 x/menit), saturasi oksigen (SpO2) bertahan >95% dengan atau tanpa bantuan kanul, analisis gas darah (AGD) menunjukkan nilai pH, PaO2, dan PaCO2 dalam rentang fisiologis, serta tidak ditemukan tanda-tanda perdarahan baru.
- A (Analisis): Masalah keperawatan seperti Gangguan Pertukaran Gas, Pola Napas Tidak Efektif, dan Penurunan Curah Jantung telah teratasi sebagian atau seluruhnya.
- P (Perencanaan): Pertahankan intervensi yang masih diperlukan, modifikasi aktivitas perawatan untuk masa pemulihan, dan lanjutkan edukasi penggunaan obat antikoagulan oral mandiri sebelum pasien pulang dari rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Harun, S. (2019). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Kegawatdaruratan Kardiovaskular. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). (2019). Panduan Praktik Klinis: Penyakit Paru Vaskular. Jakarta: PDPI.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). (2021). Pedoman Tata Laksana Tromboemboli Vena. Jakarta: PERKI.
Sastroasmoro, S. (2020). Dasar-Dasar Metodologi Klinis dan Patofisiologi Kardiorespirasi. Jakarta: Sagung Seto.
Sukmana, N. (2022). Tatalaksana Kegawatdaruratan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Jurnal:
AHA. (2021). Diagnosis, Treatment, and Management of Pulmonary Embolism. Circulation, 144(12), e211-e232.
API. (2019). API Guidelines on Venous Thromboembolism Management. J Assoc Physicians India, 67(4), 51-64.
Chen, T. L. (2021). Clinical Manifestations and Treatment Outcomes of Pulmonary Embolism in Taiwan. J Formos Med Assoc, 120(5), 1145-1153.
ESC. (2020). ESC Guidelines for the Diagnosis and Management of Acute Pulmonary Embolism Developed in Collaboration with the European Respiratory Society. Eur Heart J, 41(4), 543-603.
Goldhaber, S. Z. (2019). Pulmonary Embolism: Pathophysiology and Clinical Management. The Lancet, 393(10180), 1541-1552.
JCS. (2020). JCS 2020 Guideline on Diagnosis and Treatment of Acute Pulmonary Embolism. Circ J, 84(10), 1750-1785.
Konstantinides, S. V. (2022). Trends in Pulmonary Embolism Outcomes and Management Frameworks. N Engl J Med, 386(11), 1051-1062.
Kurnia, R. (2023). Thromboembolism Incidence and Prevention Stratification in Southeast Asia. Acta Med Indones, 55(2), 180-189.
Lee, J. S. (2022). Epidemiology and Clinical Characteristics of Pulmonary Embolism in East Asian Populations. J Korean Med Sci, 37(12), e92.
Tapson, V. F. (2020). Advances in the Diagnosis and Treatment of Acute Pulmonary Embolism. Am J Respir Crit Care Med, 201(4), 390-401.

Tinggalkan Balasan