KONSEP MEDIS PADA KANKER OVARIUM

Kanker ovarium adalah keganasan pada indung telur yang sering kali asimtomatik pada stadium awal, sehingga memicu keterlambatan diagnosis dan tingkat mortalitas yang tinggi pada kalangan wanita. (Berek, 2021)

A. KONSEP MEDIS KANKER OVARIUM

1. Kajian Teoretis Definisi Kanker ovarium

Definisi Dari Pakar Internasional

Berek (2021) merumuskan penyakit ini sebagai suatu pertumbuhan sel-sel ganas yang tidak terkendali pada jaringan ovarium, yang mana asal selnya sebagian besar berkembang dari epitel permukaan organ tersebut.

De Vita (2022) mendefinisikan penyakit ini sebagai spektrum keganasan sistem reproduksi wanita yang mencakup tipe histologis epitelial, germinal, dan stromal, dengan kecenderungan bermetastasis secara intraperitoneal.

Hoffman (2020) menjelaskan kanker ovarium sebagai sebuah neoplasma ganas primer pada adneksa yang sering kali menyebar secara tersembunyi ke seluruh rongga peritoneum sebelum menimbulkan gejala klinis yang nyata.

DiSaia (2023) mengidentifikasi penyakit tersebut sebagai tumor ganas panggul yang memiliki manifestasi klinis heterogen dan memerlukan pendekatan multimodalitas karena sifat biologisnya yang sangat agresif.

American Cancer Society (2024) mengategorikan kondisi ini sebagai sekelompok penyakit yang bermula dari sel-sel ovarium, saluran tuba falopi, atau peritoneum primer, yang kemudian bermutasi secara genetik membentuk massa tumor berbahaya. (Berek, 2021, De Vita, 2022, Hoffman, 2020, DiSaia, 2023, American Cancer Society, 2024)

Definisi Pakar Asia

Kim (2021) memaparkan kondisi tersebut Asia sebagai keganasan ginekologi yang menunjukkan peningkatan insidensi secara signifikan akibat perubahan gaya hidup, pola reproduksi, dan pergeseran sosio-ekonomi masyarakat.

Srivastava (2022) mengartikan neoplasma ini sebagai keganasan organ reproduksi wanita yang memicu akumulasi cairan asites pada rongga abdomen akibat implantasi sel kanker pada omentum.

Chan (2023) menegaskan bahwa penyakit tersebut merupakan tumor ganas sistem reproduksi wanita yang memerlukan deteksi penanda tumor berbasis serum secara berkala karena variasi genetik yang khas pada populasi Asia.

Lin (2020) mendeskripsikan kondisi ini sebagai keganasan seluler pada indung telur yang memiliki korelasi kuat dengan mutasi gen BRCA1 dan BRCA2, terutama pada kelompok pasien usia muda pada kawasan Asia Timur.

Komite Penanggulangan Kanker Asia (2024) menetapkan penyakit ini sebagai salah satu penyebab utama kematian akibat kanker ginekologi yang memerlukan standarisasi sitoreduksi bedah komprehensif. (Kim, 2021, Srivastava, 2022, Chan, 2023, Lin, 2020, Komite Penanggulangan Kanker Asia, 2024)

Definisi Pakar Indonesia

Prawirohardjo (2020) menguraikan tumor ganas tersebut sebagai neoplasma yang tumbuh pada indung telur, yang mana sebagian besar kasus datang ke fasilitas kesehatan sudah dalam keadaan stadium lanjut yang parah.

Aziz (2021) menetapkan kondisi tersebut sebagai keganasan ginekologi dengan prognosis yang buruk akibat ketiadaan metode penapisan massal yang efektif dan akurat Indonesia saat ini.

Manuaba (2019) mendefinisikan penyakit ini sebagai pertumbuhan jaringan baru yang ganas pada ovarium, yang berpotensi melakukan infiltrasi ke organ-organ sekitar panggul dan bermetastasis jauh via jalur limfogen.

Sjamsuhidajat (2022) mengonseptualisasikan neoplasma ini sebagai tumor ganas intra-abdomen pada wanita yang sering kali bermanifestasi sebagai massa padat kistik panggul saat pemeriksaan fisik berlangsung.

Kemenkes RI (2023) merumuskan penyakit tersebut sebagai keganasan pada sel telur atau jaringan penyokongnya yang menuntut penatalaksanaan secara multidisiplin guna meningkatkan angka harapan hidup pasien. (Prawirohardjo, 2020, Aziz, 2021, Manuaba, 2019, Sjamsuhidajat, 2022, Kemenkes RI, 2023)

2. Aspek Etiologi Kanker ovarium

Penyebab pasti belum diketahui secara menyeluruh, namun terdapat beberapa faktor risiko utama yang saling berkaitan. Oleh karena itu, teori ovulasi terus-menerus menyatakan bahwa robekan berulang pada epitel ovarium saat ovulasi memicu mutasi seluler. Akibatnya, kondisi nulipara, menarke dini, dan menopause terlambat meningkatkan risiko ini secara signifikan.

Sementara itu, faktor genetik seperti mutasi pada gen Breast Cancer Antigene 1 (BRCA1) dan Breast Cancer Antigene 2 (BRCA2) turut berkontribusi besar. Selanjutnya, faktor lingkungan seperti diet tinggi lemak dan paparan asbes juga meningkatkan kerentanan individu pada usia 50 tahun keatas. (Berek, 2021, Kemenkes RI, 2023)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Penyakit ini berkembang dari epitel permukaan ovarium (90%), sel germinal, atau stroma. Sehubungan dengan hal itu, akibat ovulasi terus-menerus terjadi kerusakan DNA yang gagal diperbaiki oleh tubuh. Selanjutnya, sel-sel mengalami proliferasi otonom yang tidak terkendali, sehingga membentuk massa tumor primer.

Oleh karena ovarium terletak bebas di rongga panggul, sel kanker mudah terlepas dan menyebar secara intraperitoneal. Dampak dari proses tersebut, sel-sel menempel pada omentum dan usus, sehingga memicu akumulasi cairan kaya protein yang disebut asites.

                                            Penyimpangan KDM (Pathway)

  Faktor Genetik, Ovulasi Terus-Menerus, Lingkungan ↓ Kerusakan DNA pada Epitel Ovarium ↓   Proliferasi Sel Ganas Tidak Terkendali ↓ KANKER OVARIUM ↓ ───────────────────────────────────────────────────────────────────────────── ↓ (Intra-abdomen) ↓ (Metastasis Intraperitoneal) Massa Tumor Membesar Implikasi pada Omentum & Usus ↓ ↓ Menekan Kandung Kemih & Rektum Obstruksi Limfatik Peritoneal ↓ ↓ Nyeri Kronis (D.0078) Penumpukan Cairan (Asites) Distensi Abdomen ↓ ↓ Hypervolemia (D.0022) Menekan Lambung & Diafragma ↓ ↓ Menekan Diafragma Upward Anoreksia, Mual, Muntah ↓ ↓ Ekspansi Paru Menurun Defisit Nutrisi (D.0019)Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)  (Hoffman, 2020, Price & Wilson, 2019)

4. Manifestasi Klinis Kanker ovarium

a. Data Subjektif

Pasien mengeluhkan perut terasa begah, kembung, atau cepat kenyang saat makan. Selain itu, pasien menyatakan adanya nyeri tumpul yang menetap pada area panggul. Oleh karena adanya penekanan massa, pasien juga mengeluhkan peningkatan frekuensi berkemih. (DiSaia, 2023)

b. Data Objektif

Pemeriksaan fisik menunjukkan peningkatan lingkar perut yang signifikan akibat asites. Selanjutnya, teraba massa padat dan terfiksasi pada area adneksa. Selain itu, hasil laboratorium menunjukkan peningkatan kadar penanda tumor CA-125 secara tajam. (Berek, 2021)

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Cancer Antigen 125 (CA-125) merupakan baku emas dengan nilai normal < 35 U/mL. Oleh karena itu, melakukan pemeriksaan tambahan seperti HE4 untuk menghitung skor ROMA. Selanjutnya, perlu juga pemeriksaan darah lengkap untuk menilai profil hematologi. (Chan, 2023)

b. Pemeriksaan Radiologi

Melakukan Ultrasonografi (USG) transvaginal untuk menilai karakteristik massa padat atau kistik. Sehubungan dengan hal itu, menggunakan CT Scan abdomen dan pelvis untuk mengevaluasi perluasan tumor. Akibatnya, adanya metastasis ke omentum dapat terdeteksi lebih dini. (Sjamsuhidajat, 2022)

c. Pemeriksaan Lain

Melakukan sitologi cairan asites melalui parasintesis untuk mendeteksi keberadaan sel-sel ganas. Selanjutnya, melakukan biopsi histopatologi untuk memperoleh diagnosis definitif. Melaksanakan tindakan ini umumnya melalui prosedur laparotomi eksplorasi. (Prawirohardjo, 2020)

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

Kemoterapi sistemik menggunakan kombinasi Paclitaxel dan Carboplatin yang diberikan sebanyak 6 siklus. Oleh karena itu, terapi target seperti Bevacizumab ditambahkan untuk menghambat proses angiogenesis tumor. Selanjutnya, pemberian PARP inhibitors diindikasikan bagi pasien dengan mutasi BRCA positif. (De Vita, 2022, Kemenkes RI, 2023)

b. Terapi Non-Farmakologis

Tindakan pembedahan sitoreduksi dilakukan untuk mengangkat massa tumor sebanyak mungkin melalui histerektomi total. Di samping itu, manajemen nutrisi tinggi kalori tinggi protein diberikan secara ketat. Akibatnya, status metabolik pasien dapat dipertahankan dengan optimal. (Aziz, 2021, DiSaia, 2023)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien

Mencakup nama, umur, suku, status pernikahan, pekerjaan, pendidikan, alamat, serta nomor rekam medis. Oleh karena faktor risiko reproduksi berpengaruh, status nulipara dan usia di atas 50 tahun menjadi perhatian utama dalam lembar identitas. (Manuaba, 2019)

b. Riwayat Kesehatan

Keluhan utama meliputi perut membesar dan nyeri panggul. Selanjutnya, riwayat kesehatan sekarang menguraikan kronologis munculnya pembesaran abdomen. Di samping itu, riwayat keluarga dikaji terkait adanya mutasi genetik atau kanker payudara pada lini keturunan. (Doenges, 2020)

c. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan sistem respirasi menunjukkan dispnea akibat desakan diafragma. Selanjutnya, pemeriksaan sistem gastrointestinal sebagai fokus utama menunjukkan abdomen sangat distensi. Melalui perkusi abdomen, ditemukan suara pekak beralih (shifting dullness) yang menandakan adanya cairan bebas asites. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

Pola nutrisi mengalami gangguan akibat mual, muntah, dan perasaan cepat kenyang. Di samping itu, pola eliminasi terganggu berupa konstipasi kronis dan peningkatan frekuensi miksi. Akibatnya, pola aktivitas mengalami hambatan sekunder akibat kelemahan umum. (Doenges, 2020)

2. Diagnosis Keperawatan

Berikut adalah 10 diagnosis keperawatan yang dirumuskan berdasarkan urutan prioritas:

3. Perencanaan Intervensi 1-4

 Intervensi Nyeri Kronis (D.0078)

  •    Luaran Utama (SLKI): Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
  •    Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri.
    • Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (misalnya: teknik imajinasi terbimbing, relaksasi napas dalam); Fasilitasi istirahat dan tidur.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Ajarkan teknik non-farmakologis secara mandiri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik opioid (misal: Morfin, Fentanil) sesuai indikasi medis.

Intervensi Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)

  •   Luaran Utama (SLKI): Pola Napas Membaik (L.01004)
    • Kriteria Hasil: Dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, frekuensi napas membaik (16-20 x/menit).
  •   Intervensi Utama (SIKI): Pemantauan Respirasi (I.01014)
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor adanya produksi sputum; Monitor saturasi oksigen.
    • Terapeutik: Atur posisi Semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi dinding dada; Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan.
    • Edukasi: Ajarkan teknik batuk efektif jika terdapat sekret.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan parasintesis abdomen jika distensi mengganggu ventilasi secara ekstrem.

Intervensi Defisit Nutrisi (D.0019)

  •   Luaran Utama (SLKI): Status Nutrisi Membaik (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, perasaan cepat kenyang menurun, nafsu makan membaik, berat badan membaik.
  •   Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan.
    • Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik dan dalam suhu hangat; Berikan makanan kecil tapi sering (small changes, frequent meals).
    • Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan (tinggi protein, tinggi kalori).
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan; Kolaborasi pemberian antiemetik (misal: Ondansetron) sebelum makan/kemoterapi.

Intervensi Hypervolemia (D.0022)

  • Luaran Utama (SLKI): Keseimbangan Cairan Meningkat (L.03020)
    • Kriteria Hasil: Asites menurun, edema perifer menurun, berat badan stabil, turgor kulit membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Hipervolemia (I.03114)
    • Observasi: Periksa tanda dan gejala hipervolemia (misal: asites, edema, jvp meningkat); Monitor intake dan output cairan; Monitor kecepatan infus.
    • Terapeutik: Batasi asupan cairan dan garam sesuai instruksi medis; Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama.
    • Edukasi: Ajarkan cara mengukur dan mencatat asupan serta haluaran cairan secara mandiri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian diuretik (misal: Furosemid, Spironolakton) sesuai program terapi. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

4. Perencanaan Intervensi 5-7

Intervensi Disfungsi Seksual (D.0069)

  • Luaran Utama (SLKI): Fungsi Seksual Membaik (L.07055)
    • Kriteria Hasil: Kepuasan hubungan seksual meningkat, verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun, keluhan nyeri saat berhubungan (dispareunia) menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Konseling Seksualitas (I.07214)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi efek gangguan kesehatan terhadap seksualitas.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman dan jaga privasi pasien; Berikan kesempatan kepada pasangan untuk mengekspresikan kesulitan.
    • Edukasi: Jelaskan efek penyakit, pengobatan, atau pembedahan terhadap fungsi seksual; Diskusikan modifikasi aktivitas seksual.
    • Kolaborasi: Rujuk ke ahli terapi seks atau psikolog jika diperlukan.

Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran Utama (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur jika tidak dapat berpindah.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring secara berkala; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan penghasil energi.

Intervensi Gangguan Citra Tubuh (D.0083)

  • Luaran Utama (SLKI): Citra Tubuh Meningkat (L.09067)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kecacatan/kehilangan bagian tubuh membaik, verbalisasi perasaan negatif tentang perubahan tubuh menurun, hubungan sosial membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Promosi Citra Tubuh (I.09305)
    • Observasi: Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan; Monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri.
    • Terapeutik: Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya; Fasilitasi kontak dengan individu dalam kelompok pendukung (survivor support group).
    • Edukasi: Jelaskan cara menyiasati perubahan tubuh (misal: penggunaan rambut palsu/wig, jilbab, atau kosmetik pasca-kemoterapi).
    • Kolaborasi: Rujuk ke layanan konseling psikologis jika depresi berat terdeteksi. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

5. Perencanaan Intervensi 8-10

 Intervensi Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, pucat menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
    • Edukasi: Jelaskan semua prosedur tindakan termasuk sensasi yang mungkin dialami; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis dan pengobatan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika diperlukan sesuai instruksi medis.

 Intervensi Retensi Urin (D.0050)

  • Luaran Utama (SLKI): Eliminasi Urine Membaik (L.04034)
    • Kriteria Hasil: Sensasi berkemih meningkat, volume residu urine menurun, distensi kandung kemih menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Retensi Urine (I.04150)
    • Observasi: Monitor eliminasi urine termasuk frekuensi, konsistensi, aroma, volume, dan warna; Monitor tanda dan gejala retensi urine.
    • Terapeutik: Fasilitasi berkemih dengan interval yang teratur; Sediakan privasi untuk eliminasi.
    • Edukasi: Ajarkan tanda dan gejala retensi urine kepada pasien dan keluarga.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemasangan kateter urine (indwelling catheter) jika residu urine tetap tinggi akibat kompresi tumor.

Intervensi Risiko Infeksi (D.0142)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
    • Kriteria Hasil: Demam menurun, kadar sel darah putih (leukosit) membaik dalam rentang normal.
  • Intervensi Utama (SIKI): Pencegahan Infeksi (I.14539)
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik; Monitor hitung leukosit berkala pasca-kemoterapi.
    • Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien; Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif.
    • Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi dan cairan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi antibiotik profilaksis atau G-CSF jika terjadi neutropenia berat. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

6. Pelaksanaan Implementasi

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun. Oleh karena kondisi pasien membutuhkan pemantauan ketat, tindakan dilakukan dengan mengutamakan stabilitas hemodinamik dan kenyamanan fisik. Selanjutnya, seluruh aktivitas intervensi didokumentasikan secara legal dalam rekam medis pasien. (Doenges, 2020)

7. Hasil Evaluasi

Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik menggunakan pendekatan SOAP untuk mengukur tingkat keberhasilan. Sehubungan dengan hal itu, respon pasien terhadap tindakan dianalisis guna menentukan kelanjutan intervensi. Akibatnya, modifikasi rencana keperawatan dapat segera diterapkan jika kriteria hasil yang ditetapkan belum tercapai sepenuhnya. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, M. F. (2021). Ginekologi Onkologi. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Berek, J. S. (2021). Berek & Novak’s Gynecology (16th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

Chan, K. K. (2023). Ovarian cancer guidelines. Journal of Gynecologic Oncology, 34(2), 112-125.

De Vita, V. T. (2022). Cancer: Principles & Practice of Oncology (12th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

DiSaia, P. J. (2023). Clinical Gynecologic Oncology (10th ed.). Elsevier Health Sciences.

Doenges, M. E. (2020). Nursing Care Plans (10th ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company.

Hoffman, B. L. (2020). Williams Gynecology (4th ed.). New York: McGraw-Hill Education.

Kemenkes RI. (2023). Panduan Praktik Klinis Penatalaksanaan Kanker Ovarium Epitelial. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kim, J. W. (2021). Ovarian cancer in Asia. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention, 22(4), 985-993.

Lin, W. T. (2020). BRCA1/BRCA2 in Asian cohorts. Chinese Journal of Cancer Research, 32(3), 310-322.

Manuaba, I. B. G. (2019). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta: EGC.

Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kandungan (3rd ed.). Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Price, S. A., & Wilson, L. M. (2019). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit (6th ed.). Jakarta: EGC.

Sjamsuhidajat, R. (2022). Buku Ajar Ilmu Bedah de Jong (4th ed.). Jakarta: EGC.

Srivastava, S. (2022). Management of ascites. Indian Journal of Gynecologic Oncology, 20(1), 45-52


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *