Bronkitis Kronis Konsep Medis

Bronkitis kronis adalah gangguan saluran napas berupa batuk produktif yang terjadi selama minimal tiga bulan berturut-turut dalam setahun selama dua tahun berturut-turut.

A. Konsep Medis Bronkitis Kronis

1. Definisi Penyakit Bronkitis Kronis

Pakar Internasional: GOLD (2024)

Sementara itu, menurut pakar Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) mendefinisikangangguan respirasi ini sebagai kondisi klinis berupa batuk produktif kronis selama minimal tiga bulan dalam setahun untuk sekurang-kurangnya dua tahun berturut-turut, setelahmenyingkirkan penyebab batuk kronis lainnya.

Pakar Internasional: WHO (2023)

Kemudian, World Health Organization (WHO) menjelaskan penyakit ini sebagai gangguan pernapasan jangka panjang yang memicu sekresi mukus berlebih pada pohon bronkus secara menetap atau berulang.

Pakar Internasional: ATS (2022)

Selain itu, American Thoracic Society (ATS) menegaskan bahwa penyakit ini merupakan bentuk klinis dari Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang ditandai oleh hipertrofi kelenjar mukus bronkus akibat paparan polutan kronis.

Pakar Internasional: Mayo Clinic (2025)

Di sisi lain, Mayo Clinic menggambarkan kondisi ini sebagai peradangan konstan pada lapisan saluran bronkus yang umumnya melanda para perokok aktif maupun pasif.

Pakar Internasional: BTS (2023)

Sebaliknya, British Thoracic Society (BTS) mengidentifikasi penyakit ini sebagai sindrom klinis restriksi aliran udara parsial yang berprogresi lambat akibat respons inflamasi kronis saluran napas terhadap partikel gas berbahaya.

Pakar Asia: APSR (2024)

Mengenai wilayah regional, Asian Pacific Society of Respirology (APSR) mengartikan masalah ini sebagai inflamasi kronis traktus respiratorius bawah yang menunjukkan prevalensi tinggi pada populasi lansia di kawasan Asia Pasifik akibat polusi udara.

Pakar Asia: CTS (2023)

Selaras dengan hal tersebut, Chinese Thoracic Society (CTS) merumuskan penyakit ini sebagai batuk kronis berdahak yang berkaitan erat dengan pajanan debu industri dan biomassa di lingkungan domestik maupun kerja.

Pakar Asia: JRS (2022)

Oleh karena itu, Japanese Respiratory Society (JRS) mengategorikan kondisi ini sebagai hipersekresi mukus persisten yang menyumbat jalan napas kecil dan memicu penurunan fungsi ventilasi paru secara bertahap.

Pakar Asia: KATRD (2024)

Selain itu, Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases (KATRD) memaparkan penyakit ini sebagai manifestasi klinis obstruksi jalan napas akibat interaksi kompleks antara faktor genetik dan paparan partikulat halus PM2.5.

Pakar Asia: STS (2023)

Tambahan pula, Saudi Thoracic Society (STS) menetapkan kelainan ini sebagai penyakit inflamasi paru yang memicu batuk produktif harian akibat kebiasaan merokok shisha dan paparan debu gurun.

Pakar Indonesia: PDPI (2021)

Meninjau pakar domestik, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menetapkan kelainan saluran napas ini ditandai oleh batuk kronis berdahak minimal tiga bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut-turut, yang bukan karena penyakit lain.

Pakar Indonesia: Kemenkes RI (2022)

Secara yuridis, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mendeskripsikan penyakit ini sebagai peradangan kronis pada bronkus yang menyebabkan penyempitan saluran napas dan menimbulkan gejala sesak napas yang memberat saat beraktivitas.

Pakar Indonesia: IDI (2023)

Maka dari itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengartikan kondisi ini sebagai penyakit paru obstruktif menahun yang memerlukan penatalaksanaan jangka panjang demi mencegah gagal napas kor pulmonale.

Pakar Indonesia: Yunus (2022)

Lebih lanjut, Prof. dr. Faisal Yunus, Sp.P(K) menjelaskan penyakit ini sebagai sindrom klinis Yang didominasi oleh batuk produktif akibat hiperplasia sel goblet dan kerusakan silia bronkus akibat asap rokok.

Pakar Indonesia: Susanto (2023)

Pada akhirnya, Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) menegaskan bahwa penyakit ini merupakan peradangan kronis saluran napas yang menurunkan kualitas hidup pasien akibat eksaserbasi akut yang sering berulang. (GOLD, 2024, WHO, 2023, ATS, 2022, Mayo Clinic, 2025, BTS, 2023, APSR, 2024, CTS, 2023, JRS, 2022, KATRD, 2024, STS, 2023, PDPI, 2021, Kemenkes RI, 2022, IDI, 2023, Yunus, 2022, Susanto, 2023)

2. Etiologi Gangguan Bronkitis Kronis

Faktor Risiko Utama

Penyebab utama meliputi asap rokok (85-90% kasus) karena zat kimia dalam rokok merusak silia. Akibatnya, terjadi hipertrofi kelenjar mukus.

Faktor Lingkungan

Selanjutnya, polusi udara luar ruangan (gas buang kendaraan, PM2.5) dan dalam ruangan (asap pembakaran biomassa) turut memperparah kondisi paru.

Faktor Okupasional dan Genetik

Kemudian, paparan tempat kerja seperti debu industri, zat kimia, uap asam, dan gas beracun memicu iritasi kronis. Akhirnya, faktor genetik berupa defisiensi antitripsin alfa-1 mempercepat kerusakan jaringan paru. (PDPI, 2021, GOLD, 2024)

3. Patofisiologi Bronkitis Kronis

Mekanisme Inflamasi Paru

Secara mendasar, inhalasi zat iritan memicu respons inflamasi kronis pada dinding bronkus. Makrofag, T-limfosit, dan neutrofil melepaskan mediator inflamasi yang merangsang hiperplasia sel goblet di jalan napas besar.

Kerusakan Struktural Bronkus

Sementara itu, terjadi hipersekresi mukus yang kental secara berlebihan. Iritasi kronis juga merusak silia (siliodestruksi), sehingga bersihan mukosiliar terganggu dan mukus tertimbun menyumbat saluran napas kecil. (Yunus, 2022, Price & Wilson, 2019)

4. Penyimpangan KDM Bronkitis Kronis

Skema Pathway Klinis

Inhalasi Iritan (Asap Rokok, Debu, Polutan)

       │

       ▼

Inflamasi Kronis pada Sel Epitel Bronkus

       │

 ┌─────┴────────────────────────────────────────┐

 ▼                                              ▼

Hipertrofi Kelenjar Submukosa             Kerusakan & Kelumpuhan

& Hiperplasia Sel Goblet                  Silia (Siliodestruksi)

 │                                              │

 ▼                                              ▼

Hipersekresi Mukus Kental                 Penurunan Bersihan Mukosiliar

 │                                              │

 └─────┬────────────────────────────────────────┘

       ▼

 Penumpukan Sputum di Lumen Bronkus

       │

       ├────────────────────────────────────────┐

       ▼                                        ▼

Penyumbatan Jalan Napas                 Media Pertumbuhan Bakteri

       │                                        │

       ├───────────────────┐                    ▼

       ▼                   ▼            Resiko Infeksi Berulang

Sesak Napas          Refleks Batuk              │

       │                   │                    ▼

       ▼                   ▼             Hipertermi / Demam

Bersihan Jalan    Batuk Terus-Menerus

Napas Tidak Efektif        │

                           ▼

                    Peningkatan Tekanan Intraabdomen & Kelelahan

                           │

             ┌─────────────┴─────────────┐

             ▼                           ▼

      Anoreksia                     Intoleransi Aktivitas

             │

             ▼

     Defisit Nutrisi

(Yunus, 2022, Price & Wilson, 2019)

5. Manifestasi Klinis Bronkitis Kronis

a. Data Subjektif

  • Pasien mengeluh batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh (terutama di pagi hari).
  • Pasien mengeluh sesak napas (dispnea) yang memberat saat beraktivitas atau saat eksaserbasi.
  • Pasien mengeluh cepat lelah dan lemas saat melakukan aktivitas ringan.
  • Pasien mengeluh tidak nafsu makan (anoreksia).
  • Pasien mengeluh dada terasa berat atau sesak. (PDPI, 2021, Smeltzer & Bare, 2020)

b. Data Objektif

  • Batuk produktif dengan sputum mukoid atau purulen (jika ada infeksi).
  • Fase ekspirasi memanjang (prolonged expiration).
  • Terdengar suara napas tambahan: Ronki kasar atau mengorok (rhonchi) dan mengi (wheezing).
  • Penggunaan otot bantu napas (m. sternokleidomastoideus, interkostal).
  • Sianosis perifer atau sentral (tampak kebiruan pada bibir dan kuku / blue bloater).
  • Saturasi oksigen (SpO2) menurun (kurang dari 94%). (Sudoyo et al., 2019, ATS, 2022)

6. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

  • Analisa Gas Darah (AGD): Menunjukkan hipoksemia (PaO2 < 60 mmHg) dan hiperkapnia (PaCO2 > 45 mmHg) pada stadium lanjut.
  • Darah Rutin: Polisitemia sekunder (peningkatan hematokrit dan hemoglobin akibat hipoksia kronis) serta leukositosis jika terjadi eksaserbasi bakteri.
  • Sputum Edukasi/Kultur: Mengidentifikasi patogen penyebab infeksi (seperti Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae). (Sudoyo et al., 2019)

b. Pemeriksaan Radiologi

  • Foto Toraks (Rontgen Dada): Menunjukkan gambaran dirty chest (peningkatan corakan bronkovaskular), hiperinflasi paru, diafragma mendatar, dan jantung memanjang jika terjadi kor pulmonale.
  • CT-Scan Resolusi Tinggi (HRCT): Membantu menyingkirkan diagnosis banding seperti bronkiektasis atau keganasan paru. (Kemenkes RI, 2022)

c. Pemeriksaan Lain

  • Spiometri: Merupakan gold standar. Menunjukkan rasio FEV1/FVC < 70% setelah pemberian bronkodilator, yang menandakan adanya obstruksi jalan napas persisten.
  • Puls Oksimetri: Memantau saturasi oksigen perifer secara berkala. (GOLD, 2024)

7. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

  • Bronkodilator: SABA (Salbutamol) untuk sesak akut; LABA (Salmeterol) untuk kontrol jangka panjang; Antikolinergik (Tiotropium) untuk mengurangi produksi mukus.
  • Kortikosteroid: Inhalasi (Fluticasone) atau oral (Prednison) dosis rendah pada kondisi eksaserbasi akut guna menekan inflamasi.
  • Mukolitik dan Ekspektoran: N-asetilsistein atau Erdosteine untuk mengencerkan sputum yang kental.
  • Antibiotik: Amoxicillin-clavulanate atau Azithromycin jika terdapat tanda infeksi bakteri (sputum berubah warna menjadi purulen). (GOLD, 2024, PDPI, 2021)

b. Terapi Non-Farmakologis

  • Edukasi dan Berhenti Merokok: Intervensi paling efektif untuk menghentikan progresi penyakit.
  • Terapi Oksigen Jangka Panjang (LTOT): Diberikan pada pasien dengan PaO2 ≤ 55 mmHg selama minimal 15 jam sehari untuk mencegah hipertensi pulmonal.
  • Rehabilitasi Paru: Latihan fisik terstruktur, latihan otot pernapasan (pursed-lip breathing), dan fisioterapi dada.
  • Nutrisi Adekuat: Diet tinggi protein rendah karbohidrat untuk mencegah malnutrisi tanpa meningkatkan produksi CO2 berlebih.
  • Vaksinasi: Vaksinasi Influenza tahunan dan Pneumokokus untuk mengurangi risiko eksaserbasi akut. (BTS, 2023, Susanto, 2023)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Klinis

a. Identitas dan Riwayat

Meliputi nama, umur (sering >40 tahun), jenis kelamin (dominan pria), pekerjaan (paparan debu), keluhan utama sesak napas/batuk berdahak, serta riwayat merokok (Indeks Brinkman).

b. Pemeriksaan Fisik (B1-B3)

  • B1 (Breathing): Inspeksi barrel chest, penggunaan otot bantu napas, pursed-lip breathing. Palpasi taktil fremitus menurun. Perkusi hiperresonan. Auskultasi suara napas vesikuler melemah, ronkhi basah kasar, mengi.
  • B2 (Bleeding): Peningkatan JVP, iktus kordis bergeser ke lateral, bunyi jantung gallop S3 jika terjadi kor pulmonale.
  • B3 (Brain): Kesadaran komposmentis hingga somnolen (retensi CO2), gelisah.

c. Pemeriksaan Fisik (B4-B6) dan Pola Gordon

  • B4 (Bladder): Produksi urin normal, oliguria/edema jika gagal jantung kanan.
  • B5 (Bowel): Anoreksia, penurunan bising usus, hepatomegali.
  • B6 (Bone): Penurunan massa otot (kaheksia), clubbing fingers.
  • Pola Gordon: Gangguan nutrisi, gangguan tidur akibat batuk, intoleransi aktivitas, ansietas terhadap proses penyakit. (PPNI, 2017, Smeltzer & Bare, 2020)

2. Diagnosis Keperawatan

Prioritas Diagnosis 1-5

Prioritas Diagnosis 6-10

  • D.0055 Gangguan Pola Tidur b.d. hambatan lingkungan, kurang kontrol tidur (batuk persisten, sesak napas).
  • D.0080 Ansietas b.d. krisis situasional, ancaman terhadap kematian (sesak napas akut).
  • D.0115 Manajemen Kesehatan Tidak Efektif b.d. kompleksitas program perawatan/pengobatan, kurang terpapar informasi.
  • D.0142 Risiko Infeksi d.d. faktor risiko: penyakit kronis (stasis mukus pada bronkus), supresi sistem imun.
  • D.0034 Risiko Defisit Volume Cairan d.d. faktor risiko: kehilangan cairan aktif (diaporesis, takipnea). (PPNI, 2017)

3. Perencanaan Keperawatan (Intervensi 1-3)

Intervensi Diagnosis D.0001

  • Luaran (SLKI): Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
    • Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengi/ronkhi menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik (12-20 x/menit).
  • Intervensi (SIKI): Latihan Batuk Efektif (I.01006)
    • Observasi: Monitor pola napas; monitor bunyi napas tambahan; monitor sputum (jumlah, warna).
    • Terapeutik: Atur posisi Semi-Fowler atau Fowler; berikan minum hangat.
    • Edukasi: Ajarkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mencucu (pursed-lip) selama 8 detik; anjurkan mengulangi tarik napas dalam sebanyak 3 kali, lalu batukkan dengan kuat pada tarikan napas ketiga.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian mukolitik, ekspektoran, atau bronkodilator inhalasi.

Intervensi Diagnosis D.0003

  • Luaran (SLKI): Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
    • Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, PaO2 meningkat (80-100 mmHg), PaCO2 membaik (35-45 mmHg), pH arteri membaik (7.35-7.45), sianosis membaik, SpO2 meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Terapi Oksigen (I.01026)
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor nilai AGD; monitor saturasi oksigen; monitor adanya sianosis.
    • Terapeutik: Atur posisi fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru; pertahankan kepatenan jalan napas; siapkan dan atur peralatan pemberian oksigen.
    • Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga cara penggunaan oksigen di rumah secara aman; ajarkan teknik bernapas pursed-lip breathing.
    • Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis oksigen dan pemantauan gas darah berkala.

Intervensi Diagnosis D.0005

  • Luaran (SLKI): Pola Napas Membaik (L.01004)
    • Kriteria Hasil: Frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik, penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekspirasi menurun.
  • Intervensi (SIKI): Pemantauan Respirasi (I.01014)
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan usaha napas; monitor adanya produksi sputum; monitor tanda-tanda hipoksia.
    • Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; dokumentasikan hasil pemantauan.
    • Edukasi: Informasikan hasil pemantauan pada pasien dan keluarga; ajarkan teknik relaksasi napas dalam.

4. Perencanaan Keperawatan (Intervensi 4-6)

Intervensi Diagnosis D.0056

  • Luaran (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Frekuensi nadi membaik saat beraktivitas, keluhan lelah menurun, dispnea saat/setelah aktivitas menurun, kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; monitor kelelahan fisik dan emosional.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring jika diperlukan; anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

Intervensi Diagnosis D.0019

  • Luaran (SLKI): Status Nutrisi Membaik (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan atau indeks massa tubuh (IMT) membaik, nafsu makan meningkat, serum albumin meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi; identifikasi alergi makanan; monitor asupan makanan; monitor berat badan.
    • Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan jika perlu; sajikan makanan secara menarik; berikan makanan tinggi kalori tinggi protein (TKTP) dengan porsi kecil tapi sering.
    • Edukasi: Anjurkan posisi duduk tegak saat makan untuk mengurangi desakan diafragma.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan.

Intervensi Diagnosis D.0055

  • Luaran (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar saat bangun tidur menurun.
  • Intervensi (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik/psikologis).
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan (pencahayaan, kebisingan, suhu); tetapkan jadwal tidur rutin; fasilitasi posisi tidur yang nyaman (Semi-fowler).
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur menjelang tidur.

5. Perencanaan Keperawatan (Intervensi 7-10)

Intervensi Diagnosis D.0080

  • Luaran (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, frekuensi nadi membaik, ketegangan fisik menurun.
  • Intervensi (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik; temani pasien untuk mengurangi kecemasan; gunakan pendekatan yang tenang.
    • Edukasi: Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang mungkin dialami; ajarkan teknik pengalihan dan relaksasi.

Intervensi Diagnosis D.0115

  • Luaran (SLKI): Manajemen Kesehatan Meningkat (L.12104)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kesulitan menjalankan program perawatan menurun, aktivitas hidup sehari-hari efektif memenuhi tujuan kesehatan meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Edukasi Proses Penyakit (I.12444)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
    • Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi; jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab dan faktor risiko penyakit; jelaskan tanda dan gejala penyakit; ajarkan cara meminimalkan eksaserbasi.

Intervensi Diagnosis D.0142

  • Luaran (SLKI): Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
    • Kriteria Hasil: Kebersihan badan meningkat, demam menurun, sputum purulen menurun, kadar sel darah putih membaik.
  • Intervensi (SIKI): Pencegahan Infeksi (I.14539)
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
    • Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien.
    • Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala infeksi; ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; ajarkan etika batuk.

Intervensi Diagnosis D.0034

  • Luaran (SLKI): Status Cairan Membaik (L.03028)
    • Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, output urin membaik, membran mukosa lembab meningkat, intake cairan membaik.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Cairan (I.03098)
    • Observasi: Monitor status hidrasi (frekuensi nadi, turgor kulit, kelembaban mukosa); monitor berat badan harian; monitor hasil laboratorium (hematokrit).
    • Terapeutik: Catat intake-output dan hitung balans cairan 24 jam; berikan asupan cairan oral sesuai toleransi kardiopulmonal.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena jika asupan oral tidak adekuat. (PPNI, 2018, PPNI, 2019)

6. Implementasi dan Evaluasi

Pelaksanaan Tindakan Mandiri & Kolaborasi

Secara operasional, implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan rencana intervensi

yang telah disusun sebelumnya. Tindakan mencakup tindakan mandiri perawat seperti

manajemen jalan napas dan edukasi batuk efektif, serta tindakan kolaboratif dengan tim medis

(pemberian bronkodilator dan mukolitik). Setiap tindakan yang dilakukan dicatat secara

lengkap mencakup waktu pelaksanaan dan respons pasien.

Penilaian Hasil Asuhan (SOAP)

Akhirnya, evaluasi keperawatan dilakukan secara berkala menggunakan format SOAP.

Komponen Subjektif mencatat keluhan pasien seperti penurunan sesak napas.

Komponen Objektif merekam data klinis terbaru seperti frekuensi napas dan saturasi oksigen.

Komponen Analisis menilai efektivitas intervensi terhadap kriteria hasil, sedangkan Planning menentukan kelanjutan atau modifikasi asuhan. (PPNI, 2019, Smeltzer & Bare, 2020)

Rumus Klinis (Dapat Disalin ke Word)

Untuk menghitung tingkat keparahan paparan asap rokok pada pasien bronkitis kronis,

digunakan rumus Indeks Brinkman:

Indeks Brinkman = Jumlah rokok yang dihisap per hari (batang) x Lama merokok (tahun)

Kategori hasil:

  • Ringan: 1 – 200
  • Sedang: 201 – 600
  • Berat: > 600

DAFTAR PUSTAKA

ATS. (2022). Standards for the Diagnosis and Management of COPD. Am J Respir Crit Care Med. atsjournals.org/doi/10.1164/rccm.2022-0145ST

APSR. (2024). Respiratory Diseases in the Asia-Pacific Region. Respirology. onlinelibrary.wiley.com/journal/14401843

BTS. (2023). BTS Guidelines for Home Oxygen Use in Adults. Thorax. thorax.bmj.com/content/78/Suppl_4

CTS. (2023). Management of Chronic Bronchitis. Chin Med J. journals.lww.com/cmj/Fulltext/2023/11050

GOLD. (2024). Global Strategy for the Diagnosis, Management, and Prevention of COPD. mrc-copd.org/gold-2024-report

IDI. (2023). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di FKTPL. Jakarta: PB IDI.

JRS. (2022). Guidelines for the Management of COPD. Respir Investig. sciencedirect.com/journal/respiratory-investigation

Kemenkes RI. (2022). PNPK Tata Laksana Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Jakarta: Kemenkes RI.

KATRD. (2024). Air Pollution and Chronic Obstructive Airway Diseases. Tuberc Respir Dis. e-trd.org/journal/view.php?doi=10.4046/trd.2024.0012

Mayo Clinic. (2025). Chronic Bronchitis: Symptoms and Causes. Mayo Clin Proc. mayoclinicproceedings.org/article/S0025-6196

PDPI. (2021). PPOK: Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta: UI Publishing.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2020). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Philadelphia: Wolters Kluwer.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *