Daftar Isi
I. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
Tingkat Syok (L.03032)
Definisi: Ketidakcukupan aliran darah ke jaringan tubuh, yang dapat mengakibatkan disfungsi seluler yang mengancam jiwa.
- Ekspektasi: Menurun
Tabel Kriteria Hasil Luaran Keperawatan
Kriteria Hasil | Menurun (1) | Cukup Menurun (2) | Sedang (3) | Cukup Meningkat (4) | Meningkat (5) |
Kekuatan nadi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Output urine | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Tingkat kesadaran | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Saturasi oksigen | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kriteria Hasil | Meningkat (1) | Cukup Meningkat (2) | Sedang (3) | Cukup Menurun (4) | Menurun (5) |
Akral dingin / Pucat | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Haus / Konfusi / Letargi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Asidosis metabolik | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kriteria Hasil | Memburuk (1) | Cukup Memburuk (2) | Sedang (3) | Cukup Membaik (4) | Membaik (5) |
Mean arterial pressure | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Tekanan darah sistolik / diastolik | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Tekanan nadi / Frekuensi nadi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
II. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Berikut adalah 3 intervensi utama yang dipilih secara spesifik untuk mengintervensi Tingkat Syok (L.03032):
1. Manajemen Syok (I.02048)
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola ketidakmampuan tubuh menyediakan oksigen dan nutrien ke jaringan sirkulasi akibat kegagalan sistemik.
- Observasi (O):
- Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dan kekuatan nadi, tekanan darah, Mean Arterial Pressure [MAP]).
- Monitor status oksigenasi (saturasi oksigen, analisa gas darah untuk menilai adanya asidosis metabolik).
- Monitor status cairan (termasuk output urine setiap jam sebagai indikator perfusi ginjal).
- Monitor tingkat kesadaran dan adanya tanda-tanda penurunan perfusi serebral (seperti konfusi, letargi).
- Terapeutik (T):
- Berikan oksigenasi untuk mempertahankan saturasi oksigen tetap tinggi di atas 94%.
- Pertahankan jalan napas paten dan posisi supinasi dengan kaki ditinggikan (passive leg raising) untuk meningkatkan aliran balik vena.
- Pasang jalur intravena (IV access) jarum besar (ukuran 16G atau 18G) untuk resusitasi cairan cepat.
- Edukasi (E):
- Jelaskan penyebab dan tanda-tanda bahaya syok kepada keluarga agar tetap kooperatif dalam tindakan kritis.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi pemberian infus cairan kristaloid (mis. Ringer Laktat atau NaCl 0,9%) sesuai kebutuhan resusitasi sirkulasi.
- Kolaborasi pemberian obat-obatan vasoaktif (mis. dopamin, norepinefrin) jika tekanan darah tetap rendah setelah resusitasi cairan adekuat.
2. Pemantauan Cairan (I.03121)
Definisi: Mengumpulkan dan menganalisis data untuk memastikan keseimbangan cairan intravaskular dan meminimalkan perburukan klinis syok.
- Observasi (O):
- Monitor berat badan, tekanan darah, frekuensi nadi, serta kekuatan nadi perifer.
- Monitor waktu pengisian kapiler (capillary refill time [CRT]), warna kulit, serta suhu akral (apakah akral dingin/pucat).
- Monitor jumlah dan warna output urine (normal minimal 0,5 mL/kgBB/jam).
- Identifikasi adanya keluhan rasa haus yang ekstrem, konfusi, atau letargi akibat dehidrasi berat dan hipovolemia.
- Terapeutik (T):
- Atur interval waktu pemantauan cairan secara ketat sesuai dengan kondisi kegawatan pasien (mis. tiap 15-60 menit).
- Dokumentasikan hasil pemantauan secara akurat pada lembar observasi khusus sirkulasi.
- Edukasi (E):
- Informasikan hasil pemantauan parameter sirkulasi dan cairan kepada keluarga secara berkala.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi dengan dokter jika hasil pemantauan menunjukkan tanda-tanda penurunan output urine drastis atau MAP kurang dari 65 mmHg untuk penyesuaian terapi.
3. Pemantauan Tanda Vital (I.02060)
Definisi: Mengumpulkan dan menganalisis data komprehensif mengenai fungsi kardiovaskular dan respirasi untuk memantau transisi fase syok.
- Observasi (O):
- Monitor tekanan darah secara berkala (sistolik, diastolik, dan hitung tekanan nadi serta MAP).
- Monitor frekuensi nadi (kecepatan, irama, dan kualitas kekuatan nadi).
- Monitor frekuensi, kedalaman, dan pola pernapasan.
- Monitor suhu tubuh secara berkala.
- Terapeutik (T):
- Atur interval pemantauan tanda vital sesuai kondisi ketidakstabilan hemodinamik pasien.
- Bandingkan hasil pengukuran tanda vital dengan rentang normal klinis serta nilai dasar (baseline) pasien sebelumnya.
- Edukasi (E):
- Ajarkan keluarga mengenali tanda awal perburukan tanda vital (mis. nadi teraba cepat dan lemah, akral menjadi dingin).
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi dengan tim medis untuk segera melaporkan perubahan tanda vital yang signifikan atau mengarah pada kondisi syok ireversibel.
III. Literatur / Referensi
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing, 14th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer. (Referensi keperawatan medikal bedah untuk manajemen kegawatdaruratan sirkulasi, patofisiologi disfungsi seluler pada syok, serta pemantauan MAP).
- Urden, L. D., Stacy, K. M., & Lough, M. E. (2018). Critical Care Nursing: Diagnosis and Management, 8th Edition. St. Louis: Elsevier. (Referensi ilmiah keperawatan kritis untuk penanganan syok kardiogenik, hipovolemik, distributif, serta monitoring hemodinamik ketat).


Tinggalkan Balasan