KONSEP MEDIS PADA NYERI KRONIS

Nyeri kronis merupakan pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan yang menetap lebih dari tiga bulan, mengganggu fungsi tubuh dan kualitas hidup. (International Association for the Study of Pain, 2020)

A. Konsep Medis Pasien Nyeri Kronis

1. Deskripsi Ragam Definisi Nyeri Kronis

Definisi Dari Pakar Internasional

International Association for the Study of Pain (IASP) mengartikan kondisi patologis ini sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, di mana rasa sakit tersebut berkaitan dengan atau menyerupai kerusakan jaringan aktual maupun potensial, serta bertahan selama lebih dari 3 bulan. (IASP, 2020)

Merskey & Bogduk menegaskan bahwa fenomena sensasi subjektif tersebut berfungsi sebagai kondisi patologis mandiri yang tidak lagi memiliki nilai protektif bagi tubuh, melainkan merusak sistem neurologis penderita secara konstan. (Merskey & Bogduk, 2019)

Turk & Okifuji menjelaskan fenomena gangguan fisik ini dari sudut pandang psikososial, di mana mereka menyatakan bahwa keadaan tersebut melibatkan interaksi kompleks antara kerusakan fisik, distres emosional, dan disfungsi perilaku yang berkepanjangan. (Turk & Okifuji, 2018)

Loeser mendefinisikan keluhan menetap ini sebagai manifestasi kegagalan sistem nosiseptif yang terus memancarkan sinyal bahaya ke otak, meskipun jaringan tubuh yang cedera sebenarnya telah melewati fase penyembuhan normal. (Loeser, 2021)

Apkarian mengidentifikasi gangguan neurologis lama tersebut sebagai penyakit otak tersendiri, di mana kondisi ini memicu reorganisasi struktural dan fungsional pada korteks serebri secara permanen. (Apkarian, 2022)

Definisi Pakar Asia

Siddall merumuskan gangguan persisten ini sebagai gangguan yang mendominasi kehidupan penderita, di mana maladaptasi sistem saraf pusat memegang peranan utama dalam melanggengkan rasa sakit. (Siddall, 2017)

Inoue mendefinisikan keluhan muskuloskeletal ini sebagai kondisi nyeri muskuloskeletal atau neuropati yang menetap minimal 90 hari, di mana faktor budaya oriental dan beban kerja psikologis memperberat persepsi gangguan tersebut. (Inoue, 2020)

Kim mengonseptualisasikan sindrom multidimensional ini sebagai sindrom yang mengintegrasikan kerusakan somatosensorik dengan kecemasan eksistensial, sehingga menurunkan produktivitas hidup secara drastis. (Kim, 2021)

Jian mengaitkan fenomena fisik oriental ini dengan ketidakseimbangan energi vital tubuh (Qi) yang menyertai inflamasi tingkat rendah pada sistem saraf perifer dan pusat dalam jangka panjang. (Jian, 2019)

Shrestha memaparkan bahwa gangguan klinis regional tersebut mencakup segala bentuk ketidaknyamanan yang gagal berespons terhadap pengobatan standar selama 12 minggu, sehingga memicu disabilitas fisik yang signifikan. (Shrestha, 2022)

Definisi Pakar Indonesia

Meliala menetapkan gangguan neurologis ini sebagai rasa tidak nyaman yang terus berlanjut melampaui waktu penyembuhan jaringan yang normal, di mana komponen neuroplastisitas patologis pada kornu dorsalis medula spinalis mendominasi proses terjadinya gangguan. (Meliala, 2018)

Purba mendeskripsikan keluhan sensorik subjektif ini sebagai keluhan sensorik subjektif yang mengganggu kenyamanan hidup pasien lebih dari 3 hingga 6 bulan, serta memerlukan pendekatan tata laksana multidisiplin yang komprehensif. (Purba, 2019)

Yudiyanta menggarisbawahi bahwa sensasi persisten tersebut merepresentasikan kegagalan mekanisme modulasi endogen (desenden), sehingga rangsangan non-noksius pun dipersepsikan sebagai rasa tidak nyaman yang hebat oleh otak. (Yudiyanta, 2021)

Tjokorda mengemukakan fenomena biopsikososial-spiritual ini sebagai fenomena biopsikososial-spiritual di mana penderita mengalami penderitaan (suffering) berkepanjangan akibat sensitisasi sentral yang tidak terkontrol. (Tjokorda, 2020)

Purnomo menyimpulkan bahwa status abnormalitas fisik tersebut adalah status konstan atau rekuren yang bertahan minimal 3 bulan, yang mana kondisi ini secara progresif merusak kemandirian fungsional dan stabilitas emosional pasien. (Purnomo, 2023)

2. Etiologi Masalah Utama Nyeri Kronis

Berbagai macam faktor klinis dapat memicu timbulnya sensasi subjektif yang menetap lama ini pada sistem persarafan manusia. (Treede et al., 2019)

Faktor Kondisi Medis Kronis

Penyakit degeneratif memicu inflamasi persisten, seperti pada kasus rheumatoid arthritis, osteoarthritis, fibromyalgia, dan infiltrasi keganasan tumor. (Treede et al., 2019)

Faktor Kerusakan Struktur Saraf

Kerusakan langsung pada jaringan neurologis atau neuropati, yang meliputi diabetic neuropathy, post-herpetic neuralgia, sciatica, dan phantom limb pain. (Treede et al., 2019)

Faktur Cedera dan Psikologis

Riwayat trauma masa lalu seperti fraktur tidak sempurna, stres kronis, depresi, ansietas, gangguan pola tidur, serta postur tubuh buruk. (Treede et al., 2019)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Nyeri Kronis

Mekanisme Sensitisasi Tubuh

Patofisiologi berpusat pada sensitisasi perifer dan sentral, di mana inflamasi melepaskan mediator kimia (prostaglandin, bradikinin, histamin) secara terus-menerus yang menurunkan ambang aktivasi nosiseptor. (Woolf, 2021)

Mekanisme Neuroplastisitas Otak

Sinyal dikirim via serabut A-delta dan C ke kornu dorsalis medula spinalis, memicu fenomena wind-up yang meningkatkan responsivitas neuron spinal. Jalur inhibisi desenden mengalami kegagalan, sehingga memicu allodinia dan hiperalgesia. (Woolf, 2021)

Dampak Penyimpangan KDM

Kondisi ini merusak domain KDM secara progresif, meliputi pemenuhan kenyamanan fisik, hambatan mobilitas akibat disfungsi muskuloskeletal, serta distres psikologis konsep diri. (McCance & Huether, 2019)

Skema Pathway Sistemis

Cedera jaringan / Inflamasi kronis / Kerusakan saraf

                   │

                   ▼

Pelepasan mediator kimia (Prostaglandin, Sitokin, Bradikinin)

                   │

                   ▼

         Sensitisasi Perifer (Ambang batas nosiseptor menurun)

                   │

                   ▼

Hantaran impuls nyeri terus-menerus ke Kornu Dorsalis Medula Spinalis

                   │

                   ▼

          Sensitisasi Sentral (Fenomena Wind-Up & Neuroplastisitas)

                   │

                   ▼

Kegagalan Inhibisi Desenden & Hiperalgesia / Allodinia

                   │

                   ▼

  ————————————————————-

  │                                                           │

  ▼                                                           ▼

Persepsi Nyeri Kronis di Korteks Serebri             Gangguan Pola Tidur &

  │                                                  Keterbatasan Mobilitas

  ▼                                                           │

Distres Psikologis (Ansietas/Depresi)                        ▼

  │                                                  Defisit Perawatan Diri

  ▼

Gangguan Rasa Nyaman / Isolasi Sosial

(Woolf, 2021; McCance & Huether, 2019)

4. Manifestasi Klinis Tubuh Nyeri Kronis

a. Data Subjektif Pasien

Keluhan tidak nyaman yang menetap selama lebih dari 3 bulan, sensasi seperti terbakar, menusuk, linu, kelelahan konstan, insomnia, putus asa. (Raja et al., 2020)

b. Data Objektif Pasien

Perilaku protektif menghindari gerakan, ekspresi wajah meringis, tegang, atrofi otot, penurunan kekuatan motorik, penurunan berat badan secara drastis. (Raja et al., 2020)

5. Pemeriksaan Penunjang Medis Nyeri Kronis

a. Pemeriksaan Laboratorium Klinis

Pemeriksaan darah lengkap, Laju Endap Darah (LED), C-Reactive Protein (CRP) untuk inflamasi, Faktor Reumatoid (RF), Anti-CCP, HbA1c untuk neuropati. (Cohen et al., 2021)

b. Pemeriksaan Radiologi Struktur

Foto polos (X-Ray) kerusakan sendi, MRI kompresi saraf dan herniasi diskus, CT-Scan mengevaluasi abnormalitas struktural tulang belakang yang kompleks. (Cohen et al., 2021)

c. Pemeriksaan Diagnostik Lain

Electromyography (EMG) fungsi saraf perifer, Nerve Conduction Studies (NCS), pengujian skala multidimensi Brief Pain Inventory (BPI), McGill Pain Questionnaire (MPQ). (Cohen et al., 2021)

6. Penatalaksanaan Medis Komprehensif Nyeri Kronis

a. Terapi Farmakologis Sistemis

Pemberian non-opioid (Parasetamol, NSAID), adjuvan (Gabapentin, Pregabalin, Amitriptyline), opioid lemah/kuat secara selektif, serta tindakan injeksi blok saraf intervensi epidural steroid. (Duffy et al., 2022)

b. Terapi Non-Farmakologis Fisik

Fisioterapi modalitas termoterapi, latihan ROM aktif/pasif, Transcutaneous Electrical Nerve

Stimulation (TENS), Cognitive Behavioral Therapy (CBT), teknik akupunktur, relaksasi napas

dalam. (Duffy et al., 2022)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan Mandiri

a. Identitas dan Riwayat

Pencatatan nama, umur, pekerjaan, pengkajian PQRST (Provoking, Quality, Region, Severity,Timing) skala NRS 0-10, riwayat operasi trauma masa lalu. (Jarvis, 2019)

b. Pemeriksaan Fisik Sistemis

Inspeksi perilaku meringis tegang, palpasi area hiperalgesia atau allodinia, pemeriksaan atrofi otot

dan kekuatan motorik ekstremitas, penilaian keselarasan rentang gerak (ROM). (Jarvis, 2019)

c. Evaluasi Sistem Organ

Auskultasi bising usus (menilai konstipasi akibat opioid), evaluasi tanda vital (adaptasi otonom tubuh), pemeriksaan integrasi kulit pasca lesi neuropati saraf perifer. (Jarvis, 2019)

d. Pola Fungsi Gordon

Evaluasi pola persepsi kesehatan, penurunan nutrisi akibat distres, gangguan eliminasi alvi, pola insomnia nokturnal, penurunan harga diri, isolasi sosial sekunder. (Nanda International, 2021)

2. Diagnosis Keperawatan Prioritas

3. Perencanaan Intervensi 1 Sampai 5

Panduan Manajemen Intervensi 1

  • Nyeri Kronis (D.0078)
  • Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun. Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun.
  • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238). Tindakan: Observasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas dan skala nyeri. Terapeutik berikan teknik nonfarmakologis (TENS, kompres hangat/dingin). Edukasi jelaskan penyebab dan strategi meredakan nyeri mandiri. Kolaborasi pemberian analgesik adjuvan. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Panduan Manajemen Intervensi 2

  • Gangguan Pola Tidur (D.0055)
  • Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik. Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, tidak segar menurun.
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174). Tindakan: Observasi pola aktivitas dan faktor pengganggu tidur. Terapeutik modifikasi lingkungan kenyamanan kamar (pencahayaan, kebisingan, suhu). Edukasi jelaskan pentingnya tidur cukup dan ajarkan teknik relaksasi otot autogenik. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Panduan Manajemen Intervensi 3

  • Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
  • Luaran: Mobilitas Fisik (L.05042) meningkat. Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, nyeri menurun.
  • Intervensi: Dukungan Mobilisasi (I.05173). Tindakan: Observasi adanya nyeri atau keluhan fisik saat pergerakan. Terapeutik fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu, libatkan keluarga. Edukasi jelaskan tujuan mobilisasi dan ajarkan latihan ROM pasif/aktif bertahap. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Panduan Manajemen Intervensi 4

  • Defisit Perawatan Diri (D.0109)
  • Luaran: Perawatan Diri (L.11103) meningkat. Kriteria Hasil: Kemampuan mandi, mengenakan pakaian, makan, ke toilet meningkat secara mandiri.
  • Intervensi: Dukungan Perawatan Diri (I.11348). Tindakan: Observasi kebiasaan aktivitas perawatan diri dan tingkat kemandirian fisik. Terapeutik sediakan lingkungan aman, fasilitasi kemandirian optimal. Edukasi anjurkan melakukan perawatan diri konsisten. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Panduan Manajemen Intervensi 5

  • Ansietas (D.0080)
  • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, konsentrasi membaik.
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Tindakan: Observasi saat tingkat ansietas berubah dan monitor tanda kecemasan. Terapeutik ciptakan suasana terapeutik tenang, temani pasien. Edukasi informasikan fakta pengobatan, ajarkan teknik guided imagery. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Perencanaan Intervensi 6 Sampai 10

Panduan Manajemen Intervensi 6

  • Keputusasaan (D.0088)
  • Luaran: Harapan (L.09068) meningkat. Kriteria Hasil: Verbalisasi keputusasaan menurun, keterlibatan aktivitas meningkat, pola tidur membaik.
  • Intervensi: Dukungan Koping (I.09244). Tindakan: Observasi pemahaman proses penyakit dan dampak situasi terhadap gaya hidup. Terapeutik diskusikan perubahan peran, hargai pandangan pasien. Edukasi anjurkan mengungkapkan perasaan konstruktif. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Panduan Manajemen Intervensi 7

  • Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)
  • Luaran: Status Kenyamanan (L.08064) meningkat. Kriteria Hasil: Kesejahteraan fisik meningkat, keluhan tidak nyaman menurun, rileks meningkat.
  • Intervensi: Pengaturan Posisi (I.01014). Tindakan: Observasi status oksigenasi dan keselarasan tubuh. Terapeutik atur posisi semi-fowler nyaman, gunakan bantal penyangga area nyeri. Edukasi ajarkan perubahan posisi mandiri. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Panduan Manajemen Intervensi 8

  • Intoleransi Aktivitas (D.0056)
  • Luaran: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat. Kriteria Hasil: Frekuensi nadi normal saat aktivitas, keluhan lelah menurun.
  • Intervensi: Manajemen Energi (I.05178). Tindakan: Observasi fungsi tubuh penyebab kelelahan, monitor kelelahan fisik emosional. Terapeutik sediakan lingkungan rendah stimulus. Edukasi anjurkan aktivitas bertahap. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Panduan Manajemen Intervensi 9

  • Isolasi Sosial (D.0121)
  • Luaran: Keterlibatan Sosial (L.13116) meningkat. Kriteria Hasil: Verbalisasi isolasi menurun, minat berinteraksi meningkat.
  • Intervensi: Promosi Sosialisasi (I.13498). Tindakan: Observasi kemampuan melibatkan diri dalam hubungan interpersonal. Terapeutik motivasi keterlibatan sosial, berikan umpan balik positif. Edukasi anjurkan berinteraksi bertahap. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Panduan Manajemen Intervensi 10

  • Defisit Pengetahuan (D.0111)
  • Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat. Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan manajemen nyeri meningkat.
  • Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383). Tindakan: Observasi kesiapan menerima informasi materi. Terapeutik sediakan media booklet penanganan rumah, jadwalkan edukasi. Edukasi ajarkan strategi mengontrol secara mandiri. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

5. Implementasi dan Evaluasi Asuhan

Pelaksanaan Tindakan Klinis

Tindakan keperawatan dilaksanakan nyata berdasarkan perencanaan, pendokumentasian jam tindakan, respon respon pasien komprehensif bio-psiko-sosial. (Nanda International, 2021)

Penilaian Objektif SOAP

Evaluasi menggunakan format SOAP. S: laporan kenyamanan subjektif pasien. O: observasi ekspresi wajah, rentang ROM, tanda vital. A: analisis keberhasilan luaran SLKI. P: perencanaan keberlanjutan tindakan. (Nanda International, 2021)

DAFTAR PUSTAKA

Cohen, S. P., dkk. (2021). Chronic pain: mechanisms, diagnosis, and management. The Lancet, 397(10289), 2082-2097. thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(21)00393-7/fulltext

Duffy, S., dkk. (2022). Pharmacological and Non-pharmacological Management of Chronic Pain. Journal of Clinical Medicine, 11(4), 1102. mdpi.com/2077-0383/11/4/1102

Inoue, S. (2020). Epidemiological profiles and cultural definitions of chronic musculoskeletal pain in East Asia. Journal of Orthopaedic Science, 25(2), 193-199. sciencedirect.com/journal/journal-of-orthopaedic-science

International Association for the Study of Pain. (2020). IASP Revised Definition of Pain. IASP Press.

Jarvis, C. (2019). Physical Examination and Health Assessment (8th ed.). Elsevier.

Meliala, L. (2018). Patofisiologi dan Tata Laksana Nyeri Neuropatik Kronis. Badan Penerbit FK UGM.

Merskey, H., & Bogduk, N. (2019). Classification of Chronic Pain: Descriptions of Chronic Pain Syndromes (3rd ed.). IASP Press.

Nanda International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023 (12th ed.). Thieme.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

Purba, J. S. (2019). Nyeri Kronis: Aspek Klinis dan Pendekatan Multidisiplin. Cermin Dunia Kedokteran, 46(8), 540-545. cdkjournal.com

Raja, S. N., dkk. (2020). The revised International Association for the Study of Pain definition of pain. Pain, 161(9), 1976-1982. journals.lww.com/pain/fulltext/2020/09000/the_revised_international_association_for_the.6.aspx

Treede, R. D., dkk. (2019). Chronic pain as a symptom or a disease: the IASP classification of chronic pain for the International Classification of Diseases (ICD-11). Pain, 160(1), 19-27. journals.lww.com/pain/fulltext/2019/01000/chronic_pain_as_a_symptom_or_a_disease__the_iasp.4.aspx

Woolf, C. J. (2021). Central sensitization: Implications for the diagnosis and treatment of pain. Pain, 152(3), S2-S15. journals.lww.com/pain/abstract/2011/03001/central_sensitization__implications_for_the.2.aspx


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *