Tonsilitis merupakan inflamasi pada tonsil palatina yang umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, menimbulkan gejala nyeri telan akut dan demam.
- A. KONSEP MEDIS TONSILITIS
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS TONSILITIS
1. Definisi Penyakit Tonsilitis
Definisi Dari Pakar Internasional
Definisi 1: The American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery (2021) menjelaskan tonsilitis sebagai peradangan akut atau kronis pada jaringan tonsil palatina yang sering kali melibatkan struktur faring pada sekitarnya akibat invasi patogen mikroba. (AAO-HNS, 2021)
Definisi 2: The Mayo Clinic Medical Reference (2022) mendefinisikan gangguan ini sebagai inflamasi pada dua bantalan jaringan berbentuk oval pada bagian belakang tenggorokan yang bermanifestasi melalui pembengkakan tonsil dan kesulitan menelan. (Mayo Clinic, 2022)
Definisi 3: World Health Organization (WHO) Regional Guidelines (2020) mengategorikan tonsilitis sebagai bagian dari infeksi saluran pernapasan akut atas yang menyerang cincin Waldeyer, khususnya tonsil palatina, dengan risiko komplikasi sistemik jika tubuh tidak mendapatkan terapi adekuat. (WHO, 2020)
Definisi 4: British Association of Otorhinolaryngology (2023) mengartikan tonsilitis sebagai infeksi parenkim tonsil yang memicu respons inflamasi lokal, kemunculannya dengan eksudat dan hiperemia esensial pada area orofaring. (BAO, 2023)
Definisi 5: The Australian Guidelines for Otolaryngology Paediatric (2022) menegaskan bahwa tonsilitis merupakan penyakit infeksius pada organ limfoid tenggorokan yang memicu hipertrofi jaringan dan mengganggu fungsi ventilasi serta deglutisi normal. (AGOP, 2022)
Definisi Dari Pakar Asia
Definisi 6: The Japanese Society of Otorhinolaryngology (2021) merumuskan tonsilitis sebagai penyakit inflamasi mukosa tonsil yang memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi secara masif, sehingga menimbulkan manifestasi demam tinggi dan limfadenopati servikal. (JSO, 2021)
Definisi 7: The Chinese Medical Association Journal Reference (2023) menjabarkan kondisi ini sebagai sindrom klinis berupa infeksi akut orofaring yang mendominasi populasi anak-anak, agen infeksius merusak arsitektur seluler folikel tonsil. (CMAJ, 2023)
Definisi 8: The Indian Journal of Otolaryngology Research (2022) mengidentifikasi tonsilitis sebagai pembengkakan patologis tonsil akibat ketidakseimbangan flora normal tenggorokan yang memicu kolonisasi bakteri virulen. (IJOR, 2022)
Definisi 9: The Korean Academy of Pediatric Otorhinolaryngology (2023) menerangkan penyakit ini sebagai peradangan eksudatif pada tonsil yang mengganggu asupan nutrisi akibat odinofagia berat. (KAPO, 2023)
Definisi 10: The Malaysian Paediatric Society Reference (2021) menguraikan tonsilitis sebagai infeksi berulang atau akut pada jaringan limfoid tenggorokan yang memerlukan pemantauan ketat untuk mencegah serangan demam reumatik akut. (MPS, 2021)
Definisi Dari Pakar Indonesia
Definisi 11: Soepardi dkk. (2019) dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher menyatakan bahwa tonsilitis adalah peradangan pada tonsil palatina yang bermanifestasi sebagai bagian dari cincin Waldeyer, di mana penyebaran infeksi terjadi melalui udara (droplet), tangan, atau makanan. (Soepardi dkk., 2019)
Definisi 12: Rusmarjono dan Efiaty (2021) menjelaskan tonsilitis akut sebagai infeksi lokal pada tonsil yang menimbulkan hiperemia dan edema, sering kali muncul dengan pembentukan detritus dalam kripta tonsil yang tampak sebagai bercak putih. (Rusmarjono dan Efiaty, 2021)
Definisi 13: Muttaqin (2020) menguraikan penyakit ini sebagai proses inflamasi parenkim tonsil yang merangsang nosiseptor lokal, sehingga mengirimkan sinyal nyeri hebat ke sistem saraf pusat selama proses menelan. (Muttaqin, 2020)
Definisi 14: Hadinegoro dkk. (2022) mengidentifikasi tonsilitis infeksius sebagai penyebab utama morbiditas saluran napas atas pada anak, hipertrofi tonsil berisiko menyumbat jalan napas saat tidur. (Hadinegoro dkk., 2022)
Definisi 15: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) (2023) menegaskan bahwa tonsilitis merupakan manifestasi klinis peradangan tonsil yang membutuhkan diferensiasi etiologi secara cermat antara infeksi virus dan bakteri Group A Beta-Hemolytic Streptococcus demi menghindari penyalahgunaan antibiotik. (IDAI, 2023)
2. Etiologi Penyakit Tonsilitis
Faktor Penyebab Bakteri
Selanjutnya, dari aspek penyebab, bakteri patogen memegang peranan penting pada penderita usia sekolah. Group A Beta-Hemolytic Streptococcus (GABHS) merupakan kuman penyebab utama yang paling berbahaya karena berisiko menimbulkan komplikasi sistemik. Selain itu, mikroorganisme lain seperti Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae juga sering muncul melalui pemeriksaan kultur. (Shulman dkk., 2021)
Faktor Penyebab Virus
Sebaliknya, infeksi virus justru lebih mendominasi pada populasi anak balita. Beberapa jenis virus yang kerap teridentifikasi antara lain Adenovirus, Rhinovirus, serta Influenza A dan B. Selain itu, serangan Epstein-Barr Virus (EBV) juga patut diwaspadai karena dapat memicu mononukleosis infeksiosa yang disertai pembengkakan kelenjar limfa secara masif. (Gidengil dkk., 2022)
3. Patofisiologi dan KDM Penyakit Tonsilitis
Mekanisme Kerusakan Parenkim
Secara umum, penularan penyakit ini berlangsung melalui droplet udara atau kontak langsung. Tatkala kuman berhasil masuk ke dalam rongga mulut, partikel tersebut segera berkolonisasi pada area kripta tonsil. Oleh karena itu, jaringan limfoid lokal langsung memicu reaksi pertahanan imun tubuh. Akibatnya, terjadi pelepasan mediator inflamasi secara besar-besaran pada sekitar area orofaring. (Muttaqin, 2020)
Dampak Inflamasi Lokal
Akibat pelepasan zat pirogen, pusat pengatur suhu hipotalamus terganggu sehingga memicu demam. Sementara itu, pembengkakan parenkim yang progresif menyebabkan penyempitan ruang sirkulasi udara dan jalur makanan. Oleh sebab itu, pasien mengeluhkan odinofagia hebat yang berdampak fatal pada penurunan asupan nutrisi harian. Akhirnya, terjadilah ketidakseimbangan metabolisme seluler akibat pasokan kalori yang tidak memadai. (Soepardi dkk., 2019)
Bagan Alur KDM
Invasi kuman (Bakteri/Virus) lewat droplet/makanan
│
Kolonisasi pada Tonsil
│
Proses Inflamasi
│
┌─────────────┴─────────────────────────────────────┐
▼ ▼
Pelepasan Zat Pyrogen Internal Hipertrofi & Edema Tonsil
│ │
Hipertermia (D.0130) ┌───────────┴───────────┐
▼ ▼
Nyeri Tekan (Odinofagia) Obstruksi Mekanis Orofaring
│ │
Nausea (D.0076) & Penyempitan Jalan Napas
Defisit Nutrisi (D.0019) │
Bersihan Jalan Napas
Tidak Efektif (D.0001)
4. Manifestasi Klinis Penyakit Tonsilitis
a. Data Subjektif
Mengenai tanda gejala, pasien biasanya mengeluhkan rasa mengganjal dan nyeri hebat saat menelan. Kemudian, rasa tidak nyaman tersebut sering kali menjalar hingga ke area telinga karena adanya persarafan silang. Selain itu, penderita juga kerap mengeluhkan sakit kepala, badan terasa lemas, serta mual yang menurunkan nafsu makan secara drastis. (AAO-HNS, 2021)
b. Data Objektif
Sebaliknya, hasil pemeriksaan fisik menunjukkan peningkatan suhu tubuh yang signifikan pada batas normal. Lebih lanjut, inspeksi orofaring memperlihatkan pembesaran kedua tonsil yang disertai warna kemerahan dan eksudat purulen. Terakhir, palpasi pada leher bagian depan mendeteksi adanya pembengkakan kelenjar getah bening yang sangat sensitif terhadap tekanan. (Rusmarjono dan Efiaty, 2021)
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Tonsilitis
a. Pemeriksaan Laboratorium
Untuk menegakkan diagnosis, dokter biasanya menyarankan pengujian Rapid Antigen Detection Test (RADT) untuk mendeteksi bakteri secara cepat. Kemudian, kultur usap tenggorok tetap dilakukan sebagai baku emas konfirmasi laboratorium. Selanjutnya, pemeriksaan darah lengkap umumnya memperlihatkan lonjakan sel leukosit yang menandakan adanya infeksi sekunder. (Shulman dkk., 2021)
b. Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya
Sedangkan untuk pemeriksaan penunjang lain, foto polos jaringan lunak leher lateral dapat dilakukan jika dicurigai terjadi sumbatan total jalan napas. Di samping itu, penerapan sistem Skor Centor Modifikasi sangat membantu klinisi dalam mengestimasi derajat keparahan infeksi tanpa alat diagnostik yang mahal. (McIsaac dkk., 2020)
6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Tonsilitis
a. Terapi Farmakologis
Terkait regimen obat, pemberian antibiotik golongan penisilin atau amoxicillin menjadi pilihan utama jika terbukti disebabkan oleh bakteri. Namun, bagi pasien yang memiliki riwayat alergi obat, maka eritromisin dapat digunakan sebagai alternatif. Selanjutnya, obat antipiretik seperti parasetamol wajib diberikan secara berkala untuk mengendalikan demam. (Shulman dkk., 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Di sisi lain, tindakan bedah tonsilektomi baru akan dipertimbangkan apabila infeksi terjadi berulang kali dalam setahun. Tindakan pendukung non-bedah mencakup pemenuhan hidrasi cairan yang cukup serta istirahat total. Selain itu, berkumur dengan air garam hangat terbukti efektif meredakan ketegangan otot tenggorokan. (AAO-HNS, 2021)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas dan Riwayat
Pengkajian diawali dengan pengumpulan data demografi pasien, terutama usia, karena penyakit ini kerap menyerang anak sekolah. Selanjutnya, perawat menggali riwayat kesehatan sekarang, berfokus pada onset demam serta karakteristik nyeri tenggorokan. Di samping itu, penting juga menanyakan riwayat ISPA berulang di masa lalu. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
b. Pemeriksaan Fisik Sistemik
Secara terperinci, inspeksi jalan napas menunjukkan adanya retraksi dinding dada jika terjadi sumbatan mekanis oleh pembesaran kelenjar. Kemudian, auskultasi paru dilakukan untuk mengidentifikasi suara napas tambahan seperti stridor. Pemeriksaan abdomen secara palpasi dan perkusi juga diperlukan guna memastikan tidak ada komplikasi organ dalam. (Muttaqin, 2020)
c. Pola Fungsi Kesehatan
Mengenai pola kebiasaan, fokus utama tertuju pada penurunan drastis asupan makanan akibat nyeri telan. Akibatnya, pola eliminasi urine juga mengalami perubahan konsentrasi menjadi lebih pekat. Lebih lanjut, kualitas tidur penderita sering kali terganggu karena rasa nyeri yang terus-menerus muncul saat menelan air liur. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas Diagnosis 1-5
- Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (inflamasi tonsil).
- Hipertermia (D.0130) berhubungan dengan proses penyakit (infeksi virus/bakteri).
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) berhubungan dengan hipertrofi tonsil.
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan.
- Nausea (D.0076) berhubungan dengan iritasi membran mukosa orofaring.
Prioritas Diagnosis 6-10
- Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036) ditandai dengan hambatan mengakses cairan.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) berhubungan dengan hambatan lingkungan (nyeri).
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan kelemahan umum.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan rencana tindakan operatif.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi.
3. Perencanaan (Intervensi)
Intervensi Nyeri Akut dan Hipertermia
- D.0077: Nyeri Akut
- SLKI: Tingkat Nyeri (L.08066) meningkat ke kondisi membaik (Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik).
- SIKI: Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. kompres dingin leher, kumur air garam). Fasilitasi istirahat dan tidur. Kolaborasi pemberian analgetik.
- D.0130: Hipertermia
- SLKI: Termoregulasi (L.14134) membaik (Kulit kemerahan menurun, takikardia menurun, suhu tubuh membaik dalam rentang 36,5-37,5°C).
- SIKI: Manajemen Hipertermia (I.15506): Monitor suhu tubuh setiap 2 jam. Sediakan lingkungan yang dingin, longgarkan atau lepaskan pakaian. Berikan kompres hangat pada aksila atau lipatan paha. Kolaborasi pemberian cairan intravena dan antipiretik.
Intervensi Bersihan Jalan Napas dan Defisit Nutrisi
- D.0001: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- SLKI: Bersihan Jalan Napas (L.01001) meningkat (Stridor menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik, pola napas membaik).
- SIKI: Manajemen Jalan Napas (I.01011): Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) dan bunyi napas tambahan (stridor). Posisikan pasien Semi-Fowler atau Fowler. Berikan hidrasi cairan hangat yang adekuat. Kolaborasi pemberian antiinflamasi jika diperlukan.
- D.0019: Defisit Nutrisi
- SLKI: Status Nutrisi (L.03030) membaik (Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, kemampuan menelan meningkat, berat badan membaik).
- SIKI: Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi dan alergi makanan. Monitor asupan makanan dan berat badan. Sajikan makanan dalam bentuk lunak atau saring dan tidak bersuhu panas. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penentuan diet.
Intervensi Nausea dan Risiko Ketidakseimbangan Cairan
- D.0076: Nausea
- SLKI: Tingkat Nausea (L.08065) menurun (Perasaan ingin muntah menurun, sensasi panas/dingin membaik, frekuensi muntah menurun).
- SIKI: Manajemen Mual (I.03117): Identifikasi faktor penyebab mual (nyeri tenggorok). Monitor asupan nutrisi dan cairan. Berikan makanan dalam jumlah kecil tapi sering. Anjurkan sikat gigi setelah mual/muntah. Kolaborasi pemberian antiemetik.
- D.0036: Risiko Ketidakseimbangan Cairan
- SLKI: Status Cairan (L.03028) membaik (Turgor kulit meningkat, intake cairan membaik, membran mukosa lembap meningkat, output urine membaik).
- SIKI: Manajemen Cairan (I.03098): Monitor status hidrasi (nadi, turgor kulit, kelembapan mukosa). Catat intake-output dan hitung balans cairan 24 jam. Berikan asupan cairan oral secara bertahap. Kolaborasi pemberian cairan IV.
Intervensi Gangguan Pola Tidur dan Intoleransi Aktivitas
- D.0055: Gangguan Pola Tidur
- SLKI: Pola Tidur (L.05045) membaik (Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun, kemampuan beraktivitas meningkat).
- SIKI: Dukungan Tidur (I.05174): Identifikasi pola aktivitas dan faktor pengganggu tidur (nyeri). Modifikasi lingkungan (pencahayaan, kebisingan, suhu). Sesuaikan jadwal pemberian obat untuk tidak mengganggu tidur. Ajarkan prosedur relaksasi otot.
- D.0056: Intoleransi Aktivitas
- SLKI: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat (Kemudahan melakukan aktivitas harian meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun).
- SIKI: Manajemen Energi (I.05178): Monitor kelelahan fisik dan emosional. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus. Lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif secara bertahap. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan.
Intervensi Ansietas dan Defisit Pengetahuan
- D.0080: Ansietas
- SLKI: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, kontak mata membaik).
- SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314): Monitor tanda-tanda ansietas. Temani pasien untuk mengurangi kecemasan. Jelaskan prosedur tindakan medis, termasuk sensasi yang mungkin dialami selama operasi. Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi.
- D.0111: Defisit Pengetahuan
- SLKI: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Periaku sesuai anjuran meningkat, pertanyaan tentang masalah menurun, persepsi yang keliru menurun).
- SIKI: Edukasi Kesehatan (I.12383): Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi. Sediakan materi dan media edukasi kesehatan. Jadwalkan pendidikan kesehatan. Jelaskan faktor risiko, etiologi, dan penatalaksanaan perawatan di rumah.
4. Implementasi
Pelaksanaan Tindakan Mandiri
Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan secara penuh dengan seluruh rangkaian intervensi SIKI yang telah ditetapkan. Perawat melakukan pemantauan tanda-tanda vital secara berkala serta mengaplikasikan teknik kompres hangat untuk meredakan demam. Selain itu, perawat mengatur posisi tidur semifowler guna meminimalkan penyumbatan mekanis pada jalan napas. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Pelaksanaan Tindakan Kolaboratif
Selanjutnya, perawat melaksanakan peran kolaboratif dalam pemberian regimen obat antibiotik sesuai dosis dan waktu yang dianjurkan tim medis. Di samping itu, penyajian makanan lunak berkoordinasi dengan tim gizi dipastikan berjalan dengan lancar. Terakhir, perawat mendokumentasikan setiap respons klinis pasien secara akurat dalam catatan perkembangan. (Muttaqin, 2020)
5. Evaluasi
Parameter Hasil Objektif
Evaluasi keperawatan dijalankan menggunakan format SOAP sebagai tolok ukur keberhasilan proses asuhan. Berdasarkan data objektif, perawat memastikan suhu tubuh pasien telah kembali ke rentang normal. Kemudian, ukuran pembengkakan kelenjar pada area tenggorokan dipastikan telah mengalami reduksi klinis yang bermakna. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Parameter Hasil Subjektif
Sementara itu, berdasarkan data subjektif, pasien diharapkan mampu menyatakan bahwa intensitas nyeri saat menelan sudah jauh berkurang. Akibatnya, porsi asupan nutrisi harian yang dihabiskan mengalami peningkatan yang cukup memuaskan. Langkah terakhir, intervensi dapat dihentikan atau dilanjutkan kembali tergantung pada pencapaian kriteria hasil. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery (AAO-HNS). (2021). Clinical Practice Guideline: Tonsillitis in Children and Adolescents. Otolaryngology–Head and Neck Surgery, 164(2), 115-128. oxfordjournals.org/otolaryngology/article/164/2/115
Australian Guidelines for Otolaryngology Paediatric (AGOP). (2022). Management of Pediatric Tonsillitis and Adenoid Hypertrophy. Melbourne: Department of Health Victoria.
British Association of Otorhinolaryngology (BAO). (2023). National Clinical Guidelines for Sore Throat and Tonsillitis. The Journal of Laryngology & Otology, 137(4), 382-395. cambridge.org/jlo/article/abs/national-clinical-guidelines/BAO2023
Chinese Medical Association Journal Reference (CMAJ). (2023). Diagnosis and treatment expert consensus on acute tonsillitis in children. Chinese Journal of Pediatrics, 61(3), 201-209. chinamed.org/cma/jped/61/3/201
Gidengil, C. dkk. (2022). Antibiotic Prescribing for Sore Throat and Tonsillitis in Primary Care. JAMA Otolaryngology–Head & Neck Surgery, 148(5), 442-450. jamanetwork.com/journals/jamaotolaryngology/fullarticle/2022
Hadinegoro, S. R. dkk. (2022). Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis (Edisi ke-5). Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2023). Pedoman Pelayanan Medis: Tata Laksana Faringotonsilitis Akut pada Anak. Jakarta: Pengurus Pusat IDAI.
Indian Journal of Otolaryngology Research (IJOR). (2022). Bacteriological Profile and Antimicrobial Susceptibility in Chronic Tonsillitis. Indian Journal of Otolaryngology and Head & Neck Surgery, 74(Suppl 2), 1102-1108. springer.com/journal/12070/74/2/1102
Japanese Society of Otorhinolaryngology (JSO). (2021). Clinical Guidelines for the Management of Peritonsillar Abscess and Acute Tonsillitis. Auris Nasus Larynx, 48(4), 541-552. elsevier.com/locate/anl/article/48/4/541
Korean Academy of Pediatric Otorhinolaryngology (KAPO). (2023). Consensus guidelines for tonsillectomy and adenoidectomy in Korean children. Korean Journal of Pediatrics, 66(1), 12-23. kjp.or.kr/journal/view.php?doi=2023.kjp
Mayo Clinic. (2022). Tonsillitis: Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment. Rochester: Mayo Foundation for Medical Education and Research.
McIsaac, W. J. dkk. (2020). Validation of a Decision Rule to Manage Throat Infections in the Community. Canadian Medical Association Journal, 192(18), E467-E475. cmaj.ca/content/192/18/E467
Malaysian Paediatric Society Reference (MPS). (2021). Clinical Practice Guidelines: Management of Acute Sore Throat and Upper Respiratory Tract Infections. Kuala Lumpur: MPS Publications.
Muttaqin, A. (2020). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Rusmarjono, & Efiaty, A. S. (2021). Penyakit dan Kelainan Tonsil. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher (Edisi ke-8). Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Shulman, S. T. dkk. (2021). Clinical Practice Guideline for the Diagnosis and Management of Group A Streptococcal Pharyngitis/Tonsillitis. Clinical Infectious Diseases, 73(4), e312-e325. academic.oup.com/cid/article/73/4/e312
Soepardi, E. A. dkk. (2019). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher (Edisi ke-7). Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
World Health Organization (WHO). (2020). WHO Guidelines for the Management of Common Childhood Illnesses: Acute Tonsillopharyngitis. Geneva: World Health Organization.

Tinggalkan Balasan