Status Koping Keluarga (L.09088)

Status Koping Keluarga (L.09088)

by

in

Definisi Ilmiah

Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga adalah pola manajemen upaya kognitif dan perilaku anggota keluarga untuk mengatasi beban masalah atau tantangan kesehatan yang memadai untuk kesejahteraan serta dapat ditingkatkan. Fenomena ini melibatkan penguatan resiliensi sistem keluarga melalui optimalisasi sumber daya internal (komunikasi, kohesi) dan eksternal (dukungan sosial) guna mencapai keseimbangan homeostasis psikososial.


Tabel Struktur Luaran Keperawatan (SLKI)

Diagnosis KeperawatanLuaran UtamaLuaran Tambahan
Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga (D.0090)Status Koping Keluarga (L.09088)1. Fungsi Keluarga (L.13123)
2. Ketahanan Keluarga (L.09074)
3. Tingkat Ansietas (L.09093)

Ekspektasi Luaran Utama: Membaik

  • Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi kebutuhan anggota keluarga meningkat, komitmen pada perawatan/pengobatan meningkat, komunikasi antar anggota keluarga meningkat, dan kekhawatiran tentang anggota keluarga menurun.

Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)

Berikut adalah tiga intervensi utama dengan pendekatan tindakan OTEK (Observasi, Terapeutik, Edukasi, Kolaborasi):

1. Dukungan Koping Keluarga (I.09260)

  • Observasi:
    • Identifikasi respons emosional keluarga terhadap kondisi saat ini.
    • Identifikasi pemahaman keluarga terhadap masalah kesehatan yang dihadapi.
    • Identifikasi beban prognosis secara psikologis bagi keluarga.
  • Terapeutik:
    • Dengarkan keluhan, perasaan, dan pertanyaan keluarga dengan empati.
    • Hargai dan dukung mekanisme koping adaptif yang sudah digunakan.
    • Fasilitasi pengungkapan perasaan antara anggota keluarga.
  • Edukasi:
    • Informasikan kemajuan pasien secara berkala.
    • Informasikan fasilitas kesehatan atau bantuan masyarakat yang dapat diakses.
  • Kolaborasi:
    • Rujuk untuk terapi keluarga atau konseling, jika perlu.

2. Promosi Koping (I.09312)

  • Observasi:
    • Identifikasi kapasitas kognitif untuk belajar dan memahami strategi koping.
    • Identifikasi sumber daya yang tersedia dalam keluarga.
  • Terapeutik:
    • Diskusikan perubahan peran yang dialami dalam keluarga.
    • Berikan umpan balik positif terhadap keberhasilan penyelesaian masalah.
    • Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat.
  • Edukasi:
    • Ajarkan keterampilan sosial dan komunikasi yang efektif.
    • Latih teknik relaksasi (mis. napas dalam, imajinasi terbimbing) untuk mengurangi beban emosional.
  • Kolaborasi:
    • (Tidak tersedia secara spesifik dalam kode dasar).

3. Promosi Proses Keluarga (I.13496)

  • Observasi:
    • Identifikasi tipe koping keluarga dan dinamika interaksi.
    • Identifikasi kekuatan dan kelemahan keluarga dalam pengambilan keputusan.
  • Terapeutik:
    • Fasilitasi musyawarah keluarga untuk mendiskusikan masalah kesehatan secara konstruktif.
    • Ciptakan lingkungan yang mendukung privasi dan kenyamanan keluarga.
  • Edukasi:
    • Anjurkan anggota keluarga untuk mempertahankan ritual keluarga (mis. makan bersama, beribadah bersama).
    • Latih keterampilan penyelesaian masalah secara kolektif.
  • Kolaborasi:
    • (Tidak tersedia secara spesifik dalam kode dasar).

Literatur Referensi

  1. PPNI (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  2. PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  3. PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  4. Friedman, M. M., Bowden, V. R., & Jones, E. G. (2010). Family Nursing: Research, Theory, and Practice. Pearson (Sebagai landasan teoritis sosiologi dan kesehatan keluarga).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *