Gagal napas akut parah akibat kerusakan membran alveolarkapiler, memicu edema paru non-kardiogenik, hipoksemia berat, dan infiltrat bilateral luas.
- A. KONSEP MEDIS ACUTE RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (ARDS)
- 1. Definisi Penyakit Acute Respiratoty Distress syndrome (ARDS)
- 2. Etiologi Acute Respiratoty Distress syndrome (ARDS)
- 3. Patofisiologi Acute Respiratoty Distress syndrome (ARDS)
- 4. Manifestasi Klinis Acute Respiratoty Distress syndrome (ARDS)
- 5. Pemeriksaan Penunjang
- 6. Tata Laksana Acute Respiratoty Distress syndrome (ARDS)
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS ACUTE RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (ARDS)
1. Definisi Penyakit Acute Respiratoty Distress syndrome (ARDS)
Definisi dari Pakar Internasional
The Berlin Definition Task Force (2012) menjelaskan ARDS sebagai bentuk cedera paru akut yang onsetnya terjadi dalam waktu satu minggu dari paparan klinis, dengan infiltrate bilateral pada pencitraan toraks yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh efusi, kolaps paru, atau nodul (The Berlin Definition Task Force, 2012).
Selanjutnya, World Health Organization (2020) mendefinisikan gangguan ini sebagai sindrom gangguan pernapasan akut yang bermanifestasi melalui onset baru atau perburukan gejala respirasi, pasien menunjukkan infiltrat bilateral yang tidak dapat dijelaskan oleh kelebihan cairan jantung (World Health Organization, 2020).
Selain itu, American Thoracic Society (2023) menegaskan bahwa ARDS merupakan respons inflamasi paru difus yang menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah paru secara dramatis, sehingga mengakibatkan hilangnya jaringan paru berudara secara akut (American Thoracic Society, 2023).
Sementara itu, Global Definition Task Force (2023) memperbarui kriteria Berlin dengan memasukkan penggunaan High-Flow Nasal Cannula (HFNC) minimal 30 L/menit untuk wilayah dengan sumber daya terbatas, namun tetap mempertahankan esensi kondisi ini sebagai kegagalan oksigenasi akut (Global Definition Task Force, 2023).
Sebagai pelengkap, European Society of Intensive Care Medicine (2024) mengidentifikasi kondisi ini sebagai sindrom klinis kerusakan alveolar difus yang bersifat heterogen, yang memerlukan strategi ventilasi protektif paru secara ketat untuk mencegah cedera paru akibat ventilator (European Society of Intensive Care Medicine, 2024).
Definisi Pakar Asia
Asian Critical Care Clinical Trials Group (2018) merumuskan kondisi ini sebagai sindrom klinis kegagalan pernapasan hipoksemik akut pasca-insult spesifik yang seringkali berasosiasi dengan penyakit infeksi tropis endemik seperti malaria berat atau demam berdarah di kawasan Asia (Asian Critical Care Clinical Trials Group, 2018).
Kemudian, Japanese Society of Intensive Care Medicine (2020) mendefinisikan keadaan darurat respirasi ini akibat inflamasi sistemik atau lokal yang masif, di mana diagnosisnya memerlukan penyingkiran disfungsi sirkulasi kiri menggunakan ekokardiografi secara aktif (Japanese Society of Intensive Care Medicine, 2020).
Secara sejalan, Chinese Society of Critical Care Medicine (2022) menyatakan gangguan ini sebagai bentuk cedera mikrovaskular paru yang bermanifestasi sebagai dispnea progresif dan hipoksemia refrakter, yang sangat sering dipicu oleh pneumonia virus berat (Chinese Society of Critical Care Medicine, 2022).
Lebih lanjut, Indian Society of Critical Care Medicine (2023) mengartikan patologi ini sebagai kerusakan alveolar bilateral akut yang menyebabkan pirau kanan-ke-kiri (right-to-left shunt) intrasistemik paru yang masif, sehingga membutuhkan suplementasi oksigen agresif (Indian Society of Critical Care Medicine, 2023).
Akhirnya, Korean Society of Critical Care Medicine (2025) menjelaskan sindrom ini sebagai kegagalan pertukaran gas alveolar akut yang timbul akibat ketidakseimbangan respons imun inat hospes terhadap patogen paru maupun ekstraparu (Korean Society of Critical Care Medicine, 2025).
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2019) merumuskan gangguan ini sebagai keadaan gagal napas akut hipoksemik yang terjadi akibat kerusakan alveolar difus, ditandai dengan onset akut, infiltrat paru bilateral, dan tidak ada bukti klinis hipertensi atrium kiri (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2019).
Fakta ini didukung oleh Ikatan Dokter Indonesia (2021) yang menetapkan sindrom klinis Ini berupa dispnea berat, hipoksemia refrakter terhadap terapi oksigen standar, dan penurunan komplians paru yang disebabkan oleh cedera paru direk maupun indirek (Ikatan Dokter Indonesia, 2021).
Bahkan, Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (2022) mengategorikan kondisi ini sebagai bentuk edema paru non-kardiogenik akut akibat peningkatan permeabilitas membran kapiler alveolar, yang membutuhkan penanganan di Intensive Care Unit (ICU) (Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia, 2022).
Dalam pandangan lain, Sudoyo dkk. (2023) menjelaskan bahwa masalah respirasi ini merupakan kerusakan parenkim paru difus yang melibatkan dinding alveolus dan endotel kapiler, sehingga cairan kaya protein merembes masuk ke dalam ruang alveolar (Sudoyo dkk., 2023).
Pada akhirnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024) mendefinisikan keadaan ini sebagai komplikasi respiratorik berat dari sepsis, pneumonia berat, atau trauma mayor, yang ditandai dengan hipoksemia berat yang persisten meskipun pasien telah mendapatkan fraksi oksigen tinggi (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024).
2. Etiologi Acute Respiratoty Distress syndrome (ARDS)
Direct Lung Injury
Penyebab langsung yang merusak epitel paru meliputi pneumonia bakteri atau virus seperti COVID-19 dan Influenza. Akibatnya, terjadi kerusakan lokal pada alveolus. Selain itu, aspirasi cairan lambung yang bersifat asam dapat menghancurkan permukaan epitel secara kimiawi.
Trauma tumpul dada berupa kontusio paru serta kejadian hampir tenggelam juga dikategorikan sebagai cedera langsung karena merusak surfaktan secara instan (American Thoracic Society, 2023).
Indirect Lung Injury
Penyebab tidak langsung dipicu oleh mediator inflamasi sistemik yang mencapai paru melalui sirkulasi. Sepsis berat menjadi faktor utama dalam kategori ini. Kerusakan sistemik lainnya meliputi pankreatitis akut yang melepaskan enzim fosfolipase, cedera trauma non-toraks yang parah, overdosis obat-obatan, serta komplikasi transfusi darah masif atau TRALI (American Thoracic Society, 2023).
3. Patofisiologi Acute Respiratoty Distress syndrome (ARDS)
Fase Eksudatif
Fase awal ini berlangsung pada hari ke-1 hingga ke-7 setelah cedera. Makrofag alveolar melepaskan sitokin proinflamasi seperti TNF-alpha dan interleukin untuk menarik neutrofil.
Neutrofil yang teraktivasi melepaskan protease yang merusak endotel kapiler. Dampaknya, cairan kaya protein merembes ke interstitial dan alveolus, membentuk membran hialin dan merusak sel tipe II pembentuk surfaktan (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2019).
Fase Proliferatif dan Fibrotik
Fase proliferasi terjadi pada hari ke-7 hingga ke-21 yang ditandai dengan usaha regenerasi sel epitel tipe II. Namun, jika perbaikan gagal, fase berlanjut ke tahap fibrotik setelah hari ke-21.
Pada tahap akhir ini, terjadi deposisi kolagen secara masif pada interstitial paru. Akibatnya, paru menjadi kaku, komplians menurun drastis, dan risiko hipertensi pulmonal meningkat (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2019).
Penyimpangan KDM / Pathway
[Faktor Risiko: Sepsis, Trauma, Pneumonia]
│
▼
Aktivasi Mediator Inflamasi
(TNF-α, IL-1, Neutrofil, Makrofag)
│
┌─────────────────┴─────────────────┐
▼ ▼
Kerusakan Endotel Kapiler Paru Kerusakan Epitel Alveolar Tipe I & II
│ │
▼ ▼
Permeabilitas Kapiler ↑ Produksi Surfaktan ↓
│ │
▼ ▼
Cairan Kaya Protein Masuk Interstitial Atelektasis & Kolaps Alveolus
│ │
└─────────────────┬─────────────────┘
▼
Edema Paru Non-Kardiogenik
│
┌─────────────────┼─────────────────────────────────────┐
▼ ▼ ▼
Ketidakseimbangan Penurunan Komplians Paru Infiltrasi Cairan ke Alveolus
Ventilasi-Perfusi (Paru Kaku/Kerja Napas ↑) │
│ │ ▼
▼ ▼ Penumpukan Sputum/Sekret
Gangguan Dispnea, Takipnea, │
Pertukaran Gas Penggunaan Otot Bantu Napas ▼
│ │ Bersihan Jalan Napas
▼ ▼ Tidak Efektif
Hipoksemia Berat Pola Napas Tidak Efektif
4. Manifestasi Klinis Acute Respiratoty Distress syndrome (ARDS)
Data Subjektif
Pasien dengan kondisi ini umumnya mengeluhkan sesak napas yang sangat hebat dan datang secara tiba-tiba. Mereka mengekspresikan sensasi seperti tercekik atau kehabisan udara yang ekstrem. Keluhan tambahan berupa nyeri dada non-spesifik yang memburuk saat menarik napas, serta perasaan cemas yang parah akibat hipoksia jaringan otak (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024).
Data Objektif
Secara klinis, perawat akan menemukan takipnea dengan frekuensi napas melebihi 30 kali per menit serta takikardia sebagai bentuk kompensasi. Sianosis pada kuku dan bibir tetap persisten meskipun telah diberikan oksigen konsentrasi tinggi. Pemeriksaan fisik dada menunjukkan retraksi interkostal yang jelas disertai bunyi ronkhi basah yang terdengar difus pada kedua lapang paru (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2019).
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Analisis gas darah menunjukkan hipoksemia berat dengan rasio oksigenasi di bawah 300 mmHg. Awalnya terjadi alkalosis respiratorik akibat hiperventilasi, namun berubah menjadi asidosis respiratorik dan metabolik pada tahap lanjut. Kadar laktat darah meningkat di atas 2 mmol/L. Pemeriksaan penanda inflamasi seperti leukosit dan CRP meningkat tajam, sedangkan kadar BNP tetap rendah di bawah 100 pg/mL (Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia, 2022).
Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya
Foto toraks memperlihatkan infiltrat alveolar bilateral yang difus secara merata, menyerupai gambaran ground-glass opacity tanpa adanya kardiomegali. CT scan toraks mengonfirmasi adanya konsolidasi pada area dependen paru. Pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan fungsi ventrikel kiri yang normal, sedangkan USG paru memperlihatkan tanda B-lines yang multiple di area interstitial (Chinese Society of Critical Care Medicine, 2022).
6. Tata Laksana Acute Respiratoty Distress syndrome (ARDS)
Terapi Farmakologis
Pemberian kortikosteroid berupa Deksametason 6 mg per hari secara intravena digunakan secara luas untuk menekan inflamasi paru. Agen pelumpuh otot seperti Cisatracurium diberikan pada kasus berat untuk mengoptimalkan sinkronisasi ventilator. Sedasi propofol digabungkan dengan analgesik fentanil guna menurunkan kebutuhan oksigen. Antibiotik empiris spektrum luas diberikan segera jika dicurigai ada infeksi (American Thoracic Society, 2023).
Terapi Non-Farmakologis
Strategi utama berpusat pada ventilasi mekanis protektif menggunakan volume tidal rendah sebesar 4-6 mL/kgBB guna mencegah volutrauma. Tekanan plato dibatasi ketat di bawah 30 cmH2O. Tindakan prone positioning atau memposisikan pasien telungkup dilakukan minimal 16 jam sehari untuk memperbaiki sirkulasi oksigen. Terapi penyelamatan terakhir dapat menggunakan sistem ECMO veno-venous (ESICM, 2024).
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Identitas dan Riwayat
Pengkajian dimulai dengan mendata identitas pasien, di mana kondisi kritis ini sering ditemukan pada pasien usia produktif hingga lansia dengan riwayat penyakit penyerta. Perawat harus menggali riwayat kesehatan sekarang secara cermat, terutama mengenai durasi sesak napas dan adanya faktor pemicu seperti batuk, demam tinggi, aspirasi, atau trauma dada sebelumnya (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024).
Pemeriksaan Fisik B1 hingga B3
Pada pemeriksaan sistem pernapasan (B1), inspeksi menunjukkan takipnea berat, pola napas dangkal, penggunaan otot bantu, dan sianosis. Palpasi vokal fremitus bervariasi, perkusi menghasilkan bunyi redup di kedua lapang paru, dan auskultasi mendeteksi ronkhi basah difus.
Pada sistem kardiovaskular (B2), ditemukan takikardia, akral dingin, dan CRT memanjang, sedangkan pemeriksaan persarafan (B3) menunjukkan penurunan kesadaran akibat hipoksia (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2019).
Pemeriksaan Fisik B4 hingga B6
Sistem perkemihan (B4) dipantau ketat melalui kateter urine untuk mendeteksi oliguria akibat hipoperfusi. Pemeriksaan sistem pencernaan (B5) memperlihatkan penurunan bising usus akibat pengaruh obat sedasi. Pada sistem muskuloskeletal dan integumen (B6), ditemukan kelemahan otot yang ekstrem akibat tirah baring lama, disertai adanya diaforesis dan risiko tinggi kerusakan integritas kulit pada area penekanan (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2019).
Pengkajian Pola Gordon
Pola persepsi kesehatan menunjukkan ketidaksiapan menghadapi kondisi kritis yang mendadak. Pola nutrisi terganggu akibat intubasi sehingga memerlukan dukungan pipa nasogastrik. Pola aktivitas mengalami ketergantungan total karena kelemahan fisik dan Tirah baring di ICU. Pola tidur terganggu akibat prosedur tindakan medis yang kontinu serta kebisingan mesin ventilator di area perawatan (IDI, 2021).
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas Diagnosis 1-5
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) berhubungan dengan perubahan membran alveolus-kapiler ditandai dengan PaO2 menurun, PCO2 meningkat, takikardia, sianosis, gelisah.
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) berhubungan dengan hipersekresi jalan napas ditandai dengan sputum berlebih, ronkhi, batuk tidak efektif.
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) berhubungan dengan hambatan upaya napas (kelelahan otot pernapasan) ditandai dengan dispnea, penggunaan otot bantu pernapasan.
- Gangguan Ventilasi Spontan (D.0004) berhubungan dengan kelelahan otot pernapasan ditandai dengan volume tidal menurun, PaO2 menurun.
- Penurunan Curah Jantung (D.0008) berhubungan dengan perubahan afterload akibat tekanan positif ventilator ditandai dengan takikardia, oliguria, akral dingin.
Prioritas Diagnosis 6-10
- Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) berhubungan dengan kekurangan volume cairan ditandai dengan akral dingin, pucat, CRT memanjang.
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme ditandai dengan berat badan menurun, bising usus menurun.
- Risiko Cedera (D.00136) dibuktikan dengan faktor risiko efek agen farmakologis sedasi, paralisis, dan paparan tekanan tinggi ventilator (barotrauma).
- Risiko Infeksi (D.00142) dibuktikan dengan faktor risiko prosedur invasif pemasangan alat jalan napas buatan (ETT) dan kateter vena sentral.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan ancaman terhadap kematian ditandai dengan gelisah, tampak waspada, frekuensi nadi meningkat (PPNI, 2017).
3. Perencanaan Keperawatan
Intervensi Diagnosis 1-2
Pada Gangguan Pertukaran Gas (D.0003), Luaran Utama yang ditetapkan adalah Pertukaran Gas Meningkat (L.01003) dengan kriteria hasil: PaO2 membaik, PCO2 membaik, Tingkat gelisah menurun. Intervensi Utama meliputi Pemantauan Respirasi (I.01014): monitor frekuensi, irama, kedalaman napas, monitor nilai AGD, dan saturasi oksigen secara kontinu.
Pada Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001), Luaran Utama yang dipilih yaitu Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001) dengan kriteria hasil: produksi sputum menurun, ronkhi menurun. Intervensi Utama berupa Manajemen Jalan Napas Buatan (I.01012): monitor posisi selang ETT, lakukan penghisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik menggunakan teknik steril, dan lakukan perawatan mulut berkala.
Intervensi Diagnosis 3-4
Pada Pola Napas Tidak Efektif (D.0005), Luaran Utama yang ditargetkan adalah Pola Napas Membaik (L.01004) dengan kriteria hasil: penggunaan otot bantu napas menurun, takipnea menurun. Intervensi Utama mencakup Manajemen Jalan Napas (I.01011): monitor pola napas, pertahankan kepatenan jalan napas, posisikan kepala tempat tidur tinggi 30 derajat jika status hemodinamik stabil.
Pada Gangguan Ventilasi Spontan (D.0004), Luaran Utama yang diharapkan adalah Ventilasi Spontan Meningkat (L.01007) dengan kriteria hasil: volume tidal meningkat, gelisah menurun.
Intervensi Utama meliputi Dukungan Ventilasi (I.01002): monitor adanya kelelahan otot pernapasan, monitor sinkronisasi pasien-ventilator, dan fasilitasi pelaksanaan posisi telungkup (prone).
Intervensi Diagnosis 5-6
Pada Penurunan Curah Jantung (D.0008), Luaran Utama yang ditetapkan adalah Curah Jantung Meningkat (L.02008) dengan kriteria hasil: tekanan darah membaik, CVP normal.
Intervensi Utama adalah Perawatan Jantung: Akut (I.02075): monitor tekanan darah, MAP, monitor intake dan output cairan secara ketat, serta kolaborasi pemberian obat vasopresor untuk menstabilkan sirkulasi.
Pada Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009), Luaran Utama yang dipilih yaitu Perfusi Perifer Meningkat (L.02011) dengan kriteria hasil: pengisian kapiler membaik, warna kulit tidak pucat.
Intervensi Utama berupa Perawatan Sirkulasi (I.02079): monitor status sirkulasi perifer, periksa nadi perifer, kehangatan akral, dan hindari penekanan berlebih pada area ekstremitas selama tirah baring.
Intervensi Diagnosis 7-8
Pada Defisit Nutrisi (D.0019), Luaran Utama yang dikembangkan adalah Status Nutrisi Membaik (L.03030) dengan kriteria hasil: toleransi makanan via pipa nasogastrik meningkat,
albumin serum normal. Intervensi Utama meliputi Manajemen Nutrisi (I.03119): monitor residu lambung sebelum pemberian nutrisi, berikan makanan enteral secara kontinu, dan kolaborasi dengan dietisien.
Pada Risiko Cedera (D.00136), Luaran Utama yang diinginkan adalah Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan kriteria hasil: tidak terjadi kerusakan jaringan kulit atau pneumotoraks. Intervensi Utama mencakup Pencegahan Cedera (I.14537): monitor nilai tekanan jalan napas puncak pada mesin ventilator, pasang pengaman tempat tidur, dan gunakan bantalan pelindung kulit saat posisi prone.
Intervensi Diagnosis 9-10
Pada Risiko Infeksi (D.00142), Luaran Utama yang dituju adalah Tingkat Infeksi Menurun (L.14137) dengan kriteria hasil: tidak ada demam, leukosit normal. Intervensi Utama berbentuk
Pencegahan Infeksi (I.14539): monitor tanda infeksi, pertahankan teknik septik-aseptik selama perawatan sirkuit ventilator dan penggantian perban kateter vena sentral.
Pada Ansietas (D.0080), Luaran Utama yang ditetapkan adalah Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil: verbalisasi khawatir menurun, ketegangan berkurang.
Intervensi Utama berupa Reduksi Ansietas (I.09314): monitor tanda ansietas non-verbal, ciptakan lingkungan ICU yang tenang, jelaskan semua prosedur secara singkat, dan fasilitasi komunikasi dengan keluarga (PPNI, 2018; PPNI, 2019).
4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan Tindakan Intensif
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara komprehensif berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun sebelumnya. Perawat di ruang intensif melakukan pemantauan tanda-tanda vital secara berkala tiap jam, memantau gelombang saturasi oksigen, serta mengontrol parameter ventilator protektif paru secara ketat sesuai instruksi medis. Seluruh tindakan keperawatan yang dilakukan harus memprioritaskan sterilitas tinggi (Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia, 2022).
Kolaborasi dan Dokumentasi
Selain tindakan mandiri, perawat juga mengimplementasikan tindakan kolaboratif seperti pemberian terapi sedasi kontinu, antibiotik intravena, dan pengaturan posisi telungkup (prone).
Setiap respon pasien pasca tindakan, seperti peningkatan saturasi setelah penghisapan lendir atau adanya perbaikan nilai gas darah, wajib didokumentasikan secara rinci pada lembar observasi klinis pasien sebagai bukti asuhan (Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia, 2022).
5. Evaluasi Keperawatan
Penilaian Formatif dan Sumatif
Evaluasi dijalankan dengan menggunakan pendekatan sistematis SOAP pada akhir shift dinas keperawatan. Perawat menganalisis perkembangan klinis pasien secara objektif, mengingat pasien yang terintubasi tidak dapat menyampaikan keluhan secara verbal. Evaluasi difokuskan pada pemulihan kapasitas pertukaran gas di paru, pembersihan jalan napas yang efektif, serta stabilitas status hemodinamik (PPNI, 2017).
Target Hasil Evaluasi
Asuhan keperawatan dinyatakan berhasil jika evaluasi menunjukkan pemenuhan kriteria hasil yang optimal, meliputi nilai saturasi oksigen stabil pada rentang target 92-96%, rasio PaO2/FiO2 meningkat di atas 300 mmHg, tidak ada tanda-tanda barotrauma, akumulasi sputum berkurang, serta perfusi perifer kembali hangat dengan produksi urine yang adekuat (PPNI, 2017).
Rumus Klinis Terkait ARDS
Berikut adalah rumus penting dalam penanganan ARDS yang dapat disalin langsung ke Microsoft Word: Rasio PaO2/FiO2 Rasio Oksigenasi = PaO2 / FiO2 Catatan: FiO2 ditulis dalam bentuk desimal (contoh: 40% = 0.40)
Volume Tidal Berdasarkan Predicted Body Weight (PBW) PBW Pria = 50 + 2.3 (Tinggi Badan dalam cm – 152.4) PBW Wanita = 45.5 + 2.3 (Tinggi Badan dalam cm – 152.4) Target Volume Tidal ARDS = 6 PBW
Compliance Statis Paru (Cstat) Cstat = Volume Tidal / (Plateau Pressure – PEEP)
DAFTAR PUSTAKA
American Thoracic Society. 2023. An Official ATS/SCCM Clinical Practice Guideline: Mechanical Ventilation in Adult Patients with ARDS. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, 207(1), 15-25.atsjournals.org/doi/full/10.1164/rccm.2023-0152ST
Asian Critical Care Clinical Trials Group. 2018. Acute Respiratory Distress Syndrome in Asia: A Regional Perspective on Etiology and Management. Lancet Respiratory Medicine, 6(4), 285-296.thelancet.com/journals/lanres/article/PIIS2213-2600(18)30058-2/fulltext
Chinese Society of Critical Care Medicine. 2022. Chinese Guidelines for the Diagnosis and Treatment of Acute Respiratory Distress Syndrome. Chinese Medical Journal, 135(12), 1401-1415.journals.lww.com/cmj/fulltext/2022/06200/chinese_guidelines_for_the_diagnosis_and.2.aspx
European Society of Intensive Care Medicine. 2024. Clinical Practice Guidelines for the Management of ARDS: Update 2024. Intensive Care Medicine, 50(2), 180-198.link.springer.com/article/10.1007/s00134-024-07311-x
Global Definition Task Force. 2023. The New Global Definition of Acute Respiratory Distress Syndrome. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, 208(5), 523-532.atsjournals.org/doi/full/10.1164/rccm.202303-0516OC
Ikatan Dokter Indonesia. 2021. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjutan. Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia.
Indian Society of Critical Care Medicine. 2023. ISCCM Guidelines for Management of Acute Respiratory Distress Syndrome in ICU. Indian Journal of Critical Care Medicine, 27(3), 163-177.ijccm.org/doi/IJCCM/pdf/10.5005/jp-journals-10071-24412
Japanese Society of Intensive Care Medicine. 2020. The JST/JSICM Clinical Practice Guidelines for ARDS 2020. Journal of Intensive Care, 8(1), 45-62.jintensivecare.biomedcentral.com/articles/10.1186/s40560-020-00461-x
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Gagal Napas Akut dan ARDS. Jakarta: Kemenkes RI.
Korean Society of Critical Care Medicine. 2025. Korean Clinical Practice Guidelines for Mechanical Ventilation in ARDS. Acute and Critical Care, 40(1), 12-27.accjournal.org/journal/view.php?doi=10.4266/acc.2025.00102
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2019. Jurnal Respirologi Indonesia: Konsensus Nasional Penatalaksanaan Acute Respiratory Distress Syndrome. Jakarta: PDPI.
Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia. 2022. Pedoman Tata Laksana Pasien Kritis di Intensive Care Unit. Jakarta: PERDATIN.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
The Berlin Definition Task Force. 2012. Acute Respiratory Distress Syndrome: The Berlin Definition. JAMA, 307(23), 2526-2533.jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/1160659

Tinggalkan Balasan