Kanker serviks merupakan keganasan ginekologi pada leher rahim akibat infeksi persisten Human Papillomavirus yang memerlukan tata laksana komprehensif.
- A. KONSEP MEDIS KANKER SERVIKS
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS KANKER SERVIKS
1. Definisi Kanker Serviks
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization merumuskan penyakit ini sebagai neoplasma ganas primer yang berkembang pada zona transformasi leher rahim akibat integrasi genomik Human Papillomavirus risiko tinggi (WHO, 2024).
Selanjutnya, American College of Obstetricians and Gynecologists menetapkan keganasan reproduksi ini sebagai proliferasi seluler abnormal pada jaringan epitel leher rahim yang berpotensi melakukan invasi stroma (ACOG, 2023).
Sementara itu, Berek mengonseptualisasikan neoplasia ini sebagai gangguan klonal ganas sel epitel skuamosa atau adenokarsinoma yang menginduksi kerusakan arsitektur serviks dan vaskularisasi lokal (Berek, 2020).
Kemudian, Hoffman dkk. mendefinisikan penyakit ini sebagai tumor epitelial leher rahim yang menunjukkan disregulasi siklus sel masif akibat penekanan protein tumor supresor p53 dan pRb (Hoffman dkk., 2022).
Akhirnya, Fritz menyatakan bahwa karsinoma reproduksi ini merupakan massa maligna invasif pada uterus bagian bawah yang memicu destruksi jaringan ikat sekitar serta mengganggu fungsi organ panggul (Fritz, 2021).
Definisi Pakar Asia
Harada dkk. mengategorikan keganasan ini sebagai lesi tumor ganas epitel rahim bawah yang menunjukkan peningkatan densitas mikrovaskular serta mengekspresikan penanda proliferasi seluler tinggi (Harada dkk., 2022).
Sementara itu, Tanmahasamut dkk. merumuskan penyakit onkologi ini sebagai neoplasma ganas organ reproduksi wanita yang menjadi penyebab utama morbiditas panggul dan membutuhkan deteksi dini via skrining sitologi (Tanmahasamut dkk., 2023).
Secara senada, Kim dkk. mendeskripsikan lesi ganas ini sebagai gangguan epitel leher rahim yang mengalami mutasi somatik sekunder dan resisten terhadap mekanisme apoptosis normal tubuh (Kim dkk., 2024).
Lebih lanjut, Chao dkk. mengonseptualisasikan neoplasia panggul ini sebagai tumor ganas yang menginduksi hipoksia jaringan fokal dan memicu infiltrasi sel inflamasi kronis ke dalam stroma rahim (Chao dkk., 2022).
Oleh karena itu, Saito menetapkan kelainan struktur uterus ini sebagai pertumbuhan ganas monoklonal yang merusak integritas membran basal epitel sehingga menyebar luas ke parametrium (Saito, 2023).
Definisi Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merumuskan neoplasma ini sebagai karsinoma epitelial yang terjadi pada leher rahim wanita dan memiliki kaitan erat dengan infeksi virus kronis (Kemenkes RI, 2023).
Berikutnya, Prawirohardjo menjelaskan kelainan maligna ini sebagai tumor ganas ginekologi yang paling sering merusak jaringan uteri dan umumnya berawal dari lesi prakanker intraepitelial (Prawirohardjo, 2020).
Dengan demikian, Anwar mendefinisikan penyakit reproduksi ini sebagai keganasan leher rahim yang ditandai oleh transformasi anaplastik sel skuamosa atau kelenjar akibat kegagalan sistem imun lokal (Anwar, 2021).
Sejalan dengan hal tersebut, Hendarto menegaskan bahwa kondisi neoplastik ini merupakan karsinoma primer yang menimbulkan gejala perdarahan kontak dan membutuhkan pendekatan diagnosis multimodalitas (Hendarto, 2022).
Pada akhirnya, Suparman mengonseptualisasikan gangguan malignansi ini sebagai massa tumor ganas yang mengalami ekspansi volume secara progresif dan merusak percabangan vaskular panggul (Suparman, 2022).
2. Etiologi Kanker Serviks
Agen Infeksius Utama
Etiologi utama dari pembentukan karsinoma leher rahim ini berpusat pada infeksi kronis dan persisten oleh Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi, terutama genotipe 16 dan 18. Virus ini mengintegrasikan materi genetiknya ke dalam DNA sel inang pada zona transformasi. Akibatnya, terjadi ekspresi berlebih dari onkoprotein E6 dan E7 yang secara selektif mengikat serta mendegradasi protein supresor tumor p53 dan pRb. (WHO, 2024, Kemenkes RI, 2023)
Kofaktor Perilaku Seksual
Selanjutnya, aktivitas seksual pada usia dini dan memiliki mitra seksual multipel secara signifikan meningkatkan probabilitas paparan virus ini. Selain itu, kebiasaan merokok bertindak sebagai kofaktor kimiawi penting karena metabolit nikotin dapat merusak DNA sel Langerhans lokal. Akhirnya, penggunaan kontrasepsi hormonal jangka panjang serta status multiparitas mempercepat proliferasi seluler melalui regulasi reseptor hormon reproduksi. (Berek, 2020, Prawirohardjo, 2020)
3. Patofisiologi dan KDM
Mekanisme Karsinogenesis
Proses patologis bermula ketika partikel virus HPV masuk melalui mikro-abrasi epitel menuju sel basal pada zona transformasi. Setelah menginfeksi sel basal, virus mereplikasi diri secara episomal pada lesi tingkat rendah. Namun, pada lesi tingkat tinggi, integrasi DNA virus ke dalam genom inang memicu destruksi gen E2 yang berfungsi sebagai repressor onkoprotein E6 dan E7. (Hoffman dkk., 2022, Anwar, 2021)
Invasi Stroma Vaskular
Kondisi tanpa represi ini mengakibatkan proliferasi sel basal yang tidak terkendali dan kegagalan apoptosis seluler. Seiring waktu, penumpukan mutasi genetik mengubah Neoplasia Intraepitel Serviks (NIS) tingkat tiga menjadi karsinoma invasif yang menembus membran basal stroma. Pertumbuhan tumor yang cepat merangsang proses angiogenesis baru yang menghasilkan pembuluh darah rapuh dan mudah ruptur. (Fritz, 2021, Hendarto, 2022)
Skema Penyimpangan KDM
Infeksi Persisten HPV Risiko Tinggi (Tipe 16 & 18)
│
▼
Integrasi Genom Virus ke DNA Sel Basal Serviks
│
▼
Up-regulasi Onkoprotein E6 dan E7
│
▼
Degradasi Protein Supresor Tumor (p53 dan pRb)
│
▼
Proliferasi Sel Epitel Tanpa Kendali
│
▼
Karsinoma Invasif Tembus Membran Basal
│
─────────────────────────────────────────────────────────────────────────
│ │ │
Infiltrasi Jaringan & Pertumbuhan Massa Infiltrasi Jaringan
Angiogenesis Baru yang Rapuh Menyumbat Ostium Uteri ke Parametrium & Saraf
│ │ │
▼ ▼ ▼
Nekrosis & Ruptur Vaskular Obstruksi Aliran Darah Penekanan Pleksus
Saat Gesekan / Kontak Haid & Keputihan Sakralis / Sensorik
│ │ │
▼ ▼ ▼
[Risiko Perdarahan] [Gangguan Rasa Nyaman] [Nyeri Akut]
│ (Mual, Kembung, Bau)
▼
Anemia & Penurunan Hb
│
▼
[Perfusi Perifer Tidak Efektif]
(Berek, 2020, Prawirohardjo, 2020, Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
4. Manifestasi Klinis Kanker Serviks
a. Data Subjektif
Pasien sering mengeluhkan adanya perdarahan pervaginam abnormal dari luar siklus menstruasi atau setelah melakukan hubungan seksual. Lebih lanjut, pasien melaporkan keluarnya cairan keputihan yang encer, berwarna merah muda, kecokelatan, berair, dan berbau sangat busuk akibat pembusukan jaringan tumor. Pasien juga menyatakan adanya nyeri panggul yang tumpul, menjalar ke paha atau punggung bawah, serta nyeri saat berhubungan seksual. (ACOG, 2023, Tanmahasamut dkk., 2023)
b. Data Objektif
Pada pemeriksaan inspekulo, tampak massa tumor eksofitik seperti kembang kol yang rapuh, mudah berdarah, atau lesi endofitik berupa ulkus bergaung pada porsio. Kemudian, teraba adanya pengerasan atau nodularitas pada jaringan parametrium pemeriksaan colok vaginal-rektal. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, terdapat nilai Hemoglobin serum rendah dan hitung leukosit dapat meningkat jika terjadi infeksi sekunder pada jaringan nekrotik. (Kemenkes RI, 2023, Prawirohardjo, 2020)
5. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium Dan Radiologi
Evaluasi darah lengkap menunjukkan penurunan kadar Hemoglobin, Hematokrit, dan jumlah eritrosit yang menandakan anemia kronis akibat perdarahan tumor berulang. Sementara itu, menggunakan pemeriksaan fungsi ginjal untuk mendeteksi ada tidaknya komplikasi uropati obstruktif sekunder. Magnetic Resonance Imaging (MRI) panggul bertindak sebagai modalitas pilihan utama untuk menilai kedalaman invasi stroma, keterlibatan parametrium, serta perluasan tumor ke dinding vagina. (ACOG, 2023, Kemenkes RI, 2023)
Sitologi Dan Sitopatologi
Sitologi vagina (Pap Smear) dan tes DNA HPV merupakan modalitas penapisan awal untuk mendeteksi keberadaan lesi intraepitelial dan muatan virus risiko tinggi. Oleh karena itu, melakukan pemeriksaan Kolposkopi sebagai tindak lanjut sitologi abnormal guna memvisualisasikan pola vaskularisasi atipik. Akhirnya, melanjutkan biopsi serviks dengan pemeriksaan Patologi Anatomi sebagai standar baku emas untuk menegakkan diagnosis histopatologis karsinoma. (Berek, 2020, Kemenkes RI, 2023)
6. Penatalaksanaan Medis
Terapi Farmakologis Onkologi
Pemberian kemoterapi berbasis platinum, seperti Cisplatin (dosis rumusan: Dosis = 40mg luas permukaan tubuh, diberikan mingguan selama radiasi), bertindak sebagai radiosensitizer untuk meningkatkan efektivitas destruksi sel kanker. Mengkombinkasikan terapi target menggunakan antibodi monoklonal anti-VEGF dengan rejimen kemoterapi pada kasus stadium lanjut atau rekuren untuk menghambat angiogenesis tumor. Mnerapkan pemberian analgesik berjenjang ketat untuk mengendalikan nyeri kanker. (ACOG, 2023, Hoffman dkk., 2022)
Intervensi Non-Farmakologis
Tindakan operatif berupa Histerektomi Radikal serta dengan Limfadenektomi panggul bilateral terindikasikan sebagai terapi utama untuk stadium awal. Sebaliknya, terapi radiasi modalitas ganda, yang mengombinasikan Radioterapi Eksternal (EBRT) dan Brakiterapi intrakaverner, menjadi pilihan kuratif utama untuk stadium lokal lanjut. Manajemen nutrisi adekuat dengan diet tinggi kalori tinggi protein serta memberikan dukungan psikososial paliatif guna mempertahankan kualitas hidup pasien. (Berek, 2020, Kemenkes RI, 2023)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Fokus Identitas Dan Riwayat
Pengumpulan identitas mencakup nama, nomor rekam medis, status pernikahan, dan usia pasien, yang mana insidensi tertinggi ditemukan pada rentang usia 35 hingga 55 tahun. Perawat mengkaji keluhan utama berupa perdarahan pervaginam pasca-senggama atau keputihan berbau busuk yang persisten. Riwayat ginekologi mencakup usia menarke, paritas tinggi, usia perkawinan pertama yang sangat muda, riwayat infeksi menular seksual, serta menelaah riwayat skrining secara mendalam. (Anwar, 2021, Tarigan, 2021, Utami, 2021)
Pemeriksaan Fisik Sistemik
- Inspeksi: Pemeriksaan luar menunjukkan wajah tampak pucat, konjungtiva palpebra anemis, dan penurunan massa otot pada stadium lanjut. Inspeksi daerah genitalia eksterna menunjukkan adanya noda perdarahan atau sekret keputihan pervaginam yang kental; pemeriksaan inspekulo memperlihatkan massa tumor rapuh berbenjol-benjol pada serviks.
- Palpasi: Palpasi abdomen bawah dapat mendeteksi adanya massa padat pada area suprasimpisis jika ukuran tumor telah meluas ke korpus uteri. Pemeriksaan bimanual meraba adanya indurasi jaringan serviks dan kekakuan pada parametrium akibat infiltrasi tumor.
- Perkusi: Perkusi pada area sudut kostovertebra dilakukan untuk menilai adanya nyeri ketok yang mengindikasikan komplikasi hidronefrosis akibat obstruksi ureter distal.
- Auskultasi: Auskultasi sistem kardiovaskular menunjukkan adanya bising jantung fungsional jika pasien mengalami anemia berat dengan status hiperdinamik. Memastikan Auskultasi sistem pencernaan tetap ternilai untuk memantau efek samping kemoterapi terhadap motilitas usus. (Black & Hawks, 2019, Utami, 2021)
Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi kesehatan memperlihatkan ketakutan akan kematian dan persepsi keliru mengenai penyakit kanker sebagai kutukan. Pola nutrisi-metabolik sering terganggu, dengan adanya anoreksia, mual, muntah akibat efek sitostatika, serta penurunan berat badan secara drastis. Selanjutnya, pola eliminasi mengalami gangguan berupa retensi urine atau inkontinensia urine jika telah terbentuk fistula, serta konstipasi kronis akibat penekanan rektum. Pola seksualitas-reproduksi mengalami disfungsi total akibat dispareunia hebat, perdarahan kontak, dan ketakutan akan penularan penyakit atau penolakan pasangan. (Smeltzer & Bare, 2020, Tarigan, 2021)
2. Diagnosis Keperawatan
Klaster Prioritas 1-5
- D.0012 Risiko Perdarahan d.d. gangguan koagulasi (infiltrasi tumor pada vaskular serviks).
- D.0009 Perfusi Perifer Tidak Efektif b.d. penurunan konsentrasi hemoglobin d.d. pengisian kapiler >2 detik, akral dingin, pucat.
- D.0077 Nyeri Akut b.d. agen pencedera fisiologis (infiltrasi tumor ke jaringan saraf panggul) d.d. mengeluh nyeri, tampak meringis.
- D.0080 Ansietas b.d. krisis situasional / ancaman kematian d.d. merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi, tampak tegang.
- D.0019 Defisit Nutrisi b.d. peningkatan kebutuhan metabolisme / efek agen kemoterapi d.d. berat badan menurun minim 10%, anoreksia.
Klaster Prioritas 6-10
- D.0069 Disfungsi Seksual b.d. perubahan fungsi/struktur tubuh akibat kanker serviks d.d. mengeluh aktivitas seksual berubah.
- D.0074 Gangguan Rasa Nyaman b.d. gejala penyakit (keputihan berbau busuk) d.d. mengeluh tidak nyaman, timbul gejala distress.
- D.0056 Intoleransi Aktivitas b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (anemia) d.d. mengeluh lelah, lesu.
- D.0142 Risiko Infeksi d.d. ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer (nekrosis jaringan tumor serviks).
- D.0111 Defisit Pengetahuan b.d. kurang terpapar informasi tentang regimen terapi kanker d.d. menanyakan masalah yang dihadapi. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Diagnosa 1 (D.0012)
- Luaran Utama: Tingkat Perdarahan Menurun (L.02017)
- Kriteria Hasil: Kelembaban membran mukosa meningkat, kognitif meningkat, perdarahan pervaginam menurun, hemoglobin membaik, hematokrit membaik, tekanan darah membaik, denyut nadi membaik.
- Intervensi Utama: Pencegahan Perdarahan (I.02067)
- Observasi: Monitor tanda dan gejala perdarahan masif; monitor nilai hemoglobin dan hematokrit sebelum dan setelah kehilangan darah; monitor tanda-tanda vital ortostatik.
- Terapeutik: Batasi tindakan pemeriksaan dalam (vaginal touché) yang tidak diperlukan; pertahankan tirah baring selama perdarahan aktif; hindari pengukuran suhu rektal.
- Edukasi: Anjurkan menghindari konstipasi dengan tidak mengejan berlebihan; jelaskan tanda perdarahan yang harus segera dilaporkan kepada perawat.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian produk darah (transfusi PRC) dan kolaborasi pemberian agen hemostatik atau vitamin K jika diperlukan.
Rencana Diagnosa 2 (D.0009)
- Luaran Utama: Perfusi Perifer Meningkat (L.02011)
- Kriteria Hasil: Denyut nadi perifer meningkat, penyembuhan jaringan meningkat, pengisian kapiler membaik (<2 detik), warna kulit pucat menurun, akral dingin menurun, turgor kulit membaik.
- Intervensi Utama: Perawatan Sirkulasi (I.02079)
- Observasi: Periksa sirkulasi perifer secara komprehensif (nadi, edema, pengisian kapiler, warna, suhu); monitor status hidrasi dan intake-output cairan harian.
- Terapeutik: Berikan posisi semi-fowler untuk mengoptimalkan ekspansi paru dan sirkulasi; lakukan hidrasi cairan vena sesuai program; hindari pemasangan manset pada ekstremitas cedera.
- Edukasi: Anjurkan pasien mengonsumsi makanan tinggi zat besi dan protein; ajarkan melakukan perawatan kulit dan pencegahan luka tekan secara mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian suplemen zat besi parenteral atau eritropoetin dan kolaborasi penentuan dosis transfusi darah.
Rencana Diagnosa 3 (D.0077)
- Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
- Kriteria Hasil: Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat, keluhan nyeri panggul menurun, meringis menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik, pola tidur membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri kanker; identifikasi skala nyeri dan respon nyeri non verbal.
- Terapeutik: Fasilitasi posisi nyaman yang dapat menurunkan ketegangan panggul; berikan teknik nonfarmakologis (relaksasi guided imagery); kontrol lingkungan yang memperberat nyeri.
- Edukasi: Jelaskan strategi meredakan nyeri secara mandiri; anjurkan memonitor nyeri secara mandiri; ajarkan teknik analgetik non farmakologis yang tepat.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik opioid terjadwal sesuai dengan tangga analgesik tingkat lanjut menurut World Health Organization.
Rencana Diagnosa 4 (D.0080)
- Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir menurun, perilaku tegang menurun, gelisah menurun, konsentrasi membaik, kontak mata membaik, pola tidur membaik.
- Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (kondisi klinis, prosedur baru); monitor tanda ansietas fisik dan verbal.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan tenang dan aman; dengarkan keluhan pasien dengan empati; gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
- Edukasi: Jelaskan semua prosedur tindakan medis termasuk sensasi yang mungkin dialami; ajarkan teknik relaksasi napas dalam dan distraksi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas atau rujukan ke psikolog onkologi untuk psikoterapi suportif berkelanjutan.
Rencana Diagnosa 5 (D.0019)
- Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
- Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, kekuatan otot pengunyah meningkat, serum albumin meningkat, verbalisasi keinginan nutrisi meningkat, indeks massa tubuh membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Identifikasi status nutrisi, alergi makanan, dan keluhan mual muntah akibat efek kemoterapi; monitor berat badan dan hasil laboratorium penting.
- Terapeutik: Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dengan tampilan menarik; fasilitasi kebersihan mulut sebelum makan; sediakan suplemen makanan.
- Edukasi: Anjurkan diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP) untuk mendukung pemulihan jaringan; ajarkan posisi duduk tegak saat makan jika mampu.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antiemetik pra-kemoterapi dan kolaborasi dengan ahli gizi untuk penentuan jenis dan jumlah kalori harian.
Rencana Diagnosa 6 (D.0069)
- Luaran Utama: Fungsi Seksual Membaik (L.07055)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun, mencari informasi fungsi seksual meningkat, kepuasan hubungan seksual meningkat, verbalisasi ekspektasi seksual adaptif meningkat.
- Intervensi Utama: Konseling Seksualitas (I.07214)
- Observasi: Identifikasi kesiapan pasien dan pasangan untuk mendiskusikan perubahan fungsi seksual akibat keganasan panggul.
- Terapeutik: Berikan kesempatan pada pasien mengungkapkan ketakutan akan penolakan pasangan; jaga privasi selama interaksi; bersikap empati tanpa menghakimi.
- Edukasi: Jelaskan efek radiasi atau pembedahan terhadap perubahan anatomis vagina; ajarkan penggunaan lubrikan berbasis air untuk mengurangi nyeri.
- Kolaborasi: Rujuk ke seksolog klinis atau kelompok pendukung kanker wanita jika pasien menunjukkan tanda depresi seksual berat.
Rencana Diagnosa 7 (D.0074)
- Luaran Utama: Status Kenyamanan Meningkat (L.08064)
- Kriteria Hasil: Kesejahteraan fisik meningkat, rileks meningkat, keluhan tidak nyaman menurun, timbul gejala distress menurun, keluhan bau genitalia menurun.
- Intervensi Utama: Perawatan Kenyamanan (I.08245)
- Observasi: Identifikasi gejala yang menyebabkan ketidaknyamanan fisik dan psikologis (sekret vagina berbau busuk, gatal, iritasi sekitar paha).
- Terapeutik: Fasilitasi kebersihan perineum secara rutin (vulva hygiene); ganti linen bed dan pembalut secara berkala; berikan pewangi ruangan non-menyengat.
- Edukasi: Ajarkan cara menjaga kebersihan area genitalia dengan air bersih mengalir; jelaskan pentingnya mengganti pakaian dalam berbahan katun.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antiseptik topikal vaginal atau antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder bakteri anaerob penyebab bau.
Rencana Diagnosa 8 (D.0056)
- Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
- Kriteria Hasil: Frekuensi nadi meningkat, kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, kecepatan berjalan meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Monitor kelelahan fisik dan emosional berlebihan; monitor pola dan jam tidur pasien; monitor lokasi ketidaknyamanan selama aktivitas.
- Terapeutik: Fasilitasi aktivitas harian mandiri sesuai toleransi klinis; jadwalkan aktivitas terstruktur dengan periode istirahat adekuat; sediakan lingkungan nyaman.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring selama fase kelemahan ekstrem; ajarkan teknik manajemen waktu aktivitas; ajarkan strategi koping kelelahan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis untuk koreksi anemia sebagai penyebab utama keletihan (transfusi atau terapi eritropoetin).
Rencana Diagnosa 9 (D.0142)
- Luaran Utama: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Kriteria Hasil: Kebersihan tangan meningkat, kebersihan badan meningkat, demam menurun, cairan vagina berbau busuk menurun, kadar leukosit membaik.
- Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik pada area nekrosis tumor serviks; monitor hitung jenis leukosit harian.
- Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; pertahankan lingkungan aseptik; terapkan teknik sterilitas tinggi pada setiap pemasangan kateter urin atau tampon.
- Edukasi: Ajarkan cuci tangan 6 langkah dengan benar kepada pasien dan keluarga; jelaskan tanda infeksi dini yang harus diwaspadai.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi antibiotik spektrum luas atau anti jamur sistemik sesuai hasil kultur sekret vagina.
Rencana Diagnosa 10 (D.0111)
- Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi pemahaman proses penyakit meningkat, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun, pertanyaan menurun.
- Intervensi Utama: Edukasi Proses Penyakit (I.12444)
- Observasi: Identifikasi tingkat pengetahuan pasien saat ini mengenai kanker serviks dan kesiapan psikologis menerima informasi regimen terapi.
- Terapeutik: Sediakan materi edukasi terstruktur (leaflet, lembar balik, video); jadwalkan waktu edukasi sesuai kesepakatan bersama; fasilitasi tanya jawab.
- Edukasi: Jelaskan etiologi, patofisiologi, tahapan stadium kanker, serta efek samping pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi secara jujur dan komprehensif.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim onkologi multidisiplin untuk memberikan program edukasi terintegrasi pra-tindakan radikal.
(Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
4. Implementasi
Pelaksanaan Protokol Onkologi
Menjakankan implementasi keperawatan secara sistematis dengan mengutamakan keselamatan pasien (patient safety) dan pencegahan komplikasi akut akibat perkembangan massa kanker. Perawat melaksanakan pemantauan hemodinamik, melakukan perawatan vulva hygiene aseptik untuk meminimalkan bau dan risiko infeksi sekunder, serta mengelola pemberian kemoterapi sesuai protokol tri-fokus. MengimplementasikanTindakan manajemen nyeri kanker melalui kombinasi reposisi tubuh dan pemberian analgetik narkotik secara akurat tepat waktu. (Black & Hawks, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
5. Evaluasi
Pencatatan SOAP Perkembangan
Menyusun evaluasi keperawatan pada setiap akhir shift dinas untuk menilai pencapaian luaran keperawatan berdasarkan kriteria hasil SLKI. Mencatat data perkembangan menggunakan format SOAP, yang mana perawat mengevaluasi penurunan volume perdarahan, penurunan skala nyeri, kestabilan berat badan, peningkatan toleransi aktivitas harian, serta penurunan tingkat ansietas pasien. Rencana intervensi dimodifikasi, dipertahankan, atau dihentikan berdasarkan pencapaian objektif indikator klinis yang telah ditetapkan. (Smeltzer & Bare, 2020, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
ACOG. (2023). Cervical Cancer Management. Obstet Gynecol, 141(6), 1300–1315.
journals.lww.com/greenjournal/abstract/2023/12000/cervical_cancer_management.10.aspx
Anwar, R. (2021). Panduan Ginekologi Remaja dan Reproduksi. Subfungsional Imunologi Kencana.
Berek, J. S. (2020). Berek & Novak’s Gynecology. Wolters Kluwer.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2019). Medical-Surgical Nursing. Elsevier.
Chao, X. et al. (2022). Angiogenesis and hypoxia in cervical cancer. J Steroid Biochem Mol Biol, 215, 106012.
sciencedirect.com/science/article/pii/S096007602100231X
Fritz, M. A. (2021). Clinical Gynecology and Oncology. N Engl J Med, 362(25), 2389–2398.
nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcp1000274
Harada, T. et al. (2022). Cytokine expression in cervical microenvironment. J Obstet Gynaecol Res, 48(2), 310–318.
obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/jog.15090
Hendarto, H. (2022). Infertilitas pada Gangguan Ovarium dan Uterus. Airlangga University Press.
Hoffman, B. L. et al. (2022). Williams Gynecology. McGraw-Hill.
Kemenkes RI. (2023). PNPK Tata Laksana Kanker Serviks. Kemenkes RI.
Kim, J. H. et al. (2024). Epigenetic disregulation in cervical carcinogenesis. Mol Hum Reprod, 30(1), gaad045.
academic.oup.com/molehr/article-abstract/30/1/gaad045/7458021
Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kandungan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saito, S. (2023). Mechanical invasion of pelvic organ in cervical cancer. Am J Reprod Immunol, 89(4), e13650.
onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/aji.13650
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2020). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Wolters Kluwer.
Tanmahasamut, C. et al. (2023). Cervical cancer screening in Asian women. Int J Gynaecol Obstet, 160(2), 445–452.

Tinggalkan Balasan