PERILAKU KESEHATAN CENDERUNG BERISIKO (D.0099)

PERILAKU KESEHATAN CENDERUNG BERISIKO (D.0099)

by

in

DIAGNOSA PERILAKU KESEHATAN CENDERUNG BERISIKO (D.0099)

A. DEFINISI 

  1. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Hambatan kemampuan mengubah gaya hidup/perilaku untuk memperbaiki status kesehatan. Definisi ini menjadi acuan utama dalam praktik keperawatan di Indonesia untuk mengidentifikasi individu yang gagal melakukan tindakan pencegahan atau menunjukkan upaya kesehatan yang minimal.
  2. NANDA International Hambatan kemampuan untuk memodifikasi gaya hidup dan/atau perilaku dengan cara yang memperbaiki status kesehatan. NANDA menekankan bahwa diagnosa ini berfokus pada individu yang memiliki pengetahuan tentang risiko kesehatan namun gagal mengintegrasikan pengetahuan tersebut ke dalam tindakan nyata.
  3. Nola J. Pender Ketidakmampuan individu dalam mengadopsi perilaku promosi kesehatan akibat interaksi antara karakteristik personal, pengalaman masa lalu, dan pengaruh situasional. Menurut Pender, perilaku ini muncul ketika persepsi hambatan lebih besar daripada persepsi manfaat yang akan diterima.
  4. Lynda Juall Carpenito Kondisi di mana seorang individu atau kelompok menunjukkan keinginan untuk mengubah perilaku kesehatan namun terhambat oleh faktor-faktor psikososial atau kognitif yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan kesehatan yang optimal.
  5. World Health Organization (WHO) Suatu kegagalan adaptasi perilaku di mana individu tetap mempertahankan pola hidup yang merusak meskipun terdapat bukti risiko medis yang jelas. WHO memandang kondisi ini sebagai hasil dari kegagalan sistem pendukung sosial dan kurangnya literasi kesehatan yang fungsional.

B. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

Berdasarkan analisis patopsikologis dan sosiologis, beberapa faktor yang mendasari munculnya masalah ini meliputi:

  1. Hambatan Kognitif Kurangnya paparan informasi kesehatan yang akurat atau persepsi yang keliru terhadap risiko penyakit secara nyata.
  2. Faktor Psikologis Rendahnya self-efficacy (keyakinan diri) untuk berubah dan adanya stresor berlebihan yang menguras sumber daya koping individu dalam menghadapi tantangan hidup.
  3. Hambatan Sosial dan Ekonomi Ketidakadekuatan dukungan sosial (sistem pendukung) serta status sosio-ekonomi rendah yang membatasi akses terhadap pilihan hidup sehat dan nutrisi yang berkualitas.
  4. Sikap Terhadap Pelayanan Memiliki persepsi atau sikap negatif terhadap penyedia layanan kesehatan yang menghalangi individu untuk mencari bantuan profesional.
  5. Adiksi dan Kebiasaan Pemilihan gaya hidup maladaptif yang telah mengakar kuat dalam keseharian, seperti penggunaan tembakau secara kronis atau konsumsi alkohol secara patologis.

C. MANIFESTASI KLINIS (TANDA DAN GEJALA)

Tanda dan Gejala Mayor

Subjektif:

  • (Tidak tersedia)

Objektif:

  • Kurang menunjukkan perilaku adaptif terhadap perubahan lingkungan.
  • Kurang menunjukkan pemahaman tentang perubahan status kesehatan.
  • Gagal melakukan tindakan pencegahan masalah kesehatan.
  • Menunjukkan upaya kesehatan yang minimal.

Tanda dan Gejala Minor

Subjektif:

  • (Tidak tersedia)

Objektif:

  • Gagal mencapai pengendalian optimal.
  • Masih melakukan perilaku buruk yang merusak kesehatan (mis. merokok, konsumsi alkohol, diet tinggi lemak).
  • Menunjukkan sikap negatif terhadap pelayanan kesehatan.
  • Memiliki riwayat kegagalan dalam mengubah perilaku kesehatan.

D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Intervensi diarahkan untuk mencapai hasil utama: Perilaku Kesehatan Membaik (L.12107)

Indikator keberhasilan meliputi:

  1. Meningkatnya penerimaan terhadap perubahan status kesehatan secara sukarela.
  2. Peningkatan kemampuan dalam melakukan tindakan pencegahan masalah kesehatan secara mandiri.
  3. Peningkatan inisiatif dalam aktivitas peningkatan kesehatan sehari-hari.

E. INTERVENSI STRATEGIS (SIKI)

Pendekatan intervensi difokuskan pada penguatan motivasi dan edukasi melalui dua pilar utama:

  1. Promosi Perilaku Upaya Kesehatan (I.12472)

Observasi: Mengidentifikasi perilaku kesehatan spesifik yang dapat dioptimalkan dan hambatan yang menghalangi perubahan tersebut.

Terapeutik: Menciptakan lingkungan yang mendukung (kondusif) bagi pasien untuk bercerita tanpa merasa dihakimi dan memberikan orientasi fasilitas kesehatan yang relevan.

Edukasi: Melakukan pendidikan kesehatan yang terstruktur, mulai dari kebersihan diri, nutrisi seimbang (sayur dan buah), hingga eliminasi faktor risiko utama.

2. Bimbingan Antisipatif

Membantu pasien mengantisipasi tantangan atau godaan saat proses perubahan gaya hidup berlangsung dan memperkuat mekanisme koping agar tidak kembali ke kebiasaan lama.

F. KONDISI KLINIS TERKAIT 

  1. Penyakit jantung koroner.
  2. Gagal ginjal kronis.
  3. Diabetes melitus.
  4. Hipertensi.
  5. Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK).
  6. Obesitas atau sindrom metabolik.
  7. Penyalahgunaan zat (alkohol atau narkoba).
  8. Ketergantungan nikotin (merokok).
  9. HIV/AIDS.
  10. Kondisi pasca transplantasi organ.
  11. Penyakit menular seksual (PMS).
  12. Gangguan makan (Eating disorders).

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. 15th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer.

Nanda International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023. Eleventh Edition. Oxford: Wiley-Blackwell.

Pender, N. J., Murdaugh, C. L., & Parsons, M. A. (2015). Health Promotion in Nursing Practice. Seventh Edition. Boston: Pearson.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

World Health Organization (WHO). (2022). Health Promotion and Disease Prevention: Strategic Framework for Behavioral Changes. Geneva: WHO Publishing.