Daftar Isi
I. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
Tingkat Perdarahan (L.02017)
Definisi: Kehilangan darah baik internal (terjadi di dalam tubuh) maupun eksternal (terjadi hingga keluar tubuh).
- Ekspektasi: Menurun
Tabel Kriteria Hasil Luaran Keperawatan
Kriteria Hasil | Menurun (1) | Cukup Menurun (2) | Sedang (3) | Cukup Meningkat (4) | Meningkat (5) |
Kelembapan membran mukosa | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kelembapan kulit | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kognitif | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kriteria Hasil | Meningkat (1) | Cukup Meningkat (2) | Sedang (3) | Cukup Menurun (4) | Menurun (5) |
Hemoptisis | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Hematemesis / Hematuria | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Perdarahan anus / Vagina | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Distensi abdomen | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kriteria Hasil | Memburuk (1) | Cukup Memburuk (2) | Sedang (3) | Cukup Membaik (4) | Membaik (5) |
Hemoglobin / Hematokrit | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Tekanan darah / Denyut nadi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Suhu tubuh | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
II. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Berikut adalah 3 intervensi utama yang dipilih secara spesifik untuk mengintervensi Tingkat Perdarahan (L.02017):
1. Pencegahan Perdarahan (I.02067)
Definisi: Mengidentifikasi dan menurunkan risiko mengalami kehilangan darah baik internal maupun eksternal.
- Observasi (O):
- Monitor tanda dan gejala perdarahan internal maupun eksternal (mis. hemoptisis, hematemesis, hematuria, perdarahan anus/vagina).
- Monitor nilai laboratorium hematologi secara berkala (terutama kadar hemoglobin, hematokrit, trombosit, dan profil koagulasi).
- Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh) untuk mendeteksi tanda awal syok hipovolemik.
- Terapeutik (T):
- Pertahankan tirah baring (bed rest) selama terjadinya episode perdarahan aktif.
- Batasi tindakan invasif (seperti pungsi vena atau pemasangan kateter) jika tidak mutlak diperlukan untuk mencegah trauma jaringan baru.
- Gunakan sikat gigi berbulu halus dan hindari mengorek hidung guna mencegah perdarahan mukosa minor.
- Hindari pengukuran suhu tubuh secara rektal untuk meminimalkan risiko trauma mukosa anus.
- Edukasi (E):
- Jelaskan tanda dan gejala perdarahan akut kepada pasien maupun keluarga agar dapat segera melapor.
- Anjurkan meningkatkan asupan cairan oral untuk menjaga kelembapan membran mukosa dan kulit.
- Anjurkan menghindari penggunaan obat-obatan pengencer darah tanpa instruksi medis (seperti aspirin atau NSAID).
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi pemberian produk darah (mis. packed red cells [PRC] atau fresh frozen plasma [FFP]) sesuai indikasi klinis jika terjadi penurunan hemoglobin dan hematokrit drastis.
2. Manajemen Perdarahan (I.02040)
Definisi: Mengidentifikasi, mengontrol, dan meminimalkan kehilangan volume darah akut akibat kerusakan vaskular atau organ.
- Observasi (O):
- Identifikasi penyebab dan lokasi perdarahan spesifik (mis. gastrointestinal, respirasi, urogenital, atau luka luar).
- Monitor jumlah, warna, dan kecepatan kehilangan darah secara kontinu.
- Monitor status kognitif dan tingkat kesadaran pasien yang dapat menurun seiring penurunan perfusi serebral akibat kehilangan darah.
- Monitor adanya distensi abdomen yang mengindikasikan akumulasi darah masif secara internal di rongga peritoneum.
- Terapeutik (T):
- Lakukan penekanan langsung (direct pressure) atau balut tekan pada area perdarahan luar eksternal.
- Posisikan pasien supinasi dengan kaki ditinggikan (posisi modified Trendelenburg) untuk memaksimalkan aliran darah ke organ vital jika terjadi hipotensi.
- Pertahankan kepatenan jalan napas secara ketat, terutama pada pasien yang mengalami hemoptisis atau hematemesis masif untuk mencegah aspirasi.
- Edukasi (E):
- Anjurkan pasien untuk segera membatasi aktivitas fisik dan tetap tenang guna menurunkan tekanan darah sistemik yang dapat memperparah perdarahan.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi pemberian obat-obatan hemostatik (mis. asam traneksamat) atau vitamin K melalui jalur intravena sesuai program medis.
3. Manajemen Syok Hipovolemik (I.02050)
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola kegagalan sirkulasi akut akibat kekurangan volume cairan intravaskular yang disebabkan oleh perdarahan hebat.
- Observasi (O):
- Monitor status sirkulasi dan hemodinamik secara ketat (tekanan darah, frekuensi denyut nadi, kualitas nadi perifer, pengisian kapiler).
- Monitor asupan dan haluaran cairan (intake & output) secara akurat setiap jam, termasuk memantau urine output.
- Terapeutik (T):
- Pasang akses intravena perifer dengan diameter besar (ukuran 16G atau 18G) untuk memfasilitasi resusitasi cairan cepat atau transfusi.
- Berikan oksigenasi dosis tinggi melalui non-rebreathing mask (NRM) untuk mempertahankan saturasi oksigen jaringan perifer.
- Edukasi (E):
- Informasikan kepada keluarga mengenai tindakan resusitasi kritis yang sedang dilakukan untuk menjaga stabilitas sirkulasi pasien.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi pemberian cairan kristaloid isotonik (mis. NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) dalam volume besar untuk memulihkan volume intravaskular secepatnya sesuai protokol resusitasi medis.
III. Literatur / Referensi
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing, 14th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer. (Referensi keperawatan medikal bedah untuk prinsip penanganan syok hipovolemik, transfusi darah, dan pemantauan distensi abdomen akibat perdarahan internal).
- Potter, P. A., & Perry, A. G. (2020). Fundamentals of Nursing, 10th Edition. St. Louis: Elsevier. (Referensi dasar keperawatan klinis untuk pemantauan keseimbangan cairan, tanda-tanda otonom sirkulasi, dan kontrol perdarahan mekanis).


Tinggalkan Balasan