Vaginitis merupakan suatu kondisi inflamasi atau infeksi pada vagina yang ditandai dengan munculnya keputihan abnormal, rasa gatal, serta iritasi lokal. (Kurniawan, 2024)
- A. Konsep Medis Vaginitis
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Vaginitis
1. Definisi Vaginitis
Definisi Dari Pakar Internasional
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengartikan sindrom klinis ini sebagai spektrum kondisi peradangan mukosa vagina yang timbul akibat ketidakseimbangan flora normal, infeksi patogen spesifik, ataupun proses atrofi pasca-menopause. (CDC, 2021)
Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa gangguan urogenital tersebut mencakup infeksi mukosa genital bawah perempuan yang memicu peningkatan morbiditas reproduksi global jika penanganan klinis terlambat. (WHO, 2021)
Selanjutnya, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menegaskan bahwa penyakit ini melibatkan perubahan dramatis ekosistem vagina yang menurunkan konsentrasi Lactobacillus pembentuk hidrogen peroksida. (ACOG, 2022)
Selain itu, European Center for Disease Prevention and Control (ECDC) mengategorikan disfungsi pertahanan biologis ini sebagai keluhan ginekologi tersering yang mendorong perempuan usia reproduktif mencari pertolongan medis. (ECDC, 2023)
Sementara itu, Dr. Jonathan Berek dari Stanford University menyatakan bahwa patogenesis utama kondisi ini berakar dari invasi mikroorganisme oportunistik yang memanfaatkan celah penurunan tingkat keasaman cairan vagina. (Berek, 2020)
Definisi Pakar Asia
Asian Journal of Obstetrics and Gynaecology memaparkan bahwa keluhan iritasi vagina pada belahan bumi Asia erat kaitannya dengan higienitas perineal yang buruk serta kebiasaan membasuh organ intim secara tidak tepat. (AJOG, 2022)
Selaras dengan hal tersebut, Japanese Society of Obstetrics and Gynecology mengartikan patologi ini sebagai diskromasia eksudat vagina unilateral maupun difus yang memerlukan diferensiasi laboratorium guna mengonfirmasi keberadaan elemen trikomoniasis. (JSOG, 2021)
Kemudian, Korean Society of Gynaecologic Endoscopy and Robotic Surgery menyebutkan bahwa manifestasi klinis ini melibatkan rusaknya integritas epitel skuamosa berlapis akibat lisis enzimatik oleh bakteri anaerob. (KSGERS, 2023)
Meskipun demikian, Dr. Colin Teo mengungkapkan bahwa radang mukosa vagina kronis mencerminkan bentuk sindrom pemicu dyspareunia hebat yang mengganggu kualitas hubungan interpersonal pasangan suami istri di Asia. (Teo, 2024)
Dengan demikian, Malaysian Society of Andrology and Gynaecology mendefinisikan gangguan tersebut sebagai bentuk vulvovaginitis obstetrik yang berpotensi meningkatkan risiko persalinan prematur pada ibu hamil jika infeksi dibiarkan meluas. (MSAG, 2022)
Definisi Pakar Indonesia
Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bersama Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) merumuskan infeksi vaginal ini sebagai inflamasi mukosa genital yang bermanifestasi dalam bentuk fluor albus patologis dengan bau menyengat. (POGI, 2021)
Berdasarkan Buku Ajar Ginekologi, Sarwono mendefinisikan gejala ini sebagai suatu reaksi jaringan urogenital terhadap agen pencedera biologis maupun kimiawi yang merusak homeostasis keasaman vagina normal. (Sarwono, 2019)
Menambahkan perspektif tersebut, Prof. Wimpie Pangkahila menjelaskan bahwa komplikasi inflamasi genitalia bawah ini mampu menurunkan tingkat kepercayaan diri perempuan akibat ketidaknyamanan fisik serta bau tidak sedap. (Pangkahila, 2020)
Akibatnya, Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM mengartikan fenomena ini sebagai manifestasi klinis hipersekresi kelenjar vagina yang menuntut penegakan diagnosis berbasis sediaan basah saline dan kalium hidroksida. (FKUI, 2022)
Akhirnya, Dr. Nugroho Setiawan menegaskan bahwa timbulnya rasa terbakar saat berkemih disertai pruritus vulva yang memburuk pada malam hari menjadi indikator klinis utama gangguan mukosa ini. (Setiawan, 2025)
2. Etiologi Vaginitis
Faktor Risiko Infeksius
Rancangan etiologi gangguan ini melibatkan invasi patogen biologis spesifik. Penyebab paling dominan pada perempuan usia subur adalah Vaginosis Bakterial (BV), sebuah kondisi pergeseran populasi mikroba yang mana bakteri anaerob seperti Gardnerella vaginalis, Mobiluncus, dan Mycoplasma hominis menggantikan posisi bakteri menguntungkan Lactobacillus. (ACOG, 2022)
Selain itu, infeksi jamur oportunistik oleh Candida albicans memicu timbulnya Candidiasis Vulvovaginalis, terutama ketika individu mengalami penurunan imunitas tubuh, mengidap diabetes melitus tidak terkontrol, atau mengonsumsi antibiotik spektrum luas jangka panjang. (POGI, 2021)
Sementara itu, parasit protozoa flagel bernama Trichomonas vaginalis menjadi agen penyebab Trikomoniasis, sebuah infeksi menular seksual yang merusak epitel vagina dan ditransmisikan melalui hubungan intim tanpa pelindung. (CDC, 2021)
Faktor Risiko Non-Infeksius
Akhirnya, faktor non-infeksius meliputi atrofi vagina pasca-menopause akibat penurunan hormon estrogen, serta reaksi hipersensitivitas kimiawi terhadap sabun pembersih kewanitaan, parfum, uretretik, maupun bahan lateks kondom. (Sarwono, 2019)
3. Patofisiologi dan Mekanisme KDM
Fisiologi Pertahanan Biologis
Ekosistem vagina normal mempertahankan kondisi asam melalui produksi asam laktat oleh Lactobacillus, yang mengonversi glikogen dari sel epitel vagina. Proses biologis ini menjaga keasaman cairan vagina pada rentang normal pH 3,8 sampai 4,5.
Ketika terjadi gangguan pertahanan akibat higienitas buruk, obat-obatan, atau hormonal, nilai keasaman bergeser naik. Rumus perhitungan derajat keasaman cairan vagina dinyatakan melalui persamaan logaritmik konsentrasi ion hidrogen:
pH = -log[H+]
Kenaikan pH vagina di atas 4,5 menekan pertumbuhan Lactobacillus dan memicu proliferasi bakteri anaerob atau parasit. Mikroorganisme patogen ini mengeluarkan enzim mukolitik dan produk metabolisme seperti amina urogenital, yang mendegradasi lapisan mukosa pelindung. (Berek, 2020)
Respons Inflamasi Mukosa
Destruksi sel epitel skuamosa memicu pelepasan mediator inflamasi fokal (prostaglandin, histamin, sitokin). Akibatnya, terjadi vasodilatasi kapiler lokal, hipersekresi cairan vagina (fluor albus), dan sensitisasi serabut saraf perifer yang menimbulkan respons gatal serta nyeri lokal. (Sarwono, 2019)
Pathway
[Faktor Risiko: Higiene Buruk / Perubahan Hormonal]
|
v
Ketidakseimbangan Flora Normal Vagina
|
v
Inflamasi Mukosa Vaginal
|
_________________________________|_________________________________
| | |
v v v
Hipersekresi Cairan Iritasi Ujung Saraf Penyebaran Sekresi
Vagina (Keputihan) Bebas Perineal ke Uretra
| | |
v v v
[GANGGUAN INTEGRITAS [NYERI AKUT] [GANGGUAN ELIMINASI
KULIT/JARINGAN] URIN]
4. Manifestasi Klinis Vaginitis
a. Data Subjektif
Secara umum, pasien mengeluhkan keputihan (fluor albus) yang tidak biasa dalam jumlah banyak, berwarna putih menggumpal seperti susu basi, kuning kehijauan, atau keabu-abuan. (POGI, 2021)
Selain itu, pasien mengeluhkan rasa gatal (pruritus vulva) yang sangat hebat dan sensasi panas terbakar pada area kemaluan, terutama memburuk saat malam hari atau setelah berkemih. (ACOG, 2022)
Di samping itu, pasien melaporkan nyeri atau perih saat melakukan hubungan seksual (dyspareunia) serta rasa terbakar saat buang air kecil (disuria). (Setiawan, 2025)
Akhirnya, pasien mengungkapkan perasaan tidak nyaman, malu, dan cemas karena keputihan mengeluarkan aroma bau amis (foul odor) yang tajam. (ECDC, 2023)
b. Data Objektif
Berdasarkan pemeriksaan, inspeksi area genitalia menunjukkan adanya eritema (kemerahan) difus pada vulva dan mukosa vagina, edema labia, serta ekskoriasi (luka lecet) akibat garukan. (ECDC, 2023)
Selanjutnya, examination dengan spekulum memperlihatkan sekret vagina patologis yang melekat pada dinding lateral, atau gambaran bintik kemerahan makular pada serviks (strawberry cervix) khas trikomoniasis. (Setiawan, 2025)
Akhirnya, pengukuran indikator menggunakan kertas indikator urogenital menunjukkan peningkatan derajat keasaman pH vagina di atas batas normal (pH>4,5). (ACOG, 2022)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium mencakup tes sediaan basah mikroskopis dengan larutan saline nol koma sembilan persen guna mengidatifikasi keberadaan clue cells pada vaginosis bakterial atau pergerakan trikomonad. (ECDC, 2023)
Selain itu, mengerjakan penambahan kalium hidroksida sepuluh persen (Whiff Test) untuk memicu pelepasan bau amis amina yang khas pada infeksi kuman anaerob, serta mendeteksi hifa jamur. (FKUI, 2022)
b. Pemeriksaan Radiologi
Sementara itu, pemeriksaan radiologi (seperti USG Transvaginal atau Pelvis) umumnya tidak meindikasikan untuk kasus radang fokal ini, kecuali terdapat kecurigaan klinis komplikasi penyakit radang panggul (Pelvic Inflammatory Disease) atau massa adneksa sekunder. (Berek, 2020)
c. Pemeriksaan Lain
Akhirnya, menjakankan pemeriksaan penunjang lain berupa skrining asam nukleat (Nucleic Acid Amplification Test / NAAT) demi menegakkan diagnosis pasti keberadaan mikroorganisme intraseluler. (AJOG, 2022)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Pemberian antibiotik metronidazole oral dua kali sehari selama tujuh hari berturut-turut merupakan pilihan utama untuk mengeradikasi vaginosis bakterial dan trikomoniasis. (ACOG, 2022)
Selanjutnya, memberikan antijamur golongan azol seperti krim klotrimazol intravagina atau flukonazol dosis tunggal secara khusus untuk mengatasi kasus candidiasis vulvovaginalis. (FKUI, 2022)
Meskipun demikian, pada penderita radang atrofi pasca-menopause, menerapkan pemberian krim estrogen topikal dosis rendah guna mengembalikan ketebalan serta elastisitas jaringan epitel urogenital. (POGI, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Selain itu, mengedukasi pasien untuk menghentikan sementara penggunaan sabun pembersih kewanitaan berparfum, douching vagina, serta penggunaan antiseptik urogenital yang merusak flora normal. (Sarwono, 2019)
Akhirnya, penggunaan celana dalam berbahan katun longgar serta instruksi menjaga area perineal tetap kering sangat efektif mempercepat proses pemulihan mukosa. (ECDC, 2023)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Pencatatan data dasar pasien yang meliputi nama, usia (fokus pada usia reproduktif atau pasca-menopause), status pernikahan, riwayat pekerjaan, tingkat pendidikan, dan alamat rumah. (PPNI, 2017)
b. Riwayat Kesehatan
- Keluhan Utama: Pasien mengeluhkan keputihan berlebih, bau tidak sedap, serta rasa gatal/panas pada area kewanitaan.
- Riwayat Kesehatan Sekarang: Mengidentifikasi onset keluhan, warna dan konsistensi sekret, karakteristik nyeri/gatal menggunakan pendekatan PQRST, serta riwayat pengobatan mandiri.
- Riwayat Kesehatan Dahulu: Menanyakan riwayat penyakit diabetes melitus, riwayat infeksi saluran kemih, dan riwayat alergi zat kimia.
- Riwayat Ginekologi & Seksual: Menanyakan pola siklus menstruasi, penggunaan kontrasepsi (terutama IUD atau kondom lateks), serta riwayat aktivitas seksual. (POGI, 2021)
c. Pemeriksaan Fisik
Penilaian Sistem Reproduksi dan Abdomen
Inspeksi vulva menunjukkan eritema, edema labia, maserasi, dan ekskoriasi. Palpasi area inguinal untuk mendeteksi ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening. Pemeriksaan spekulum mengonfirmasi karakteristik sekret pada dinding vagina. Palpasi abdomen kuadran bawah untuk memastikan tidak ada nyeri tekan lepas, perkusi abdomen menghasilkan bunyi timpani, auskultasi menunjukkan bising usus normal (5−30 kali/menit). (FKUI, 2022, Sarwono, 2019)
Penilaian Sistem Eliminasi dan Integumen
Palpasi area suprapubik untuk menilai distensi kandung kemih, inspeksi karakteristik urin didapatkan warna jernih hingga pekat tanpa hematuria kasar. Inspeksi kulit sekitar perineal dan paha bagian dalam, tampak tanda kemerahan atau iritasi sekunder akibat aliran sekret urogenital. (PPNI, 2017)
Penilaian Sistem Kardiovaskular, Respirasi, dan Saraf
Auskultasi bunyi jantung S1-S2 tunggal reguler, auskultasi paru terdapat suara vesikuler bilateral, frekuensi nadi dan napas dalam rentang normal. Tingkat kesadaran komposmentis, pemeriksaan saraf perifer perineal mengonfirmasi adanya hiperestesia akibat inflamasi akut. (PPNI, 2017)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan menilai pengetahuan pasien tentang kebersihan organ intim. Pola eliminasi mengidentifikasi adanya disuria, urgensi, atau peningkatan frekuensi berkemih. Pola istirahat dan tidur menilai hambatan tidur akibat gangguan pruritus nocturnal. Pola konsep diri & citra tubuh mengevaluasi perasaan malu, rendah diri, atau perubahan persepsi terhadap daya tarik tubuh akibat keluhan bau keputihan. Pola hubungan seksual memetakan adanya penurunan libido atau hambatan koitus akibat dyspareunia. (PPNI, 2017)
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis Prioritas 1-5
- Nyeri Akut (D.0077) b.d. agen pencedera fisiologis (inflamasi jaringan vagina) d.d. mengeluh perih/nyeri, tampak meringis, gelisah.
- Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) b.d. bahan iritan kimiawi / infeksi patogen d.d. kerusakan jaringan mukosa, kemerahan vulva, maserasi perineal.
- Gangguan Eliminasi Urin (D.0040) b.d. iritasi meatus uretra eksternus oleh cairan eksudat vagina d.d. disuria, urgensi berkemih, sering berkemih.
- Gangguan Citra Tubuh (D.0083) b.d. perubahan fungsi tubuh akibat keputihan patologis berbau d.d. mengungkapkan kecemasan, menolak menyentuh bagian tubuh.
- Ansietas (D.0080) b.d. kekhawatiran terhadap efek penyakit/penularan d.d. merasa bingung, tampak tegang, banyak bertanya mengenai kondisinya. (PPNI, 2017)
Diagnosis Prioritas 6-10
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. kurang terpapar informasi d.d. menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, menanyakan masalah yang dihadapi.
- Disfungsi Seksual (D.0069) b.d. perubahan fungsi/struktur tubuh akibat dyspareunia d.d. mengeluh aktivitas seksual terganggu.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. hambatan lingkungan (pruritus vulva hebat pada malam hari) d.d. mengeluh sulit tidur, mengeluh istirahat tidak cukup.
- Gangguan Rasa Nyaman (D.0074) b.d. gejala penyakit d.d. mengeluh tidak nyaman, pruritus vulva, mengeluh kepanasan di area perineal.
- Risiko Infeksi (D.0142) d.d. faktor risiko ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer (perubahan keasaman pH mukosa vagina). (PPNI, 2017)
3. Perencanaan
Intervensi Diagnosis 1-3
Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, ketegangan otot menurun).
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238). Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri vulvovaginal. Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. kompres dingin intermiten pada vulva menggunakan kain pelindung). Edukasi: Jelaskan strategi meredakan nyeri, anjurkan menghindari garukan pada area perineal. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau krim antiinflamasi topikal sesuai instruksi medis.
Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)
- Luaran: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) meningkat (Perfusi jaringan meningkat, kerusakan jaringan mukosa menurun, kemerahan vulva berkurang).
- Intervensi: Perawatan Kehilangan Jaringan (I.14567). Observasi: Monitor karakteristik eksudat, volume keputihan, dan kondisi integritas kulit perineal dari tanda maserasi. Terapeutik: Bersihkan perineal dengan air bersih mengalir, keringkan secara lembut menggunakan tisu bersih dari arah depan ke belakang. Edukasi: Anjurkan mengganti celana dalam minimal tiga kali sehari atau setiap kali terasa lembap.
Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)
- Luaran: Eliminasi Urin (L.04034) membaik (Disuria menurun, berkemih sering membaik, sensasi berkemih tuntas membaik).
- Intervensi: Manajemen Eliminasi Urin (I.04152). Observasi: Monitor eliminasi urin termasuk frekuensi, volume, warna, dan keluhan nyeri berkemih. Terapeutik: Catat waktu haluaran berkemih harian pasien untuk memantau retensi urine sekunder. Edukasi: Ajarkan minum air putih hangat minimal dua liter per hari guna mengencerkan urine dan meminimalkan iritasi uretra.
Intervensi Diagnosis 4-6
Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
- Luaran: Citra Tubuh (L.09067) meningkat (Verbalisasi kecemasan tubuh menurun, hubungan sosial membaik, penerimaan diri meningkat).
- Intervensi: Promosi Citra Tubuh (I.09305). Observasi: Monitor pernyataan pasien tentang citra tubuh dan dampak bau keputihan pada psikologisnya. Terapeutik: Diskusikan perubahan tubuh dan dampaknya pada persepsi diri pasien secara privat. Edukasi: Jelaskan bahwa kondisi keputihan patologis bersifat temporer dan dapat disembuhkan dengan kepatuhan terapi.
Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Perilaku tegang menurun, verbalisasi kebingungan berkurang, pola tidur membaik).
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Observasi: Identifikasi tingkat ansietas melalui respons verbal dan non-verbal pasien. Terapeutik: Gunakan pendekatan yang tenang, dengarkan keluhan dengan empati tanpa menghakimi. Edukasi: Informasikan mengenai jenis penyakit dan regimen pengobatan antimikroba secara jelas dan jujur.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Perilaku sesuai anjuran meningkat, pemahaman materi pemeliharaan organ intim meningkat).
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383). Edukasi: Jelaskan cara cebok yang benar dari arah depan ke belakang, larang penggunaan cairan vaginal douching, serta tekankan pentingnya menuntaskan dosis obat antimikroba oral.
Intervensi Diagnosis 7-10
Disfungsi Seksual (D.0069)
- Luaran: Fungsi Seksual (L.07055) membaik (Kepuasan hubungan seksual membaik, keluhan nyeri dyspareunia menurun).
- Intervensi: Konseling Seksualitas (I.07214). Edukasi: Anjurkan pantang melakukan hubungan intim selama fase infeksi akut atau gunakan kondom hingga pengobatan selesai total.
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirapat tidak cukup akibat gatal malam hari berkurang).
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174). Terapeutik: Sesuaikan jadwal pemberian obat, anjurkan memakai celana dalam katun longgar sebelum tidur malam untuk mengurangi kelembapan perineal.
Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)
- Luaran: Status Kenyamanan (L.08064) meningkat (Keluhan tidak nyaman menurun, pruritus vulva berkurang, gejala gelisah menurun).
- Intervensi: Pengaturan Posisi (I.01019). Terapeutik: Atur kenyamanan tempat tidur pasien, fasilitasi sirkulasi udara kamar yang adekuat untuk meminimalkan rasa kepanasan di area perineal.
Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun (Kemerahan vulva berkurang, tanda-tanda infeksi asenden tidak ada).
- Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539). Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal maupun perluasan sistemik. Terapeutik: Terapkan prinsip aseptik saat melakukan pemeriksaan spekulum atau pengambilan sampel swab urogenital.
4. Implementasi
Pelaksanaan Intervensi Akut
Mengidentifikasi karakteristik nyeri, skala pruritus vulva, serta mengukur nilai pH cairan vagina pasien menggunakan kertas indikator urogenital. Mengaplikasikan tindakan non-farmakologis berupa kompres dingin intermiten pada area vulva penderita untuk mereduksi rasa gatal dan terbakar yang ekstrem. (PPNI, 2018)
Pelaksanaan Higiene dan Kolaborasi
Membersihkan area perineal pasien menggunakan air bersih steril pasca-pengambilan sampel swab vagina harian, serta melatih cara vulva hygiene dari arah depan ke belakang. Memfasilitasi pemberian terapi farmakologis sesuai advis dokter, seperti memantau kepatuhan konsumsi tablet Metronidazole oral atau aplikasi ovula antifungal intravagina. (PPNI, 2018)
5. Evaluasi
Pencatatan SOAP Subjektif dan Objektif
S (Subjektif): Pasien melaporkan rasa gatal vulva berkurang signifikan, sensasi perih saat berkemih (disuria) mereda, dan rasa tidak nyaman akibat bau keputihan mulai teratasi. O (Objektif): Inspeksi area genitalia memperlihatkan penurunan eritema dan edema labia, tidak tampak lesi ekskoriasi baru, volume cairan sekret berkurang, dan hasil tes pH vagina kembali mendekati rentang normal (3,8−4,5). (PPNI, 2019)
Pencatatan SOAP Analisis dan Perencanaan
A (Analisis): Masalah keperawatan Nyeri Akut, Gangguan Integritas Kulit/Jaringan, Gangguan Eliminasi Urin, dan Gangguan Citra Tubuh dinyatakan teratasi atau teratasi sebagian. P (Perencanaan): Memutuskan untuk menghentikan intervensi jika kriteria luaran SLKI telah terpenuhi sepenuhnya, atau melanjutkan intervensi dengan memodifikasi strategi edukasi perawatan mandiri di rumah. (PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2022). Vaginitis in Non-Pregnant Individuals. ACOG Guidelines. Vaginitis Clinical Consensus
Asian Journal of Obstetrics and Gynaecology (AJOG). (2022). Prevalence and risk factors of vaginitis among Asian women. AJOG, 15(2), 112-118. Vaginitis Asian Analysis
Berek, J. S. (2020). Berek & Novak’s Gynecology (16th ed.). Wolters Kluwer.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2021). Sexually transmitted infections treatment guidelines. MMWR, 70(4), 54-60. CDC Vaginitis Treatment Guidelines
European Center for Disease Prevention and Control (ECDC). (2023). European Guideline on the Management of Vaginal Discharge. ECDC Guidance. European Vaginal Discharge Guideline
FKUI. (2022). Panduan Praktis Klinis Penanganan Ginekologi di Fasilitas Kesehatan Sekunder. Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM.
Pangkahila, W. (2020). Psikofisiologi Seksualitas Perempuan Modern. Penerbit Kompas.
POGI. (2021). Konsensus Nasional Penatalaksanaan Fluor Albus Patologis di Indonesia. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.
Sarwono, P. (2019). Ilmu Kandungan (Edisi ke-3). PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Setiawan, N. (2025). Akurasi diagnostik Whiff test dan penentuan pH cairan vagina. Jurnal Ginekologi Indonesia, 82(1), 45-52. Akurasi Diagnostik Vaginitis

Tinggalkan Balasan