Tingkat Berduka (L.09094)

Tingkat Berduka (L.09094)

by

in

I. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

Tingkat Berduka (L.09094)

Definisi: Respons psikososial yang ditunjukkan akibat kehilangan (orang, objek, fungsi, status, bagian tubuh atau hubungan).

  • Ekspektasi: Membaik

Tabel Kriteria Hasil Luaran Keperawatan

Kriteria Hasil
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup Meningkat (4)
Meningkat (5)
Verbalisasi menerima kehilangan
1
2
3
4
5
Verbalisasi harapan
1
2
3
4
5
Verbalisasi perasaan berguna
1
2
3
4
5
Kriteria Hasil
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup Menurun (4)
Menurun (5)
Verbalisasi perasaan sedih
1
2
3
4
5
Verbalisasi perasaan bersalah
1
2
3
4
5
Menangis
1
2
3
4
5
Marah / Panik
1
2
3
4
5

II. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)

Berikut adalah 3 intervensi utama yang dipilih secara spesifik untuk mengintervensi Tingkat Berduka (L.09094):

1. Dukungan Proses Berduka (I.09274)

Definisi: Memfasilitasi penyelesaian proses berduka yang adaptif terhadap kehilangan yang dialami.

  • Observasi (O):
    • Identifikasi kehilangan yang dihadapi (mis. orang terdekat, fungsi tubuh, atau status sosial).
    • Monitor kemajuan proses berduka melalui respons verbal dan nonverbal (mis. intensitas menangis, marah/panik, verbalisasi perasaan bersalah).
    • Identifikasi sifat keterikatan pada benda atau orang yang hilang.
  • Terapeutik (T):
    • Tunjukkan sikap menerima, empati, dan kehadiran yang hangat tanpa menghakimi.
    • Fasilitasi pasien untuk mengekspresikan perasaan sedih dan emosinya secara terbuka.
    • Bantu pasien mengidentifikasi strategi koping adaptif yang pernah berhasil digunakan di masa lalu.
    • Hormati nilai-nilai budaya, agama, dan sosial pasien dalam mengekspresikan rasa dukanya.
  • Edukasi (E):
    • Jelaskan tahapan proses berduka yang normal dan wajar terjadi pada fase awal kehilangan.
    • Anjurkan pasien untuk mulai memverbalisasikan harapan dan rencana masa depan secara bertahap.
  • Kolaborasi (K):
    • Kolaborasi dengan kelompok pendukung (support group) sesama orang yang mengalami kehilangan, jika dirasa perlu.

2. Dukungan Emosional (I.09256)

Definisi: Memfasilitasi penerimaan dan integrasi emosi yang intens akibat krisis situasional atau kehilangan.

  • Observasi (O):
    • Identifikasi fungsi kognitif dan tingkat kecemasan saat pasien mengalami kondisi marah/panik.
    • Monitor verbalisasi perasaan berguna atau tidak berguna yang berpotensi menurunkan harga diri pasien.
  • Terapeutik (T):
    • Sentuh atau peluk pasien secara terapeutik (dengan memperhatikan batas kenyamanan, budaya, dan gender) untuk memberikan rasa aman saat menangis.
    • Batasi tuntutan kognitif pada pasien saat berada dalam kondisi stres emosional yang akut.
    • Dengarkan keluhan dan ungkapan perasaan pasien secara aktif tanpa memotong pembicaraan.
  • Edukasi (E):
    • Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaan bersalah atau kemarahannya secara asertif melalui komunikasi verbal.
    • Ajarkan teknik relaksasi psikologis (seperti latihan napas dalam atau distraksi ringan) untuk meredakan kepanikan.
  • Kolaborasi (K):
    • Kolaborasi rujukan ke psikolog klinis jika pasien menunjukkan tanda-tanda berduka berkepanjangan (complicated grieving).

3. Konseling (I.10121)

Definisi: Menggunakan hubungan interpersonal interaktif untuk memfasilitasi pengembangan koping, kemampuan penyelesaian masalah, dan adaptasi terhadap kenyataan kehilangan.

  • Observasi (O):
    • Identifikasi kemampuan adaptasi pasien terhadap realitas objektif dari kehilangan.
    • Periksa adanya kesenjangan antara verbalisasi menerima kehilangan dengan perilaku nyata pasien sehari-hari.
  • Terapeutik (T):
    • Bina hubungan terapeutik yang berdasarkan rasa saling percaya, keterbukaan, dan rasa aman.
    • Bantu pasien mengidentifikasi kekuatan diri sendiri (personal strength) untuk menumbuhkan kembali perasaan berguna.
    • Fasilitasi pemecahan masalah secara terstruktur mengenai perubahan hidup pasca-kehilangan.
  • Edukasi (E):
    • Anjurkan pasien untuk menilai situasinya secara realistis tanpa menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.
    • Informasikan mengenai sumber daya komunitas yang dapat diakses untuk membantu stabilitas sosial pasien.
  • Kolaborasi (K):
    • Kolaborasi dengan rohaniwan atau konselor spiritual untuk memberikan penguatan batin dan penerimaan berbasis keagamaan.

III. Literatur / Referensi

  1. Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  2. Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  3. Stuart, G. W. (2014). Principles and Practice of Psychiatric Nursing, 10th Edition. St. Louis: Elsevier Mosby. (Referensi keperawatan jiwa internasional untuk teori respons kehilangan Kubler-Ross, penanganan berduka disfungsional, dan intervensi emosional).
  4. Townsend, M. C., & Morgan, K. I. (2018). Pocket Guide to Psychiatric Nursing, 10th Edition. Philadelphia: F.A. Davis Company. (Referensi klinis untuk teknik konseling, fasilitasi proses berduka, serta penanganan kecemasan/panik akibat kehilangan).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *