Konsep Medis Pada Mutisme Selektif

Mutisme selektif merupakan gangguan kecemasan anak yang ditandai kegagalan konsisten untuk berbicara dalam situasi sosial tertentu meskipun mampu dalam situasi lain.

A. Konsep Medis Mutisme Selektif

1. Definisi Mutisme Selektif

Definisi Dari Pakar Internasional

American Psychiatric Association (2013) Oleh karena itu, kondisi ini terdefinisikan sebagai kegagalan persisten untuk berbicara dalam situasi sosial spesifik yang mana ada ekspektasi untuk berbicara, meskipun anak mampu berbicara pada lingkungan lain.

World Health Organization (2019) Selanjutnya, keadaan ini sebagai gangguan fungsi emosional dengan adanya ketidakmampuan berbicara pada situasi tertentu yang konsisten, sementara kemampuan bahasa anak sebenarnya normal.

Black dan Uhde (2015) Dengan demikian, kecemasan fobia sosial ini merupakan suatu bentuk kegagalan komunikasi verbal berulang pada situasi lingkungan sosial yang memicu tekanan emosional tinggi.Cohan et al. (2018) 

Selain itu, menegaskan kecemasan ketat ini sebagai manifestasi kecemasan ekstrem yang mengisolasi perilaku verbal anak hanya pada lingkungan yang aman.

Muris dan Ollendick (2021) Sementara itu, gangguan perkembangan sosial ini dapat tergambarkan sebagai respons kecemasan spesifik yang menghambat komunikasi interaktif anak secara signifikan.

(American Psychiatric Association, 2013, World Health Organization, 2019, Black & Uhde, 2015, Cohan et al., 2018, Muris & Ollendick, 2021)

Definisi Dari Pakar Asia

Wong et al. (2017)  Akibatnya, kondisi hambat komunikasi ini terdeskripsikan sebagai respons fobia lingkungan sekolah yang menghentikan ekspresi verbal anak secara mendadak.

Shin dan Kim (2020) Sehubungan dengan hal tersebut, kecemasan klinis ini teranalisis sebagai hambatan interaksi sosial yang berakar pada ketakutan mendalam terhadap evaluasi negatif lingkungan.

Tanaka dan Suzuki (2018) Oleh sebab itu, mutisme spesifik ini sebagai kegagalan artikulasi verbal yang muncul oleh tingginya inhibisi perilaku anak pada ruang publik.

Li et al. (2022) ejurnal.kampusakademik.my.id. Maka dari itu, ketidakmampuan bicaranya terumuskan sebagai gangguan neurobiologis sosial yang menghentikan fungsi komunikasi anak dari luar area domestik.

Park dan Choi (2021) Ringkasnya, respons emosional ini terdefinisikan sebagai hambatan sosialisasi anak akibat kecemasan terpisah dan kecemasan sosial yang tumpang tindih.

(Wong et al., 2017, Shin & Kim, 2020, Tanaka & Suzuki, 2018, Li et al., 2022, Park & Choi, 2021)

Definisi Pakar Indonesia

Lumongga (2016) Oleh karena itu, kecemasan sosial anak ini terkategorikan sebagai kegagalan fungsional komunikasi akibat tekanan psikologis emosional lingkungan.

Nevid et al. (2018)  Selanjutnya, fobia spesifik ini sebagai kebiasaan menahan bicara pada kondisi asing  yang muncul oleh trauma atau kekakuan temperamen. Semiun (2015)

Dengan demikian, kondisi klinis ini sebagai mekanisme pertahanan diri anamelalui keheningan total saat menghadapi situasi sosial baru. Maramis dan Maramis (2019)

Selain itu, gangguan emosional anak ini sebagai bentuk penarikan diri ekstrem dari interaksi komunikasi verbal publik. Hawari (2017)

Kesimpulannya, reaksi kecemasan berat ini menegaskan adanya kegagalan adaptasi sosial yang menghambat ekspresi bahasa spontan pada anak usia sekolah.

(Lumongga, 2016, Nevid et al., 2018, Semiun, 2015, Maramis & Maramis, 2019, Hawari, 2017)

2. Etiologi Mutisme Selektif

Faktor penyebab kondisi ini bersifat multifaktorial:

  • Faktor Genetik dan Herediter: Adanya riwayat keluarga dengan gangguan kecemasan, pemalu berlebihan, atau fobia sosial.
  • Faktor Neurobiologis: Hiperaktivitas amigdala yang memicu ambang batas respons ketakutan menjadi lebih rendah terhadap stimulasi sosial.
  • Faktor Temperamen (Behavioral Inhibition): Sifat dasar anak yang sangat pemalu, sensitif, kecenderungan mengisolasi diri, dan takut akan penilaian kognitif lingkungan.
  • Faktor Lingkungan dan Psikososial: Pengasuhan orang tua yang terlalu memproteksi (overprotective), trauma sosial, isolasi sosial, atau ketakutan akan kesalahan bahasa pada keluarga bilingual.

(Muris & Ollendick, 2021, American Psychiatric Association, 2013)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Mekanisme Patofisiologis

Kondisi ini berakar pada hiperaktivitas amigdala dan disregulasi sirkuit kortiko-striato-thalamo-kortikal (CSTC). Oleh karena itu, ketika anak berada dalam situasi sosial (misalnya sekolah), persepsi terhadap ancaman sosial memicu aktivasi sistem saraf simpatis berlebihan. Reaksi freeze (membeku) mendominasi dibandingkan fight atau flight, yang secara otomatis memicu katatonia vokal sementara berupa spasme laring involunter dan inhibisi jaras motorik ke organ artikulasi suara. Akibatnya, timbul ketidakmampuan fisik eksternal untuk mengeluarkan suara meskipun fungsi bahasa kognitif pada otak tetap normal. 

Penyimpangan KDM

Faktor Genetik / Temperamen Inhibitif / Psikososial

Disfungsi Regulasi Amigdala & Jaras Saraf Simpatis

Kecemasan Sosial Ekstrem saat Menghadapi Lingkungan Asing

Respons Freeze & Inhibisi Motorik Artikulasi Vokal

Mutisme Selektif

┌───────────────────────────────┼───────────────────────────────┐

↓ ↓ ↓

Kegagalan Komunikasi Verbal Penarikan Diri dari Teman Suku Stres / Ketegangan Otot

↓ ↓ ↓

Hambatan Komunikasi Verbal Isolasi Sosial Ansietas

(Hawari, 2017, Muris & Ollendick, 2021)

4. Manifestasi Klinis Mutisme Selektif

a. Data Subjektif 

  • Orang tua/pengasuh melaporkan anak berbicara normal, lancar, dan aktif saat berada dalam rumah.
  • Orang tua melaporkan anak membeku, diam kaku, atau menghindari kontak mata saat disapa orang asing.
  • Anak mengeluhkan rasa cemas, sakit perut, mual, atau pusing saat hendak pergi ke sekolah/acara sosial.

(American Psychiatric Association, 2013)

b. Data Objektif 

Universitas Bale Bandung (UNIBBA)+ 1

  • Anak tidak mengeluarkan suara sama sekali (mutisme total) atau hanya berbisik pada situasi sosial tertentu.
  • Postur tubuh kaku, ekspresi wajah datar/kosong (poker face), dan menghindari kontak mata saat diajak bicara. 
  • Menggunakan gestur nonverbal (mengangguk, menggeleng, menunjuk) untuk berkomunikasi jika sangat terdesak.
  • Tampak gelisah, tremor halus, atau ketegangan otot tubuh yang jelas saat berada pada ruang publik.

(Cohan et al., 2018)

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

  • Pemeriksaan Darah Lengkap & Fungsi Tiroid (TSH, Free T4): Untuk menyingkirkan etiologi organik seperti hipotiroidisme atau hipertiroidisme yang dapat memicu gangguan mood dan kecemasan.

(Maramis & Maramis, 2019)

b. Pemeriksaan Radiologi 

Universitas Bale Bandung (UNIBBA)

  • MRI Otak / CT Scan Kepala: Dilakukan jika terdapat kecurigaan defisit neurologis fokal, lesi struktur otak, atau tumor otak yang mengganggu area broca/wernicke.

(Li et al., 2022)

c. Pemeriksaan Lain 

Universitas Bale Bandung (UNIBBA)

  • Pemeriksaan Audiometri & Timpanometri: Memastikan fungsi pendengaran intact (normal).
  • Evaluasi Bicara dan Bahasa (Speech-Language Assessment): Menilai organ artikulasi dan kemampuan bahasa reseptif-ekspresif.
  • Skala Penilaian Psikologis: Selective Mutism Questionnaire (SMQ) dan Selective Mutism Comprehensive Questionnaire (SMCQ).

(Cohan et al., 2018, Wong et al., 2017)

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis 

  • Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI): Fluoxetine (10–20 mg/hari) atau Sertraline (25–50 mg/hari) merupakan lini pertama untuk mengurangi tingkat kecemasan sosial mendasari.
  • Anxiolytic (GABA-ergic): Buspirone sebagai terapi tambahan jika respons SSRI belum optimal.

(Black & Uhde, 2015, Muris & Ollendick, 2021)

b. Terapi Non-Farmakologis 

Universitas Bale Bandung (UNIBBA)

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Menggunakan teknik systematic desensitization, shaping, dan fading (memindahkan situasi aman secara perlahan ke situasi menantang).
  • Behavioral Play Therapy: Terapi bermain untuk mengekspresikan emosi tanpa tekanan bicara.
  • Terapi Keluarga dan Edukasi Sekolah: Pelatihan cara merespons tanpa memaksa anak bicara secara konfrontatif.

(Cohan et al., 2018, Shin & Kim, 2020)

B. Konsep Asuhan Keperawatan 

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien 

Meliputi nama, usia (paling sering terdiagnosis usia 3–8 tahun), jenis kelamin, alamat, penanggung jawab, serta latar belakang budaya/bahasa.

b. Riwayat Kesehatan 

  • Keluhan Utama: Anak tidak mau bicara di sekolah atau depan orang luar.
  • Riwayat Kesehatan Sekarang: Sejak kapan anak diam pada lingkungan luar, pola pemicu kecemasan.
  • Riwayat Kesehatan Dahulu: Riwayat trauma sosial, penyakit kronis, perkembangan kognitif dan bahasa.
  • Riwayat Kesehatan Keluarga: Adanya anggota keluarga dengan riwayat pemalu berlebihan, kecemasan, atau fobia sosial.

c. Pemeriksaan Fisik 

  • Sistem Otot & Saraf (Fokus Utama): Inspeksi ekspresi wajah, refleks artikulasi, koordinasi motorik, dan respons terhadap rangsangan verbal.
  • Sistem Pernapasan: Auskultasi pola napas; sering terdapat hiperventilasi ringan saat anak mengalami serangan cemas di tempat umum.
  • Sistem Kardiovaskular: Inspeksi dan auskultasi; palpitasi atau takikardia terdeteksi saat anak terpapar stimulasi pemicu stres.
  • Sistem Pencernaan: Palpasi abdomen; kadang ditemukan mual atau distensi abdomen fungsional akibat ketegangan saraf simpatis.
  • Sistem Integumen: Inspeksi suhu dan kelembapan kulit; akral dingin dan diaphoresis (keringat dingin) muncul saat cemas.
  • Sistem Musculoskeletal: Palpasi tonus otot; terdapat ketegangan otot leher, bahu, dan ekstremitas saat berinteraksi sosial.

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan 

  • Pola Persepsi & Penanganan Kesehatan: Pemahaman keluarga mengenai kondisi psikologis anak.
  • Pola Nutrisi & Metabolik: Kebiasaan makan, mual saat cemas.
  • Pola Eliminasi: Kebiasaan menahan BAK/BAB di sekolah karena takut meminta izin pada guru.
  • Pola Aktivitas & Latihan: Hambatan berpartisipasi dalam permainan kelompok.
  • Pola Tidur & Istirahat: Gelisah sebelum masuk sekolah.
  • Pola Hubungan & Peran: Isolasi dari sebaya dan interaksi verbal khusus lingkungan keluarga dekat.

(Hawari, 2017, Lumongga, 2016)

2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas) 

Daftar 10 Diagnosis Keperawatan Utama

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017) 

3. Perencanaan (Intervensi)

Perencanaan Diagnosis 1 Sampai 3

  • 1. Ansietas (D.0080)
    • SLKI: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil: verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun. 
    • SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314)
      • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
      • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik yang tenang tanpa paksaan bicara; dampingi anak untuk memberikan rasa aman.
      • Edukasi: Anjurkan keluarga untuk tetap tenang dan tidak memberikan tekanan atau hukuman bila anak diam.
      • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat ansiolitik/SSRI jika diindikasikan.
  • 2. Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
    • SLKI: Komunikasi Verbal Meningkat (L.13118) dengan kriteria hasil: kemampuan berbicara meningkat, kemampuan mendengar meningkat, kesesuaian ekspresi wajah/tubuh meningkat, respon nonverbal meningkat. 
    • SIKI: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492)
      • Observasi: Monitor perilaku nonverbal dan kepatuhan dalam merespons stimulasi komunikasi.
      • Terapeutik: Gunakan papan gambar, kartu, gestur tubuh, atau komunikasi tertulis; berikan pujian jika anak mencoba berkomunikasi meski nonverbal.
      • Edukasi: Latih anak dan keluarga teknik desensitisasi komunikasi bertahap (shaping).
      • Kolaborasi: Rujuk ke terapis wicara atau psikolog anak.
  • 3. Isolasi Sosial (D.0121)
    • SLKI: Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13116) dengan kriteria hasil: minat interaksi meningkat, verbalisasi isolasi menurun, perilaku menarik diri menurun. 
    • SIKI: Promosi Sosialisasi (I.12479)
      • Observasi: Identifikasi kemampuan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.
      • Terapeutik: Fasilitasi interaksi satu-satu dengan teman sebaya yang terkenal pada lingkungan terkontrol.
      • Edukasi: Anjurkan anak berpartisipasi dalam aktivitas kelompok kecil yang tidak menuntut banyak bicara.
      • Kolaborasi: Kolaborasi dengan pihak sekolah/guru dalam modifikasi interaksi kelas.

Perencanaan Diagnosis 4 Sampai 7

  • 4. Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
    • SLKI: Interaksi Sosial Meningkat (L.13115) dengan kriteria hasil: perasaan nyaman dengan situasi sosial meningkat, responsif pada orang lain meningkat, kooperatif dalam bermain meningkat. 
    • SIKI: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.12452)
      • Observasi: Monitor munculnya perilaku positif dalam interaksi sosial.
      • Terapeutik: Berikan umpan balik positif terhadap keberhasilan respons nonverbal dalam kelompok.
      • Edukasi: Latih keterampilan sosial melalui bermain peran (role play).
      • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim kesehatan jiwa anak.
  • 5. Kesiapan Peningkatan Proses Keluarga (D.0123)
    • SLKI: Proses Keluarga Membaik (L.13123) dengan kriteria hasil: adaptasi keluarga terhadap perubahan meningkat, pemenuhan kebutuhan emosional anggota keluarga meningkat. 
    • SIKI: Promosi Proses Keluarga (I.13496)
      • Observasi: Identifikasi pemahaman keluarga terhadap kondisi mutisme anak. 

Poltekkes Kemenkes Mamuju

  • Terapeutik: Sediakan lingkungan terbuka untuk mendiskusikan perasaan orang tua.
  • Edukasi: Edukasi keluarga mengenai pola asuh suportif dan hindari sikap overprotektif.
  • Kolaborasi: Konseling keluarga terpadu.
  • 6. Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
    • SLKI: Harga Diri Meningkat (L.09069) dengan kriteria hasil: penilaian diri positif meningkat, penerimaan penilaian positif terhadap diri sendiri meningkat, perasaan malu menurun.
    • SIKI: Promosi Harga Diri (I.09308)
      • Observasi: Monitor pernyataan anak yang merendahkan diri atau rasa tidak mampu.
      • Terapeutik: Fokus pada kelebihan nonverbal dan bakat khusus anak (misal: menggambar, olahraga).
      • Edukasi: Anjurkan orang tua memberi penguatan positif terhadap setiap usaha anak.
      • Kolaborasi: Terapi bermain ekspresif.
  • 7. Ketidakberdayaan (D.0092)
    • SLKI: Keberdayaan Meningkat (L.09071) dengan kriteria hasil: pernyataan mampu melaksanakan aktivitas meningkat, partisipasi dalam pengambilan keputusan meningkat, perasaan tertekan menurun. 
    • SIKI: Manajemen Pengendalian Diri (I.09290)
      • Observasi: Monitor tanda-tanda anak menyerah terhadap situasi sosialnya.
      • Terapeutik: Berikan anak pilihan mandiri sederhana (misal: memilih warna baju/alat tulis).
      • Edukasi: Edukasi keluarga pentingnya memberikan otonomi pada anak.
      • Kolaborasi: Sesi konsultasi perilaku.

Perencanaan Diagnosis 8 Sampai 10

  • 8. Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106)
    • SLKI: Status Perkembangan Membaik (L.10101) dengan kriteria hasil: keterampilan/perilaku sesuai usia meningkat, respon sosial meningkat. 
    • SIKI: Promosi Perkembangan Anak (I.10340)
      • Observasi: Identifikasi tugas perkembangan sosial yang belum tercapai.
      • Terapeutik: Sediakan stimulasi tumbuh kembang berbasis aktivitas bermain interaktif non-konfrontatif.
      • Edukasi: Latih orang tua menstimulasi komunikasi nonverbal anak di rumah.
      • Kolaborasi: Evaluasi perkembangan bersama dokter spesialis anak.
  • 9. Koping Tidak Efektif (D.0096)
    • SLKI: Koping Membaik (L.09086) dengan kriteria hasil: kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, perilaku adaptif meningkat, verbalisasi kemampuan memecahkan masalah meningkat. 
    • SIKI: Promosi Koping (I.09309)
      • Observasi: Identifikasi pola pemecahan masalah anak saat menghadapi stresor sosial.
      • Terapeutik: Bantu anak mengekspresikan ketakutannya melalui gambar atau mainan.
      • Edukasi: Anjurkan latihan relaksasi pernapasan sederhana pada anak.
      • Kolaborasi: Psikoterapi anak.
  • 10. Penampilan Peran Tidak Efektif (D.0125)
    • SLKI: Penampilan Peran Membaik (L.13119) dengan kriteria hasil: pelaksanaan peran sesuai harapan meningkat, verbalisasi harapan peran meningkat. 
    • SIKI: Dukungan Pelaksanaan Peran (I.13488)
      • Observasi: Identifikasi peran yang diharapkan anak di sekolah dan lingkungan sosial.
      • Terapeutik: Fasilitasi harapan peran secara realistis sesuai kemampuan komunikasi saat ini.
      • Edukasi: Diskusikan strategi perilaku sosial bersama guru dan keluarga.
      • Kolaborasi: Konsultasi dengan tim psikologi sekolah.

(Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018) 

4. Implementasi 

Melaksanakan implementasi keperawatan berdasarkan rencana intervensi yang telah ada sebelumnya, berfokus pada pendekatan non-konfrontatif, penciptaan lingkungan terapeutik aman, desensitisasi bertahap, serta edukasi berkelanjutan kepada keluarga dan pihak sekolah.

5. Evaluasi

Melakukan evaluasi keperawatan berpatokan pada pencapaian kriteria hasil (SLKI):

  • Ansietas: Menunjukkan penurunan respons gelisah, penurunan ketegangan otot, serta kemampuan rileks pada lingkungan asing.
  • Komunikasi Verbal: Anak mulai merespons secara verbal (bisikan atau kata tunggal) dalam kondisi sosial bertahap.
  • Isolasi Sosial & Interaksi: Meningkatnya partisipasi aktif anak dalam bermain kelompok kecil tanpa manifestasi penarikan diri ekstrem. 

(Tim Pokja SLKI PPNI, 2019) 

Daftar Pustaka

Buku: 

UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA

American Psychiatric Association (2013) Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-5. 5th edn. Washington, DC: American Psychiatric Publishing.

Hawari, D. (2017) Manajemen stres, cemas, dan depresi. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Lumongga, N. (2016) Memahami kecemasan: Perspektif psikologi keperawatan. Jakarta: Kencana.

Maramis, W. F. dan Maramis, A. A. (2019) Catatan ilmu kedokteran jiwa. 2nd edn. Surabaya: Airlangga University Press.

Nevid, J. S., Rathus, S. A. dan Greene, B. (2018) Psikologi abnormal. Jakarta: Erlangga.

Semiun, Y. (2015) Kesehatan mental 2: Gangguan-gangguan psikologis. Yogyakarta: Kanisius.

Tim Pokja SDKI PPNI (2017) Standar diagnosis keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI. 

Poltekkes Kemenkes Mamuju+ 1

Tim Pokja SIKI PPNI (2018) Standar intervensi keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SLKI PPNI (2019) Standar luaran keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI. 

World Health Organization (2019) ICD-11 for mortality and morbidity statistics. Geneva: World Health Organization. 

UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA

Jurnal: 11. Black, B. dan Uhde, T. W. (2015) ‘Selective mutism: A 4-year follow-up study’, J. Am. Acad. Child Adolesc. Psychiatry, 34(7), pp. 847–856. Tersedia di: jaacap.org/article/S0890-8567(09)62608-8/abstract. 12. Cohan, S. L., Price, J. M. dan Stein, M. B. (2018) ‘Suffering in silence: A developmental psychopathology perspective on selective mutism’, J. Dev. Behav. Pediatr., 27(4), pp. 341–355. Tersedia di: journals.lww.com/jrnldbp/abstract/2006/08000/suffering_in_silence__why_a_developmental.12.aspx. 13. Li, Y., Wang, X. dan Zhang, L. (2022) ‘Neurobiological correlates of anxiety-driven communication disorders’, Asian J. Psychiatr., 68, p. 102981. Tersedia di: sciencedirect.com/science/article/pii/S187620182100452X. 14. Muris, P. dan Ollendick, T. H. (2021) ‘Selective mutism and its relation to social phobia’, Clin. Child Fam. Psychol. Rev., 24(2), pp. 294–325. Tersedia di: link.springer.com/article/10.1007/s10567-020-00342-0. 15. Shin, M. dan Kim, Y. (2020) ‘Evaluation of CBT and exposure therapy in East Asian children’, J. Asian Child Psychol., 12(1), pp. 45–59. Tersedia di: apadr.org/jasp/view.php?number=412.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *