Daftar Isi
I. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
Tingkat Cedera (L.14136)
Definisi: Keparahan dari cedera yang diamati atau dilaporkan.
- Ekspektasi: Menurun
Tabel Kriteria Hasil Luaran Keperawatan
Kriteria Hasil | Meningkat (1) | Cukup Meningkat (2) | Sedang (3) | Cukup Menurun (4) | Menurun (5) |
Kejadian cedera | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Luka/lecet | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Ketegangan otot | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Perdarahan | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Ekspresi wajah kesakitan | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
II. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Berikut adalah 3 intervensi utama yang dipilih secara spesifik untuk mengintervensi Tingkat Cedera (L.14136):
1. Pencegahan Cedera (I.14537)
Definisi: Mengidentifikasi dan meminimalkan risiko mengalami bahaya fisik atau kerusakan struktural tubuh tubuh akibat faktor lingkungan atau keterbatasan fungsional.
- Observasi (O):
- Identifikasi faktor risiko lingkungan yang dapat meningkatkan kejadian cedera (mis. lantai licin, pencahayaan kurang, tangga tanpa pengaman).
- Monitor perubahan status kognitif, fisik, atau neuromuskular pasien yang berpotensi memicu ketegangan otot atau jatuh.
- Terapeutik (T):
- Sediakan lingkungan yang aman dan bebas dari bahaya fisik (mis. memasang pengaman tempat tidur/side rails, mengatur tinggi tempat tidur).
- Gunakan alat bantu jalan yang sesuai (mis. kruk, walker, atau kursi roda) untuk menstabilkan mobilisasi.
- Pastikan bel panggilan darurat berada dalam jangkauan pasien yang mengalami keterbatasan fisik.
- Edukasi (E):
- Jelaskan alasan intervensi pencegahan jatuh dan cedera kepada pasien dan keluarga.
- Anjurkan pasien meminta bantuan perawat atau keluarga saat ingin berpindah atau ke kamar mandi.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi dengan tim sarana prasarana rumah sakit untuk memodifikasi lingkungan fisik yang ramah pasien jika diperlukan.
2. Perawatan Luka (I.14564)
Definisi: Mengidentifikasi dan meningkatkan proses penyembuhan jaringan serta mencegah komplikasi pada area kulit yang mengalami kerusakan mekanis.
- Observasi (O):
- Monitor karakteristik luka/lecet (mis. lokasi, luas, kedalaman, adanya jaringan nekrotik, eksudat).
- Monitor tanda-tanda infeksi lokal pada area luka (mis. kemerahan, bengkak, nyeri, panas, atau bau tidak sedap).
- Terapeutik (T):
- Bersihkan luka dengan cairan NaCl 0,9% atau cairan pembersih luka antiseptik yang sesuai secara lembut.
- Lakukan debridemen jaringan nekrotik (necrotomy) jika terdapat jaringan mati yang menghambat penyembuhan.
- Pasang balutan (dressing) yang sesuai dengan kondisi luka (mis. balutan mempertahankan kelembapan/moist wound healing).
- Pertahankan teknik aseptik dan steril selama melakukan penggantian balutan luka untuk mencegah infeksi sekunder.
- Edukasi (E):
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi sekunder pada luka kepada pasien maupun keluarga.
- Ajarkan prosedur perawatan luka secara mandiri kepada keluarga sebelum pasien pulang (discharge planning).
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi pemberian antibiotik topikal atau sistemik serta terapi penunjang sirkulasi sesuai instruksi medis jika luka mengalami infeksi berat atau perlambatan fase penyembuhan.
3. Manajemen Nyeri (I.08238)
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola pengalaman sensorik atau emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
- Observasi (O):
- Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri secara komprehensif.
- Monitor ekspresi wajah kesakitan dan tanda nonverbal ketidaknyamanan lainnya (mis. memegangi area cedera, ketegangan otot).
- Monitor efek samping penggunaan analgetik yang diberikan.
- Terapeutik (T):
- Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. kompres dingin pada cedera akut, kompres hangat pada ketegangan otot, atau teknik relaksasi napas dalam).
- Fasilitasi istirahat dan tidur yang adekuat untuk menurunkan sensitivitas nyeri.
- Kontrol faktor lingkungan yang dapat memperberat nyeri (mis. suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan).
- Edukasi (E):
- Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri akibat cedera yang dialami.
- Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri menggunakan skala nyeri numerik atau visual.
- Ajarkan strategi meredakan ketegangan otot dan nyeri secara mandiri di sela waktu pemberian obat.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi pemberian analgetik atau pelemas otot (muscle relaxant) sesuai dengan dosis dan regimen medis yang ditetapkan.
III. Literatur / Referensi
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing, 14th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer. (Referensi keperawatan medikal bedah untuk prinsip-prinsip penanganan trauma fisik, kontrol perdarahan, manajemen nyeri akut, dan penyembuhan integritas kulit).
- Potter, P. A., & Perry, A. G. (2020). Fundamentals of Nursing, 10th Edition. St. Louis: Elsevier. (Referensi dasar keperawatan klinis untuk keselamatan pasien/patient safety, pencegahan risiko jatuh, dan teknik perawatan luka steril).


Tinggalkan Balasan