Kanker paru merupakan pertumbuhan sel ganas yang tidak terkendali pada jaringan epitel bronkus atau bronkiolus, yang sering kali terlambat terdeteksi sehingga menurunkan peluang kesembuhan pasien.
A. Konsep Medis Kanker Paru
1. Deskripsi Batasan Penyakit Kanker Paru
Definisi dari Pakar Internasional
World Health Organization (2021), mendefinisikan kanker paru sebagai tumor ganas yang berasal dari epitel saluran pernapasan, sel-sel tersebut membelah secara cepat tanpa kontrol dan berpotensi menyebar ke organ tubuh lain (WHO, 2021).
Selanjutnya, American Cancer Society (2023) menjelaskan penyakit ini sebagai keganasan yang bermula di paru-paru, biasanya menyerang sel-sel yang melapisi jalan napas seperti bronkus atau bronkiolus (American Cancer Society, 2023).
Selain itu, pakar klinis dari Mayo Clinic (2024) mengartikan kondisi tersebut sebagai jenis kanker yang berawal pada organ paru-paru, perokok aktif memiliki risiko tertinggi meskipun individu non-perokok juga dapat mengembangkannya (Mayo Clinic, 2024).
Kemudian, National Cancer Institute (2022) menegaskan bahwa neoplasma ini mencakup tumor ganas epitelial primer yang timbul dalam parenkim, yang terbagi secara klinis menjadi tipe sel kecil (SCLC) dan bukan sel kecil (NSCLC) (National Cancer Institute, 2022).
Akhirnya, International Association for the Study of Lung Cancer (2021) merumuskan masalah ini sebagai penyakit keganasan sistemik yang melibatkan mutasi genetik pada jaringan pernapasan, yang memerlukan diagnosis histopatologis akurat untuk menentukan strategi terapi target (Travis et al., 2021).
Definisi dari Pakar Asia
Pakar dari Japanese Cancer Society (2022) mengidentifikasi karsinoma ini sebagai neoplasma ganas pada sistem pernapasan bawah yang memiliki kaitan sangat erat dengan paparan polusi lingkungan serta faktor genetik spesifik populasi Asia seperti mutasi EGFR (Japanese Cancer Society, 2022).
Lebih lanjut, Chinese Anti-Cancer Association (2023) mendefinisikan kasus ini sebagai tumor epitelial ganas primer pada organ respirasi yang menduduki peringkat tertinggi dalam mortalitas kanker Asia akibat tingginya konsumsi tembakau dan pajanan partikel halus PM2.5 (Chinese Anti-Cancer Association, 2023).
Sementara itu, Indian Council of Medical Research (2022) merinci gangguan tersebut sebagai lesi ganas primer yang berkembang dari bronkus, yang manifestasinya sering kali menyerupai penyakit infeksi kronis seperti tuberkulosis sehingga menyulitkan diagnosis dini (Indian Council of Medical Research, 2022).
Oleh karena itu, pakar Korean Association for Lung Cancer (2024) mengklasifikasikan fenomena ini sebagai penyakit degeneratif seluler pada parenkim yang membutuhkan pendekatan skrining Low-Dose CT Scan untuk menekan angka kematian pada kelompok risiko tinggi (Korean Association for Lung Cancer, 2024).
Secara senada, Asian Oncology Society (2023) merumuskan kelainan ini sebagai karsinoma primer pulmonal yang menunjukkan heterogenitas biologis tinggi, kasus pada perempuan Asia non-perokok sering kali memperlihatkan karakteristik molekuler yang unik (Asian Oncology Society, 2023).
Definisi dari Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2023) mendefinisikan tumor tersebut sebagai Semua keganasan primer yang berasal dari pembentukan sel abnormal dalam jaringan parenkim, bronkus, maupun trakea (PDPI, 2023).
Hubungan ini dipertegas oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022), yang menetapkan kondisi tersebut sebagai penyakit keganasan pada saluran pernapasan yang sebagian besar kasusnya berhubungan langsung dengan perilaku merokok, baik pada perokok aktif maupun pasif (Kemenkes RI, 2022).
Sejalan dengan hal itu, pakar onkologi dari Perhimpunan Onkologi Indonesia (2021) menjelaskan kelainan ini sebagai karsinoma bronkogenik yang membutuhkan penanganan multidisiplin karena sifatnya yang agresif dan cepat melakukan metastasis ke kelenjar getah bening, tulang, serta otak (POI, 2021).
Tambahan pula, Syarifuddin (2022) mengartikan masalah ini sebagai kondisi malformasi dan proliferasi seluler yang merusak arsitektur normal alveolus, sehingga mengganggu fungsi pertukaran gas secara permanen (Syarifuddin, 2022).
Sebagai penutup, Sudoyo et al. (2021) dalam buku ajar ilmu penyakit dalam Indonesia merumuskan keadaan tersebut sebagai tumor ganas epithelial yang tumbuh destruktif local dan mampu menyebar jauh melalui jalur hematogen maupun limfogen (Sudoyo et al., 2021).
2. Etiologi Penyakit Kanker Paru
Faktor Risiko Utama
Penyebab utama dari timbulnya keganasan ini berakar pada kerusakan DNA seluler akibat paparan zat karsinogenik secara kronis. Oleh karena itu, konsumsi asap tembakau atau kebiasaan merokok memegang andil terbesar pada lebih dari 80-90% kasus (PDPI, 2023). Asap rokok mengandung lebih dari 60 jenis zat karsinogen seperti nitrosamin dan polisiklik aromatik hidrokarbon yang secara langsung merusak struktur genetik sel epitel (American Cancer Society, 2023).
Faktor Lingkungan dan Genetik
Selain rokok, paparan gas radon yang keluar dari tanah dan batuan alami dapat terakumulasi dalam ruangan tertutup sehingga merusak sel-sel pelapis saluran napas. Akibatnya, pekerja industri yang sering terpapar asbestos, arsenik, kromium, nikel, dan tar batu bara mengalami peningkatan risiko yang signifikan. Selain itu, polusi udara luar ruangan akibat gas buang kendaraan dan partikel halus PM2.5 turut memicu inflamasi kronis. Terakhir, faktor genetik berupa mutasi bawaan pada gen EGFR atau TP53 meningkatkan kerentanan individu meskipun mereka tidak memiliki riwayat merokok (National Cancer Institute, 2022).
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Penyakit Kanker Paru
Mekanisme Kerusakan Seluler
Secara patofisiologis, iritasi kronis oleh zat kimia menyebabkan terjadinya proses metaplasia dari epitel silia kolumnar menjadi epitel skuamosa berstrata. Akibatnya, jika paparan ini terus berlangsung dalam jangka panjang, muncul displasia seluler yang disertai mutasi onkogen. Oleh karena itu, sel-sel yang telah mengalami kerusakan ini kehilangan fungsi apoptosis alami sehingga membelah diri dengan sangat cepat tanpa kendali (National Cancer Institute, 2022).
Dampak Invasi Tumor
Selanjutnya, massa padat yang terbentuk akan menginvasi struktur jaringan sekitarnya serta menyumbat lumen bronkus utama. Dampak dari penyumbatan ini memicu kolapsnya area paru (atelektasis) dan penumpukan sekret yang mengundang infeksi sekunder bakteri. Selain itu, kerusakan pada membran alveolofasial mengganggu proses difusi oksigen secara optimal. Tumor juga merangsang pembentukan pembuluh darah baru yang rapuh, yang sewaktu-waktu dapat pecah saat pasien batuk dan menimbulkan gejala batuk darah (PDPI, 2023).
Alur Penyimpangan KDM
Paparan Karsinogen (Asap Rokok, Asbestos, Radon)
│
Kerusakan DNA Sel Epitel Bronkus
│
Mutasi Genetik (Aktivasi Onkogen, Inaktivasi TP53)
│
Proliferasi Sel Ganas Gagal Apoptosis
│
Massa Tumor Paru Invasif
│
┌─────────────────┴─────────────────┬───────────────────┐
▼ ▼ ▼
Obstruksi Bronkus Kerusakan Membran Hipermetabolisme Sel
│ Alveolofasial & Pelepasan Sitokin
├──────────────────┐ │ │
▼ ▼ ▼ ▼
Akumulasi Sekret Atelektasis Gangguan Difusi Anoreksia Berat
│ │ │ │
▼ ▼ ▼ ▼
Bersihan Jalan Penurunan Gangguan Defisit Nutrisi
Napas Tidak Ventilasi Pertukaran Gas (D.0019)
Efektif (D.0001) │ (D.0003)
▼
Pola Napas Tidak
Efektif (D.0005)
4. Manifestasi Klinis Penyakit Kanker Paru
Data Subjektif
Pasien mengeluhkan sesak napas (dispnea) yang terasa semakin memberat, terutama saat melakukan aktivitas fisik ringan atau ketika berbaring telentang. Selain itu, pasien juga mengeluhkan batuk kronis yang tidak kunjung sembuh selama lebih dari tiga minggu berturut-turut. Kemudian, pasien sering merasakan nyeri dada yang bersifat tajam, konstan, atau menusuk, yang dapat menjalar hingga ke area bahu dan punggung. Akhirnya, pasien menyatakan kehilangan nafsu makan secara drastis serta penurunan berat badan yang signifikan tanpa direncanakan sebelumnya (PDPI, 2023).
Data Objektif
Melalui pemeriksaan auskultasi, suara napas tambahan berupa mengi (wheezing) lokal akibat penyempitan lumen bronkus atau ronkhi akibat penumpukan sekret. Selanjutnya, tampak adanya ekspektorasi sputum bercak darah (hemoptisis) atau batuk darah masif. Pada pemeriksaan fisik, terlihat penggunaan otot bantu napas, frekuensi napas yang cepat (takipnea > 24 x/menit), serta cuping hidung mengembang. Penurunan berat badan yang ekstrem (> 10% dalam beberapa bulan) terlihat jelas melalui tampilan fisik kaheksia, dan jari tabuh (clubbing fingers) yang menandakan hipoksia kronis (Mayo Clinic, 2024).
5. Pemeriksaan Penunjang
Skrining Laboratorium
Melakukan pemeriksaan sitologi sputum untuk mendeteksi keberadaan sel-sel epitel ganas di dalam sampel dahak pasien. Selanjutnya, menggunakan analisis gas darah (AGD) untuk menilai derajat hipoksia (PaO2 rendah) dan hiperkapnia (PaCO2 tinggi) akibat kerusakan parenkim. Selanjutnya, pemeriksaan penanda tumor seperti CEA, Cyfra 21-1, atau NSE berguna untuk memantau efektivitas terapi. Terakhir, analisis molekuler jaringan dilakukan untuk mendeteksi adanya mutasi spesifik seperti EGFR, ALK, atau tingkat ekspresi PD-L1 (PDPI, 2023).
Diagnosis Radiologi
Foto rontgen dada merupakan langkah awal untuk mendeteksi adanya massa tumor, nodul tunggal, atelektasis, ataupun efusi pleura. Kemudian, pemeriksaan CT Scan toraks dengan kontras diaplikasikan guna mengevaluasi ukuran massa secara presisi, keterlibatan kelenjar getah bening mediastinum, serta tingkat invasi pada pembuluh darah besar. Sebagai tambahan, PET-CT Scan dapat dijalankan untuk mengukur tingkat aktivitas metabolik sel tumor pada seluruh tubuh guna mengidentifikasi adanya metastasis jauh pada organ tulang, hati, atau kelenjar adrenal (Travis et al., 2021).
Prosedur Endoskopi dan Biopsi
Tindakan bronkoskopi diterapkan untuk memvisualisasikan struktur internal percabangan bronkus secara langsung sekaligus mengambil sampel jaringan melalui teknik biopsi, brushing, atau washing. Sementara itu, untuk massa tumor yang terletak pada area tepi atau perifer yang tidak dapat dijangkau oleh alat bronkoskop, tim medis akan melakukan tindakan Biopsi Jarum Halus (FNAB) atau Core Biopsy dengan panduan instrumen CT Scan guna memastikan diagnosis histopatologis (PDPI, 2023).
6. Penatalaksanaan Medis
Metode Farmakologis
Terapi kemoterapi sistemik berbasis platinum seperti kombinasi Cisplatin atau Carboplatin dengan Paclitaxel digunakan untuk menghambat pembelahan sel kanker yang agresif. Selanjutnya, bagi pasien dengan hasil mutasi genetik EGFR positif, tim medis memberikan terapi target oral berupa Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI) seperti Gefitinib atau Osimertinib. Selain itu, agen imunoterapi seperti Pembrolizumab diberikan untuk mengaktifkan sistem imun tubuh. Untuk manajemen nyeri, obat analgetik diberikan sesuai panduan tangga nyeri WHO, mulai dari NSAID hingga golongan opioid kuat seperti Morfin (National Cancer Institute, 2022).
Metode Non-Farmakologis
Tindakan pembedahan berupa lobektomi atau pneumonektomi merupakan pilihan kuratif utama bagi pasien yang terdiagnosis pada stadium awal (I-II). Kemudian, terapi radiasi dosis tinggi diterapkan untuk menghancurkan sel tumor lokal, baik sebagai terapi tambahan pasca-bedah maupun sebagai tindakan paliatif untuk meredakan sumbatan jalan napas. Sebagai tambahan, program rehabilitasi paru melalui latihan batuk efektif dan pengaturan posisi tidur semi-fowler sangat membantu mengoptimalkan sirkulasi udara. Terakhir, pemberian diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP) wajib dilakukan untuk mengatasi sindrom kaheksia (PDPI, 2023).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Komponen Identitas dan Riwayat
Proses pengkajian diawali dengan mengumpulkan data identitas meliputi nama, usia (umumnya terjadi di atas usia 50 tahun), jenis kelamin, serta latar belakang pekerjaan yang berisiko tinggi. Selanjutnya, perawat menggali riwayat kesehatan pasien, termasuk keluhan utama berupa sesak napas akut atau batuk darah kronis. Riwayat kesehatan masa lalu seperti PPOK atau tuberkulosis, riwayat keganasan dalam keluarga, serta kebiasaan merokok secara detail wajib dicatat untuk mengidentifikasi faktor risiko (Kemenkes RI, 2022).
Pemeriksaan Fisik Respirasi
Pemeriksaan fisik difokuskan secara mendalam pada sistem pernapasan melalui empat tahapan utama. Pada tahap inspeksi, perawat mengamati kesimetrisan dinding dada, penggunaan otot bantu pernapasan, serta keberadaan jari tabuh. Melalui palpasi, dirasakan adanya penurunan getaran taktil fremitus pada area paru yang terkena massa tumor. Selanjutnya, perkusi akan menghasilkan suara redup atau pekak pada area konsolidasi. Pada tahap auskultasi, perawat mengidentifikasi penurunan suara napas vesikuler disertai suara napas tambahan seperti wheezing atau ronkhi (Sudoyo et al., 2021).
Pemeriksaan Sistem Tubuh Lain
Selain sistem pernapasan, pemeriksaan juga diarahkan pada sistem sirkulasi untuk memantau adanya distensi vena jugularis akibat penekanan tumor pada vena cava superior. Pada sistem pencernaan, perawat memeriksa adanya penurunan bising usus serta tanda-tanda hepatomegali akibat metastasis. Sistem persarafan dinilai untuk melihat adanya penurunan kesadaran atau kelemahan motorik jika kanker telah menyebar ke otak. Pada sistem muskuloskeletal, perawat mengkaji adanya atrofi otot umum serta nyeri tekan pada tulang ekstrimitas (Sudoyo et al., 2021).
Analisis Pola Fungsi
Pengkajian pola fungsi kesehatan mencakup evaluasi mendalam terhadap pola oksigenasi pasien yang terganggu akibat sesak napas. Selanjutnya, pola nutrisi dikaji untuk memantau derajat penurunan berat badan dan keparahan anoreksia. Pola aktivitas memperlihatkan tingkat toleransi fisik yang menurun drastis akibat kelelahan kronis. Terakhir, perawat mengidentifikasi koping psikologis pasien dan keluarga, mengingat diagnosis keganasan sering kali memicu respons ansietas berat, stres emosional, hingga depresi terhadap ancaman kematian (Kemenkes RI, 2022).
2. Diagnosis Keperawatan Berdasarkan Prioritas
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) berhubungan dengan hipersekresi jalan napas, disfungsi neuromuskuler akibat sumbatan massa tumor.
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi, perubahan membran alveolus-kapiler.
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) berhubungan dengan hambatan upaya napas (misal: nyeri dada, kecemasan, penurunan ekspansi paru akibat tumor/efusi).
- Nyeri Kronis (D.0078) berhubungan dengan infiltrasi tumor ke jaringan peka nyeri atau penekanan saraf oleh massa kanker.
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan, faktor psikologis (anoreksia), hipermetabolisme sekunder akibat kanker.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum.
- Pola Tidur Terganggu (D.0055) berhubungan dengan hambatan lingkungan, kurang kontrol tidur (akibat sesak napas atau batuk terus-menerus).
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan ancaman terhadap kematian, krisis situasional akibat vonis keganasan.
- https://organisasi.co.id/risiko-infeksi-d-0142/Risiko Infeksi (D.0142) dibuktikan dengan faktor risiko efek prosedur invasif, supresi sistem imun sekunder akibat tindakan kemoterapi/radioterapi.
- Risiko Cedera (D.0136) dibuktikan dengan faktor risiko metastasis ke tulang (kerapuhan skeletal) atau ke otak (gangguan keseimbangan/kesadaran) (PPNI, 2017).
3. Perencanaan Intervensi Keperawatan
Intervensi Diagnosis 1-3
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001) dengan kriteria hasil batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengi menurun, frekuensi napas membaik (16-20 x/menit).
- Intervensi SIKI – Manajemen Jalan Napas (I.01011): Monitor pola napas dan bunyi napas tambahan; monitor sputum (jumlah, warna); posisikan Semi-Fowler atau Fowler; ajarkan teknik batuk efektif; kolaborasi pemberian bronkodilator atau mukolitik.
Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003) dengan kriteria hasil tingkat kesadaran meningkat, dispnea menurun, nilai PCO2 dan PO2 membaik, saturasi oksigen (SpO2) membaik (>95%).
- Intervensi SIKI – Pemantauan Respirasi (I.01014): Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor nilai AGD dan saturasi oksigen; dokumentasikan hasil pemantauan; jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; kolaborasi terapi oksigen sesuai kebutuhan.
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran: Pola Napas Membaik (L.01004) dengan kriteria hasil ventilasi semenit meningkat, penggunaan otot bantu napas menurun, frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik.
- Intervensi SIKI – Pemantauan Respirasi (I.01014): Monitor adanya sumbatan jalan napas; palpasi kesimetrisan ekspansi dada; auskultasi bunyi napas; atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; informasikan hasil pemantauan pada keluarga/pasien.
Intervensi Diagnosis 4-6
Nyeri Kronis (D.0078)
- Luaran: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066) dengan kriteria hasil keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat.
- Intervensi SIKI – Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; identifikasi skala nyeri; berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. relaksasi napas dalam); fasilitasi istirahat dan tidur; kolaborasi pemberian analgetik (opioid jika diperlukan).
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030) dengan kriteria hasil porsi makanan yang dihabiskan meningkat, serum albumin meningkat, Indeks Massa Tubuh (IMT) membaik, nafsu makan membaik.
- Intervensi SIKI – Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi dan alergi makanan; monitor asupan makanan dan berat badan pasien; sajikan makanan secara menarik dan dalam suhu hangat; ajarkan diet yang diprogramkan; kolaborasi dengan ahli gizi tentang target kalori dan jenis nutrien.
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil kemudahan beraktivitas sehari-hari meningkat, dispnea setelah aktivitas menurun, kelemahan fisik menurun, warna kulit membaik.
- Intervensi SIKI – Manajemen Energi (I.05178): Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; monitor kelelahan fisik dan emosional; sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Intervensi Diagnosis 7-10
Pola Tidur Terganggu (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur Membaik (L.05045) dengan kriteria hasil jumlah waktu tidur meningkat, keluhan tidak segar saat bangun menurun, kemampuan beraktivitas meningkat, keluhan sulit tidur menurun.
- Intervensi SIKI – Dukungan Tidur (I.05174): Identifikasi pola aktivitas dan tidur pasien; identifikasi faktor pengganggu tidur (nyeri, sesak); modifikasi lingkungan (pencahayaan, kebisingan, suhu); jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; batasi waktu tidur siang jika perlu.
Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, pucat menurun, konsentrasi membaik.
- Intervensi SIKI – Reduksi Ansietas (I.09314): Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal); temani pasien untuk mengurangi kecemasan dan memberikan rasa aman; gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; latih teknik pengalihan dan relaksasi.
Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137) dengan kriteria hasil demam menurun, kadar sel darah putih (leukosit) membaik, periode kemerahan menurun, tidak ada tanda infeksi lokal.
- Intervensi SIKI – Pencegahan Infeksi (I.14539): Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik; cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien serta lingkungan pasien; pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi; jelaskan tanda dan gejala infeksi kepada keluarga/pasien; kolaborasi pemberian imunostimulan atau antibiotik jika ada indikasi.
Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran: Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan kriteria hasil kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun, ketegangan otot menurun, ekspresi wajah kesakitan menurun.
- Intervensi SIKI – Pencegahan Cedera (I.14537): Identifikasi area lingkungan yang berpotensi menyebabkan cedera; pastikan roda tempat tidur dalam keadaan terkunci; pasang sela pengaman tempat tidur (side rails); atur posisi tempat tidur pada tingkat terendah; informasikan pada keluarga tentang pentingnya pengawasan.
(PPNI, 2017, PPNI, 2018, PPNI, 2019)
4. Implementasi Tindakan Keperawatan
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara komprehensif berdasarkan rencana intervensi yang telah ditetapkan sebelumnya. Perawat melakukan tindakan pemantauan respirasi secara ketat, mengatur posisi tidur pasien menjadi semi-fowler, serta memfasilitasi teknik batuk efektif untuk mempermudah pengeluaran sekret. Selain itu, manajemen nyeri kronis diaplikasikan melalui pemantauan skala nyeri berkala dan kolaborasi pemberian obat opioid sesuai indikasi medis. Aspek psikososial dipenuhi melalui teknik reduksi ansietas guna mendukung kesiapan mental pasien dalam menjalani rangkaian pengobatan kanker (PPNI, 2019).
5. Evaluasi Hasil Asuhan
Evaluasi keperawatan disusun menggunakan format SOAP dengan mengacu pada kriteria hasil Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Komponen subjektif mencatat penurunan intensitas sesak napas dan keluhan nyeri yang dirasakan pasien. Data objektif memverifikasi hilangnya suara napas tambahan, stabilitas frekuensi napas (16-20 x/menit), serta optimalnya saturasi oksigen darah (SpO2 > 95%). Berdasarkan analisis data tersebut, perawat menyimpulkan apakah masalah keperawatan telah teratasi seluruhnya atau sebagian, guna menentukan rencana tindak lanjut asuhan (PPNI, 2018).
DAFTAR PUSTAKA
American Cancer Society. 2023. About Lung Cancer. cancer.org/cancer/types/lung-cancer.html
Asian Oncology Society. 2023. Lung Cancer Characteristics in Asian Populations. Asian Oncol J, 9(2), 112-118. doi.org/10.1016/j.asj.2023.01.004
Chinese Anti-Cancer Association. 2023. Guidelines for Primary Lung Cancer in China. China Med Front, 15(3), 45-56.
Indian Council of Medical Research. 2022. Consensus Document for Management of Lung Cancer. icmr.gov.in/pdf/guidelines/Lung_Cancer.pdf
Japanese Cancer Society. 2022. Annual Report on Pulmonary Malignancies. JCS Clin Oncol, 44(1), 89-94.
Kemenkes RI. 2022. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Kanker Paru. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Korean Association for Lung Cancer. 2024. Screening Guidelines in Low-Dose CT. Korean J Pulm Med, 31(2), 201-210.
Mayo Clinic. 2024. Lung Cancer: Symptoms, Causes, and Diagnosis. mayoclinic.org/diseases-conditions/lung-cancer/symptoms-causes/syc-20374620
National Cancer Institute. 2022. Non-Small Cell Lung Cancer Treatment (PDQ). cancer.gov/types/lung/hp/non-small-cell-lung-treatment-pdq
PDPI. 2023. Kanker Paru Jenis Bukan Sel Kecil (KPBSK): Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
POI. 2021. Protokol Kanker Paru Komprehensif Multidisiplin. Jakarta: Perhimpunan Onkologi Indonesia.
PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. 2019. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.
Sudoyo, A.W., et al. 2021. Buku Ajar Ilmu Penakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.

Tinggalkan Balasan