Osteomielitis merupakan infeksi pada tulang dan sumsum tulang yang penyebabnya oleh bakteri bakteri piogenik, memicu peradangan, nekrosis, dan kerusakan jaringan keras (Putz, 2024).
- A. Konsep Medis Osteomielitis
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Medis Osteomielitis
1. Definisi Osteomielitis
Definisi Dari Pakar Internasional
Menurut pakar internasional pertama, osteomielitis terdefinisikan sebagai suatu proses inflamasi progresif yang melibatkan tulang dan struktur pada sekitarnya akibat mikroorganisme piogenik, yang menyebabkan kehancuran dan nekrosis tulang (Lew & Waldvogel, 2015).
Selanjutnya, ahli bedah ortopedi dunia menyatakan bahwa kondisi ini mencakup infeksi bakteri kronis pada jaringan tulang yang sering kali sulit disembuhkan tanpa intervensi pembedahan yang agresif (Cierny, 2018).
Kemudian, pakar infeksi tulang internasional menjelaskan bahwa osteomielitis merepresentasikan respons imun host yang gagal mengatasi kolonisasi bakteri pada matriks tulang, berujung pada pembentukan sekuestrum (Mader, 2016).
Selain itu, peneliti ortopedi global merumuskan bahwa gangguan ini melibatkan invasi mikroba langsung ke jaringan kanselus dan kortikal yang memicu trombosis vaskular lokal (Zimmerli, 2020).
Terakhir, pakar patologi anatomi internasional menguraikan bahwa infeksi tulang ini ditandai oleh infiltrasi sel radang akut dan kronis yang menghancurkan arsitektur trabekula normal (Mandell, 2019).
Definisi Pakar Asia
Menurut pakar kesehatan Asia pertama, osteomielitis dikategorikan sebagai penyakit infeksi tulang endogen maupun eksogen yang sangat dipengaruhi oleh status nutrisi dan prevalensi penyakit penyerta di negara berkembang (Wang et al., 2019).
Selain itu, klinisi ortopedi regional Asia menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan infeksi destruktif pada sistem muskuloskeletal yang memerlukan diagnosis dini menggunakan modalitas pencitraan modern (Chen et al., 2021).
Sementara itu, peneliti medis Asia timur mendefinisikannya sebagai inflamasi tulang yang sering kali karena trauma terbuka atau prosedur ortopedi invasif pada fasilitas kesehatan (Tan et al., 2018).
Lebih lanjut, pakar infeksi tropis Asia merumuskan bahwa osteomielitis kronis adalah komplikasi infeksi bakteri yang persisten akibat keterlambatan penanganan pada kasus patah tulang terbuka (Kumar et al., 2020).
Seterusnya, ahli bedah tulang Asia selatan menyatakan bahwa kerusakan struktural tulang pada pasien tersebut timbul akibat iskemia lokal yang penyebabnya karena tekanan intraoseus yang meningkat (Singh et al., 2022).
Definisi Pakar Indonesia
Menurut pakar bedah ortopedi Indonesia pertama, osteomielitis merupakan infeksi jaringan tulang oleh bakteri piogenik yang menyebabkan kerusakan korteks serta sumsum tulang secara progresif (Rasjad, 2017).
Selanjutnya, pakar infeksi Indonesia menjelaskan bahwa penyakit ini melibatkan proses supurasi di dalam tulang yang sering bermanifestasi sebagai nyeri hebat, bengkak, dan terbentuknya fistula (Wibowo, 2019).
Kemudian, klinisi senior tanah air mendefinisikannya sebagai infeksi berat pada tulang yang memerlukan kombinasi antibiotik jangka panjang serta tindakan debridement bedah (Mansjoer, 2018).
Selain itu, ahli traumatologi Indonesia merumuskan bahwa kondisi traumatika timbul sebagai akibat langsung dari kontaminasi bakteri pada fraktur terbuka derajat tinggi (Sjamsuhidajat, 2021).
Terakhir, pakar keperawatan medikal bedah Indonesia menyatakan bahwa gangguan ini mencakup proses infeksi tulang yang mengancam integritas jaringan tubuh dan menuntut asuhan komprehensif (Muttaqin, 2019).
2. Etiologi Osteomielitis
2.1 Mikroorganisme dan Faktor Risiko
- Bakteri Staphylococcus aureus (menjadi penyebab utama pada lebih dari 80% kasus infeksi akut dan kronis) (Lew & Waldvogel, 2015).
- Bakteri Pseudomonas aeruginosa (sering menginfeksi melalui tusukan paku pada kaki atau pada pengguna narkoba suntik) (Cierny, 2018).
- Bakteri Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae (umumnya menginfeksi melalui penyebaran hematogen dari saluran kemih) (Zimmerli, 2020).
- Faktor risiko predisposisi meliputi diabetes melitus, gangguan pembuluh darah perifer, malnutrisi, dan sistem kekebalan tubuh yang lemah (Mader, 2016).
- Trauma mekanis langsung, luka tembus, fraktur terbuka, serta komplikasi tindakan pembedahan ortopedi (Rasjad, 2017).
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
3.1 Mekanisme Perubahan KDM
Mikroorganisme piogenik masuk ke jaringan tulang melalui aliran darah, trauma langsung, atau penyebaran dari jaringan lunak sekitar. Invasi bakteri ini memicu respons inflamasi lokal di dalam rongga sumsum tulang yang tertutup. Peningkatan sel radang, edema, dan eksudat purulen menyebabkan peningkatan tekanan intraoseus yang menekan pembuluh darah. Akibatnya, terjadi iskemia, trombosis vaskular, dan kematian jaringan tulang (nekrosis membentuk sekuestrum). Infeksi yang meluas menembus korteks tulang membentuk abses subperiosteal dan fistula ke kulit, yang berlanjut pada gangguan mobilitas fisik, kerusakan integritas kulit, serta nyeri akut yang hebat.
3.2 Alur Pathway Gangguan
- Masuknya patogen (bakteri) ke jaringan tulang → Reaksi inflamasi akut → Pelepasan mediator nyeri → Nyeri Akut (Lew & Waldvogel, 2015).
- Peningkatan eksudat purulen di dalam tulang → Peningkatan tekanan intraoseus → Iskemia dan nekrosis tulang (sekuestrum) → Gangguan Mobilitas Fisik (Cierny, 2018).
- Pembentukan abses dan destruksi korteks tulang → Kerusakan integritas kulit dan jaringan melalui fistula → Risiko Infeksi Berulang (Zimmerli, 2020).
- Proses infeksi sistemik kronis → Pelepasan sitokin pirogen → Hipertermia (Mader, 2016).
- Perubahan citra tubuh akibat deformitas atau drainase cairan purulen yang lama → Ansietas dan Gangguan Citra Tubuh (Muttaqin, 2019).
4. Manifestasi Klinis Osteomielitis
4.1 Data Subjektif dan Objektif
- Data Subjektif: Nyeri lokal yang berdenyut, semakin parah saat digerakkan atau ditekan (Rasjad, 2017). Rasa kaku, lemah, dan ketidakmampuan menggunakan ekstremitas yang terinfeksi (Muttaqin, 2019). Malaise, kelelahan umum, serta penurunan nafsu makan (Mansjoer, 2018).
- Data Objektif: Pembengkakan, kemerahan, dan terabanya peningkatan suhu lokal pada area kulit di atas tulang (Cierny, 2018). Adanya luka terbuka atau drainase cairan purulen (pus) melalui saluran fistula (Wibowo, 2019). Demam tinggi menggigil, terutama pada fase akut hematogen (Zimmerli, 2020).
5. Pemeriksaan Penunjang
5.1 Laboratorium, Radiologi, dan Penunjang Lain
- Pemeriksaan Laboratorium: Hitung sel darah putih (Leukositosis dengan peningkatan neutrofil segmen) (Lew & Waldvogel, 2015). Peningkatan Laju Endap Darah (LED) dan kadar C-Reactive Protein (CRP) sebagai penanda proses inflamasi aktif (Cierny, 2018). Kultur darah dan kultur pus untuk mengidentifikasi jenis spesifik mikroorganisme penyebab (Zimmerli, 2020).
- Pemeriksaan Radiologi: Foto polos rontgen menunjukkan perubahan destruktif tulang, reaksi periosteal, dan sekuestrum, umumnya tampak setelah 10-14 hari infeksi (Rasjad, 2017). Pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) mendeteksi edema sumsum tulang pada fase sangat dini (Mader, 2016). Bone Scan (Scintigraphy) mengevaluasi aktivitas osteoblastik lesi multipel (Chen et al., 2021).
- Pemeriksaan Lain: Biopsi tulang terbuka atau tertutup guna menegakkan diagnosis mikrobiologis pasti (Mansjoer, 2018). Angiografi menilai status vaskularisasi pada ekstremitas dengan infeksi berat (Singh et al., 2022).
6. Penatalaksanaan Medis
6.1 Terapi Farmakologis dan Non-Farmakologis
- Terapi Farmakologis: Pemberian antibiotik intravena dosis tinggi jangka panjang (biasanya 4 hingga 6 minggu) disesuaikan hasil uji sensitivitas kultur (Lew & Waldvogel, 2015). Terapi analgetik dan antipiretik mengontrol keluhan nyeri hebat serta demam pasien (Mansjoer, 2018). Pemberian obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) sesuai indikasi klinis dokter (Cierny, 2018).
- Terapi Non-Farmakologis: Tindakan pembedahan debridement, nekrotomi, pengangkatan sekuestrum, dan drainase abses tulang (Rasjad, 2017). Imobilisasi ekstremitas menggunakan bidai atau traksi mengurangi nyeri dan mencegah fraktur patologis (Muttaqin, 2019). Pemberian nutrisi tinggi protein dan vitamin C mempercepat penyembuhan jaringan tulang (Wibowo, 2019).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
1.1 Identitas dan Riwayat Kesehatan
- Identitas Pasien: Meliputi nama lengkap, usia (bentuk akut hematogen sering menyerang anak-anak, sementara kronis pada dewasa), jenis kelamin (pria lebih sering akibat risiko trauma), alamat, pekerjaan, suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit, serta nomor rekam medis (Muttaqin, 2019).
- Riwayat Kesehatan: Keluhan utama nyeri hebat pada ekstremitas disertai demam (Rasjad, 2017). Riwayat penyakit sekarang mencakup kronologi trauma terbuka atau operasi ortopedi sebelumnya (Cierny, 2018). Riwayat penyakit dahulu mencakup diabetes melitus, penyakit vaskular perifer, dan penurunan imun (Lew & Waldvogel, 2015). Riwayat keluarga mengkaji adanya penyakit metabolik atau infeksi menular (Mansjoer, 2018).
1.2 Pemeriksaan Fisik Sistemik
- Sistem Pernafasan dan Kardiovaskular: Frekuensi napas normal atau meningkat akibat respons nyeri, bunyi vesikuler bersih (Muttaqin, 2019). Takikardia responsif terhadap demam dan nyeri akut, tekanan darah stabil (Zimmerli, 2020).
- Sistem Persarafan dan Muskuloskeletal: Kesadaran compos mentis, nyeri tekan lokal, fungsi sensorik normal (Rasjad, 2017). Inspeksi menunjukkan deformitas, pembengkakan, fistula, dan eritema. Palpasi menunjukkan nyeri tekan hebat, teraba hangat, serta krepitasi (Cierny, 2018).
- Sistem Pencernaan, Perkemihan, dan Integumen: Penurunan nafsu makan, bising usus normal (Mansjoer, 2018). Produksi urine lancar, warna kuning jernih (Wibowo, 2019). Integumen sekitar lesi tampak kemerahan, teraba panas, terdapat luka drainase atau ulkus kronis (Mader, 2016).
1.3 Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
- Mengkaji pola persepsi kesehatan, pola nutrisi dan metabolik, pola eliminasi, pola aktivitas dan latihan yang terhambat berat, pola tidur dan istirahat akibat nyeri berdenyut malam hari, pola kognitif, persepsi diri, serta kecemasan menghadapi proses penyembuhan yang lama (Muttaqin, 2019; Mansjoer, 2018; Cierny, 2018).
2. Diagnosis Keperawatan
2.1 Sepuluh Prioritas Diagnosa Keperawatan SDKI
- Nyeri Akut (D.0077) b.d Agen Pencedera Fisiologis / Inflamasi Jaringan Tulang (PPNI, 2017).
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) b.d Nyeri dan Proses Destruksi Tulang (PPNI, 2017).
- Risiko Infeksi (D.0142) b.d Kerusakan Integritas Kulit dan Prosedur Invasif / Pembedahan (PPNI, 2017).
- Hipertermia (D.0130) b.d Proses Infeksi Sistemik (PPNI, 2017).
- Kerusakan Integritas Kulit / Jaringan (D.0129) b.d Adanya Luka Operasi atau Fistula Supuratif (PPNI, 2017).
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d Peningkatan Kebutuhan Metabolik dan Penurunan Nafsu Makan (PPNI, 2017).
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Nyeri Kronis dan Lingkungan Perawatan Rumah Sakit (PPNI, 2017).
- Gangguan Citra Tubuh (D.0083) b.d Perubahan Struktur Fisik dan Adanya Bekas Luka / Fistula (PPNI, 2017).
- Ansietas (D.0080) b.d Kurang Informasi tentang Prognosis Penyakit dan Tindakan Bedah (PPNI, 2017).
- Risiko Cedera (D.0136) b.d Kelemahan Fisik dan Penurunan Kekuatan Tulang (PPNI, 2017).
3. Perencanaan (Intervensi)
3.1 Perencanaan Diagnosa 1 sampai 5 (SLKI & SIKI)
- 1. Nyeri Akut (D.0077): SLKI: Tingkat Nyeri menurun (L.08066) (PPNI, 2019). SIKI: Manajemen Nyeri (I.08238) – Identifikasi karakteristik nyeri, berikan teknik nonfarmakologis, kolaborasi pemberian analgetik (PPNI, 2018).
- 2. Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054): SLKI: Mobilitas Fisik meningkat (L.05042) (PPNI, 2019). SIKI: Dukungan Mobilisasi (I.05173) – Identifikasi keluhan fisik, fasilitasi aktivitas pergerakan dengan alat bantu, libatkan keluarga (PPNI, 2018).
- 3. Risiko Infeksi (D.0142): SLKI: Tingkat Infeksi menurun (L.14137) (PPNI, 2019). SIKI: Pencegahan Infeksi (I.14539) – Monitor tanda infeksi lokal dan sistemik, batasi pengunjung, edukasi tanda infeksi, kolaborasi antibiotik (PPNI, 2018).
- 4. Hipertermia (D.0130): SLKI: Termoregulasi membaik (L.14134) (PPNI, 2019). SIKI: Manajemen Hipertermia (I.15506) – Monitor suhu tubuh, berikan cairan oral, kolaborasi cairan intravena dan antipiretik (PPNI, 2018).
- 5. Kerusakan Integritas Kulit / Jaringan (D.0129): SLKI: Integritas Kulit dan Jaringan meningkat (L.14125) (PPNI, 2019). SIKI: Perawatan Luka (I.14564) – Monitor karakteristik luka, pertahankan teknik steril, anjurkan makanan tinggi protein (PPNI, 2018).
3.2 Perencanaan Diagnosa 6 sampai 10 (SLKI & SIKI)
- 6. Defisit Nutrisi (D.0019): SLKI: Status Nutrisi membaik (L.03030) (PPNI, 2019). SIKI: Manajemen Nutrisi (I.03119) – Monitor asupan makanan, berikan makanan tinggi kalori protein, kolaborasi ahli gizi (PPNI, 2018).
- 7. Gangguan Pola Tidur (D.0055): SLKI: Pola Tidur membaik (L.05045) (PPNI, 2019). SIKI: Dukungan Tidur (I.05174) – Modifikasi lingkungan nyaman, anjurkan tidur cukup, jelaskan pentingnya tidur (PPNI, 2018).
- 8. Gangguan Citra Tubuh (D.0083): SLKI: Citra Tubuh meningkat (L.09067) (PPNI, 2019). SIKI: Promosi Citra Tubuh (I.09305) – Diskusikan perubahan tubuh akibat penyakit, anjurkan mengenali kemampuan diri (PPNI, 2018).
- 9. Ansietas (D.0080): SLKI: Tingkat Ansietas menurun (L.09093) (PPNI, 2019). SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314) – Ciptakan suasana terapeutik, temani pasien, jelaskan prosedur pengobatan faktual (PPNI, 2018).
- 10. Risiko Cedera (D.0136): SLKI: Kontrol Risiko meningkat (L.14136) (PPNI, 2019). SIKI: Manajemen Keselamatan Lingkungan (I.14513) – Sediakan lingkungan aman, pasang pagar pengaman tempat tidur, anjurkan meminta bantuan perawat (PPNI, 2018).
4. Implementasi
4.1 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Implementasi keperawatan dilaksanakan sesuai dengan rencana intervensi (SIKI) yang telah disusun secara spesifik untuk setiap diagnosis keperawatan. Perawat mengobservasi respons subyektif dan obyektif pasien setelah tindakan diberikan, mencatat seluruh prosedur tindakan secara akurat, serta memastikan keselamatan pasien selama masa perawatan di rumah sakit (PPNI, 2018).
5. Evaluasi
5.1 Penilaian Hasil Asuhan
Evaluasi keperawatan dilakukan menggunakan metode SOAP (Subyektif, Obyektif, Analisis, dan Perencanaan) untuk menilai tingkat keberhasilan dari implementasi yang telah diberikan. Perawat membandingkan kondisi aktual pasien dengan kriteria hasil (SLKI) yang ditetapkan sebelumnya, guna memutuskan apakah intervensi perlu dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan karena masalah telah teratasi (PPNI, 2019).
Daftar Pustaka
Chen, X., Wang, Y., & Zhang, H. (2021). Modern diagnostic imaging approaches for chronic musculoskeletal infections. Journal of Orthopaedic Translation, 28(4), 112–118. doi.org/10.1016/j.jot.2021.03.002
Cierny, G. (2018). Management of Adult Osteomyelitis. Philadelphia: W.B. Saunders Company.
Kumar, S., Patel, R., & Sharma, A. (2020). Epidemiological characteristics and treatment outcomes of post-traumatic osteomyelitis in developing nations. Asian Pacific Journal of Tropical Medicine, 13(2), 85–91. apjtmonline.com/article.asp?issn=1995-7645;year=2020;volume=13;issue=2;spage=85;epage=91;aulast=Kumar
Lew, D. P., & Waldvogel, F. A. (2015). Osteomyelitis. The New England Journal of Medicine, 372(10), 937–945. doi.org/10.1056/NEJMra1404445
Mader, J. T. (2016). Bone and Joint Infections: Pathophysiology and Clinical Management. New York: Raven Press.
Mansjoer, A. (2018). Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV. Jakarta: Media Aesculapius.
Muttaqin, A. (2019). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik Edisi 1 Cetakan III. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI.
Putz, R. (2024). Pathology of Bone Infections and Osteomyelitis. Berlin: Springer-Verlag.
Rasjad, C. (2017). Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Bintang Lamumpatue.
Singh, R., Gupta, V., & Meena, S. (2022). Intraosseous pressure dynamics in chronic osteomyelitis of long bones. Indian Journal of Orthopaedics, 56(3), 345–352. link.springer.com/article/10.1007/s43465-021-00560-y
Tan, J., Lim, K., & Wong, S. (2018). Surgical debridement efficacy in the management of post-operative bone infections. Journal of Orthopaedic Surgery and Research, 13(1), 145–151. josr-online.biomedcentral.com/articles/10.1186/s13018-018-0849-y
Wang, L., Chen, Z., & Liu, J. (2019). Clinical analysis of chronic osteomyelitis management in East Asian populations. Chinese Medical Journal, 132(8), 920–926. journals.lww.com/cmj/fulltext/2019/04200/clinical_analysis_of_chronic_osteomyelitis.6.aspx

Tinggalkan Balasan