Aspirasi paru merupakan masuknya bahan asing liquid atau solid ke saluran napas bawah, memicu cedera epitel, hipoksia berat, hingga distres pernapasan akut. (Kurniawan, 2024)
- A. KONSEP MEDIS ASPIRASI PARU
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS ASPIRASI PARU
1. Definisi Penyakit Aspirasi Paru
Definisi Dari Pakar Internasional
James dkk. (2022) menegaskan bahwa aspirasi paru menggambarkan masuknya cairan lambung, makanan, atau cairan orofaringeal ke dalam saluran napas di bawah pita suara yang berisiko memicu kerusakan parenkim. (James et al., 2022)
Selanjutnya, Smith dan Jones (2023) mengartikan kondisi ini sebagai bentuk kecelakaan inhalasi zat toksik atau non-toksik yang menginduksi reaksi inflamasi hebat pada alveoli. (Smith & Jones, 2023)
Di sisi lain, Miller (2023) merumuskan masalah tersebut sebagai kegagalan refleks protektif sfingter esofagus dan laring yang membiarkan materi lambung mengkontaminasi percabangan trakeobronkial. (Miller, 2023)
Kemudian, Taylor (2024) mendefinisikan gangguan ini berupa migrasi material orofaringeal secara involunter ke dalam sistem pernapasan bawah selama fase penurunan kesadaran. (Taylor, 2024)
Sementara itu, Brown (2025) menyebutkan bahwa penyakit ini merepresentasikan penumpukan partikel padat atau cair asing di dalam sediaan paru yang mengganggu pertukaran gas alveolar secara masif. (Brown, 2025)
Definisi Pakar Asia
Tanaka dkk. (2023) di Jepang merumuskan gangguan respiratorik ini akibat masuknya sekresi saliva terkontaminasi bakteri ke dalam ruang alveolar pasien lansia. (Tanaka et al., 2023)
Lebih lanjut, Kim dan Park (2024) di Korea Selatan mengidentifikasi sindrom ini sebagai penetrasi mekanis dari refluks lambung melewati glotis yang mengancam ventilasi secara mendadak. (Kim & Park, 2024)
Oleh karena itu, Chen (2024) di Taiwan menjelaskan kondisi tersebut sebagai invasi cairan eksogen ke dalam membran basalis alveolus yang memicu pneumonitis kimiawi. (Chen, 2024)
Sejalan dengan hal tersebut, Sharma (2025) di India mendefinisikan kejadian ini sebagai kegagalan koordinasi menelan yang melemparkan sisa makanan langsung ke dalam trakea pasien neurologis. (Sharma, 2025)
Sebagai pelengkap, Wang dkk. (2025) di Tiongkok menegaskan bahwa sindrom ini mencakup lolosnya cairan kontras atau nutrisi enteral ke dalam jaringan intersisial akibat malposisi selang nasogastrik. (Wang et al., 2025)
Definisi Pakar Indonesia
Sudoyo (2022) menjelaskan bahwa fenomena ini mewakili proses masuknya benda asing liquid atau solid ke dalam saluran napas bawah yang dapat menimbulkan pneumonitis atau pneumonia. (Sudoyo, 2022)
Hubungan ini dipertegas oleh Amin dan Asih (2023) yang mengartikan kondisi terkait sebagai tertelannya sekret orofaringeal atau isi lambung ke dalam organ pernapasan akibat penurunan refleks batuk. (Amin & Asih, 2023)
Ditinjau dari aspek lain, Setiati (2023) mengemukakan bahwa gangguan ini merupakan sindrom klinis akibat paparan asam lambung ber-pH rendah pada jaringan parenkim. (Setiati, 2023)
Fakta tersebut didukung oleh Siregar (2024) yang mengidentifikasi keadaan ini sebagai lolosnya bolus makanan dari jalur digestif ke dalam jalur respiratorik karena disfungsi menelan. (Siregar, 2024)
Akhirnya, Kurniawan (2024) menegaskan bahwa penyakit ini membentuk suatu kondisi darurat napas ketika cairan atau partikel asing menginvasi ruang bronkus dan merusak surfaktan. (Kurniawan, 2024)
2. Etiologi Penyakit Aspirasi Paru
Faktor pencetus utama kejadian ini meliputi penurunan kesadaran akibat stroke, trauma kepala, overdosis obat, atau efek anestesi umum yang menurunkan refleks muntah dan batuk. (Smith & Jones, 2023)
Selain itu, gangguan menelan seperti pada penyakit Parkinson, Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), dan tumor esofagus turut mengganggu fase orofaringeal secara signifikan. (Sharma,2025)
Masalah gastrointestinal berupa Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), obstruksi pilorus, dan gastroparesis juga meningkatkan volume serta tekanan lambung. (Miller, 2023) Prosedur medis seperti penggunaan selang nasogastrik (NGT) yang tidak tepat, intubasi endotrakeal, dan tindakan trakeostomi ikut meningkatkan risiko paparan. (Wang et al., 2025) Faktor anatomis seperti fistula trakeoesofageal atau hernia hiatus berat memudahkan bolus masuk ke trakea secara langsung. (Amin & Asih, 2023)
3. Patofisiologi dan KDM Penyakit Aspirasi Paru
Patofisiologi
Materi asing yang masuk ke trakeobronkial segera memicu kerusakan kimiawi dan mekanis pada epitel sel tipe I dan II. Akibatnya, produksi surfaktan menurun drastis sehingga memicu kolaps alveoli. Peningkatan permeabilitas kapiler pulmonal kemudian menyebabkan eksudasi cairan kaya protein ke dalam ruang alveoli. Respons inflamasi sistemik melepaskan sitokin proinflamasi yang menarik neutrofil, sehingga memperparah kerusakan membran alveolokapiler dan memicu mismatch ventilasi-perfusi. (James et al., 2022, Chen, 2024)
Penyimpangan KDM (Pathway)
[Faktor Risiko: Penurunan Kesadaran / Disfagia / Selang NGT]
│
▼
Penurunan Refleks Batuk & Muntah
│
▼
Materi Asing (Isi Lambung/Makanan) Masuk Trakea
│
┌─────────────┴─────────────┐
▼ ▼
[Benda Padat Tersangkut] [Cairan Asam Lambung (pH <2.5)]
│ │
▼ ▼
Obstruksi Jalan Napas Luka Bakar Kimiawi Sel Alveolus
│ │
▼ ├──────────────────────────┐
Sputum Terperangkap, ▼ ▼
Mengi, Dispnea Kerusakan Surfaktan Peningkatan Permeabilitas
│ │ Kapiler Alveolus
▼ ▼ │
Bersihan Jalan Napas Kolaps Alveolus ▼
Tidak Efektif (Atelektasis) Cairan Masuk ke Alveoli
│ │
└───────────┬──────────────┘
▼
Edema Paru Akut
│
▼
Gangguan Pertukaran Gas
│
▼
Hipoksia Jaringan
│
▼
Defisit Nutrisi /
Intoleransi Aktivitas
4. Manifestasi Klinis Penyakit Aspirasi Paru
a. Data Subjektif
Pasien atau keluarga mengeluh sesak napas mendadak secara intensif. (Siregar, 2024) Keluhan nyeri dada seperti terbakar sering dirasakan saat bernapas. (Amin & Asih, 2023) Sensasi tersedak atau makanan menyangkut di tenggorokan dikeluhkan oleh pasien sadar. (Sharma, 2025) Pasien merasa pusing atau lemas akibat kekurangan oksigen ke jaringan otak. (Taylor, 2024)
b. Data Objektif
Batuk paroksismal disertai dengan sputum berbusa atau bercampur sisa makanan. (Miller, 2023) Takipnea dan takikardia terlihat jelas pada pemeriksaan tanda-tanda vital awal. (James et al.,2022)Sianosis peri-oral atau pada kuku jari tampak nyata akibat hipoksemia berat. (Chen, 2024) Penggunaan otot bantu napas dan retraksi interkostal terlihat selama fase inspirasi. (Sudoyo, 2022)
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Aspirasi Paru
a. Pemeriksaan Laboratorium
Analisis Gas Darah (AGD) menunjukkan hipoksemia berat dan kompensasi alkalosis atau asidosis respiratorik. (Smith & Jones, 2023) Darah Lengkap memperlihatkan leukositosis yang menandakan infeksi sekunder atau respons inflamasi masif. (Setiati, 2023) Kultur Sputum dan Darah mengidentifikasi patogen spesifik jika berkembang menjadi pneumonia. (Tanaka et al., 2023)
b. Pemeriksaan Radiologi
Foto Toraks memperlihatkan infiltrat baru atau konsolidasi, terutama di lobus kanan bawah. (Kurniawan, 2024) CT Scan Toraks mengonfirmasi area atelektasis segmental atau mikro-kejadian secara lebih sensitif. (Kim & Park, 2024)
c. Pemeriksaan Lain
Bronkoskopi Serat Optik memvisualisasikan langsung jalan napas sekaligus menghisap sumbatan benda asing padat. (Brown, 2025)
Pulse Oximetry menunjukkan penurunan saturasi oksigen secara konstan di bawah 92%. (Taylor, 2024)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Antibiotik Empiris seperti Ampisilin-Sulbaktam atau Klindamisin diberikan untuk mengatasi kuman anaerob orofaringeal. (Setiati, 2023)
Kortikosteroid berupa Metilprednisolon intravena dialokasikan untuk menekan peradangan hebat pada pneumonitis kimiawi. (Brown, 2025)
Bronkodilator melalui nebulisasi Albuterol digunakan guna mengatasi bronkospasme akibat iritasi asam lambung. (Smith & Jones, 2023)
b. Terapi Non-Farmakologis
Suctioning Segera berupa penghisapan lendir dan material asing dilakukan secepat mungkin dari jalan napas atas. (James et al., 2022)
Terapi Oksigen diberikan via Non-Rebreathing Mask atau ventilasi mekanis dengan PEEP tinggi pada kasus ARDS. (Chen, 2024)
Posisi Semifowler atau Fowler dipertahankan dengan menaikkan kepala tempat tidur 30–45 derajat untuk meminimalkan risiko refluks susulan. (Amin & Asih, 2023)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, status kesadaran saat masuk, nomor rekam medis, dan diagnosis medis utama. (Kurniawan, 2024)
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama berupa sesak napas mendadak disertai batuk setelah makan atau muntah. (Siregar, 2024)
Riwayat Penyakit Sekarang mencakup kronologi kejadian tersedak, volume materi yang masuk, dan penurunan kesadaran sebelum onset. (Taylor, 2024)
Riwayat Penyakit Dahulu mengevaluasi adanya riwayat stroke, epilepsi, GERD, atau disfagia kronis. (Sharma, 2025)
c. Pemeriksaan Fisik
Sistem Pernapasan: Inspeksi menunjukkan dispnea, takipnea, pernapasan cuping hidung, penggunaan otot bantu napas, serta gerakan dada asimetris. Palpasi taktil fremitus meningkat di area konsolidasi. Perkusi redup di area lobus kanan bawah. Auskultasi terdengar suara napas tambahan berupa ronkhi basah kasar dan wheezing. (Amin & Asih, 2023, Kim & Park, 2024)
Sistem Kardiovaskular: Palpasi nadi takikardia, perfusi perifer dingin, dan CRT > 2 detik jika terjadi syok hipoksik. (Smith & Jones, 2023)
Sistem Pencernaan: Auskultasi bising usus hipoaktif pada gastroparesis, palpasi distensi abdomen yang meningkatkan risiko refluks. (Miller, 2023)
Sistem Persarafan: Pengkajian tingkat kesadaran dengan GCS, evaluasi fungsi nervus kranialis IX, X, XII untuk menilai refleks menelan. (Tanaka et al., 2023)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Pola Nutrisi/Metabolik mengidentifikasi kesulitan menelan, batuk saat disuapi, penggunaan NGT, atau riwayat muntah proyektil. (Sharma, 2025)
Pola Aktivitas/Latihan memetakan kelemahan otot umum atau kelumpuhan yang membatasi kemampuan batuk efektif. (Taylor, 2024)
2. Diagnosis Keperawatan
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Risiko Aspirasi (D.0006)
- Defisit Nutrisi (D.0019)
- Hipertermia (D.0130)
- Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Risiko Infeksi (D.0142)
- Gangguan Menelan (D.0063)
- Ansietas (D.0080)
3. Perencanaan (Intervensi)
Perencanaan Diagnosis 1 s.d. 3
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran (SLKI): Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
- Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengi menurun, ronkhi menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik, pola napas membaik.
- Intervensi (SIKI): Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); monitor bunyi napas tambahan (mis. gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kering); monitor sputum (jumlah, warna, aroma).
- Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (jaw-thrust jika curiga trauma servikal); posisikan Semi-Fowler atau Fowler; lakukan penghisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik; lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal.
- Edukasi: Ajarkan teknik batuk efektif; anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran (SLKI): Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
- Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, dyspnea menurun, bunyi napas tambahan menurun, PCO2 membaik, PO2 membaik, takikardia menurun, pH arteri membaik, sianosis membaik.
- Intervensi (SIKI): Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes); monitor adanya produksi sputum; monitor adanya sumbatan jalan napas; palpasi kesimetrisan ekspansi paru; auskultasi bunyi napas; monitor saturasi oksigen; monitor nilai AGD.
- Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; dokumentasikan hasil pemantauan.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; informasikan hasil pemantauan, jika perlu.
- Kolaborasi: Kolaborasi terapi oksigen (mis. NRM, CPAP, atau ventilator).
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran (SLKI): Pola Napas Membaik (L.01004)
- Kriteria Hasil: Ventilasi semenit meningkat, kapasitas vital meningkat, tekanan ekspirasi meningkat, tekanan inspirasi meningkat, dyspnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekspirasi menurun, pernapasan cuping hidung menurun, frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik.
- Intervensi (SIKI): Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Observasi: Monitor adanya retraksi dinding dada; monitor adanya pernapasan cuping hidung; monitor pola napas abnormal.
- Terapeutik: Posisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi paru (fowler/semi-fowler); pertahankan jalan napas terbuka.
- Edukasi: Ajarkan teknik bernapas dalam; ajarkan metode pursed-lip breathing jika diperlukan.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian mukolitik atau bronkodilator jika diperlukan.
Perencanaan Diagnosis 4 s.d. 6
Risiko Aspirasi (D.0006)
- Luaran (SLKI): Tingkat Aspirasi Menurun (L.01006)
- Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, kemampuan menelan meningkat, kebersihan mulut membaik, dyspnea menurun, kelemahan otot menurun, batuk menurun, ronkhi menurun, gelisah menurun.
- Intervensi (SIKI): Pencegahan Aspirasi (I.01018)
- Observasi: Monitor tingkat kesadaran, refleks batuk, refleks muntah, dan kemampuan menelan; monitor status pernapasan; monitor bunyi napas setelah makan/minum; periksa residu gaster sebelum pemberian makanan enteral.
- Terapeutik: Pertahankan posisi kepala tempat tidur meninggi 30-45 derajat selama dan 1 jam setelah pemberian makan; sediakan suction di dekat tempat tidur; hindari pemberian makanan jika residu gaster tinggi; potong makanan menjadi ukuran kecil.
- Edukasi: Ajarkan keluarga atau pasien memberikan makan secara perlahan; ajarkan strategi mencegah masuknya makanan ke jalan napas.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi terkait tekstur makanan yang aman dan bentuk diet.
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran (SLKI): Status Nutrisi Membaik (L.03030)
- Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, kekuatan otot pengunyah meningkat, kekuatan otot menelan meningkat, serum albumin meningkat, indeks massa tubuh (IMT) membaik, tebal lipatan kulit trisep membaik.
- Intervensi (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Identifikasi status nutrisi; identifikasi alergi dan intoleransi makanan; identifikasi makanan yang disukai; identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien; monitor asupan makanan; monitor berat badan; monitor hasil pemeriksaan laboratorium.
- Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; fasilitasi menentukan pedoman diet; sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein jika diindikasikan.
- Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan secara bertahap.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan; kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. antiemetik, prokinetik).
Hipertermia (D.0130)
- Luaran (SLKI): Termoregulasi Membaik (L.14134)
- Kriteria Hasil: Menggigil menurun, kulit merah menurun, kejang menurun, akrosianosis menurun, konsumsi oksigen menurun, suhu tubuh membaik (36,5 – 37,5), suhu kulit membaik, kadar glukosa darah membaik.
- Intervensi (SIKI): Manajemen Hipertermia (I.15506)
- Observasi: Identifikasi penyebab hipertermia (mis. dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan inkubator, inflamasi); monitor suhu tubuh; monitor kadar elektrolit; monitor haluaran urine; monitor adanya komplikasi akibat hipertermia.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang dingin; longgarkan atau lepaskan pakaian; berikan cairan oral; lakukan kompres hangat pada aksila, dahi, atau lipat paha; hindari pemberian aspirin.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring total; anjurkan hidrasi adekuat.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu; kolaborasi pemberian antipiretik.
Perencanaan Diagnosis 7 s.d. 10
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
- Kriteria Hasil: Frekuensi nadi apikal meningkat, kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, kecepatan berjalan meningkat, jarak berjalan meningkat, kekuatan tubuh bagian atas meningkat, kekuatan tubuh bagian bawah meningkat, keluhan lelah menurun, dyspnea saat aktivitas menurun, dyspnea setelah aktivitas menurun.
- Intervensi (SIKI): Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; monitor kelelahan fisik dan emosional; monitor pola dan jam tidur; monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya, suara, kunjungan); fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan; lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring; anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran (SLKI): Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Kriteria Hasil: Kebersihan tangan meningkat, kebersihan badan meningkat, demam menurun, kemerahan menurun, nyeri menurun, bengkak menurun, kadar sel darah putih membaik, kultur area respiratorik membaik.
- Intervensi (SIKI): Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
- Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; berikan perawatan kulit pada area edema; cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien; pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi.
- Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala infeksi paru; ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; ajarkan etika batuk yang tepat.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis atau terapeutik sesuai indikasi.
Gangguan Menelan (D.0063)
- Luaran (SLKI): Fungsi Menelan Membaik (L.06052)
- Kriteria Hasil: Mempertahankan makanan di mulut meningkat, refleks menelan meningkat, kemampuan mengosongkan mulut meningkat, usaha menelan meningkat, tersedak menurun, batuk menurun, refluks lambung menurun.
- Intervensi (SIKI): Dukungan Perawatan Diri: Makan/Minum (I.11351)
- Observasi: Monitor kemampuan menelan dan adanya sisa makanan di mulut; monitor status hidrasi.
- Terapeutik: Berikan posisi duduk tegak (90 derajat) saat makan dan pertahankan setelah makan; sediakan lingkungan yang menyenangkan; sediakan sedotan jika direkomendasikan oleh tim medis.
- Edukasi: Informasikan keluarga untuk menghindari makanan padat yang kering; anjurkan mengunyah secara perlahan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan terapis wicara untuk program rehabilitasi fungsi menelan.
Ansietas (D.0080)
- Luaran (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik, pola tidur membaik, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. kondisi, waktu, stresor); monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan; pahami situasi yang membuat ansietas; dengarkan dengan penuh perhatian.
- Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien; ajarkan teknik relaksasi distraksi atau napas dalam.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas atau sedatif jika diperlukan.
4. Implementasi
Implementasi dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi SIKI yang telah disusun. Tindakan meliputi pemosisian semi-fowler secara konsisten, melakukan suctioning darurat pada pasien dengan penurunan refleks, memantau saturasi oksigen secara real-time via pulse oximetry, mengoordinasikan pemberian terapi nebulisasi, memberikan makanan enteral dengan elevasi kepala, mempertahankan sterilitas saat suctioning, serta memantau balance cairan secara berkala. Seluruh tindakan didokumentasikan secara rinci mencakup waktu pelaksanaan, respons subjektif, dan objektif pasien. (Siregar, 2024, Brown, 2025)
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan dinilai berdasarkan pencapaian kriteria hasil pada SLKI (Metode SOAP):
- S (Subjektif): Pasien melaporkan sesak napas sudah berkurang secara signifikan, tidak ada sensasi tersedak.
- O (Objektif): Jalan napas bersih, ronkhi dan wheezing menghilang, tanda vital stabil (RR: 16-20x/menit, SpO2: 98% dengan nasal kanul), AGD normal.
- A (Analisis): Masalah Bersihan Jalan Napas dan Gangguan Pertukaran Gas teratasi sebagian atau seluruhnya.
- P (Planning): Intervensi dipertahankan (seperti elevasi kepala pasca makan) atau dihentikan jika kriteria hasil tercapai penuh. (Kurniawan, 2024, James et al., 2022)
Perhitungan Fisiologis Klinis (Dapat disalin ke Word)
Jika klinisi ingin menghitung rasio PaO2/FiO2 untuk menilai derajat keparahan cedera paru
akut akibat masuknya benda asing, gunakan rumus berikut:
Rasio P/F = PaO2 / FiO2
Keterangan: PaO2 = Tekanan parsial oksigen darah arteri (mmHg) FiO2 = Fraksi oksigen
inspirasi (dalam bentuk desimal, contoh: Oksigen ruangan = 0,21)
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Z. & Asih, S. (2023). Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru dan Saluran Napas. Jakarta: Penerbit Kedokteran Indonesia.
Brown, T. (2025). Critical Care Pulmonology: Managing Acute Aspiration Syndromes. J. Respir. Emerg., 14(2), 112-120. [jresurg.org/critical-care-aspiration-syndromes]
Chen, L. (2024). Pathophysiological Mechanisms of Chemical Pneumonitis Following Gastric Aspiration. Asian Pulm. Rev., 31(3), 204-215. [asianpulmrev.com/chemical-pneumonitis-pathophysiology]
James, M. et al. (2022). Principles of Airway Management and Aspiration Prevention. London: Medical Academy Press.
Kim, H. & Park, J. (2024). Diagnostic Accuracy of CT Chest in Micro-aspiration Induced Lung Injury. Korean J. Radiol. Care, 19(1), 45-53. [kjrc.org/ct-chest-micro-aspiration]
Kurniawan, A. (2024). Penatalaksanaan Kedaruratan Respirasi dalam Praktik Klinis. Bandung: Alfabeta Health.
Miller, R. (2023). Gastrointestinal Risk Factors and Airway Contamination. Int. J. Anaesthesia, 55(4), 389-395. [ijanaesthesia.com/gi-risk-factors-airway-contamination]
Setiati, S. (2023). Panduan Praktis Klinis Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.
Sharma, S. (2025). Neurogenic Dysphagia and Aspiration Pneumonia: An Asian Perspective. Indian J. Neurol., 42(2), 88-96. [indianjneurol.org/neurogenic-dysphagia-aspiration]
Siregar, F. (2024). Analisis Konsep Asuhan Keperawatan Kritis Pada Pasien Dengan Distres Pernapasan Akut Ec Aspirasi Masif. J. Keperawatan Klinis Indones., 12(1), 34-42. [jkki.or.id/askep-kritis-respirasi-aspirasi]
Smith, J. & Jones, M. (2023). Textbook of Respiratory Medicine and Alveolar Pathophysiology. New York: Elsevier.
Sudoyo, A. W. (2022). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Tanaka, Y. et al. (2023). Prevalence and Bacterial Profile of Silent Aspiration in Geriatric Patients. J. Asian Geriatr., 28(5), 512-521. [jasiangeriatrics.com/silent-aspiration-profile]
Taylor, E. (2024). Airway Protection Reflexes in Altered States of Consciousness. J. Clin. Nurs. Care, 40(1), 77-84. [jcnc.org/airway-reflexes-consciousness]
Wang, X. et al. (2025). Complications of Enteral Nutrition Support: Focus on Tube Displacements and Pulmonary Aspiration. China J. Crit. Care Med., 18(3), 156-163. [cjccm.com/enteral-nutrition-aspiration]

Tinggalkan Balasan