Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan gangguan pernapasan progresif yang ditandai keterbatasan aliran udara persisten akibat peradangan kronis pada saluran napas dan paru-paru karena paparan partikel atau gas berbahaya. (GOLD, 2024)


A. KONSEP MEDIS PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK)

1. Tinjauan Istilah dan Definisi

Definisi Dari Pakar Internasional

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD, 2024). merumuskan PPOK sebagai keadaan paru heterogen yang bercirikan gejala pernapasan kronis akibat kelainan saluran napas dan/atau alveolus yang menyebabkan obstruksi aliran udara persisten dan progresif.

Selanjutnya, World Health Organization (WHO, 2023) menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan kondisi paru umum yang membatasi aliran udara sehingga menyebabkan kesulitan bernapas dan bersifat mengancam jiwa jika pasien tidak mendapatkan penanganan adekuat.

Sementara itu, American Thoracic Society (ATS, 2022) menegaskan bahwa penyakit pernapasan ini memicu karakteristik retensi udara kronis dan penurunan fungsi paru secara bertahap yang timbul akibat respons inflamasi abnormal di parenkim paru.

Lalu, European Respiratory Society (ERS, 2021) mengklasifikasikan gangguan ini sebagai sindrom klinis yang memadukan bronkitis kronis dan emfisema sehingga mengakibatkan penyempitan saluran napas yang tidak sepenuhnya reversibel.

Akhirnya, Mayo Clinic (2023) mendefinisikan penyakit ini sebagai kelompok penyakit paru inflamasi kronis yang menghalangi aliran udara dari paru-paru, di mana emfisema dan bronkitis kronis menjadi dua kondisi paling umum yang membentuk penyakit tersebut.

Definisi Pakar Asia

Asian Pacific Society of Respirology (APSR, 2023) mengidentifikasi PPOK sebagai beban penyakit respirasi utama di kawasan Asia-Pasifik yang ditandai oleh keterbatasan ventilasi paru akibat interaksi kompleks antara faktor genetik dan polusi lingkungan sekitar.

Lalu, Chinese Thoracic Society (CTS, 2021) menjabarkan gangguan kronis ini sebagai penyakit sistem pernapasan yang kerap menyerang usia lanjut dengan manifestasi batuk produktif berkepanjangan serta sesak napas yang memburuk saat beraktivitas.

Sejalan dengan hal tersebut, Japanese Respiratory Society (JRS, 2022) menetapkan penyakit ini sebagai kondisi obstruksi jalan napas progresif yang berkaitan erat dengan riwayat merokok jangka panjang, di mana kerusakan struktural bronkiolus mendominasi patologi pasien Asia.

Lebih lanjut, Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases (KATRD, 2023). merumuskan PPOK sebagai penyakit paru kronis yang dapat dicegah dan diobati, dengan ciri khas hambatan aliran udara yang tidak pulih sempurna setelah pemberian bronkodilator.

Oleh karena itu, Indian Chest Society (ICS, 2022). Mengartikan kelainan ini sebagai penyakit paru obstruksi akibat tingginya paparan asap biomassa di dapur non-ventilasi dan polusi udara perkotaan yang memicu destruksi jaringan parenkim paru secara masif.

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI, 2023) menyatakan bahwa PPOK adalah penyakit kronik pada saluran napas dan paru yang ditandai oleh hambatan aliran udara yang bersifat progresif non-reversibel atau reversibel sebagian, serta berhubungan dengan respons inflamasi kronik terhadap partikel atau gas berbahaya.

Bahkan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2022) menetapkan gangguan respirasi ini sebagai penyakit tidak menular kronis yang memerlukan penatalaksanaan jangka panjang karena menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas hidup penderita secara signifikan.

Selain itu, Sudoyo dkk. (Ilmu Penyakit Dalam, 2021) memaparkan penyakit ini sebagai kombinasi klinis antara bronkitis kronis yang menyumbat jalan napas dan emfisema yang merusak dinding alveolus sehingga mengganggu proses pertukaran gas normal.

Meskipun demikian, Alsagaff dan Mukty (2020) menjelaskan bahwa kondisi patologis ini melibatkan penyempitan lumen saluran napas secara anatomis akibat hipertrofi kelenjar mukus dan infiltrasi sel-sel radang yang merusak elastisitas paru.

Akhirnya, Somantri (2019) mengategorikan PPOK sebagai keadaan konstan dari keterbatasan aliran udara yang menyebabkan bronkitis kronis atau emfisema, obstruksi tersebut umumnya bersifat progresif dan melibatkan hiperresponsif saluran napas.

2. Sumber dan Faktor Penyebab

Faktor Risiko Utama

Faktor penyebab dan risiko patologi ini terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu faktor lingkungan dan faktor pejamu (host). Oleh karena itu, paparan asap rokem menjadi penyebab utama (80-90% kasus), termasuk perokok aktif maupun perokok pasif. Selanjutnya, polusi udara meliputi polusi ruangan seperti asap masakan dari bahan bakar biomassa atau kayu bakar dan polusi luar ruangan berupa asap kendaraan serta debu jalanan. (GOLD, 2024; PDPI, 2023)

Faktor Pajanan Lingkungan dan Genetik

Sementara itu, pajanan tempat kerja seperti debu industri, zat kimia, gas, dan uap organik yang terhirup dalam jangka panjang turut berkontribusi besar. Selanjutnya, defisiensi Alfa-1 Antitrypsin (AAT) merupakan kelainan genetik langka tubuh kekurangan protein pelindung paru, sehingga jaringan paru rentan terjadi kerusakan oleh enzim elastase. Akibatnya, hiperresponsif saluran napas atau riwayat asma serta riwayat infeksi saluran napas berulang pada masa kanak-kanak dapat mengganggu perkembangan paru normal. (Pahal dkk., 2023; PDPI, 2023)


3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Mekanisme Kerusakan Saluran Napas

Inhalasi partikel berbahaya memicu respons inflamasi kronis pada seluruh saluran napas, parenkim paru, dan pembuluh darah pulmonal. Kemudian, makrofag, limfosit T (CD8+), dan neutrofil melepaskan mediator inflamasi seperti leukotrien B4, interleukin-8, dan TNF-alfa. Akibatnya, mediator ini merangsang hipertrofi kelenjar mukus dan hiperplasia sel piala (goblet) sehingga menyebabkan hipersekresi sputum kental pada kasus bronkitis kronis. (Pahal dkk., 2023; PDPI, 2023)

Proses Emfisema dan Hambatan Udara

Secara bersamaan, terjadi ketidakseimbangan antara enzim protease dan antiprotease, serta peningkatan stres oksidatif. Lalu, enzim elastase merusak elastin pada dinding alveolus yang menyebabkan destruksi septa alveolar dan kolapsnya saluran napas kecil saat ekspirasi. Oleh karena itu, kerusakan ini menurunkan luas permukaan membran alveoli-kapiler dan mengurangi kelenturan recoil elastis paru. Akhirnya, udara terperangkap masuk kedalam paru (air trapping) saat ekspirasi dan memicu hiperinflasi paru yang mengganggu pertukaran gas O2​ dan CO2​. (Pahal dkk., 2023; PDPI, 2023)

Penyimpangan KDM (Pathway)

Asap rokok, polusi, zat kimia, defisiensi Alfa-1 Antitrypsin

                               |

       Masuk ke saluran pernapasan & mengiritasi jalan napas

                               |

       ————————————————-

      |                                                 |

Hipertrofi kelenjar mukus &                      Kerusakan dinding alveolus &

Hiperplasia sel goblet                           Penurunan recoil elastis paru

      |                                                 |

Hipersekresi sputum (Berdahak)                   Kolaps saluran napas kecil saat ekspirasi

      |                                                 |

Sputum kental & sulit dikeluarkan                Udara terperangkap di alveolus (Air trapping)

      |                                                 |

Penyumbatan jalan napas                          Hiperinflasi paru (Barrel Chest)

      |                                                 |

——————————-                  ——————————-

| Bersihan Jalan Napas Tidak  |                  | Pola Napas Tidak Efektif    |

| Efektif (D.0001)            |                  | (D.0005)                    |

——————————-                  ——————————-

                                                                |

                                                 Gangguan difusi gas di membran alveoli

                                                                |

                                                 Hipoksia ($O_2$ turun) & Hiperkapnia ($CO_2$ naik)

                                                                |

                                                 ——————————-

                                                 | Gangguan Pertukaran Gas     |

                                                 | (D.0003)                    |

                                                 ——————————-

                                                                |

                                                Metabolisme anaerob meningkat

                                                                |

                                                Asam laktat naik -> Kelemahan otot

                                                                |

                                                 ——————————-

                                                 | Intoleransi Aktivitas       |

                                                 | (D.0056)                    |

                                                 ——————————-

(Smeltzer & Bare, 2020; Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)


4. Gejala dan Tanda Klinis PPOK

a. Data Subjektif

Pasien mengeluhkan sesak napas (dyspnea) yang bersifat progresif, memburuk dengan aktivitas, dan menetap. Selanjutnya, pasien mengeluhkan batuk kronis yang sudah berlangsung lebih dari 3 bulan dalam setahun untuk 2 tahun berturut-turut. Sementara itu, pasien seringkali mengeluhkan kesulitan dalam mengeluarkan produksi sputum (dahak), biasanya berwarna putih atau mukoid. Lalu, pasien mengeluhkan cepat lelah, lemas, dan tidak bertenaga saat melakukan aktivitas sehari-hari (fatigue). Akhirnya, pasien menyatakan nafsu makan menurun (anoreksia) serta penurunan berat badan. (GOLD, 2024; Doenges dkk., 2022)

b. Data Objektif

Secara klinis, frekuensi napas meningkat (Takipnea > 20 x/menit). Selain itu, terdapat penggunaan otot bantu napas serta fase ekspirasi memanjang (prolonged expiration). Kemudian, tampak pula bernapas dengan bibir mencucu (pursed-lip breathing). Terlebih lagi, bentuk dada cembung berdiameter anteroposterior yang membesar (barrel chest). Lalu, terdapatnya suara napas tambahan berupa Ronchi basah/kering atau Wheezing (mengi) saat ekspirasi. Akhirnya, sianosis pada kuku atau sirkumoral muncul pada kondisi hipoksia berat serta penurunan saturasi oksigen (SpO2​ < 94%). (Brunner & Suddarth, 2021; Bickley, 2021)


5. Pemeriksaan Penunjang

Tinjauan Laboratorium dan Radiologi

Pada pemeriksaan laboratorium, Analisa Gas Darah (AGD) menunjukkan hipoksemia (PaO2​ < 60 mmHg), hiperkapnia (PaCO2​ > 45 mmHg), dan asidosis respiratorik. Sementara itu, pemeriksaan darah rutin menemukan Polisitemia sekunder (Hematokrit > 50%) sebagai kompensasi tubuh terhadap hipoksia kronis. Selanjutnya, foto thorax (Rontgen) menunjukkan tanda-tanda hiperinflasi paru berupa diafragma letak rendah dan mendatar, ruang retrosternal melebar, corakan bronkovaskular bertambah, atau hiperlusen avaskular dengan jantung pendulum. Sementara itu, CT-Scan Thorax (High-Resolution CT) mengidentifikasi tipe emfisema secara spesifik dan mendeteksi adanya bulla paru. (Pahal dkk., 2023; PDPI, 2023)

Pemeriksaan Fungsi Paru dan Diagnostik Lain

Oleh karena itu, Spirometri menjadi Gold Standard untuk menilai derajat obstruksi secara objektif. Hasilnya positif jika rasio FEV1​/FVC<0,70 setelah pemberian bronkodilator (post-bronchodilator). Selanjutnya, oksimetri nadi untuk memantau saturasi oksigen (SpO2​) secara non-invasif berkala. Akhirnya, Elektrokardiografi (EKG) menunjukkan tanda P-pulmonale di sadapan II, III, aVF dan Right Ventricular Hypertrophy (RVH) akibat komplikasi Cor Pulmonale. (GOLD, 2024; Smeltzer & Bare, 2020)


6. Modalitas Penatalaksanaan Medis

Terapi Farmakologis Utama

Bronkodilator merupakan terapi utama untuk merenggangkan otot polos jalan napas. Terapi ini meliputi Short-Acting Beta-2 Agonist (SABA) contohnya Salbutamol, dan Short-Acting Muscarinic Antagonist (SAMA) contohnya Ipratropium Bromida untuk mengatasi gejala akut. Selanjutnya, Long-Acting Beta-2 Agonist (LABA) contohnya Salmeterol/Formoterol, dan Long-Acting Muscarinic Antagonist (LAMA) contohnya bisa juga menggunakan Tiotropium Bromida sebagai terapi pemeliharaan jangka panjang. Akhirnya, pemberian Kortikosteroid dalam bentuk inhalasi (Inhaled Corticosteroid / ICS) seperti Fluticasone atau Budesonide untuk mengurangi inflamasi jalan napas. (GOLD, 2024; PDPI, 2023)

Terapi Farmakologis Tambahan dan Non-Farmakologis

Sementara itu, dapat juga memasukkan Metilsantin seperti Teofilin atau Aminofilin jika terapi utama kurang efektif. Lalu, mukolitik dan ekspektoran seperti N-Asetilsistein atau Erdosteina untuk mengencerkan sputum kental. Selain itu, dapat memberikan antibioti jika terdapat tanda infeksi bakteri. Namun demikian, terapi non-farmakologis meliputi edukasi berhenti merokok, Terapi Oksigen Jangka Panjang (LTOT) minimal 15 jam sehari untuk hipoksemia kronis, Rehabilitasi Paru (latihan fisik dan latihan pernapasan pursed-lip breathing), serta vaksinasi Influenza dan Pneumokokus. (Brunner & Suddarth, 2021; Kemenkes RI, 2022)


B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Proses Pengkajian Keperawatan

Riwayat dan Identitas Pasien

Meliputi nama, umur (biasanya > 40 tahun), jenis kelamin (lebih banyak laki-laki, namun wanita meningkat seiring tren merokok), pekerjaan (terpapar debu/zat kimia), alamat (daerah polusi tinggi). Keluhan utama berupa sesak napas saat aktivitas atau batuk berdahak yang tak kunjung sembuh. Menggali onset sesak, faktor yang memperberat (dingin, aktivitas), warna/konsistensi sputum, dan pengobatan yang sudah diminum. Riwayat asma masa kecil, infeksi paru berulang, atau rawat inap sebelumnya karena keluhan pernapasan. Adanya anggota keluarga dengan riwayat penyakit paru atau defisiensi genetik. Menghitung Riwayat merokok dapat menggunakan Indeks Brinkman. (Somantri, 2019; Doenges dkk., 2022)

Pemeriksaan Fisik (IPPA Semua Sistem)

Sistem Pernapasan (Fokus Utama): 

Inspeksi bentuk dada barrel chest, penggunaan otot bantu napas, takipnea, fase ekspirasi memanjang, pola napas pursed-lip breathing, retraksi interkostal, tampak sianosis sirkumoral. 

Palpasi taktil fremitus teraba menurun/melemah secara simetris akibat hiperinflasi paru, ekspansi dada menurun. 

Perkusi suara perkusi hipersonor di seluruh lapang paru karena retensi udara, batas pekak jantung mengecil. 

Auskultasi suara napas vesikuler melemah, terdengar suara napas tambahan Wheezing (mengi) terutama saat ekspirasi, atau Ronchi basah kasar jika produksi sputum meningkat. (Bickley, 2021; Jarvis, 2020)

Sistem Kardiovaskular: 

Inspeksi tampak pelebaran vena jugularis (JVP meningkat) jika terjadi Cor Pulmonale (gagal jantung kanan). 

Palpasi iktus kordis bergeser ke lateral, takikardia, pulsasi perifer kuat/lemah. Perkusi batas jantung bisa bergeser atau sulit untuk menentukan karena ketutupan paru yang hipersonor.

Auskultasi bunyi jantung S2 mengeras di area pulmonal, gallop atau murmur jika terjadi gagal jantung kanan sekunder. (Bickley, 2021; Jarvis, 2020)

Sistem Pencernaan & Nutrisi: 

Inspeksi pasien tampak kurus, otot-otot wasting (kaheksia paru), porsi makan tidak habis. Abdomen rata atau cembung. 

Auskultasi bising usus normal (5-30 x/menit). Perkusi timpani, bisa ditemukan hepatomegali (pekak hati meluas ke bawah) akibat gagal jantung kanan. Palpasi nyeri tekan (-), teraba pembesaran hati (hepatomegali) bertepi tajam dan kenyal pada fase lanjut. (Bickley, 2021; Jarvis, 2020)

Sistem Integumen & Muskuloskeletal

Inspeksi kulit pucat/sianosis, pengisian kapiler (Capillary Refill Time / CRT) > 3 detik, ditemukan clubbing fingers (jari tabuh) akibat hipoksia kronis. Penurunan massa otot. Palpasi kulit teraba dingin, turgor kulit menurun jika hidrasi kurang, tonus otot melemah.

Sistem Persarafan & Pengindraan: 

Inspeksi penurunan kesadaran (Apatis hingga Somnolen) jika terjadi CO2 Narcosis akibat hiperkapnia berat. Pasien tampak gelisah. (Bickley, 2021; Jarvis, 2020)

Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan (Gordon/11 Pola)

  • Pola Persepsi & Manajemen Kesehatan: Riwayat merokok tetap berlanjut meski sakit, kepatuhan minum obat inhaler kurang. 
  • Pola Nutrisi & Metabolik: Penurunan nafsu makan karena sesak napas saat mengunyah dan menelan makanan, mual akibat produksi sputum tertelan. 
  • Pola Eliminasi: Konstipasi akibat penurunan mobilitas fisik atau mengejan yang memperberat sesak. Pola Aktivitas & Latihan: Mengalami keterbatasan aktivitas mandiri (mandi, berpakaian) akibat sesak napas (Intoleransi Aktivitas). 
  • Pola Istirahat & Tidur: Terganggu karena batuk malam hari atau sesak napas saat posisi berbaring terlentang (orthopnea). (Doenges dkk., 2022)
  • Pola Kognitif & Perseptual: Gelisah, cemas, atau penurunan konsentrasi akibat hipoksia otak. 
  • Pola Persepsi Diri & Konsep Diri: Perasaan putus asa atau gambaran diri negatif karena ketergantungan fisik. 
  • Pola Peran & Hubungan: Keterbatasan dalam menjalankan peran keluarga atau sosial akibat penurunan kapasitas fisik. 
  • Pola Seksualitas & Reproduksi: Penurunan libido atau intoleransi aktivitas saat koitus.
  • Pola Koping & Toleransi Stres: Merasa tidak berdaya dan stres karena penyakit menahun yang tidak bisa sembuh total. 
  • Pola Nilai & Keyakinan: Keterbatasan dalam melakukan ibadah fisik secara normal akibat sesak napas. (Doenges dkk., 2022)

2. Perumusan Diagnosis Keperawatan

Kelompok Diagnosis Fisiologis (Prioritas 1-5)

  1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d. Hipersekresi jalan napas, proses infeksi, disfungsi neuromuskular.
  2. Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi, perubahan membran alveolus-kapiler.
  3. Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d. Hambatan upaya napas (mis. kelelahan otot pernapasan, deformitas dinding dada/hiperinflasi).
  4. Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum.
  5. Defisit Nutrisi (D.0019) b.d. Peningkatan kebutuhan metabolisme (kerja napas meningkat), faktor psikologis (keengganan untuk makan akibat sesak).

Kelompok Diagnosis Psikologis, Perilaku, dan Risiko (Prioritas 6-10)

  1. Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. Hambatan lingkungan (batuk, sesak), kurang kontrol tidur.
  2. Ansietas (D.0080) b.d. Ancaman terhadap konsep diri, krisis situasional (sesak napas akut/takut mati).
  3. Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. Kekeliruan mengikuti instruksi, kurang terpapar informasi mengenai terapi inhaler.
  4. Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d. Krisis situasional, ketidakadekuatan sistem pendukung, penyakit kronis.
  5. Risiko Infeksi (D.0142) d.d. Penyakit kronis (PPOK), penurunan silia saluran napas, supresi imun akibat kortikosteroid. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi PPOK

Intervensi Diagnosis 1-2

Diagnosis 1: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

  • Luaran Utama: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
    • Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat (5), Produksi sputum menurun (5), Mengi/wheezing menurun (5), Ronchi menurun (5), Gelisah menurun (5), Frekuensi napas membaik (5).
  • Intervensi Utama: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
    • Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); Monitor bunyi napas tambahan (ronchi, wheezing); Monitor sputum (jumlah, warna, aroma).
    • Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (jika non-trauma); Posisikan Semi-Fowler atau Fowler; Berikan minum hangat; Lakukan penghisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik jika perlu; Berikan oksigen, jika perlu.
    • Edukasi: Ajarkan teknik batuk efektif.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.

Diagnosis 2: Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)

  • Luaran Utama: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
    • Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat (5), Dispnea menurun (5), Bunyi napas tambahan menurun (5), PCO2​ membaik (5), PO2​ membaik (5), Sianosis membaik (5), Warna kulit membaik (5).
  • Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014)
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi); Monitor kemampuan batuk efektif; Monitor adanya produksi sputum; Monitor adanya sumbatan jalan napas; Palpasi kesimetrisan ekspansi paru; Auskultasi bunyi napas; Monitor saturasi oksigen; Monitor nilai AGD.
    • Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.

Intervensi Diagnosis 3-4

Diagnosis 3: Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)

  • Luaran Utama: Pola Napas Membaik (L.01004)
    • Kriteria Hasil: Ventilasi semenit meningkat (5), Kapasitas vital meningkat (5), Dispnea menurun (5), Penggunaan otot bantu napas menurun (5), Pemanjangan fase ekspirasi menurun (5), Frekuensi napas membaik (5), Kedalaman napas membaik (5).
  • Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014) & Manajemen Jalan Napas (I.01011)
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas; Monitor penggunaan otot bantu pernapasan.
    • Terapeutik: Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru.
    • Edukasi: Ajarkan teknik pernapasan bibir mencucu (pursed-lip breathing) dan pernapasan diafragma.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi oksigen dosis rendah (1-2 L/menit via nasal kanul) dengan pemantauan ketat.

Diagnosis 4: Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Frekuensi nadi membaik saat beraktivitas (5), Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat (5), Dispnea setelah aktivitas menurun (5), Keluhan lelah menurun (5), Kelainan tekanan darah setelah aktivitas menurun (5).
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif; Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan; Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

Intervensi Diagnosis 5-6

Diagnosis 5: Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat (5), Berat badan membaik/IMT membaik (5), Nafsu makan membaik (5), Frekuensi makan membaik (5), Tebal lipatan kulit trikep membaik (5).
  • Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang disukai; Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan; Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (Albumin, Hemoglobin).
    • Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP) dalam porsi kecil tapi sering.
    • Edukasi: Anjurkan posisi duduk saat makan, jika mampu.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.

Diagnosis 6: Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan beraktivitas meningkat (5), Keluhan sulit tidur menurun (5), Keluhan sering terjaga menurun (5), Keluhan tidak segar saat bangun tidur menurun (5), Pola tidur membaik (5).
  • Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis).
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, kebisingan, suhu, tempat tidur); Batasi waktu tidur siang, jika perlu; Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menetapkan jadwal tidur rutin; Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur sebelum tidur (mis. kopi/teh).

Intervensi Diagnosis 7-8

Diagnosis 7: Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun (5), Perilaku gelisah menurun (5), Perilaku tegang menurun (5), Konsentrasi membaik (5), Kontak mata membaik (5).
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. kondisi, waktu, stresor); Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Dengarkan dengan penuh perhatian; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
    • Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien; Ajarkan teknik relaksasi napas dalam / pursed lip breathing saat cemas timbul.

Diagnosis 8: Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
    • Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat (5), Verbalisasi minat dalam belajar meningkat (5), Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat (5), Perilaku keliru menurun (5).
  • Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat.
    • Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
    • Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan; Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat; Demostrasikan cara penggunaan MDI (Metered Dose Inhaler) dengan spacer secara benar.

Intervensi Diagnosis 9-10

Diagnosis 9: Koping Tidak Efektif (D.0096)

  • Luaran Utama: Status Koping Membaik (L.09086)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kemampuan menerima keadaan meningkat (5), Perilaku koping adaptif meningkat (5), Kemampuan membina hubungan meningkat (5), Verbalisasi pengakuan masalah meningkat (5).
  • Intervensi Utama: Promosi Koping (I.09312)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan yang dimiliki; Identifikasi metode koping yang biasa digunakan; Identifikasi pemahaman proses penyakit.
    • Terapeutik: Hargai pemahaman pasien terhadap kondisi sakit; Diskusikan perubahan peran yang dialami; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
    • Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; Anjurkan keluarga terlibat dalam perawatan.

Diagnosis 10: Risiko Infeksi (D.0142)

  • Luaran Utama: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
    • Kriteria Hasil: Demam menurun (5), Kemerahan menurun (5), Sputum purulen/kehijauan menurun (5), Kadar sel darah putih (Leukosit) membaik (5).
  • Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539)
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
    • Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien; Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi.
    • Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; Ajarkan etika batuk yang benar. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

4. Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan Tindakan Klinik

Implementasi keperawatan disesuaikan dengan intervensi yang telah disusun, dilakukan secara sistematis mengacu pada SIKI, dan disesuaikan dengan kondisi riil serta toleransi fisik pasien. Oleh karena itu, perawat mendokumentasikan setiap tindakan beserta respons pasien baik respons subjektif maupun objektif secara berkala. (Doenges dkk., 2022)


5. Evaluasi Keperawatan

Penilaian Hasil Asuhan

Evaluasi keperawatan dilaksanakan secara formatif (berkala) dan sumatif menggunakan format SOAP. Sementara itu, analisis dilakukan dengan menilai tingkat kesembuhan berdasarkan kriteria hasil yang ditetapkan. Akhirnya, perencanaan lanjutan ditentukan untuk memutuskan apakah intervensi dihentikan atau dilanjutkan kembali. (Brunner & Suddarth, 2021)


DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, H. & Mukty, A. (2020). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press.

American Thoracic Society. (2022). Standards for the Diagnosis and Management of Patients with COPD. AJRCCM, 205(3), 14-25.atsjournals.org/doi/abs/10.1164/rccm.202201-0015ST

Asian Pacific Society of Respirology. (2023). Chronic Obstructive Pulmonary Disease Guidelines in the Asia-Pacific Region. Respirology, 28(5), 412-425.onlinelibrary.wiley.com/journal/14401843

Bickley, L. S. (2021). Bates’ Guide to Physical Examination and History Taking (13th ed.). Wolters Kluwer.

Brunner, L. S. & Suddarth, D. S. (2021). Textbook of Medical-Surgical Nursing (15th ed.). Wolters Kluwer.

Chinese Thoracic Society. (2021). Management guidelines for chronic obstructive pulmonary disease in China. CMJ, 134(6), 631-645.journals.lww.com/cmj/pages/default.aspx

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2022). Nurse’s Pocket Guide: Diagnoses, Prioritized Interventions and Rationales (16th ed.). F.A. Davis Company.

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. (2024). Global Strategy for the Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. GOLD.goldcopd.org

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1422/2022 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Penyakit Paru Obstruktif Kronik. Kemenkes RI.kemkes.go.id

Pahal, P., Avula, S., & Sharma, S. (2023). Chronic Obstructive Pulmonary Disease. StatPearls Publishing.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559281/

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2023). PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik): Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. PDPI.klikpdpi.com

Somantri, I. (2019). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan (3rd ed.). Salemba Medika.

Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Dewan Pengurus Pusat PPNI.

Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Dewan Pengurus Pusat PPNI.

Tim Pokja SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Dewan Pengurus Pusat PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *