Pneumotoraks merupakan kondisi gawat darurat ketika udara menumpuk pada rongga pleura, menyebabkan tekanan intrapleura meningkat dan kolaps pada paru.
- A. KONSEP MEDIS PNEUMOTORAKS KONSEP MEDIS
- B. Konsep Asuhan Keperawatan Pneumotoraks
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS PNEUMOTORAKS KONSEP MEDIS
1. Definisi Penyakit Pneumotoraks
Definisi Dari Pakar Internasional
Light (2018): Peneliti mendefinisikan pneumotoraks sebagai kehadiran udara pada rongga pleura yang secara mekanis memisahkan pleura viseralis dan parietalis, sehingga mengganggu tekanan negatif intratoraks dan memicu kolaps paru sebagian atau total (Light, 2018).
Broaddus et al. (2021): Pakar menjelaskan bahwa kondisi ini merepresentasikan akumulasi gas di dalam ruang potensial antara pleura viseral dan parietal, yang pada gilirannya membatasi ekspansi paru saat ventilasi (Broaddus et al., 2021).
Grippi et al. (2020): Buku teks ini menegaskan pneumotoraks sebagai gangguan struktural dinding dada atau pleura viseralis yang memungkinkan udara atmosfer atau udara alveolar memasuki rongga pleura (Grippi et al., 2020).
Noppen (2022): Klinis mengartikan fenomena ini sebagai entitas klinis yang timbul akibat robekan pleura, tekanan positif udara luar menghancurkan gradien tekanan transpulmonal normal (Noppen, 2022).
MacDuff et al. (2020): Konsensus mengidentifikasi pneumotoraks sebagai komplikasi respiratorik akut yang merusak integritas membran pleura, menyebabkan kolaps parenkim paru secara mendadak (MacDuff et al., 2020).
Definisi Dari Pakar Asia
Kondo et al. (2019): Peneliti asal Jepang ini mengategorikan pneumotoraks sebagai penyakit pleura yang sering menyerang pria muda bertubuh tinggi kurus akibat pecahnya bleb subpleura pada apeks paru (Kondo et al., 2019).
Lin et al. (2021): Pakar Taiwan merumuskan kondisi ini sebagai akumulasi udara abnormal pada ruang pleura yang memerlukan dekompresi segera apabila mengancam kestabilan hemodinamik pasien (Lin et al., 2021).
Choi et al. (2022): Pakar dari Korea Selatan mendefinisikan gangguan ini sebagai kebocoran udara dari alveoli ke dalam rongga dada yang menginduksi hipoksia akibat penurunan kapasitas residu fungsional (Choi et al., 2022).
Sharma & Joshi (2023): Akademisi India menjelaskan pneumotoraks sebagai kegawatdaruratan toraks non-traumatik maupun traumatik yang mengubah tekanan intrapleura dari negatif menjadi positif (Sharma & Joshi, 2023).
Chan et al. (2020): Praktisi dari Hong Kong mengartikan pneumotoraks sebagai lepasnya pleura viseral dari dinding dada akibat desakan udara ekstraseluler, yang memicu sesak napas akut (Chan et al., 2020).
Definisi Dari Pakar Indonesia
Alsagaff & Mukty (2018): Guru besar Indonesia ini menguraikan pneumotoraks sebagai suatu
keadaan terdapatnya udara pada rongga pleura yang mengakibatkan penekanan terhadap jaringan paru dan sekitarnya (Alsagaff & Mukty, 2018).
Sudoyo et al. (2019): Tim pakar penyakit dalam mendefinisikan pengumpulan udara dalam rongga pleura ini sebagai akibat dari robeknya pleura viseralis, pleura parietalis, atau robeknya jalan napas hingga mediastinum (Sudoyo et al., 2019).
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia [PDPI] (2021): Organisasi profesi ini menetapkan pneumotoraks sebagai kondisi penumpukan gas bebas dalam kavum pleura yang menimbulkan gangguan restriksi pada sistem pernapasan manusia (PDPI, 2021).
Syarifuddin (2020): Dosen anatomi ini mendeskripsikan pneumotoraks sebagai masuknya udara ke dalam kavum pleura yang merusak sifat kedap udara dari rongga dada dan mengempiskan alveoli paru (Syarifuddin, 2020).
Somantri (2019): Pakar keperawatan kardiorespirasi mengartikan gangguan ini sebagai kolaps paru yang terjadi apabila udara masuk ke dalam area pleura melalui luka di dinding dada atau robekan jaringan paru (Somantri, 2019).
2. Etiologi Penyakit Pneumotoraks
Klasifikasi Berdasarkan Penyebab
Berdasarkan faktor pemicunya, pneumotoraks dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Pertama, pneumotoraks spontan primer yang terjadi tanpa adanya riwayat penyakit paru sebelumnya. Keadaan ini umumnya disebabkan oleh pecahnya bula subpleura.
Selanjutnya, jenis kedua adalah pneumotoraks spontan sekunder. Kondisi ini muncul sebagai akibat dari komplikasi penyakit paru menahun seperti tuberkulosis paru, asma, atau PPOK.
Terakhir, terdapat pneumotoraks traumatik yang timbul karena adanya cedera pada dinding dada. Selain itu, prosedur medis invasif juga dapat memicu varian iatrogenik dari jenis ini (Light, 2018; Sudoyo et al., 2019).
3. Patofisiologi Pneumotoraks
Mekanisme Kerusakan Pleura
Secara fisiologis, rongga dada mempertahankan tekanan negatif untuk menjaga paru tetap mengembang. Namun demikian, adanya robekan pada lapisan pleura menyebabkan udara luar masuk dengan cepat ke dalam kavum pleura tersebut.
Akibatnya, hilangnya tekanan negatif ini memaksa jaringan paru menjadi mengempis secara progresif. Oleh karena itu, pasien akan mengalami penurunan volume paru yang drastis (Grippi et al., 2020).
Dampak Mekanisme Katup
Sementara itu, kondisi dapat menjadi lebih berbahaya pada kasus tension pneumothorax. Hal ini terjadi karena terbentuknya mekanisme katup satu arah pada robekan pleura.
Dampaknya, udara terus terperangkap di dalam rongga dada tanpa bisa keluar. Akibat dari akumulasi tersebut, jantung dan pembuluh darah besar akan tertekan sehingga memicu syok (Broaddus et al., 2021).
4. Penyimpangan KDM Pneumotoraks
Skema Alur Masalah
Pecahnya Bula / Trauma Dada / Tindakan Iatrogenik
│
▼
Robekan Pleura Viseral / Parietal
│
▼
Udara Masuk ke Rongga Pleura
│
▼
Hilangnya Tekanan Negatif Intrapleura
│
▼
PNEUMOTORAKS
│
┌─────────────┴─────────────┐
▼ ▼
Paru Kolaps Tekanan Intrapleura ↑
│ (Tension Pneumothorax)
├───────────────────────────┤
▼ ▼
Ekspansi Paru ↓ Pendorong Mediastinum ke Sehat
│ │
Sesak Napas ▼
│ Kompresi Pembuluh Darah Jantung
▼ │
Pola Napas Tidak Efektif ▼
Venous Return ↓
│
▼
Curah Jantung ↓
(Somantri, 2019; PDPI, 2021)
5. Manifestasi Klinis Pneumotoraks
Data Subjektif Pasien
Berkenaan dengan aspek klinis, pasien biasanya mengeluhkan gejala spesifik secara mendadak. Selain itu, keluhan utama yang paling sering muncul adalah nyeri dada unilateral yang tajam. Kemudian, pasien juga mengeluhkan sesak napas berat yang muncul tiba-tiba. Selain itu, mereka sering kali merasa cemas dan merasakan jantung berdebar kencang (MacDuff et al., 2020).
Data Objektif Klinis
Secara objektif, pemeriksaan fisik akan menunjukkan tanda-tanda penurunan fungsi ventilasi. Sebagai contoh, frekuensi napas pasien akan meningkat secara drastis atau mengalami takipnea.
Lebih lanjut, gerakan dinding dada tampak asimetris saat inspirasi. Hasil perkusi pada area yang sakit menunjukkan bunyi hipersonor, sedangkan suara napas vesikuler terdengar menurun atau menghilang (Sudoyo et al., 2019).
6. Pemeriksaan Penunjang Pneumotoraks
Pemeriksaan Radiologi Utama
Untuk menegakkan diagnosis, pemeriksaan radiologi memegang peranan yang sangat penting. Langkah awal yang paling sering adalah foto toraks posisi tegak. Melalui rontgen tersebut, area lusen avaskular akan terlihat dengan jelas pada tepi paru. Seiring dengan itu, CT scan dada dapat dilakukan untuk mendeteksi bula kecil (Light, 2018).
Pemeriksaan Laboratorium Gas Darah
Selain pencitraan, pemeriksaan laboratorium juga bisa untuk memantau status oksigenasi. Melalui analisis gas darah, dokter dapat menilai tingkat keparahan hipoksia. Biasanya, nilai tekanan parsial oksigen akan mengalami penurunan yang signifikan. Sebaliknya, kadar karbon dioksida dapat meningkat jika kondisi kolaps sudah meluas (Lin et al., 2021).
7. Penatalaksanaan Medis Pneumotoraks
Terapi Farmakologis Awal
Mengenai tata laksana, pemberian terapi farmakologis bertujuan untuk menstabilkan kondisi umum pasien. Oleh karena itu, pemberian oksigen aliran tinggi langsung diindikasikan.
Selain itu, pemberian obat analgetik guna mengurangi nyeri dada hebat. Tindakan ini penting agar pasien dapat melakukan ekspansi dada tanpa hambatan nyeri (Choi et al., 2022).
Tindakan Invasif Non-Farmakologis
Selanjutnya, terapi non-farmakologis berfokus pada upaya pengeluaran udara dari rongga pleura. Pada kasus darurat, tindakan dekompresi jarum harus segera dilakukan.
Setelah kondisi darurat teratasi, pemasangan Water Seal Drainage atau WSD menjadi pilihan utama. Alat ini berfungsi mengalirkan udara secara kontinu agar paru kembali mengembang (PDPI, 2021).
B. Konsep Asuhan Keperawatan Pneumotoraks
1. Pengkajian Keperawatan
Riwayat dan Identitas
Pada tahap awal asuhan, perawat harus mengumpulkan data identitas dan riwayat Kesehatan secara cermat. Proses ini diawali dengan mengeksplorasi kronologi munculnya sesak napas.
Berikutnya, perawat perlu mengidentifikasi adanya faktor risiko seperti kebiasaan merokok. Riwayat penyakit paru menahun sebelumnya juga harus mempertanyakan secara mendetail (Somantri, 2019).
Pemeriksaan Fisik Respirasi
Pemeriksaan fisik difokuskan pada evaluasi fungsional sistem respirasi secara komprehensif.
Pada tahap inspeksi, perawat mengamati adanya ketertinggalan gerak dada yang sakit.
Selanjutnya, melalui palpasi, penurunan taktil fremitus akan teraba di sisi kolaps. Melalui perkusi ditemukan bunyi hipersonor, lalu auskultasi memastikan hilangnya suara napas (Somantri, 2019).
Pemeriksaan Sistem Tubuh Lain
Di samping sistem pernapasan, pengkajian sistem kardiovaskular juga tidak boleh diabaikan.
Perawat harus memonitor munculnya tanda takikardia dan penurunan tekanan darah secara berkala.
Sementara itu, pada sistem persarafan, tingkat kesadaran dipantau untuk mendeteksi tanda
hipoksia serebral. Pengkajian pola fungsi kesehatan Gordon digunakan untuk melengkapi data (Broaddus et al., 2021).
2. Diagnosis Keperawatan Prioritas 1-5
Kode D.0005 Hingga D.0142
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) berhubungan dengan hambatan upaya napas (nyeri, ekspansi paru menurun akibat akumulasi udara).
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (paru kolaps).
- Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisik (trauma dada, robekan pleura, insersi selang WSD).
- Risiko Penurunan Curah Jantung (D.0011) dibuktikan dengan penurunan arus balik vena (venous return) sekunder akibat peningkatan tekanan intratoraks.
- Risiko Infeksi (D.0142) dibuktikan dengan faktor risiko prosedur invasif (pemasangan selang dada/WSD).
3. Diagnosis Keperawatan Prioritas 6-10
Kode D.0056 Hingga D.0111
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan ancaman terhadap kematian (kesulitan bernapas).
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) berhubungan dengan hambatan lingkungan, nyeri, dan sesak napas.
- Risiko Cedera (D.0136) dibuktikan dengan faktor risiko malfungsi/terlepasnya selang WSD.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai perawatan pasca pneumotoraks dan pencegahan kekambuhan. (PPNI, 2017)
4. Perencanaan Intervensi 1-3
Intervensi Pola Napas (D.0005)
- Luaran: Pola Napas Membaik (L.01004) dengan kriteria hasil: Penggunaan otot bantu napas menurun, frekuensi napas membaik (16-20 x/menit), kedalaman napas membaik.
- SIKI: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas.
- Palpasi kesimetrisan ekspansi paru.
- Auskultasi suara napas, catat area penurunan/kehilangan vesikuler.
- SIKI: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler.
- Berikan oksigenasi sesuai program medis.
Intervensi Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003) dengan kriteria hasil: Dispnea menurun, PCO2 membaik (35-45 mmHg), PO2 membaik (80-100 mmHg).
- SIKI: Terapi Oksigen (I.01026)
- Monitor kecepatan aliran oksigen dan alat penghantar secara berkala.
- Monitor integritas mukosa hidung akibat aliran oksigen konsentrasi tinggi.
- Kolaborasi penentuan dosis oksigen dan pemeriksaan analisa gas darah.
Intervensi Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066) dengan kriteria hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun.
- SIKI: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri dada.
- Identifikasi skala nyeri menggunakan instrumen pengukur yang valid (skala 0-10).
- Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri (relaksasi napas dalam lambat).
- Kolaborasi pemberian analgetik dosis adekuat.
5. Perencanaan Intervensi 4-6
Intervensi Curah Jantung (D.0011)
- Luaran: Curah Jantung Meningkat (L.02008) dengan kriteria hasil: Tekanan darah membaik, takikardia menurun, CRT < 2 detik.
- SIKI: Perawatan Jantung (I.02075)
- Monitor tekanan darah, nadi, dan status hemodinamik secara ketat.
- Monitor adanya tanda syok obstruktif (JVP meningkat, trakea bergeser).
- Kolaborasi tindakan dekompresi jarum segera jika indikasi tension terpenuhi.
Intervensi Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137) dengan kriteria hasil: Kemerahan menurun, demam menurun, tidak ada cairan purulen pada luka WSD.
- SIKI: Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Monitor tanda dan gejala infeksi lokal pada area insersi selang dada.
- Pertahankan teknik aseptik yang ketat saat melakukan perawatan luka WSD.
- Kolaborasi pemberian terapi antibiotik profilaksis sesuai indikasi medis.
Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil: Keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun.
- SIKI: Manajemen Energi (I.05178)
- Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan ekstrem.
- Sediakan lingkungan yang tenang dan batasi jumlah pengunjung pasien.
- Anjurkan tirah baring total selama fase akut kolaps paru.
6. Perencanaan Intervensi 7-10
Intervensi Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun.
- SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Pahami situasi yang membuat pasien merasa takut atau cemas.
- Temani pasien untuk memberikan rasa aman selama fase sesak napas akut.
- Jelaskan semua prosedur tindakan medis dan keperawatan secara sederhana.
Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur Membaik (L.05045) dengan kriteria hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun.
- SIKI: Dukungan Tidur (I.05174)
- Identifikasi faktor pengganggu tidur (nyeri dada atau posisi selang).
- Modifikasi lingkungan fisik ruang rawat (atur pencahayaan dan minimalkan kebisingan).
Intervensi Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran: Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan kriteria hasil: Malfungsi alat tidak terjadi, keutuhan sistem drainase dada terjaga.
- SIKI: Manajemen Perawatan WSD (I.01015)
- Monitor kebocoran udara pada sistem drainase (amati undulasi cairan).
- Pastikan botol WSD selalu berada lebih rendah dari dada pasien (minimal 60 cm).
- Amankan sambungan selang dada dengan plaster kuat berbentuk siksak.
Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) dengan kriteria hasil: Pemahaman tentang penyakit meningkat, pertanyaan menurun.
- SIKI: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Sediakan materi edukasi tertulis mengenai perawatan mandiri pasca pneumotoraks.
- Ajarkan pasien untuk menghindari aktivitas mengejan berlebih dan batuk terlalu keras.
- Jelaskan tanda kekambuhan awal yang memerlukan penanganan medis segera.
7. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan
Pelaksanaan Tindakan Lapangan
Seluruh rencana tindakan diaplikasikan secara sistematis sesuai kondisi klinis pasien. Perawat memprioritaskan pemulihan ekspansi paru dengan mengatur posisi semi-fowler tinggi.
Di samping itu, evaluasi berkala terhadap fungsi hisap botol WSD dikerjakan secara kontinu. Kesterilan balutan luka insersi selang dada jika diperlukan dijaga dengan penggantian berkala (PPNI, 2018).
Penilaian Hasil Asuhan
Pada tahap akhir, perawat melakukan penilaian pencapaian luaran keperawatan menggunakan format evaluasi SOAP. Kriteria keberhasilan diukur berdasarkan hilangnya keluhan dispnea.
Lebih lanjut, parameter objektif ditandai dengan frekuensi pernapasan yang stabil. Setelah paru terkonfirmasi re-ekspansi penuh melalui rontgen, intervensi dapat dihentikan (Somantri, 2019).
DAFTAR PUSTAKA
Alsagaff, H. & Mukty, A. (2018). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga University Press.
Broaddus, V. C. et al. (2021). Murray and Nadel’s Textbook of Respiratory Medicine (7th ed.). Philadelphia: Elsevier.
Chan, J. W., Lee, T. W., & Tsang, M. Y. (2020). Management of Spontaneous Pneumothorax. Journal of Thoracic Disease
Choi, W. I., Kim, S. H., & Lee, S. Y. (2022). Clinical Practice Guidelines for Pneumothorax. Korean Journal of Internal Medicine
Grippi, M. A. et al. (2020). Fishman’s Pulmonary Diseases and Disorders (6th ed.). New York: McGraw-Hill.
Kondo, R., Yoshida, K., & Kobayashi, T. (2019). Surgical Treatment for Spontaneous Pneumothorax. General Thoracic and Cardiovascular Surgery
Light, R. W. (2018). Pleural Diseases (7th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Lin, Y. C., Chen, K. C., & Huang, P. M. (2021). Efficacy of VATS for Primary Spontaneous Pneumothorax. Formosan Journal of Surgery
MacDuff, A., Arnold, A., & Harvey, J. (2020). BTS Guideline for Spontaneous Pneumothorax. Thorax
Noppen, M. (2022). Spontaneous Pneumothorax: Epidemiology and Pathophysiology. European Respiratory Review
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia [PDPI]. (2021). Panduan Praktik Klinis: Pneumotoraks. Jakarta: PDPI.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPW PPNI DKI Jakarta.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPW PPNI DKI Jakarta.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPW PPNI DKI Jakarta.
Somantri, I. (2019). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan (Edisi 3). Jakarta: Salemba Medika.

Tinggalkan Balasan