Daftar Isi
I. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
Termoregulasi Tidak Efektif
Definisi: Kegagalan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal yang disebabkan oleh fluktuasi faktor internal maupun eksternal.
- Luaran Utama: Termoregulasi (L.14134)
- Luaran Tambahan: Adaptasi Neonatus (L.10098), Perfusi Perifer (L.02011), Status Kenyamanan (L.08064), Termoregulasi Neonatus (L.14135), Tingkat Cedera (L.14136)
- Ekspektasi: Membaik
Tabel Kriteria Hasil Luaran Keperawatan (Integratif)
Kriteria Hasil | Meningkat (1) | Cukup Meningkat (2) | Sedang (3) | Cukup Menurun (4) | Menurun (5) |
Menggigil | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kulit merah | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kejang | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Akrosianosis | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Pucat | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Takikardi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kriteria Hasil | Menurun (1) | Cukup Menurun (2) | Sedang (3) | Cukup Meningkat (4) | Meningkat (5) |
Denyut nadi perifer | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Respon terhadap stimulus | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kontak mata (Neonatus) | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kesejahteraan psikologis | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kriteria Hasil | Memburuk (1) | Cukup Memburuk (2) | Sedang (3) | Cukup Membaik (4) | Membaik (5) |
Suhu tubuh | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Suhu kulit | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Pengisian kapiler (CRT) | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kadar glukosa darah | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Pola eliminasi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
II. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Berikut adalah 3 intervensi utama yang berkaitan erat dengan diagnosis Termoregulasi Tidak Efektif:
1. Regulasi Temperatur (I.14578)
Definisi: Mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal untuk mencegah komplikasi sistemik akibat paparan suhu ekstrem atau disfungsi hipotalamus.
- Observasi (O):
- Monitor suhu tubuh pasien secara berkala (tiap 2 jam atau menggunakan temperature probe kontinu pada pasien kritis).
- Monitor warna kulit, kelembapan, dan tanda-tanda stres suhu (mis. akrosianosis, pucat, atau kulit merah).
- Monitor dan catat tanda-tanda vital lainnya (frekuensi nadi/takikardi, pernapasan, tekanan darah).
- Monitor pengisian kapiler (capillary refill time) untuk menilai kualitas perfusi sirkulasi perifer selama fluktuasi suhu.
- Terapeutik (T):
- Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan metabolik pasien (mis. mengatur suhu ruangan atau memanfaatkan mikrolingkungan inkubator).
- Pertahankan kelembapan inkubator di atas 50% untuk mengurangi kehilangan panas secara evaporasi pada kelompok neonatus.
- Hindari meletakkan pasien di dekat sumber dingin atau aliran udara langsung (konveksi) untuk meminimalkan risiko cedera jaringan.
- Edukasi (E):
- Demonstrasikan teknik Perawatan Metode Kangguru (Kangaroo Mother Care) pada orang tua bayi untuk menstabilkan suhu tubuh melalui kontak kulit.
- Informasikan kepada keluarga mengenai pentingnya meminimalkan paparan udara dingin langsung atau penggunaan selimut tebal yang berlebihan.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi spesifik (seperti antipiretik atau antibiotik) jika ketidakstabilan suhu dipicu oleh infeksi sistemik.
2. Manajemen Hipertermia (I.14506)
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal akibat kegagalan regulasi termal tubuh.
- Observasi (O):
- Identifikasi penyebab hipertermia (mis. dehidrasi, terpapar lingkungan panas, infeksi, atau efek samping obat).
- Monitor adanya komplikasi akut akibat hipertermia (mis. kejang demam, takikardi, asidosis metabolik, atau penurunan kesadaran).
- Monitor kadar elektrolit serum dan balans cairan jika dicurigai terjadi dehidrasi.
- Terapeutik (T):
- Sediakan lingkungan yang sejuk, tenang, dan memiliki sirkulasi udara yang optimal untuk mendukung kenyamanan fisik.
- Longgarkan atau lepaskan pakaian pasien yang ketat untuk membantu proses pelepasan panas secara evaporasi dan radiasi.
- Berikan kompres hangat pada area aksila, dahi, dan lipatan paha; hindari penggunaan air es karena dapat memicu vasokonstriksi perifer.
- Edukasi (E):
- Anjurkan tirah baring (bed rest) total untuk menekan laju metabolisme basal yang memproduksi panas tubuh tambahan.
- Ajarkan keluarga cara melakukan hidrasi oral yang aman dan teknik kompres hangat secara mandiri di rumah.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena jika asupan oral pasien tidak adekuat atau ditemukan tanda syok sirkulasi.
3. Manajemen Hipotermia (I.14507)
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola penurunan suhu tubuh di bawah rentang fisiologis normal.
- Observasi (O):
- Identifikasi penyebab hipotermia (mis. paparan suhu lingkungan rendah, pakaian basah, cedera kepala, atau berat badan lahir rendah).
- Monitor gejala klinis akibat hipotermia (mis. tubuh menggigil, akrosianosis, kulit pucat, pengisian kapiler lambat, atau apatis).
- Monitor kadar glukosa darah secara berkala (hipotermia memicu pemakaian glikogen masif yang berisiko menyebabkan hipoglikemia).
- Terapeutik (T):
- Pindahkan pasien ke lingkungan yang lebih hangat dan kering sesegera mungkin.
- Ganti pakaian yang basah atau lembap dengan pakaian yang kering, hangat, dan longgar.
- Lakukan penghangatan pasif (mis. memberikan selimut tebal atau penutup kepala) atau penghangatan aktif eksternal (mis. lampu penghangat atau radiant warmer) sesuai derajat keparahan hipotermia.
- Edukasi (E):
- Jelaskan tanda-tanda awal hipotermia (seperti tubuh menggigil, akral dingin, dan kulit pucat) kepada pasien atau keluarga agar penanganan dini dapat dilakukan.
- Anjurkan konsumsi makanan atau minuman hangat berkalori tinggi jika pasien berada dalam kondisi sadar penuh.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi pemberian cairan intravena yang telah dihangatkan (warmed intravenous fluids) jika terdapat indikasi dehidrasi berat atau hipotermia sistemik yang mengancam sirkulasi.
III. Literatur / Referensi
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing, 14th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer. (Referensi keperawatan medikal bedah untuk prinsip-prinsip homeostasis termal, disfungsi hipotalamus, serta manajemen perfusi sirkulasi perifer).
- Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2018). Wong’s Nursing Care of Infants and Children, 11th Edition. St. Louis: Elsevier. (Referensi klinis pediatrik-neonatus untuk pengelolaan stres dingin/cold stress, adaptasi neonatus, dan patofisiologi kejang demam).


Tinggalkan Balasan