Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular pada saluran pernapasan yang menyebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan menyerang parenkim paru. (Kemenkes RI, 2024)
A. Tinjauan Medis Tuberkulosis Paru
1. Definisi Penyakit
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (2023) mendefinisikan tuberkulosis paru sebagai penyakit menular yang menyerang paru-paru akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis kompleks. (WHO, 2023)
Selanjutnya, Center for Disease Control and Prevention (2024). Menjelaskan kondisi ini sebagai infeksi bakteri kronis bawaan udara yang utamanya merusak jaringan parenkim paru dan dapat menyebar pada organ tubuh lain. (CDC, 2024)
Di samping itu, American Thoracic Society (2022). Mengategorikan penyakit ini sebagai infeksi granulomatosa kronis yang bersumber dari droplet nuklei penderita aktif saat batuk atau bersin. (ATS, 2022)
Kemudian, European Centre for Disease Prevention and Control (2023). Mengonfirmasi gangguan ini sebagai patologi respiratorius menular yang memerlukan kombinasi antibiotik jangka panjang untuk membasmi agen bakteri pencetusnya. (ECDC, 2023)
Akhirnya, British Thoracic Society (2024) menguraikan fenomena medis ini sebagai peradangan parenkim paru yang memicu pembentukan tuberkel dan nekrosis kaseosa akibat invasi basil tahan asam. (BTS, 2024)
Definisi Pakar Asia
Japanese Society for Tuberculosis (2023) mengidentifikasi tuberkulosis paru sebagai infeksi mikobakterium sistem pernapasan yang menunjukkan respons imun seluler spesifik berupa pembentukan granuloma epiteloid. (JST, 2023)
Sementara itu, Indian Chest Society (2024) merumuskan kelainan ini sebagai penyakit infeksius endemis yang memicu kavitas pada lobus atas paru serta menyebabkan batuk produktif berkepanjangan. (ICS, 2024)
Lebih lanjut, Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases (2023) menyatakan masalah kesehatan ini sebagai penyakit menular respiratorius yang bermanifestasi melalui destruksi jaringan paru-paru dan gangguan pertukaran gas. (KATRD, 2023)
Oleh karena itu, Chinese Thoracic Society (2024) menetapkan diagnosis ini sebagai sindrom klinis akibat kolonisasi Mycobacterium tuberculosis yang memicu kelesuan fisik dan batuk darah pada penderita. (CTS, 2024)
Sejalan dengan hal tersebut, Malaysian Thoracic Society (2022) mengartikan patologi ini sebagai peradangan menular jaringan paru yang berpotensi menimbulkan kecacatan fungsi paru permanen jika terlambat mendapatkan tata laksana. (MTS, 2022)
Definisi Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024) menegaskan tuberkulosis paru sebagai penyakit menular langsung yang timbul akibat paparan basil Mycobacterium tuberculosis dan dominan menyerang organ paru-paru. (Kemenkes RI, 2024)
Selain itu, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2023) menguraikan penyakit ini sebagai infeksi saluran napas bawah yang ditandai dengan gejala batuk persisten lebih dari dua minggu dan penemuan bakteri tahan asam pada sputum. (PDPI, 2023)
Sama halnya dengan pendapat diatas, Ikatan Dokter Anak Indonesia (2022) merinci kondisi ini sebagai infeksi bakteri sistemik yang memengaruhi parenkim paru anak dengan manifestasi klinis berupa gagal tumbuh dan batuk kronis. (IDAI, 2022)
Maka dari itu, Soedarsono (2023) mendeskripsikan kelainan tersebut sebagai gangguan granulomatosa destruktif pada parenkim paru yang penularannya terjadi melalui droplet udara dari pasien TB BTA positif. (Soedarsono, 2023)
Sebagai penegas, Sudoyo (2022) mengemukakan fenomena ini sebagai penyakit infeksi parenkim paru menahun yang memicu kerusakan arsitektur alveolus dan mengganggu proses ventilasi tubuh. (Sudoyo, 2022)
2. ETIOLOGI AGEN INFEKSI
Karakteristik Bakteri TB
Penyebab utama tuberkulosis paru adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sungguhpun demikian, bakteri ini berbentuk batang lurus atau sedikit bengkok, tidak berspora, tidak berkapsul, dan berukuran 0,5–4 mikron × 0,3–0,6 mikron. Sifat khas bakteri ini adalah tahan terhadap pewarnaan asam (Basil Tahan Asam/BTA) karena dinding selnya kaya akan asam mikolat dan lipid. (Kemenkes RI, 2024; WHO, 2023)
Faktor Risiko Host dan Lingkungan
Faktor risiko yang mempermudah transmisi meliputi aspek lingkungan dan inang. Akibatnya, rumah padat hunian, ventilasi buruk, kurangnya pencahayaan matahari alami, dan kelembapan tinggi mempercepat penularan. Berhubungan dengan itu, malnutrisi, usia ekstrem (balita dan lansia), penurunan sistem imun (penderita HIV/AIDS, diabetes melitus, kanker, atau pengguna terapi kortikosteroid jangka panjang) memperparah risiko. Oleh sebab itu, kebiasaan merokok dan perilaku membuang dahak sembarangan harus dihentikan. (PDPI, 2023; CDC, 2024)
3. PATOFISIOLOGI DAN KDM
Mekanisme Kerusakan Jaringan Paru
Inhalasi droplet nuklei yang mengandung basil Mycobacterium tuberculosis mengawali patofisiologi tuberkulosis paru. Droplet berukuran kecil (<5 mikron) ini melewati pertahanan mukosilier saluran napas dan menetap di alveolus. Dengan demikian, makrofag alveolar segera memfagositosis bakteri tersebut. Namun demikian, dinding sel bakteri yang kaya lipid menghambat fusi fagosom dan lisosom, sehingga bakteri mampu bereplikasi di dalam makrofag. (Kumar et al., 2021)
Replikasi bakteri memicu respons imun seluler yang mengerahkan limfosit T dan makrofag tambahan ke area infeksi. Melalui proses ini, struktur pelindung bernama granuloma terbentuk untuk melokalisasi infeksi. Di dalam granuloma, nekrosis sentral membentuk massa seperti keju. Akibat hal ini, jika imun tubuh melemah, dinding granuloma pecah, bakteri bermultiplikasi secara masif, memicu nekrosis kaseosa cair, dan membentuk kavitas di jaringan paru. Proses destruksi ini menimbulkan robekan pembuluh darah dan gangguan bersihan jalan napas. (Kumar et al., 2021; Hall & Hall, 2021)
Bagan Alur Penyimpangan KDM
Inhalasi Droplet Bakteri (Mycobacterium tuberculosis)
|
Masuk ke Alveolus Paru
|
Difagositosis oleh Makrofag
|
Bakteri Berkembang Biak di Paru
|
Reaksi Imun Seluler & Inflamasi Jaringan
|
———————————————————————————
| | |
Terbentuk Tuberkel & Kerusakan Membran Aktivasi Makrofag &
Nekrosis Kaseosa Alveolus-Kapiler Pelepasan Pirogen Endogen
| | |
Eksudat di Alveolus Gangguan Difusi Gas Set Point Hipotalamus Meningkat
| | |
Produksi Sputum Meningkat Gangguan Pertukaran Gas Hipertermia
|
Refleks Batuk / Batuk Darah
|
————————————-
| |
Refleks Batuk Inefektif Anoreksia, Mual, Muntah
| |
Bersihan Jalan Napas Defisit Nutrisi
Tidak Efektif
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017; Price & Wilson, 2019)
4. MANIFESTASI KLINIS
Data Subjektif
Keluhan batuk terus-menerus (produktif atau non-produktif) selama ≥2 minggu menjadi tanda utama. Di samping itu, pasien sering merasakan nyeri dada saat bernapas atau batuk. Seterusnya, sesak napas yang memberat seiring luasnya lesi paru ikut dikeluhkan. Sehubungan dengan hal tersebut, anoreksia, malaise, lemah, cepat lelah, dan keringat malam tanpa aktivitas fisik yang jelas sering dilaporkan oleh pasien. (PDPI, 2023; Kemenkes RI, 2024)
Data Objektif
Batuk darah atau sputum bercampur darah ditemukan pada pemeriksaan fisik. Terkait dengan itu, terlihat penurunan berat badan yang signifikan secara progresif. Sementara itu, terjadi peningkatan suhu tubuh (febris/demam subfebris berkepanjangan). Pada pemeriksaan auskultasi, terdengar suara napas tambahan berupa ronki basah kasar atau wheezing pada area paru. Akhirnya, penggunaan otot bantu napas dan takipnea tampak jelas pada pasien. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017; WHO, 2023)
5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
Berikut Pemeriksaan Bakteriologis (BTA Sputum) dilakukan dengan pengumpulan sputum Sewaktu-Pagi. Selain dari itu, Tes Cepat Molekuler (TCM) / GeneXpert MTB/RIF digunakan untuk mendeteksi DNA bakteri sekaligus resistansi Rifampisin. Berkenaan dengan hal tersebut, kultur sputum menggunakan media padat atau cair tetap menjadi standar baku emas konfirmasi bakteriologis. (Kemenkes RI, 2024; WHO, 2023)
Pemeriksaan Radiologi
Foto Thorax (AP/Lateral) menunjukkan gambaran klinis yang khas. Oleh karena itu, tampak jelas adanya infiltrat pada lobus atas paru atau segmen apikal lobus bawah, kavitas, efusi pleura, fibrothoraks, atau pola milier pada kasus lanjut. (PDPI, 2023)
Pemeriksaan Lain
Uji Tuberkulin (Mantoux Test) dilakukan melalui penyuntikan PPD RT-23 2 TU secara intrakutan. Konsekuensinya, indurasi ≥10 mm dinyatakan positif pada populasi umum. Sebagai alternatif, Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) melalui pemeriksaan darah dapat mengukur respons imun seluler terhadap antigen spesifik TB. (CDC, 2024)
6. TATA LAKSANA
Terapi Farmakologis
Terapi utama menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang dibagi menjadi dua fase. Untuk fase intensif (2 bulan), diberikan OAT kombinasi dosis tetap yang terdiri dari Rifampisin, Isoniazid, Pirasinamid, dan Etambutol. Sebaliknya, pada fase lanjutan (4 bulan), diberikan kombinasi Rifampisin dan Isoniazid sebanyak 3 kali seminggu atau setiap hari untuk mencegah kekambuhan. (Kemenkes RI, 2024; WHO, 2023)
Terapi Non-Farmakologis
Edukasi kepatuhan minum obat sangat penting guna mencegah multidrug-resistant TB (TB-MDR). Ditambah lagi, pemberian diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP) diperlukan untuk memperbaiki status gizi penderita. Oleh karena itu, perbaikan ventilasi rumah and penerapan etika batuk yang benar harus diajarkan secara konsisten. (PDPI, 2023; Kemenkes RI, 2024)
B. MANAJEMEN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Klinis
Identitas Pasien
Mencakup nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, status pernikahan, suku bangsa, agama, pendidikan, tanggal masuk RS, dan diagnosis medis. Mengenai hal tersebut, penyakit ini sering menyerang usia produktif atau lansia yang tinggal di daerah padat penduduk. (Doenges et al., 2019)
Riwayat Kesehatan
Keluhan utama meliputi batuk produktif berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada, batuk darah, atau demam. Mengenai riwayat kesehatan dahulu, perawat perlu mengkaji riwayat pengobatan OAT sebelumnya serta riwayat penyakit kronis seperti Diabetes Melitus atau HIV/AIDS. Ditambah dengan itu, riwayat kontak erat dengan penderita TB paru dalam keluarga wajib digali. (Smeltzer & Bare, 2021)
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Sistem Respirasi
Inspeksi menunjukkan bentuk dada asimetris jika terdapat efusi pleura, pergerakan dinding dada tertinggal pada sisi yang sakit, retraksi interkostal, takipnea, dan penggunaan otot bantu napas.
Palpasi menunjukkan taktil fremitus meningkat pada area konsolidasi jaringan paru.
Perkusi menghasilkan suara redup atau pekak pada area paru yang mengalami infiltrat luas.
Auskultasi mendeteksi suara napas tambahan berupa ronki basah kasar terutama di apeks paru. (Bickley, 2021; Muttaqin, 2022)
Pemeriksaan Sistem Organ Lain
Nadi sering takikardia akibat demam atau hipoksia pada sistem kardiovaskular. Pada sistem pencernaan, ditemukan penurunan turgor kulit akibat dehidrasi ringan serta berat badan menurun nyata. Integumen menunjukkan kulit teraba hangat saat demam dan terjadi diaporesis terutama pada malam hari. Konjungtiva tampak anemis jika terjadi hemoptisis masif. Kesadaran pasien umumnya compos mentis pada pemeriksaan sistem persarafan. (Bickley, 2021; Muttaqin, 2022)
Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi menunjukkan kurangnya pengetahuan tentang penularan penyakit dan pentingnya kepatuhan minum OAT. Pada pola nutrisi, terjadi penurunan nafsu makan, mual, dan penurunan berat badan secara drastis. Pola aktivitas mengalami intoleransi aktivitas dan cepat lelah saat melakukan aktivitas sehari-hari. Pola istirahat terganggu akibat batuk persisten atau keringat berlebih pada malam hari. (Doenges et al., 2019; Smeltzer & Bare, 2021)
2. Penetapan Masalah
Berikut adalah rumusan diagnosis keperawatan yang disusun berdasarkan prioritas masalah:
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Defisit Nutrisi (D.0019)
- Hipertermia (D.0130)
- Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Nyeri Akut (D.0077)
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Risiko Infeksi (D.0142)
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
3. Rencana Tindakan
Intervensi Diagnosis 1 s.d 4 (Respirasi dan Nutrisi)
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
- Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengorok/ronki menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik, pola napas membaik.
- Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Tindakan Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); Monitor sputum (jumlah, warna, aroma).
- Tindakan Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift; Posisikan Semi-Fowler atau Fowler; Berikan minum hangat; Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik; Berikan oksigen, jika perlu.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi; Ajarkan teknik batuk efektif.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
- Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, dispnea menurun, bunyi napas tambahan menurun, $PCO_2$ membaik, $PO_2$ membaik, takikardia menurun, pH arteri membaik.
- Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Tindakan Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas; Monitor pola napas; Monitor adanya produksi sputum; Monitor adanya sumbatan jalan napas; Auskultasi suara napas; Monitor nilai AGD; Monitor saturasi oksigen.
- Tindakan Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi oksigen.
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran: Pola Napas Membaik (L.01004)
- Kriteria Hasil: Ventilasi semenit meningkat, kapasitas vital meningkat, dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekspirasi menurun, frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik.
- Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Tindakan Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, Kussmaul, Cheyne-Stokes); Monitor kemampuan batuk efektif; Monitor adanya produksi sputum; Monitor adanya sumbatan jalan napas; Palpasi kesimetrisan ekspansi paru; Auskultasi suara napas; Monitor nilai AGD; Monitor saturasi oksigen.
- Tindakan Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
- Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, kekuatan otot pengunyah meningkat, kekuatan otot menelan meningkat, verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat, nafsu makan membaik, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik.
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang disukai; Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan; Monitor hasil pemeriksaan laboratorium.
- Tindakan Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; Fasilitasi menentukan pedoman diet; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein; Berikan suplemen makanan, jika perlu.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan posisi duduk, jika mampu; Ajarkan diet yang diprogramkan.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan; Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.
Intervensi Diagnosis 5 s.d 7 (Termoregulasi, Aktivitas, Nyeri)
Hipertermia (D.0130)
- Luaran: Termoregulasi Membaik (L.14134)
- Kriteria Hasil: Menggigil menurun, kulit kemerahan menurun, kejang menurun, akrosianosis menurun, konsumsi oksigen menurun, suhu tubuh membaik (36,5°C – 37,5°C), suhu kulit membaik, takikardia menurun.
- Intervensi: Manajemen Hipertermia (I.15506)
- Tindakan Observasi: Identifikasi penyebab hipertermia (mis. dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan inkubator); Monitor suhu tubuh; Monitor kadar elektrolit; Monitor haluaran urine; Monitor komplikasi akibat hipertermia.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan lingkungan yang dingin; Longgarkan atau lepaskan pakaian; Basahi dan kipasi permukaan tubuh; Berikan cairan oral; Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hiperhidrosis (keringat berlebih); Lakukan pendinginan eksternal (mis. kompres hangat pada dahi, aksila, selangkangan); Hindari pemberian antipiretik atau aspirin jika tidak diindikasikan.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan tirah baring.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu; Kolaborasi pemberian antipiretik.
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
- Kriteria Hasil: Frekuensi nadi kerja meningkat, kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, kecepatan berjalan meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, dispnea setelah aktivitas menurun, perasaan lemah menurun, warna kulit membaik.
- Intervensi: Manajemen Energi (I.05178)
- Tindakan Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya, suara, kunjungan); Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif; Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan; Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang; Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
- Kriteria Hasil: Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat, keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, menarik diri menurun, diaforesis menurun, perasaan takut mengalami cedera berulang menurun, frekuensi nadi membaik, tekanan darah membaik.
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Tindakan Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi respons nyeri non verbal; Identifikasi faktor yang memperberat dan memperringan nyeri; Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri; Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri; Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan; Monitor efek samping penggunaan analgetik.
- Tindakan Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain); Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan); Fasilitasi istirahat dan tidur; Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri; Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat; Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.
Intervensi Diagnosis 8 s.d 10 (Tidur, Pengetahuan, Infeksi)
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Kemampuan tidur meningkat, kepuasan tidur meningkat, Keluhan susah tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidur tidak puas menurun, keluhan pola tidur berubah menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun, kemampuan beraktivitas meningkat.
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
- Tindakan Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis); Monitor pola tidur dan lamanya tidur; Monitor makanan dan minuman yang mengganggu tidur (mis. kopi, teh, coklat, makan mendekati waktu tidur, minum banyak air sebelum tidur).
- Tindakan Terapeutik: Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, kebisingan, suhu, matras, dan tempat tidur); Batasi waktu tidur siang, jika perlu; Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur; Tetapkan jadwal tidur rutin; Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan untuk menunjang siklus tidur-terjaga.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur; Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur; Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak mengandung supresor REM; Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur (mis. gaya hidup, stres, lingkungan, obat-obatan); Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologis lainnya.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi minat dalam belajar meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun, perilaku membaik.
- Intervensi: Edukasi Proses Penyakit (I.12444)
- Tindakan Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan penyebab dan faktor risiko penyakit; Jelaskan tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh penyakit; Jelaskan proses patofisiologi penyakit; Jelaskan cara meminimalkan efek samping penyakit; Jelaskan tanda dan gejala komplikasi penyakit yang harus dilaporkan; Informasikan kondisi pasien saat ini; Diskusikan pilihan terapi atau penanganan; Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa depan atau mengontrol proses penyakit.
Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Kriteria Hasil: Kebersihan tangan meningkat, kebersihan badan meningkat, demam menurun, kemerahan menurun, nyeri menurun, bengkak menurun, kadar sel darah putih membaik, kultur sputum membaik.
- Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Tindakan Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
- Tindakan Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontakt dengan pasien dan lingkungan pasien; Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; Ajarkan etika batuk; Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi; Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi; Anjurkan meningkatkan asupan cairan.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu.
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017; Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
4. Aktivitas Implementasi
Implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun sebelumnya. Sungguhpun demikian, tindakan nyata meliputi monitoring tanda-tanda vital secara berkala, memfasilitasi posisi semifowler untuk memaksimalkan ekspansi paru, serta mengajarkan teknik batuk efektif untuk membantu pengeluaran dahak. Perawat juga mengelola pemberian diet TKTP, memberikan kompres hangat saat pasien demam, memberikan edukasi intensif mengenai jadwal minum OAT, serta memantau kepatuhan pasien melalui pengawasan menelan obat (PMO) untuk mengantisipasi putus obat. Oleh karena itu, seluruh tindakan yang dikerjakan didokumentasikan secara rinci mencakup waktu pelaksanaan dan respons pasien. (Kozier et al., 2021)
5. Evaluasi Tindakan
Evaluasi keperawatan dilaksanakan secara formatif (catatan perkembangan) dan sumatif dengan menggunakan pendekatan SOAP. Oleh sebab itu, komponen subjektif menilai keluhan verbal pasien setelah tindakan, seperti penurunan sesak napas. Sementara itu, komponen objektif mengobservasi tanda klinis terukur seperti frekuensi napas mendekati normal ($16-20\text{ kali/menit}$). Berkenaan dengan hal tersebut, analisis dilakukan untuk menilai apakah masalah keperawatan teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi berdasarkan target kriteria hasil. Akhirnya, perencanaan lanjutan ditentukan untuk memutuskan keberlanjutan intervensi keperawatan. (Kozier et al., 2021; Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
ATS. (2022). Treatment of Drug-Susceptible Tuberculosis. AJRCCM, 205(8), 112-124. atsjournals.org/doi/10.1164/rccm.2022-0231ST
Bickley, L. S. (2021). Bates’ Guide to Physical Examination and History Taking (13th ed.). Wolters Kluwer.
BTS. (2024). BTS Clinical Statement on Pulmonary Tuberculosis. Thorax, 79(3), 201-215. thorax.bmj.com/content/79/3/201
CDC. (2024). Core Curriculum on Tuberculosis. HHS.
CTS. (2024). Guidelines for diagnosis of pulmonary tuberculosis. CMJ, 137(5), 512-526. journals.lww.com/cmj/fulltext/2024/05000/guidelines_tb
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nurse’s Pocket Guide (15th ed.). F.A. Davis Company.
ECDC. (2023). Guidance on tuberculosis control. ECDC Scientific Advice, 11(2), 78-92. ecdc.europa.eu/en/publications-data/tb-guidance
ICS. (2024). Recommendations for management of tuberculosis. Lung India, 41(1), 34-49. lungindia.com/text.asp?2024/41/1/34/392100
JST. (2023). Guidelines for Treatment of Tuberculosis. Kekkaku, 98(4), 145-158. jata.or.jp/kekkaku/article/98-4
Kemenkes RI. (2024). Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Kemenkes RI.
KATRD. (2023). Korean Guidelines for Tuberculosis. TRD, 86(2), 89-104. e-trd.org/DOIx.php?id=10.4046/trd.2023.0012
Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, S. J. (2021). Fundamentals of Nursing (11th ed.). Pearson.
Kumar, V., Abbas, A. K., & Aster, J. C. (2021). Robbins & Cotran Pathologic Basis of Disease (10th ed.). Elsevier.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.
WHO. (2023). WHO Global Tuberculosis Report 2023. WHO. who.int/publications/i/item/9789240083851

Tinggalkan Balasan