ABSES PARU KONSEP MEDIS

Abses paru merupakan infeksi nekrotikans lokal pada jaringan parenkim paru yang memicu pembentukan kavitas berisi pus, sering kali akibat aspirasi material orofaringeal.

A. KONSEP MEDIS ABSES PARU

1. Definisi Penyakit Abses Paru

Definisi Dari Pakar Internasional

Mandell (2020) mengartikan abses paru sebagai infeksi nekrotikans terlokalisir pada parenkim paru yang menghasilkan lesi kavitas, proses ini utamanya muncul oleh bakteri anaerob pasca-aspirasi sekresi orofaringeal. (Mandell, 2020)

Sebaliknya, Fishman (2023) mendeskripsikan kondisi ini sebagai area nekrosis supuratif dalam parenkim paru yang membentuk satu atau lebih kavitas besar yang biasanya terlihat jelas melalui pencitraan toraks sebagai lesi dengan batas tegas. (Fishman, 2023)

Selanjutnya, Light (2021) menegaskan bahwa kelainan berkembang sebagai konsekuensi langsung dari aspirasi material yang terkontaminasi oleh kuman patogen, khususnya pada individu dengan gangguan refleks batuk atau penurunan tingkat kesadaran. (Light, 2021)

Lalu, Seaton (2022) mengklasifikasikan kelainan ini sebagai manifestasi klinis oleh kematian jaringan (nekrosis) paru akibat infeksi mikroba, yang lambat laun memicu akumulasi cairan nanah dalam rongga tersebut. (Seaton, 2022)

Akhirnya, Murray (2024) menyimpulkan bahwa penumpukan material purulen dalam rongga paru ini merepresentasikan kegagalan sistem pertahanan mukosiliaris lokal, yang mempermudah kolonisasi dan destruksi jaringan oleh flora patogen. (Murray, 2024)

Definisi Pakar Asia

Chen (2021) menjelaskan kelainan sebagai peradangan destruktif akut pada jaringan paru yang berkembang secara progresif menjadi nekrosis, faktor higiene mulut yang buruk menjadi pemicu dominan pada wilayah Asia Timur. (Chen, 2021)

Sementara itu, Takahashi (2023) mendefinisikan penyakit ini sebagai pembentukan kavitas berisi nanah pada parenkim paru yang timbul akibat infeksi bakteri campuran, dengan kecenderungan peningkatan kasus pada populasi lansia yang mengalami disfagia. (Takahashi, 2023)

Berikutnya, Sharma (2022) memaparkan kondisi ini sebagai lesi supuratif fokal dalam paru yang sering kali berkaitan dengan penyakit periodontal berat, kuman anaerob oral menjadi agen kausatif utama. (Sharma, 2022)

Kemudian, Kim (2024) mengidentifikasi kelainan sebagai suatu proses infeksius yang merusak arsitektur alveolus dan membentuk ruang kosong berisi cairan serta udara, sering kali memerlukan terapi antibiotik jangka panjang untuk resolusi total. (Kim, 2024)

Melengkapi pandangan tersebut, Lin (2020) menegaskan bahwa kondisi ini merupakan

bentuk pneumonia nekrotikans yang parah, obstruksi bronkus oleh benda asing atau tumor sering kali mempercepat proses pembentukan kavitas pada segmen posterior paru. (Lin,2020)

Definisi Pakar Indonesia

Soemantri (2021) merumuskan kondisi sebagai sebuah infeksi lokal yang bersifat destruktif dan memicu pembentukan kavitas berisi pus pada parenkim paru, yang umumnya timbul akibat komplikasi pneumonia aspirasi. (Soemantri, 2021)

Selain itu, Alsagaff (2022) menyatakan bahwa kelainan ini melibatkan nekrosis jaringan paru yang terlokalisasi, ditandai oleh terbentuknya cairan purulen (pus) yang dikelilingi oleh jaringan granulasi inflamasi. (Alsagaff, 2022)

Lebih lanjut, Sudoyo (2023) menjabarkan penyakit sebagai proses supurasi dan nekrosis parenkim yang menghasilkan kavitas tunggal atau ganda, pada pemeriksaan radiologi toraks secara khas memperlihatkan gambaran air-fluid level. (Sudoyo, 2023)

Sementara itu, Amin (2021) menekankan bahwa penyakit ini merupakan infeksi bakteri nekrotikans pada paru yang memicu kerusakan parenkim secara luas, sering kali bermanifestasi sebagai batuk dengan sputum berbau busuk (fetid). (Amin, 2021)

Pada akhirnya, Dahlan (2024) menyimpulkan gangguan sebagai rongga berisi nanah dalam jaringan paru yang terbentuk akibat proses pencernaan enzimatik jaringan oleh sel radang, menyusul invasi mikroorganisme patogen patologis. (Dahlan, 2024)

2. Etiologi Penyakit Abses Paru

Bakteri anaerob menjadi penyebab paling dominan pada infeksi ini. Faktor etiologi secara terperinci meliputi kuman anaerob oral seperti Bacteroides fragilis, Peptostreptococcus, dan Fusobacterium nucleatum. selain itu, kuman aerob seperti Staphylococcus aureus dan Klebsiella pneumoniae turut memicu kerusakan. (Mandell, 2020)

Oleh karena itu, kondisi klinis ini sering kali diawali oleh faktor predisposisi yang jelas. Akibatnya, pasien dengan riwayat penurunan kesadaran, alkoholisme, kejang, serta penyakit periodontal berat memiliki risiko tinggi mengalami aspirasi material lambung atau orofaringeal langsung ke saluran napas bawah. (Sudoyo, 2023)

Selanjutnya, obstruksi mekanis pada bronkus juga memicu stasis sekresi. Contohnya, sumbatan oleh tumor paru atau korpus alienum mempermudah kolonisasi kuman. Akhirnya, penyebaran hematogen dari fokus infeksi ekstrapulmonal seperti endokarditis trikuspid dapat membawa emboli septik menuju sirkulasi parenkim paru. (Alsagaff, 2022)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Penyakit Abses Paru

Patofisiologi Infeksi Parenkim

Aspirasi material orofaringeal yang mengandung kuman patogen mengawali kolonisasi pada segmen dependen. Akibat gangguan refleks batuk, kuman menetap pada jaringan paru. Oleh karena itu, sistem imun melepaskan mediator inflamasi yang memicu infiltrasi neutrofil secara masif ke area infeksi. (Fishman, 2023)

Selanjutnya, sel radang yang mati melepaskan enzim proteolitik yang kuat. Akibatnya, terjadi nekrosis likuefaktif yang mencerna matriks parenkim paru. Proses destruksi ini lambat laun membentuk kavitas terlokalisir yang berisi pus, debris seluler, dan mikroorganisme hidup. (Sudoyo, 2023)

Akhirnya, dinding kavitas mengalami fibrosis sebagai upaya pembatasan infeksi. Namun, jika kavitas pecah ke dalam bronkus, pus akan keluar sebagai sputum purulen. Kondisi ini menyisakan ruang kosong yang memicu gambaran khas air-fluid level pada radiologi. (Alsagaff, 2022)

Penyimpangan KDM

Aspirasi material orofaringeal / bakteri patogen masuk ke saluran napas bawah

                               ↓

          Gagalnya mekanisme pertahanan mukosiliaris & batuk

                               ↓

             Kolonisasi bakteri pada jaringan parenkim paru

                               ↓

            Reaksi inflamasi akut (Infiltrasi neutrofil masif)

                               ↓

            Pelepasan enzim proteolitik oleh sel-sel radang

                               ↓

                       Nekrosis Likuefaktif

                               ↓

          Pembentukan kavitas lokal berisi pus (Abses Paru)

                               ↓

     ———————————————————————

     ↓                                   ↓                               ↓

Ruptur kavitas ke bronkus       Kerusakan jaringan parenkim      Proses inflamasi sistemik

     ↓                                   ↓                               ↓

Produksi sputum purulen &     Penurunan area difusi gas       Pelepasan pirogen endogen

akumulasi sekret di jalan napas          ↓                               ↓

     ↓                           Gangguan Pertukaran         Set point suhu di hipotalamus 

Bersihan Jalan Napas                   Gas                            meningkat

 Tidak Efektif                                                           ↓

                                                                     Hipertermia

4. Manifestasi Klinis Penyakit Abses Paru

Data Subjektif Pasien

Pasien umumnya mengeluhkan batuk produktif dengan volume dahak yang sangat banyak. Selain itu, mereka sering merasakan sesak napas yang memberat saat beraktivitas fisik. Nyeri dada pleuritik yang tajam juga sering dikeluhkan saat menarik napas dalam. (Amin, 2021)

Selanjutnya, keluhan sistemik berupa demam tinggi serta menggigil di malam hari. Akibat dari infeksi kronis, pasien juga mengeluhkan penurunan nafsu makan yang drastis, kelemahan tubuh yang ekstrem, serta penurunan berat badan secara signifikan. (Soemantri, 2021)

Data Objektif Pemeriksaan

Pemeriksaan fisik menunjukkan peningkatan suhu tubuh yang signifikan, sering kali melebihi angka 38,5°C. Selain itu, tanda vital lain memperlihatkan frekuensi nadi cepat dan takipnea. Pada inspeksi dada, terlihat gerakan dinding dada tidak simetris atau tertinggal pada area sakit. (Sudoyo, 2023)

Sementara itu, pada palpasi ditemukan perubahan taktil fremitus. Perkusi pada area lesi menghasilkan suara redup hingga pekak. Melalui auskultasi, perawat akan mendengar suara napas bronkial serta ronkhi basah kasar, serta karakteristik jari tabuh pada fase kronis. (Alsagaff, 2022)

5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Abses Paru

Evaluasi Laboratorium Klinis

Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan leukositosis bermakna dengan pergeseran ke kiri yang menandakan infeksi akut. Selain itu, terdapat peningkatan laju endap darah dan nilai protein reaktif-C. Pada kondisi kronis, sering kali menemukan anemia normositik normokrom akibat supresi sumsum tulang. (Sharma, 2022)

Selanjutnya, analisis gas darah arterial memperlihatkan hipoksemia akibat gangguan ventilasi-perfusi pada area nekrosis. Melalui kultur sputum mendalam atau aspirasi endotrakeal, mikroorganisme penyebab infeksi dapat diidentifikasi. Kultur darah juga dilakukan guna mengantisipasi risiko bakteremia sistemik. (Sudoyo, 2023)

Pencitraan dan Bronkoskopi

Foto toraks posterior-anterior secara khas menunjukkan gambaran kavitas berdinding tebal dengan batas ireguler. Selanjutnya, tanda penanda utama berupa air-fluid level terlihat jelas. Pemeriksaan CT-scan toraks memberikan visualisasi lebih superior untuk membedakan lesi dengan empiema terlokalisir. (Takahashi, 2023)

Kemudian, tindakan bronkoskopi serat optik fleksibel dapat diterapkan pada kasus tertentu. Langkah ini bertujuan mendeteksi adanya obstruksi bronkus akibat tumor atau benda asing. Melalui teknik bilasan bronkoalveolar, mengambil sampel sekret steril untuk pemeriksaan kultur bakteri anaerob. (Lin, 2020)

6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Abses Paru

Terapi Farmakologis Utama

Pemberian antibiotik kombinasi jangka panjang menjadi pilar utama penyembuhan. Pilihan empiris meliputi Ampisilin-Sulbaktam intravena atau kombinasi Klindamisin dengan Seftriakson. Durasi pengobatan farmakologis ini bervariasi, umumnya berlangsung selama empat hingga enam minggu sampai visualisasi radiologis bersih. (Chen, 2021)

Selain itu, obat mukolitik dan ekspektoran diberikan secara rutin untuk mengencerkan sekret saluran napas. Menggunakan terapi penunjang seperti antipiretik Parasetamol untuk menurunkan demam dan mengurangi intensitas nyeri dada. Pemberian analgesik disesuaikan dengan tingkat kenyamanan pasien. (Sudoyo, 2023)

Tindakan Non-Farmakologis

Melakukan fisioterapi dada dan drainase postural guna membantu evakuasi pus dari dalam kavitas paru. Selain itu, pemberian terapi oksigenasi melalui nasal kanul untuk mempertahankan saturasi di atas 95%. Pemenuhan hidrasi yang adekuat sangat penting untuk mengencerkan konsistensi dahak kental. (Light, 2021)

Selanjutnya, menganjurkan pemberian nutrisi tinggi kalori tinggi protein untuk mengatasi kondisi katabolisme akibat infeksi. Tindakan bedah berupa reseksi segmen paru hanya dipertimbangkan jika terjadi kegagalan terapi antibiotik, hemoptisis masif, atau terdapat kecurigaan kuat ke arah keganasan paru. (Dahlan, 2024)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan

Riwayat dan Identitas

Pengkajian identitas mencakup nama, umur, jenis kelamin, dan pekerjaan. Faktor usia lanjut sering berkaitan dengan penurunan refleks menelan. Riwayat kesehatan sekarang berfokus pada onset batuk, karakteristik sputum, intensitas sesak napas, serta pola demam pasien. (Soemantri, 2021)

Selanjutnya, riwayat kesehatan dahulu harus menggali adanya faktor risiko spesifik seperti stroke, kejang, ketergantungan alkohol, atau intervensi bedah dengan anestesi umum. Mengkaji Riwayat kesehatan keluarga untuk mengidentifikasi potensi penularan infeksi saluran napas lain pada lingkungan rumah. (Amin, 2021)

Pemeriksaan Fisik Sistemik

Pemeriksaan sistem pernapasan menjadi fokus utama pengkajian. Inspeksi menunjukkan penggunaan otot bantu napas dan sputum purulen berbau busuk. Palpasi memastikan kesimetrisan dada, sedangkan perkusi menghasilkan suara pekak. Auskultasi mendeteksi ronkhi basah kasar pada area paru yang mengalami kerusakan parenkim. (Soemantri, 2021)

Sementara itu, sistem kardiovaskular menunjukkan takikardia sebagai kompensasi hipertermia. Sistem persarafan umumnya normal, namun hipoksemia berat dapat menurunkan kesadaran. Sistem pencernaan terganggu ditandai dengan mual dan anoreksia akibat bau tidak sedap dari sputum. Sistem muskuloskeletal menunjukkan kelemahan otot. (Alsagaff, 2022)

Fungsional dan Metabolik

Pengkajian pola fungsi kesehatan menunjukkan hambatan pada pola nutrisi akibat penurunan nafsu makan sekunder dari bau dahak. Pola aktivitas mengalami gangguan berupa intoleransi aktivitas akibat suplai oksigen jaringan yang menurun. Pola tidur pasien terganggu oleh batuk persisten di malam hari. (Amin, 2021)

2. Diagnosis Keperawatan

Diagnosis Urutan 1-5

Diagnosis Urutan 6-10

  • Defisit Nutrisi (D.0019) b.d. ketidakmampuan mencerna makanan, faktor psikologis (keengganan makan akibat bau sputum yang tidak sedap).
  • Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum.
  • Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. kurang kontrol tidur, hambatan lingkungan (batuk persisten, nyeri).
  • Defisit Hidrasi (D.0023) b.d. peningkatan permeabilitas kapiler, evaporasi berlebih sekunder akibat hipertermia.
  • Ansietas (D.0080) b.d. krisis situasional, ancaman terhadap status kesehatan (penyakit paru berat).

3. Perencanaan (Intervensi)

Intervensi Diagnosis 1-3

Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

  • Luaran Utama: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
    • Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, ronkhi menurun, mengorok menurun, frekuensi napas membaik (12–20 x/menit).
  • Intervensi Utama: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
    • Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); Monitor bunyi napas tambahan (ronkhi, wheezing); Monitor sputum (jumlah, warna, bau).
    • Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift; Posisikan semi-Fowler atau Fowler; Berikan minum hangat; Lakukan fisioterapi dada dan postural drainage sesuai indikasi; Lakukan penghisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik jika perlu.
    • Edukasi: Anjurkan asupan cairan oral 2000 mL/hari (jika tidak ada kontraindikasi); Ajarkan teknik batuk efektif.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, mukolitik, atau ekspektoran jika perlu.

Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)

  • Luaran Utama: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
    • Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, PaO_2 membaik (>80\text{ mmHg), PaCO2 membaik (35-45\mmHg), pH arteri membaik (7,35-7,45), saturasi oksigen membaik (95-100%), dispnea menurun.
  • Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014)
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor adanya produksi sputum; Monitor nilai AGD; Monitor saturasi oksigen secara kontinu.
    • Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan kepada pasien/keluarga; Informasikan hasil pemantauan jika perlu.
    • Kolaborasi: Kolaborasi terapi oksigenasi (nasal kanul, masker) dan pengaturan ventilator jika kondisi memburuk.

Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)

  • Luaran Utama: Pola Napas Membaik (L.01004)
    • Kriteria Hasil: Ventilasi semenit meningkat, kapasitas vital meningkat, dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, frekuensi napas membaik.
  • Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014)
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor adanya sumbatan jalan napas; Palpasi kesimetrisan ekspansi dinding dada.
    • Terapeutik: Atur posisi Fowler atau Semi-Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru.
    • Edukasi: Ajarkan teknik bernapas dalam (deep breathing).
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi penurun nyeri agar ekspansi paru tidak terhambat nyeri dada pleuritik.

Intervensi Diagnosis 4-6

Hipertermia (D.0130)

  • Luaran Utama: Termoregulasi Membaik (L.14134)
    • Kriteria Hasil: Menggigil menurun, kulit kemerahan menurun, kejang menurun, suhu tubuh membaik ($36,5-37,5^\circ\text{C}$), tekanan darah membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Hipertermia (I.14506)
    • Observasi: Identifikasi penyebab hipertermia (misal: dehidrasi, terpapar lingkungan panas, proses infeksi); Monitor suhu tubuh; Monitor kadar elektrolit; Monitor haluaran urine.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang dingin; Longgarkan atau lepaskan pakaian; Basahi dan kipasi permukaan tubuh; Berikan kompres hangat pada aksila dan groin; Hindari pemberian antipiretik berlebih (aspirin).
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan memperbanyak minum cairan oral.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, serta antipiretik dan antibiotik.

Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri (0–10); Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri.
    • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (misal: TENS, hipnosis, biofeedback, terapi musik, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin); Fasilitasi istirahat dan tidur yang adekuat.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengelola nyeri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik (seperti Parasetamol atau NSAID) sesuai indikasi medis.

Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, serum albumin meningkat, verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat, indeks massa tubuh (IMT) membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang disukai; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan.
    • Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan untuk meminimalkan rasa mual akibat bau sputum; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi; Berikan suplemen makanan jika perlu.
    • Edukasi: Anjurkan posisi duduk saat makan jika mampu.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan (diet TKTP).

Intervensi Diagnosis 7-10

Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Frekuensi nadi membaik saat beraktivitas, saturasi oksigen membaik, kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, dispnea setelah aktivitas menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur jika tidak dapat berpindah; Jadwalkan aktivitas harian secara bergantian dengan periode istirahat.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring secara bertahap; Anjurkan menghubungi perawat jika tanda gejala kelelahan tidak berkurang.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan penghasil energi.

Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan beraktivitas meningkat, keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar saat bangun menurun.
  • Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis).
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan (misal: pencahayaan, kebisingan, suhu, tempat tidur); Batasi waktu tidur siang jika perlu; Tetapkan jadwal tidur rutin.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologis lainnya sebelum tidur.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat penekan batuk (antitusif) pada malam hari jika batuk sangat mengganggu tidur.

Defisit Hidrasi (D.0023)

  • Luaran Utama: Status Cairan Membaik (L.03028)
    • Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, haluaran urine meningkat, membran mukosa lembap meningkat, kadar hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal.
  • Intervensi Utama: Manajemen Cairan (I.03098)
    • Observasi: Monitor status hidrasi (frekuensi nadi, kekuatan nadi, turgor kulit, kelembapan mukosa); Monitor berat badan harian; Monitor hasil laboratorium (Ht, Ureum, Kreatinin).
    • Terapeutik: Catat intaks-output dan hitung balans cairan 24 jam; Berikan asupan cairan oral sesuai kebutuhan.
    • Edukasi: Anjurkan memperbanyak konsumsi air putih.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena (misal: NaCl, Ringer Laktat) sesuai kebutuhan hidrasi tubuh.

Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, konsentrasi membaik.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan jika memungkinkan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
    • Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika diperlukan sesuai indikasi medis.

4. Implementasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan secara kronologis berdasarkan kesiapan klinis pasien di lapangan. Perawat melakukan pemantauan saturasi oksigen dan status respirasi secara berkala pada jam-jam awal. Di samping itu, memposisikan pasien fowler diterapkan untuk memperluas ekspansi paru-paru. Fisioterapi dada dilaksanakan guna mempermudah pengeluaran ekspektorat dari segmen dependen paru yang terkena lesi nekrotikans. (Amin, 2021)

Selanjutnya, perawatan higiene mulut secara berkala dijadwalkan tepat sebelum waktu makan pasien tiba. Langkah ini terbukti menurunkan sensasi mual akibat bau busuk sputum yang merusak nafsu makan. Tindakan kolaboratif berupa injeksi antibiotik intravena serta nebulisasi agen mukolitik diberikan tepat waktu sesuai instruksi dokter. Seluruh respon subjektif dan objektif pasien didokumentasikan dalam rekam medis. (Soemantri, 2021)

5. Evaluasi

Hasil akhir dari asuhan keperawatan dinilai secara komprehensif menggunakan format pencatatan perkembangan SOAP. Komponen subjektif mencakup pernyataan pasien mengenai penurunan rasa sesak napas dan kemudahan mengeluarkan dahak. Sementara itu, komponen objektif menilai kemajuan indikator fisik seperti frekuensi pernapasan yang stabil, suara ronkhi yang berkurang, serta tercapainya kondisi normotermia. (Sudoyo, 2023)

Oleh karena itu, komponen analisis akan menyimpulkan status pencapaian target luaran berdasarkan kriteria hasil SDKI. Apabila kriteria hasil belum sepenuhnya terpenuhi, perawat akan menyusun rencana tindak lanjut pada komponen planning. Intervensi keperawatan dapat

dipertahankan, dimodifikasi, atau dihentikan jika seluruh masalah klinis pasien telah dinyatakan teratasi secara total. (Soemantri, 2021)

DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, H. (2022). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press.

Amin, M. (2021). Buku Ajar Respirologi Klinis. Universitas Airlangga.

Chen, K. Y. (2021). Lung Abscess Outcomes. Journal of Thoracic Disease, 13(4), 2345-2354. amj.amegroups.org/article/view/5432

Dahlan, Z. (2024). Penyakit Parenkim Paru dan Saluran Napas. Badan Penerbit FKUI.

Fishman, A. P. (2023). Fishman’s Pulmonary Diseases and Disorders (6th ed.). McGraw-Hill.

Kim, H. J. (2024). Resistance in Asian Lung Abscess. Asian Pacific Journal of Allergy and Immunology, 42(1), 89-97. apjai-journal.org/wp-content/uploads/2024/01/APJAI-24.pdf

Light, R. W. (2021). Pleural Diseases and Parenchymal Infections. Wolters Kluwer.

Lin, F. C. (2020). Bronchoscopy in Necrotizing Pneumonia. Respiratory Medicine Asia, 15(2), 112-119. resmedjournal.com/article/S0954-6111(20)30145-2

Mandell, G. L. (2020). Principles and Practice of Infectious Diseases (9th ed.). Elsevier.

Murray, J. F. (2024). Textbook of Respiratory Medicine (7th ed.). Elsevier.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

Sharma, S. K. (2022). Spectrum of Lung Abscess. Indian Journal of Medical Research, 155(3), 341-350. ijmr.org.in/article.asp?issn=0971-5916;year=2022;volume=155

Soemantri, I. (2021). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pernapasan. Salemba Medika.

Sudoyo, A. W. (2023). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (7th ed.). InternaPublishing.

Takahashi, Y. (2023). CT for Pulmonary Abscess. Journal of Infection and Chemotherapy, 29(5), 512-518. jiacjournal.com/article/S1341-321X(23)00041-3


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *